"Ayunda benar, dia berbahaya sekali ....." kata Setyaningsih.
"Ibu, ilmu apakah itu,
berjungkir balik seperti yang dilakukan si gundul?" tanya Retna Wilis.
Endang Patibroto menarik
napas panjang dan memeriksa ujung kainnya yang robek.
"Dia tidak sangat
sakti, hanya memiliki siasat-siasat berbahaya. Seperti seekor kelabang yang
curang. Ilmunya berjungkir-balik sungguhpun cukup kuat, namun dilatih dengan
sesat sehingga hanya tampaknya saja menyeramkan, sebetulnya tidak ada apa-
apanya. Lebih baik lanjutkan latihan samadhi sambil menggantung di pohon,
Retna."
Pada saat itu, keheningan
suasana telah pecah oleh berisiknya para penonton karena kini di atas panggung
telah berdiri seorang pemuda tampan sekali. Pemuda itu bukan lain adalah
Pangeran Panji Sigit. Ia memberi hormat ke arah Endang Patibroto dan berkata
halus,
"Mohon banyak maaf
kepada Ayunda. Dorongan kasih membuat saya nekat memasuki sayembara dan membawa
seorang wali, yaitu Eyang Datujiwa. Mudah-mudahan saja para dewata melindungi
hamba dan akan tercapai apa yang hamba idam-idamkan. Marilah, Adinda
Setyaningsih, kita menguji kedigdayaan. Hanya sedikit harapan saya hendaknya
Adinda menaruh kasihan kepada saya."
Wajah Setyaningsih sudah
menjadi merah sekali ketika melihat pemuda yang selama ini membuatnya tak enak
tidur tak sedap makan itu telah berdiri menanti di atas panggung. Saat inilah
yang dinanti-nantinya. Dia sudah bertekat bulat untuk melawan siapa saja secara
mati-matian, kalau perlu mengadu nyawa di atas panggung sayembara karena ia
tidak rela berjodoh dengan laki-laki lain kecuali pemuda yang kini berada di
atas panggung ini! Namun setelah saatnya tiba, ia merasa kedua kakinya
menggigil dan mukanya panas. Betapapun juga, tanpa disadarinya seperti orang terkena
hikmat gaib, dara jelita itu bangkit berdiri dan tanpa menoleh sedikitpun
kepada ayundanya seperti tadi, langsung ia menghampiri panggung lalu melompat
naik diiringi sorak-sorai para penonton yang timbul kembali kegembiraan mereka.
Dara jelita itu kini kembali akan bertanding dan lawannya begitu tampan seperti
Sang Harjuna! Melihat perawakan kedua muda-mudi ini, melihat wajah mereka,
sungguh mereka itu merupakan pasangan yang amat setimpal, seperti Dewa Komajaya
dan Dewi Komaratih, seperti Sang Harjuna dan Dewi Sembadra. Sama-sama muda
remaja, sama-sama tampan rupawan, sama-sama agung berwibawa dan sakti
mandraguna! Sejenak mereka berdua berdiri saling berhadapan. Pangeran Panji
Sigit memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar, membayangkan kasih
sayang dan kemesraan yang tidak dibuat-buat, yang langsung memancar dari lubuk
hatinya, namun yang membuatnya terpesona sehingga sukar untuk mengeluarkan
kata-kata. Hatinya terharu sekali. Kalau mungkin, ia ingin sekali memeluk dan
mencumbu rayu dara ini, bukan sekali-kali menghadapinya sebagai lawan
bertanding! Betapa mungkin ia bertanding sebagai lawan dan menyerang dara yang
dikasihinya ini? Kalau perlu ia bahkan rela mati di bawah kakinya, rela
mengorbankan apa saja demi cinta kasihnya yang mendalam! Namun, untuk dapat
tercapai cita-cita dan idaman hatinya, ia harus dapat mengalahkan dara ini
dalam adu kesaktian! Tiada jalan lain karena ia cukup mengenal watak Endang
Patibroto yang keras dan kemauannya yang sukar ditundukkan oleh apapun juga.
Adapun Setyaningsih, berbeda
sekali dengan tadi ketika menghadapi calon-calon lain, agung berwibawa, tenang
dan memandang dengan mata tajam, kini menundukkan mukanya, berdiri dengan
pundak meringkus (menyempit), memandang ke arah ujung ibu jari kakinya yang utak-utik
bergerak-gerak menggores-gores papan panggung! Sampai lama kedua remaja ini
berhadapan tanpa mengeluarkan suara, bahkan tanpa bergerak, lebih gugup dan
bingung lagi karena beberapa orang penonton yang agaknya dapat menangkap arti
gerak-gerik mereka ada yang mulai terkekeh mentertawakan.
"Bibi .....Jangan
melupakan pesanku, lho! Awas, kalau melanggar, Bibi akan ku-jothak
(kumusuhi)!" Tiba- tiba terdengar teriakan Retna Wills dan semua orang
tertawa sambil bertanya-tanya dalam hati apa gerangan pesan puteri ketua
Padepokan Wilis itu. Hanya Endang Patibroto dan Setyaningsih yang
mengetahuinya, juga Pangeran Panji Sigit dapat menduganya maka hatinya menjadi
lega, maka sambil melempar senyum ke arah bocah itu ia berkata,
"Terima kasih,
keponakanku yang manis!" Setyaningsih menjadi makin jengah dan malu,
mukanya makin menunduk. Seperti dalam mimpi ia mendengar suara yang halus penuh
getaran asmara itu,
"Diajeng, marilah kita
mulai, tidak enak dijadikan tontonan orang." Barulah ia berani mengangkat
muka. Sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan melekat mesra. Kemudian
dara itu berbisik,
"Marilah
........silahkan…………” Berbareng keduanya bergerak dan terjadilah pertandingan
yang amat menarik hati. Keduanya sama-sama memiliki gerakan yang trengginas dan
cepat, dengan gerak silat yang indah seperti tarian lemah gemulai. Tampaknya
kedua orang muda ini bukan seperti tengah bertanding yuda, melainkan sedang
berlagak dengan tarian indah di atas panggung. Namun, bagi para penonton yang
kesemuanya memiliki kepandaian, jelas bahwa kedua orang muda itu benar-benar
saling serang dengan cepat dan kuat. Pertandingan yang amat seru. Sesungguhnya
hal ini hanya kelihatannya saja, karena bagi Endang Patibroto, juga bagi Ki
Datujiwa, dan beberapa orang yang hadir di situ dan memiliki ilmu kepandaian
tinggi, kedua orang remaja itu tidak bertanding sungguh-sungguh. Memang
tampaknya melakukan pukulan dan tendangan sungguh-sungguh, dengan gerak silat
yang sempurna dan daya serang yang dahsyat, namun tenaga dalam penyerangan ini
selalu dikendalikan sehingga andaikata lawan akan terkena, dapat ditarik mundur
atau dihilangkan tenaganya sehingga tidak akan melukai lawan! Mereka itu
seolah-olah sedang berlatih saja!
Namun gerakan mereka yang
gesit menyuguhkan tontonan yang indah menarik dan menegangkan bagi mereka yang
tidak tahu sehingga mereka bersorak-sorak setiap kali seorang di antara mereka
tampak terdesak sampai ke pinggir panggung. Hanya sebentar saja desakan ini
karena segera yang terdesak dapat menguasai keadaan dan balas mendesak. Tentu
saja Setyaningsih tidak menghendaki pemuda idaman hatinya ini kalah dan
terpelanting ke bawah panggung. Karena hal itu akan berarti bahwa pemuda ini
tidak mungkin menjadi jodohnya! Bukan hanya karena pesan Retna Wilis saja maka
ia mengalah dan tidak sungguh-sungguh penyerangannya, melainkan juga karena dia
sendiri di dalam hatinya sudah memilih Pangeran Panji Sigit sebagai calon
suaminya. Akan tetapi, Setyaningsih adalah seorang dara yang pendiam, serius,
berpemandangan luas, berwatak adil dan keras hati, tak mengenal takut asal
bersandarkan kebenaran. Watak ini mendatangkan sifat angkuh dan tidak mau
kalah, serta ingin dihargai. Apalagi oleh orang yang dicintanya. Ia ingin
memperlihatkan kepada pangeran muda ini bahwa dia bukan seorang lemah, bahwa
dia mampu menandingi pangeran itu kalau dikehendakinya, maka dalam pertempuran
inipun, sungguhpun ia tidak ingin mengalahkan si pangeran yang menjadi pilihan
hatinya, akan tetapi ia ingin membuktikan bahwa dia sebetulnya tidak kalah!
Ketika ia mendapat kesempatan setelah pukulannya ditangkis pemuda itu,
tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya
ia meloncat sehingga bagaikan terbang saja dan sambil meloncat, ketika melewati
dekat kepala Pangeran Panji Sigit, tangan kirinya menjangkau dan cepat ia
menyambar ikat kepala pangeran itu, direnggutnya terlepas dari kepala pangeran
itu. Pangeran Panji Sigit maklum akan isi hati dara yang dicintanya. Kalau ia
mau, tentu saja ia dapat mempertahankan ikat kepalanya, atau dapat ia mengirim
pukulan maut ke perut dara yang sedang melambung di atasnya itu andaikata dara
itu seorang musuh. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau melakukan hal ini,
sebaliknya ia membiarkan ikat kepalanya dirampas dan cepat sekali lengannya
menyambar dan memeluk pinggang yang ramping dari Setyaningsih dan langsung
membawa dara itu meloncat turun panggung! Setyaningsih terkejut, namun tidak
dapat meronta karena pelukan lengan pada pinggangnya itu membuat ia menjadi
lemas dan seperti lumpuh!
Ketika turun ke atas tanah,
Pangeran Panji Sigit lebih dulu menurunkan dara itu, baru ia turun belakangan.
Dengan demikian, berarti bahwa Setyaningsih yang lebih dulu turun dari panggung
dan ia berada di pihak menang. Akan tetapi untuk tidak menyinggung perasaan
orang yang dicintanya, ia membungkuk dan berkata sambil tersenyum dan memegangi
rambutnya,
"Engkau hebat, Diajeng,
telah berhasil merampas ikat kepalaku. Aku mengaku kalah ......“
Setyaningsih memandang
dengan mata bersinar-sinar dan muka merah karena girang dan juga jengah,
mulutnya berkata gagap,
"Ohhh ....tidak ....,
kau...., tidak kalah ....aku yang lebih dulu turun ..." Setelah berkata
demikian dara ini lari menuju ke tempat dudu Endang Patibroto dan lupa bahwa
tangannya masih membawa ikat kepala pangeran muda itu. Pangeran Panji Sigit
mengejarnya dan bersama Setyaningsih ia lalu menjatuhkan diri bertekuk lutut di
depan Endang Patibroto sambil berkata,
"Mohon Ayunda sudi
memaafkan dan tentang hasil pertandingan tadi, saya hanya taat akan keputusan
Ayunda."
"Sudah terang Bibi
Setyaningsih yang kalah!" Retna Wilis berteriak.
"Semua, orang juga
melihatnya. Bibi Setyaningsih yang lebih dulu menginjak tanah, berarti dia yang
lebih dulu dipaksa turun!" Semua orang yang menonton tertawa. Mereka
inipun merasa suka akan pemuda yang tampan, tangkas serta lemah lembut dan
sopan itu. Seperti mendapat aba-aba, sebagian besar di antara mereka berseru,
"Pemuda itu
menang.....!!”
Diam-diam Endang Patibroto
merasa terharu sekali, namun sedikit juga tidak tampak pada wajahnya. Ia cukup
yakin sekarang bahwa adik kandungnya benar-benar telah jatuh cinta kepada
Pangeran Panji Sigit. Terkenanglah ia kepada Joko Wandiro atau Tejolaksono,
satu-satunya pria yang dicintanya dengan tulus ikhlas dan seluruh jiwa raganya.
Betapa merana dan sengsara hidup ini dipisahkan dari orang yang dicinta. Tentu
saja ia tidak tega untuk membuat adik kandungnya sendiri merana dan menderita
sengsara. Pangeran Panji Sigit memang cukup berharga untuk menjadi suami
Setyaningsih. Akan tetapi sebagai seorang wanita yang memegang teguh aturan dan
amat keras hati, apalagi karena marah teringat betapa Ki Datujiwa mengambil
puterinya sebagai murid tanpa minta perkenannya, ia lalu berkata,
"Anggap saja dalam
babak pertama ini engkau menang. Akan tetapi masih ada babak ke dua sebagai
babak yang akan menentukan. Suruh walimu naik ke panggung!" Wajah Pangeran
Panji Sigit menjadi pucat. Dari suara ayundanya ini ia dapat menarik kesimpulan
bahwa Endang Patibroto tidak cocok menerimanya sebagai calon jodoh Setyaningsih.
Biarpun ia maklum bahwa Ki Datujiwa amat sakti, namun ia masih meragu apakah
kakek itu akan dapat menandingi Endang Patibroto yang demikian tinggi ilmunya.
Ia menoleh ke arah Setyaningsih, bertukar pandang dengan sayu, kemudian bangkit
berdiri dan berjalan menghampiri Ki Datujiwa, menjatuhkan diri berlutut sambil
berkata,
"Duh, Eyang ...., nasib
saya berada di tangan Eyang."
Ki Datujiwa tertawa dan
mengangkat bangun pemuda itu.
"Tenanglah, Angger.
Memang mencapai segala cita-cita yang baik selalu tidak mudah, namun kita tidak
boleh putus asa." Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menghampiri
panggung dan melompat naik dengan gerakan sederhana. Semua penonton tercengang.
Pemuda yang tampan dan gagah perkasa tadi mengapa membawa wali seorang kakek
petani yang begini sederhana dan sama sekali tidak kelihatan sakti? Seorang
kakek pendek kecil yang rambutnya tak terpelihara, pakaiannya sederhana dan
sikapnya tidak agung. Mana mungkin dapat menandingi Endang Patibroto?
"Ibu, jangan lupa,
harap mengalah. Dia itu guruku," bisik Retna Wills yang tidak tahu bahwa
bisikan itu menambah rasa penasaran di hati Endang Patibroto.
"Dia sudah menolongku,
dia baik sekaIi ...”
"Kau anak kecil tahu
apa tentang baik dan jahat!" bentak Endang Patibroto yang sekali
berkelebat sudah meloncat naik ke atas panggung, berhadapan dengan Ki Datujiwa.
Sejenak keduanya saling pandang, seperti dua ekor ayam hendak mengadu kekuatan
lebih dahulu memperhatikan calon lawan dengan pandang mata menilai.
"Jadi andika inikah
yang menjadi wali Panji Sigit?"
"Benar, Sang Dewi. Aku
kasihan melihatnya dan bersedia membantu tercapainya cita-cita murni seorang
pemuda, demi bersatunya dua hati yang saling mencinta."
"Hemmm, andika telah
menolong puteriku, sebetulnya sudah selayaknya kalau aku mengalah. Akan tetapi
andika telah lancang mengangkat puteriku sebagai murid, ini merupakan
penghinaan yang hanya dapat ditebus dengan nyawa. Mengingat akan pertolongan
andika terhadap Retna Wilis, akupun melupakan penghinaan itu. Tidak ada budi
apa-apa lagi dan karena itu kita harus bertanding sesua peraturan."
Semua orang
yang hadir terheran-heran karena kedua orang di panggung itu hanya berdiri
berhadapan tanpa mengeluarkan suara, hanya melihat betapa bibir kedua orang itu
agak bergerak-gerak. Memang ketika mengeluarkan kata-kata ini, Endang Patibroto
yang tidak ingin orang lain mendengarnya, telah mengerahkan aji kesaktiannya,
bicara dari dalam perut hanya dengan menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan
suara keras sehingga hanya terdengar oleh orang yang diajak bicara.
No comments:
Post a Comment