Dengan suara tenang Ki
Datujiwa menjawab,
"Muridku sudah bicara.
Aku wakilkan kepada muridku ini, Retna Wilis. Kalau kau mampu mengalahkan Retna
Wilis, anggap saja aku sudah kalah olehmu. Biarlah semua yang hadir menjadi saksi."
"Heh .... ??" Si
Hantu Kelabang khawatir kalau-kalau ia dipermainkan dan ditipu dengan ucapan
itu. Bocah masih begini kecil? Sedangkan ibu bocah inipun yang berilmu tinggi,
tadi menghadapi dia tidak dapat mengalahkannya dengan mudah.
"Sesungguhnyakah
omonganmu itu, petani tua bangka?"
"Heeiii, engkau si
hantu coro busuk bau! Mengapa kau memaki-maki orang? Omongan kami semua adalah
sungguh-sungguh, tidak seperti omonganmu yang merupakan angin bau busuk belaka!
Hayo lawan aku!" Retna Wilis kembali memaki.
Purwoko melototkan matanya
karena dimaki hantu coro sehingga banyak orang menertawakannya. Ingin ia sekali
gebrak menelan bocah itu bulat-bulat.
"Kalau memang betul,
biarlah semua orang menjadi saksi. Hayo, perlihatkan kepandaianmu, bocah
edan!"
"Seranglah dia,
muridku."
Suara Ki Datujiwa ini
menambah semangat Retna Wills yang memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya
kepada gurunya. Bukankah ketika menghadapi tiga orang jahat Ni Dewi Nilamanik,
Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama kemarin dulu itupun dia telah mendapat
kemenangan hanya karena kepercayaannya kepada gurunya?
"Baik, Eyang,"
jawabnya dan tubuh yang kecil itu lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke
perut Purwoko. Si Hantu Kelabang itu hanya menyeringai dan tidak mengelak
maupun menangkis. Perlu apa menangkis pukulan bocah cilik ini? Akan tetapi
mukanya yang menyeringai itu mendadak berubah masam ketika kepalan kecil itu
tepat mengenai perutnya,
"Bukkk!" Memang
tidak amat sakit, akan tetapi yang membuat ia kaget sekali adalah karena pada
saat ia hendak mengerahkan tenaga dalam ke perut, tenaganya itu molos dan tidak
dapat dikerahkan! Retna Wilis yang berhasil menghantam perut itu menjadi
girang. Ia melompat ke atas dengan gerakan ringan karena memang terlatih baik
oleh ibunya semenjak kecil sehingga ia dapat mencapai muka Si Hantu Kelabang,
lalu menghantamkan kepalan kanannya ke arah hidung si gundul.
"Punggg ......!!"
Kembali Purwoko meringis.
Kulit perutnya masih tebal sehingga biarpun ia tidak dapat mengerahkan
kekebalan ke arah perut, pukulan bocah itu tidak terasa nyeri. Akan tetapi
hidungnya yang dipukul terasa nyeri juga, apalagi yang terkena adalah tulang
muda hidung di ujung. Seperti akan patah rasanya. Tadi kaki tangannya sama
sekali tidak dapat digerakkan ketika bocah itu memukul, dan baru sekarang dapat
ia gerakkan ketika ia menggosok-gosok hidungnya dengan mata merah dan mulut
pringisan.
"Wah, badanmu baul
Tanganku jadi kotor!" kata Retna Wilis sambil mengipat-ngipatkan tangan,
lalu bocah ini menyambar sepotong kayu pecahan papan dan kembali ia menerjang,
kini menggunakan kayu itu, dipukulkan sekenanya bertubi-tubi.
"Plak-plek-prok ....
!!"
Kasihan sekali Si Hantu
Kelabang. Ia mulai bergidik ketakutan. Ngeri dia karena setiap kali bocah ini
menyerang, tubuhnya tak dapat digerakkan dan hawa sakti di tubuh tak dapat ia
kerahkan sehingga ia harus mandah saja dijadikan bulan-bulan gebukan. Biarpun
tidak terlalu sakit, akan tetapi amat memalukan karena para penonton kini
bersorak-sorak melihat dia berjingkrakan tidak karuan dihujani gebukan bocah
setan itu. Mulailah otaknya yang kental mengerti bahwa semua ini adalah
perbuatan si kakek petani dan ia bergidik ngeri. Orang dengan kesaktian seperti
itu tadi ia olok-olok dan ia tantang! Mengerti pula dia bahwa kekalahan Endang
Patibroto adalah kekalahan wajar.
"Masih tidak mengaku
kalah? Plenggg! Dessss ....!" Retna Wilis meloncat tinggi dan muka Purwoko
menjadi korban hantaman dan kini si gundul ini benar-benar merasa tobat. Muka
dan kepalanya mulai mengeluarkan darah karena kulitnya ada yang pecah dihantam
potongan papan yang runcing.
"Sudah ....sudah
....tobatt .....aku kalah....'" katanya dan baru setelah Purwoko
menyatakan tobat, Retna. Wilis menghentikan serangannya dan mundur, berdiri
gagah di dekat Ki Datujiwa.
Purwoko berdiri terbungkuk
di depan kakek sakti itu.
"Siapa .... siapakah
gerangan andika .....”
Ki Datujiwa berkata
perlahan,
"Purwoko, kau pandang
baik-baik. Lupakah engkau kepadaku? Setelah aku memberi ampun kepadamu di hutan
Muria, ternyata engkau kini berani lagi menambah kekacauan dunia ..!!”
"Oohhhh ....celaka
awakku ....sial dangkalan..... Ki Datujiwa kiranya ... Walah tobat... !"
Si Hantu Kelabang lalu melompat turun dan lari pergi tanpa pamit. Kiranya
belasan tahun yang lalu, Purwoko ini pernah roboh di tangan Ki Datujiwa ketika
melakukan kejahatan dan diampuni kakek sakti ini. Dalam kesombongannya, tadi ia
pangling maka berani ia memandang rendah yang mengakibatkan ia mendapat malu di
depan orang banyak. Larinya Si Hantu Kelabang diikuti oleh perginya para
pengikut sayembara dan para penonton karena sesungguhnya sebagian besar di
antara mereka tidak jadi memasuki sayembara dan hanya menjadi penonton.
Mereka diantar oleh
rombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin oleh Limanwilis dan dua orang
adiknya. Di sepanjang perjalanan tiada hentinya mereka mempercakapkan peristiwa
hebat dalam sayembara tanding itu. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih lalu
dinikahkan beberapa hari kemudian di puncak Wilis. Upacara pernikahan yang
sederhana kalau diingat bahwa yang menikah adalah seorang Pangeran Jenggala,
akan tetapi cukup meriah selain dihadiri oleh seluruh anggota Padepokan Wilis,
juga dihadiri pula oleh para penduduk di sekitar Wilis. Pula, apakah yang lebih
membahagiakan hati sepasang mempelai kecuali pertalian cinta kasih di antara
mereka? Malam itu, setelah mereka hanya berada berdua saja di dalam kamar
mempelai, merupakan malam terindah daripada hidup mereka. Malam pencurahan
kasih sayang yang semesra-mesranya, penuh kemurnian, di mana dua hati terlekat
menjadi satu, diikat sumpah saling setia sampai mati, senasib sependeritaan
suka sama dinikmati, duka sama diderita. Di malam pengantin ketika sepasang
pengantin sedang bermesra-mesraan memadu kasih, dan Retna Wilis sudah tidur
nyenyak saking kelelahan setelah sehari berpesta, dan Ki Datujiwa duduk
bersamadhi dengan heningnya di dalam kamar yang disediakan untuknya, Endang
Patibroto seorang diri menangis di kamarnya. Ia membenamkan muka di bantal
untuk menahan isak tangisnya, dan hanya bantal itu yang menjadi basah kuyup. Endang
Patibroto tidak hanya teringat dan merasa rindu kepada Tejolaksono, juga ia
teringat kepada Raden Sindupati. Teringat akan aib dan penghinaan yang ia
derita dari Sindupati baru-baru ini, membuat hatinya hancur dan kini di samping
derita merana dan rindu kepada Tejolaksono yang dicintanya, juga dendam dan
sakit hati terhadap Sindupati merupakan duri yang menusuk di hatinya. Ingin ia
mencari Sindupati sampai dapat, untuk melaksanakan sumpahnya merobek dada
mencabut jantung musuh besarnya. Akan tetapi setelah Setyaningsih menikah,
tentu adik kandungnya itu akan pergi bersama suaminya. Bagaimana ia tega untuk
meninggalkan Retna Wills, hanya ditemani Ki Datujiwa? Ia harus bersabar sampai
beberapa tahun lagi, sampai Retna Wilis sudah agak dewasa sehingga ia tega
untuk meninggalkannya.
"Aduh Kakangmas
Tejolaksono ....” berulang-ulang ia mengeluh.
"Si keparat engkau
Sindupati .... kau tunggu saja pembalasanku .... !" Ia memaki dan menjadi
beringas. Akan tetapi segera ia menangis kembali, teringat akan nasib ibunya
yang malang, teringat akan nasib sendiri, kemudian, melihat kepada Retna Wilis,
ia menangis sambil memeluk anaknya itu sampai ia tertidur di samping Retna
Wilis.
Pada hari-hari berikutnya,
kesedihan hati Endang Patibroto yang disembunyi-sembunyikan agak terhibur
melihat betapa adik kandungnya, Setyaningsih, hidup amat mesra dengan Pangeran
Panji Sigit. Mereka berdua itu bagaikan sepasang merpati, tak pernah berpisah,
begitu rukun dan amat damai, setiap pandang mata, senyum, kata-kata dan gerak
tubuh sepenuhnya diselimuti cinta kasih yang mendalam. Sampai satu bulan
lamanya pengantin baru itu tinggal di puncak Wilis. Kemudian mereka menghadap
Endang Patibroto, menyatakan bahwa mereka hendak pergi ke Jenggala. Endang
Patibroto yang sedang duduk bercengkerama dengan Ki Datujiwa, dihadiri pula
oleh Retna Wilis, berdebar jantungnya dan ia berkata,
"Bukankah lebih baik
kalian tinggal di sini saja? Aku mendengar bahwa keadaan Jenggala sedang kacau.
Pula, menurut penuturanmu sendiri, Adi Pangeran, di sana ramandamu berada dalam
cengkeraman selir jahat dan ponggawa-ponggawa tidak jujur. Mengingat
pengalamanmu yang tidak baik dengan selir ramandamu itu, apakah pulangmu ke
sana tidak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak?"
"Sesungguhnyalah apa
yang dikatakan Ayunda itu, dan memang tepat dan benar sekali," jawab
Pangeran Panji Sigit.
"Akan tetapi, setelah
saya pikir secara mendalam, bahkan keadaan seburuk itulah yang mengharuskan
saya berada di dekat kanjeng rama. Kanjeng rama tentu akan berbahagia sekali
kalau melihat bahwa saya telah berjodoh dengan Setyaningsih, adik kandung
Ayunda sendiri. Dan saya bersama Adinda Setyaningsih akan berusaha menyadarkan
kanjeng rama, dan kalau perlu membela beliau apabila terancam bahaya."
Endang Patibroto
menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang.
"Sejak dahulu, keadaan
Jenggala sungguh tak dapat dikatakan baik. Alangkah jauh bedanya dengan
Panjalu. Adi Pangeran, sang prabu di Panjalu juga masih uwamu sendiri. Apakah
tidak lebih baik Adi bersuwita di sana?"
Pangeran Panji Sigit
menggeleng kepala.
"Kalau hal-hal itu saya
lakukan, berarti seolah-olah saya melarikan diri daripada kesulitan,
Ayunda."
Kembali Endang Patibroto
menghela napas panjang.
"Aku hanya khawatir
....., ah, Eyang Datujiwa, bagaimana baiknya? Mohon petunjuk Eyang."
Endang Patibroto kini telah
mengenal siapa adanya Ki Datujiwa dan makin segan serta hormatlah ia terhadap
kakek sakti mandraguna ini. Bahkan ia merasa berbahagia sekali puterinya
mendapatkan seorang guru seperti kakek ini yang berarti bahwa kelak puterinya
akan menjadi orang yang lebih sakti daripada dia sendiri. Ki Datujiwa yang
selalu diam saja kalau tidak diajak bicara itu lalu berkata dengan suaranya
yang tenang dan mendatangkan rasa tenteram di hati,
"Menurut pendapat saya,
wawasan Angger Pangeran tadi memang banyak kebenarannya. Angger adalah seorang
Pangeran Jenggala, berdarah satria utama, keturunan Sang Sakti Prabu Airlangga.
Sudah menjadi kewajiban seorang satria untuk melakukan tridharma bakti, tiga
kebaktian utama. Pertama, berbakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, ke dua
berbakti kepada rama ibu, dan ke tiga berbakti kepada negara dan bangsa. Kalau
keadaan negara sedang makmur ikut menikmati, akan tetapi kalau negara sedang
kacau lalu menjauhkan diri mencari kesenangan dan keselamatan pribadi, itu
bukanlah watak seorang satria utama, Angger. Memang, dalam keadaan Kerajaan
Jenggala seperti sekarang ini, bukan tidak ada bahayanya kalau Angger berdua
pergi ke Jenggala. Akan tetapi, bahaya itu terdapat di mana-mana dan bahaya
yang terbesar terdapat dalam pribadi sendiri. Adapun selamat, sakit sampai pun
mati sepenuhnya mutlak menjadi wewenang Sang Hyang Widhi. Karena itu Angger,
dengan dasar dan iktikad baik, seorang satria tidak akan gentar menghadapi apa
pun juga karena biar hidup maupun mati, ia menjadi pengemban kebenaran dan
keadilan. Seribu lebih baik tewas sebagai seorang satria daripada hidup sebagai
seorang durjana."
Endang Patibroto makin
tunduk dan yakin bahwa kakek ini bukanlah orang sembarangan, maka ia pun
terpaksa merelakan kepergian adik kandungnya, Setyaningsih bersama suaminya.
Segera para anggota Padepokan Wills mempersiapkan segala perbekalan pengantin
baru ini, segala perbekalan untuk dipakai dalam perjalanan. Dua ekor kuda
pilihan yang besar disediakan.
"Paman Pangeran dan
Bibi yang baik, Kelak kalau aku sudah tamat belajar kepada Eyang Guru dan sudah
dewasa, aku akan menyusul Paman dan Bibi. Aku ingin sekali melihat
kerajaan!" kata Retna Wills.
Setyaningsih memeluk dan
menciumi muka keponakannya yang diasuhnya semenjak lahir itu. Ia menitikkan air
mata, hal yang jarang sekali terjadi pada diri Setyaningsih.
“Iihhh, kenapa Bibi
menangis? Apakah tidak girang pergi bersama Paman Pangeran?" Pertanyaan
ini memancing keluar leblh banyak air mata lagi. Melihat ini, Endang Patibroto
yang tidak suka kalau puterinya kelak juga menjadi seorang yang cengeng cepat
berkata,
"Bibimu menangis karena
girang, Retna. Sudahlah, Ningsih, ada waktunya berkumpul tentu ada waktu untuk
berpisah. Ada saat berpisah tentu disusul pula saat pertemuan kembali.
Berangkatlah dengan hati lapang, adikku sayang, karena engkau pergi mengikuti
suamimu. Itulah kewajiban pertama bagi seorang isteri." Demikian Endang
Patibroto berkata menghibur. Akan tetapi Setyaningsih yang sudah menganggap
ayundanya ini seperti ibunya sendiri, yang dicintanya sepenuh hati, menjadi
makin terharu dan menubruk ayundanya, berlutut merangkul kaki dan menangis.
No comments:
Post a Comment