Perawan Lembah Wilis; Bagian 105


Makin besar pengaruh Suminten terhadap sang prabu, makin berani pula wanita ini mendesak dan memperbesar kedudukan dan kekuasaannya. Dan ternyata bahwa Suminten bukan hanya seorang wanita yang gila akan kedudukan tinggi dan kekuasaan, juga gila akan pria-pria yang tampan. Untuk menutup ketidakpuasannya bersuamikan seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih seperti Sang Prabu Jenggala, Suminten tidak saja menarik Pangeran Kukutan yang muda dan tampan sebagai kekasihnya, juga pangeran-pangeran lain yang menjadi sekutu mereka banyak yang ia pikat untuk melayani nafsu berahinya yang tak kunjung padam! Pengeran Kukutan tentu saja tahu akan hal ini akan tetapi dia yang telah jatuh ke dalam kekuasaan Suminten, tidak berani cemburu. Apalagi kalau diingat bahwa kegilaan pria yang menjadi watak Suminten ini merupakan semacam senjata yang ampuh pula untuk menundukkan dan menarik para pangeran itu menjadi sekutu sehingga kedudukan mereka menjadi makin kuat!

Suminten dan Pangeran Kukutan, sebagai pucuk pimpinan komplotan yang bercita-cita menguasai Kerajaan Jenggala ini, maklum bahwa kekuasaan mereka sudah cukup besar. Sebagian besar para ponggawa tinggi adalah kaki tangan mereka sehingga sebagian besar prajurit barisan Jenggala otomatis berada di bawah kekuasaan mereka. Kalau mereka bergerak dan terjadi bentrokan, mereka akan menang. Akan tetapi Suminten yang cerdik tidak mau mempergunakan kekerasan.
"Jangan terburu nafsu, Pangeranku yang gagah!" katanya mencela sambil membelai rambut Pangeran Kukutan yang merebahkan kepala di atas pangkuan sepasang paha yang bulat lunak itu.
"Betapapun kuat kedudukan kita, masih ada rintangan yang amat besar, yaitu Ki Patih Brotomenggolo dan antek-anteknya. Mereka ini masih memiliki pasukan pilihan yang masih bersetia kepada raja."
"Kita tidak perlu takut, Dewiku yang jelita,” kata Pangeran Kukutan sambil melingkari pinggang ramping yang sudah amat dikenalnya itu dengan lengannya,
"Kalau sampai terjadi perang, pasukan kita lebih banyak dan kawan-kawan kita bergerak dari dalam, mudah saja menguasai istana dalam waktu singkat. Adapun Si tua bangka itu, aku sendiri sanggup untuk mencekiknya sampai mampus."
"Hiss ......!" Suminten menunduk dan menggunakan sepasang bibirnya yang merah dan manis itu untuk menutup mulut kekasihnya. Sejenak mereka berciuman. Kemudian Suminten mengangkat mukanya dan berblsik,
"Jangan bodoh, Pangeran. Kita tidak boleh terlalu mengandalkan kekerasan. Mungkin kita bisa menang menghadapi pasukan Jenggala yang masih setia kepada sang prabu. Akan tetapi kita harus waspada dan ingat kepada Panjalu. Apakah engkau kira Panjalu akan diam saja kalau Jenggala direbut dengan kekerasan? Dan kita tahu betapa kuatnya Panjalu, apalagi setelah Adipati Tejolaksono menjadi patih muda di sana. Kita tentu akan dipukulnya dan akan hancur sebelum sempat menikmati kemenangan kita“
Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat dan ia bangkit duduk.
"Ah, kau benar juga, Dewiku ..." Pangeran hanya gagah kalau menghadapi lawan yang lemah, sebetulnya dia seorang pengecut yang belum apa-apa sudah mundur ketakutan menghadapi lawan yang kuat.
"Habis, bagaimana baiknya?"
"Tenanglah, Pangeran Pati! Engkau kan sudah menjadi putera mahkota, perlu apa tergesa-gesa? Kalau kekuasaan itu berpindah ke tangan kita, hal itu harus berlangsung secara wajar dan tanpa ada kekerasan sehingga Panjalu akan menerimanya pula dengan baik. Sekarang kita harus bersabar dan memperbesar dukungan. Hanya ki patih dan antek-anteknya yang masih menjadi duri dalam daging..... dan..... sang permaisuri!"
"Memang ki patih dan ibunda permaisuri agaknya memusuhi kita. Akan tetapi mereka itu terlalu kuat kedudukan mereka dan ramanda prabu terlalu sayang kepada mereka. Betapa mungkin menghalau mereka keluar Istana?"
“Eh, wong bagus, mengapa bingung? Serahkan saja mereka itu kepadaku, dan kelak akan tiba masanya mereka jatuh ke tangan Suminten! Hanya Panjalu yang kukhawatirkan .... " Suminten menghentikan kata-katanya karena pangeran itu kembali telah memeluknya dan membelainya, yang membuatnya sesak napas.
Napasnya selalu menjadi sesak oleh dorongan nafsu apabila tubuhnya dibelai tangan-tangan pria muda yang sekaligus menghapus kekecewaan dan kemuakannya dalam melayani sang prabu yang sudah tua. Kedua orang yang sudah dimabuk nafsu ini mengadakan pertemuan di dalam kamar Suminten. Kini mereka lebih berani, tidak lagi mengadakan pertemuan rahasia di taman sari, karena selain mereka yakin bahwa malam itu sang prabu yang makin lemah tubuhnya tidak akan datang ke kamar Suminten, juga andaikata sang prabu datang, tentu lebih dulu mereka akan diperingatkan oleh para emban dan pengawal yang menjaga ketat. Pendeknya, mereka itu terjaga dan aman oleh para abdi yang sudah mereka percaya penuh. Setiap mengadakan pertemuan, mereka bermain cinta semalam suntuk dengan hati tenteram di dalam kamar yang indah dan mewah itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati kedua orang khianat ini ketika tiba-tiba terdengar suara ketawa di luar jendela kamar yang tadi sengaja mereka buka karena hawa udara malam hari itu agak panas. Mereka yakin bahwa tidak akan ada seorangpun abdi yang akan berani mendekati jendela karena hal itu berarti mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi sekarang tiba-tiba ada orang tertawa di luar jendela, disusul suara seorang laki-laki yang halus penuh ejekan,
"Dua orang muda yang masih hijau hanya mengandalkan kenekatan dan keberanian, tanpa menggunakan kecerdikan. Jika tidak kubantu, mana mungkin tercapai cita-cita dan dapat menanggulangi Panjalu? Ha-ha-ha!"
Pangeran Kukutan terkejut dan cepat melepaskan pelukannya, menyambar sebatang tombak di sudut kamar lalu meloncat keluar jendela itu sambil membentak,
"Keparat! Siapa berani kurang ajar?"
Akan tetapi terdengar suara gedobrakan dan tubuh Pangeran Kukutan terpelanting kembali ke dalam kamar karena ada tangan yang amat kuat mendorongnya dari luar jendela, kemudian disusul melayangnya sesosok tubuh seorang pria yang tampan dan gagah. Pangeran Kukutan yang terbanting ke atas lantai, cepat meloncat berdiri, dan bersama Suminten dia memandang orang itu dengan mata terbelalak. Orang itu adalah seorang laki-laki berusia antara empat puluh tahun, tampan dan gagah, sikapnya tenang sekali, wajahnya berseri, senyumnya memikat dengan kumisnya yang tipis menghias di atas bibir. Sungguh seorang pria yang tampan dan gagah, dan pandang matanya yang ditujukan kepada Suminten membuat wanita ini berdebar karena pandang mata itu demikian penuh pengertian dan penuh daya tarik. Seorang pria yang jantan dan matang! Akan tetapi Pangeran Kukutan yang amat marah itu berseru keras, tombak-nya bergerak menusuk dada yang telanjang itu. Pria itu hanya tersenyum memandang, sama sekali tidak mengelak.
"Desss! Krakkk .....“ Tombak yang menusuk dada yang bidang itu meleset kemudian gagangnya patah! Terbelalak Pangeran Kukutan memandang gagang tombak yang berada di tangannya, wajahnya pucat sekali dan Suminten menahan jerit menutupi mulut dengan tangan. Laki-laki itu tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau sekarang kutangkap kalian berdua, lalu kuadukan kepada sang prabu, nasib apakah yang akan menanti kalian? Dibakar hidup-hidup? Atau dipenggal leher?"

Makin pucat wajah Pangeran Kukutan, teringat ia akan pengawalnya, maka ia lalu membuka mulut berseru memanggil para pengawal. Akan tetapi malam tetap sunyi, tidak ada jawaban para pengawal. Pria itu tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, melangkah ke pintu kamar dan sekali dorong pintu kamar terbuka.
"Lihatlah. Seluruh pengawal dan abdimu telah pulas. Percuma andika berteriak Pangeran. Dan hentikan terlak-teriakanmu. Bagaimana kalau yang datang itu pengawal istana dan melihat kalian di dalam kamar ini? Apalagi kalau ki patih yang banyak memasang mata-mata sampai mengetahui pertemuan rahasia ini. Hemm .......... akan ramai!"
Pangeran Kukutan makin ketakutan dan hendak nekat melarikan diri, akan tetapi Suminten sudah menyentuh lengannya, kemudian wanita ini melangkah maju menghampiri pria itu yang sudah menutupkan kembali daun pintu di depan mana para pengawal telah tidur pulas dalam keadaan tidak wajar, ada yang duduk dan ada yang berdiri bersandar dinding!
"Siapakah andika? Dan apa maksud kedatangan andika seperti ini?"
Sebelum menjawab laki-laki itu memandang ke arah Suminten. Kamar itu diterangi oleh sebuah lampu yang dibungkus sutera merah sehingga sinarnya kemerahan. Dengan pakaiannya yang kusut, Suminten kelihatan cantik jelita di dalam cahaya kemerahan. Laki-laki itu memandang dengan pandang mata tajam penuh selidik. Suminten membalas pandang mata itu dan merasa betapa bulu-bulu di tubuhnya bergerak merinding. Pandang mata laki-laki itu menjelajahi seluruh tubuhnya, seolah-olah jari-jari tangan yang membelai dan menyentuh mesra. Belum pernah ia bertemu dengan pria yang dapat membelainya hanya dengan pandang matanya, dan dapat membuat jantungnya berdebar, kulit tubuhnya merinding hanya dengan ulasan pandang mata!
"Cantik jelita! Hati siapa takkan tergila-gila? Pantas ...... , memang patut, dilabuhi pati (dibela sampai mati) setiap orang pria! Andika yang bernama Suminten, bukan? Dan dia ini adalah Pangeran Kukutan, yang kini menjadi putera mahkota? Ketahuilah, saya bernama Raden Warutama dari Bali-dwipa."
"Maksud kedatanganmu seperti ini?" kata Suminten, sikapnya tenang sekali. Wanita ini memang hebat. Dalam keadaan seperti itu, sebentar saja ia telah dapat menguasai dirinya dan dapat bersikap tenang, berbeda dengan Pangeran Kukutan yang menjadi gelisah sekaIi. Diam-diam Raden Warutama menjadi kagum sekali dan mengertilah ia mengapa wanita ini dapat menguasai keadaan di dalam istana Jenggala, kiranya memang bukan wanita sembarangan.
"Maksud kedatanganku? Tidak lain hendak membantu cita-citamu! Kalian tadi mengatakan jerih menghadapi Panjalu, jerih menghadapi Tejolaksono. Tanpa bantuanku, cita-cita kalian takkan terlaksana. Akulah orangnya yang akan dapat membuat Pangeran Kukutan kelak menjadi raja, andika menjadi permalsurinya, dan aku .......... ha-ha, aku menjadi patihnya. Bukan hanya Raja Jenggala, melainkan Raja Jenggala dan Panjalu menjadi satu!"
Suminten mengerutkan alisnya yang menjelirit (kecil panjang hitam), memandang tajam dan berkata,
"Raden Warutama, ucapanmu yang muluk-muluk hanya membayangkan kesombongan yang tak berIsi. Mungkin andika memiliki sedikit kedigdayaan sehingga sanggup mengalahkan Pangeran Kukutan, akan tetapi andika terlalu memandang remeh Panjalu. Apakah dengan sedikit kedigdayaanmu dan sikap menarikmu itu Panjalu akan dapat ditundukkan dengan mudah? Hendaknya andika jangan menjual !agak di sini, karena aku bukanlah seorang wanita yang mudah roboh oleh bujuk rayu!"

Makin kagum Raden Warutama. Wanita hebat seperti ini jarang dapat ditemukan dan akan menjadi sekutu yang amat berguna.
"Bagus sekali, memang tepat apa yang paduka katakan, wahai Sang Dyah Ayu. Dan paduka sang pangeran, harap maafkan kelancangan saya tadi. Kini, mari kita bicara dengan sungguh-sungguh, karena kedatanganku membawa amanat penting sekali yang akan menguntungkan kita bersama."
Pangeran Kukutan masih ragu-ragu, akan tetapi Suminten yang maklum bahwa mempergunakan kekerasan terhadap orang ini tidak akan ada gunanya, apalagi karena semua abdi dan pengawal telah terkena sirep yang amat ampuh, lalu tersenyum ramah dan berniat untuk menghadapinya dengan jalan halus.
“Silahkan, Raden. Mari kita bicara dengan sungguh-sungguh. Duduklah." Mereka bertiga kini sudah duduk berhadapan. Raden Warutama dan Pangeran Kukutan di atas bangku-bangku terbungkus sutera halus, adapun Suminten sendiri duduk di atas pembaringan yang lunak dan halus bertilam sutera merah jambon.
"Sebelum bicara tentang persekutuan, hendaknya paduka berdua mengetahui bahwa sesungguhnya saya adalah seorang anak kemenakan mendiang Sang Patih Narotama."
"Ahhh ......!" Seruan ini keluar dari mulut Pangeran Kukutan yang dalam hal menekan perasaan masih kalah jauh oleh Suminten yang tetap tenang. Seruan ini adalah seruan kaget, karena Pangeran Kukutan yang sesungguhnya bukan keturunan Sang Prabu Jenggala, mengira bahwa keponakan Narotama yang setia kepada raja itu tentu saja akan membela sang prabu. Ia lupa dalam kegugupannya bahwa Warutama tentu saja tidak tahu bahwa dia bukanlah keturunan sang prabu. Bagi Warutama sendiri, seruan disangkanya seruan kaget dan girang maka ia tersenyum dan berkata kepada Pangeran Kukutan.
"Nah, paduka kini mengerti bahwa di antara paduka dan saya terdapat pertalian yang dekat, Pangeran. Paman Narotama adalah seorang ponggawa yang amat setia kepada mendiang Sang Prabu Airlangga, bukankah sudah tepat sekali kalau kelak Paduka, sebagai cucu Sang Prabu Airlangga, mempunyai seorang patih seperti hamba? Dan karena saya keturunan Narotama itulah yang membuat saya datang jauh-jauh dari Bali- dwipa untuk menghambakan diri kepada bekas Kerajaan Mataram. Namun, setelah tiba di Jenggala, saya menyaksikan kenyataan yang amat mengecewakan. Bekas Mataram telah terpecah dua, dan dirajai oleh keturunan Sang Prabu Airlangga yang ternyata tidak dapat mengurus kerajaan sehingga selalu terjadi kekacauan-kekacauan. Setelah saya mendengar akan cita-cita mulia paduka 'berdua, saya melihat cahaya terang. Pangeran Kukutan, sebagal calon raja, paduka adalah keturunan Sang Prabu Airlangga, dan kelak padukalah, dengan bantuan saya, yang akan mengembalikan keutuhan Kahuripan, kembali seperti di masa jaman Mataram."

<<< Bagian 104                                                                                     Bagian 106 >>>

No comments:

Post a Comment