"Ayunda Endang ....selamat tinggal .... semoga kita dapat cepat berkumpul kembali, Ayunda.....”
Melihat keadaan isterinya
ini, dengan penuh kasih sayang Pangeran Panji Sigit lalu merangkulnya,
mengangkatnya bangun lalu menuntunnya ke tempat di mana dua ekor kuda mereka
sudah menunggu. Kemudian mereka lalu melompat ke atas punggung kuda dan
berangkatlah suami isteri ini, diikuti pandang mata sayu dari Endang Patibroto,
sinar mata bersinar-sinar dari Retna Wills, dan pandang mata melamun dari Ki
Datujiwa. Beberapa kali Setyaningsih menengok dan melambaikan tangan, dibalas
oleh tiga orang ini yang terus berdiri memandang sampai bayangan kedua suami
isteri itu lenyap di sebuah tikungan.
Ketika berusia sepuluh
tahun, Bagus Seta dibawa oleh Ki Tunggaljiwa, atau lebih tepat, anak itu yang
datang naik di punggung Sardulo pethak, menemui Ki Tunggaljiwa dan diangkat
sebagai muridnya. Betapa ramandanya, Adipati Tejolaksono dan isterinya, Ayu
Candra, menyusul ke Gunung Merapi di mana Bagus Seta yang berusia sepuluh tahun
itu digembleng oleh Ki Tunggaljiwa. Akan tetapi akhirnya Tejolaksono dan
isterinya merelakan puteranya menjadi murid sang pertapa sakti untuk digembleng
selama lima tahun! Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan Bagus Seta yang
berdarah satria perkasa itu berlatih dengan penuh ketekunan. Memang hebat
latihan yang diberikan oleh Ki Tunggaljiwa. Tidak hanya berendam air dingin dan
kadang-kadang air panas sampai semalam suntuk, juga anak ini dilatih bersamadhi
dan berpuasa sampai berhari-hari lamanya. Kadang-kadang disuruh mainkan
jurus-jurus gerak silat yang telah ia pelajari dari ayahnya. Ternyata Ki
Tunggaljiwa mengenal belaka semua jurus ilmu itu dan mulailah memberi
petunjuk-petunjuk sehingga cepat sekali ilmu silat Bagus Seta meningkat. Tubuh
anak ini menjadi kuat sekali, dan gerakannya cepat ringan mengagumkan. Temannya
berlatih adalah harimau putih yang sesungguhnya jauh berbeda dengan
harimau-harimau biasa. Harimau ini terlatih melalui aji kesaktian Ki Tunggaljiwa
sehingga memiliki kecerdikan luar biasa seperti manusia. Sungguhpun akal
budinya seperti manusia tidak ada, namun Sardulo pethak mempunyai kelebihan
daripada manusia, yaitu nalurinya yang amat kuat. Sampai tiga empat tahun
kemudian, biarpun dalam latihan akhirnya Bagus Seta dapat menangkan harimau
itu, namun ia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, dan setelah
berkali-kali memukul mendorong dan membanting ia baru dapat menundukkannya.
Akan tetapi ia sendiripun lecet-lecet dan napasnya terengah-engah, peluhnya
membasahi seluruh tubuh.
Baru setelah genap lima
tahun, ia benar-benar dapat menundukkan Sardulo pethak tanpa banyak sukar lagi.
Kini Bagus Seta telah berusia lima belas tahun, telah menjadi seorang pemuda
tanggung yang bertubuh tegap, bahunya bidang, dadanya menonjol membayangkan
tenaga dahsyat, wajahnya tampan dan pandang matanya seperti dapat menembus dada
orang. Namun sikapnya lemah lembut, bahkan gerak-geriknya kelihatan lamban,
tidak tampak ketangkasannya di waktu biasa. Namun, kalau orang menyaksikan dia
berlaga dalam latihan menghadapi Sardulo-pethak, orang akan kagum dibuatnya.
Pagi hari itu, terdengar suara Sardulo pethak mengaum-aum, menggetarkan puncak
Merapi. Beginilah kalau harimau itu sedang bersemangat dan bergembira dan
biasanya hal itu terjadi kalau dia sedang bergurau atau berlatih dengan Bagus
Seta. Pagi hari itupun Bagus Seta mengajaknya bertanding dalam latihan. Pemuda
remaja dan harimau itu sudah berdiri berhadapan di lapangan rumput di bawah
puncak.
"Paman Sardulo, kemarin
dulu aku mengalahkanmu dalam sepuluh jurus. Kini aku telah menemukan akal yang
baik sekali dan kurasa aku akan dapat membuatmu tidak berdaya kurang dari
sepuluh jurus!"
Harimau itu sudah biasa
diajak bercakap-cakap oleh Bagus Seta. Entah dia mengerti atau tidak, hal ini
tak pernah dapat dibuktikan. Akan tetapi begitu mendengar ucapan Bagus Seta, ia
lalu mengaum berkali-kali seperti menantang atau mentertawakan ucapan Bagus
Seta yang hendak menundukkannya kurang dari sepuluh jurus! Bagus Seta yang
sudah lima tahun setiap hati bergaul dengan harimau ini dapat membedakan auman
marah, senang, atau bahkan mengejek mentertawakan. Maka ia lalu memasang
kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, tubuhnya agak merendah dengan kedua
lutut ditekuk, kedua lengannya dikembangkan dengan jari-jari tangan terbuka,
lalu ia berkata,
"Kau mentertawakan dan
tidak percaya, Paman Sardulo? Hayo kita mulai! Awas jurus pertama!"
Setelah berkata demikian, tubuh Bagus Seta menubruk ke depan. Sardulopethak itu
adalah seekor harimau yang lain daripada harimau biasa, memiliki kecerdikan dan
mendekati kecerdikan manusia. Setelah lima tahun menjadi kawan berlatih Bagus
Seta, apalagi setelah akhir-akhir ini ia selalu dikalahkan, harimau putih inl
maklum bahwa kalau dia yang menubruk dan menyerang, dia akan dapat dirobohkan
dengan mudah. Tentu saja ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa bisa
demikian. Dia tidak tahu bahwa dalam setiap penyerangan, berarti membuka
kelemahan pertahanan sendiri. Dia hanya tahu karena pengalaman kalah
berkali-kali dan kekalahan ini selalu terjadi karena dia terlalu bernafsu
menyerang. Maka akhir-akhir ini ia tidak lagi mau menyerang, hanya menanti
serangan dan memusatkan perhatian pada pertahanan.
Bagus Seta tentu saja tahu
akan siasat harimau itu, maka ia pun tidak mau ragu-ragu lagi untuk menerjang.
Terjangannya dahsyat sekali. Melihat perawakannya, Bagus Seta yang berusia lima
betas tahun itu tidaklah dapat disebut tinggi besar. Perawakannya sedang saja,
bahkan kulit lengannya halus, kelihatannya lemah lembut. Namun di bawah kulit
itu tersembunyi hawa sakti yang dapat menciptakan tenaga dahsyat dan mujijat
akibat gemblengan Ki Tunggaljiwa yang sakti mandraguna. Kulit yang halus itu
memiliki kekebalan luar biasa, tidak dapat tergores kuku cakar harimau. Daging
di bawah kulit dapat mengeras seperti baja, tidak mempan gigitan taring
harimau. Biasanya, kalau menyerang Sardulo pethak, Bagus Seta mempergunakan aji
pukulan dan tendangan, namun tubuh harimau itu pun sudah kebal dan kuat sekali
sehingga dalam latihan biasa, setelah sepuluh jurus baru ia membuat harimau
putih itu roboh dan kalah. Ketika Bagus Seta menerjang maju, Sardulo pethak
menggereng dan berdiri di atas kedua kaki belakang. Cakarnya dengan kuku-kuku
meruncing itu segera bergerak ke depan, tidak hanya untuk menangkis pukulan
Bagus Seta, melainkan terutama sekali untuk mencengkeram ke arah dada. Kalau
saja ia berhasil mencakar robek baju lawan, hal ini sudah merupakan sebagian
kemenangan baginya. Mulutnya sudah dibuka lebar dan siap menggigit pundak atau
leher. Kalau hal ini dapat dilakukan, ia dapat menekan tubuh lawan itu ke
bawah, menindih dengan berat tubuhnya, mencengkeram dan menggigit sehingga
Bagus Seta takkan dapat bangun kembali!
Terdengar Sardulo-pethak
mengaum penuh kegirangan. Tidak seperti biasanya, menggunakan kecepatan gerak
tubuh pemuda itu menghindar, kali ini malah Bagus Seta menerima tangkisan dan
cakaran lawan, kemudian kakinya terpeleset dan tubuhnya roboh terlentang di
depan Sardulo-pethak. Harimau itu mengaum gembira dan cepat menubruk untuk
menindih tubuh kawan yang menjadi lawan berlatih. Kalau saja ia dapat bicara,
tentu ia bersorak karena kemenangan yang sudah membayang di depan mata ini.
Akan tetapi, biarpun tubuhnya sedang rebah terlentang, gerakan Bagus Seta lebih
cepat lagi. Tiba-tiba si harimau kehilangan lawannya yang bagaikan seekor belut
telah melesat melalui bawah perutnya. Ketika Sardulo Pethak yang kebingungan
itu membalikkan tubuh, ia sudah terlambat. Bagus Seta kini sudah menubruk dari
belakang, memiting lehernya dengan kedua lengan dengan erat sekali, melekat
seperti seekor lintah menempel di punggung kerbau. Sardulo Pethak mengeluarkan
gerengan yang menggetarkan lembah gunung. Gerengan ini hebat bukan main, sampai
semua binatang di hutan-hutan daerah Merapi lari ketakutan, harimau-harimau
menyembunyikan diri tak berani berkutik, burung-burung yang sedang berteduh di
pohon-pohon terbang kacau-balau dan ketakutan. Harimau putih ini berusaha
menghempaskan tubuh yang menempel di punggungnya itu, menggerak-gerakkan kepala
ke kanan kiri dalam usahanya menggigit muka lawan. Akan tetapi Bagus Seta
memiting kuat-kuat dan kepalanya sendiri menempel di belakang telinga Sardulo
Pethak. Kedua kakinya tergantung di kanan kiri perut harimau. Betapapun harimau
itu berusaha untuk melepaskan diri dari pitingan, Bagus Seta tak pernah
mengendurkan kempitannya, bahkan memperhebat pitingan, memperkuat tenaga sampai
harimau itu terengah-engah karena lehernya terjepit. Akhirnya, setelah Bagus
Seta mengerahkan aji kekuatannya, harimau itu tidak kuat bertahan lagi dan
roboh miring, terus ditunggangi Bagus Seta, dipiting dan tidak dapat berkutik
lagi.
"Nah, apa kataku, Paman
Sardulo? Aku dapat menjatuhkanmu dalam satu dua jurus. Tidak percayakah Paman
sekarang?" tanya Bagus Seta sambil melepaskan pitingan dan meloncat bangun
dengan wajah berseri. Harimau putih itu bangkit dan menengadahkan kepalanya,
mengaum dengan suara panjang. Bagus Seta yang sudah dapat membedakan suara
harimau itu lalu merangkulnya dan menempelkan pipinya di dekat telinga harimau
yang disayangnya.
"Ah, Paman Sardulo, kau
merasa sudah tua? Tidak, Paman. Aku dapat mengalahkanmu berkat latihan yang
berkali-kali bersamamu, berkat bantuanmu! Kalau melawan lawan lain, ahhh, tidak
banyak lawan akan dapat mengalahkanmu, Paman Sardulo."
Harimau itu menggereng dan
Bagus Seta menjadi kaget. Inilah gerengan tanda marah! Ia mempererat
rangkulannya dan berkata penuh sesal,
"Ah, engkau marah
kepadaku karena kekalahan dalam dua jurus, Paman? Benarkah Paman bisa marah
kepadaku ....?”
Akan tetapi ketika ia
memandang, ternyata harimau itu telah berdiri dan pandang mata harimau itu sama
sekali tidak ditujukan kepadanya, melainkan ke arah kiri. Ia menoleh dan bulu
tengkuknya berdiri karena ngeri. Di situ, hanya tiga empat meter jauhnya,
tahu-tahu telah berdiri tiga orang. Kedatangan mereka itu begitu tiba-tiba
seperti setan saja sehingga telinganya yang terlatih sama sekali tidak dapat
menangkap kedatangan mereka. Apalagi ketika ia mengenal dua orang di antara
mereka bertiga itu adalah Sang Biku Janapati dan Sang Wasi Bagaspati, ia
menjadi khawatir sekali. Dua orang ini bukanlah sahabat, melainkan orang-orang
yang pernah datang dan menantang gurunya, Ki Tunggaljiwa. Akan tetapi melihat
yang ke tiga, ia makin ngeri. Orang ini adalah seorang nenek yang hanya bentuk
tubuhnya saja dapat dikenal sebagai seorang manusia, atau lebih tepat sebagai
seorang wanita tua bertubuh tinggi kurus, masih tegak, pakaiannya serba hitam
dan lengannya memakai gelang emas. Kulitnya yang sudah keriputan itu masih
berwarna putih bersih, pakaiannya bersih dan rapi. Akan tetapi mukanya sukar
dikenal karena muka ini terlindung oleh sinar atau uap hitam, sehingga kepala
dan muka itu hanya kelihatan bayangan saja, bayangan seorang wanita tua yang
usianya sudah seratus tahun lebih, namun masih jelas tampak raut wajah yang
cantik! Dari pribadi wanita tua ini keluar getaran wibawa yang amat luar biasa,
yang membuat harimau putih menggereng-gereng marah dan gentar, dan yang membuat
bulu tengkuk Bagus Seta berdiri!
Tiba-tiba Sardulo Pethak mengeluarkan
guman seperti orang menjerit dan tubuh yang besar dan kuat itu melompat maju
menubruk ke arah nenek yang mengerikan itu,
"Paman
Sardulo.......... ! Jangan..........!” Bagus Seta berseru akan tetapi terlambat
sudah.
Terdengar suara terkekeh
nyaring disusul gerengan Sardulo Pethak yang tiba-tiba saja terbanting dari
tengah udara sebelum mampu menyentuh nenek itu. Bagus Seta hanya melihat nenek
itu menudingkan telunjuk kiri ke arah Sardulo Pethak dan harimau putih itu
terbanting dari tengah udara, roboh di atas tanah dan tak dapat bangkit
kembali!
"Paman Sardulo !"
Ia menubruk harimau itu dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan bahwa harimau
putih itu sudah tidak bernapas lagi, dari mulut, hidung, telinga dan matanya
mengalir darah menghitam! Harimau itu telah tewas secara aneh. Dengan hati
penuh kedukaan dan kemarahan, Bagus Seta bangkit berdiri perlahan-lahan,
memandang ke arah nenek itu. Ia cukup terlatih dan dapat menekan perasaannya,
namun mengingat akan kematian harimau yang dianggapnya sebagai keluarga
sendiri, hatinya terasa sakit sekali.
"Andika .... kejam
sekali ....Apakah dosanya Paman Sardulo maka andika tega menurunkan tangan maut
dan merenggut nyawanya?"
Akan tetapi nenek itu hanya
memperdengarkan suara tertawa perlahan dan berdiri diam tak bergerak seperti
patung. Bagus Seta berusaha mengerahkan tenaga batinnya untuk menembus uap
hitam yang menutupi wajah nenek itu, namun tak berhasil, bahkan jantungnya
berdebar seperti terkena pengaruh mujijat yang amat berwibawa. Betapapun juga,
pemuda remaja ini adalah keturunan satria utama dan murid seorang sakti
mandraguna, maka pengaruh mujijat itu tidak membuatnya menjadi gentar.
Sebaliknya, ia menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh yang jahat
seperti iblis, lebih jahat daripada dua orang kakek yang pernah memusuhi
gurunya dan yang kini berdiri sambil tersenyum lebar. Maka ia lalu melangkah
maju dan berkata dengan suara nyaring,
"Boleh
jadi andika seorang tokoh yang ternama dan memiliki ilmu kesaktian yang luar
biasa, namun perbuatan andika membunuh paman Sardulo yang tidak berdosa memaksa
saya memberanikan diri untuk membalas. Jagalah seranganku!" Setelah
berkata demikian, Bagus Seta mengerahkan semua aji kekuatan tubuhnya, lalu
mengayun tubuh ke depan dengan Aji Bayu Tantra.
No comments:
Post a Comment