Perawan Lembah Wilis; Bagian 099


"Ayunda benar, dia berbahaya sekali ....." kata Setyaningsih.
"Ibu, ilmu apakah itu, berjungkir balik seperti yang dilakukan si gundul?" tanya Retna Wilis.

Endang Patibroto menarik napas panjang dan memeriksa ujung kainnya yang robek.
"Dia tidak sangat sakti, hanya memiliki siasat-siasat berbahaya. Seperti seekor kelabang yang curang. Ilmunya berjungkir-balik sungguhpun cukup kuat, namun dilatih dengan sesat sehingga hanya tampaknya saja menyeramkan, sebetulnya tidak ada apa- apanya. Lebih baik lanjutkan latihan samadhi sambil menggantung di pohon, Retna."
Pada saat itu, keheningan suasana telah pecah oleh berisiknya para penonton karena kini di atas panggung telah berdiri seorang pemuda tampan sekali. Pemuda itu bukan lain adalah Pangeran Panji Sigit. Ia memberi hormat ke arah Endang Patibroto dan berkata halus,
"Mohon banyak maaf kepada Ayunda. Dorongan kasih membuat saya nekat memasuki sayembara dan membawa seorang wali, yaitu Eyang Datujiwa. Mudah-mudahan saja para dewata melindungi hamba dan akan tercapai apa yang hamba idam-idamkan. Marilah, Adinda Setyaningsih, kita menguji kedigdayaan. Hanya sedikit harapan saya hendaknya Adinda menaruh kasihan kepada saya."
Wajah Setyaningsih sudah menjadi merah sekali ketika melihat pemuda yang selama ini membuatnya tak enak tidur tak sedap makan itu telah berdiri menanti di atas panggung. Saat inilah yang dinanti-nantinya. Dia sudah bertekat bulat untuk melawan siapa saja secara mati-matian, kalau perlu mengadu nyawa di atas panggung sayembara karena ia tidak rela berjodoh dengan laki-laki lain kecuali pemuda yang kini berada di atas panggung ini! Namun setelah saatnya tiba, ia merasa kedua kakinya menggigil dan mukanya panas. Betapapun juga, tanpa disadarinya seperti orang terkena hikmat gaib, dara jelita itu bangkit berdiri dan tanpa menoleh sedikitpun kepada ayundanya seperti tadi, langsung ia menghampiri panggung lalu melompat naik diiringi sorak-sorai para penonton yang timbul kembali kegembiraan mereka. Dara jelita itu kini kembali akan bertanding dan lawannya begitu tampan seperti Sang Harjuna! Melihat perawakan kedua muda-mudi ini, melihat wajah mereka, sungguh mereka itu merupakan pasangan yang amat setimpal, seperti Dewa Komajaya dan Dewi Komaratih, seperti Sang Harjuna dan Dewi Sembadra. Sama-sama muda remaja, sama-sama tampan rupawan, sama-sama agung berwibawa dan sakti mandraguna! Sejenak mereka berdua berdiri saling berhadapan. Pangeran Panji Sigit memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar, membayangkan kasih sayang dan kemesraan yang tidak dibuat-buat, yang langsung memancar dari lubuk hatinya, namun yang membuatnya terpesona sehingga sukar untuk mengeluarkan kata-kata. Hatinya terharu sekali. Kalau mungkin, ia ingin sekali memeluk dan mencumbu rayu dara ini, bukan sekali-kali menghadapinya sebagai lawan bertanding! Betapa mungkin ia bertanding sebagai lawan dan menyerang dara yang dikasihinya ini? Kalau perlu ia bahkan rela mati di bawah kakinya, rela mengorbankan apa saja demi cinta kasihnya yang mendalam! Namun, untuk dapat tercapai cita-cita dan idaman hatinya, ia harus dapat mengalahkan dara ini dalam adu kesaktian! Tiada jalan lain karena ia cukup mengenal watak Endang Patibroto yang keras dan kemauannya yang sukar ditundukkan oleh apapun juga.

Adapun Setyaningsih, berbeda sekali dengan tadi ketika menghadapi calon-calon lain, agung berwibawa, tenang dan memandang dengan mata tajam, kini menundukkan mukanya, berdiri dengan pundak meringkus (menyempit), memandang ke arah ujung ibu jari kakinya yang utak-utik bergerak-gerak menggores-gores papan panggung! Sampai lama kedua remaja ini berhadapan tanpa mengeluarkan suara, bahkan tanpa bergerak, lebih gugup dan bingung lagi karena beberapa orang penonton yang agaknya dapat menangkap arti gerak-gerik mereka ada yang mulai terkekeh mentertawakan.
"Bibi .....Jangan melupakan pesanku, lho! Awas, kalau melanggar, Bibi akan ku-jothak (kumusuhi)!" Tiba- tiba terdengar teriakan Retna Wills dan semua orang tertawa sambil bertanya-tanya dalam hati apa gerangan pesan puteri ketua Padepokan Wilis itu. Hanya Endang Patibroto dan Setyaningsih yang mengetahuinya, juga Pangeran Panji Sigit dapat menduganya maka hatinya menjadi lega, maka sambil melempar senyum ke arah bocah itu ia berkata,
"Terima kasih, keponakanku yang manis!" Setyaningsih menjadi makin jengah dan malu, mukanya makin menunduk. Seperti dalam mimpi ia mendengar suara yang halus penuh getaran asmara itu,
"Diajeng, marilah kita mulai, tidak enak dijadikan tontonan orang." Barulah ia berani mengangkat muka. Sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan melekat mesra. Kemudian dara itu berbisik,
"Marilah ........silahkan…………” Berbareng keduanya bergerak dan terjadilah pertandingan yang amat menarik hati. Keduanya sama-sama memiliki gerakan yang trengginas dan cepat, dengan gerak silat yang indah seperti tarian lemah gemulai. Tampaknya kedua orang muda ini bukan seperti tengah bertanding yuda, melainkan sedang berlagak dengan tarian indah di atas panggung. Namun, bagi para penonton yang kesemuanya memiliki kepandaian, jelas bahwa kedua orang muda itu benar-benar saling serang dengan cepat dan kuat. Pertandingan yang amat seru. Sesungguhnya hal ini hanya kelihatannya saja, karena bagi Endang Patibroto, juga bagi Ki Datujiwa, dan beberapa orang yang hadir di situ dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, kedua orang remaja itu tidak bertanding sungguh-sungguh. Memang tampaknya melakukan pukulan dan tendangan sungguh-sungguh, dengan gerak silat yang sempurna dan daya serang yang dahsyat, namun tenaga dalam penyerangan ini selalu dikendalikan sehingga andaikata lawan akan terkena, dapat ditarik mundur atau dihilangkan tenaganya sehingga tidak akan melukai lawan! Mereka itu seolah-olah sedang berlatih saja!
Namun gerakan mereka yang gesit menyuguhkan tontonan yang indah menarik dan menegangkan bagi mereka yang tidak tahu sehingga mereka bersorak-sorak setiap kali seorang di antara mereka tampak terdesak sampai ke pinggir panggung. Hanya sebentar saja desakan ini karena segera yang terdesak dapat menguasai keadaan dan balas mendesak. Tentu saja Setyaningsih tidak menghendaki pemuda idaman hatinya ini kalah dan terpelanting ke bawah panggung. Karena hal itu akan berarti bahwa pemuda ini tidak mungkin menjadi jodohnya! Bukan hanya karena pesan Retna Wilis saja maka ia mengalah dan tidak sungguh-sungguh penyerangannya, melainkan juga karena dia sendiri di dalam hatinya sudah memilih Pangeran Panji Sigit sebagai calon suaminya. Akan tetapi, Setyaningsih adalah seorang dara yang pendiam, serius, berpemandangan luas, berwatak adil dan keras hati, tak mengenal takut asal bersandarkan kebenaran. Watak ini mendatangkan sifat angkuh dan tidak mau kalah, serta ingin dihargai. Apalagi oleh orang yang dicintanya. Ia ingin memperlihatkan kepada pangeran muda ini bahwa dia bukan seorang lemah, bahwa dia mampu menandingi pangeran itu kalau dikehendakinya, maka dalam pertempuran inipun, sungguhpun ia tidak ingin mengalahkan si pangeran yang menjadi pilihan hatinya, akan tetapi ia ingin membuktikan bahwa dia sebetulnya tidak kalah! Ketika ia mendapat kesempatan setelah pukulannya ditangkis pemuda itu, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya ia meloncat sehingga bagaikan terbang saja dan sambil meloncat, ketika melewati dekat kepala Pangeran Panji Sigit, tangan kirinya menjangkau dan cepat ia menyambar ikat kepala pangeran itu, direnggutnya terlepas dari kepala pangeran itu. Pangeran Panji Sigit maklum akan isi hati dara yang dicintanya. Kalau ia mau, tentu saja ia dapat mempertahankan ikat kepalanya, atau dapat ia mengirim pukulan maut ke perut dara yang sedang melambung di atasnya itu andaikata dara itu seorang musuh. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau melakukan hal ini, sebaliknya ia membiarkan ikat kepalanya dirampas dan cepat sekali lengannya menyambar dan memeluk pinggang yang ramping dari Setyaningsih dan langsung membawa dara itu meloncat turun panggung! Setyaningsih terkejut, namun tidak dapat meronta karena pelukan lengan pada pinggangnya itu membuat ia menjadi lemas dan seperti lumpuh!

Ketika turun ke atas tanah, Pangeran Panji Sigit lebih dulu menurunkan dara itu, baru ia turun belakangan. Dengan demikian, berarti bahwa Setyaningsih yang lebih dulu turun dari panggung dan ia berada di pihak menang. Akan tetapi untuk tidak menyinggung perasaan orang yang dicintanya, ia membungkuk dan berkata sambil tersenyum dan memegangi rambutnya,
"Engkau hebat, Diajeng, telah berhasil merampas ikat kepalaku. Aku mengaku kalah ......“
Setyaningsih memandang dengan mata bersinar-sinar dan muka merah karena girang dan juga jengah, mulutnya berkata gagap,
"Ohhh ....tidak ...., kau...., tidak kalah ....aku yang lebih dulu turun ..." Setelah berkata demikian dara ini lari menuju ke tempat dudu Endang Patibroto dan lupa bahwa tangannya masih membawa ikat kepala pangeran muda itu. Pangeran Panji Sigit mengejarnya dan bersama Setyaningsih ia lalu menjatuhkan diri bertekuk lutut di depan Endang Patibroto sambil berkata,
"Mohon Ayunda sudi memaafkan dan tentang hasil pertandingan tadi, saya hanya taat akan keputusan Ayunda."
"Sudah terang Bibi Setyaningsih yang kalah!" Retna Wilis berteriak.
"Semua, orang juga melihatnya. Bibi Setyaningsih yang lebih dulu menginjak tanah, berarti dia yang lebih dulu dipaksa turun!" Semua orang yang menonton tertawa. Mereka inipun merasa suka akan pemuda yang tampan, tangkas serta lemah lembut dan sopan itu. Seperti mendapat aba-aba, sebagian besar di antara mereka berseru,
"Pemuda itu menang.....!!”
Diam-diam Endang Patibroto merasa terharu sekali, namun sedikit juga tidak tampak pada wajahnya. Ia cukup yakin sekarang bahwa adik kandungnya benar-benar telah jatuh cinta kepada Pangeran Panji Sigit. Terkenanglah ia kepada Joko Wandiro atau Tejolaksono, satu-satunya pria yang dicintanya dengan tulus ikhlas dan seluruh jiwa raganya. Betapa merana dan sengsara hidup ini dipisahkan dari orang yang dicinta. Tentu saja ia tidak tega untuk membuat adik kandungnya sendiri merana dan menderita sengsara. Pangeran Panji Sigit memang cukup berharga untuk menjadi suami Setyaningsih. Akan tetapi sebagai seorang wanita yang memegang teguh aturan dan amat keras hati, apalagi karena marah teringat betapa Ki Datujiwa mengambil puterinya sebagai murid tanpa minta perkenannya, ia lalu berkata,
"Anggap saja dalam babak pertama ini engkau menang. Akan tetapi masih ada babak ke dua sebagai babak yang akan menentukan. Suruh walimu naik ke panggung!" Wajah Pangeran Panji Sigit menjadi pucat. Dari suara ayundanya ini ia dapat menarik kesimpulan bahwa Endang Patibroto tidak cocok menerimanya sebagai calon jodoh Setyaningsih. Biarpun ia maklum bahwa Ki Datujiwa amat sakti, namun ia masih meragu apakah kakek itu akan dapat menandingi Endang Patibroto yang demikian tinggi ilmunya. Ia menoleh ke arah Setyaningsih, bertukar pandang dengan sayu, kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Ki Datujiwa, menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,
"Duh, Eyang ...., nasib saya berada di tangan Eyang."

Ki Datujiwa tertawa dan mengangkat bangun pemuda itu.
"Tenanglah, Angger. Memang mencapai segala cita-cita yang baik selalu tidak mudah, namun kita tidak boleh putus asa." Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menghampiri panggung dan melompat naik dengan gerakan sederhana. Semua penonton tercengang. Pemuda yang tampan dan gagah perkasa tadi mengapa membawa wali seorang kakek petani yang begini sederhana dan sama sekali tidak kelihatan sakti? Seorang kakek pendek kecil yang rambutnya tak terpelihara, pakaiannya sederhana dan sikapnya tidak agung. Mana mungkin dapat menandingi Endang Patibroto?
"Ibu, jangan lupa, harap mengalah. Dia itu guruku," bisik Retna Wills yang tidak tahu bahwa bisikan itu menambah rasa penasaran di hati Endang Patibroto.
"Dia sudah menolongku, dia baik sekaIi ...”
"Kau anak kecil tahu apa tentang baik dan jahat!" bentak Endang Patibroto yang sekali berkelebat sudah meloncat naik ke atas panggung, berhadapan dengan Ki Datujiwa. Sejenak keduanya saling pandang, seperti dua ekor ayam hendak mengadu kekuatan lebih dahulu memperhatikan calon lawan dengan pandang mata menilai.
"Jadi andika inikah yang menjadi wali Panji Sigit?"
"Benar, Sang Dewi. Aku kasihan melihatnya dan bersedia membantu tercapainya cita-cita murni seorang pemuda, demi bersatunya dua hati yang saling mencinta."
"Hemmm, andika telah menolong puteriku, sebetulnya sudah selayaknya kalau aku mengalah. Akan tetapi andika telah lancang mengangkat puteriku sebagai murid, ini merupakan penghinaan yang hanya dapat ditebus dengan nyawa. Mengingat akan pertolongan andika terhadap Retna Wilis, akupun melupakan penghinaan itu. Tidak ada budi apa-apa lagi dan karena itu kita harus bertanding sesua peraturan."
Semua orang yang hadir terheran-heran karena kedua orang di panggung itu hanya berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan suara, hanya melihat betapa bibir kedua orang itu agak bergerak-gerak. Memang ketika mengeluarkan kata-kata ini, Endang Patibroto yang tidak ingin orang lain mendengarnya, telah mengerahkan aji kesaktiannya, bicara dari dalam perut hanya dengan menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara keras sehingga hanya terdengar oleh orang yang diajak bicara.

<<< Bagian 098                                                                                    Bagian 100 >>>

No comments:

Post a Comment