Makin besar pengaruh Suminten terhadap sang prabu, makin berani pula wanita ini mendesak dan memperbesar kedudukan dan kekuasaannya. Dan ternyata bahwa Suminten bukan hanya seorang wanita yang gila akan kedudukan tinggi dan kekuasaan, juga gila akan pria-pria yang tampan. Untuk menutup ketidakpuasannya bersuamikan seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih seperti Sang Prabu Jenggala, Suminten tidak saja menarik Pangeran Kukutan yang muda dan tampan sebagai kekasihnya, juga pangeran-pangeran lain yang menjadi sekutu mereka banyak yang ia pikat untuk melayani nafsu berahinya yang tak kunjung padam! Pengeran Kukutan tentu saja tahu akan hal ini akan tetapi dia yang telah jatuh ke dalam kekuasaan Suminten, tidak berani cemburu. Apalagi kalau diingat bahwa kegilaan pria yang menjadi watak Suminten ini merupakan semacam senjata yang ampuh pula untuk menundukkan dan menarik para pangeran itu menjadi sekutu sehingga kedudukan mereka menjadi makin kuat!
Suminten dan Pangeran Kukutan,
sebagai pucuk pimpinan komplotan yang bercita-cita menguasai Kerajaan Jenggala
ini, maklum bahwa kekuasaan mereka sudah cukup besar. Sebagian besar para
ponggawa tinggi adalah kaki tangan mereka sehingga sebagian besar prajurit
barisan Jenggala otomatis berada di bawah kekuasaan mereka. Kalau mereka
bergerak dan terjadi bentrokan, mereka akan menang. Akan tetapi Suminten yang
cerdik tidak mau mempergunakan kekerasan.
"Jangan terburu nafsu,
Pangeranku yang gagah!" katanya mencela sambil membelai rambut Pangeran
Kukutan yang merebahkan kepala di atas pangkuan sepasang paha yang bulat lunak itu.
"Betapapun kuat
kedudukan kita, masih ada rintangan yang amat besar, yaitu Ki Patih
Brotomenggolo dan antek-anteknya. Mereka ini masih memiliki pasukan pilihan yang
masih bersetia kepada raja."
"Kita tidak perlu
takut, Dewiku yang jelita,” kata Pangeran Kukutan sambil melingkari pinggang
ramping yang sudah amat dikenalnya itu dengan lengannya,
"Kalau sampai terjadi
perang, pasukan kita lebih banyak dan kawan-kawan kita bergerak dari dalam,
mudah saja menguasai istana dalam waktu singkat. Adapun Si tua bangka itu, aku
sendiri sanggup untuk mencekiknya sampai mampus."
"Hiss ......!"
Suminten menunduk dan menggunakan sepasang bibirnya yang merah dan manis itu
untuk menutup mulut kekasihnya. Sejenak mereka berciuman. Kemudian Suminten
mengangkat mukanya dan berblsik,
"Jangan bodoh,
Pangeran. Kita tidak boleh terlalu mengandalkan kekerasan. Mungkin kita bisa
menang menghadapi pasukan Jenggala yang masih setia kepada sang prabu. Akan
tetapi kita harus waspada dan ingat kepada Panjalu. Apakah engkau kira Panjalu
akan diam saja kalau Jenggala direbut dengan kekerasan? Dan kita tahu betapa
kuatnya Panjalu, apalagi setelah Adipati Tejolaksono menjadi patih muda di
sana. Kita tentu akan dipukulnya dan akan hancur sebelum sempat menikmati
kemenangan kita“
Wajah Pangeran Kukutan
menjadi pucat dan ia bangkit duduk.
"Ah, kau benar juga,
Dewiku ..." Pangeran hanya gagah kalau menghadapi lawan yang lemah,
sebetulnya dia seorang pengecut yang belum apa-apa sudah mundur ketakutan
menghadapi lawan yang kuat.
"Habis, bagaimana
baiknya?"
"Tenanglah, Pangeran
Pati! Engkau kan sudah menjadi putera mahkota, perlu apa tergesa-gesa? Kalau
kekuasaan itu berpindah ke tangan kita, hal itu harus berlangsung secara wajar
dan tanpa ada kekerasan sehingga Panjalu akan menerimanya pula dengan baik.
Sekarang kita harus bersabar dan memperbesar dukungan. Hanya ki patih dan
antek-anteknya yang masih menjadi duri dalam daging..... dan..... sang
permaisuri!"
"Memang ki patih dan
ibunda permaisuri agaknya memusuhi kita. Akan tetapi mereka itu terlalu kuat
kedudukan mereka dan ramanda prabu terlalu sayang kepada mereka. Betapa mungkin
menghalau mereka keluar Istana?"
“Eh, wong bagus, mengapa
bingung? Serahkan saja mereka itu kepadaku, dan kelak akan tiba masanya mereka
jatuh ke tangan Suminten! Hanya Panjalu yang kukhawatirkan .... " Suminten
menghentikan kata-katanya karena pangeran itu kembali telah memeluknya dan
membelainya, yang membuatnya sesak napas.
Napasnya selalu menjadi
sesak oleh dorongan nafsu apabila tubuhnya dibelai tangan-tangan pria muda yang
sekaligus menghapus kekecewaan dan kemuakannya dalam melayani sang prabu yang
sudah tua. Kedua orang yang sudah dimabuk nafsu ini mengadakan pertemuan di dalam
kamar Suminten. Kini mereka lebih berani, tidak lagi mengadakan pertemuan
rahasia di taman sari, karena selain mereka yakin bahwa malam itu sang prabu
yang makin lemah tubuhnya tidak akan datang ke kamar Suminten, juga andaikata
sang prabu datang, tentu lebih dulu mereka akan diperingatkan oleh para emban
dan pengawal yang menjaga ketat. Pendeknya, mereka itu terjaga dan aman oleh
para abdi yang sudah mereka percaya penuh. Setiap mengadakan pertemuan, mereka
bermain cinta semalam suntuk dengan hati tenteram di dalam kamar yang indah dan
mewah itu.
Dapat dibayangkan betapa
kaget hati kedua orang khianat ini ketika tiba-tiba terdengar suara ketawa di
luar jendela kamar yang tadi sengaja mereka buka karena hawa udara malam hari
itu agak panas. Mereka yakin bahwa tidak akan ada seorangpun abdi yang akan
berani mendekati jendela karena hal itu berarti mempertaruhkan nyawa. Akan
tetapi sekarang tiba-tiba ada orang tertawa di luar jendela, disusul suara
seorang laki-laki yang halus penuh ejekan,
"Dua orang muda yang
masih hijau hanya mengandalkan kenekatan dan keberanian, tanpa menggunakan
kecerdikan. Jika tidak kubantu, mana mungkin tercapai cita-cita dan dapat
menanggulangi Panjalu? Ha-ha-ha!"
Pangeran Kukutan terkejut
dan cepat melepaskan pelukannya, menyambar sebatang tombak di sudut kamar lalu
meloncat keluar jendela itu sambil membentak,
"Keparat! Siapa berani
kurang ajar?"
Akan tetapi terdengar suara
gedobrakan dan tubuh Pangeran Kukutan terpelanting kembali ke dalam kamar
karena ada tangan yang amat kuat mendorongnya dari luar jendela, kemudian
disusul melayangnya sesosok tubuh seorang pria yang tampan dan gagah. Pangeran
Kukutan yang terbanting ke atas lantai, cepat meloncat berdiri, dan bersama
Suminten dia memandang orang itu dengan mata terbelalak. Orang itu adalah
seorang laki-laki berusia antara empat puluh tahun, tampan dan gagah, sikapnya
tenang sekali, wajahnya berseri, senyumnya memikat dengan kumisnya yang tipis
menghias di atas bibir. Sungguh seorang pria yang tampan dan gagah, dan pandang
matanya yang ditujukan kepada Suminten membuat wanita ini berdebar karena
pandang mata itu demikian penuh pengertian dan penuh daya tarik. Seorang pria
yang jantan dan matang! Akan tetapi Pangeran Kukutan yang amat marah itu
berseru keras, tombak-nya bergerak menusuk dada yang telanjang itu. Pria itu
hanya tersenyum memandang, sama sekali tidak mengelak.
"Desss! Krakkk .....“
Tombak yang menusuk dada yang bidang itu meleset kemudian gagangnya patah!
Terbelalak Pangeran Kukutan memandang gagang tombak yang berada di tangannya,
wajahnya pucat sekali dan Suminten menahan jerit menutupi mulut dengan tangan.
Laki-laki itu tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau sekarang
kutangkap kalian berdua, lalu kuadukan kepada sang prabu, nasib apakah yang
akan menanti kalian? Dibakar hidup-hidup? Atau dipenggal leher?"
Makin pucat wajah Pangeran
Kukutan, teringat ia akan pengawalnya, maka ia lalu membuka mulut berseru
memanggil para pengawal. Akan tetapi malam tetap sunyi, tidak ada jawaban para
pengawal. Pria itu tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, melangkah ke pintu
kamar dan sekali dorong pintu kamar terbuka.
"Lihatlah. Seluruh
pengawal dan abdimu telah pulas. Percuma andika berteriak Pangeran. Dan
hentikan terlak-teriakanmu. Bagaimana kalau yang datang itu pengawal istana dan
melihat kalian di dalam kamar ini? Apalagi kalau ki patih yang banyak memasang
mata-mata sampai mengetahui pertemuan rahasia ini. Hemm .......... akan
ramai!"
Pangeran Kukutan makin
ketakutan dan hendak nekat melarikan diri, akan tetapi Suminten sudah menyentuh
lengannya, kemudian wanita ini melangkah maju menghampiri pria itu yang sudah
menutupkan kembali daun pintu di depan mana para pengawal telah tidur pulas
dalam keadaan tidak wajar, ada yang duduk dan ada yang berdiri bersandar
dinding!
"Siapakah andika? Dan
apa maksud kedatangan andika seperti ini?"
Sebelum menjawab laki-laki
itu memandang ke arah Suminten. Kamar itu diterangi oleh sebuah lampu yang
dibungkus sutera merah sehingga sinarnya kemerahan. Dengan pakaiannya yang
kusut, Suminten kelihatan cantik jelita di dalam cahaya kemerahan. Laki-laki
itu memandang dengan pandang mata tajam penuh selidik. Suminten membalas
pandang mata itu dan merasa betapa bulu-bulu di tubuhnya bergerak merinding.
Pandang mata laki-laki itu menjelajahi seluruh tubuhnya, seolah-olah jari-jari
tangan yang membelai dan menyentuh mesra. Belum pernah ia bertemu dengan pria
yang dapat membelainya hanya dengan pandang matanya, dan dapat membuat
jantungnya berdebar, kulit tubuhnya merinding hanya dengan ulasan pandang mata!
"Cantik jelita! Hati
siapa takkan tergila-gila? Pantas ...... , memang patut, dilabuhi pati (dibela
sampai mati) setiap orang pria! Andika yang bernama Suminten, bukan? Dan dia
ini adalah Pangeran Kukutan, yang kini menjadi putera mahkota? Ketahuilah, saya
bernama Raden Warutama dari Bali-dwipa."
"Maksud kedatanganmu
seperti ini?" kata Suminten, sikapnya tenang sekali. Wanita ini memang
hebat. Dalam keadaan seperti itu, sebentar saja ia telah dapat menguasai
dirinya dan dapat bersikap tenang, berbeda dengan Pangeran Kukutan yang menjadi
gelisah sekaIi. Diam-diam Raden Warutama menjadi kagum sekali dan mengertilah
ia mengapa wanita ini dapat menguasai keadaan di dalam istana Jenggala, kiranya
memang bukan wanita sembarangan.
"Maksud kedatanganku?
Tidak lain hendak membantu cita-citamu! Kalian tadi mengatakan jerih menghadapi
Panjalu, jerih menghadapi Tejolaksono. Tanpa bantuanku, cita-cita kalian takkan
terlaksana. Akulah orangnya yang akan dapat membuat Pangeran Kukutan kelak
menjadi raja, andika menjadi permalsurinya, dan aku .......... ha-ha, aku
menjadi patihnya. Bukan hanya Raja Jenggala, melainkan Raja Jenggala dan
Panjalu menjadi satu!"
Suminten mengerutkan alisnya
yang menjelirit (kecil panjang hitam), memandang tajam dan berkata,
"Raden Warutama, ucapanmu
yang muluk-muluk hanya membayangkan kesombongan yang tak berIsi. Mungkin andika
memiliki sedikit kedigdayaan sehingga sanggup mengalahkan Pangeran Kukutan,
akan tetapi andika terlalu memandang remeh Panjalu. Apakah dengan sedikit
kedigdayaanmu dan sikap menarikmu itu Panjalu akan dapat ditundukkan dengan
mudah? Hendaknya andika jangan menjual !agak di sini, karena aku bukanlah
seorang wanita yang mudah roboh oleh bujuk rayu!"
Makin kagum Raden Warutama.
Wanita hebat seperti ini jarang dapat ditemukan dan akan menjadi sekutu yang
amat berguna.
"Bagus sekali, memang
tepat apa yang paduka katakan, wahai Sang Dyah Ayu. Dan paduka sang pangeran,
harap maafkan kelancangan saya tadi. Kini, mari kita bicara dengan
sungguh-sungguh, karena kedatanganku membawa amanat penting sekali yang akan
menguntungkan kita bersama."
Pangeran Kukutan masih
ragu-ragu, akan tetapi Suminten yang maklum bahwa mempergunakan kekerasan
terhadap orang ini tidak akan ada gunanya, apalagi karena semua abdi dan
pengawal telah terkena sirep yang amat ampuh, lalu tersenyum ramah dan berniat
untuk menghadapinya dengan jalan halus.
“Silahkan, Raden. Mari kita
bicara dengan sungguh-sungguh. Duduklah." Mereka bertiga kini sudah duduk
berhadapan. Raden Warutama dan Pangeran Kukutan di atas bangku-bangku
terbungkus sutera halus, adapun Suminten sendiri duduk di atas pembaringan yang
lunak dan halus bertilam sutera merah jambon.
"Sebelum bicara tentang
persekutuan, hendaknya paduka berdua mengetahui bahwa sesungguhnya saya adalah
seorang anak kemenakan mendiang Sang Patih Narotama."
"Ahhh ......!"
Seruan ini keluar dari mulut Pangeran Kukutan yang dalam hal menekan perasaan
masih kalah jauh oleh Suminten yang tetap tenang. Seruan ini adalah seruan
kaget, karena Pangeran Kukutan yang sesungguhnya bukan keturunan Sang Prabu
Jenggala, mengira bahwa keponakan Narotama yang setia kepada raja itu tentu
saja akan membela sang prabu. Ia lupa dalam kegugupannya bahwa Warutama tentu
saja tidak tahu bahwa dia bukanlah keturunan sang prabu. Bagi Warutama sendiri,
seruan disangkanya seruan kaget dan girang maka ia tersenyum dan berkata kepada
Pangeran Kukutan.
"Nah, paduka kini
mengerti bahwa di antara paduka dan saya terdapat pertalian yang dekat,
Pangeran. Paman Narotama adalah seorang ponggawa yang amat setia kepada
mendiang Sang Prabu Airlangga, bukankah sudah tepat sekali kalau kelak Paduka,
sebagai cucu Sang Prabu Airlangga, mempunyai seorang patih seperti hamba? Dan
karena saya keturunan Narotama itulah yang membuat saya datang jauh-jauh dari
Bali- dwipa untuk menghambakan diri kepada bekas Kerajaan Mataram. Namun,
setelah tiba di Jenggala, saya menyaksikan kenyataan yang amat mengecewakan.
Bekas Mataram telah terpecah dua, dan dirajai oleh keturunan Sang Prabu
Airlangga yang ternyata tidak dapat mengurus kerajaan sehingga selalu terjadi
kekacauan-kekacauan. Setelah saya mendengar akan cita-cita mulia paduka
'berdua, saya melihat cahaya terang. Pangeran Kukutan, sebagal calon raja,
paduka adalah keturunan Sang Prabu Airlangga, dan kelak padukalah, dengan bantuan
saya, yang akan mengembalikan keutuhan Kahuripan, kembali seperti di masa jaman
Mataram."
No comments:
Post a Comment