Lega hati Pangeran Kukutan,
Akan tetapi Suminten cepat bertanya,
"Raden, andika belum
menerangkan betapa caranya untuk menundukkan kedua kerajaan. Jenggala sudah
jelas akan dirajai oleh Pangeran Kukutan, akan tetapi Panjalu..... ?"
“Ha-ha-ha, Sang Dyah Ayu
Suminten jangan khawatir. Saya telah mempunyai rencana yang amat bagus dan
sudah pasti akan berhasil. Kita harus dapat memperkuat kedudukan dan pengaruh
di Jenggala lebih dahulu sehingga segala sesuatu berlangsung dengan wajar,
tidak menimbulkan kecurigaan Panjalu. Kelak, kalau Sang Prabu Jenggala .....,
maaf, yaitu suami dan junjungan paduka sang puteri, telah meninggal dunia dan
paduka pangeran telah menjadi raja di sini, barulah kita gempur Panjalu. Untuk
itu, kalau saya yang menjadi patihnya, sungguh gampangnya seperti membalik
telapak tangan sendiri saja. Ketahuilah bahwa bala tentara Sriwijaya dan Cola
sudah siap, dan para pemimpinnya yang maha sakti adalah sahabat-sahabat baik
saya....”
"Sriwijaya dan Cola
.....? Musuh-musuh besar itu ..... ?" kata Pangeran Kukutan, wajahnya
berubah pucat.
"Ha-ha-ha! Itulah
namanya siasat, Pangeran! Menjadikan musuh sebagai kawan dalam menghadapi musuh
baru, itulah siasat yang amat baik dan sukar. Pendeknya, paduka serahkan saja
kepada hamba, baik sekarang dalam perkembangannya maupun kelak kalau sudah
tercapai cita-cita pertama paduka. Tidak percuma hamba menjadi keponakan sang
bijaksana Narotama, Pangeran!"
"Hemmm, kami baru saja
berjumpa dengan andika malam ini. Betapa kami dapat menjenguk isi hatimu, dapat
membuktikan kesetiaanmu dan iktikad baikmu?" kata pula Pangeran Kukutan.
Raden Warutama tersenyum
sambil melirik ke arah Suminten yang masih diam saja, kemudian menjawab,
"Hamba sudah
membuktikan iktikad baik hamba dengan mengajak paduka bersekutu, andaikata
hamba berniat buruk, apa sukarnya bagi hamba untuk membunuh paduka dan menculik
sang puteri? Ha-ha-ha, hendaknya paduka dapat mempertimbangkan hal ini dengan
kecerdikan." Pangeran Kukutan membungkam. Memang ada benarnya ucapan ini.
Sudah jelas bahwa orang ini amat digdaya dan kalau mempunyai niat buruk, sukar
baginya meloloskan diri. Kini Suminten yang berkata, suaranya penuh kesungguhan
dan sekaligus merupakan tuntutan.
"Iktikad baik sudah
terbukti, namun kesetiaan dan kejujuran masih harus dibuktikan. Bagaimanakah
rencana andika untuk dapat kami percaya?"
"Sudah ada rencana saya
yang amat baik. Untuk membuktikannya, saya akan menjalankan siasat agar Ki
Patih Brotomenggala yang tua itu dapat disingkirkan dari Jenggala, bahkan
dihukum mati oleh sang prabu sendiri, dan sang prabu akan dengan suka hati
menerima saya sebagai seorang ponggawa yang dipercayai".
"Bagaimana
caranya?"
Raden Warutama tersenyum,
kemudian mendekat dan berbisik-bisik didahului kata-kata yang ia tujukan
terhadap Suminten,
"Dalam hal ini, hanya
dengan bantuan paduka akan berhasil." Kemudian dia membisikkan rencana
siasatnya yang didengarkan oleh kedua orang itu dengan wajah berseri. Diam-diam
Suminten memuji orang ini sebagai seorang pembantu yang amat berharga, apalagi
yang memiliki daya tarik hebat sebagai seorang pria yang sudah matang
segala-galanya. Pangeran Kukutan juga kagum, akan tetapi diam-diam pangeran ini
mengambil keputusan di dalam hatinya untuk kelak mengenyahkan orang yang
baginya amat berbahaya. Maka berundinglah tiga orang ini dan menjelang pagi
barulah Raden Warutama keluar dari dalam kamar itu. Di luar pintu ia menengok
kepada Suminten dan berbisik,
"Bilakah saya dapat
mengharapkan anugerah dari paduka pribadi atas jasa saya?"
"Tidak ada anugerah
jasa diberikan sebelum jasa itu sendiri dilaksanakan."
"Paduka tidak akan
mengingkari janji?"
"Bagaimana diingkari
kalau janji itu sendiri merupakan bayangan yang amat menyenangkan?"
"Terima kasih."
Setelah bertukar senyum, Warutama berkelebat lenyap di dalam gelap.
"Dia .... dia sakti dan
berbahaya ....." kata Pangeran Kukutan.
Suminten menoleh kepadanya,
kemudian menggandeng lengannya, diajak memasuki kamarnya.
"Makin banyak orang
sakti membantu, makin baiklah bagi kita. Tentang bahaya ... apakah engkau
cemburu, wahai kekasihku?" "Tidak ....! Tidak, Wong Ayu. Tidak
cemburu..... , karena aku tahu bahwa betapapun juga, kau tetap butuhkan aku
seperti aku membutuhkanmu!"
"Ucapan bijaksana,
patut diberi ganjaran. Jangan pulang dulu, malam masih panjang, dan pagi ini
dingin sekali ....” Mereka berpelukan sambil memasuki kamar. Pintu kamar
ditutup dan sunyilah yang
menyusul.
Rombongan yang megah itu di
sepanjang jalan mendapat sambutan rakyat. Timbullah pula harapan rakyat yang
tadinya merasa gelisah dan putus asa karena selama sang prabu di Jenggala tidak
mengacuhkan pemerintahannya, mereka ini hidup tertindas dan tertekan oleh para
penguasa setempat. Sudah terlalu lama sang prabu hanya tinggal di dalam istana,
tidak pernah keluar dan tidak pernah mengurus soal-soal yang menyangkut
pemerintahan dan tidak pula memperdulikan nasib rakyatnya. Kini, melihat
rombongan sang prabu yang hendak melakukan perburuan ke hutan, hati rakyat
menjadi lega dan mengira bahwa tentu kini sang prabu sudah tidak
"mengasingkan diri" lagi. Selama ini, para petugas dan penjabat
selalu mendesas-desuskan bahwa karena usianya sudah tua, sang prabu mulai tekun
bertapa maka tidak lagi mengurus pemerintahan. Berduyun-duyun rakyat keluar
menyambut dan hati mereka terharu menyaksikan tubuh tua kurus dan muka pucat
tak bersemangat itu. Juga mereka kagum menyaksikan kemudaan dan kesegaran yang
terpancar dari wajah Suminten, selir terkasih yang amat terkenal dan yang kini
menjadi orang paling berkuasa di dalam istana. Atas bujukan dan desakan
Suminten, akhirnya sang prabu yang sudah tua itu berkenan memerintahkan para
pengawal membuat persiapan karena sang prabu hendak berpesiar bersama selirnya
dan pergi berburu binatang di hutan. Tadinya Ki Patih Brotomenggala sendiri
hendak mengantarkan dan mengawal junjungannya, akan tetapi dia dicegah oleh
Pangeran Kukutan yang berkata dengan suara tegas,
"Tak usah Paman Patih mengawal,
karena Paman sendiri sudah sepuh (tua). Biarlah saya sendiri mengawal ramanda
prabu! Tidak ada bahaya mengancam ramanda prabu, yang lebih penting menjaga
keamanan istana. Harap Paman Patih menjaga di istana, sedangkan saya yang
mengepalai para pengawal."
Di dalam hatinya, Ki Patih
Brotomenggala merasa khawatir sekali. Kiranya di antara semua ponggawa, hanya
dia seoranglah bersama sang permaisuri yang dapat mengenal kepalsuan Pangeran
Kukutan dan Suminten. Akan tetapi sang prabu telah menyambut ucapan Pangeran
Kukutan dan memerintahkan agar pengawalan dilakukan oleh sang pangeran, dia
tidak berani membantah. Betapapun juga, Ki Patih Brotomenggala bukan seorang
bodoh. Diam-diam dia telah memerintahkan pasukan pilihannya yang terdiri dari
dua belas orang pilihan dan digdaya untuk membayangi kepergian sang prabu,
secara sembunyi melindungi keselamatan junjungannya. Hati ki patih agak lega
ketika barisan pengawal yang berjumlah tiga puluh orang itu adalah
pengawal-pengawal istana yang ia percaya merupakan orang-orang yang masih setia
kepada sri baginda dan belum "terbeli" oleh Suminten dan Pangeran
Kukutan. Maka patih yang setia dan sudah berusia tua ini mengantar kepergian
sang prabu dengan penuh harapan mudah-mudahan kalau sang prabu menyaksikan
rakyatnya dari dekat, hal ini akan menggugahnya. Tak dapat disangkal lagi, sang
prabu menjadi amat terharu menyaksikan keadaan rakyat yang dilanda kemiskinan,
melihat tubuh rakyatnya kurus-kurus dan melihat wajah yang kurus pucat dengan
sinar mata mengandung penuh harapan ditujukan kepadanya.
Suminten yang cerdik pandai
itu sengaja membawa bekal uang receh (kecil) beberapa kantung dan
dibagi-bagikan uang itu kepada rakyat di sepanjang jalan. Melihat ini, sang
prabu menjadi girang dan memuji kemurahan hati selirnya yang terkasih. Juga
Pangeran Kukutan membagi-bagi uang kepada rakyat sehingga rakyat bersorak
gembira dan segera menjadi buah tutur mereka betapa murah hati adanya selir
sang prabu dan Pangeran Pati Kukutan. Iring-iringan itu memang megah dan indah.
Karena sang prabu sudah tua dan sudah tidak setangkas dahulu sehingga
mengkhawatirkan kalau menunggang kuda dan memburu binatang, dan terutama sekali
sang prabu membawa selirnya yang tak boleh dipisahkan dari sisi sang prabu,
maka dalam perjalanan ini sang prabu dan selirnya menggunakan kereta yang
ditarik oleh empat ekor kuda. Sang prabu mengenakan pakaian berburu dan di
punggungnya tampak busur dan anak panah, di pinggangnya tergantung sebatang
pedang dan tombak bersandar di dalam kereta. Adapun Suminten yang mendapat
kesempatan keluar istana, tidak menyia-nyiakan kesempatan bersolek
sebagus-bagusnya sehingga rakyat memandangnya dengan mata terbelalak kagum.
Pangeran Kukutan yang tampan dan gagah menunggang seekor kuda putih yang tinggi
besar, juga berpakaian pemburu dengan senjata lengkap di tubuh. Tiga puluh
orang pengawal itu rata-rata bertubuh tinggi tegap, merupakan pasukan pengawal
yang kuat dan terpercaya.
Pada masa itu, hutan tempat
berburu sang prabu merupakan daerah terlarang. Tidak ada seorang pun berani
melakukan perburuan di hutan ini. Karena sudah bertahun-tahun sang prabu tidak
pernah berburu, maka hutan itu penuh dengan binatang-binatang yang berkembang
biak dan begitu rombongan memasuki hutan, mereka ini menjadi amat gembira
menyaksikan banyaknya binatang di hutan itu. Rombongan kijang yang gemuk-gemuk
lari cerai-berai, kancil, kelinci, harimau, dan babi hutan merupakan sasaran
yang lunak. Juga banyak sekali burung-burung besar yang menantang bukti
kemahiran para pemanah. Pangeran Kukutan segera menghujankan anak panahnya
dengan amat gembira. Juga sang prabu timbul kegembiraannya, teringat masa
mudanya dan raja yang sudah tua ini berkali-kali melepas anak panah dari dalam
kereta, dipuji-puji oleh Suminten setiap kali anak panah ada yang mengenai sasaran,
merobohkan seekor kijang atau kelinci. Ketika ada seekor harimau gembong
terjebak masuk ke dalam kurungan para pengawal yang berbaris mengelilinginya
dengan tombak di tangan, sang prabu menjadi amat gembira sehingga dia turun
dari kereta, membawa tombaknya dan ikut mengeroyok harimau itu yang akhirnya
roboh tewas dengan tubuh penuh luka-luka karena ke manapun ia lari, mata tombak
yang runcing menghunjam ke tubuhnya. Sorak-sorai para pengawal membuat
burung-burung hutan terbang ketakutan. Tiba-tiba terdengar jerit-jerit
kesakitan, disusul teriakan-teriakan marah dan keadaan menjadi kacau-balau.
Dalam sekejap mata, para pengawal sudah berperang tanding melawan serbuan
banyak sekali orang-orang yang berkepala gundul! Melihat ini, Pangeran Kukutan
cepat melompat turun dari kudanya, membawa sang prabu kembali ke dalam kereta,
di mana sang prabu memandang dengan wajah pucat, berdekapan dengan Suminten
yang menggigil ketakutan.
"Jangan khawatir,
Ramanda Prabu. Hamba menjaga di sini!" kata Pangeran Kukutan dengan sikap
gagah, berdiri melindungi kereta sambil melintangkan tombaknya setelah
cepat-cepat ia melepaskan empat ekor kuda yang menarik kereta karena takut
kalau-kalau empat ekor kuda itu menjadi ketakutan dan membalapkan kereta.
"Tenanglah, Manis.
Tenanglah ...., jangan takut. Para pengawal kita akan membasmi
pengacau-pengacau itu!" Sang prabu menghibur sambil merangkul leher
kekasihnya.
"Entah siapakah mereka
yang begini kurang ajar berani menggangguku!"
Karena
bersembunyi di dalam kereta, sang prabu tidak dapat menyaksikan pertandingan
yang mati-matian antara pasukan pengawal dan orang-orang berkepala gundul yang
jumlahnya lebih dari tiga puluh orang itu. Tidak melihat betapa pasukan
pengawal yang setia itu membelanya mati-matian, namun kalah kuat oleh para
penyerbu yang rata-rata memiliki tubuh kebal dan keberanian yang luar biasa.
Kalau hanya terpukul dan tertusuk tombak menimbulkan lecet kulit dan pecah
daging saja tidak membuat mereka undur, dan mereka yang tertusuk sampai keluar
ususnya atau tertembus tubuhnya, roboh berkelojotan dan mati, barulah
menghentikan amukannya. Menghadapi serbuan orang-orang nekat seperti ini, para
pengawal terdesak hebat. Tiba-tiba muncul dua belas orang gagah perkasa yang
berpakaian serba hitam. Mereka ini bukan lain adalah pasukan pilihan yang
diutus ki patih untuk diam-diam melindungi sang prabu. Munculnya dua belas
orang pilihan ini merubah keadaan. Mereka ini mainkan golok mereka dengan
tangkas dan para penyerbu yang berkepala gundul itu segera terdesak, banyak di
antara mereka roboh termakan golok. Akan tetapi, segera terdengar
bentakan-bentakan buas dan muncul tiga orang yang amat hebat sepak-terjangnya,
bahkan dengan tangan kosong tiga orang ini menyambut dua belas orang pengawal
baju hitam. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah, yang
ke dua seorang laki-laki bertubuh raksasa dan yang ke tiga seorang wanita
cantik. Cepat dan ampuh sekali pukulan mereka ini sehingga dalam waktu singkat,
sebelas orang pengawal baju hitam roboh tewas dan hanya seorang di antara
mereka yang tempat melarikan diri menggondol luka pukulan tangan Ni Dewi
Nilamanik yang membuat separuh dadanya menjadi gosong menghitam. Ya, tiga orang
itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama
sendiri! Setelah kedua belas orang pengawal baju hitam itu terbasmi habis,
mereka bertiga pun cepat menyelinap bersembunyi, membiarkan barisan gundul itu
berperang tanding melawan para pengawal kerajaan.
No comments:
Post a Comment