Perawan Lembah Wilis; Bagian 106



Lega hati Pangeran Kukutan, Akan tetapi Suminten cepat bertanya,
"Raden, andika belum menerangkan betapa caranya untuk menundukkan kedua kerajaan. Jenggala sudah jelas akan dirajai oleh Pangeran Kukutan, akan tetapi Panjalu..... ?"
“Ha-ha-ha, Sang Dyah Ayu Suminten jangan khawatir. Saya telah mempunyai rencana yang amat bagus dan sudah pasti akan berhasil. Kita harus dapat memperkuat kedudukan dan pengaruh di Jenggala lebih dahulu sehingga segala sesuatu berlangsung dengan wajar, tidak menimbulkan kecurigaan Panjalu. Kelak, kalau Sang Prabu Jenggala ....., maaf, yaitu suami dan junjungan paduka sang puteri, telah meninggal dunia dan paduka pangeran telah menjadi raja di sini, barulah kita gempur Panjalu. Untuk itu, kalau saya yang menjadi patihnya, sungguh gampangnya seperti membalik telapak tangan sendiri saja. Ketahuilah bahwa bala tentara Sriwijaya dan Cola sudah siap, dan para pemimpinnya yang maha sakti adalah sahabat-sahabat baik saya....”
"Sriwijaya dan Cola .....? Musuh-musuh besar itu ..... ?" kata Pangeran Kukutan, wajahnya berubah pucat.
"Ha-ha-ha! Itulah namanya siasat, Pangeran! Menjadikan musuh sebagai kawan dalam menghadapi musuh baru, itulah siasat yang amat baik dan sukar. Pendeknya, paduka serahkan saja kepada hamba, baik sekarang dalam perkembangannya maupun kelak kalau sudah tercapai cita-cita pertama paduka. Tidak percuma hamba menjadi keponakan sang bijaksana Narotama, Pangeran!"
"Hemmm, kami baru saja berjumpa dengan andika malam ini. Betapa kami dapat menjenguk isi hatimu, dapat membuktikan kesetiaanmu dan iktikad baikmu?" kata pula Pangeran Kukutan.

Raden Warutama tersenyum sambil melirik ke arah Suminten yang masih diam saja, kemudian menjawab,
"Hamba sudah membuktikan iktikad baik hamba dengan mengajak paduka bersekutu, andaikata hamba berniat buruk, apa sukarnya bagi hamba untuk membunuh paduka dan menculik sang puteri? Ha-ha-ha, hendaknya paduka dapat mempertimbangkan hal ini dengan kecerdikan." Pangeran Kukutan membungkam. Memang ada benarnya ucapan ini. Sudah jelas bahwa orang ini amat digdaya dan kalau mempunyai niat buruk, sukar baginya meloloskan diri. Kini Suminten yang berkata, suaranya penuh kesungguhan dan sekaligus merupakan tuntutan.
"Iktikad baik sudah terbukti, namun kesetiaan dan kejujuran masih harus dibuktikan. Bagaimanakah rencana andika untuk dapat kami percaya?"
"Sudah ada rencana saya yang amat baik. Untuk membuktikannya, saya akan menjalankan siasat agar Ki Patih Brotomenggala yang tua itu dapat disingkirkan dari Jenggala, bahkan dihukum mati oleh sang prabu sendiri, dan sang prabu akan dengan suka hati menerima saya sebagai seorang ponggawa yang dipercayai".
"Bagaimana caranya?"
Raden Warutama tersenyum, kemudian mendekat dan berbisik-bisik didahului kata-kata yang ia tujukan terhadap Suminten,
"Dalam hal ini, hanya dengan bantuan paduka akan berhasil." Kemudian dia membisikkan rencana siasatnya yang didengarkan oleh kedua orang itu dengan wajah berseri. Diam-diam Suminten memuji orang ini sebagai seorang pembantu yang amat berharga, apalagi yang memiliki daya tarik hebat sebagai seorang pria yang sudah matang segala-galanya. Pangeran Kukutan juga kagum, akan tetapi diam-diam pangeran ini mengambil keputusan di dalam hatinya untuk kelak mengenyahkan orang yang baginya amat berbahaya. Maka berundinglah tiga orang ini dan menjelang pagi barulah Raden Warutama keluar dari dalam kamar itu. Di luar pintu ia menengok kepada Suminten dan berbisik,
"Bilakah saya dapat mengharapkan anugerah dari paduka pribadi atas jasa saya?"
"Tidak ada anugerah jasa diberikan sebelum jasa itu sendiri dilaksanakan."
"Paduka tidak akan mengingkari janji?"
"Bagaimana diingkari kalau janji itu sendiri merupakan bayangan yang amat menyenangkan?"
"Terima kasih." Setelah bertukar senyum, Warutama berkelebat lenyap di dalam gelap.
"Dia .... dia sakti dan berbahaya ....." kata Pangeran Kukutan.
Suminten menoleh kepadanya, kemudian menggandeng lengannya, diajak memasuki kamarnya.
"Makin banyak orang sakti membantu, makin baiklah bagi kita. Tentang bahaya ... apakah engkau cemburu, wahai kekasihku?" "Tidak ....! Tidak, Wong Ayu. Tidak cemburu..... , karena aku tahu bahwa betapapun juga, kau tetap butuhkan aku seperti aku membutuhkanmu!"
"Ucapan bijaksana, patut diberi ganjaran. Jangan pulang dulu, malam masih panjang, dan pagi ini dingin sekali ....” Mereka berpelukan sambil memasuki kamar. Pintu kamar
ditutup dan sunyilah yang menyusul.

Rombongan yang megah itu di sepanjang jalan mendapat sambutan rakyat. Timbullah pula harapan rakyat yang tadinya merasa gelisah dan putus asa karena selama sang prabu di Jenggala tidak mengacuhkan pemerintahannya, mereka ini hidup tertindas dan tertekan oleh para penguasa setempat. Sudah terlalu lama sang prabu hanya tinggal di dalam istana, tidak pernah keluar dan tidak pernah mengurus soal-soal yang menyangkut pemerintahan dan tidak pula memperdulikan nasib rakyatnya. Kini, melihat rombongan sang prabu yang hendak melakukan perburuan ke hutan, hati rakyat menjadi lega dan mengira bahwa tentu kini sang prabu sudah tidak "mengasingkan diri" lagi. Selama ini, para petugas dan penjabat selalu mendesas-desuskan bahwa karena usianya sudah tua, sang prabu mulai tekun bertapa maka tidak lagi mengurus pemerintahan. Berduyun-duyun rakyat keluar menyambut dan hati mereka terharu menyaksikan tubuh tua kurus dan muka pucat tak bersemangat itu. Juga mereka kagum menyaksikan kemudaan dan kesegaran yang terpancar dari wajah Suminten, selir terkasih yang amat terkenal dan yang kini menjadi orang paling berkuasa di dalam istana. Atas bujukan dan desakan Suminten, akhirnya sang prabu yang sudah tua itu berkenan memerintahkan para pengawal membuat persiapan karena sang prabu hendak berpesiar bersama selirnya dan pergi berburu binatang di hutan. Tadinya Ki Patih Brotomenggala sendiri hendak mengantarkan dan mengawal junjungannya, akan tetapi dia dicegah oleh Pangeran Kukutan yang berkata dengan suara tegas,
"Tak usah Paman Patih mengawal, karena Paman sendiri sudah sepuh (tua). Biarlah saya sendiri mengawal ramanda prabu! Tidak ada bahaya mengancam ramanda prabu, yang lebih penting menjaga keamanan istana. Harap Paman Patih menjaga di istana, sedangkan saya yang mengepalai para pengawal."
Di dalam hatinya, Ki Patih Brotomenggala merasa khawatir sekali. Kiranya di antara semua ponggawa, hanya dia seoranglah bersama sang permaisuri yang dapat mengenal kepalsuan Pangeran Kukutan dan Suminten. Akan tetapi sang prabu telah menyambut ucapan Pangeran Kukutan dan memerintahkan agar pengawalan dilakukan oleh sang pangeran, dia tidak berani membantah. Betapapun juga, Ki Patih Brotomenggala bukan seorang bodoh. Diam-diam dia telah memerintahkan pasukan pilihannya yang terdiri dari dua belas orang pilihan dan digdaya untuk membayangi kepergian sang prabu, secara sembunyi melindungi keselamatan junjungannya. Hati ki patih agak lega ketika barisan pengawal yang berjumlah tiga puluh orang itu adalah pengawal-pengawal istana yang ia percaya merupakan orang-orang yang masih setia kepada sri baginda dan belum "terbeli" oleh Suminten dan Pangeran Kukutan. Maka patih yang setia dan sudah berusia tua ini mengantar kepergian sang prabu dengan penuh harapan mudah-mudahan kalau sang prabu menyaksikan rakyatnya dari dekat, hal ini akan menggugahnya. Tak dapat disangkal lagi, sang prabu menjadi amat terharu menyaksikan keadaan rakyat yang dilanda kemiskinan, melihat tubuh rakyatnya kurus-kurus dan melihat wajah yang kurus pucat dengan sinar mata mengandung penuh harapan ditujukan kepadanya.
Suminten yang cerdik pandai itu sengaja membawa bekal uang receh (kecil) beberapa kantung dan dibagi-bagikan uang itu kepada rakyat di sepanjang jalan. Melihat ini, sang prabu menjadi girang dan memuji kemurahan hati selirnya yang terkasih. Juga Pangeran Kukutan membagi-bagi uang kepada rakyat sehingga rakyat bersorak gembira dan segera menjadi buah tutur mereka betapa murah hati adanya selir sang prabu dan Pangeran Pati Kukutan. Iring-iringan itu memang megah dan indah. Karena sang prabu sudah tua dan sudah tidak setangkas dahulu sehingga mengkhawatirkan kalau menunggang kuda dan memburu binatang, dan terutama sekali sang prabu membawa selirnya yang tak boleh dipisahkan dari sisi sang prabu, maka dalam perjalanan ini sang prabu dan selirnya menggunakan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda. Sang prabu mengenakan pakaian berburu dan di punggungnya tampak busur dan anak panah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tombak bersandar di dalam kereta. Adapun Suminten yang mendapat kesempatan keluar istana, tidak menyia-nyiakan kesempatan bersolek sebagus-bagusnya sehingga rakyat memandangnya dengan mata terbelalak kagum. Pangeran Kukutan yang tampan dan gagah menunggang seekor kuda putih yang tinggi besar, juga berpakaian pemburu dengan senjata lengkap di tubuh. Tiga puluh orang pengawal itu rata-rata bertubuh tinggi tegap, merupakan pasukan pengawal yang kuat dan terpercaya.

Pada masa itu, hutan tempat berburu sang prabu merupakan daerah terlarang. Tidak ada seorang pun berani melakukan perburuan di hutan ini. Karena sudah bertahun-tahun sang prabu tidak pernah berburu, maka hutan itu penuh dengan binatang-binatang yang berkembang biak dan begitu rombongan memasuki hutan, mereka ini menjadi amat gembira menyaksikan banyaknya binatang di hutan itu. Rombongan kijang yang gemuk-gemuk lari cerai-berai, kancil, kelinci, harimau, dan babi hutan merupakan sasaran yang lunak. Juga banyak sekali burung-burung besar yang menantang bukti kemahiran para pemanah. Pangeran Kukutan segera menghujankan anak panahnya dengan amat gembira. Juga sang prabu timbul kegembiraannya, teringat masa mudanya dan raja yang sudah tua ini berkali-kali melepas anak panah dari dalam kereta, dipuji-puji oleh Suminten setiap kali anak panah ada yang mengenai sasaran, merobohkan seekor kijang atau kelinci. Ketika ada seekor harimau gembong terjebak masuk ke dalam kurungan para pengawal yang berbaris mengelilinginya dengan tombak di tangan, sang prabu menjadi amat gembira sehingga dia turun dari kereta, membawa tombaknya dan ikut mengeroyok harimau itu yang akhirnya roboh tewas dengan tubuh penuh luka-luka karena ke manapun ia lari, mata tombak yang runcing menghunjam ke tubuhnya. Sorak-sorai para pengawal membuat burung-burung hutan terbang ketakutan. Tiba-tiba terdengar jerit-jerit kesakitan, disusul teriakan-teriakan marah dan keadaan menjadi kacau-balau. Dalam sekejap mata, para pengawal sudah berperang tanding melawan serbuan banyak sekali orang-orang yang berkepala gundul! Melihat ini, Pangeran Kukutan cepat melompat turun dari kudanya, membawa sang prabu kembali ke dalam kereta, di mana sang prabu memandang dengan wajah pucat, berdekapan dengan Suminten yang menggigil ketakutan.
"Jangan khawatir, Ramanda Prabu. Hamba menjaga di sini!" kata Pangeran Kukutan dengan sikap gagah, berdiri melindungi kereta sambil melintangkan tombaknya setelah cepat-cepat ia melepaskan empat ekor kuda yang menarik kereta karena takut kalau-kalau empat ekor kuda itu menjadi ketakutan dan membalapkan kereta.
"Tenanglah, Manis. Tenanglah ...., jangan takut. Para pengawal kita akan membasmi pengacau-pengacau itu!" Sang prabu menghibur sambil merangkul leher kekasihnya.
"Entah siapakah mereka yang begini kurang ajar berani menggangguku!"
Karena bersembunyi di dalam kereta, sang prabu tidak dapat menyaksikan pertandingan yang mati-matian antara pasukan pengawal dan orang-orang berkepala gundul yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang itu. Tidak melihat betapa pasukan pengawal yang setia itu membelanya mati-matian, namun kalah kuat oleh para penyerbu yang rata-rata memiliki tubuh kebal dan keberanian yang luar biasa. Kalau hanya terpukul dan tertusuk tombak menimbulkan lecet kulit dan pecah daging saja tidak membuat mereka undur, dan mereka yang tertusuk sampai keluar ususnya atau tertembus tubuhnya, roboh berkelojotan dan mati, barulah menghentikan amukannya. Menghadapi serbuan orang-orang nekat seperti ini, para pengawal terdesak hebat. Tiba-tiba muncul dua belas orang gagah perkasa yang berpakaian serba hitam. Mereka ini bukan lain adalah pasukan pilihan yang diutus ki patih untuk diam-diam melindungi sang prabu. Munculnya dua belas orang pilihan ini merubah keadaan. Mereka ini mainkan golok mereka dengan tangkas dan para penyerbu yang berkepala gundul itu segera terdesak, banyak di antara mereka roboh termakan golok. Akan tetapi, segera terdengar bentakan-bentakan buas dan muncul tiga orang yang amat hebat sepak-terjangnya, bahkan dengan tangan kosong tiga orang ini menyambut dua belas orang pengawal baju hitam. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah, yang ke dua seorang laki-laki bertubuh raksasa dan yang ke tiga seorang wanita cantik. Cepat dan ampuh sekali pukulan mereka ini sehingga dalam waktu singkat, sebelas orang pengawal baju hitam roboh tewas dan hanya seorang di antara mereka yang tempat melarikan diri menggondol luka pukulan tangan Ni Dewi Nilamanik yang membuat separuh dadanya menjadi gosong menghitam. Ya, tiga orang itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama sendiri! Setelah kedua belas orang pengawal baju hitam itu terbasmi habis, mereka bertiga pun cepat menyelinap bersembunyi, membiarkan barisan gundul itu berperang tanding melawan para pengawal kerajaan.

<<< Bagian 105                                                                                     Bagian 107 >>>

No comments:

Post a Comment