Perawan Lembah Wilis; Bagian 109


Hebat bukan main perlstiwa ini. Gerakan ki patih amat tangkas dan cepat, tusukan-tusukannya tepat mengenai dada menembus jantung sehingga setiap keluarga yang terkena tusukannya, roboh tak sempat menjerit lagi. Isteri-isterinya, putera-puterinya, para abdi, seorang demi seorang dia robohkan, dia renggut nyawanya dengan perantaraan ujung pedang. Mereka yang roboh tak bergerak lagi, mereka yang belum terbunuh berlutut dan membuka dada sambil memandang ki patih dengan air mata bercucuran. Semua siap menerima kematian di tangan ki patih! Tinggal lima orang kanak-kanak, yaitu cucu buyut ki patih yang belum roboh tewas. Ki patih meloncat dengan mengayun pedang. Dari mulut seorang anak laki-laki cucu buyutnya, berusia paling banyak lima tahun, terdengar rintihan,
"Eyang ..... Eyang Buyut ......!”
Ki patih yang matanya terbelalak, pedang dan seluruh pakaian serta kedua lengannya merah oleh darah keluarganya itu seperti disambar halilintar, berdiri memandang wajah anak kecil yang menangis itu, menggigil, pedangnya terlepas dan ia menjatuhkan diri berlutut, mendekap lima anak kecil yang kini kesemuanya menangis.
"Srrrt .....srrrtt ......!" Hujan anak panah yang dilepas oleh para pengawal atas perintah Pangeran Kukutan menyambar ke arah kakek dan lima orang cucunya.
Ratusan batang anak panah menancap di tubuh kakek itu yang dengan tenaga terangkir merangkul lima orang cucunya, tak bergerak-gerak, dan hanya darah yang bercucuran dari sekelompok manusia ini membuktikan bahwa mereka berenam telah menjadi sasaran anak panah. Ketika para pengawal menyerbu dan mendekat, baru diketahui bahwa kakek itu memeluk lima orang cucunya dengan pengerahan tenaga sehingga mereka berlima telah tewas karena remuk tulang-tulangnya dalam dekapan kakek mereka sebelum anak-anak panah itu menembus tubuh mereka bersama tubuh kakek mereka. Ki Patih Brotomenggala tewas dalam keadaan memeluk lima orang cucu buyutnya, dengan mata masih melotot penuh penasaran akan tetapi mulut membayangkan kasih sayang mesra kepada keluarganya yang terpaksa ia bunuh sendiri karena menghindarkan mereka daripada kematian sebagai keluarga pengkhianat atau pemberontak! Penglihatan yang amat hebat itu membuat semua penonton menggigil, banyak yang bercucuran air mata, bahkan ada yang pingsan di tempat ia berdiri atau berjongkok. Sang prabu sendiri ternyata pingsan di tempat duduknya dan dengan pimpinan Suminten dan Pangeran Kukutan, sang prabu diusung masuk kemball ke dalam istana. Para pengawal membubarkan semua penonton dan melenyapkan mayat-mayat keluarga ki patih, tidak lupa mencabuti tiang-tiang gantungan yang masih bersih karena belum digunakan itu.

Peristiwa mengerikan itu kembali mengguncangkan Kerajaan Jenggala, membuat gentar mereka yang tadinya berpihak kepada Ki Patlh Brotomenggala. Para ponggawa yang tebal rasa sayang kepada diri sendiri, yang berwatak pengecut, melihat betapa besar kekuasaan pangeran mahkota dan selir terkasih sang prabu, maka tanpa malu-malu mereka ini cepat memalingkan muka dan dengan suka rela menggabung kepada Pangeran Kukutan. Mereka yang lebih kokoh batinnya, yang menjunjung kesatriaan di atas kepentingan pribadi, diam-diam lolos dari kerajaan, membawa keluarga mereka melarikan diri dan bersembunyi di gunung-gunung dan sebagian besar lari memasuki daerah Panjalu.
Sang prabu menjadi berpenyakitan semenjak terjadinya peristiwa mengerikan itu. Atas bujukan Suminten dan Pangeran Kukutan, juga karena menganggap bahwa orang yang telah menolong nyawanya itu patut diberi anugerah besar, apalagi mengingat bahwa Raden Warutama memiliki kesaktian hebat, maka diangkatlah Raden Warutama menjadi patih, menggantikan Ki Patih Brotomenggala. Dengan demikian, secara tidak resmi, Suminten mewakili raja mengatur rencana. Resminya, Pangeran Mahkota Kukutan yang mewakili raja mengatur pemerintahan, dan pelaksanaannya adalah Ki Patih Warutama! Beberapa malam kemudian setelah terjadinya peristiwa mengerikan di alun-alun Kerajaan Jenggala, Suminten berkenan menerima "kunjungan" Ki Patih Warutama di dalam kamarnya! Karena dia berkedudukan sebagai patih, tentu saja akan amat menyoloklah kalau Warutama datang secara berterang, maka Warutama mempergunakan aji kesaktiannya, memasuki keputren ini seperti seorang pencuri. Di dalam kamar yang indah dan harum itu, Suminten dan Pangeran Kukutan menyambutnya dan berpesta-poralah ketiga orang yang mabuk kemenangan ini, dengan hidangan-hidangan yang lezat, dilayani oleh emban-emban yang muda-muda dan cantik-cantik. Tentu saja para emban dan abdi yang menjadi pelayan di situ, termasuk beberapa orang pengawal kepercayaan, adalah orang-orang yang sudah amat dipercaya.
"Sungguh beruntung siasat yang Andika jalankan itu berjalan dengan amat lancar dan berhasil baik, Paman Patih," kata Pangeran Kukutan setelah mereka terhenyak kekenyangan dan kepuasan menghadapi meja yang telah dibersihkan dari sisa-sisa makanan.
"Dan baru sekarang kita dapat berkumpul sehingga akan dapat terjawablah pertanyaan-pertanyaan yang sungguh mengganggu perasaanku."
"Hal apakah yang hendak Paduka tanyakan?"
"Tentang pasukan gundul itu. Siapakah mereka?" Patih Warutama tersenyum lebar dan membusungkan dada.
"Mereka adalah anak buah sahabat kita dari Negeri Cola."
"Permainan yang amat berbahaya sekali!" kata Suminten sambil memandang dengan sepasang matanya yang jeli dan bersinar jalang, yang dapat meneliti tubuh seorang pria penuh penilaian seperti ketika ia memandang patih baru itu pada saat itu.
"Andika membiarkan dua di antara mereka tertawan hidup-hidup dan diperiksa di depan gusti sinuwun. Hatiku hampir berhenti berdetik ketika mereka dlperiksa, apalagi ketika mereka digertak oleh Brotomenggala. Bagaimana andaikata mereka itu ketakutan dan mengaku terus terang?"
Patih Warutama memandang ke arah dada Suminten yang membusung, seolah-olah hendak menembus kulit halus itu menjenguk hati yang hampir berhenti berdetik. Mulutnya masih tersenyum bangga.
"Tidak mungkin. Mereka itu adalah orang-orang yang sudah kehilangan pengaruh atas diri pribadi, sepenuhnya mereka dikuasai oleh ilmu kesaktian sahabat kita yang bernama Cekel Wisangkoro, murid Sang Wasi Bagaspati yang sakti mandraguna, wakil dari Negeri Cola."
"Hemm, kiranya begitu? Aku pun amat khawatir tadinya. Akan tetapi, kupikir bahwa pelaksanaan siasat itu agak merugikan. Untuk itu Andika telah mengorbankan hampir lima puluh orang anggota pasukan gundul. Bukankah ini berarti mengorbankan nyawa teman-teman sendiri?" tanya Pangeran Kukutan.

Berkerut kening tebal Patih Warutama.
"Pangeran, Paduka agaknya masih harus banyak belajar. Untuk mencapai cita-cita, tidak ada jalan yang tak boleh ditempuh dan dipergunakan. Jangankan hanya mengorbankan nyawa lima puluh orang kawan, kalau perlu, jalan yang lebih keji dan buruk lagi harus dilakukan demi tercapainya cita-cita. Yang penting, cita-cita kita tercapai, bukan? Apa artinya nyawa puluhan orang mayat hidup itu? Ha-ha-ha!"
Diam-diam Suminten dah Pangeran Kukutan bergidik. Mereka pun bercita-cita tinggi dan tidak segan-segan melakukan apa saja demi cita-cita tercapai. Akan tetapi tidak pernah terpikirkan oleh mereka untuk menempuh jalan seperti itu, membunuhi kawan sendiri sekian banyaknya. Kini mereka diam-diam menganggap betapa benarnya pendapat kawan baru ini dan mereka mengangguk-angguk, seperti murid-murid yang menerima ajaran lebih tinggi dari seorang guru yang pandai. Melihat sikap mereka, Patih Warutama lalu melanjutkan kata-katanya dengan suara bangga.
"Manusia hidup harus bercita-cita untuk mencapai kedudukan tertinggi, karena hanya dengan kekuasaan dan kedudukan tinggi kita akan dapat menikmati kesenangan dunia. Selagi hidup, kalau tidak mereguk arak kenikmatan dunia sepuasnya, apa artinya? Hanya menanti mati. Dan untuk mencapai cita cita, kita tidak boleh memilih cara. Cara apa saja harus ditempuh demi tercapainya cita-cita!"
Orang ini hebat, pikir Suminten Dengan dia ini sebagai sekutuku, akan berhasillah segala cita-citaku. Maka kini pandang matanya mulai memancarkan daya tarik yang amat memikat ke arah Patih Warutama. Ki patih bukan tidak tahu akan hal ini. Dia seorang pria yang sudah berpengalaman dan sudah mengenal belaka segala sifat wanita, maka ia makin bangga, wajahnya berseri dan tanpa diminta ia melanjutkan kata-katanya seperti seorang guru besar memberi kuliah atau seorang pendeta memberi wejangan,
"Hanya orang yang memperoleh kemenangan saja yang akan tercapai cita-citanya. Kemenangan adalah kunci pertama, karena yang menang itu berarti yang berkuasa, dan sudah barang tentu bahwa yang berkuasa itu selalu baik dan benar. Yang buruk dan salah, yang patut diinjak-injak adalah mereka yang kalah. Bayangkan saja, andaikata dalam urusan menghadapi keluarga Brotomenggala kita yang kalah, akan bagaimana jadinya dengan kita? Kalau mereka yang menang, tentu mereka yang berkuasa dan mereka yang baik dan benar. Kita yang kalah? Menjadi makanan cacing!"

Pangeran Kukutan dan Suminten mendengarkan dengan pandang mata kagum dan gembira. Mereka lalu minum hidangan yang terbuat daripada campuran madu dan sari buah, minuman yang memabukkan dan mempunyai daya merangsang. Kalau kita mengetahui latar belakang tiga orang ini, akan terdengar sumbang dan melantur pendapat yang dikemukakan oleh Warutama tadi. Namun, ah, betapa banyaknya orang di luar kesadaran pribadi mempunyai pendapat yang serupa. Untuk mencapai cita-cita maka segala cara dibenarkan! Betapa kotor dan menyesatkan pendapat seperti itu! Mereka lupa bahwa yang kotor tidak mencerminkan yang bersih, bahwa yang pahit tidak memberikan buah yang manis. Kalau cara yang dipergunakan untuk menempuh cita-cita itu keji, maka sudah tak dapat disembunyikan lagi bahwa cita-citanya sendiri pun tentu keji! Tidak mungkin cita-cita yang bersih ditempuh dengan jalan atau cara yang kotor! Sebaliknya, cita-cita yang kotor takkan dapat ditempuh dengan cara yang bersih, atau kalau pun bersih, maka kebersihan cara itu hanya merupakan siasat atau kedok belaka. Sudah jelas bahwa cita-cita yang baik dan bersih HARUS dicapai dengan cara yang baik dan bersih pula! Pendapat ke dua dari Warutama yang bermoral bejat tentang kemenangan, kekuasaan dan kebenaran merupakan pendapat yang tersesat jauh, bahkan mudah menyesatkan orang. Memang tak dapat disangkal kenyataannya bahwa di dunia ini banyak berlaku hukum seperti yang dikatakannya, yaitu siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia benar dan baik! Akan tetapi ini hanya pendapat orang yang menjadi kawula iblis, yang hidup demi pemuasan nafsu pribadi. Pendapat Warutama itu merupakan hukum rimba yang hanya patut diterapkan pada kehidupan binatang yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Manusia mengenal pribudi, tahu akan baik dan buruk, mana benar mana salah. Justeru pribudi menuntut agar setiap manusia ingat bahwa dalam kemenangan tidak boleh sombong dan mabuk serta gila kekuasaan. Kemudian, yang kebetulan berkuasa tidak boleh sewenang-wenang menganggap diri sendiri selalu benar dan baik. Karena menang dan kalah itu hanya pandangan belaka, seperti suka dan duka. Yang menang di lain waktu bisa kalah, demikian sebaliknya. Juga kedudukan tinggi atau rendah hanya pandangan, yang tinggi sewaktu-waktu bisa saja menurun, yang rendah menaik. Karena itu, pedoman terbaik adalah tidak patah hati di waktu kalah dan tidak tinggi hati di waktu menang. Selalu rendah hati, menujukan langkah di atas jalan yang benar, dan menerima segala peristiwa yang menimpa diri sebagai kehendak Yang Maha Kuasa! Suminten yang sedang dimabuk cita-cita setinggl langit, mendengar ucapan-ucapan Patih Warutama, menjadi amat tertarik.
"Sungguh beruntung bagiku dapat berjumpa dengan seorang yang pandai seperti Andika! Semoga kerja sama di antara kita akan tetap kekal abadi!" Ucapan ini disertai senyum dan diikuti kerling memikat dari sudut mata. Warutama tertawa, lalu tanpa malu-malu terhadap Pangeran Kukutan ia berkata,
"Bolehkah sekarang raya mengharapkan hadiah pribadi dari Sang Ayu?"

Suminten terkekeh genit, bibir yang merah itu merekah dan tampak deretan gigi yang putih dan berbentuk bagus seperti mutiara. Dengan gaya manja ia menggeliat, menoleh kepada Pangeran Kukutan sambil berkata,
"Puteranda Pangeran, sudikah Paduka pulang sekarang karena ibunda ingin sekali beristirahat sambil minta nasehat-nasehat dari ki patih?"
Pangeran Kukutan maklum akan maksud hati Suminten. Dia tidak cemburu lagi, karena dia sudah mengenal betul watak ibu tiri atau juga kekasihnya ini. Tiada bedanya dengan dia sendiri. Setiap malam harus ada seorang kekasih yang mengawani melewatkan malam panjang! Dia mengenal tubuh indah wanita ini yang tak pernah merasa puas dalam mengabdi nafsu berahi. Ia bangkit dan tersenyum maklum sambil mengangguk kepada Warutama. Kemudian pergi meninggalkan kamar itu untuk mengunjungi seorang di antara kekasihnya yang banyak terdapat di antara para puteri, abdi wanita, dan selir-selir pangeran sepuh lainnya. Asyik dan mesralah kini mereka berdua, Suminten dan Warutama, setelah mereka ditinggal berdua saja di dalam kamar itu. Para abdi diusir keluar, pintu kamar ditutup dan mulailah mereka saling mengenal pribadi masing-masing. Diam-diam Warutama kagum sekali karena sekarang ia mengenal betul siapa sebenarnya wanita yang bernama Suminten ini dan mengapa wanita ini dapat mencapai kekuasaan di Kerajaan Jenggala.

<<< Bagian 108                                                                                     Bagian 110 >>>

No comments:

Post a Comment