Nini Bumigarba dan kedua orang kawannya memandang dengan mata terbelalak. Ki Tunggaljiwa yang masih duduk bersila itu lalu tersenyum dan berkata,
"Kehendak Sang Hyang
Widhi takkan dapat diubah oleh siapapun juga, Nini Bumigarba. Apalagi andika,
para dewata sekalipun tidak kuasa mengubahnya. Buktinya, Sang Hyang Widhi belum
menghendaki saya dan Bagus Seta mati, maka pada saat terakhir kami berdua
terbebas daripada bencana maut dengan hadirnya seorang manusia yang maha sakti!"
Setelah berkata demikian, Ki Tunggaljiwa memutar tubuh ke kanan lalu menyembah.
Bagus Seta mencontoh perbuatan gurunya, menyembah ke arah kanan.
Adapun Nini Bumigarba, Biku
Janapati dan Wasi Bagaspati juga telah memandang ke jurusan itu. Akan tetapi
tidak ada seorangpun manusia tampak. Betapapun juga, tiba-tiba Nini Bumigarba
mengeluarkan seruan tertahan ketika hawa yang dingin mengusap wajahnya,
mendesak dan medorong hawa panas yang keluar dari tubuhnya sebagai akibat
pengerahan aji kesaktiannya tadi. Kalau saja orang dapat menembus kabut uap
hitan, yang menyelimuti nenek ini, tentu akan melihat betapa nenek ini
membelalakkan mata dan wajahnya berubah pucat, bibirnya yang sudah keriputan
namun masih membayangkan bentuk yang cantik itu kini menggigil seperti orang
menahan tangis, dan terdengar bisikannya penuh kekecewaan,
"Engkau .... engkau
masih tidak suka mengalah kepadaku ...?" Bisikan ini bercampur dengan isak
dan tubuh nenek itu membalik, kemudian pergi dari situ dengan langkah gontai.
Melihat ini, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati menjadi gentar. Mereka tidak
melihat siapa-siapa, tidak tahu siapa yang telah menolong Ki Tunggaljiwa, akan
tetapi jelas bahwa Nini Bumigarba sendiri agaknya gentar menghadapi lawan ini.
Mereka menarik napas panjang, lalu pergi pula mengejar Nini Bumigarba. Setelah
tiga orang itu pergi, dari dalam halimun putih itu muncul keluar seorang kakek,
atau lebih tepat lagi, halimun putih itu menipis seperti tirai diangkat dan
tampaklah wujud seorang kakek tua renta berdiri di situ. Ketika Bagus Seta
mengangkat muka memandang, ternyata kakek inipun terselimuti wajahnya seperti
halnya Nini Bumigarba tadi, hanya bedanya kalau muka nenek itu terselimut uap
hitam, kakek ini wajahnya terbungkus uap putih.
"Duh Eyang Bhagawan....
sungguh besar kebahagiaan yang dilimpahkan para dewata kepada hamba sehingga
saat ini hamba dapat bertemu dengan Eyang Bhagawan!" Terdengar Ki
Tunggaljiwa berkata sambil menyembah. Mendengar ini, Bagus seta tercengang.
Gurunya adalah seorang kakek
yang sudah amat tua, sukar ditaksir berapa usianya. Akan tetapi gurunya maslh
menyebut kakek luar blasa yang datang ini sebagai Eyang Bhagawan!
"Baik sekali,
Tunggaljiwa. Andika telah memperoIeh kemajuan dan tidak menyeleweng daripada
garis yang lurus. Aku datang karena berjodoh dengan muridmu ini yang kelak akan
menggantikan dan mewakili kita membersihkan anasir-anasir sesat dari
Nusantara."
"Aahhhhh .....!"
Sukar ditaksir apa arti seruan yang keluar dari dada Ki Tunggaljiwa ini.
Mungkin saking kaget dan herannya, atau saking girangnya, namun yang sudah
pasti kakek ini cepat-cepat memegang lengan muridnya dan berbisik,
"Kulup, lekas
menghaturkan terima kasih kepada Eyang Guru!"
Namun Bagus Seta yang sudah
tergembleng sejak kecil tetap berpegang kepada kewaspadaannya. Ia membalas
dengan bisikan pertanyaan,
"Siapakah gerangan
Eyang ini?"
"Beliau adalah Sang
Bhagawan Ekadenta, juga Sang Bhagawan Jitendrya dan boleh juga disebut Sang
Bhagawan Sirnasarira!"
Tiga nama yang memiliki arti
dalam ini agaknya cukup bagi Bagus Seta yang cepat menghadap dan menyembah di
depan kakek tua luar biasa itu sambil berkata,
"Hamba menghaturkan
terima kasih kepada Eyang yang berkenan hendak memberi bimbingan kepada hamba.
Akan tetapi, lima tahun yang lalu Eyang Guru Tunggaljiwa berjanji kepada ramanda
bahwa hamba hanya akan belajar selama lima tahun dan kini telah tiba saatnya
hamba kembali kepada orang tua hamba. Kalau hamba tidak pulang, bukankah hal
ini berarti menyalahi janji dan amat tidak baik bagi Eyang Guru
Tunggaljiwa?"
Sang Bhagawan Ekadenta
tersenyum di balik tabir uap putih, dan sepasang mata yang bersinar-sinar itu
mengeluarkan cahaya lembut.
"Ah, dasar keturunan
satria! Jangan khawatir, Angger, memegang teguh janji bukan hanya menjadi
kewajiban para satria, melainkan kewajiban setiap orang manusia, termasuk para
pertapa seperti kami. Kalau andika suka menjadi muridku, sekarang juga aku akan
membawa andika menemui ayahanda sebagai pelaksanaan daripada janji Ki
Tunggaljiwa."
Bagus Seta menoleh ke arah
gurunya dengan pandang mata penuh pertanyaan. Betapapun juga, selama lima tahun
ia digembleng oleh kakek ini dan ia merasa terharu kalau harus meninggalkan
gurunya yang dikasihinya. Namun gurunya tersenyum kepadanya dan berkata,
"Berangkatlah, Angger,
dan doa restuku selalu mendampingimu.”
Bagus Seta lalu menyembah ke
arah Bhagawan Ekadenta,
"Baiklah, Eyang. Hamba
siap untuk pergi bersama Eyang."
"Bagus! Kau ikutlah
aku, Angger. Ki Tunggaljiwa, sampai jumpa pula!"
Tubuh kakek itu bergerak,
diselubungi halimun putih dan Bagus Seta cepat-cepat menyembah ke arah Ki
Tunggaljiwa sebagai tanda pamit, lalu bergegas mengikuti halimun putih itu yang
meninggalkan puncak bukit. Ki Tunggaljiwa bangkit berdiri, memandang kepergian
muridnya dengan mulut tersenyum. Hatinya lega dan puas karena ia telah melaksanakan
tugasnya selama lima tahun dan diam-diam ia berdoa semoga sinar terang selalu
akan mengatasi kegelapan yang mengancam dunia, semoga kebenaran akhirnya akan
unggul sehingga dunia menjadi tempat tinggal manusia yang penuh damai dan
ketenteraman. Clta-cita inilah yang menjadi kandungan hati setiap orang
pertapa, sungguhpun Ki Tunggaljiwa sendiri maklum bahwa segala peristiwa telah
diatur oleh Sang
Hyang Widhi, dan bahwa
manusia, betapapun pandainya, tidak kuasa mengubahnya. Dia maklum pula bahwa sudah
menjadi kehendak alam bahwa dua sifat yang saling bertentangan, baik dan buruk,
akan desak-mendesak, ganti-mengganti, berkuasa di dalam kehidupan manusia.
Bahwa selama masih ada yang disebut kebaikan, maka di sampingnya akan selalu
ada pula keburukan. Bahwa selama manusia mengenal kebajikan, manusia takkan
bebas daripada kejahatan, karena, sesungguhnya baik dan jahat, seperti halnya
dua unsur berlawanan di dunia ini, adalah saudara kembar yang tak terpisahkan.
Betapapun juga, manusia berkewajiban untuk berikhtiar, manusia berakal budi dan
sadar akan perbedaan antara kedua unsur berlawanan itu. Dan ia mengerti pula
bahwa kalau Sang Bhagawan Ekadenta sampai "turun" ke dunia ramai, hal
ini hanyalah merupakan kewajibannya sebagai manusia maha sakti, untuk mengimbangi
"turunnya" seorang tokoh sepert Nini Bumigarba! Ki Tunggaljiwa
menggeleng-geleng kepalanya dan mengheia napas panjang.
"Panjalu dan terutama
Jenggala akan geger ... dan bocah itu telah terpilih menjadi orang yang akan
menanggulangi dan mengimbangi kekuatan-kekuatan sesat. Alangkah berat tugasnya
.....!" Kakek inipun menggerakkan kaki, perlahan-lahan menghampiri mayat
Sardulo Pethak dan dikuburnya mayat binatang yang derajatnya sudah mendekati
manusia itu dengan penuh kasih sayang.
Tanpa berkata-kata, kakek
yang tubuhnya diselubungi halimun putih itu berjalan terus, diikuti oleh Bagus
Seta. Setelah mereka turun dari bukit, kakek itu menoleh, memegang tangan Bagus
Seta, digandengnya dan Bagus Seta tertegun. Kini ia berada di dalam halimun
putih dan tubuhnya terasa ringan sekali. Tampaknya saja mereka berjalan
lambat-lambat, akan tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya mereka melakukan
perjalanan dengan kecepatan yang tak dapat ia bayangkan, karena mereka bukan
berjalan biasa, melainkan bergerak maju didorong hawa sakti yang amat mujijat.
Seperti telah diceritakan
terdahulu, pada waktu itu Sang Adipati Tejolaksono sedang memimpin barisan
Panjalu mengadakan pembersihan terhadap anak buah Sang Wasi Bagaspati. Telah
diceritakan pula betapa Adipati Tejolaksono menyerbu ke Gunung Merak dan di
gunung inilah dia terjebak, roboh oleh Sang Wasi Bagaspati dan tentu akan tewas
di ujung senjata nenggala milik KI Kolohangkoro kalau saja tidak muncul Sang
Bhagawan Ekadenta yang datang bersama Bagus Seta. Nyawa Tejolaksono tertolong
dan baru pertama kali itu Sang Bhagawan Ekadenta menampakkan diri sehingga
kelihatan oleh Wasi Bagaspati dan Biku Janapati, bahkan oleh para anak buah
mereka. Pihak lawan terusir dan Tejolaksono dapat bertemu dngan puteranya yang
telah pergi selama lima tahun lebih. Dalam pertemuan ini Bagus Seta memberikan
setangkai bunga cempaka putih dengan pesan agar diberikannya bunga itu kepada
ibundanya, kemudian Bagus Seta mengikuti gurunya meninggalkan ramandanya yang
memandang penuh kagum dan haru.
Oleh kakek yang maha sakti
itu, Bagus Seta dibawa ke puncak Gunung Mahameru, gunung yang tertinggi di
seluruh Nusantara. Puncak gunung ini tertutup awan putih dan samar-samar tampak
asap yang tak pernah berhenti mengepul dari kawah di puncak. Dapat dibayangkan
betapa dinginnya puncak yang selalu diselimuti halimun tebal itu, akan tetapi
juga dapat diduga betapa panasnya kawah yang selalu mengepulkan asap. Namun, di
antara pertemuan kedua hawa yang bertentangan ini, Bagus Seta dituntun Sang
Bhagawan Ekadenta memasuki kawah di puncak Gunung Mahameru untuk memulai dengan
gemblengan yang akan diterimanya sebagai murid sang sakti! Mulai saat itu,
terbebaslah Bagus Seta daripada dunia ramai, hidup menggembleng diri seperti
hidup di alam khayal, seolah-olah ia telah menjadi sebagian daripada puncak
Mahameru, menjadi sebagian daripada alam.
Segala sesuatu yang terjadi
di dunia ini, baik maupun buruk, manis maupun pahit bagi manusia, sesungguhnya
bukan lain adalah akibat-akibat daripada sebab-sebab yang dibuat oleh manusia
itu sendiri. Nafsu merajalela dalam diri manusia, menanggulangi kelemahan
manusia sehingga manusia menjadi boneka-boneka atau hamba-hamba nafsu yang
hidup semata-mata untuk melampiaskan dorongan nafsu. Nafsu membuat manusia
menjadi makhluk yang paling mementingkan pribadi (egois) dan yang selama
hidupnya bersandar kepada sifat ini sehingga tanpadisadarinya setiap pikiran,
setiap perbuatan, setiap ucapan selalu merupakan penonjolan daripada sifat
egoistik ini. Mari kita renungkan dan bersiap-siap mengenal kelemahan kita
sendiri. Pandangan baik dan buruk, adil dan tidak, semua dipengaruhi watak kita
yang egoistik. Biarpun orang sekampung menganggap seorang itu jahat, kalau si
orang itu selalu baik terhadap anda, dapatkah anda menganggap orang itu jahat? Sebaiknya,
andaikata orang se kampung menganggap seseorang itu baik, kalau si orang Itu
menjadi musuh anda, dapatkah anda menganggapnya seorang baik? Demikian pula
tentang anggapan tentang adil atau tidak. Kalau adil untuk kita, maka kita
anggap adil-lah! Atau lebih tepat, kalau MENGUNTUNGKAN kIta, maka kita anggap
adil. Kalau MERUGIKAN, maka itu tidak adil namanya! Memang kita (manusia)
adalah makhluk-makhluk yang amat lemah, badut-badut yang selalu menimbulkan
lelucon yang hambar. Hari hujan, Bibi penjual makanan mengeluh, Paman tani
bersorak. Yang seorang menganggapnya buruk dan tidak adil, yang lain
menganggapnya baik dan adil, sesuai dengan sifat-sifat egoisme masing-masing.
Baik atau tidakkah hari hujan? Adil atau tidakkah? Tidak baik tidak buruk. Hujan
ya hujan! Wajar dan sudah semestinya begitu. Berbahagialah dia yang dapat
menerima segala sesuatu yang terjadi atas dirinya SEBAGAI SUATU KEWAJARAN!
Kerajaan
Jenggala diliputi mega mendung yang gelap. Suasana menjadi keruh oleh
pengumbaran nafsu yang melanda istana. Semua keadaan berbalik karena
merajalelanya nafsu. Yang putih nampak hitam, yang hitam diputihkan. Akibat
daripada olah manusia penghamba nafsu yang dipelopori oleh sang prabu di
Jenggala, yang menjadi gelap mata batinnya tanpa disadarinya, tenggelam ke
dalam belaian nafsu yang digelorakan rayuan Suminten. Kalau kepalanya
menyeleweng, tentu ekornya juga terbawa menyeleweng. Kalau pimpinannya
tersesat, pembantu-pembantupya tentu ikut-ikutan tersesat, karena jalan menuju
kemaksiatan amatlah menyenangkan! Sang prabu mabuk oleh belaian nikmat,
tenggelam dalam pelukan Suminten, tidak memperdulikan keadaan pemerintahan,
bahkan menyerahkan segala urusan kepada selir yang terkasih ini. Pangeran
Kukutan diangkat menjadi putera mahkota, orang-orang macam Tumenggung
Wirokeling dan Tumenggung Sosrogali dijadikan ponggawa tinggi. Bahkan satu demi
satu para ponggawa tinggi digeser dan diganti oleh orang-orang kepercayaan
Pangeran Kukutan sehingga akhirnya hanya tinggal Ki Patih Brotomenggala yang
masih mempertahankan kedudukannya. Masih berat hati sang prabu untuk mengganti
patihnya yang sudah mengabdi semenjak pemuda. Namun ki patih. sendiri maklum
betapa ia telah dikurung oleh musuh-musuh yang berbahaya. Menghadapi musuh yang
terang-terangan menentangnya dengan senjata di tangan, ki patih yang perkasa
ini tidak akan undur selangkahpun. Namun kini musuh-musuhnya bergerak secara
halus, dan inilah yang amat berbahaya. Hanya karena kesetiaannya kepada sang
prabu saja yang membuat ki patih masih memaksa diri mengabdi di Jenggala, untuk
melindungi dan membela junjungannya.
No comments:
Post a Comment