Perawan Lembah Wilis; Bagian 107


Perang tanding yang amat hebat, yang seru dan liar buas. Para pengawal bertanding mati-matian, melawan musuh yang lebih banyak dan lebih kuat. Korban-korban kedua pihak berjatuhan. Sejam mereka berperang tanding dan akhirnya, orang penghabisan pihak pengawal menjerit dengan perut robek. Tiga puluh orang pengawal itu tewas semua dan di pihak penyerbu, hanya bersisa sepuluh orang gundul yang seluruh tubuhnya berlepotan darah, sedikit darah mereka sendiri yang keluar dari luka-luka di tubuh, sebagian besar darah lawan yang mereka robohkan dan tewaskan. Kini sepuluh orang itu dengan roman buas dan golok di tangan menghampiri kereta!

Pangeran Kukutan dengan sikap gagah menerjang maju ketika sepuluh orang itu mengurung kereta. Ia disambut oleh empat orang gundul dan terjadilah pertempuran hebat ketika pangeran itu dikeroyok. Sedangkan enam orang gundul yang lain menghampiri sang prabu dan Suminten. Raja yang tua itu bangkit semangatnya melihat bahaya mengancam. Ia sudah melolos pedangnya, lengan kiri memeluk pinggang Suminten, tangan kanan memegang pedang siap melakukan perlawanan. Tiba-tiba Suminten merenggut dirinya terlepas dan berdiri menghadang di depan sang prabu.
"Jangan bunuh......! Kami menyerah ......!" teriaknya, kemudian ia memegang lengan kanan sang prabu dan berbisik,
"Harap paduka melepas pedang, tiada gunanya melawan. Lebih baik menyerah."
Sang prabu mengerling ke arah Pangeran Kukutan dan ternyata pangeran itu telah kehilangan tombaknya dan kini sudah ditangkap oleh para pengeroyoknya. Sang prabu menarik napas panjang dan melempar pedang, akan tetapi berdiri dengan sikap agung dan angkuh. Orang-orang gundul itu menangkap sang prabu dan Suminten dan mereka bertiga telah diikat kedua tangan mereka di belakang tubuh, lalu digiring keluar dari tempat itu. Dengan sikap kasar sepuluh orang gundul itu lalu mengikat tubuh mereka pada batang pohon, masing-masing terpisah dua meter.
"Kalian siapakah? Mengapa menyerbu dan menangkap kami?" Sang prabu bertanya, suaranya keras dan sama sekali tidak kelihatan takut.
Seorang di antara orang-orang gundul itu menghampiri sang prabu dan tertawa menyeringai. Kemudian, dengan suara yang parau ia menjawab,
"Kami anak buah Brotomenggala!"
"Tidak mungkin.......... !!!" Sang prabu membentak dan membelalakkan mata penuh kekagetan dan keheranan.
"Ha-ha-ha, Brotomenggala yang memerintahkan kami menangkap Paduka. Paduka dan Pangeran Mahkota akan kami sembelih dan wanita ini dihadiahkan kepada kami. Ha-ha!"
"Bohong! Kalian ini perampok-perampok laknat yang bohong!" Sang prabu membentak penuh kemarahan.
"Bohong? Paduka saksikanlah!" Si gundul yang tinggi besar ini lalu menghampiri Suminten, tangan kirinya meraih dan menarik keras-keras,
"Brettt ......!” Bagian depan pakaian atas yang dipakai Suminten robek sehingga tampak sebagian dadanya. Suminten menjerit dan merintih perlahan, menangis.
"Tahan ......!" Sang prabu membentak dan berusaha meronta-ronta. Juga Pangeran Kukutan meronta-ronta. Dua orang gundul menghampiri mereka dan menodongkan ujung golok ke dada mereka penuh ancaman.
"Jangan bergerak!" Dua orang ini membentak.
"Tahan .....jangan lakukan itu ....! Aku berjanji, demi kedudukanku sebagai Raja Jenggala. Kalau kalian membebaskan kami, aku akan memberi hadiah apa saja yang kalian minta!"
"Ha-ha-ha!" Si gundul yang menjadi pemImpin mereka bergelak.
"Ki Patih Brotomenggala sudah menjanjikan hadiah terbesar bagi kami. Lebih baik kami sembelih kalian ayah dan putera terlebih dahulu agar jangan mengganggu kesenangan kami!" Si gundul kini mengangkat golok menghampiri sang prabu. Betapapun tabahnya, kini sang prabu menjadi pucat.
"Tunggu sebentar ......!" katanya perlahan.
"Aku tidak takut mati, akan tetapi sebelumnya katakan mengapa Kakang Patih Brotomenggala melakukan penghianatan ini!"
"Paduka masih bertanya lagi? Ha-ha-ha! Sudah bertahun-tahun paduka menyakitkan hati Ki Patih Brotomenggala. Paduka membunuh putera mantunya, dan paduka memilih putera mahkota yang tidak dikehendakinya! Apakah paduka kira ki patih tidak mempunyai cita-cita? Ha-ha-ha .....!“
"Brotomenggala penghianat ....!” Pangeran Kukutan memaki marah.
"Sudah hamba katakan berkali-kali, akan tetapi paduka tak percaya .....“ kata pula Suminten di antara isaknya. Sang prabu menghela napas panjang.
"Aahhh, siapa mengira....! Kakang Patih Brotomenggala ………! Ah, Kisanak. Lakukanlah tugasmu. Kamu hanya petugas. Nah, aku siap menerima kematian akibat penghianatan seorang manusia durhaka!"

Si gundul itu tertawa lagi lalu mengangkat goloknya tinggi-tinggi. Sang prabu membelalakkan mata, bersikap seperti seorang di saat terakhir. Akan tetapi sebelum golok itu menyambar turun, tiba-tiba si gundul menjerit aneh dan tubuhnya roboh terjengkang, sebatang anak panah menancap di tenggorokannyal Pada saat berikutnya, sesosok bayangan berkelebat seperti seekor garuda menyambar dan begitu bayangan ini menggerakkan kaki tangannya, dua orang gundul kembali roboh, yaitu mereka yang menjaga Pangeran Kukutan dan Suminten. Orang ini bukan lain adalah Raden Warutama! Sang prabu memandang dengan heran dan kagum kepada pria perkasa yang kini mengamuk, dikeroyok tujuh orang gundul yang bersenjata golok. Bagaikan seekor burung srikatan saja tubuhnya cepat berkelebatan, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya. Tiba-tiba sinar hijau berkelebat dan ternyata itu adalah sebatang keris luk tujuh yang bersinar hijau dan dipegang oleh pria itu. Begitu sinar itu berkelebat, secara berturut-turut robohlah lima orang gundul. Pria itu masih mengamuk, akan tetapi tiba-tiba Pangeran Kukutan berseru,
"Ksatria yang perkasa, harap tawan hidup-hidup dua orang itu!"
Pria itu menoleh, tersenyum, lalu kakinya bergerak menendang. Dua orang gundul terguling roboh, golok mereka mencelat dan setelah menyimpan kerisnya, pria itu lalu menelikung lengan mereka ke belakang, mengikat tangan mereka mempergunakan robekan pakaian mereka sendiri. Kemudian dengan sikap penuh hormat ia melepaskan belenggu sang prabu, Suminten, dan Pangeran Kukutan.
"Mohon ampun bahwa hamba agak terlambat sehingga paduka mengalami banyak kaget, Gusti." kata pria itu sambil bersimpuh dan menyembah penuh kehormatan. Setelah mengelus-elus pergelangan tangan yang terasa sakit, sang prabu memandang pria itu, kemudian berkata,
"Andika telah menyelamatkan kami, sungguh merupakan budi yang amat besar. Kalau tidak salah pandanganku, agaknya aku pernah melihatmu, ksatria yang perkasa. Siapakah gerangan andika?"
Raden Warutama menyembah dan menekan debar jantungnya.
"Ampunkan, Gusti. Sesungguhnya, baru pertama kali ini hamba mendapat kehormatan menghadap paduka. Hamba bernama Warutama dan datang dari Bali-dwipa. Akan tetapi, tidaklah terlalu keliru perkiraan paduka kalau diingat bahwa paman hamba Narotama dahulu adalah abdi setia dari Sang Prabu Airlangga ......“ "Ahhh, kiranya Andika ini anak kemenakan Paman Patih Narotama? Sungguh besar kekuasaan Dewata! Kami bersyukur bahwa yang menolong kami adalah keturunan Paman Patih Narotama ...“

Hemm, sungguh awas pandang mata kakek yang sudah tua ini, pikir Warutama setelah hatinya lega kembali. Ia cepat bangkit dan berkata,
"Seyogianya paduka cepat-cepat kembali ke istana, Gusti. Siapa tahu kalau-kalau penjahat-penjahat ini masih banyak kawannya. Biarlah hamba mencarikan kuda yang telah lari itu." Ia lalu melesat cepat dan tak lama kemudian sudah kembali menuntun empat ekor kuda. Dua ekor ia pasangkan di depan kereta sri baginda yang ia persilahkan memasuki kereta bersama Suminten.
"Biarlah hamba mengawal paduka sampai ke istana."
Dua orang gundul yang menjadi tawanan itu lalu diikat di belakang kereta. Kemudian berangkatlah kereta itu dikawal oleh Warutama dan Pangeran Kukutan, kembali ke istana meninggalkan hutan yang mtngerikan itu, di mana berserakan puluhan mayat manusia. Di dalam kereta yang kudanya dituntun dari depan oleh Warutama yang juga menunggang kuda sedangkan Pangeran Kukutan mengawal di belakang kereta, Suminten menangis sambil memeluk sang Ptabti.,
"Aduh, junjungan hamba .... betapa ngeri rasa hati hamba kalau teringat akan peristiwa tadi....! Yang hamba khawatirkan adalah paduka, Gusti....”
Sang prabu menjadi terharu dan mencium tengkuk wanita yang menelungkupkan muka di atas pangkuannya itu.
"Dewata masih melindungi kita, Suminten kekasihku."
"Untung muncul Raden Warutama itu, kalau tidak..... “
"Dia amat berjasa. Harus kita beri anugerah yang sepadan dengan jasanya yang besar."
"Dia keponakan mendiang Ki Patih Narotama yang amat setia. Kalau paduka mempunyai seorang patih seperti dia, setia dan sakti mandraguna, barulah akan aman tenteram rasa hati hamba .... “
"Mengangkat dia menjadi patih?" Sang prabu meragu.
"Jasanya besar, kesetiaannya sudah terbukti..... “
"Akan tetapi..... patih adalah warangka raja!"
"Dia jauh lebih setia dan lebih baik daripada pengkhianat Brotomenggala."
"Aahhh .....!" Sang prabu menghela napas ketika nama ini disebut.
"Tak tahu aku mengapa Kakang Brotomenggal. menjadi begitu kejam dan curang. Dia sampai tega mengarah kematianku."
"Dia harus dihukum berat, seberat beratnya agar menjadi contoh bagi para ponggawa lain!" kata Suminten penuh semangat.
Sang prabu hanya dapat mengangguk angguk dengan lemas dan berduka. Sesungguhnya hatinya merasa berat sekali harus menghukum patihnya yang begitu setia sejak muda, akan tetapi dosanya sudah terbukti dan dosa ini melampaui batas.
"Betapa hatiku tak akan remuk? Di begitu setia ....“
"Paduka jangan terlalu lemah! Perasaan pribadi harus dikalahkan dan kepentingan kerajaan harus dikemukakan. Kalau orang berdosa seperti dia, yang sudah berkhianat, mengarah kematian junjungannya tidak dibasmi sampai ke akar-akarnya tentu akan timbul lain pengkhianatan yang lebih kejam lagi!"
Sang prabu mengelus lengan yang berkulit halus lembut itu.
"Engkau selalu benar, Suminten. Sudah berkali-kali engkau memperingatkan aku akan kepalsuan patihku, namun ... ah, siapa mengira? Aku menyerahkan pelaksanaan hukuman kepadamu."
"Biarlah, Paduka jangan ikut-ikut. Biar hamba yang akan membalas kejahatannya! Kalau dia hanya membenci hamba dan mengusahakan kematian bagi hamba, hal ini tidak hamba perduli dan hamba menganggap hal yang tidak penting. Akan tetapi .....dia berani hendak menyuruh bunuh Paduka! Paduka raja besar junjungan rakyat seluruh Jenggala! Pengkhianat macam dia harus dibasmi sampai seluruh keluarganya. Ijinkanlah hamba menyuruh pengawal menangkap pengkhianat itu bersama seluruh keluarga dan semua abdinya, dan menjatuhkan hukuman gantung di alun-alun agar semua ponggawa menjadi takut melakukan pengkhianatan."

Gegerlah seluruh isi istana ketika rombongan sang prabu yang berangkat dengan megah itu kini pulang dalam keadaan yang mengejutkan. Apalagi Ki Patih Brotomenggala sendiri yang sedang bersiap-siap untuk menyambut pulangnya junjungannya, tiba-tiba kedatangan serombongan pasukan pengawal yang serta-merta menangkap dia dan seluruh keluarganya. Sebagai seorang patih yang berwibawa dan berkuasa, tentu saja Ki Patih Brotomenggala menjadi marah dan membentak,
"Kalian ini mau apa? Sudah berbalikkah dunia ini sehingga barisan pengawal hendak menentang atasannya?" Komandan pasukan itu hanya menjawab singkat,
"Kami mengemban tugas gusti sinuwun yang memerintahkan untuk menangkap dan membawa Paduka sekeluarga menghadap gusti sinuwun!"
Hujan tangis terjadi di dalam kepatihan. Namun, sekali ini Pangeran Kukutan tidak mau sembrono dan karena perintah penangkapan itu sebetulnya datang dari Suminten, tentu saja pengawal yang diutus untuk menangkap keluarga kepatihan adalah pasukan pengawal kepercayaannya. Biarpun keluarga kepatihan meratap dan menangis, pasukan pengawal ini sedikit pun tidak menaruh kasihan dan memaksa seluruh keluarga, berikut beberapa orang anak-anak yang menjadi cucu dan buyut Ki Patih Brotomenggala, juga semua pelayan, dipaksa untuk ikut menjadi tahanan. Jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang! Hanya ada seorang anggota keluarga kepatihan yang secara kebetulan saja lobos dari penangkapan ini. Dia itu adalah seorang cucu luar ki patih, seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang bernama Widawati. Pada saat penangkapan terjadi, gadis ini sedang keluar dari kepatihan untuk berlatih tari-tarian di rumah seorang sahabatnya yang menjadi puteri pelatih tarian. Begitu mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarganya, Widawati dibujuk dan dinasehati kawan-kawannya untuk melarikan lolos dari dalam istana dengan bantuan para ponggawa yang setia dan yang menaruh kasihan kepada sang puteri. Ketika para tahanan dihadapkan kepada raja, mereka itu berlutut dan tidak kedengaran lagi isak tangis. Keluarga kepatihan yang sudah terlatih ini menahan semua perasaan dan berlutut sembah dengan penuh kekhidmatan kepada sang prabu yang menjadi junjungan mereka.

<<< Bagian 106                                                                                     Bagian 108 >>>

No comments:

Post a Comment