Ki Datujiwa tersenyum,
maklum bahwa perbuatan itu mempunyai dua maksud. Pertama agar tidak terdengar
orang lain. Kedua untuk mendemonstrasikan kesaktian, karena memang hanya mereka
yang sudah memiliki hawa sakti amat kuat saja yang dapat bicara dalam perut.
Maka iapun menjawab dengan cara yang sama.
"Angger, Sang Dewi
Endang Patibroto. Tidak ada yang menolong, tidak ada pula yang lancang. Semua
terjadi karena memang semestinya demikian. Andika mengajak aku yang tua bertanding,
boleh saja. Akan tetapi karena dasarnya pengangkatan murid, kalau dibolehkan
dewata dan aku menang, aku akan mengajar ilmu kepada puterimu selama sepuluh
tahun. Bagaimana?"
Endang Patibroto mengerutkan
kening dan berpikir. Betapa mungkin ia berpisah dari puterinya? Akan tetapi
permintaan itupun sudah patut. Kalau kakek ini dapat memenangkannya, tentu
berharga menjadi guru Retna Wilis. Agar puterinya jangan terbawa pergi, ia
harus bisa menang. Akan tetapi kalau ia menang, berarti akan membuat hidup adiknya
merana!
"Baiklah, Ki Datujiwa.
Akan tetapi mengajarnya harus di sini, andika harus tinggal di puncak
Wilis."
Kembali kakek itu tersenyum
sabar dan memandang ke sekeliling, ke arah tamasya alam yang amat indah.
"Memang aku berjodoh
dengan Wilis. Boleh, aku menerima syarat itu."
Kini Endang Patibroto
berkata dengan mulutnya, suaranya nyaring,
"Bersiaplah
andika!" Dan tubuhnya bergerak maju dengan serangan kilat. Ia mengerahkan
Aji Bayu Tantra dan menggunakan pukulan Pethit Nogo yang amat dahsyat. Namun yang
dipukulnya hanya angin kosong karena tahu-tahu kakek itu telah lenyap dari
depannya dan telah berada di sebelah kiri sambil berkata,
"Biarlah andika yang
menahan serangan-seranganku!" Sambil berkata demikian, Ki Datujiwa sudah
melancarkan pukulan dengan tangan kanan dikepal. Sambil memukul, kakek itu
meloncat ke depan dan sementara tubuhnya berada di atas ia memukul. Endang
Patibroto menggunakan lengannya menangkis sambil mengipatkan jari tangan yang
mengandung Aji Pethit Nogo.
"Dess ..... !” Tubuh
Endang Patibroto terdorong ke belakang sungguhpun ia mampu menangkis pukulan
itu. Ia terkejut dan kagum. Pukulan dengan tubuh melambung tidaklah sekuat
kalau kedua kaki memasang kuda-kuda, akan tetapi tenaga pukulan kakek itu bukan
main kuatnya, mengandung hawa sakti yang tak terlawan olehnya. Sebelum ia
sempat membalas, kakek itu sudah meloncat dan memukul lagi. Endang Patibroto
bertubi-tubi menangkis datangnya pukulan yang seperti hujan dan berkali-kali ia
tertolak ke belakang sehingga akhirnya ia mundur-mundur dan berputeran. Belum
juga ia mampu membalas karena kakek itu setiap kali ditangkis sudah melambung
lagi dan memukul seolah-olah tubuh kakek itu melambung karena tangkisan dan
otomatis menyerang kembali. Makin lama pukulan itu makin kuat sehingga Endang
Patibroto cepat-cepat menahan napas, mengerahkan tenaga tangkisan yang
didahului hawa panas. Hawa pukulan kedua pihak kini bertemu di udara dan
sebelum kulit lengan mereka bersentuhan, tubuh Endang Patibroto sudah
terpental. Wanita sakti itu makin kaget. Para penonton yang mengharapkan
pertandingan seru, menjadi kecewa dan terheran-heran. Kalau tadinya mereka
berdua itu saling tangkis, kini mereka berdiri dalam jarak hampir dua meter dan
memukul dari jauh, ditangkis dari jauh pula, sama sekali lengan mereka tidak
pernah bersentuhan lagi. Namun setiap kali, tubuh Endang Patibroto terdorong ke
belakang. Kiranya dua orang sakti ini telah mempergunakan pukulan jarak jauh
dan hanya mengandalkan hawa sakti masing-masing. Baik ketika menangkis, maupun
ketika ia memukul dan ditangkis, Endang Patibroto selalu terdorong tubuh
atasnya, terbawa oleh lengannya. Ia maklum bahwa' ia kalah kuat, maka dalam
penasarannya ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang dahsyat. Beberapa
orang penonton seketika merasa lumpuh kedua kakinya karena jantung mereka
tergetar hebat.
"Sadhu-sadhu-sadhu
....." Ki Datujiwa berkata lembut namun tidak terpengaruh, hanya memandang
tubuh lawan yang kini berkelebat seperti seekor burung kepinis, sambil
melancarkan pukulan-pukulan sakti yang luar biasa dahsyatnya. Mula-mula Endang
Patibroto menerjang tubuh kakek yang berdiri tegak itu sambil memukul dengan
Aji Pethit Nogo sepenuhnya. Namun pukulan dan tubuhnya terhenti di tengah
jalan, terhalang dan dihalau oleh tangkisan yang keluar dari dorongan tangan Ki
Datujiwa. Ia menerjang lagi, berselang-seling mempergunakan aji pukulan Pethit
Nogo, Wisangnala, dan Gelap Musti. Namun kesemuanya tidak berhasil, selalu
kandas di tengah jalan, buyar oleh hawa pukulan yang menangkis.
Di samping rasa penasaran,
juga Endang Patibroto hendak menguji benar-benar kakek ini. Seorang yang
menjadi guru puterinya harus mempunyai kesaktian yang jauh lebih tinggi
daripada kepandaiannya sendiri. Maka ia lalu memperhebat serangannya. Betapa
heran dan kagum hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa makin hebat diserang,
kakek itu makin tenang, berdiri tegak, hanya menyambut setiap serangan dengan
dorongan tangan kanan atau kiri berganti-ganti. Namun, dorongan-dorongan itu
saja sudah cukup membuat semua serangan Endang Patibroto gagal! Bahkan lebih
laripada itu. Makin keras pukulannya, nakin keras pula ia terpental! Aji
Argoselo untuk memperberat tubuhnya sama sekali tidak ada hasilnya, bahkan
kalau pukulannya keras sekali, ia terpental dan terhuyung sampai ke tepi papan
panggung. Benarkah Ki Datujiwa memiliki tenaga sakti seampuh itu? Ia merasa
penasaran lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mendorong dengan kedua tangannya
melancarkan pukulan dengan Aji Gelap Musti! Hebat bukan main pukulannya ini.
Baru hawanya saja sudah cukup merobohkan seorang lawan sakti. Akan tetapi lebih
hebat lagi kesudahannya karena kakek itupun mendorongkan kedua tangan dan .....
tak dapat ditahannya lagi tubuh Endang Patibroto mencelat ke belakang sampai
melewati tepi panggung! Semua orang berteriak karena betapapun saktinya
seseorang, kalau sudah terlempar melewati tepi papan panggung, tentu akan jatuh
ke bawah dan berarti kalah. Akan tetapi Endang Patibroto, ketua Padepokan
Wilis, bukanlah seorang sakti yang biasa. Dia semenjak kecil telah di gembleng berbagai
ilmu, bahkan menjadi murid terkasih Sang Dibyo Mamangkoro kemudian selama lima
tahun lebih di puncak Wilis telah mematangkan ilmu-ilmunya dengan tekun
sehingga kini merupakan seorang tokoh yang sukar dicari bandingnya. Biarpun
tubuhnya sudah terlempar melewati tepi papan panggung, namun di udara tubuhnya
itu dapat berjungkir balik dan melayang kembali ke arah panggung. Itulah Aji
Bayu Tantra yang sudah mencapai tingkat tertingi sehingga dalam melompat dia
dapat berjungkir balik dan mengubah arah, membalik ke arah berlawanan
mengandalkan tenaga luncuran tadi!
"Bagus sekali
.....!" seru Ki Datujiwa di antara tepuk sorak penonton yang merasa kagum
bukan main. Gerakan Endang Patibroto itu seolah-olah gerakan seekor burung
garuda yang terbang membalik. Akan tetapi Ki Datujiwa maklum bahwa kalau wanita
sakti yang ganas ini tidak segera ditundukkan, pertandingan akan
berlarut-larut. Sekali ini Endang Patibroto bertemu tanding yang jauh lebih
tinggi ilmunya. Ki Datujiwa adalah adik angkat dan adik seperguruan Ki
Tunggaljiwa dan dibandingkan dengan Endang Patibroto, ia masih menang jauh.
Bahkan kakek ini masih lebih sakti daripada mendiang Dibya Mamangkoro! Dengan
berdiri tegak, kakek Itu kembali mendorong dan ..... tubuh Endang Patibroto
yang sudah meluncur kembali ke arah panggung itu kini terdorong lagi keluar
panggung. Endang Patibroto mengeluarkan pekik dan tubuhnya kembali membalik di
udara, namun sekali lagi didorong keluar oleh lawannya! Bagaikan seekor burung
garuda yang berusaha melawan terjangan angin membadai, Endang Patibroto
berkali-kali terdorong keluar dan akhirnya wanita sakti ini terpaksa mengakui
keunggulan lawan. Ia membiarkan dirinya terdorong lalu menukik ke bawah,
langsung ia menyerang papan panggung dengan kedua tangannya. Pukulan Gelap Musti
mengenai papan panggung dan terdengarlah suara hiruk-pikuk karena papan di mana
Ki Datujiwa berdiri menjadi ambrol, papan-papannya terlempar tinggal
balok-baloknya saja. Endang Patibroto sendiri terpaksa turun ke atas tanah dan
peluhnya membasahi muka dan leher, mukanya pucat dan napasnya agak terengah.
Ketika ia memandang, ternyata serangan terakhir inipun gagal karena kakek itu
tidak terlempar turun seperti yang dikehendakinya, melainkan masih berdiri di
tempat tadi, hanya kini bukan berdiri di atas papan melainkan berdiri di atas
sebuah di antara balok-balok penunjang papan. Separoh dari panggung itu telah
ambrol papannya! Endang Patibroto menghela napas panjang, lalu iapun melompat
ke atas sebuah balok di samping Ki Datujiwa sambil berkata,
"Kepandaian Eyang
terlampau hebat, saya mengaku takluk." Kemudian ia memandang ke arah para
tamu dan berkata,
"Hendaknya semua
saudara yang hadir maklum bahwa pemenang sayembara adalah Pangeran Panji Sigit
yang berhak menjadi jodoh adikku Setyaningsih. Dengan ini sayembara ditutup dan
dibubarkan!"
Orang-orang menjadi terkejut
dan kagum.
"Ah, dia Pangeran Panji
Sigit?"
"Pangeran
Jenggala!"
"Pantas gagah dan
tampan, walinyapun hebat!"
Endang Patibroto telah
melompat turun, diikuti oleh Ki Datujiwa yang tersenyum-senyum, di samping oleh
Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit yang berseri-seri wajahnya. Setyaningsih
merangkul ayundanya dan menangis saking terharu dan bahagia. Tiba-tiba mereka
dikejutkan oleh suara ketawa mengejek dan ketika mereka semua menengok, kiranya
si gundul Purwoko telah berdiri di atas panggung yang tinggal separoh. Kakek
gundul ini telah siuman dan pulih kesehatannya. Kini ia berdiri di atas
panggung sambil tertawa lalu berkata dengan suaranya yang melengking tinggi,
"Wah, Padepokan Wills
bermain curang! Endang Patibroto sungguh memalukan sebagai ketua Padepokan
Wilis. Kiranya yang menang adalah seorang Pangeran Jenggala. Tentu saja menang
karena memang dimenangkan! Siapa tidak mengetahui adanya sayembara menggelikan
ini? Kalau memang suka mendapat ipar seorang pangeran, mengapa mengadakan
sayembara palsu ini? Pantas saja, pangeran itu tadi dilayani oleh Setyaningsih
sambil main-main belaka, dan kakek petani itupun seperti badut karena Endang
Patibroto sengaja mengalah! Kalau memang bertanding betul-betul, tak mungkin
kalah. Saudara-saudara sekalian kalau tidak percaya, boleh suruh pangeran itu
atau walinya maju melawan aku! Aku sudah kalah terhadap Endang Patibroto, akan
tetapi kakek petani itu akan kubikin jungkir balik!" Ucapan Si Hantu Kelabang
ini bukan ucapan seorang tolol. Memang tadi ia melihat pertandingan antara
Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, maka iapun tahu bahwa pertandingan itu
tidak sungguh-sungguh. Adapun tentang Ki Datujiwa, ia hanya melihatnya sebagai
seorang petani tua sederhana, tidak mengenal namanya karena sejak tadi tidak
disebut, dan tingkat kakek ini sudah sedemikian tingginya sehingga memang tadi
tidak kelihatan menggunakan kesaktian. Sebaliknya, Endang Patibrotolah yang
kelihatan memperlihatkan ketangkasan luar biasa. Kakek itu hanya berdiri dan
mendorong-dorongkan kedua tangannya. Siapa mau percaya? Hanya satu kali kakek
itu memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ketika papan panggung tergempur ia
meloncat ke atas kemudian turun lagi hinggap di atas balok. Namun, kepandaian
ini bagi Si Hantu Kelabang Purwoko tidaklah mengherankan. Inilah sebabnya
mengapa ia menjadi iri hati dan menuduh yang bukan-bukan.
"Eh, tua bangka seperti
cecak kering! Kau melantur tidak karuan, ya?" Tiba-tiba Retna Wilis sudah
melompat ke atas panggung dan berdiri berhadapan dengan Purwoko di atas
panggung yang tinggal separoh, lalu bertolak pinggang dan menudingkan telunjuk
kirinya.
"Kau berani menantang
paman pangeran? Berani menantang eyang guruku? Huh, tidak memandang tengkuk
sendiri! Tak usah mereka turun tangan, kaulawanlah aku saja! Belum tentu kau
menang, tahu?" Semua orang yang tadinya sudah mau bubaran, kini tertarik
kembali dan menonton sambil tertawa-tawa. Modar! Ketanggor kau sekarang, ketemu
batunya! Demikian bisik mereka yang merasa tidak senang menyaksikan lagak Si
Hantu Kelabang. Endang Patibroto sudah bergerak hendak menegur dan menyuruh
puterinya turun, akan tetapi Ki Datujiwa berbisik,
"Biarlah, memang
Purwoko perlu dihajar agar mundur dan tidak berani sewenang-wenang." Tanpa
menanti jawaban, Ki Datujiwa lalu menghampiri panggung dan meloncat ke atas,
berdiri di sudut sambil berkata,
"Retna Wills, beranikah
engkau mewakili gurumu dan ibumu memberi hajaran kepada setan gundul yang tidak
sopan ini?"
Melihat gurunya sudah berada
di situ, nyali Retna Wills makin bertambah. Dengan menjebikan mulutnya ke arah
Purwoko, ia menjawab,
"Mengapa tidak berani,
Eyang Guru? Biar ditambah lima lagi macam dia, aku tidak takut!" Si Hantu
Kelabang yang tadinya hendak mengejek dan mengumpat caci orang, kini
benar-benar kalah desak dan bertemu batunya menghadapi Retna Wills. Mau turun
tangan, masa dia seorang tokoh besar harus melayani seorang anak kecil yang
baru enam tahun umurnya? Tidak dilayani, dia dimaki-maka di depan orang banyak!
Kini melihat kakek petani yang ia pandang rendah itu sudah maju, cepat ia
berkata,
"Eh, kebetulan sekali
kau muncul, petani busuk! Hayo mengakulah bahwa engkau dan Endang Patibroto
memang hanya bermain dagelan, pertandingan tadi tidak sungguh-sungguh. Kalau
memang kau ada kepandaian, coba kaukalahkan aku!"
No comments:
Post a Comment