Perawan Lembah Wilis; Bagian 104


Nini Bumigarba dan kedua orang kawannya memandang dengan mata terbelalak. Ki Tunggaljiwa yang masih duduk bersila itu lalu tersenyum dan berkata,
"Kehendak Sang Hyang Widhi takkan dapat diubah oleh siapapun juga, Nini Bumigarba. Apalagi andika, para dewata sekalipun tidak kuasa mengubahnya. Buktinya, Sang Hyang Widhi belum menghendaki saya dan Bagus Seta mati, maka pada saat terakhir kami berdua terbebas daripada bencana maut dengan hadirnya seorang manusia yang maha sakti!" Setelah berkata demikian, Ki Tunggaljiwa memutar tubuh ke kanan lalu menyembah. Bagus Seta mencontoh perbuatan gurunya, menyembah ke arah kanan.

Adapun Nini Bumigarba, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati juga telah memandang ke jurusan itu. Akan tetapi tidak ada seorangpun manusia tampak. Betapapun juga, tiba-tiba Nini Bumigarba mengeluarkan seruan tertahan ketika hawa yang dingin mengusap wajahnya, mendesak dan medorong hawa panas yang keluar dari tubuhnya sebagai akibat pengerahan aji kesaktiannya tadi. Kalau saja orang dapat menembus kabut uap hitan, yang menyelimuti nenek ini, tentu akan melihat betapa nenek ini membelalakkan mata dan wajahnya berubah pucat, bibirnya yang sudah keriputan namun masih membayangkan bentuk yang cantik itu kini menggigil seperti orang menahan tangis, dan terdengar bisikannya penuh kekecewaan,
"Engkau .... engkau masih tidak suka mengalah kepadaku ...?" Bisikan ini bercampur dengan isak dan tubuh nenek itu membalik, kemudian pergi dari situ dengan langkah gontai. Melihat ini, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati menjadi gentar. Mereka tidak melihat siapa-siapa, tidak tahu siapa yang telah menolong Ki Tunggaljiwa, akan tetapi jelas bahwa Nini Bumigarba sendiri agaknya gentar menghadapi lawan ini. Mereka menarik napas panjang, lalu pergi pula mengejar Nini Bumigarba. Setelah tiga orang itu pergi, dari dalam halimun putih itu muncul keluar seorang kakek, atau lebih tepat lagi, halimun putih itu menipis seperti tirai diangkat dan tampaklah wujud seorang kakek tua renta berdiri di situ. Ketika Bagus Seta mengangkat muka memandang, ternyata kakek inipun terselimuti wajahnya seperti halnya Nini Bumigarba tadi, hanya bedanya kalau muka nenek itu terselimut uap hitam, kakek ini wajahnya terbungkus uap putih.
"Duh Eyang Bhagawan.... sungguh besar kebahagiaan yang dilimpahkan para dewata kepada hamba sehingga saat ini hamba dapat bertemu dengan Eyang Bhagawan!" Terdengar Ki Tunggaljiwa berkata sambil menyembah. Mendengar ini, Bagus seta tercengang.
Gurunya adalah seorang kakek yang sudah amat tua, sukar ditaksir berapa usianya. Akan tetapi gurunya maslh menyebut kakek luar blasa yang datang ini sebagai Eyang Bhagawan!
"Baik sekali, Tunggaljiwa. Andika telah memperoIeh kemajuan dan tidak menyeleweng daripada garis yang lurus. Aku datang karena berjodoh dengan muridmu ini yang kelak akan menggantikan dan mewakili kita membersihkan anasir-anasir sesat dari Nusantara."
"Aahhhhh .....!" Sukar ditaksir apa arti seruan yang keluar dari dada Ki Tunggaljiwa ini. Mungkin saking kaget dan herannya, atau saking girangnya, namun yang sudah pasti kakek ini cepat-cepat memegang lengan muridnya dan berbisik,
"Kulup, lekas menghaturkan terima kasih kepada Eyang Guru!"

Namun Bagus Seta yang sudah tergembleng sejak kecil tetap berpegang kepada kewaspadaannya. Ia membalas dengan bisikan pertanyaan,
"Siapakah gerangan Eyang ini?"
"Beliau adalah Sang Bhagawan Ekadenta, juga Sang Bhagawan Jitendrya dan boleh juga disebut Sang Bhagawan Sirnasarira!"
Tiga nama yang memiliki arti dalam ini agaknya cukup bagi Bagus Seta yang cepat menghadap dan menyembah di depan kakek tua luar biasa itu sambil berkata,
"Hamba menghaturkan terima kasih kepada Eyang yang berkenan hendak memberi bimbingan kepada hamba. Akan tetapi, lima tahun yang lalu Eyang Guru Tunggaljiwa berjanji kepada ramanda bahwa hamba hanya akan belajar selama lima tahun dan kini telah tiba saatnya hamba kembali kepada orang tua hamba. Kalau hamba tidak pulang, bukankah hal ini berarti menyalahi janji dan amat tidak baik bagi Eyang Guru Tunggaljiwa?"
Sang Bhagawan Ekadenta tersenyum di balik tabir uap putih, dan sepasang mata yang bersinar-sinar itu mengeluarkan cahaya lembut.
"Ah, dasar keturunan satria! Jangan khawatir, Angger, memegang teguh janji bukan hanya menjadi kewajiban para satria, melainkan kewajiban setiap orang manusia, termasuk para pertapa seperti kami. Kalau andika suka menjadi muridku, sekarang juga aku akan membawa andika menemui ayahanda sebagai pelaksanaan daripada janji Ki Tunggaljiwa."
Bagus Seta menoleh ke arah gurunya dengan pandang mata penuh pertanyaan. Betapapun juga, selama lima tahun ia digembleng oleh kakek ini dan ia merasa terharu kalau harus meninggalkan gurunya yang dikasihinya. Namun gurunya tersenyum kepadanya dan berkata,
"Berangkatlah, Angger, dan doa restuku selalu mendampingimu.”
Bagus Seta lalu menyembah ke arah Bhagawan Ekadenta,
"Baiklah, Eyang. Hamba siap untuk pergi bersama Eyang."
"Bagus! Kau ikutlah aku, Angger. Ki Tunggaljiwa, sampai jumpa pula!"
Tubuh kakek itu bergerak, diselubungi halimun putih dan Bagus Seta cepat-cepat menyembah ke arah Ki Tunggaljiwa sebagai tanda pamit, lalu bergegas mengikuti halimun putih itu yang meninggalkan puncak bukit. Ki Tunggaljiwa bangkit berdiri, memandang kepergian muridnya dengan mulut tersenyum. Hatinya lega dan puas karena ia telah melaksanakan tugasnya selama lima tahun dan diam-diam ia berdoa semoga sinar terang selalu akan mengatasi kegelapan yang mengancam dunia, semoga kebenaran akhirnya akan unggul sehingga dunia menjadi tempat tinggal manusia yang penuh damai dan ketenteraman. Clta-cita inilah yang menjadi kandungan hati setiap orang pertapa, sungguhpun Ki Tunggaljiwa sendiri maklum bahwa segala peristiwa telah diatur oleh Sang
Hyang Widhi, dan bahwa manusia, betapapun pandainya, tidak kuasa mengubahnya. Dia maklum pula bahwa sudah menjadi kehendak alam bahwa dua sifat yang saling bertentangan, baik dan buruk, akan desak-mendesak, ganti-mengganti, berkuasa di dalam kehidupan manusia. Bahwa selama masih ada yang disebut kebaikan, maka di sampingnya akan selalu ada pula keburukan. Bahwa selama manusia mengenal kebajikan, manusia takkan bebas daripada kejahatan, karena, sesungguhnya baik dan jahat, seperti halnya dua unsur berlawanan di dunia ini, adalah saudara kembar yang tak terpisahkan. Betapapun juga, manusia berkewajiban untuk berikhtiar, manusia berakal budi dan sadar akan perbedaan antara kedua unsur berlawanan itu. Dan ia mengerti pula bahwa kalau Sang Bhagawan Ekadenta sampai "turun" ke dunia ramai, hal ini hanyalah merupakan kewajibannya sebagai manusia maha sakti, untuk mengimbangi "turunnya" seorang tokoh sepert Nini Bumigarba! Ki Tunggaljiwa menggeleng-geleng kepalanya dan mengheia napas panjang.
"Panjalu dan terutama Jenggala akan geger ... dan bocah itu telah terpilih menjadi orang yang akan menanggulangi dan mengimbangi kekuatan-kekuatan sesat. Alangkah berat tugasnya .....!" Kakek inipun menggerakkan kaki, perlahan-lahan menghampiri mayat Sardulo Pethak dan dikuburnya mayat binatang yang derajatnya sudah mendekati manusia itu dengan penuh kasih sayang.

Tanpa berkata-kata, kakek yang tubuhnya diselubungi halimun putih itu berjalan terus, diikuti oleh Bagus Seta. Setelah mereka turun dari bukit, kakek itu menoleh, memegang tangan Bagus Seta, digandengnya dan Bagus Seta tertegun. Kini ia berada di dalam halimun putih dan tubuhnya terasa ringan sekali. Tampaknya saja mereka berjalan lambat-lambat, akan tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan yang tak dapat ia bayangkan, karena mereka bukan berjalan biasa, melainkan bergerak maju didorong hawa sakti yang amat mujijat.
Seperti telah diceritakan terdahulu, pada waktu itu Sang Adipati Tejolaksono sedang memimpin barisan Panjalu mengadakan pembersihan terhadap anak buah Sang Wasi Bagaspati. Telah diceritakan pula betapa Adipati Tejolaksono menyerbu ke Gunung Merak dan di gunung inilah dia terjebak, roboh oleh Sang Wasi Bagaspati dan tentu akan tewas di ujung senjata nenggala milik KI Kolohangkoro kalau saja tidak muncul Sang Bhagawan Ekadenta yang datang bersama Bagus Seta. Nyawa Tejolaksono tertolong dan baru pertama kali itu Sang Bhagawan Ekadenta menampakkan diri sehingga kelihatan oleh Wasi Bagaspati dan Biku Janapati, bahkan oleh para anak buah mereka. Pihak lawan terusir dan Tejolaksono dapat bertemu dngan puteranya yang telah pergi selama lima tahun lebih. Dalam pertemuan ini Bagus Seta memberikan setangkai bunga cempaka putih dengan pesan agar diberikannya bunga itu kepada ibundanya, kemudian Bagus Seta mengikuti gurunya meninggalkan ramandanya yang memandang penuh kagum dan haru.
Oleh kakek yang maha sakti itu, Bagus Seta dibawa ke puncak Gunung Mahameru, gunung yang tertinggi di seluruh Nusantara. Puncak gunung ini tertutup awan putih dan samar-samar tampak asap yang tak pernah berhenti mengepul dari kawah di puncak. Dapat dibayangkan betapa dinginnya puncak yang selalu diselimuti halimun tebal itu, akan tetapi juga dapat diduga betapa panasnya kawah yang selalu mengepulkan asap. Namun, di antara pertemuan kedua hawa yang bertentangan ini, Bagus Seta dituntun Sang Bhagawan Ekadenta memasuki kawah di puncak Gunung Mahameru untuk memulai dengan gemblengan yang akan diterimanya sebagai murid sang sakti! Mulai saat itu, terbebaslah Bagus Seta daripada dunia ramai, hidup menggembleng diri seperti hidup di alam khayal, seolah-olah ia telah menjadi sebagian daripada puncak Mahameru, menjadi sebagian daripada alam.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik maupun buruk, manis maupun pahit bagi manusia, sesungguhnya bukan lain adalah akibat-akibat daripada sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Nafsu merajalela dalam diri manusia, menanggulangi kelemahan manusia sehingga manusia menjadi boneka-boneka atau hamba-hamba nafsu yang hidup semata-mata untuk melampiaskan dorongan nafsu. Nafsu membuat manusia menjadi makhluk yang paling mementingkan pribadi (egois) dan yang selama hidupnya bersandar kepada sifat ini sehingga tanpadisadarinya setiap pikiran, setiap perbuatan, setiap ucapan selalu merupakan penonjolan daripada sifat egoistik ini. Mari kita renungkan dan bersiap-siap mengenal kelemahan kita sendiri. Pandangan baik dan buruk, adil dan tidak, semua dipengaruhi watak kita yang egoistik. Biarpun orang sekampung menganggap seorang itu jahat, kalau si orang itu selalu baik terhadap anda, dapatkah anda menganggap orang itu jahat? Sebaiknya, andaikata orang se kampung menganggap seseorang itu baik, kalau si orang Itu menjadi musuh anda, dapatkah anda menganggapnya seorang baik? Demikian pula tentang anggapan tentang adil atau tidak. Kalau adil untuk kita, maka kita anggap adil-lah! Atau lebih tepat, kalau MENGUNTUNGKAN kIta, maka kita anggap adil. Kalau MERUGIKAN, maka itu tidak adil namanya! Memang kita (manusia) adalah makhluk-makhluk yang amat lemah, badut-badut yang selalu menimbulkan lelucon yang hambar. Hari hujan, Bibi penjual makanan mengeluh, Paman tani bersorak. Yang seorang menganggapnya buruk dan tidak adil, yang lain menganggapnya baik dan adil, sesuai dengan sifat-sifat egoisme masing-masing. Baik atau tidakkah hari hujan? Adil atau tidakkah? Tidak baik tidak buruk. Hujan ya hujan! Wajar dan sudah semestinya begitu. Berbahagialah dia yang dapat menerima segala sesuatu yang terjadi atas dirinya SEBAGAI SUATU KEWAJARAN!
Kerajaan Jenggala diliputi mega mendung yang gelap. Suasana menjadi keruh oleh pengumbaran nafsu yang melanda istana. Semua keadaan berbalik karena merajalelanya nafsu. Yang putih nampak hitam, yang hitam diputihkan. Akibat daripada olah manusia penghamba nafsu yang dipelopori oleh sang prabu di Jenggala, yang menjadi gelap mata batinnya tanpa disadarinya, tenggelam ke dalam belaian nafsu yang digelorakan rayuan Suminten. Kalau kepalanya menyeleweng, tentu ekornya juga terbawa menyeleweng. Kalau pimpinannya tersesat, pembantu-pembantupya tentu ikut-ikutan tersesat, karena jalan menuju kemaksiatan amatlah menyenangkan! Sang prabu mabuk oleh belaian nikmat, tenggelam dalam pelukan Suminten, tidak memperdulikan keadaan pemerintahan, bahkan menyerahkan segala urusan kepada selir yang terkasih ini. Pangeran Kukutan diangkat menjadi putera mahkota, orang-orang macam Tumenggung Wirokeling dan Tumenggung Sosrogali dijadikan ponggawa tinggi. Bahkan satu demi satu para ponggawa tinggi digeser dan diganti oleh orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan sehingga akhirnya hanya tinggal Ki Patih Brotomenggala yang masih mempertahankan kedudukannya. Masih berat hati sang prabu untuk mengganti patihnya yang sudah mengabdi semenjak pemuda. Namun ki patih. sendiri maklum betapa ia telah dikurung oleh musuh-musuh yang berbahaya. Menghadapi musuh yang terang-terangan menentangnya dengan senjata di tangan, ki patih yang perkasa ini tidak akan undur selangkahpun. Namun kini musuh-musuhnya bergerak secara halus, dan inilah yang amat berbahaya. Hanya karena kesetiaannya kepada sang prabu saja yang membuat ki patih masih memaksa diri mengabdi di Jenggala, untuk melindungi dan membela junjungannya.

<<< Bagian 103                                                                                     Bagian 105 >>>

No comments:

Post a Comment