Perawan Lembah Wilis; Bagian 101



Dengan suara tenang Ki Datujiwa menjawab,
"Muridku sudah bicara. Aku wakilkan kepada muridku ini, Retna Wilis. Kalau kau mampu mengalahkan Retna Wilis, anggap saja aku sudah kalah olehmu. Biarlah semua yang hadir menjadi saksi."
"Heh .... ??" Si Hantu Kelabang khawatir kalau-kalau ia dipermainkan dan ditipu dengan ucapan itu. Bocah masih begini kecil? Sedangkan ibu bocah inipun yang berilmu tinggi, tadi menghadapi dia tidak dapat mengalahkannya dengan mudah.
"Sesungguhnyakah omonganmu itu, petani tua bangka?"
"Heeiii, engkau si hantu coro busuk bau! Mengapa kau memaki-maki orang? Omongan kami semua adalah sungguh-sungguh, tidak seperti omonganmu yang merupakan angin bau busuk belaka! Hayo lawan aku!" Retna Wilis kembali memaki.
Purwoko melototkan matanya karena dimaki hantu coro sehingga banyak orang menertawakannya. Ingin ia sekali gebrak menelan bocah itu bulat-bulat.
"Kalau memang betul, biarlah semua orang menjadi saksi. Hayo, perlihatkan kepandaianmu, bocah edan!"
"Seranglah dia, muridku."
Suara Ki Datujiwa ini menambah semangat Retna Wills yang memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada gurunya. Bukankah ketika menghadapi tiga orang jahat Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama kemarin dulu itupun dia telah mendapat kemenangan hanya karena kepercayaannya kepada gurunya?
"Baik, Eyang," jawabnya dan tubuh yang kecil itu lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke perut Purwoko. Si Hantu Kelabang itu hanya menyeringai dan tidak mengelak maupun menangkis. Perlu apa menangkis pukulan bocah cilik ini? Akan tetapi mukanya yang menyeringai itu mendadak berubah masam ketika kepalan kecil itu tepat mengenai perutnya,
"Bukkk!" Memang tidak amat sakit, akan tetapi yang membuat ia kaget sekali adalah karena pada saat ia hendak mengerahkan tenaga dalam ke perut, tenaganya itu molos dan tidak dapat dikerahkan! Retna Wilis yang berhasil menghantam perut itu menjadi girang. Ia melompat ke atas dengan gerakan ringan karena memang terlatih baik oleh ibunya semenjak kecil sehingga ia dapat mencapai muka Si Hantu Kelabang, lalu menghantamkan kepalan kanannya ke arah hidung si gundul.
"Punggg ......!!"

Kembali Purwoko meringis. Kulit perutnya masih tebal sehingga biarpun ia tidak dapat mengerahkan kekebalan ke arah perut, pukulan bocah itu tidak terasa nyeri. Akan tetapi hidungnya yang dipukul terasa nyeri juga, apalagi yang terkena adalah tulang muda hidung di ujung. Seperti akan patah rasanya. Tadi kaki tangannya sama sekali tidak dapat digerakkan ketika bocah itu memukul, dan baru sekarang dapat ia gerakkan ketika ia menggosok-gosok hidungnya dengan mata merah dan mulut pringisan.
"Wah, badanmu baul Tanganku jadi kotor!" kata Retna Wilis sambil mengipat-ngipatkan tangan, lalu bocah ini menyambar sepotong kayu pecahan papan dan kembali ia menerjang, kini menggunakan kayu itu, dipukulkan sekenanya bertubi-tubi.
"Plak-plek-prok .... !!"
Kasihan sekali Si Hantu Kelabang. Ia mulai bergidik ketakutan. Ngeri dia karena setiap kali bocah ini menyerang, tubuhnya tak dapat digerakkan dan hawa sakti di tubuh tak dapat ia kerahkan sehingga ia harus mandah saja dijadikan bulan-bulan gebukan. Biarpun tidak terlalu sakit, akan tetapi amat memalukan karena para penonton kini bersorak-sorak melihat dia berjingkrakan tidak karuan dihujani gebukan bocah setan itu. Mulailah otaknya yang kental mengerti bahwa semua ini adalah perbuatan si kakek petani dan ia bergidik ngeri. Orang dengan kesaktian seperti itu tadi ia olok-olok dan ia tantang! Mengerti pula dia bahwa kekalahan Endang Patibroto adalah kekalahan wajar.
"Masih tidak mengaku kalah? Plenggg! Dessss ....!" Retna Wilis meloncat tinggi dan muka Purwoko menjadi korban hantaman dan kini si gundul ini benar-benar merasa tobat. Muka dan kepalanya mulai mengeluarkan darah karena kulitnya ada yang pecah dihantam potongan papan yang runcing.
"Sudah ....sudah ....tobatt .....aku kalah....'" katanya dan baru setelah Purwoko menyatakan tobat, Retna. Wilis menghentikan serangannya dan mundur, berdiri gagah di dekat Ki Datujiwa.
Purwoko berdiri terbungkuk di depan kakek sakti itu.
"Siapa .... siapakah gerangan andika .....”
Ki Datujiwa berkata perlahan,
"Purwoko, kau pandang baik-baik. Lupakah engkau kepadaku? Setelah aku memberi ampun kepadamu di hutan Muria, ternyata engkau kini berani lagi menambah kekacauan dunia ..!!”
"Oohhhh ....celaka awakku ....sial dangkalan..... Ki Datujiwa kiranya ... Walah tobat... !" Si Hantu Kelabang lalu melompat turun dan lari pergi tanpa pamit. Kiranya belasan tahun yang lalu, Purwoko ini pernah roboh di tangan Ki Datujiwa ketika melakukan kejahatan dan diampuni kakek sakti ini. Dalam kesombongannya, tadi ia pangling maka berani ia memandang rendah yang mengakibatkan ia mendapat malu di depan orang banyak. Larinya Si Hantu Kelabang diikuti oleh perginya para pengikut sayembara dan para penonton karena sesungguhnya sebagian besar di antara mereka tidak jadi memasuki sayembara dan hanya menjadi penonton.

Mereka diantar oleh rombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin oleh Limanwilis dan dua orang adiknya. Di sepanjang perjalanan tiada hentinya mereka mempercakapkan peristiwa hebat dalam sayembara tanding itu. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih lalu dinikahkan beberapa hari kemudian di puncak Wilis. Upacara pernikahan yang sederhana kalau diingat bahwa yang menikah adalah seorang Pangeran Jenggala, akan tetapi cukup meriah selain dihadiri oleh seluruh anggota Padepokan Wilis, juga dihadiri pula oleh para penduduk di sekitar Wilis. Pula, apakah yang lebih membahagiakan hati sepasang mempelai kecuali pertalian cinta kasih di antara mereka? Malam itu, setelah mereka hanya berada berdua saja di dalam kamar mempelai, merupakan malam terindah daripada hidup mereka. Malam pencurahan kasih sayang yang semesra-mesranya, penuh kemurnian, di mana dua hati terlekat menjadi satu, diikat sumpah saling setia sampai mati, senasib sependeritaan suka sama dinikmati, duka sama diderita. Di malam pengantin ketika sepasang pengantin sedang bermesra-mesraan memadu kasih, dan Retna Wilis sudah tidur nyenyak saking kelelahan setelah sehari berpesta, dan Ki Datujiwa duduk bersamadhi dengan heningnya di dalam kamar yang disediakan untuknya, Endang Patibroto seorang diri menangis di kamarnya. Ia membenamkan muka di bantal untuk menahan isak tangisnya, dan hanya bantal itu yang menjadi basah kuyup. Endang Patibroto tidak hanya teringat dan merasa rindu kepada Tejolaksono, juga ia teringat kepada Raden Sindupati. Teringat akan aib dan penghinaan yang ia derita dari Sindupati baru-baru ini, membuat hatinya hancur dan kini di samping derita merana dan rindu kepada Tejolaksono yang dicintanya, juga dendam dan sakit hati terhadap Sindupati merupakan duri yang menusuk di hatinya. Ingin ia mencari Sindupati sampai dapat, untuk melaksanakan sumpahnya merobek dada mencabut jantung musuh besarnya. Akan tetapi setelah Setyaningsih menikah, tentu adik kandungnya itu akan pergi bersama suaminya. Bagaimana ia tega untuk meninggalkan Retna Wills, hanya ditemani Ki Datujiwa? Ia harus bersabar sampai beberapa tahun lagi, sampai Retna Wilis sudah agak dewasa sehingga ia tega untuk meninggalkannya.
"Aduh Kakangmas Tejolaksono ....” berulang-ulang ia mengeluh.
"Si keparat engkau Sindupati .... kau tunggu saja pembalasanku .... !" Ia memaki dan menjadi beringas. Akan tetapi segera ia menangis kembali, teringat akan nasib ibunya yang malang, teringat akan nasib sendiri, kemudian, melihat kepada Retna Wilis, ia menangis sambil memeluk anaknya itu sampai ia tertidur di samping Retna Wilis.

Pada hari-hari berikutnya, kesedihan hati Endang Patibroto yang disembunyi-sembunyikan agak terhibur melihat betapa adik kandungnya, Setyaningsih, hidup amat mesra dengan Pangeran Panji Sigit. Mereka berdua itu bagaikan sepasang merpati, tak pernah berpisah, begitu rukun dan amat damai, setiap pandang mata, senyum, kata-kata dan gerak tubuh sepenuhnya diselimuti cinta kasih yang mendalam. Sampai satu bulan lamanya pengantin baru itu tinggal di puncak Wilis. Kemudian mereka menghadap Endang Patibroto, menyatakan bahwa mereka hendak pergi ke Jenggala. Endang Patibroto yang sedang duduk bercengkerama dengan Ki Datujiwa, dihadiri pula oleh Retna Wilis, berdebar jantungnya dan ia berkata,
"Bukankah lebih baik kalian tinggal di sini saja? Aku mendengar bahwa keadaan Jenggala sedang kacau. Pula, menurut penuturanmu sendiri, Adi Pangeran, di sana ramandamu berada dalam cengkeraman selir jahat dan ponggawa-ponggawa tidak jujur. Mengingat pengalamanmu yang tidak baik dengan selir ramandamu itu, apakah pulangmu ke sana tidak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak?"
"Sesungguhnyalah apa yang dikatakan Ayunda itu, dan memang tepat dan benar sekali," jawab Pangeran Panji Sigit.
"Akan tetapi, setelah saya pikir secara mendalam, bahkan keadaan seburuk itulah yang mengharuskan saya berada di dekat kanjeng rama. Kanjeng rama tentu akan berbahagia sekali kalau melihat bahwa saya telah berjodoh dengan Setyaningsih, adik kandung Ayunda sendiri. Dan saya bersama Adinda Setyaningsih akan berusaha menyadarkan kanjeng rama, dan kalau perlu membela beliau apabila terancam bahaya."
Endang Patibroto menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang.
"Sejak dahulu, keadaan Jenggala sungguh tak dapat dikatakan baik. Alangkah jauh bedanya dengan Panjalu. Adi Pangeran, sang prabu di Panjalu juga masih uwamu sendiri. Apakah tidak lebih baik Adi bersuwita di sana?"
Pangeran Panji Sigit menggeleng kepala.
"Kalau hal-hal itu saya lakukan, berarti seolah-olah saya melarikan diri daripada kesulitan, Ayunda."
Kembali Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Aku hanya khawatir ....., ah, Eyang Datujiwa, bagaimana baiknya? Mohon petunjuk Eyang."
Endang Patibroto kini telah mengenal siapa adanya Ki Datujiwa dan makin segan serta hormatlah ia terhadap kakek sakti mandraguna ini. Bahkan ia merasa berbahagia sekali puterinya mendapatkan seorang guru seperti kakek ini yang berarti bahwa kelak puterinya akan menjadi orang yang lebih sakti daripada dia sendiri. Ki Datujiwa yang selalu diam saja kalau tidak diajak bicara itu lalu berkata dengan suaranya yang tenang dan mendatangkan rasa tenteram di hati,
"Menurut pendapat saya, wawasan Angger Pangeran tadi memang banyak kebenarannya. Angger adalah seorang Pangeran Jenggala, berdarah satria utama, keturunan Sang Sakti Prabu Airlangga. Sudah menjadi kewajiban seorang satria untuk melakukan tridharma bakti, tiga kebaktian utama. Pertama, berbakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, ke dua berbakti kepada rama ibu, dan ke tiga berbakti kepada negara dan bangsa. Kalau keadaan negara sedang makmur ikut menikmati, akan tetapi kalau negara sedang kacau lalu menjauhkan diri mencari kesenangan dan keselamatan pribadi, itu bukanlah watak seorang satria utama, Angger. Memang, dalam keadaan Kerajaan Jenggala seperti sekarang ini, bukan tidak ada bahayanya kalau Angger berdua pergi ke Jenggala. Akan tetapi, bahaya itu terdapat di mana-mana dan bahaya yang terbesar terdapat dalam pribadi sendiri. Adapun selamat, sakit sampai pun mati sepenuhnya mutlak menjadi wewenang Sang Hyang Widhi. Karena itu Angger, dengan dasar dan iktikad baik, seorang satria tidak akan gentar menghadapi apa pun juga karena biar hidup maupun mati, ia menjadi pengemban kebenaran dan keadilan. Seribu lebih baik tewas sebagai seorang satria daripada hidup sebagai seorang durjana."

Endang Patibroto makin tunduk dan yakin bahwa kakek ini bukanlah orang sembarangan, maka ia pun terpaksa merelakan kepergian adik kandungnya, Setyaningsih bersama suaminya. Segera para anggota Padepokan Wills mempersiapkan segala perbekalan pengantin baru ini, segala perbekalan untuk dipakai dalam perjalanan. Dua ekor kuda pilihan yang besar disediakan.
"Paman Pangeran dan Bibi yang baik, Kelak kalau aku sudah tamat belajar kepada Eyang Guru dan sudah dewasa, aku akan menyusul Paman dan Bibi. Aku ingin sekali melihat kerajaan!" kata Retna Wills.
Setyaningsih memeluk dan menciumi muka keponakannya yang diasuhnya semenjak lahir itu. Ia menitikkan air mata, hal yang jarang sekali terjadi pada diri Setyaningsih.
“Iihhh, kenapa Bibi menangis? Apakah tidak girang pergi bersama Paman Pangeran?" Pertanyaan ini memancing keluar leblh banyak air mata lagi. Melihat ini, Endang Patibroto yang tidak suka kalau puterinya kelak juga menjadi seorang yang cengeng cepat berkata,
"Bibimu menangis karena girang, Retna. Sudahlah, Ningsih, ada waktunya berkumpul tentu ada waktu untuk berpisah. Ada saat berpisah tentu disusul pula saat pertemuan kembali. Berangkatlah dengan hati lapang, adikku sayang, karena engkau pergi mengikuti suamimu. Itulah kewajiban pertama bagi seorang isteri." Demikian Endang Patibroto berkata menghibur. Akan tetapi Setyaningsih yang sudah menganggap ayundanya ini seperti ibunya sendiri, yang dicintanya sepenuh hati, menjadi makin terharu dan menubruk ayundanya, berlutut merangkul kaki dan menangis.

<<< Bagian 100                                                                                     Bagian 102 >>>

No comments:

Post a Comment