Perawan Lembah Wilis; Bagian 098


Sementara itu, laki-laki buruk rupa itu sudah melambaikan tanganhya yang hanya tinggal tulang terbungkus kulit ke arah Setyaningsih dan terdengarlah suaranya nyaring tinggi seperti suara wanita,
"Bocah denok ayu Setyaningsih! Ke sinilah, manis! Mari kita main-main sebentar. Engkau layanilah aku sang sakti Purwoko dan kutanggung engkau akan merasa puas, heh-heh-heh!"
Kaum tua yang berada di situ terkejut mendengar nama ini dan terdengarlah suara berisik membisikkan sebutan
"Si Hantu Kelabang". Suara berisik ini terdengar oleh Purwoko yang segera menyeringai ke arah para tamu sambil berkata,
"Kalian sudah mendengar dan mangenal nama julukanku? Heh-heh, benar aku Si Hantu Kelabang!" Setyaningsih menjadi marah sekali. Mukanya yang jelita itu sebentar pucat sebentar merah mendengar ucapan yang tidak senonoh dari pria gundul kurus kering itu. Ia sudah bangkit berdiri, tangan kiri mengepal tinju, tangan kanan meraba gagang keris. Akan tetapi lengannya dlsentuh Endang Patibroto yang memberinya isyarat supaya duduk kembali. Kemudian Endang Patibroto bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang mengatasi semua suara hiruk- pikuk,
"Heh, engkau orang yang bernama Purwoko! Suruh walimu naik dan bertanding melawan aku! Kalau walimu menang, barulah engkau berhak menandingi adikku. Pada saat ini adikku enggan bertanding dengan orang macam engkau!"
Suara berisik terhenti seketika dan semua mata memandang bahwa pasti akan terjadi hal-hal hebat setelah kini ketua Padepokan Wilis memperlihatkan kemarahannya. Akan tetapi Purwoko terkekeh sambil memandang ke arah Endang Patibroto dan menudingkan telunjuknya yang kecil panjang,

"Heh-heh-heh, engkau tentu Endang Patibroto, bukan? Denok ayu! Hebat bukan main, tidak kalah oleh adiknya. Ketahuilah, ayah bundaku telah mati semua, guruku banyak sekali dan sudah mati. Aku tidak punya wali. Bagiku sama saja, engkau juga denok, boleh maju main-main ke sini. Hadiahnya engkau atau adikmu sama juga! Memang aku datang untuk berkenalan dengan engkau, Endang Patibroto, dan kebetulan ada sayembara ini, heh-heh!"Endang  Patibroto tersenyum. Senyum yang manis sekali akan tetapi siapa yang sudah mengenal wanita ini di waktu mudanya akan maklum bahwa senyum itu adalah senyum yang menyembunyikan kemarahan hebat dan bahwa senyum ini dapat menjadi senyum maut yang akan merenggut nyawa lawan. Terdengar ia bersuara,
"Hemmml" dan tahu-tahu tubuhnya sudah meloncat ke atas panggung. Cara meloncat ini dalam keadaan tegak berdiri, seolah-olah dari tempat ia berdiri tadi tubuhnya dibawa angin mujijat dan ia sudah berhadapan dengan Purwoko di atas panggung. Itulah aji meringankan tubuh Bayu Tantra yang sudah mencapai puncaknya! Biarpun apa yang diperlihatkan Endang Patibroto ini hebat, akan tetapi tidak ada yang bertepuk tangan. Suasana terlalu menegangkan sehingga semua orang memandang dan menahan napas, lupa untuk bersorak memuji.
"Purwoko, alangkah sombongnya engkau! Kita tidak saling mengenal dan aku tidak tahu orang macam apa engkau ini, akan tetapi melihat lagakmu dan mendengar ucapanmu, mudah saja menilai bahwa engkau ini seorang yang masih kosong melompong!"
"Gentong kosong suaranya nyaring!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wills menyela kata-kata ibunya. Semua orang mau tak mau tertawa geli karena ucapan bocah itu membuyarkan keadaan yang tegang.
"Gasak saja, Ibu, habiskan giginya yang tinggal dua!"
Endang Patibroto tidak memperdulikan kenakalan puterinya, lalu berkata lagi,
"Purwoko, kalau saja engkau tidak muncul di atas panggung sayembara, tentu aku tidak akan dapat mengampunimu. Akan tetapi karena kau muncul di sini, marilah kita buktikan apakah kepandaianmu juga sehebat suaramu."
"Heh-heh-heh! Engkaupun seorang wanita sombong, Endang Patibroto. Aku sudah banyak mendengar tentang sepak terjangmu. Nah, kau bersiaplah!" Belum juga habis gema suaranya, kakek gundul itu sudah menerjang maju dengan tongkatnya, menusuk perut Endang Patibroto dengan tongkat di tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencengkeram dengan kuku tangan kiri yang tiba-tiba saja sudah berubah merah seperti dicat! Endang Patibroto cepat melangkah mundur dan menyentil ujung tongkat dengan telunjuk kirinya. Ia mengerti bahwa tangan kiri lawan yang berubah merah itu amat berbahaya, tentu mengandung racun yang hebat. Inilah agaknya mengapa orang ini mendapat julukan Si Hantu Kelabang. Agaknya tangan kiri itu telah dilatih dengan sari racun kelabang sehingga sekali gores dengan kuku, atau sekali sentuh dengan tangan itu saja sudah cukup untuk mengirim nyawa lawan meninggalkan raganya.

Si gundul itu berseru kaget ketika tongkatnya tiba-tiba membalik seperti didorong tenaga raksasa begitu kena disentil telunjuk tangan wanita itu. Diam-diam ia kagum dan tahu bahwa tangan wanita itu mengandung hawa sakti yang kuatnya menggila. Tidak berani lagi ia memandang ringan dan mulailah kakek ini melakukan serangan dengan hati-hati sekali. Ia tadi sudah melihat kelincahan Setyaningsih, maka ia pun dapat menduga bahwa Endang Patibroto tentu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa pula. Dia sendiri biarpun tidak dapat mengimbangi ilmu meringankan diri yang dibuktikan dengan cara meloncat Endang Patibroto tadi, namun ia mengandalkan ajinya tangan beracun dan kekuatan hawa sakti yang timbul dari cara bertempur berjungkir-balik seperti yang ia demonstrasikan ketika meloncat tadi. Namun sesungguhnya sudah terlambat bagi Purwoko untuk menyadari bahwa dia tadi terlalu memandang rendah Endang Patibroto. Kini wanita sakti itu sudah terlampau marah dan tubuh yang masih langsing itu tiba-tiba lenyap dan berkelebatan di sekeliling dirinya, menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi. Purwoko memutar tongkatnya melindungi tubuh, dan gerakan yang cepat ini membuat tongkatnya menimbulkan gulungan sinar yang menyelimuti dirinya. Pertandingan berlangsung cepat, sukar diikuti pandang mata biasa. Hanya tampak gulungan sinar dan bayang-bayang tubuh berkelebatan, dan terdengar suara bersiutan.
"Plakkk .....krakkk ...!!”
Tubuh Purwoko terhuyung ke belakang dan tongkatnya telah patah-patah dan remuk! Kiranya tadi tongkatnya kena dicengkeram tangan Endang Patibroto dan direnggutkan sehingga patah-patah dan remuk, Purwoko yang berusaha merampas tongkat, kini hanya memegang sepotong kecil saja dan terbawa oleh tenaga betotannya sendiri. Ia terhuyung ke belakang. Marahlah si gundul. Ia mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya dan berseru,
"Aku belum kalah, belum turun dari panggung. Endang Patibroto, kau tidak mau disayang, rasakan kedigdayaan Si Hantu Kelabang!" Tiba-tiba saja kedua tangan yang tadi sudah kemerahan kini berubah hitam dan tercium bau yang wengur seperti bau binatang kelabang atau ular-ular berbisa. Tubuh yang kurus kering itu melompat berjungkir balik dan .... ia menyerang Endang Patibroto dengan kepala di bawah kaki di atas! Hebat bukan main serangan ini. Hebat dan juga aneh. Karena keanehan inilah maka amat berbahaya, sukar diduga dan setiap serangan mengandung hawa beracun yang dapat merenggut nyawa. Kepala gundul yang berubah kegunaannya menjadi kaki itu berloncatan dengan suara "dak-duk-dak-duk!" di atas panggung, kedua kaki di atas dan bergerak-gerak seperti dua batang tongkat, juga kedua lengannya bergerak-gerak mencari sasaran, bukan hanya untuk memukul atau mencengkeram, bahkan kini kedua tangan itu bergantian menyambitkan jarum-jarum beracun ke arah Endang Patibroto!
"Serr-serr-serrr !"
Jarum-jarum berwarna merah menyambar dari bawah ke arah tubuh Endang Patibroto. Ketua Padepokan Wilis ini maklum betapa bahayanya jarum-jarum beracun ini, maka ia menggunakan kegesitannya untuk melayang ke atas dan menyampok runtuh jarum-jarum itu dengan angin pukulan tangannya.
"Manusia keji tak dapat diberi hati!" kata Endang Patibroto dan ketika tubuh-nya melayang, tangannya bergerak dan
"cuat-cuat .....!" dua batang panah anak panah telah menyambar ke arah kedua kaki Purwoko. Namun kedua kaki si gundul itu ternyata hebat juga, karena secara cepat menendang runtuh dua batang anak panah itu dari samping. Mendadak Purwoko berseru keras dan kedua tangannya menangkis ke belakang karena tahu-tahu Endang Patibroto sudah berada di belakangnya dan menendang ke arah kepalanya. Kiranya panah tangan yang dilepas Endang Patibroto tadi hanya sebagai jawaban terhadap kiriman jarum-jarum beracun, sekalian dipergunakan untuk gertak sehingga ia dapat meloncat ke belakang lawan dan mengirim tendangan-tendangan kilat.

Si Hantu Kelabang Purwoko ternyata dapat menangkis tendangan-tendangan itu dan kepalanya di atas papan itu berputar sehingga tubuhnya membalik ke belakang. Melihat ini, Endang Patibroto menggeser kakinya, cepat sekali dan ia menyerang dari arah belakang tubuh si kurus kering, melancarkan pukulan-pukulan Pethit Nogo ke arah punggung dan tendangan-tendangan ke arah tengkuk. Diserang dari belakang, Purwoko kembali berputar akan tetapi bayangan Endang Patibroto sudah lenyap karena wanita itu sudah menggeser kaki pula dan berada di belakangnya. Demikianlah, bagaikan seekor kucing mempermainkan tikus, tubuh Endang Patibroto berkelebatan dengan geseran-geseran kaki indah teratur serta cepat sekali, sedangkan Purwoko yang maklum akan bahayanya diserang dari belakang, kini berpuat-putar seperti gasing di atas kepalanya. Hebat sekali pertandingan itu, Setyaningsih memandang dengan wajah tegang. Diam-diam ia bersyukur bahwa ayundanya mencegah ia turun tangan, karena kini jelas tampak olehnya bahwa akan sukar sekali bagi dia untuk mengalahkan si gundul yang luar biasa itu. Adapun Retna Wills yang menonton penuh perhatian, menjadi kagum dan diam-diam memperhatikan. Gadis cilik ini dapat menduga bahwa ada persamaannya antara cara si gundul berjungkir balik dengan cara berlatih samadhi seperti diajarkan ibunya, yaitu dengan menggantung jungkir balik di cabang pohon. Para penontong juga memandang ke atas panggung dengan mata terbelalak. Sebagian besar di antara mereka tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan karena terlampau cepat. Mereka ini hanya melihat tubuh si gundul berputaran seperti gasing dan tubuh Endang Patibroto berkelebatan seperti seekor burung srikatan menyambar nyamuk-nyamuk di udara. Memang tak dapat disangsikan lagi bahwa Si Hantu Kelabang Purwoko akan menjadi lawan yang terlampau berat bagi Setyariingsih. Akan tetapi menghadapi Endang Patibroto ia masih kalah jauh. Andaikata Endang Patibroto bertanding dengan pamrih membunuh, agaknya pertempuran itu tidak akan berlangsung sedemikian lamanya dan tentu sekarang juga Purwoko sudah menggeletak tewas sebagai korban pukulan Gelap Musti atau Aji Wisangnala. Akan tetapi Endang Patibroto dalam kedudukannya sebagai ketua Padepokan Wilis, tentu saja memegang teguh peraturan yang ia keluarkan sendiri, maka ia berusaha untuk mengalahkan Purwoko tanpa membunuhnya, dan hal inilah yang membuat ia membutuhkan waktu yang agak lama karena Purwoko merupakan seorang lawan yang tidak ringan.
"Robohlah ...... !" Tiba-tiba terdengar suara bentakan Endang Patibroto ketika dengan keras ia sengaja menangkis serangan kedua kaki Purwoko dengan tamparan jari-jari tangan yang penuh dengan getaran Aji Pethit Nogo. Hebat tangkisan itu sehingga tubuh Purwoko mendoyong miring. Kesempatan itu dipergunakan oleh Endang Patibroto untuk membentak dan mendorongkan kedua lengannya ke depan, dengan Aji Wisangnala. Aji ini kalau dipergunakan untuk memukul, mungkin tidak akan kuat ditahan oleh seorang sakti seperti Purwoko sekalipun, akan tetapi sekali ini hanya dipergunakan oleh Endang Patibroto sebagai pukulan jarak jauh sehingga hanya hawa pukulannya saja yang mendorong tubuh lawan.
"Aduhhh ...... !!" Tubuh Purwoko terguling karena ia tidak dapat menahan hawa dorongan yang mengandung rasa panas luar biasa itu. Akan tetapi, begitu tubuhnya rebah di atas papan panggung, tubuh itu lalu menerjang maju cepat sekali dengan jalan merayap seperti seekor kelabang. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangka oleh Endang Patibroto. Belum pernah ia menyaksikan hal seperti itu, juga ketika masih berguru kepada Dibyo Mamangkoro ia belum pernah mendengar gurunya bercerita tentang ilmu aneh seperti itu sungguhpun sudah banyak ia ketahui tentang pelbagai aji kesaktian golongan hitam dan kaum sesat. Karena kaget ia tidak dapat mencegah lagi ketika tangan kiri Purwoko mencengkeram ujung kainnya!
"Aihhhh .....!” Dalam keadaan terancam mengalami penghinaan yang memalukan itu, Endang Patibroto tidak kehilangan akal. Cepat tubuhnya membungkuk dan jari-jari tangan kanannya menyambar tengkuk Purwoko, mengirim tamparan Pethit Nogo dengan sebagian tenaga saja.
"Brettt.....! Kekkk…….!!” Ujung kain Endang Patibroto robek sedikit akan tetapi Purwoko roboh pingsan! Dengan menahan gemas Endang Patibroto menggunakan kakinya, mencokel tubuh itu sehingga terlempar ke bawah panggung dalam keadaan tubuh masih pingsan. Penonton yang tadi menahan napas menyaksikan pertandingan hebat itu, kini berisik saling membicarakan pertandingan itu dan kini makin gentarlah hati mereka. Tidak hanya Setyaningsih sudah memperlihatkan kedigdayaan yang mengagumkan, juga kini Endang Patibroto membuktikan bahwa dia memang seorang wanita sakti sukar dicari bandingnya. Setelah Endang Patibroto meloncat turun dan kembali duduk ke tempatnya, suasana kembali menjadi hening.

<<< Bagian 097                                                                                    Bagian 099 >>>

No comments:

Post a Comment