Banyak sudah ia mengenal wanita yang secara suka rela atau paksaan menjadi kekasihnya, namun baru sekali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar dapat mengimbangi keahliannya dalam bermain asmara. Sebaliknya, Suminten juga mendapat kenyataan yang jauh melampaui dugaannya, bahkan mendapatkan pengalaman yang jauh berada di luar batas lamunannya. Mimpi pun belum pernah ia menemui pria yang seperti Warutama, seorang yang sudah matang dan benar-benar merupakan seorang ahli dalam menyenangkan perasaan dan hati wanita. Mereka berdua seperti mabuk dan lupa diri, tenggelam dalam lautan nafsu yang memabukkan dan barulah Patih Warutama sadar dan tergesa-gesa meninggalkan kamar itu ketika keesokan harinya, seorang abdi kepercayaan secara terpaksa mengetuk pintu kamar karena khawatir kalau-kalau sang prabu berkenan datang berkunjung di pagi hari itu. Dengan adanya Patih Warutama, makin kuatlah kedudukan persekutuan yang bercita-cita menguasai Jenggala ini, dan makin berkembanglah sayap persekutuan ini, makin jauh kuku-kukunya mencengkeram Jenggala. Sang prabu yang makin lemah sudah menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada Suminten yang tak kunjung gagal menina-bobokkan raja tua itu di malam hari, kepada Pangeran Kukutan yang selalu pandai mencari muka sebagai seorang putera mahkota yang penuh hormat, taat, dan berbakti, dan kepada Patih Warutama yang sikapnya tenang, pribadinya berwibawa, dan pendapat-pendapatnya jitu itu.
Hanya tinggal sang
permaisuri saja yang kini selalu diliputi kegelisahan. Permaisuri ini merasa
kehilangan tangan kanannya ketika Ki Patih Brotomenggala sekeluarga dibasmi.
Diam-diam ia menangis di dalam kamarnya dan di dalam hatinya ia maklum bahwa
gilirannya akan tiba kalau dia tidak cepat-cepat bertindak. Dia tahu benar
bahwa yang menjadi biang keladi pembasmi keluarga Ki Patih Brotomenggala
tentulah Suminten dan Pangeran Kukutan. Tentu saja sang permaisuri tidak tahu
bagaimana caranya, hanya tahu bahwa Suminten dan Pangeran Kukutan merupakan persekutuan
yang ingin merebut kekuasaan dengan cara mempengaruhi dan menundukkan sri
baginda, suaminya. Permaisuri ini tidaklah gelisah mengkhawatirkan keselamatan
dirinya pribadi, sama sekali tidak. Dia sudah tua, dan pula di dalam tubuhnya
mengalir darah ksatria utama. Yang dia khawatirkan adalah keadaan suaminya, dan
terutama sekali keadaan kerajaan. Dapat ia membayangkan betapa Jenggala akan
hancur dan akan cemar kalau kelak dirajai oleh seorang macam Pangeran Kukutan
yang ia tahu benar adalah seorang muda yang suka mengganggu anak isteri orang
lain, berhati palsu, pandai bermuka-muka, dan terutama sekali, menjadi kekasih
dan sekutu Suminten. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh seorang wanita tua
yang lemah? Memang, ada beberapa orang ponggawa tinggi yang selalu setia
kepadanya, akan tetapi dibandingkan dengan kekuasaan Suminten dan Pangeran
Kukutan di waktu ini, apalagi dibantu oleh patih yang baru, maka ia sama sekali
tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Sang permaisuri hanya berdoa setiap hari
sambil menanti kesempatan baik untuk menjatuhkan pukulan untuk menghancurkan
Suminten dan sekutunya.
Gadis itu menangis
tersedu-sedu sambil melangkah terhuyung-huyung di dalam hutan yang gelap. Malam
telah tiba, namun dia dipaksa berjalan terus oleh temannya, seorang laki-laki
tua yang membawa obor di tangan kanan, sedangkan tangan kiranya menggandeng
lengan gadis itu. Mulutnya mengeluarkan suara menghibur, sungguhpun suaranya
sendiri menggetar penuh keharuan dan hiburan itu tidak ada artinya sama sekali
bagi gadis yang berjalan sambil tersedu-sedu menangis itu. Gadis itu bukan lain
adalah Widawati, gadis berusia sembilan belas tahun, cucu Ki Patih
Brotomenggala. Tubuhnya tinggi semampai, perawakannya sedang berisi, kulitnya
hitam manis dan halus, gerak-geriknya serba luwes. Pada saat itu, pakaiannya
kusut, sekusut rambutnya yang terurai. Ketika sinar obor di tangan laki-laki
tua itu menerangi wajahnya, tampaklah wajah yang ayu menarik. Wajah yang dapat
diduga tentu biasanya cerah gemilang seperti sinar matahari pagi, dengan bentuk
mulut yang selalu senyum, bibir yang selalu merekah, selalu siap untuk senyum
dan tertawa, siap selalu untuk mengucapkan kata-kata halus lembut, menutupi
deretan gigi yang tidak begitu rata namun putih bersih, dengan ketidakrataan
yang bahkan menambah manis! Alisnya menjelirit hitam, di atas sepasang mata
yang indah sinarnya karena pandang mata itu mengandung pengertian mendalam,
mengandung kesabaran dan kasih sayang terhadap segala yang dipandangnya. Gadis
seperti yang muda-muda selalu datang kepadanya ini, kalau sedang berduka akan
mengharukan hati setiap orang, kalau sedang gembira akan menyinari semua orang,
dan kalau marah akan disangka pura-pura karena wajah seperti ini memang
"tidak pantas" kalau dipakai marah. Wajah yang bulat telur dengan
dagu kecil meruncing itu menyembunyikan usianya, membuat ia tampak jauh lebih
muda daripada usianya. Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala ini adalah seorang
gadis yang amat rajin mempelajari segala kepandaian puteri. Terkenal di
kepatihan sebagai sebagai seorang gadis yang cerdik dan pandai, baik dalam olah
kewanitaan, kesenian, dan kerajinan tangan, maupun dalam olah keperajuritan
karena sebagai cucu Ki Patih Brotomenggala yang sakti, tentu saja ia tidak mau
ketinggalan mempelajari seni bela diri yang gerakan-gerakannya mendekati seni
tari itu. Karena kecerdikannya, gadis ini amat disegani oleh para abdi, bahkan
ariggauta keluarga untuk bertanya segala macam hal yang tidak dimengertinya.
Widawati dengan tekun dan sabar memberi bimbingan kepada mereka sehingga
tampaklah bakatnya sebagai seorang pendidik yang sabar. Biasanya, jika mendapat
kesempatan mengikuti ramandanya yang sebagai mantu ki patih yang juga menjabat
pangkat, yaitu sebagai petugas perairan untuk mengatur pengairan sawah ladang
milik istana, seringkali keluar dan melakukan pemeriksaan, Widawati merasa amat
gembira. Dia seorang gadis pencinta alam dan sifatnya yang ramah dan riang itu
pun sesuai dengan suasana alam terbuka. Melihat tanah merekah merah dan subur,
melihat rumput hijau seperti permadani, melihat padi di sawah menguning emas
dan bernyanyi tertiup angin, disinari matahari yang cerah, semua ini
menciptakan watak yang ramah dan baik pada dirinya. Widawati seorang gadis
pencinta alam, seorang gadis pencinta sesama manusia, yang ramah-tamah, tidak
suka menyakiti hati orang lain, dengan kecantikannya dan kesegaran yang wajar.
Namun kini, biarpun ia melakukan perjalanan melalui hutan-hutan, di alam yang
liar terbuka, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia
hanya menangis terus, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, pikirannya kalut,
perasaannya hancur, mulutnya merintih-rintih menyebut nama ayah bundanya, kakek
nenek, dan saudara- saudaranya yang kesemuanya terbasmi habis oleh sri baginda
dengan tuduhan berkhianat. Sepasang mata yang biasanya jernih dan berseri penuh
kasih dan pengertian itu kini menjadi merah dan membendul oleh tangis.
Kakek itu adalah Ki Mitra,
seorang juru taman, abdi keluarga pelatih tarian. Hanya juru taman ini sajalah
yang dapat mengantar Widawati lolos dari kerajaan dengan aman, karena seorang
abdi tidak akan kentara kalau pergi meninggalkan ramah. Memang ini merupakan
siasat para ponggawa tua yang masih setia kepada Ki Patih Brotomenggala yang
cepat-cepat turun tangan mengatur kebebasan Widawati begitu mendengar bahwa
gadis ini kebetulan saja lolos daripada cengkeraman maut. Memang dugaan mereka
benar karena tidak lama kemudian setelah Widawati melarikan diri diantar juru
taman, datang orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan mencari gadis itu di
rumah pelatih tarian. Biarpun diberi tahu bahwa gadis itu tidak berada di situ
dan sudah pulang, namun pasukan pengawal ini tidak percaya dan tetap melakukan
penggeledahan sehingga andaikata Widawati bersembunyi di dalam gedung itu,
pasti akan tertangkap. Pula, para pengawal ini meneliti apakah penghuni rumah
pelatih tari-tarian itu masih lengkap, dan baru mereka meninggalkan rumah itu
setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun di antara keluarga guru
tari itu meninggalkan rumah. Tentu saja mereka ini tidak perduli dan tidak
menyelidiki apakah seorang juru taman ada atau tidak! Dengan bantuan para
ponggawa tua, akhirnya Ki Mitra si juru taman bersama Widawati, berhasil bolos
keluar dari istana melalui pintu gerbang bagian selatan. Ki Mitra yang juga
merupakan seorang yang biarpun hanya berpangkat juru taman namun dapat melihat
kemaksiatan merajalela di dalam kerajaan, dengan taruhan nyawa sendiri membawa
gadis cucu ki patih itu terus melakukan perjalanan ke selatan, tidak pernah
benhenti karena takut kalau-kalau ada pengejaran dari istana. Widawati adalah
seorang gadis yang terlatih, kalau hanya berjalan kaki sampai jauh saja ia
cukup kuat. Akan tetapi, melakukan perjalanan terus-menerus tanpa henti dan
dengan hati hancur, benar-benar. amatlah sengsara. Baiknya di situ ada Ki Mitra
yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, menggugah semangatnya sehingga
ia dapat bertahan dan malam hari itu, dengan penerangan obor yang dinyalakan Ki
Mitra, mereka berjalan terus menyusup-nyusup hutan liar.
"Aduh, Ki Mitra
........... hendak kau bawa ke manakah aku ini? Ah, mengapa mereka tidak
membiarkan aku mati bersama keluargaku agar aku terbebas dari-pada segala
derita” Widawati berhenti dan menyandarkan diri di batang pohon. Tubuhnya
gemetar, wajah yang pucat itu penuh peluh, dadanya bergelombang, kedua, tangan
membelai leher sendiri seakan-akan hendak mencekik leher sendiri, kedua matanya
dipejamkan dan air matanya menitik turun melalui kedua pipinya. Ki Mitra
membetulkan obornya yang hampir padam. Setelah obornya bernyala baik kembali,
ia menoleh kepada gadis itu. Hatinya penuh keharuan dan ia berkata,
"Den-ajeng, hendaknya
tenang dan jangan berpendirian seperti itu. Keluarga Paduka tewas karena
fitnah, sama halnya dengan dibunuh. Paduka tidak boleh bersikap lemah. Ingat
bahwa Paduka adalah keturunan gusti patih yang sakti mandraguna dan gagah
perkasa. Keluarga Paduka difitnah dan dibunuh orang, hanya Paduka yang dapat
lolos, ini berarti bahwa kelak ada orang yang dapat membalaskan segala dendam
sakit hati ini. Marilah, Den-ajeng, saya diberi kepercayaan dan tugas oleh para
gusti yang menjadi sahabat keluarga Paduka untuk menyelamatkan Paduka, agar
jauh dari jangkauan tangan iblis-iblis bermuka manusia itu."
"Ke mana? Ke mana
engkau hendak membawaku?" Widawati menyusut air matanya, semangatnya mulai
bangkit karena panas oleh ucapan Ki Mitra yang mengingatkannya akan semua
peristiwa yang menimpa keluarganya. Dengan tangan terkepal ia teringat kepada
Pangeran Kukutan yang sudah beberapa kali berusaha untuk menggodanya, namun
yang selalu ia tolak dengan tegas karena biarpun Pangeran Kukutan itu seorang
muda belia yang tampan gagah, namun ia dapat mengenal moralnya yang bejat. Dari
penuturan Ki Mitra di sepanjang jalan, ia tahu bahwa yang menjatuhkan fitnah, entah
bagaimana caranya sehingga terdapat bukti-bukti bahwa kakeknya melakukan
khianat terhadap raja, adalah Pangeran Kukutan dan Suminten, wanita cantik
selir raja yang amat dibencinya karena ia sudah banyak mendengar tentang sifat
rendah hina wanita itu.
"Menurut pesan para
sahabat keluarga Paduka, kakek Paduka gusti patih mempunyai dua belas orang
pengawal kepercayaan yang secara aneh telah menghilang pada saat terjadinya
penangkapan keluarga Paduka. Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang
gagah perkasa dan saya hanya mengenal dan tahu tempat tinggal seorang di antara
mereka yang bernama Wiraman. Ki Wiraman ini berasal dari dusun Suko, dekat desa
tempat asal saya, di selatan. Ke sanalah saya hendak membawa Paduka, mencari Ki
Wiraman dan selanjutnya menyerahkan Paduka kepadanya. Karena hanya seorang yang
memiliki kesaktian dan sudah terpercaya penuh seperti dua belas orang pengawal
itu sajalah yang akan mampu menyelamatkan paduka, tidak seperti saya ini,
seorang juru taman yang lemah."
Perjalanan dilanjutkan dan
dengan bekal dendam sakit hati terhadap musuh-musuh yang membasmi keluarganya,
Widawati menderita kesengsaraan perjalanan tanpa mengeluh lagi. Selama sepekan
ia mengikuti Ki Mitra melakukan perjalanan menyusup-nyusup hutan, melalui
dusun-dusun kecil, makan seadanya tidur di mana saja. Akhirnya tibalah mereka
di dusun Suko dan di sini pun mereka menjumpai bekas tangan musuh-musuh
kepatihan. Ternyata bahwa dusun ini pun diobrak-abrik oleh pasukan pengawal
kerajaan karena pasukan ini terlambat datang mencari keluarga Wiraman yang
telah lolos sehari sebelum pasukan pengawal datang. Banyak penduduk dusun Suko
disiksa, ada beberapa orang malah dibunuh karena mereka tidak dapat
memberitahukan ke mana perginya Wiraman dan keluarganya!
Apakah
sesungguhnya yang terjadi? Wiraman adalah seorang di antara dua belas orang
pengawal kepercayaan Ki Patih Brotomenggala yang dapat lobos dengan luka-luka
di tubuhnya ketika dua belas orang pengawal ini berusaha melindungi sang prabu
di dalam hutan. Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika peristiwa
penghadangan rombongan sang prabu diserbu gerombolan gundul di hutan dan ketika
para pengawal sri baginda terdesak oleh gerombolan itu, dua belas orang
pengawal pilihan yang secara sembunyi mengawal, lalu muncul dan mengamuk. Akan
tetapi mereka ini disambut oleh tiga orang yang sakti mandraguna, yaitu
Warutama, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro sehingga sebelas orang di
antara mereka tewas dan hanya Wiraman saja yang berhasil melarikan diri. Ki
Wiraman ini langsung menuju ke kepatihan, akan tetapi karena ia terluka dan
hanya dapat melakukan perjalanan lambat-lambat, ia datang terlambat karena
keluarga kepatihan sudah ditangkap semua!
No comments:
Post a Comment