Perawan Lembah Wilis; Bagian 102


"Ayunda Endang ....selamat tinggal .... semoga kita dapat cepat berkumpul kembali, Ayunda.....”
Melihat keadaan isterinya ini, dengan penuh kasih sayang Pangeran Panji Sigit lalu merangkulnya, mengangkatnya bangun lalu menuntunnya ke tempat di mana dua ekor kuda mereka sudah menunggu. Kemudian mereka lalu melompat ke atas punggung kuda dan berangkatlah suami isteri ini, diikuti pandang mata sayu dari Endang Patibroto, sinar mata bersinar-sinar dari Retna Wills, dan pandang mata melamun dari Ki Datujiwa. Beberapa kali Setyaningsih menengok dan melambaikan tangan, dibalas oleh tiga orang ini yang terus berdiri memandang sampai bayangan kedua suami isteri itu lenyap di sebuah tikungan.

Ketika berusia sepuluh tahun, Bagus Seta dibawa oleh Ki Tunggaljiwa, atau lebih tepat, anak itu yang datang naik di punggung Sardulo pethak, menemui Ki Tunggaljiwa dan diangkat sebagai muridnya. Betapa ramandanya, Adipati Tejolaksono dan isterinya, Ayu Candra, menyusul ke Gunung Merapi di mana Bagus Seta yang berusia sepuluh tahun itu digembleng oleh Ki Tunggaljiwa. Akan tetapi akhirnya Tejolaksono dan isterinya merelakan puteranya menjadi murid sang pertapa sakti untuk digembleng selama lima tahun! Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan Bagus Seta yang berdarah satria perkasa itu berlatih dengan penuh ketekunan. Memang hebat latihan yang diberikan oleh Ki Tunggaljiwa. Tidak hanya berendam air dingin dan kadang-kadang air panas sampai semalam suntuk, juga anak ini dilatih bersamadhi dan berpuasa sampai berhari-hari lamanya. Kadang-kadang disuruh mainkan jurus-jurus gerak silat yang telah ia pelajari dari ayahnya. Ternyata Ki Tunggaljiwa mengenal belaka semua jurus ilmu itu dan mulailah memberi petunjuk-petunjuk sehingga cepat sekali ilmu silat Bagus Seta meningkat. Tubuh anak ini menjadi kuat sekali, dan gerakannya cepat ringan mengagumkan. Temannya berlatih adalah harimau putih yang sesungguhnya jauh berbeda dengan harimau-harimau biasa. Harimau ini terlatih melalui aji kesaktian Ki Tunggaljiwa sehingga memiliki kecerdikan luar biasa seperti manusia. Sungguhpun akal budinya seperti manusia tidak ada, namun Sardulo pethak mempunyai kelebihan daripada manusia, yaitu nalurinya yang amat kuat. Sampai tiga empat tahun kemudian, biarpun dalam latihan akhirnya Bagus Seta dapat menangkan harimau itu, namun ia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, dan setelah berkali-kali memukul mendorong dan membanting ia baru dapat menundukkannya. Akan tetapi ia sendiripun lecet-lecet dan napasnya terengah-engah, peluhnya membasahi seluruh tubuh.
Baru setelah genap lima tahun, ia benar-benar dapat menundukkan Sardulo pethak tanpa banyak sukar lagi. Kini Bagus Seta telah berusia lima belas tahun, telah menjadi seorang pemuda tanggung yang bertubuh tegap, bahunya bidang, dadanya menonjol membayangkan tenaga dahsyat, wajahnya tampan dan pandang matanya seperti dapat menembus dada orang. Namun sikapnya lemah lembut, bahkan gerak-geriknya kelihatan lamban, tidak tampak ketangkasannya di waktu biasa. Namun, kalau orang menyaksikan dia berlaga dalam latihan menghadapi Sardulo-pethak, orang akan kagum dibuatnya. Pagi hari itu, terdengar suara Sardulo pethak mengaum-aum, menggetarkan puncak Merapi. Beginilah kalau harimau itu sedang bersemangat dan bergembira dan biasanya hal itu terjadi kalau dia sedang bergurau atau berlatih dengan Bagus Seta. Pagi hari itupun Bagus Seta mengajaknya bertanding dalam latihan. Pemuda remaja dan harimau itu sudah berdiri berhadapan di lapangan rumput di bawah puncak.
"Paman Sardulo, kemarin dulu aku mengalahkanmu dalam sepuluh jurus. Kini aku telah menemukan akal yang baik sekali dan kurasa aku akan dapat membuatmu tidak berdaya kurang dari sepuluh jurus!"

Harimau itu sudah biasa diajak bercakap-cakap oleh Bagus Seta. Entah dia mengerti atau tidak, hal ini tak pernah dapat dibuktikan. Akan tetapi begitu mendengar ucapan Bagus Seta, ia lalu mengaum berkali-kali seperti menantang atau mentertawakan ucapan Bagus Seta yang hendak menundukkannya kurang dari sepuluh jurus! Bagus Seta yang sudah lima tahun setiap hati bergaul dengan harimau ini dapat membedakan auman marah, senang, atau bahkan mengejek mentertawakan. Maka ia lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, tubuhnya agak merendah dengan kedua lutut ditekuk, kedua lengannya dikembangkan dengan jari-jari tangan terbuka, lalu ia berkata,
"Kau mentertawakan dan tidak percaya, Paman Sardulo? Hayo kita mulai! Awas jurus pertama!" Setelah berkata demikian, tubuh Bagus Seta menubruk ke depan. Sardulopethak itu adalah seekor harimau yang lain daripada harimau biasa, memiliki kecerdikan dan mendekati kecerdikan manusia. Setelah lima tahun menjadi kawan berlatih Bagus Seta, apalagi setelah akhir-akhir ini ia selalu dikalahkan, harimau putih inl maklum bahwa kalau dia yang menubruk dan menyerang, dia akan dapat dirobohkan dengan mudah. Tentu saja ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa bisa demikian. Dia tidak tahu bahwa dalam setiap penyerangan, berarti membuka kelemahan pertahanan sendiri. Dia hanya tahu karena pengalaman kalah berkali-kali dan kekalahan ini selalu terjadi karena dia terlalu bernafsu menyerang. Maka akhir-akhir ini ia tidak lagi mau menyerang, hanya menanti serangan dan memusatkan perhatian pada pertahanan.
Bagus Seta tentu saja tahu akan siasat harimau itu, maka ia pun tidak mau ragu-ragu lagi untuk menerjang. Terjangannya dahsyat sekali. Melihat perawakannya, Bagus Seta yang berusia lima betas tahun itu tidaklah dapat disebut tinggi besar. Perawakannya sedang saja, bahkan kulit lengannya halus, kelihatannya lemah lembut. Namun di bawah kulit itu tersembunyi hawa sakti yang dapat menciptakan tenaga dahsyat dan mujijat akibat gemblengan Ki Tunggaljiwa yang sakti mandraguna. Kulit yang halus itu memiliki kekebalan luar biasa, tidak dapat tergores kuku cakar harimau. Daging di bawah kulit dapat mengeras seperti baja, tidak mempan gigitan taring harimau. Biasanya, kalau menyerang Sardulo pethak, Bagus Seta mempergunakan aji pukulan dan tendangan, namun tubuh harimau itu pun sudah kebal dan kuat sekali sehingga dalam latihan biasa, setelah sepuluh jurus baru ia membuat harimau putih itu roboh dan kalah. Ketika Bagus Seta menerjang maju, Sardulo pethak menggereng dan berdiri di atas kedua kaki belakang. Cakarnya dengan kuku-kuku meruncing itu segera bergerak ke depan, tidak hanya untuk menangkis pukulan Bagus Seta, melainkan terutama sekali untuk mencengkeram ke arah dada. Kalau saja ia berhasil mencakar robek baju lawan, hal ini sudah merupakan sebagian kemenangan baginya. Mulutnya sudah dibuka lebar dan siap menggigit pundak atau leher. Kalau hal ini dapat dilakukan, ia dapat menekan tubuh lawan itu ke bawah, menindih dengan berat tubuhnya, mencengkeram dan menggigit sehingga Bagus Seta takkan dapat bangun kembali!

Terdengar Sardulo-pethak mengaum penuh kegirangan. Tidak seperti biasanya, menggunakan kecepatan gerak tubuh pemuda itu menghindar, kali ini malah Bagus Seta menerima tangkisan dan cakaran lawan, kemudian kakinya terpeleset dan tubuhnya roboh terlentang di depan Sardulo-pethak. Harimau itu mengaum gembira dan cepat menubruk untuk menindih tubuh kawan yang menjadi lawan berlatih. Kalau saja ia dapat bicara, tentu ia bersorak karena kemenangan yang sudah membayang di depan mata ini. Akan tetapi, biarpun tubuhnya sedang rebah terlentang, gerakan Bagus Seta lebih cepat lagi. Tiba-tiba si harimau kehilangan lawannya yang bagaikan seekor belut telah melesat melalui bawah perutnya. Ketika Sardulo Pethak yang kebingungan itu membalikkan tubuh, ia sudah terlambat. Bagus Seta kini sudah menubruk dari belakang, memiting lehernya dengan kedua lengan dengan erat sekali, melekat seperti seekor lintah menempel di punggung kerbau. Sardulo Pethak mengeluarkan gerengan yang menggetarkan lembah gunung. Gerengan ini hebat bukan main, sampai semua binatang di hutan-hutan daerah Merapi lari ketakutan, harimau-harimau menyembunyikan diri tak berani berkutik, burung-burung yang sedang berteduh di pohon-pohon terbang kacau-balau dan ketakutan. Harimau putih ini berusaha menghempaskan tubuh yang menempel di punggungnya itu, menggerak-gerakkan kepala ke kanan kiri dalam usahanya menggigit muka lawan. Akan tetapi Bagus Seta memiting kuat-kuat dan kepalanya sendiri menempel di belakang telinga Sardulo Pethak. Kedua kakinya tergantung di kanan kiri perut harimau. Betapapun harimau itu berusaha untuk melepaskan diri dari pitingan, Bagus Seta tak pernah mengendurkan kempitannya, bahkan memperhebat pitingan, memperkuat tenaga sampai harimau itu terengah-engah karena lehernya terjepit. Akhirnya, setelah Bagus Seta mengerahkan aji kekuatannya, harimau itu tidak kuat bertahan lagi dan roboh miring, terus ditunggangi Bagus Seta, dipiting dan tidak dapat berkutik lagi.
"Nah, apa kataku, Paman Sardulo? Aku dapat menjatuhkanmu dalam satu dua jurus. Tidak percayakah Paman sekarang?" tanya Bagus Seta sambil melepaskan pitingan dan meloncat bangun dengan wajah berseri. Harimau putih itu bangkit dan menengadahkan kepalanya, mengaum dengan suara panjang. Bagus Seta yang sudah dapat membedakan suara harimau itu lalu merangkulnya dan menempelkan pipinya di dekat telinga harimau yang disayangnya.
"Ah, Paman Sardulo, kau merasa sudah tua? Tidak, Paman. Aku dapat mengalahkanmu berkat latihan yang berkali-kali bersamamu, berkat bantuanmu! Kalau melawan lawan lain, ahhh, tidak banyak lawan akan dapat mengalahkanmu, Paman Sardulo."
Harimau itu menggereng dan Bagus Seta menjadi kaget. Inilah gerengan tanda marah! Ia mempererat rangkulannya dan berkata penuh sesal,
"Ah, engkau marah kepadaku karena kekalahan dalam dua jurus, Paman? Benarkah Paman bisa marah kepadaku ....?”

Akan tetapi ketika ia memandang, ternyata harimau itu telah berdiri dan pandang mata harimau itu sama sekali tidak ditujukan kepadanya, melainkan ke arah kiri. Ia menoleh dan bulu tengkuknya berdiri karena ngeri. Di situ, hanya tiga empat meter jauhnya, tahu-tahu telah berdiri tiga orang. Kedatangan mereka itu begitu tiba-tiba seperti setan saja sehingga telinganya yang terlatih sama sekali tidak dapat menangkap kedatangan mereka. Apalagi ketika ia mengenal dua orang di antara mereka bertiga itu adalah Sang Biku Janapati dan Sang Wasi Bagaspati, ia menjadi khawatir sekali. Dua orang ini bukanlah sahabat, melainkan orang-orang yang pernah datang dan menantang gurunya, Ki Tunggaljiwa. Akan tetapi melihat yang ke tiga, ia makin ngeri. Orang ini adalah seorang nenek yang hanya bentuk tubuhnya saja dapat dikenal sebagai seorang manusia, atau lebih tepat sebagai seorang wanita tua bertubuh tinggi kurus, masih tegak, pakaiannya serba hitam dan lengannya memakai gelang emas. Kulitnya yang sudah keriputan itu masih berwarna putih bersih, pakaiannya bersih dan rapi. Akan tetapi mukanya sukar dikenal karena muka ini terlindung oleh sinar atau uap hitam, sehingga kepala dan muka itu hanya kelihatan bayangan saja, bayangan seorang wanita tua yang usianya sudah seratus tahun lebih, namun masih jelas tampak raut wajah yang cantik! Dari pribadi wanita tua ini keluar getaran wibawa yang amat luar biasa, yang membuat harimau putih menggereng-gereng marah dan gentar, dan yang membuat bulu tengkuk Bagus Seta berdiri!
Tiba-tiba Sardulo Pethak mengeluarkan guman seperti orang menjerit dan tubuh yang besar dan kuat itu melompat maju menubruk ke arah nenek yang mengerikan itu,
"Paman Sardulo.......... ! Jangan..........!” Bagus Seta berseru akan tetapi terlambat sudah.
Terdengar suara terkekeh nyaring disusul gerengan Sardulo Pethak yang tiba-tiba saja terbanting dari tengah udara sebelum mampu menyentuh nenek itu. Bagus Seta hanya melihat nenek itu menudingkan telunjuk kiri ke arah Sardulo Pethak dan harimau putih itu terbanting dari tengah udara, roboh di atas tanah dan tak dapat bangkit kembali!
"Paman Sardulo !" Ia menubruk harimau itu dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan bahwa harimau putih itu sudah tidak bernapas lagi, dari mulut, hidung, telinga dan matanya mengalir darah menghitam! Harimau itu telah tewas secara aneh. Dengan hati penuh kedukaan dan kemarahan, Bagus Seta bangkit berdiri perlahan-lahan, memandang ke arah nenek itu. Ia cukup terlatih dan dapat menekan perasaannya, namun mengingat akan kematian harimau yang dianggapnya sebagai keluarga sendiri, hatinya terasa sakit sekali.
"Andika .... kejam sekali ....Apakah dosanya Paman Sardulo maka andika tega menurunkan tangan maut dan merenggut nyawanya?"
Akan tetapi nenek itu hanya memperdengarkan suara tertawa perlahan dan berdiri diam tak bergerak seperti patung. Bagus Seta berusaha mengerahkan tenaga batinnya untuk menembus uap hitam yang menutupi wajah nenek itu, namun tak berhasil, bahkan jantungnya berdebar seperti terkena pengaruh mujijat yang amat berwibawa. Betapapun juga, pemuda remaja ini adalah keturunan satria utama dan murid seorang sakti mandraguna, maka pengaruh mujijat itu tidak membuatnya menjadi gentar. Sebaliknya, ia menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh yang jahat seperti iblis, lebih jahat daripada dua orang kakek yang pernah memusuhi gurunya dan yang kini berdiri sambil tersenyum lebar. Maka ia lalu melangkah maju dan berkata dengan suara nyaring,
"Boleh jadi andika seorang tokoh yang ternama dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, namun perbuatan andika membunuh paman Sardulo yang tidak berdosa memaksa saya memberanikan diri untuk membalas. Jagalah seranganku!" Setelah berkata demikian, Bagus Seta mengerahkan semua aji kekuatan tubuhnya, lalu mengayun tubuh ke depan dengan Aji Bayu Tantra.

<<< Bagian 101                                                                                     Bagian 103 >>>

No comments:

Post a Comment