Perawan Lembah Wilis; Bagian 100



Ki Datujiwa tersenyum, maklum bahwa perbuatan itu mempunyai dua maksud. Pertama agar tidak terdengar orang lain. Kedua untuk mendemonstrasikan kesaktian, karena memang hanya mereka yang sudah memiliki hawa sakti amat kuat saja yang dapat bicara dalam perut. Maka iapun menjawab dengan cara yang sama.
"Angger, Sang Dewi Endang Patibroto. Tidak ada yang menolong, tidak ada pula yang lancang. Semua terjadi karena memang semestinya demikian. Andika mengajak aku yang tua bertanding, boleh saja. Akan tetapi karena dasarnya pengangkatan murid, kalau dibolehkan dewata dan aku menang, aku akan mengajar ilmu kepada puterimu selama sepuluh tahun. Bagaimana?"
Endang Patibroto mengerutkan kening dan berpikir. Betapa mungkin ia berpisah dari puterinya? Akan tetapi permintaan itupun sudah patut. Kalau kakek ini dapat memenangkannya, tentu berharga menjadi guru Retna Wilis. Agar puterinya jangan terbawa pergi, ia harus bisa menang. Akan tetapi kalau ia menang, berarti akan membuat hidup adiknya merana!
"Baiklah, Ki Datujiwa. Akan tetapi mengajarnya harus di sini, andika harus tinggal di puncak Wilis."

Kembali kakek itu tersenyum sabar dan memandang ke sekeliling, ke arah tamasya alam yang amat indah.
"Memang aku berjodoh dengan Wilis. Boleh, aku menerima syarat itu."
Kini Endang Patibroto berkata dengan mulutnya, suaranya nyaring,
"Bersiaplah andika!" Dan tubuhnya bergerak maju dengan serangan kilat. Ia mengerahkan Aji Bayu Tantra dan menggunakan pukulan Pethit Nogo yang amat dahsyat. Namun yang dipukulnya hanya angin kosong karena tahu-tahu kakek itu telah lenyap dari depannya dan telah berada di sebelah kiri sambil berkata,
"Biarlah andika yang menahan serangan-seranganku!" Sambil berkata demikian, Ki Datujiwa sudah melancarkan pukulan dengan tangan kanan dikepal. Sambil memukul, kakek itu meloncat ke depan dan sementara tubuhnya berada di atas ia memukul. Endang Patibroto menggunakan lengannya menangkis sambil mengipatkan jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo.
"Dess ..... !” Tubuh Endang Patibroto terdorong ke belakang sungguhpun ia mampu menangkis pukulan itu. Ia terkejut dan kagum. Pukulan dengan tubuh melambung tidaklah sekuat kalau kedua kaki memasang kuda-kuda, akan tetapi tenaga pukulan kakek itu bukan main kuatnya, mengandung hawa sakti yang tak terlawan olehnya. Sebelum ia sempat membalas, kakek itu sudah meloncat dan memukul lagi. Endang Patibroto bertubi-tubi menangkis datangnya pukulan yang seperti hujan dan berkali-kali ia tertolak ke belakang sehingga akhirnya ia mundur-mundur dan berputeran. Belum juga ia mampu membalas karena kakek itu setiap kali ditangkis sudah melambung lagi dan memukul seolah-olah tubuh kakek itu melambung karena tangkisan dan otomatis menyerang kembali. Makin lama pukulan itu makin kuat sehingga Endang Patibroto cepat-cepat menahan napas, mengerahkan tenaga tangkisan yang didahului hawa panas. Hawa pukulan kedua pihak kini bertemu di udara dan sebelum kulit lengan mereka bersentuhan, tubuh Endang Patibroto sudah terpental. Wanita sakti itu makin kaget. Para penonton yang mengharapkan pertandingan seru, menjadi kecewa dan terheran-heran. Kalau tadinya mereka berdua itu saling tangkis, kini mereka berdiri dalam jarak hampir dua meter dan memukul dari jauh, ditangkis dari jauh pula, sama sekali lengan mereka tidak pernah bersentuhan lagi. Namun setiap kali, tubuh Endang Patibroto terdorong ke belakang. Kiranya dua orang sakti ini telah mempergunakan pukulan jarak jauh dan hanya mengandalkan hawa sakti masing-masing. Baik ketika menangkis, maupun ketika ia memukul dan ditangkis, Endang Patibroto selalu terdorong tubuh atasnya, terbawa oleh lengannya. Ia maklum bahwa' ia kalah kuat, maka dalam penasarannya ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang dahsyat. Beberapa orang penonton seketika merasa lumpuh kedua kakinya karena jantung mereka tergetar hebat.
"Sadhu-sadhu-sadhu ....." Ki Datujiwa berkata lembut namun tidak terpengaruh, hanya memandang tubuh lawan yang kini berkelebat seperti seekor burung kepinis, sambil melancarkan pukulan-pukulan sakti yang luar biasa dahsyatnya. Mula-mula Endang Patibroto menerjang tubuh kakek yang berdiri tegak itu sambil memukul dengan Aji Pethit Nogo sepenuhnya. Namun pukulan dan tubuhnya terhenti di tengah jalan, terhalang dan dihalau oleh tangkisan yang keluar dari dorongan tangan Ki Datujiwa. Ia menerjang lagi, berselang-seling mempergunakan aji pukulan Pethit Nogo, Wisangnala, dan Gelap Musti. Namun kesemuanya tidak berhasil, selalu kandas di tengah jalan, buyar oleh hawa pukulan yang menangkis.

Di samping rasa penasaran, juga Endang Patibroto hendak menguji benar-benar kakek ini. Seorang yang menjadi guru puterinya harus mempunyai kesaktian yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Maka ia lalu memperhebat serangannya. Betapa heran dan kagum hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa makin hebat diserang, kakek itu makin tenang, berdiri tegak, hanya menyambut setiap serangan dengan dorongan tangan kanan atau kiri berganti-ganti. Namun, dorongan-dorongan itu saja sudah cukup membuat semua serangan Endang Patibroto gagal! Bahkan lebih laripada itu. Makin keras pukulannya, nakin keras pula ia terpental! Aji Argoselo untuk memperberat tubuhnya sama sekali tidak ada hasilnya, bahkan kalau pukulannya keras sekali, ia terpental dan terhuyung sampai ke tepi papan panggung. Benarkah Ki Datujiwa memiliki tenaga sakti seampuh itu? Ia merasa penasaran lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mendorong dengan kedua tangannya melancarkan pukulan dengan Aji Gelap Musti! Hebat bukan main pukulannya ini. Baru hawanya saja sudah cukup merobohkan seorang lawan sakti. Akan tetapi lebih hebat lagi kesudahannya karena kakek itupun mendorongkan kedua tangan dan ..... tak dapat ditahannya lagi tubuh Endang Patibroto mencelat ke belakang sampai melewati tepi panggung! Semua orang berteriak karena betapapun saktinya seseorang, kalau sudah terlempar melewati tepi papan panggung, tentu akan jatuh ke bawah dan berarti kalah. Akan tetapi Endang Patibroto, ketua Padepokan Wilis, bukanlah seorang sakti yang biasa. Dia semenjak kecil telah di gembleng berbagai ilmu, bahkan menjadi murid terkasih Sang Dibyo Mamangkoro kemudian selama lima tahun lebih di puncak Wilis telah mematangkan ilmu-ilmunya dengan tekun sehingga kini merupakan seorang tokoh yang sukar dicari bandingnya. Biarpun tubuhnya sudah terlempar melewati tepi papan panggung, namun di udara tubuhnya itu dapat berjungkir balik dan melayang kembali ke arah panggung. Itulah Aji Bayu Tantra yang sudah mencapai tingkat tertingi sehingga dalam melompat dia dapat berjungkir balik dan mengubah arah, membalik ke arah berlawanan mengandalkan tenaga luncuran tadi!
"Bagus sekali .....!" seru Ki Datujiwa di antara tepuk sorak penonton yang merasa kagum bukan main. Gerakan Endang Patibroto itu seolah-olah gerakan seekor burung garuda yang terbang membalik. Akan tetapi Ki Datujiwa maklum bahwa kalau wanita sakti yang ganas ini tidak segera ditundukkan, pertandingan akan berlarut-larut. Sekali ini Endang Patibroto bertemu tanding yang jauh lebih tinggi ilmunya. Ki Datujiwa adalah adik angkat dan adik seperguruan Ki Tunggaljiwa dan dibandingkan dengan Endang Patibroto, ia masih menang jauh. Bahkan kakek ini masih lebih sakti daripada mendiang Dibya Mamangkoro! Dengan berdiri tegak, kakek Itu kembali mendorong dan ..... tubuh Endang Patibroto yang sudah meluncur kembali ke arah panggung itu kini terdorong lagi keluar panggung. Endang Patibroto mengeluarkan pekik dan tubuhnya kembali membalik di udara, namun sekali lagi didorong keluar oleh lawannya! Bagaikan seekor burung garuda yang berusaha melawan terjangan angin membadai, Endang Patibroto berkali-kali terdorong keluar dan akhirnya wanita sakti ini terpaksa mengakui keunggulan lawan. Ia membiarkan dirinya terdorong lalu menukik ke bawah, langsung ia menyerang papan panggung dengan kedua tangannya. Pukulan Gelap Musti mengenai papan panggung dan terdengarlah suara hiruk-pikuk karena papan di mana Ki Datujiwa berdiri menjadi ambrol, papan-papannya terlempar tinggal balok-baloknya saja. Endang Patibroto sendiri terpaksa turun ke atas tanah dan peluhnya membasahi muka dan leher, mukanya pucat dan napasnya agak terengah. Ketika ia memandang, ternyata serangan terakhir inipun gagal karena kakek itu tidak terlempar turun seperti yang dikehendakinya, melainkan masih berdiri di tempat tadi, hanya kini bukan berdiri di atas papan melainkan berdiri di atas sebuah di antara balok-balok penunjang papan. Separoh dari panggung itu telah ambrol papannya! Endang Patibroto menghela napas panjang, lalu iapun melompat ke atas sebuah balok di samping Ki Datujiwa sambil berkata,
"Kepandaian Eyang terlampau hebat, saya mengaku takluk." Kemudian ia memandang ke arah para tamu dan berkata,
"Hendaknya semua saudara yang hadir maklum bahwa pemenang sayembara adalah Pangeran Panji Sigit yang berhak menjadi jodoh adikku Setyaningsih. Dengan ini sayembara ditutup dan dibubarkan!"

Orang-orang menjadi terkejut dan kagum.
"Ah, dia Pangeran Panji Sigit?"
"Pangeran Jenggala!"
"Pantas gagah dan tampan, walinyapun hebat!"
Endang Patibroto telah melompat turun, diikuti oleh Ki Datujiwa yang tersenyum-senyum, di samping oleh Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit yang berseri-seri wajahnya. Setyaningsih merangkul ayundanya dan menangis saking terharu dan bahagia. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ketawa mengejek dan ketika mereka semua menengok, kiranya si gundul Purwoko telah berdiri di atas panggung yang tinggal separoh. Kakek gundul ini telah siuman dan pulih kesehatannya. Kini ia berdiri di atas panggung sambil tertawa lalu berkata dengan suaranya yang melengking tinggi,
"Wah, Padepokan Wills bermain curang! Endang Patibroto sungguh memalukan sebagai ketua Padepokan Wilis. Kiranya yang menang adalah seorang Pangeran Jenggala. Tentu saja menang karena memang dimenangkan! Siapa tidak mengetahui adanya sayembara menggelikan ini? Kalau memang suka mendapat ipar seorang pangeran, mengapa mengadakan sayembara palsu ini? Pantas saja, pangeran itu tadi dilayani oleh Setyaningsih sambil main-main belaka, dan kakek petani itupun seperti badut karena Endang Patibroto sengaja mengalah! Kalau memang bertanding betul-betul, tak mungkin kalah. Saudara-saudara sekalian kalau tidak percaya, boleh suruh pangeran itu atau walinya maju melawan aku! Aku sudah kalah terhadap Endang Patibroto, akan tetapi kakek petani itu akan kubikin jungkir balik!" Ucapan Si Hantu Kelabang ini bukan ucapan seorang tolol. Memang tadi ia melihat pertandingan antara Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, maka iapun tahu bahwa pertandingan itu tidak sungguh-sungguh. Adapun tentang Ki Datujiwa, ia hanya melihatnya sebagai seorang petani tua sederhana, tidak mengenal namanya karena sejak tadi tidak disebut, dan tingkat kakek ini sudah sedemikian tingginya sehingga memang tadi tidak kelihatan menggunakan kesaktian. Sebaliknya, Endang Patibrotolah yang kelihatan memperlihatkan ketangkasan luar biasa. Kakek itu hanya berdiri dan mendorong-dorongkan kedua tangannya. Siapa mau percaya? Hanya satu kali kakek itu memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ketika papan panggung tergempur ia meloncat ke atas kemudian turun lagi hinggap di atas balok. Namun, kepandaian ini bagi Si Hantu Kelabang Purwoko tidaklah mengherankan. Inilah sebabnya mengapa ia menjadi iri hati dan menuduh yang bukan-bukan.

"Eh, tua bangka seperti cecak kering! Kau melantur tidak karuan, ya?" Tiba-tiba Retna Wilis sudah melompat ke atas panggung dan berdiri berhadapan dengan Purwoko di atas panggung yang tinggal separoh, lalu bertolak pinggang dan menudingkan telunjuk kirinya.
"Kau berani menantang paman pangeran? Berani menantang eyang guruku? Huh, tidak memandang tengkuk sendiri! Tak usah mereka turun tangan, kaulawanlah aku saja! Belum tentu kau menang, tahu?" Semua orang yang tadinya sudah mau bubaran, kini tertarik kembali dan menonton sambil tertawa-tawa. Modar! Ketanggor kau sekarang, ketemu batunya! Demikian bisik mereka yang merasa tidak senang menyaksikan lagak Si Hantu Kelabang. Endang Patibroto sudah bergerak hendak menegur dan menyuruh puterinya turun, akan tetapi Ki Datujiwa berbisik,
"Biarlah, memang Purwoko perlu dihajar agar mundur dan tidak berani sewenang-wenang." Tanpa menanti jawaban, Ki Datujiwa lalu menghampiri panggung dan meloncat ke atas, berdiri di sudut sambil berkata,
"Retna Wills, beranikah engkau mewakili gurumu dan ibumu memberi hajaran kepada setan gundul yang tidak sopan ini?"
Melihat gurunya sudah berada di situ, nyali Retna Wills makin bertambah. Dengan menjebikan mulutnya ke arah Purwoko, ia menjawab,
"Mengapa tidak berani, Eyang Guru? Biar ditambah lima lagi macam dia, aku tidak takut!" Si Hantu Kelabang yang tadinya hendak mengejek dan mengumpat caci orang, kini benar-benar kalah desak dan bertemu batunya menghadapi Retna Wills. Mau turun tangan, masa dia seorang tokoh besar harus melayani seorang anak kecil yang baru enam tahun umurnya? Tidak dilayani, dia dimaki-maka di depan orang banyak! Kini melihat kakek petani yang ia pandang rendah itu sudah maju, cepat ia berkata,
"Eh, kebetulan sekali kau muncul, petani busuk! Hayo mengakulah bahwa engkau dan Endang Patibroto memang hanya bermain dagelan, pertandingan tadi tidak sungguh-sungguh. Kalau memang kau ada kepandaian, coba kaukalahkan aku!"

<<< Bagian 099                                                                                     Bagian 101 >>>

No comments:

Post a Comment