Bahkan yang kecil-kecil pun
tahu akan sopan-santun istana ini. Di dalam hatinya, sang prabu merasa seperti
ditusuk pisau berkarat menyaksikan wajah patihnya yang setia itu, yang kini
berlutut dengan wajah tua keriputan di depan kakinya, dengan pandang kosong
terheran-heran.
"Brotomenggala!"
bentak sang prabu, melenyapkan sebutan "kakang patih".
"Di depanku, disaksikan
oleh semua ponggawaku yang kini hadir, ceritakanlah pengkhianatanmu dan usaha
kejimu yang gagal agar semua mendengar betapa seorang pengkhianat keji
sepertimu patut dijatuhi hukuman!"
Patih yang tua itu
mengangkat kepala memandang junjungannya dengan sepasang mata yang penuh
kejujuran dan kesetiaan, kemudian menyembah dan berkata, suaranya lantang,
"Sesungguhnya, Gusti
junjungan hamba, tidak ada seujung rambut pun usaha keji pengkhianatan di dalam
hati dan pikiran hamba, baik di masa lampau, sekarang maupun di masa datang.
Bahkan hamba masih belum tahu mengapa hamba sekeluarga ditangkap. Mohon
kebijaksanaan dan keadilan paduka, Gusti."
"Brotomenggala, lidahmu
bercabang seperti lidah ular! Semua pengkhianat selalu bersuara merdu! Bukti
sudah nyata, saksi pun banyak, masih hendak menyangkal?" Suminten berseru
marah.
"Aku sendiri menjadi
saksi, aku yang hampir terbunuh bersama pangeran pati dan terutama sekali gusti
sinuwun. Tentu pengkhianatanmu akan berhasil membunuh kami bertiga kalau saja
tidak datang pertolongan dari satria ini!" Terbelalak mata Ki Patih
Brotomenggala dan keluarganya.
"Apa ....apa yang telah
terjadi .....?" tanya patih tua itu tergagap.
"Brotomenggala, kalau
kamu bersandiwara, sungguh kamu merupakan pemain yang amat pandai," kata
sang prabu yang kemudian berkata kepada Pangeran Kukutan,
"Puteraku, ceritakanlah
semuanya agar didengar oleh para ponggawa dan oleh si pengkhianat ini
sendiri."
Pangeran Kukutan yang memang
sudah bersiap-siap untuk bertindak sebagai jaksa penuntut, sengaja belum
berganti pakaian sehingga kini ia maju dengan pakaiannya berburu yang masih
koyak-koyak dan dengan beberapa luka kecil babak dan lecet pada lengan dan
pahanya. Ia bangklt dari lantai, kini berdiri dan menentang pandang mata para
ponggawa yang hadir. Ia maklum bahwa para ponggawa itu sebagian besar adalah
kaki tangannya, akan tetapi di antara mereka masih terdapat orang-orang yang
pro ki patih, maka kepada mereka inilah ia menujukan pandang matanya. Kemudian
ia berpaling kepada Ki Patih Brotomenggala, mulutnya tersenyum mengejek secara
terang-terangan kepada musuhnya ini, lalu mulai bercerita,
"Ketika Ramanda Prabu
dan para pengikut sedang berburu dengan gembira di dalam hutan, tiba-tiba
terdengar teriakan-teriakan, dan beberapa orang pengawal roboh. Tahu-tahu,
entah darimana datangnya, kami telah terkurung oleh puluhan orang tinggi besar
berkepala gundul yang ganas dan liar, bersenjata golok!" Sang pangeran
berhenti dan kembali menoleh ke arah Ki Patih Brotomenggala yang mendengarkan
dengan sikap tenang dan pandang mata penasaran. Para ponggawa menahan napas
karena mereka pun belum tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi sehingga sang
prabu pulang dari perburuan tanpa dikawal pasukan pengawal.
"Para pengawal kami
mengadakan perlawanan dengan gagah berani, sedangkan aku sendiri cepat
melindungi Ramanda Prabu dan Ibunda Selir yang berlindung di dalam kereta.
Perang tanding seru terjadi, akan tetapi sungguhpun para pengawal yang gagah
berhasil menewaskan musuh, jumlah musuh terlalu besar dan akhirnya para
pengawal kami yang tiga puluh orang itu roboh tewas semua." Kemball
pangeran Kukutan berhenti sebentar dan para pendengarnya menahan napas, bahkan
ada yang mengeluarkan seruan tertahan.
"Gerombolan penjahat
gundul itulah menyerbu kereta. Kami melakukan perlawanan sekuatnya, akan tetapi
karena dikeroyok banyak orang yang liar, akhirnya Ramanda Prabu, ibunda Selir,
dan saya sendiri tertawan dan diikat pada pohon. Nyaris kami bertiga terbunuh
apalagi Ramanda Prabu yang sudah terancam dengan golok musuh siap membacok.
Pada detik terakhir, muncullah satria perkasa ini, Seorang satria dari Bali
dwipa bernama Raden Warutama yang sebetulnya bukanlah orang lain karena Raden
Warutama ini anak keponakan mendiang Sang Patih Narotama yang sakti mandraguna
dan setia! Dengan kesaktiannya, para penjahat itu dapat dibunuh semua, kecuali
dua orang yang sengaja ditawan hidup-hidup untuk menjadi saksi."
Para ponggawa kini memandang
ke arah Warutama yang masih duduk bersila dengan tenang itu, memandang penuh
kagum. Siapa tidak akan kagum kala mendengar bahwa pria yang tampan dan perkasa
itu adalah keponakan Sang Narotama yang perkasa? Apalagi pria ini telah
membebaskan sang prabu daripada ancaman maut.
"Ramanda Prabu sendiri
yang bertanya kepada para penjahat itu ketika beliau ditangkap, menanyakan
kehendak mereka dan siapa yang menyuruh mereka. Dan apa jawab mereka? Secara
terang-terangan mereka mengatakan bahwa mereka adalah anak buah
Brotomenggala!"
"Bohong ....!”. Ki
Patih Brotomenggala berseru keras. Namun Pangeran Kukutan tidak
memperdulikannya dan melanjutkan kata-katanya dengan suara lantang,
"Tadinya pun kami
bertiga tidak percaya akan pengakuan mereka. Akan tetapi berkali-kali mereka
mengaku bahwa mereka itu hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh
Brotomenggala yang menurut pengakuan mereka menaruh dendam kepada Ramanda Prabu
atas kematian mantunya beberapa tahun yang lalu."
"Bohong! Fitnah belaka!
Gusti Sinuwun, percayakah Paduka akan fitnah keji seperti itu? Hamba sama
sekali tidak tahu-menahu, bahkan mengenal mereka pun tidak! Hendaknya Paduka
menyelidiki dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan. Bukan sekali-kali
karena hamba mementingkan keselamatan sendiri, hanya hamba mengkhawatirkan
langkah yang Paduka ambil sebelum mengadakan pemeriksaan secara teliti. Hamba
hanya berani mengatakan dengan sumpah bahwa sesungguhnya hamba tidak
tahu-menahu dengan terjadinya peristiwa keji di dalam hutan itu."
Wajah sang prabu menjadi
merah,
"Brotomenggala!
Telingaku sendiri mendengar pengakuan setan-setan gundul itu! Mataku sendiri
melihat betapa mereka membunuhi semua pengawalku, hendak .... menghina selirku.
Dan Andika masih menyangkal? Seret dua orang gundul itu masuk!"
Dua prang pengawal menyeret
dua orang tinggi besar yang gundul itu masuki ruangan. Biarpun tubuh mereka
penuh luka, namun kedua orang itu sama sekall tidak memperlihatkan kelemahan
dan ketakutan. Mata mereka masih terbelalak memandang ke depan, dan mereka itu
sama sekali tidak kelihatan menderita, seolah-olah semua ini tidak terasa oleh
mereka. Kedua tangan mereka dibelenggu dan setelah kedua orang pengawal itu
menekan dan memaksanya, barulah mereka itu roboh dan berlutut di depan sang
prabu. Karena bangkit kemarahannya ketika melihat dua orang ini, sang prabu
memberi isyarat kepada Pangeran Kukutan untuk mewakilinya memeriksa tawanan.
"Hei, kalian dua orang
yang sudah melakukan dosa! Katakan sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian dan
gerombolan kalian untuk menyerang rombongan gusti sinuwun!" kata Pangeran
Kukutan dengan suara lantang. Seorang di antara mereka yang pipinya terluka
mengangkat muka dan menjawab, suaranya dingin penuh ejekan,
"Pasukan kami
diperintah oleh Ki Patih Brotomenggala untuk menghadang rombongan Gusti Sinuwun
dalam hutan, untuk membunuh Gusti Sinuwun dan Gusti Pangeran Pati, serta
menculik Selir Gusti Sinuwun.”
Sunyi senyap keadaan ruangan
itu setelah terdengar pengakuan ini, dan muka para ponggawa yang menjadi
sahabat ki patih menjadi pucat, mata mereka memandang ke arah patih tua itu
dengan keheranan dan pertanyaan. Terdengar isak tertahan di antara keluarga
yang berlutut di belakang Ki Patih Brotomenggala.
"Pengkhianatan keji
yang tiada taranya! Sudah sepatutnya kalau si pengkhianat keji sekeluarganya
dihukum gantung sampai mati di alun-alun!" Tiba-tiba terdengar suara
Suminten, lantang memecah kesunyian dan ketegangan, menimbulkan ketegangan
baru. Melihat wajah dan keadaan ki patih sekeluarga, semua hati para ponggawa
terharu dan kasihan, namun mengingat akan dosanya yang amat hebat, tak seorang
pun berani membantah tuntutan yang keluar dari mulut terkasih sang prabu yang
dalam peristiwa itu mengalami pula ancaman dan penghinaan. Tiba-tiba Ki Patih
Brotomenggala dari tempat ia bersila meloncat ke depan dan di lain saat kedua
tangannya sudah mencengkeram leher dua orang tawanan gundul itu, mukanya merah
dan matanya melotot, mulutnya mendesiskan kata-kata penuh kemarahan,
"Jahanam! Hayo katakan
siapa yang menyuruh kalian menjatuhkan fitnah atas diri sayal"
Dengan sikap tenang saja dua
orang gundul itu berkata,
"Kami diperintah oleh
Ki Patih Brotomenggala .....!” "Krakkki" Ki Patih Brotomenggala
menggerakkan kedua lengannya, dua kepala yang gundul itu beradu keras dan pecah
berantakanl Semua orang terkejut, Pangeran Kukutan meraba gagang keris, para
pengawal sudah siap dengan tombak mereka untuk mengeroyok ki patih yang agaknya
hendak memberontak.
"Brotomenggala! Berani
engkau melakukan hal ini di hadapanku?" Bentakan ini keluar dari mulut
sang prabu yang sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ki Patih
Brotomenggala yang tadinya tak dapat mengendalikan kemarahannya, ketika
mendengarkan bentakan ini menjadi lemas seluruh sendi tulangnya, dan ia menjatuhkan
diri berlutut di depan junjungannya.
"Ampunkan hamba
....hamba tidak berani ....akan tetapi semua ini adalah fitnah ...fitnah ...,
fitnah ....!" Patih yang sudah tua itu menutupi mukanya dengan kedua
tangan, tubuhnya menggigil karena menahan rasa penasaran dan kemarahan besar.
"Tidak ada fitnah. Aku
sendiri yang menjadi saksi, bagaimana bisa dikatakan fitnah? Pengawal, tangkap
pengkhianat dan pemberontak ini, laksanakan hukuman gantung di alun-alun
bersama seluruh keluarganyal" Sang prabu yang sudah diamuk kemarahan itu
mengeluarkan perintah yang disambut isak tangis seluruh keluarga kepatihan.
Namun para pengawal yang sudah mendapat
aba-aba dari Pangeran
Kukutan, sudah menangkap mereka semua, membelenggu dan menggiring mereka keluar
dari ruangan itu, menuju ke alun-alun.
Para ponggawa tidak ada yang
berani campur tangan karena mereka pun yakin akan keadaan ki patih, sungguhpun
hal ini membuat mereka terheran-heran dan tidak mengerti. Kini alun-alun telah
dibanjiri penduduk yang hendak menyaksikan pelaksanaan hukum massal yang
mengerikan ini. Tiang-tiang gantung dibangun serentak, tiga puluh enam buah
banyaknya. Mengerikan! Hanya mereka yang menjadi kaki tangan Suminten dan
Pangeran Kukutan saja yang diam-diam tersenyum puas karena musuh besar mereka
yang berbahaya itu kini akan dibasmi habis. Rakyat biasa menonton dengan wajah
pucat dan banyak pula yang menangis sembunyi-sembunyi. Sang prabu sendiri duduk
di panggung dengan wajah pucat dan mata sayu. Suminten duduk di dekatnya dengan
wajah berseri, dan Pangeran Kukutan berdirl tegak, gagah dan masih berpakaian
pemburu. Di dekatnya berdirl Raden Warutama yang menjadi buah bibir para
ponggawa, karena dialah pada saat itu menjadi pahlawan penolong raja. Para
hukuman sudah digiring berkelompok di dekat tiang-tiang gantungan. Amat
mengharukan keadaan mereka. Ki patih yang sudah tua dengan kedua tangan
dibelenggu, berdiri dengan kedua kaki terpentang, mukanya yang keriputan
menengadah ke langit, seolah-olah mohon kekuatan dari para dewata. Bergantian
keluarganya menghampirinya, memeluk kedua kakinya dan menangis, namun kakek
perkasa itu tidak mau memandang ke bawah karena ia maklum bahwa sekali
semangatnya runtuh, ia akan menjadi pilu dan hatinya akan menderita. Ia tidak
ingin mati dalam keadaan seorang pengecut. Karena ia tidak bersalah, mati pun
harus seperti seorang satria perkasa. Perang tanding terjadi dalam hati dan
pikirannya. Betapapun gagah sikapnya, kalau dia dan keluarganya akan mati di
tiang gantungan, berarti mereka itu mati sebagai keluarga pengkhianat! Kalau
dia mengamuk pada saat terakhir itu, akhirnya ia akan mati dikeroyok berikut
keluarganya dan mati sebagai keluarga pemberontak!. Tiba-tiba ki patih
mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka dan ia sudah
membalikkan tubuh, menghadap ke arah sang prabu yang duduk di atas panggung.
Kemudian, sambil memandang junjungannya dengan sepasang mata berkilat-kilat, ia
berkata, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang, memecah
kesunyian yang menegangkan di saat itu,
"Gusti Sinuwun! Hamba
bukan seorang pengkhianat, karena itu hamba tidak ingin mati sebagai seorang
pengkhianat terhukum! Keluarga hamba adalah abdi-abdi yang setia, bukan pula
pemberontak! Maka hamba sekeluarga rela mengorbankan nyawa demi dharma bakti
hamba kepada Paduka Gusti. Namun sekali lagi, bukan mati sebagai orang hukuman
karena hamba tidak berdosa, melainkan mati membunuh diri karena penyesalan dan
kedukaan menyaksikan Paduka Gusti Sinuwun junjungan hamba telah terkena bujukan
iblis, telah dilemahkan oleh manusia-manusia berhati iblis seperti Suminten dan
Pangeran Kukutan! Hamba sekeluarga rela berkorban, namun semoga paduka menjadi
sadar ....!“
Semua orang
tertegun dan secepat kilat ki patih yang memang memiliki kedigdayaan ini telah
mematahkan belenggu tangannya dengan sekali renggut kemudian tangannya meraih
seorang pengawal di dekatnya, merampas sebatang pedang dan dengan pedang ini ki
patih lalu menyerbu keluarganya sendiri!
No comments:
Post a Comment