Perawan Lembah Wilis; Bagian 108



Bahkan yang kecil-kecil pun tahu akan sopan-santun istana ini. Di dalam hatinya, sang prabu merasa seperti ditusuk pisau berkarat menyaksikan wajah patihnya yang setia itu, yang kini berlutut dengan wajah tua keriputan di depan kakinya, dengan pandang kosong terheran-heran.
"Brotomenggala!" bentak sang prabu, melenyapkan sebutan "kakang patih".
"Di depanku, disaksikan oleh semua ponggawaku yang kini hadir, ceritakanlah pengkhianatanmu dan usaha kejimu yang gagal agar semua mendengar betapa seorang pengkhianat keji sepertimu patut dijatuhi hukuman!"
Patih yang tua itu mengangkat kepala memandang junjungannya dengan sepasang mata yang penuh kejujuran dan kesetiaan, kemudian menyembah dan berkata, suaranya lantang,
"Sesungguhnya, Gusti junjungan hamba, tidak ada seujung rambut pun usaha keji pengkhianatan di dalam hati dan pikiran hamba, baik di masa lampau, sekarang maupun di masa datang. Bahkan hamba masih belum tahu mengapa hamba sekeluarga ditangkap. Mohon kebijaksanaan dan keadilan paduka, Gusti."
"Brotomenggala, lidahmu bercabang seperti lidah ular! Semua pengkhianat selalu bersuara merdu! Bukti sudah nyata, saksi pun banyak, masih hendak menyangkal?" Suminten berseru marah.
"Aku sendiri menjadi saksi, aku yang hampir terbunuh bersama pangeran pati dan terutama sekali gusti sinuwun. Tentu pengkhianatanmu akan berhasil membunuh kami bertiga kalau saja tidak datang pertolongan dari satria ini!" Terbelalak mata Ki Patih Brotomenggala dan keluarganya.
"Apa ....apa yang telah terjadi .....?" tanya patih tua itu tergagap.
"Brotomenggala, kalau kamu bersandiwara, sungguh kamu merupakan pemain yang amat pandai," kata sang prabu yang kemudian berkata kepada Pangeran Kukutan,
"Puteraku, ceritakanlah semuanya agar didengar oleh para ponggawa dan oleh si pengkhianat ini sendiri."

Pangeran Kukutan yang memang sudah bersiap-siap untuk bertindak sebagai jaksa penuntut, sengaja belum berganti pakaian sehingga kini ia maju dengan pakaiannya berburu yang masih koyak-koyak dan dengan beberapa luka kecil babak dan lecet pada lengan dan pahanya. Ia bangklt dari lantai, kini berdiri dan menentang pandang mata para ponggawa yang hadir. Ia maklum bahwa para ponggawa itu sebagian besar adalah kaki tangannya, akan tetapi di antara mereka masih terdapat orang-orang yang pro ki patih, maka kepada mereka inilah ia menujukan pandang matanya. Kemudian ia berpaling kepada Ki Patih Brotomenggala, mulutnya tersenyum mengejek secara terang-terangan kepada musuhnya ini, lalu mulai bercerita,
"Ketika Ramanda Prabu dan para pengikut sedang berburu dengan gembira di dalam hutan, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan, dan beberapa orang pengawal roboh. Tahu-tahu, entah darimana datangnya, kami telah terkurung oleh puluhan orang tinggi besar berkepala gundul yang ganas dan liar, bersenjata golok!" Sang pangeran berhenti dan kembali menoleh ke arah Ki Patih Brotomenggala yang mendengarkan dengan sikap tenang dan pandang mata penasaran. Para ponggawa menahan napas karena mereka pun belum tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi sehingga sang prabu pulang dari perburuan tanpa dikawal pasukan pengawal.
"Para pengawal kami mengadakan perlawanan dengan gagah berani, sedangkan aku sendiri cepat melindungi Ramanda Prabu dan Ibunda Selir yang berlindung di dalam kereta. Perang tanding seru terjadi, akan tetapi sungguhpun para pengawal yang gagah berhasil menewaskan musuh, jumlah musuh terlalu besar dan akhirnya para pengawal kami yang tiga puluh orang itu roboh tewas semua." Kemball pangeran Kukutan berhenti sebentar dan para pendengarnya menahan napas, bahkan ada yang mengeluarkan seruan tertahan.
"Gerombolan penjahat gundul itulah menyerbu kereta. Kami melakukan perlawanan sekuatnya, akan tetapi karena dikeroyok banyak orang yang liar, akhirnya Ramanda Prabu, ibunda Selir, dan saya sendiri tertawan dan diikat pada pohon. Nyaris kami bertiga terbunuh apalagi Ramanda Prabu yang sudah terancam dengan golok musuh siap membacok. Pada detik terakhir, muncullah satria perkasa ini, Seorang satria dari Bali dwipa bernama Raden Warutama yang sebetulnya bukanlah orang lain karena Raden Warutama ini anak keponakan mendiang Sang Patih Narotama yang sakti mandraguna dan setia! Dengan kesaktiannya, para penjahat itu dapat dibunuh semua, kecuali dua orang yang sengaja ditawan hidup-hidup untuk menjadi saksi."
Para ponggawa kini memandang ke arah Warutama yang masih duduk bersila dengan tenang itu, memandang penuh kagum. Siapa tidak akan kagum kala mendengar bahwa pria yang tampan dan perkasa itu adalah keponakan Sang Narotama yang perkasa? Apalagi pria ini telah membebaskan sang prabu daripada ancaman maut.
"Ramanda Prabu sendiri yang bertanya kepada para penjahat itu ketika beliau ditangkap, menanyakan kehendak mereka dan siapa yang menyuruh mereka. Dan apa jawab mereka? Secara terang-terangan mereka mengatakan bahwa mereka adalah anak buah Brotomenggala!"
"Bohong ....!”. Ki Patih Brotomenggala berseru keras. Namun Pangeran Kukutan tidak memperdulikannya dan melanjutkan kata-katanya dengan suara lantang,
"Tadinya pun kami bertiga tidak percaya akan pengakuan mereka. Akan tetapi berkali-kali mereka mengaku bahwa mereka itu hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Brotomenggala yang menurut pengakuan mereka menaruh dendam kepada Ramanda Prabu atas kematian mantunya beberapa tahun yang lalu."
"Bohong! Fitnah belaka! Gusti Sinuwun, percayakah Paduka akan fitnah keji seperti itu? Hamba sama sekali tidak tahu-menahu, bahkan mengenal mereka pun tidak! Hendaknya Paduka menyelidiki dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan. Bukan sekali-kali karena hamba mementingkan keselamatan sendiri, hanya hamba mengkhawatirkan langkah yang Paduka ambil sebelum mengadakan pemeriksaan secara teliti. Hamba hanya berani mengatakan dengan sumpah bahwa sesungguhnya hamba tidak tahu-menahu dengan terjadinya peristiwa keji di dalam hutan itu."
Wajah sang prabu menjadi merah,
"Brotomenggala! Telingaku sendiri mendengar pengakuan setan-setan gundul itu! Mataku sendiri melihat betapa mereka membunuhi semua pengawalku, hendak .... menghina selirku. Dan Andika masih menyangkal? Seret dua orang gundul itu masuk!"

Dua prang pengawal menyeret dua orang tinggi besar yang gundul itu masuki ruangan. Biarpun tubuh mereka penuh luka, namun kedua orang itu sama sekall tidak memperlihatkan kelemahan dan ketakutan. Mata mereka masih terbelalak memandang ke depan, dan mereka itu sama sekali tidak kelihatan menderita, seolah-olah semua ini tidak terasa oleh mereka. Kedua tangan mereka dibelenggu dan setelah kedua orang pengawal itu menekan dan memaksanya, barulah mereka itu roboh dan berlutut di depan sang prabu. Karena bangkit kemarahannya ketika melihat dua orang ini, sang prabu memberi isyarat kepada Pangeran Kukutan untuk mewakilinya memeriksa tawanan.
"Hei, kalian dua orang yang sudah melakukan dosa! Katakan sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian dan gerombolan kalian untuk menyerang rombongan gusti sinuwun!" kata Pangeran Kukutan dengan suara lantang. Seorang di antara mereka yang pipinya terluka mengangkat muka dan menjawab, suaranya dingin penuh ejekan,
"Pasukan kami diperintah oleh Ki Patih Brotomenggala untuk menghadang rombongan Gusti Sinuwun dalam hutan, untuk membunuh Gusti Sinuwun dan Gusti Pangeran Pati, serta menculik Selir Gusti Sinuwun.”
Sunyi senyap keadaan ruangan itu setelah terdengar pengakuan ini, dan muka para ponggawa yang menjadi sahabat ki patih menjadi pucat, mata mereka memandang ke arah patih tua itu dengan keheranan dan pertanyaan. Terdengar isak tertahan di antara keluarga yang berlutut di belakang Ki Patih Brotomenggala.
"Pengkhianatan keji yang tiada taranya! Sudah sepatutnya kalau si pengkhianat keji sekeluarganya dihukum gantung sampai mati di alun-alun!" Tiba-tiba terdengar suara Suminten, lantang memecah kesunyian dan ketegangan, menimbulkan ketegangan baru. Melihat wajah dan keadaan ki patih sekeluarga, semua hati para ponggawa terharu dan kasihan, namun mengingat akan dosanya yang amat hebat, tak seorang pun berani membantah tuntutan yang keluar dari mulut terkasih sang prabu yang dalam peristiwa itu mengalami pula ancaman dan penghinaan. Tiba-tiba Ki Patih Brotomenggala dari tempat ia bersila meloncat ke depan dan di lain saat kedua tangannya sudah mencengkeram leher dua orang tawanan gundul itu, mukanya merah dan matanya melotot, mulutnya mendesiskan kata-kata penuh kemarahan,
"Jahanam! Hayo katakan siapa yang menyuruh kalian menjatuhkan fitnah atas diri sayal"
Dengan sikap tenang saja dua orang gundul itu berkata,
"Kami diperintah oleh Ki Patih Brotomenggala .....!” "Krakkki" Ki Patih Brotomenggala menggerakkan kedua lengannya, dua kepala yang gundul itu beradu keras dan pecah berantakanl Semua orang terkejut, Pangeran Kukutan meraba gagang keris, para pengawal sudah siap dengan tombak mereka untuk mengeroyok ki patih yang agaknya hendak memberontak.
"Brotomenggala! Berani engkau melakukan hal ini di hadapanku?" Bentakan ini keluar dari mulut sang prabu yang sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ki Patih Brotomenggala yang tadinya tak dapat mengendalikan kemarahannya, ketika mendengarkan bentakan ini menjadi lemas seluruh sendi tulangnya, dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan junjungannya.
"Ampunkan hamba ....hamba tidak berani ....akan tetapi semua ini adalah fitnah ...fitnah ..., fitnah ....!" Patih yang sudah tua itu menutupi mukanya dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil karena menahan rasa penasaran dan kemarahan besar.
"Tidak ada fitnah. Aku sendiri yang menjadi saksi, bagaimana bisa dikatakan fitnah? Pengawal, tangkap pengkhianat dan pemberontak ini, laksanakan hukuman gantung di alun-alun bersama seluruh keluarganyal" Sang prabu yang sudah diamuk kemarahan itu mengeluarkan perintah yang disambut isak tangis seluruh keluarga kepatihan. Namun para pengawal yang sudah mendapat
aba-aba dari Pangeran Kukutan, sudah menangkap mereka semua, membelenggu dan menggiring mereka keluar dari ruangan itu, menuju ke alun-alun.

Para ponggawa tidak ada yang berani campur tangan karena mereka pun yakin akan keadaan ki patih, sungguhpun hal ini membuat mereka terheran-heran dan tidak mengerti. Kini alun-alun telah dibanjiri penduduk yang hendak menyaksikan pelaksanaan hukum massal yang mengerikan ini. Tiang-tiang gantung dibangun serentak, tiga puluh enam buah banyaknya. Mengerikan! Hanya mereka yang menjadi kaki tangan Suminten dan Pangeran Kukutan saja yang diam-diam tersenyum puas karena musuh besar mereka yang berbahaya itu kini akan dibasmi habis. Rakyat biasa menonton dengan wajah pucat dan banyak pula yang menangis sembunyi-sembunyi. Sang prabu sendiri duduk di panggung dengan wajah pucat dan mata sayu. Suminten duduk di dekatnya dengan wajah berseri, dan Pangeran Kukutan berdirl tegak, gagah dan masih berpakaian pemburu. Di dekatnya berdirl Raden Warutama yang menjadi buah bibir para ponggawa, karena dialah pada saat itu menjadi pahlawan penolong raja. Para hukuman sudah digiring berkelompok di dekat tiang-tiang gantungan. Amat mengharukan keadaan mereka. Ki patih yang sudah tua dengan kedua tangan dibelenggu, berdiri dengan kedua kaki terpentang, mukanya yang keriputan menengadah ke langit, seolah-olah mohon kekuatan dari para dewata. Bergantian keluarganya menghampirinya, memeluk kedua kakinya dan menangis, namun kakek perkasa itu tidak mau memandang ke bawah karena ia maklum bahwa sekali semangatnya runtuh, ia akan menjadi pilu dan hatinya akan menderita. Ia tidak ingin mati dalam keadaan seorang pengecut. Karena ia tidak bersalah, mati pun harus seperti seorang satria perkasa. Perang tanding terjadi dalam hati dan pikirannya. Betapapun gagah sikapnya, kalau dia dan keluarganya akan mati di tiang gantungan, berarti mereka itu mati sebagai keluarga pengkhianat! Kalau dia mengamuk pada saat terakhir itu, akhirnya ia akan mati dikeroyok berikut keluarganya dan mati sebagai keluarga pemberontak!. Tiba-tiba ki patih mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka dan ia sudah membalikkan tubuh, menghadap ke arah sang prabu yang duduk di atas panggung. Kemudian, sambil memandang junjungannya dengan sepasang mata berkilat-kilat, ia berkata, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang, memecah kesunyian yang menegangkan di saat itu,
"Gusti Sinuwun! Hamba bukan seorang pengkhianat, karena itu hamba tidak ingin mati sebagai seorang pengkhianat terhukum! Keluarga hamba adalah abdi-abdi yang setia, bukan pula pemberontak! Maka hamba sekeluarga rela mengorbankan nyawa demi dharma bakti hamba kepada Paduka Gusti. Namun sekali lagi, bukan mati sebagai orang hukuman karena hamba tidak berdosa, melainkan mati membunuh diri karena penyesalan dan kedukaan menyaksikan Paduka Gusti Sinuwun junjungan hamba telah terkena bujukan iblis, telah dilemahkan oleh manusia-manusia berhati iblis seperti Suminten dan Pangeran Kukutan! Hamba sekeluarga rela berkorban, namun semoga paduka menjadi sadar ....!“

Semua orang tertegun dan secepat kilat ki patih yang memang memiliki kedigdayaan ini telah mematahkan belenggu tangannya dengan sekali renggut kemudian tangannya meraih seorang pengawal di dekatnya, merampas sebatang pedang dan dengan pedang ini ki patih lalu menyerbu keluarganya sendiri!

<<< Bagian 107                                                                                     Bagian 109 >>>

No comments:

Post a Comment