Perawan Lembah Wilis; Bagian 110


Banyak sudah ia mengenal wanita yang secara suka rela atau paksaan menjadi kekasihnya, namun baru sekali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar dapat mengimbangi keahliannya dalam bermain asmara. Sebaliknya, Suminten juga mendapat kenyataan yang jauh melampaui dugaannya, bahkan mendapatkan pengalaman yang jauh berada di luar batas lamunannya. Mimpi pun belum pernah ia menemui pria yang seperti Warutama, seorang yang sudah matang dan benar-benar merupakan seorang ahli dalam menyenangkan perasaan dan hati wanita. Mereka berdua seperti mabuk dan lupa diri, tenggelam dalam lautan nafsu yang memabukkan dan barulah Patih Warutama sadar dan tergesa-gesa meninggalkan kamar itu ketika keesokan harinya, seorang abdi kepercayaan secara terpaksa mengetuk pintu kamar karena khawatir kalau-kalau sang prabu berkenan datang berkunjung di pagi hari itu. Dengan adanya Patih Warutama, makin kuatlah kedudukan persekutuan yang bercita-cita menguasai Jenggala ini, dan makin berkembanglah sayap persekutuan ini, makin jauh kuku-kukunya mencengkeram Jenggala. Sang prabu yang makin lemah sudah menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada Suminten yang tak kunjung gagal menina-bobokkan raja tua itu di malam hari, kepada Pangeran Kukutan yang selalu pandai mencari muka sebagai seorang putera mahkota yang penuh hormat, taat, dan berbakti, dan kepada Patih Warutama yang sikapnya tenang, pribadinya berwibawa, dan pendapat-pendapatnya jitu itu.

Hanya tinggal sang permaisuri saja yang kini selalu diliputi kegelisahan. Permaisuri ini merasa kehilangan tangan kanannya ketika Ki Patih Brotomenggala sekeluarga dibasmi. Diam-diam ia menangis di dalam kamarnya dan di dalam hatinya ia maklum bahwa gilirannya akan tiba kalau dia tidak cepat-cepat bertindak. Dia tahu benar bahwa yang menjadi biang keladi pembasmi keluarga Ki Patih Brotomenggala tentulah Suminten dan Pangeran Kukutan. Tentu saja sang permaisuri tidak tahu bagaimana caranya, hanya tahu bahwa Suminten dan Pangeran Kukutan merupakan persekutuan yang ingin merebut kekuasaan dengan cara mempengaruhi dan menundukkan sri baginda, suaminya. Permaisuri ini tidaklah gelisah mengkhawatirkan keselamatan dirinya pribadi, sama sekali tidak. Dia sudah tua, dan pula di dalam tubuhnya mengalir darah ksatria utama. Yang dia khawatirkan adalah keadaan suaminya, dan terutama sekali keadaan kerajaan. Dapat ia membayangkan betapa Jenggala akan hancur dan akan cemar kalau kelak dirajai oleh seorang macam Pangeran Kukutan yang ia tahu benar adalah seorang muda yang suka mengganggu anak isteri orang lain, berhati palsu, pandai bermuka-muka, dan terutama sekali, menjadi kekasih dan sekutu Suminten. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh seorang wanita tua yang lemah? Memang, ada beberapa orang ponggawa tinggi yang selalu setia kepadanya, akan tetapi dibandingkan dengan kekuasaan Suminten dan Pangeran Kukutan di waktu ini, apalagi dibantu oleh patih yang baru, maka ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Sang permaisuri hanya berdoa setiap hari sambil menanti kesempatan baik untuk menjatuhkan pukulan untuk menghancurkan Suminten dan sekutunya.

Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil melangkah terhuyung-huyung di dalam hutan yang gelap. Malam telah tiba, namun dia dipaksa berjalan terus oleh temannya, seorang laki-laki tua yang membawa obor di tangan kanan, sedangkan tangan kiranya menggandeng lengan gadis itu. Mulutnya mengeluarkan suara menghibur, sungguhpun suaranya sendiri menggetar penuh keharuan dan hiburan itu tidak ada artinya sama sekali bagi gadis yang berjalan sambil tersedu-sedu menangis itu. Gadis itu bukan lain adalah Widawati, gadis berusia sembilan belas tahun, cucu Ki Patih Brotomenggala. Tubuhnya tinggi semampai, perawakannya sedang berisi, kulitnya hitam manis dan halus, gerak-geriknya serba luwes. Pada saat itu, pakaiannya kusut, sekusut rambutnya yang terurai. Ketika sinar obor di tangan laki-laki tua itu menerangi wajahnya, tampaklah wajah yang ayu menarik. Wajah yang dapat diduga tentu biasanya cerah gemilang seperti sinar matahari pagi, dengan bentuk mulut yang selalu senyum, bibir yang selalu merekah, selalu siap untuk senyum dan tertawa, siap selalu untuk mengucapkan kata-kata halus lembut, menutupi deretan gigi yang tidak begitu rata namun putih bersih, dengan ketidakrataan yang bahkan menambah manis! Alisnya menjelirit hitam, di atas sepasang mata yang indah sinarnya karena pandang mata itu mengandung pengertian mendalam, mengandung kesabaran dan kasih sayang terhadap segala yang dipandangnya. Gadis seperti yang muda-muda selalu datang kepadanya ini, kalau sedang berduka akan mengharukan hati setiap orang, kalau sedang gembira akan menyinari semua orang, dan kalau marah akan disangka pura-pura karena wajah seperti ini memang "tidak pantas" kalau dipakai marah. Wajah yang bulat telur dengan dagu kecil meruncing itu menyembunyikan usianya, membuat ia tampak jauh lebih muda daripada usianya. Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala ini adalah seorang gadis yang amat rajin mempelajari segala kepandaian puteri. Terkenal di kepatihan sebagai sebagai seorang gadis yang cerdik dan pandai, baik dalam olah kewanitaan, kesenian, dan kerajinan tangan, maupun dalam olah keperajuritan karena sebagai cucu Ki Patih Brotomenggala yang sakti, tentu saja ia tidak mau ketinggalan mempelajari seni bela diri yang gerakan-gerakannya mendekati seni tari itu. Karena kecerdikannya, gadis ini amat disegani oleh para abdi, bahkan ariggauta keluarga untuk bertanya segala macam hal yang tidak dimengertinya. Widawati dengan tekun dan sabar memberi bimbingan kepada mereka sehingga tampaklah bakatnya sebagai seorang pendidik yang sabar. Biasanya, jika mendapat kesempatan mengikuti ramandanya yang sebagai mantu ki patih yang juga menjabat pangkat, yaitu sebagai petugas perairan untuk mengatur pengairan sawah ladang milik istana, seringkali keluar dan melakukan pemeriksaan, Widawati merasa amat gembira. Dia seorang gadis pencinta alam dan sifatnya yang ramah dan riang itu pun sesuai dengan suasana alam terbuka. Melihat tanah merekah merah dan subur, melihat rumput hijau seperti permadani, melihat padi di sawah menguning emas dan bernyanyi tertiup angin, disinari matahari yang cerah, semua ini menciptakan watak yang ramah dan baik pada dirinya. Widawati seorang gadis pencinta alam, seorang gadis pencinta sesama manusia, yang ramah-tamah, tidak suka menyakiti hati orang lain, dengan kecantikannya dan kesegaran yang wajar. Namun kini, biarpun ia melakukan perjalanan melalui hutan-hutan, di alam yang liar terbuka, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia hanya menangis terus, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, pikirannya kalut, perasaannya hancur, mulutnya merintih-rintih menyebut nama ayah bundanya, kakek nenek, dan saudara- saudaranya yang kesemuanya terbasmi habis oleh sri baginda dengan tuduhan berkhianat. Sepasang mata yang biasanya jernih dan berseri penuh kasih dan pengertian itu kini menjadi merah dan membendul oleh tangis.

Kakek itu adalah Ki Mitra, seorang juru taman, abdi keluarga pelatih tarian. Hanya juru taman ini sajalah yang dapat mengantar Widawati lolos dari kerajaan dengan aman, karena seorang abdi tidak akan kentara kalau pergi meninggalkan ramah. Memang ini merupakan siasat para ponggawa tua yang masih setia kepada Ki Patih Brotomenggala yang cepat-cepat turun tangan mengatur kebebasan Widawati begitu mendengar bahwa gadis ini kebetulan saja lolos daripada cengkeraman maut. Memang dugaan mereka benar karena tidak lama kemudian setelah Widawati melarikan diri diantar juru taman, datang orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan mencari gadis itu di rumah pelatih tarian. Biarpun diberi tahu bahwa gadis itu tidak berada di situ dan sudah pulang, namun pasukan pengawal ini tidak percaya dan tetap melakukan penggeledahan sehingga andaikata Widawati bersembunyi di dalam gedung itu, pasti akan tertangkap. Pula, para pengawal ini meneliti apakah penghuni rumah pelatih tari-tarian itu masih lengkap, dan baru mereka meninggalkan rumah itu setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun di antara keluarga guru tari itu meninggalkan rumah. Tentu saja mereka ini tidak perduli dan tidak menyelidiki apakah seorang juru taman ada atau tidak! Dengan bantuan para ponggawa tua, akhirnya Ki Mitra si juru taman bersama Widawati, berhasil bolos keluar dari istana melalui pintu gerbang bagian selatan. Ki Mitra yang juga merupakan seorang yang biarpun hanya berpangkat juru taman namun dapat melihat kemaksiatan merajalela di dalam kerajaan, dengan taruhan nyawa sendiri membawa gadis cucu ki patih itu terus melakukan perjalanan ke selatan, tidak pernah benhenti karena takut kalau-kalau ada pengejaran dari istana. Widawati adalah seorang gadis yang terlatih, kalau hanya berjalan kaki sampai jauh saja ia cukup kuat. Akan tetapi, melakukan perjalanan terus-menerus tanpa henti dan dengan hati hancur, benar-benar. amatlah sengsara. Baiknya di situ ada Ki Mitra yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, menggugah semangatnya sehingga ia dapat bertahan dan malam hari itu, dengan penerangan obor yang dinyalakan Ki Mitra, mereka berjalan terus menyusup-nyusup hutan liar.
"Aduh, Ki Mitra ........... hendak kau bawa ke manakah aku ini? Ah, mengapa mereka tidak membiarkan aku mati bersama keluargaku agar aku terbebas dari-pada segala derita” Widawati berhenti dan menyandarkan diri di batang pohon. Tubuhnya gemetar, wajah yang pucat itu penuh peluh, dadanya bergelombang, kedua, tangan membelai leher sendiri seakan-akan hendak mencekik leher sendiri, kedua matanya dipejamkan dan air matanya menitik turun melalui kedua pipinya. Ki Mitra membetulkan obornya yang hampir padam. Setelah obornya bernyala baik kembali, ia menoleh kepada gadis itu. Hatinya penuh keharuan dan ia berkata,
"Den-ajeng, hendaknya tenang dan jangan berpendirian seperti itu. Keluarga Paduka tewas karena fitnah, sama halnya dengan dibunuh. Paduka tidak boleh bersikap lemah. Ingat bahwa Paduka adalah keturunan gusti patih yang sakti mandraguna dan gagah perkasa. Keluarga Paduka difitnah dan dibunuh orang, hanya Paduka yang dapat lolos, ini berarti bahwa kelak ada orang yang dapat membalaskan segala dendam sakit hati ini. Marilah, Den-ajeng, saya diberi kepercayaan dan tugas oleh para gusti yang menjadi sahabat keluarga Paduka untuk menyelamatkan Paduka, agar jauh dari jangkauan tangan iblis-iblis bermuka manusia itu."
"Ke mana? Ke mana engkau hendak membawaku?" Widawati menyusut air matanya, semangatnya mulai bangkit karena panas oleh ucapan Ki Mitra yang mengingatkannya akan semua peristiwa yang menimpa keluarganya. Dengan tangan terkepal ia teringat kepada Pangeran Kukutan yang sudah beberapa kali berusaha untuk menggodanya, namun yang selalu ia tolak dengan tegas karena biarpun Pangeran Kukutan itu seorang muda belia yang tampan gagah, namun ia dapat mengenal moralnya yang bejat. Dari penuturan Ki Mitra di sepanjang jalan, ia tahu bahwa yang menjatuhkan fitnah, entah bagaimana caranya sehingga terdapat bukti-bukti bahwa kakeknya melakukan khianat terhadap raja, adalah Pangeran Kukutan dan Suminten, wanita cantik selir raja yang amat dibencinya karena ia sudah banyak mendengar tentang sifat rendah hina wanita itu.
"Menurut pesan para sahabat keluarga Paduka, kakek Paduka gusti patih mempunyai dua belas orang pengawal kepercayaan yang secara aneh telah menghilang pada saat terjadinya penangkapan keluarga Paduka. Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang gagah perkasa dan saya hanya mengenal dan tahu tempat tinggal seorang di antara mereka yang bernama Wiraman. Ki Wiraman ini berasal dari dusun Suko, dekat desa tempat asal saya, di selatan. Ke sanalah saya hendak membawa Paduka, mencari Ki Wiraman dan selanjutnya menyerahkan Paduka kepadanya. Karena hanya seorang yang memiliki kesaktian dan sudah terpercaya penuh seperti dua belas orang pengawal itu sajalah yang akan mampu menyelamatkan paduka, tidak seperti saya ini, seorang juru taman yang lemah."

Perjalanan dilanjutkan dan dengan bekal dendam sakit hati terhadap musuh-musuh yang membasmi keluarganya, Widawati menderita kesengsaraan perjalanan tanpa mengeluh lagi. Selama sepekan ia mengikuti Ki Mitra melakukan perjalanan menyusup-nyusup hutan, melalui dusun-dusun kecil, makan seadanya tidur di mana saja. Akhirnya tibalah mereka di dusun Suko dan di sini pun mereka menjumpai bekas tangan musuh-musuh kepatihan. Ternyata bahwa dusun ini pun diobrak-abrik oleh pasukan pengawal kerajaan karena pasukan ini terlambat datang mencari keluarga Wiraman yang telah lolos sehari sebelum pasukan pengawal datang. Banyak penduduk dusun Suko disiksa, ada beberapa orang malah dibunuh karena mereka tidak dapat memberitahukan ke mana perginya Wiraman dan keluarganya!
Apakah sesungguhnya yang terjadi? Wiraman adalah seorang di antara dua belas orang pengawal kepercayaan Ki Patih Brotomenggala yang dapat lobos dengan luka-luka di tubuhnya ketika dua belas orang pengawal ini berusaha melindungi sang prabu di dalam hutan. Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika peristiwa penghadangan rombongan sang prabu diserbu gerombolan gundul di hutan dan ketika para pengawal sri baginda terdesak oleh gerombolan itu, dua belas orang pengawal pilihan yang secara sembunyi mengawal, lalu muncul dan mengamuk. Akan tetapi mereka ini disambut oleh tiga orang yang sakti mandraguna, yaitu Warutama, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro sehingga sebelas orang di antara mereka tewas dan hanya Wiraman saja yang berhasil melarikan diri. Ki Wiraman ini langsung menuju ke kepatihan, akan tetapi karena ia terluka dan hanya dapat melakukan perjalanan lambat-lambat, ia datang terlambat karena keluarga kepatihan sudah ditangkap semua!

<<< Bagian 109                                                                                      Bagian 111 >>>

No comments:

Post a Comment