Selama belajar kepada Ki Tunggaljiwa, dia hanya melatih semua ilmu yang ia pelajari dari ayahnya, dan gurunya ini hanya menyempurnakan latihan-latihannya di samping "mengisi" tubuhnya dengan gemblengan untuk mendapatkan hawa sakti yang kuat. Karena itu, loncatannya ke depan amat cepatnya bagaikan gerakan seekor burung garuda, dan ketika kedua tangannya bergerak menampar dengan Aji Pethit Nogo, terdengar bersiutnya angin pukulan yang amat dahsyat. Namun nenek itu sama sekali tidak bergerak, bahkan menangkispun tidak. Masih untung bagi Bagus Seta, karena kalau nenek itu menggerakkan tangannya sedikit saja, seperti halnya ketika menghadapi Sardulo- pethak tadi, tentu tubuh Bagus Seta akan roboh tak bernyawa pula! Kini nenek itu tidak menangkis, tidak mengelak dan terjangan Bagus Seta agaknya akan mengenai sasaran. Melihat lawan tidak membela diri, sifat satria timbul dan pemuda remaja itu cepat-cepat merubah sasaran pukulannya. Kalau tadinya jari tangan kiri menampar pelipis dan jari tangan kanan menusuk leher, kini kedua tangannya hanya menampar ke arah kedua pundak lawan yang sama sekali tidak membela diri itu. Sifat satria inilah yang sesungguhnya menolong nyawa Bagus Seta. Kalau ia teruskan serangan mautnya, tentu lawannya yang aneh itu akan membalas. Akan tetapi melihat pemuda remaja itu merubah sasaran, nenek itu mengeluarkan suara mendengus aneh dan tiba-tiba Bagus Seta mengeluh, tubuhnya seperti membentur dinding baja, kedua tangan yang menampar tadi bertemu dengan uap hitam, membalik dan membuatnya terpelanting roboh di samping mayat harimau putih! Kepala terasa pening dan matanya berkunang. Bagus Seta menggoyang-goyang kepalanya dan hatinya girang ketika akhirnya peningnya hilang dan ia melihat Ki Tunggaljiwa telah berdiri di situ dengan sikapnya yang tenang! Ia bangkit berdiri dan mundur, tidak berani sembarangan mengeluarkan kata-kata karena maklum bahwa gurunya menghadapi orang-orang yang berilmu tinggi dan yang menurut firasat hatinya datang bukan dengan maksud yang bersih.
Sejenak Ki Tunggaljiwa
memandang ke arah muridnya dengan penuh perhatian, kemudian menunduk dan
memandang mayat Sardulo Pethak, lalu menarik napas panjang dan berkata sambil
memandang Biku Janapati dan Wasi Bagaspati,
"Andika berdua,
terutama Sang Wasi Bagaspati, telah menyebar malapetaka di antara rakyat
jelata. Masih tidak puaskah nafsu itu? Kini andika datang ke tempat yang
tenteram ini, menyebar maut kepada seekor harimau. Apakah sesungguhnya yang
tersembunyi di balik perbuatan keji ini?"
"Ha-ha-ha-ha! Ki
Tunggaljiwa, sampai sekarang engkau masih bersikap sombong! Kalau mau tahu
tentang kematian harimau ini, kau tanyalah saja sendiri kepada dia yang
melakukannya, kalau saja matamu masih saja buta untuk tidak mengenal siapa
adanya tokoh yang kini berkenan hadir di hadapanmu!" Wasi Bagaspati
menuding dengan ibu jarinya ke arah nenek yang berselimutkan uap hitam di depan
mukanya itu. Uap atau sinar hitam itu seolah-olah selalu keluar dari bagian
atas tubuhnya dan hawa di sekitarnya menjadi panas, padahal hawa udara di
puncak itu amatlah dinginnya. Ki Tunggaljiwa bukan seorang yang sempit
pandangan. Bahkan ia sudah dapat menduga siapa adanya tokoh ini, namun dia
sekali-kali bukan seorang sombong seperti yang dikatakan Wasi Bagaspati. Bahkan
sebaliknya. Kalau dia tidak menyatakan kenal, hal ini sudah membuktikan
kerendahan hatinya yang tidak hendak menonjolkan kewaspadaannya yang membuat ia
seolah-olah dapat melihat segala peristiwa di dunia ini. Kini setelah Wasi
Bagaspati mengalihkan perhatiannya kepada nenek itu, ia lalu mengangkat kedua
tangan, dirangkap seperti sembah depan dada, sambil membungkuk ia berkata,
"Sadhu-sadhu-sadhu,
mohon maaf kiranya apabila saya yang lebih muda tidak menyambut andika seorang
yang lebih tua sebagaimana mestinya. Sebutan saya Ki Tunggaljiwa dan sudah
seringkali saya mendengar nama besar Nini Bumigarba yang dulu terkenal sebagai
Sang Dewi Sarilangking. Namun karena belum pernah mendapatkan kehormatan
bertemu muka, maafkan kalau saya keliru menduga. Benarkah andika yang bernama
Nini Bumigarba?"
Tubuh nenek itu bergerak
sedikit dan terdengar suaranya, halus melengking dan aneh. Bagus Seta yang
menonton dengan mata terbelalak mendengar suara nenek itu seolah-olah datang
dari atas, dari mendung hitam di angkasa.
"Tunggaljiwa, andika
bukan anak kecil, dan kita sama-sama tahu akan rahasia perputaran segala
peristiwa di dunia, yang lampau maupun yang akan datang. Akan tetapi
berkali-kali andika menentang kehendak alam, mengandalkan sedikit kesaktian
yang andika miliki. Apakah andika merasa lebih kuasa dan sakti daripada
alam?"
"Sadhu .....Semua
dewata menjadi saksi! Saya yang picik dan kecil ini, bagaimana berani menentang
kehendak alam? Nini Bumigarba, harap andika jelaskan, bilamana, di mana, dan
bagaimana saya menentang kehendak alam?" Terdengar kekeh tawa nyaring dan
merdu seperti suara ketawa wanita muda remaja, disambung kata-kata yang dingin
suaranya namun panas isinya,
"Tunggaljiwa, andika
berhadapan dengan aku yang tahu akan segala hal. Menyangkal dan berpura-pura
tiada gunanya. Di jaman Mataram dan Kahuripan dahulu, engkau sudah berpihak,
membela orang-orang Mataram. Kini, kau pun tidak buta dan tentu sudah dapat
melihat masa depan bahwa keutuhan Kerajaan Panjalu dan Jenggala tidak dapat
dipertahankan lagi. Biku Janapati dan Wasi Bagaspati hanya membantu pelaksanaan
kehendak alam, mempercepat runtuhnya kerajaan-kerajaan itu, terutama Jenggala,
akan tetapi kembali andika turun tangan menentang dan membela keturunan
Mataram, padahal sudah tahu bahwa alam menghendaki runtuhnya kerajaan itu.
Bukankah itu berarti menentang kehendak alam yang menjadi kehendak para dewara
pula?"
Ki Tunggaljiwa tersenyum dan
mengelus jenggotnya.
"Sadhu-sadhu-sadhu
....Maaf, Nini Bumigarba, kalau saya berani mengatakan bahwa andikalah orangnya
yang menentang kehendak Sang Hyang Widhi! Kewaspadaan mata batin adalah
anugerah Sang Hyang Widhi, dan sekali-kali bukan dipergunakan untuk mendahului
kehendak alam! Betapapun pandainya manusia, takkan dapat merubah kehendak alam!
Betapapun pandainya manusia, dia tidak berhak untuk mencampuri rahasia Sang
Hyang Widhi. Manusia mempunyai tugas kewajibannya sendiri, yaitu bertindak
sesuai dengan kebajikan, menjauhkan kejahatan dan kemaksiatan. Adapun yang
menjadi kehendak Hyang Widhi, baik maupun buruk bagi yang menerimanya, haruslah
diterima dengan penuh kesadaran bahwa segala kehendak Hyang Widhi akan terjadi!
Saya selalu bertindak menurutkan hukum-hukum peri-kemanusiaan, tidak mencampuri
kehendak alam, tidak menentang tidak membantu. Orang-orang dari Sriwijaya dan
Cola, bukan sekali-kali membantu pelaksanaan kehendak alam seperti yang andika
katakan, melainkan bertindak untuk menurutkan dorongan nafsu duniawi, nafsu
aluamah angkara murka, mengejar kesenangan pribadi. Namun semua itu termasuk
kehendak Sang Hyang Widhi pula, juga kematian-kematian yang disebar orang-orang
itu telah dikehendaki Hyang Widhi. Kalau Sang Hyang Widhi tidak menghendaki,
jangankan membunuh orang lain, menyedot napas sendiripun tidak mungkin dapat
dilakukan Sang Biku Janapati maupun Sang Wasi Bagaspati."
"Ihhhh I Manusia
sombong engkau, Ki Tunggaljiwa! Manusia adalah pembantu utama dari para dewata!
Kalau aku menghendaki, bocah bagus ini tadi sudah kubikin mampus! Sebaliknya
kalau aku tidak menghendaki, bagaimana harimau putih itu bisa mati?"
"Nini Bumigarba, sayang
sekali bahwa terpaksa saya berlancang mulut. Yang sombong bukanlah saya. Andika
hanya menjadi lantaran kematian Sardulo Pethak, akan tetapi, kalau Sang Hyang
Widhi tidak menghendaki, jangankan membunuh Sardulo Pethak, menggerakkan jari
tanganmu saja andika tidak mampu. Kalau muridku Bagus Seta ini tadi tidak tewas
di tanganmu, itupun atas kehenda Hyang Widhi!"
"Babo-babo! Apakah
engkau hendak mengatakan bahwa aku tidak akan dapat membunuhmu, Ki
Tunggaljiwa?" bentak Wanita tua yang luar biasa itu.....!” Ki Tunggaljiwa
tetap tersenyum tenang dan menggeleng-geleng kepalanya. Bagus Seta makin sayang
dan kagum menyaksikan sikap gurunya dan mendengar ucapan-ucapannya yang ia
anggap jauh lebih bijaksana daripada ucapan Nini Bumigarba yang sombong itu.
Sepasang mata Ki Tunggaljiwa mengeluarkan sinar terang ketika ia memandang
wajah Nini Bumigarba yang tertutup uap hitam, kemudian suaranya terdengar
tegas,
"Saya sudah mendengar
akan kesaktian andika yang sudah mencapai tingkat yang sukar diukur kepandaian
manusia, dan saya mengerti bahwa saya bukanlah tandingan andika. Akan tetapi,
jangan mengira bahwa saya takut akan ancaman andika, karena saya merasa yakin
bahwa apabila Sang Hyang Widhi tidak menghendaki, andika pasti tidak akan dapat
membunuhku, Nini Bumigarba. Andaikata saya terbunuh olehmu, hal ini hanya
terjadi atas kehendak Sang Hyang Widhi!"
"Hi-hi-hik! Hendak
kulihat sampai di mana kepandaianmu!" kata Nini Bumigarba dan tiba-tiba
wanita tua itu menggerakkan tangan kanannya, dengan jari-jari terbuka menampar
ke bawah, ke arah tanah di depannya.
"Pyaarrr ...!"
Terdengar suara nyaring dan .... tanah di depannya itu seperti kayu terbakar,
mengeluarkan asap menghitam. Sambil berdiri, Nini Bumigarba miringkan tangan di
depan dada, melakukan gerakan mendorong. Asap hitam dari tanah itu seperti
tertiup angin, bergerak ke arah Ki Tunggaljiwa!
"Sadhu-sadhu-sadhu
.......... !" Ki Tunggaljiwa maklum akan kehebatan dan kedahsyatan ilmu
nenek tua ini, maka cepat ia menjatuhkan diri bersila di atas tanah, lalu
mengerahkan seluruh tenaga batin dan hawa saktinya, melakukan gerakan mendorong
ke depan dengan kedua tangan terbuka. Asap hitam yang tadinya bergerak ke
arahnya itu kini tertahan dan berputaran. Terjadilah adu tenaga sakti yang amat
hebat, ditonton oleh Bagus Seta yang berusaha bersikap tenang sambil menekan
guncangan perasaan hatinya karena ia maklum bahwa gurunya berjuang mati-matian
sekali ini. Sang Biku Janapati dan Sang Wasi Bagaspati juga menonton dengan
kening berkerut, diam-diam mereka mengharapkan kematian Ki Tunggaljiwa yang
merupakan penghalang bagi cita-cita mereka.
Akan tetapi betapapun Ki
Tunggaljiwa mengerahkan tenaga, kedahsyatan nenek itu sungguh jauh melampaui
kekuatannya. Nenek itu bukanlah manusia biasa, dan pada dewasa itu, kiranya
sudah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu aji kepandaian. Biasanya, nenek ini
tidak pernah menampakkan diri di dunia ramai, dan munculnya nenek ini merupakan
pertanda bahwa memang akan terjadi kegemparan. Asap hitam itu masih
berputar-putar, di tengah-tengah antara kedua orang sakti itu, namun lambat
laun, perlahan akan tetapi pasti, asap itu mulai bergerak mendorong ke arah Ki
Tunggaljiwa. Bagus Seta memandang dengan mata terbelalak. Sungguhpun tingkat
ilmu yang dipelajarinya belum sedemikian tingginya, namun dia yang tergembleng
aji kesaktian sejak kecil, maklum atau dapat menduga apa artinya mendoyongnya
asap hitam ke arah gurunya. Tak terasa lagi kakinya melangkah tiga kali,
mendekat di belakang gurunya dan memandang dengan mata terbelalak, wajahnya
pucat. Kini asap itu sudah makin dekat dengan Ki Tunggaljiwa yang masih duduk
bersila, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari tangan terbuka, matanya
tajam memandang lawan, sedikitpun tidak tampak gentar, bibir yang tersembunyi
di balik kumis dan jenggot masih tersenyum, seolah-olah kakek ini melihat
datangnya cengkeraman maut sebagai satu hal yang wajar dan tidak aneh.
"Aiihhh…!"
Terdengar Nini Bumigarba berseru, tangan kanannya bergerak dan menggetar keras.
Kini asap itu makin cepat bergerak, seperti mendung tertiup angin menghampiri
Ki Tunggaljiwa. Mula-mula asap hitam itu menyentuh ujung jari tangan Ki
Tunggaljiwa dan seketika ujung jari-jari tangan kakek itu menjadi hitam! Makin
dekat asap itu menghampiri Ki Tunggaljiwa, makin banyak pula bagian lengannya
menjadi hitam. Ki Tunggaljlwa tetap tenang, menanti datangnya maut. Kedua
lengannya kini sudah menjadl hitam semua, dijalari hawa beracun yang hebat.
Kini dada dan mukanya tersentuh, juga lututnya yang kesemuanya menjadi hitam,
dan akhirnya, tak lama kemudian, tubuh Ki Tunggaljiwa telah menjadi hitam
semua. Namun kakek itu masih duduk bersila, seperti telah berubah menjadi
sebuah arca yang terpahat dari batu hitam!
"Nenek jahat!
Perbuatanmu sungguh keji di luar batas perikemanusiaan!" bentak Bagus Seta
yang sudah melompat maju di samping gurunya dan mengerahkan tenaga, menerjang
dengan lompatan Bayu Tantra hendak menggunakan pukulan dengan Ali Pethit Nogo
yang ampuh. Akan tetapi begitu ia menerjang asap hitam, tubuhnya seperti
terbakar rasanya dan ia roboh terguling. Asap hitam itu menggulung-gulungnya
diiringi suara gelak tawa Sang Wasi Bagaspati dan sebentar saja tubuh Bagus
Seta juga menjadi hitam semua. Pemuda remaja ini seperti cacing terkena abu,
seluruh tubuhnya panas dan kepalanya pening. Hanya dengan tekat luar biasa saja
ia berhasil bangkit duduk bersila, kemudian tubuhnya menjadi kaku dan panasnya
makin tak tertahankan.
"Hi-hik, Ki
Tunggaljiwa. Katakan sekarang apakah Sang Hyang Widhi tidak menghendaki andika
mati di tanganku?"
Pada saat itu,
terdengar suara melengking halus, dibarengi datangnya angin bertiup dari arah
kanan Ki Tunggaljiwa. Angin yang membawa datang hawa dingin, lalu tampak
ampak-ampak (halimun) putih berarak. Ketika halimun ini nyentuh tubuh Ki
Tunggaljiwa dari kanan, bagian tubuh yang tersentuh lalu berubah menjadi bersih
kembali. Halimun putih itu terus bergerak dan perlahan-lahan tubuh Ki
Tunggaljiwa dan Bagus Seta yang tersentuh uap putih itu menjadi bersih daripada
warna hitam!
No comments:
Post a Comment