Perang tanding yang amat hebat, yang seru dan liar buas. Para pengawal bertanding mati-matian, melawan musuh yang lebih banyak dan lebih kuat. Korban-korban kedua pihak berjatuhan. Sejam mereka berperang tanding dan akhirnya, orang penghabisan pihak pengawal menjerit dengan perut robek. Tiga puluh orang pengawal itu tewas semua dan di pihak penyerbu, hanya bersisa sepuluh orang gundul yang seluruh tubuhnya berlepotan darah, sedikit darah mereka sendiri yang keluar dari luka-luka di tubuh, sebagian besar darah lawan yang mereka robohkan dan tewaskan. Kini sepuluh orang itu dengan roman buas dan golok di tangan menghampiri kereta!
Pangeran Kukutan dengan
sikap gagah menerjang maju ketika sepuluh orang itu mengurung kereta. Ia
disambut oleh empat orang gundul dan terjadilah pertempuran hebat ketika
pangeran itu dikeroyok. Sedangkan enam orang gundul yang lain menghampiri sang
prabu dan Suminten. Raja yang tua itu bangkit semangatnya melihat bahaya
mengancam. Ia sudah melolos pedangnya, lengan kiri memeluk pinggang Suminten,
tangan kanan memegang pedang siap melakukan perlawanan. Tiba-tiba Suminten
merenggut dirinya terlepas dan berdiri menghadang di depan sang prabu.
"Jangan bunuh......!
Kami menyerah ......!" teriaknya, kemudian ia memegang lengan kanan sang
prabu dan berbisik,
"Harap paduka melepas
pedang, tiada gunanya melawan. Lebih baik menyerah."
Sang prabu mengerling ke
arah Pangeran Kukutan dan ternyata pangeran itu telah kehilangan tombaknya dan
kini sudah ditangkap oleh para pengeroyoknya. Sang prabu menarik napas panjang
dan melempar pedang, akan tetapi berdiri dengan sikap agung dan angkuh.
Orang-orang gundul itu menangkap sang prabu dan Suminten dan mereka bertiga
telah diikat kedua tangan mereka di belakang tubuh, lalu digiring keluar dari
tempat itu. Dengan sikap kasar sepuluh orang gundul itu lalu mengikat tubuh
mereka pada batang pohon, masing-masing terpisah dua meter.
"Kalian siapakah?
Mengapa menyerbu dan menangkap kami?" Sang prabu bertanya, suaranya keras
dan sama sekali tidak kelihatan takut.
Seorang di antara
orang-orang gundul itu menghampiri sang prabu dan tertawa menyeringai.
Kemudian, dengan suara yang parau ia menjawab,
"Kami anak buah
Brotomenggala!"
"Tidak
mungkin.......... !!!" Sang prabu membentak dan membelalakkan mata penuh
kekagetan dan keheranan.
"Ha-ha-ha,
Brotomenggala yang memerintahkan kami menangkap Paduka. Paduka dan Pangeran
Mahkota akan kami sembelih dan wanita ini dihadiahkan kepada kami. Ha-ha!"
"Bohong! Kalian ini
perampok-perampok laknat yang bohong!" Sang prabu membentak penuh
kemarahan.
"Bohong? Paduka
saksikanlah!" Si gundul yang tinggi besar ini lalu menghampiri Suminten,
tangan kirinya meraih dan menarik keras-keras,
"Brettt ......!” Bagian
depan pakaian atas yang dipakai Suminten robek sehingga tampak sebagian
dadanya. Suminten menjerit dan merintih perlahan, menangis.
"Tahan ......!"
Sang prabu membentak dan berusaha meronta-ronta. Juga Pangeran Kukutan
meronta-ronta. Dua orang gundul menghampiri mereka dan menodongkan ujung golok
ke dada mereka penuh ancaman.
"Jangan bergerak!"
Dua orang ini membentak.
"Tahan .....jangan
lakukan itu ....! Aku berjanji, demi kedudukanku sebagai Raja Jenggala. Kalau
kalian membebaskan kami, aku akan memberi hadiah apa saja yang kalian
minta!"
"Ha-ha-ha!" Si
gundul yang menjadi pemImpin mereka bergelak.
"Ki Patih Brotomenggala
sudah menjanjikan hadiah terbesar bagi kami. Lebih baik kami sembelih kalian
ayah dan putera terlebih dahulu agar jangan mengganggu kesenangan kami!"
Si gundul kini mengangkat golok menghampiri sang prabu. Betapapun tabahnya,
kini sang prabu menjadi pucat.
"Tunggu sebentar
......!" katanya perlahan.
"Aku tidak takut mati,
akan tetapi sebelumnya katakan mengapa Kakang Patih Brotomenggala melakukan
penghianatan ini!"
"Paduka masih bertanya
lagi? Ha-ha-ha! Sudah bertahun-tahun paduka menyakitkan hati Ki Patih
Brotomenggala. Paduka membunuh putera mantunya, dan paduka memilih putera
mahkota yang tidak dikehendakinya! Apakah paduka kira ki patih tidak mempunyai
cita-cita? Ha-ha-ha .....!“
"Brotomenggala
penghianat ....!” Pangeran Kukutan memaki marah.
"Sudah hamba katakan
berkali-kali, akan tetapi paduka tak percaya .....“ kata pula Suminten di
antara isaknya. Sang prabu menghela napas panjang.
"Aahhh, siapa
mengira....! Kakang Patih Brotomenggala ………! Ah, Kisanak. Lakukanlah tugasmu.
Kamu hanya petugas. Nah, aku siap menerima kematian akibat penghianatan seorang
manusia durhaka!"
Si gundul itu tertawa lagi
lalu mengangkat goloknya tinggi-tinggi. Sang prabu membelalakkan mata, bersikap
seperti seorang di saat terakhir. Akan tetapi sebelum golok itu menyambar
turun, tiba-tiba si gundul menjerit aneh dan tubuhnya roboh terjengkang,
sebatang anak panah menancap di tenggorokannyal Pada saat berikutnya, sesosok
bayangan berkelebat seperti seekor garuda menyambar dan begitu bayangan ini
menggerakkan kaki tangannya, dua orang gundul kembali roboh, yaitu mereka yang
menjaga Pangeran Kukutan dan Suminten. Orang ini bukan lain adalah Raden
Warutama! Sang prabu memandang dengan heran dan kagum kepada pria perkasa yang
kini mengamuk, dikeroyok tujuh orang gundul yang bersenjata golok. Bagaikan
seekor burung srikatan saja tubuhnya cepat berkelebatan, sedikitpun tidak
memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya. Tiba-tiba sinar hijau berkelebat
dan ternyata itu adalah sebatang keris luk tujuh yang bersinar hijau dan
dipegang oleh pria itu. Begitu sinar itu berkelebat, secara berturut-turut
robohlah lima orang gundul. Pria itu masih mengamuk, akan tetapi tiba-tiba
Pangeran Kukutan berseru,
"Ksatria yang perkasa,
harap tawan hidup-hidup dua orang itu!"
Pria itu menoleh, tersenyum,
lalu kakinya bergerak menendang. Dua orang gundul terguling roboh, golok mereka
mencelat dan setelah menyimpan kerisnya, pria itu lalu menelikung lengan mereka
ke belakang, mengikat tangan mereka mempergunakan robekan pakaian mereka
sendiri. Kemudian dengan sikap penuh hormat ia melepaskan belenggu sang prabu,
Suminten, dan Pangeran Kukutan.
"Mohon ampun bahwa
hamba agak terlambat sehingga paduka mengalami banyak kaget, Gusti." kata
pria itu sambil bersimpuh dan menyembah penuh kehormatan. Setelah mengelus-elus
pergelangan tangan yang terasa sakit, sang prabu memandang pria itu, kemudian
berkata,
"Andika telah
menyelamatkan kami, sungguh merupakan budi yang amat besar. Kalau tidak salah
pandanganku, agaknya aku pernah melihatmu, ksatria yang perkasa. Siapakah
gerangan andika?"
Raden Warutama menyembah dan
menekan debar jantungnya.
"Ampunkan, Gusti.
Sesungguhnya, baru pertama kali ini hamba mendapat kehormatan menghadap paduka.
Hamba bernama Warutama dan datang dari Bali-dwipa. Akan tetapi, tidaklah
terlalu keliru perkiraan paduka kalau diingat bahwa paman hamba Narotama dahulu
adalah abdi setia dari Sang Prabu Airlangga ......“ "Ahhh, kiranya Andika
ini anak kemenakan Paman Patih Narotama? Sungguh besar kekuasaan Dewata! Kami
bersyukur bahwa yang menolong kami adalah keturunan Paman Patih Narotama ...“
Hemm, sungguh awas pandang
mata kakek yang sudah tua ini, pikir Warutama setelah hatinya lega kembali. Ia
cepat bangkit dan berkata,
"Seyogianya paduka
cepat-cepat kembali ke istana, Gusti. Siapa tahu kalau-kalau penjahat-penjahat
ini masih banyak kawannya. Biarlah hamba mencarikan kuda yang telah lari
itu." Ia lalu melesat cepat dan tak lama kemudian sudah kembali menuntun empat
ekor kuda. Dua ekor ia pasangkan di depan kereta sri baginda yang ia
persilahkan memasuki kereta bersama Suminten.
"Biarlah hamba mengawal
paduka sampai ke istana."
Dua orang gundul yang
menjadi tawanan itu lalu diikat di belakang kereta. Kemudian berangkatlah
kereta itu dikawal oleh Warutama dan Pangeran Kukutan, kembali ke istana
meninggalkan hutan yang mtngerikan itu, di mana berserakan puluhan mayat
manusia. Di dalam kereta yang kudanya dituntun dari depan oleh Warutama yang
juga menunggang kuda sedangkan Pangeran Kukutan mengawal di belakang kereta,
Suminten menangis sambil memeluk sang Ptabti.,
"Aduh, junjungan hamba
.... betapa ngeri rasa hati hamba kalau teringat akan peristiwa tadi....! Yang
hamba khawatirkan adalah paduka, Gusti....”
Sang prabu menjadi terharu
dan mencium tengkuk wanita yang menelungkupkan muka di atas pangkuannya itu.
"Dewata masih
melindungi kita, Suminten kekasihku."
"Untung muncul Raden
Warutama itu, kalau tidak..... “
"Dia amat berjasa.
Harus kita beri anugerah yang sepadan dengan jasanya yang besar."
"Dia keponakan mendiang
Ki Patih Narotama yang amat setia. Kalau paduka mempunyai seorang patih seperti
dia, setia dan sakti mandraguna, barulah akan aman tenteram rasa hati hamba
.... “
"Mengangkat dia menjadi
patih?" Sang prabu meragu.
"Jasanya besar,
kesetiaannya sudah terbukti..... “
"Akan tetapi..... patih
adalah warangka raja!"
"Dia jauh lebih setia
dan lebih baik daripada pengkhianat Brotomenggala."
"Aahhh .....!"
Sang prabu menghela napas ketika nama ini disebut.
"Tak tahu aku mengapa
Kakang Brotomenggal. menjadi begitu kejam dan curang. Dia sampai tega mengarah
kematianku."
"Dia harus dihukum
berat, seberat beratnya agar menjadi contoh bagi para ponggawa lain!" kata
Suminten penuh semangat.
Sang prabu hanya dapat mengangguk
angguk dengan lemas dan berduka. Sesungguhnya hatinya merasa berat sekali harus
menghukum patihnya yang begitu setia sejak muda, akan tetapi dosanya sudah
terbukti dan dosa ini melampaui batas.
"Betapa hatiku tak akan
remuk? Di begitu setia ....“
"Paduka jangan terlalu
lemah! Perasaan pribadi harus dikalahkan dan kepentingan kerajaan harus
dikemukakan. Kalau orang berdosa seperti dia, yang sudah berkhianat, mengarah
kematian junjungannya tidak dibasmi sampai ke akar-akarnya tentu akan timbul
lain pengkhianatan yang lebih kejam lagi!"
Sang prabu mengelus lengan
yang berkulit halus lembut itu.
"Engkau selalu benar,
Suminten. Sudah berkali-kali engkau memperingatkan aku akan kepalsuan patihku,
namun ... ah, siapa mengira? Aku menyerahkan pelaksanaan hukuman
kepadamu."
"Biarlah, Paduka jangan
ikut-ikut. Biar hamba yang akan membalas kejahatannya! Kalau dia hanya membenci
hamba dan mengusahakan kematian bagi hamba, hal ini tidak hamba perduli dan
hamba menganggap hal yang tidak penting. Akan tetapi .....dia berani hendak
menyuruh bunuh Paduka! Paduka raja besar junjungan rakyat seluruh Jenggala!
Pengkhianat macam dia harus dibasmi sampai seluruh keluarganya. Ijinkanlah
hamba menyuruh pengawal menangkap pengkhianat itu bersama seluruh keluarga dan
semua abdinya, dan menjatuhkan hukuman gantung di alun-alun agar semua ponggawa
menjadi takut melakukan pengkhianatan."
Gegerlah seluruh isi istana
ketika rombongan sang prabu yang berangkat dengan megah itu kini pulang dalam
keadaan yang mengejutkan. Apalagi Ki Patih Brotomenggala sendiri yang sedang
bersiap-siap untuk menyambut pulangnya junjungannya, tiba-tiba kedatangan
serombongan pasukan pengawal yang serta-merta menangkap dia dan seluruh
keluarganya. Sebagai seorang patih yang berwibawa dan berkuasa, tentu saja Ki
Patih Brotomenggala menjadi marah dan membentak,
"Kalian ini mau apa?
Sudah berbalikkah dunia ini sehingga barisan pengawal hendak menentang
atasannya?" Komandan pasukan itu hanya menjawab singkat,
"Kami mengemban tugas
gusti sinuwun yang memerintahkan untuk menangkap dan membawa Paduka sekeluarga
menghadap gusti sinuwun!"
Hujan tangis
terjadi di dalam kepatihan. Namun, sekali ini Pangeran Kukutan tidak mau
sembrono dan karena perintah penangkapan itu sebetulnya datang dari Suminten,
tentu saja pengawal yang diutus untuk menangkap keluarga kepatihan adalah
pasukan pengawal kepercayaannya. Biarpun keluarga kepatihan meratap dan
menangis, pasukan pengawal ini sedikit pun tidak menaruh kasihan dan memaksa
seluruh keluarga, berikut beberapa orang anak-anak yang menjadi cucu dan buyut
Ki Patih Brotomenggala, juga semua pelayan, dipaksa untuk ikut menjadi tahanan.
Jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang! Hanya ada seorang anggota keluarga
kepatihan yang secara kebetulan saja lobos dari penangkapan ini. Dia itu adalah
seorang cucu luar ki patih, seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang
bernama Widawati. Pada saat penangkapan terjadi, gadis ini sedang keluar dari
kepatihan untuk berlatih tari-tarian di rumah seorang sahabatnya yang menjadi
puteri pelatih tarian. Begitu mendengar akan malapetaka yang menimpa
keluarganya, Widawati dibujuk dan dinasehati kawan-kawannya untuk melarikan
lolos dari dalam istana dengan bantuan para ponggawa yang setia dan yang
menaruh kasihan kepada sang puteri. Ketika para tahanan dihadapkan kepada raja,
mereka itu berlutut dan tidak kedengaran lagi isak tangis. Keluarga kepatihan
yang sudah terlatih ini menahan semua perasaan dan berlutut sembah dengan penuh
kekhidmatan kepada sang prabu yang menjadi junjungan mereka.
No comments:
Post a Comment