Hebat bukan main perlstiwa ini. Gerakan ki patih amat tangkas dan cepat, tusukan-tusukannya tepat mengenai dada menembus jantung sehingga setiap keluarga yang terkena tusukannya, roboh tak sempat menjerit lagi. Isteri-isterinya, putera-puterinya, para abdi, seorang demi seorang dia robohkan, dia renggut nyawanya dengan perantaraan ujung pedang. Mereka yang roboh tak bergerak lagi, mereka yang belum terbunuh berlutut dan membuka dada sambil memandang ki patih dengan air mata bercucuran. Semua siap menerima kematian di tangan ki patih! Tinggal lima orang kanak-kanak, yaitu cucu buyut ki patih yang belum roboh tewas. Ki patih meloncat dengan mengayun pedang. Dari mulut seorang anak laki-laki cucu buyutnya, berusia paling banyak lima tahun, terdengar rintihan,
"Eyang ..... Eyang
Buyut ......!”
Ki patih yang matanya
terbelalak, pedang dan seluruh pakaian serta kedua lengannya merah oleh darah
keluarganya itu seperti disambar halilintar, berdiri memandang wajah anak kecil
yang menangis itu, menggigil, pedangnya terlepas dan ia menjatuhkan diri
berlutut, mendekap lima anak kecil yang kini kesemuanya menangis.
"Srrrt .....srrrtt
......!" Hujan anak panah yang dilepas oleh para pengawal atas perintah
Pangeran Kukutan menyambar ke arah kakek dan lima orang cucunya.
Ratusan batang anak panah
menancap di tubuh kakek itu yang dengan tenaga terangkir merangkul lima orang
cucunya, tak bergerak-gerak, dan hanya darah yang bercucuran dari sekelompok
manusia ini membuktikan bahwa mereka berenam telah menjadi sasaran anak panah.
Ketika para pengawal menyerbu dan mendekat, baru diketahui bahwa kakek itu
memeluk lima orang cucunya dengan pengerahan tenaga sehingga mereka berlima
telah tewas karena remuk tulang-tulangnya dalam dekapan kakek mereka sebelum
anak-anak panah itu menembus tubuh mereka bersama tubuh kakek mereka. Ki Patih
Brotomenggala tewas dalam keadaan memeluk lima orang cucu buyutnya, dengan mata
masih melotot penuh penasaran akan tetapi mulut membayangkan kasih sayang mesra
kepada keluarganya yang terpaksa ia bunuh sendiri karena menghindarkan mereka
daripada kematian sebagai keluarga pengkhianat atau pemberontak! Penglihatan
yang amat hebat itu membuat semua penonton menggigil, banyak yang bercucuran
air mata, bahkan ada yang pingsan di tempat ia berdiri atau berjongkok. Sang
prabu sendiri ternyata pingsan di tempat duduknya dan dengan pimpinan Suminten
dan Pangeran Kukutan, sang prabu diusung masuk kemball ke dalam istana. Para
pengawal membubarkan semua penonton dan melenyapkan mayat-mayat keluarga ki
patih, tidak lupa mencabuti tiang-tiang gantungan yang masih bersih karena
belum digunakan itu.
Peristiwa mengerikan itu
kembali mengguncangkan Kerajaan Jenggala, membuat gentar mereka yang tadinya
berpihak kepada Ki Patlh Brotomenggala. Para ponggawa yang tebal rasa sayang
kepada diri sendiri, yang berwatak pengecut, melihat betapa besar kekuasaan
pangeran mahkota dan selir terkasih sang prabu, maka tanpa malu-malu mereka ini
cepat memalingkan muka dan dengan suka rela menggabung kepada Pangeran Kukutan.
Mereka yang lebih kokoh batinnya, yang menjunjung kesatriaan di atas
kepentingan pribadi, diam-diam lolos dari kerajaan, membawa keluarga mereka
melarikan diri dan bersembunyi di gunung-gunung dan sebagian besar lari
memasuki daerah Panjalu.
Sang prabu menjadi
berpenyakitan semenjak terjadinya peristiwa mengerikan itu. Atas bujukan
Suminten dan Pangeran Kukutan, juga karena menganggap bahwa orang yang telah
menolong nyawanya itu patut diberi anugerah besar, apalagi mengingat bahwa
Raden Warutama memiliki kesaktian hebat, maka diangkatlah Raden Warutama
menjadi patih, menggantikan Ki Patih Brotomenggala. Dengan demikian, secara
tidak resmi, Suminten mewakili raja mengatur rencana. Resminya, Pangeran
Mahkota Kukutan yang mewakili raja mengatur pemerintahan, dan pelaksanaannya
adalah Ki Patih Warutama! Beberapa malam kemudian setelah terjadinya peristiwa
mengerikan di alun-alun Kerajaan Jenggala, Suminten berkenan menerima
"kunjungan" Ki Patih Warutama di dalam kamarnya! Karena dia berkedudukan
sebagai patih, tentu saja akan amat menyoloklah kalau Warutama datang secara
berterang, maka Warutama mempergunakan aji kesaktiannya, memasuki keputren ini
seperti seorang pencuri. Di dalam kamar yang indah dan harum itu, Suminten dan
Pangeran Kukutan menyambutnya dan berpesta-poralah ketiga orang yang mabuk
kemenangan ini, dengan hidangan-hidangan yang lezat, dilayani oleh emban-emban
yang muda-muda dan cantik-cantik. Tentu saja para emban dan abdi yang menjadi
pelayan di situ, termasuk beberapa orang pengawal kepercayaan, adalah
orang-orang yang sudah amat dipercaya.
"Sungguh beruntung
siasat yang Andika jalankan itu berjalan dengan amat lancar dan berhasil baik,
Paman Patih," kata Pangeran Kukutan setelah mereka terhenyak kekenyangan
dan kepuasan menghadapi meja yang telah dibersihkan dari sisa-sisa makanan.
"Dan baru sekarang kita
dapat berkumpul sehingga akan dapat terjawablah pertanyaan-pertanyaan yang
sungguh mengganggu perasaanku."
"Hal apakah yang hendak
Paduka tanyakan?"
"Tentang pasukan gundul
itu. Siapakah mereka?" Patih Warutama tersenyum lebar dan membusungkan
dada.
"Mereka adalah anak
buah sahabat kita dari Negeri Cola."
"Permainan yang amat
berbahaya sekali!" kata Suminten sambil memandang dengan sepasang matanya
yang jeli dan bersinar jalang, yang dapat meneliti tubuh seorang pria penuh
penilaian seperti ketika ia memandang patih baru itu pada saat itu.
"Andika membiarkan dua
di antara mereka tertawan hidup-hidup dan diperiksa di depan gusti sinuwun.
Hatiku hampir berhenti berdetik ketika mereka dlperiksa, apalagi ketika mereka
digertak oleh Brotomenggala. Bagaimana andaikata mereka itu ketakutan dan
mengaku terus terang?"
Patih Warutama memandang ke
arah dada Suminten yang membusung, seolah-olah hendak menembus kulit halus itu
menjenguk hati yang hampir berhenti berdetik. Mulutnya masih tersenyum bangga.
"Tidak mungkin. Mereka
itu adalah orang-orang yang sudah kehilangan pengaruh atas diri pribadi,
sepenuhnya mereka dikuasai oleh ilmu kesaktian sahabat kita yang bernama Cekel
Wisangkoro, murid Sang Wasi Bagaspati yang sakti mandraguna, wakil dari Negeri
Cola."
"Hemm, kiranya begitu?
Aku pun amat khawatir tadinya. Akan tetapi, kupikir bahwa pelaksanaan siasat
itu agak merugikan. Untuk itu Andika telah mengorbankan hampir lima puluh orang
anggota pasukan gundul. Bukankah ini berarti mengorbankan nyawa teman-teman
sendiri?" tanya Pangeran Kukutan.
Berkerut kening tebal Patih
Warutama.
"Pangeran, Paduka
agaknya masih harus banyak belajar. Untuk mencapai cita-cita, tidak ada jalan
yang tak boleh ditempuh dan dipergunakan. Jangankan hanya mengorbankan nyawa
lima puluh orang kawan, kalau perlu, jalan yang lebih keji dan buruk lagi harus
dilakukan demi tercapainya cita-cita. Yang penting, cita-cita kita tercapai,
bukan? Apa artinya nyawa puluhan orang mayat hidup itu? Ha-ha-ha!"
Diam-diam Suminten dah
Pangeran Kukutan bergidik. Mereka pun bercita-cita tinggi dan tidak segan-segan
melakukan apa saja demi cita-cita tercapai. Akan tetapi tidak pernah
terpikirkan oleh mereka untuk menempuh jalan seperti itu, membunuhi kawan
sendiri sekian banyaknya. Kini mereka diam-diam menganggap betapa benarnya
pendapat kawan baru ini dan mereka mengangguk-angguk, seperti murid-murid yang
menerima ajaran lebih tinggi dari seorang guru yang pandai. Melihat sikap mereka,
Patih Warutama lalu melanjutkan kata-katanya dengan suara bangga.
"Manusia hidup harus
bercita-cita untuk mencapai kedudukan tertinggi, karena hanya dengan kekuasaan
dan kedudukan tinggi kita akan dapat menikmati kesenangan dunia. Selagi hidup,
kalau tidak mereguk arak kenikmatan dunia sepuasnya, apa artinya? Hanya menanti
mati. Dan untuk mencapai cita cita, kita tidak boleh memilih cara. Cara apa
saja harus ditempuh demi tercapainya cita-cita!"
Orang ini hebat, pikir
Suminten Dengan dia ini sebagai sekutuku, akan berhasillah segala cita-citaku.
Maka kini pandang matanya mulai memancarkan daya tarik yang amat memikat ke
arah Patih Warutama. Ki patih bukan tidak tahu akan hal ini. Dia seorang pria
yang sudah berpengalaman dan sudah mengenal belaka segala sifat wanita, maka ia
makin bangga, wajahnya berseri dan tanpa diminta ia melanjutkan kata-katanya
seperti seorang guru besar memberi kuliah atau seorang pendeta memberi
wejangan,
"Hanya orang yang
memperoleh kemenangan saja yang akan tercapai cita-citanya. Kemenangan adalah
kunci pertama, karena yang menang itu berarti yang berkuasa, dan sudah barang
tentu bahwa yang berkuasa itu selalu baik dan benar. Yang buruk dan salah, yang
patut diinjak-injak adalah mereka yang kalah. Bayangkan saja, andaikata dalam
urusan menghadapi keluarga Brotomenggala kita yang kalah, akan bagaimana
jadinya dengan kita? Kalau mereka yang menang, tentu mereka yang berkuasa dan
mereka yang baik dan benar. Kita yang kalah? Menjadi makanan cacing!"
Pangeran Kukutan dan Suminten
mendengarkan dengan pandang mata kagum dan gembira. Mereka lalu minum hidangan
yang terbuat daripada campuran madu dan sari buah, minuman yang memabukkan dan
mempunyai daya merangsang. Kalau kita mengetahui latar belakang tiga orang ini,
akan terdengar sumbang dan melantur pendapat yang dikemukakan oleh Warutama
tadi. Namun, ah, betapa banyaknya orang di luar kesadaran pribadi mempunyai
pendapat yang serupa. Untuk mencapai cita-cita maka segala cara dibenarkan!
Betapa kotor dan menyesatkan pendapat seperti itu! Mereka lupa bahwa yang kotor
tidak mencerminkan yang bersih, bahwa yang pahit tidak memberikan buah yang
manis. Kalau cara yang dipergunakan untuk menempuh cita-cita itu keji, maka
sudah tak dapat disembunyikan lagi bahwa cita-citanya sendiri pun tentu keji!
Tidak mungkin cita-cita yang bersih ditempuh dengan jalan atau cara yang kotor!
Sebaliknya, cita-cita yang kotor takkan dapat ditempuh dengan cara yang bersih,
atau kalau pun bersih, maka kebersihan cara itu hanya merupakan siasat atau kedok
belaka. Sudah jelas bahwa cita-cita yang baik dan bersih HARUS dicapai dengan
cara yang baik dan bersih pula! Pendapat ke dua dari Warutama yang bermoral
bejat tentang kemenangan, kekuasaan dan kebenaran merupakan pendapat yang
tersesat jauh, bahkan mudah menyesatkan orang. Memang tak dapat disangkal
kenyataannya bahwa di dunia ini banyak berlaku hukum seperti yang dikatakannya,
yaitu siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia benar dan baik! Akan
tetapi ini hanya pendapat orang yang menjadi kawula iblis, yang hidup demi
pemuasan nafsu pribadi. Pendapat Warutama itu merupakan hukum rimba yang hanya
patut diterapkan pada kehidupan binatang yang tidak mengenal peri kemanusiaan.
Manusia mengenal pribudi, tahu akan baik dan buruk, mana benar mana salah. Justeru
pribudi menuntut agar setiap manusia ingat bahwa dalam kemenangan tidak boleh
sombong dan mabuk serta gila kekuasaan. Kemudian, yang kebetulan berkuasa tidak
boleh sewenang-wenang menganggap diri sendiri selalu benar dan baik. Karena
menang dan kalah itu hanya pandangan belaka, seperti suka dan duka. Yang menang
di lain waktu bisa kalah, demikian sebaliknya. Juga kedudukan tinggi atau
rendah hanya pandangan, yang tinggi sewaktu-waktu bisa saja menurun, yang
rendah menaik. Karena itu, pedoman terbaik adalah tidak patah hati di waktu
kalah dan tidak tinggi hati di waktu menang. Selalu rendah hati, menujukan
langkah di atas jalan yang benar, dan menerima segala peristiwa yang menimpa
diri sebagai kehendak Yang Maha Kuasa! Suminten yang sedang dimabuk cita-cita
setinggl langit, mendengar ucapan-ucapan Patih Warutama, menjadi amat tertarik.
"Sungguh beruntung
bagiku dapat berjumpa dengan seorang yang pandai seperti Andika! Semoga kerja
sama di antara kita akan tetap kekal abadi!" Ucapan ini disertai senyum
dan diikuti kerling memikat dari sudut mata. Warutama tertawa, lalu tanpa
malu-malu terhadap Pangeran Kukutan ia berkata,
"Bolehkah sekarang raya
mengharapkan hadiah pribadi dari Sang Ayu?"
Suminten terkekeh genit,
bibir yang merah itu merekah dan tampak deretan gigi yang putih dan berbentuk
bagus seperti mutiara. Dengan gaya manja ia menggeliat, menoleh kepada Pangeran
Kukutan sambil berkata,
"Puteranda Pangeran,
sudikah Paduka pulang sekarang karena ibunda ingin sekali beristirahat sambil
minta nasehat-nasehat dari ki patih?"
Pangeran
Kukutan maklum akan maksud hati Suminten. Dia tidak cemburu lagi, karena dia
sudah mengenal betul watak ibu tiri atau juga kekasihnya ini. Tiada bedanya
dengan dia sendiri. Setiap malam harus ada seorang kekasih yang mengawani
melewatkan malam panjang! Dia mengenal tubuh indah wanita ini yang tak pernah
merasa puas dalam mengabdi nafsu berahi. Ia bangkit dan tersenyum maklum sambil
mengangguk kepada Warutama. Kemudian pergi meninggalkan kamar itu untuk
mengunjungi seorang di antara kekasihnya yang banyak terdapat di antara para
puteri, abdi wanita, dan selir-selir pangeran sepuh lainnya. Asyik dan mesralah
kini mereka berdua, Suminten dan Warutama, setelah mereka ditinggal berdua saja
di dalam kamar itu. Para abdi diusir keluar, pintu kamar ditutup dan mulailah
mereka saling mengenal pribadi masing-masing. Diam-diam Warutama kagum sekali
karena sekarang ia mengenal betul siapa sebenarnya wanita yang bernama Suminten
ini dan mengapa wanita ini dapat mencapai kekuasaan di Kerajaan Jenggala.
No comments:
Post a Comment