Sementara itu, laki-laki buruk rupa itu sudah melambaikan tanganhya yang hanya tinggal tulang terbungkus kulit ke arah Setyaningsih dan terdengarlah suaranya nyaring tinggi seperti suara wanita,
"Bocah denok ayu Setyaningsih!
Ke sinilah, manis! Mari kita main-main sebentar. Engkau layanilah aku sang
sakti Purwoko dan kutanggung engkau akan merasa puas, heh-heh-heh!"
Kaum tua yang berada di situ
terkejut mendengar nama ini dan terdengarlah suara berisik membisikkan sebutan
"Si Hantu
Kelabang". Suara berisik ini terdengar oleh Purwoko yang segera
menyeringai ke arah para tamu sambil berkata,
"Kalian sudah mendengar
dan mangenal nama julukanku? Heh-heh, benar aku Si Hantu Kelabang!"
Setyaningsih menjadi marah sekali. Mukanya yang jelita itu sebentar pucat
sebentar merah mendengar ucapan yang tidak senonoh dari pria gundul kurus
kering itu. Ia sudah bangkit berdiri, tangan kiri mengepal tinju, tangan kanan
meraba gagang keris. Akan tetapi lengannya dlsentuh Endang Patibroto yang
memberinya isyarat supaya duduk kembali. Kemudian Endang Patibroto bangkit
berdiri dan suaranya terdengar lantang mengatasi semua suara hiruk- pikuk,
"Heh, engkau orang yang
bernama Purwoko! Suruh walimu naik dan bertanding melawan aku! Kalau walimu
menang, barulah engkau berhak menandingi adikku. Pada saat ini adikku enggan
bertanding dengan orang macam engkau!"
Suara berisik terhenti
seketika dan semua mata memandang bahwa pasti akan terjadi hal-hal hebat
setelah kini ketua Padepokan Wilis memperlihatkan kemarahannya. Akan tetapi
Purwoko terkekeh sambil memandang ke arah Endang Patibroto dan menudingkan
telunjuknya yang kecil panjang,
"Heh-heh-heh, engkau
tentu Endang Patibroto, bukan? Denok ayu! Hebat bukan main, tidak kalah oleh
adiknya. Ketahuilah, ayah bundaku telah mati semua, guruku banyak sekali dan
sudah mati. Aku tidak punya wali. Bagiku sama saja, engkau juga denok, boleh
maju main-main ke sini. Hadiahnya engkau atau adikmu sama juga! Memang aku
datang untuk berkenalan dengan engkau, Endang Patibroto, dan kebetulan ada
sayembara ini, heh-heh!"Endang
Patibroto tersenyum. Senyum yang manis sekali akan tetapi siapa yang
sudah mengenal wanita ini di waktu mudanya akan maklum bahwa senyum itu adalah
senyum yang menyembunyikan kemarahan hebat dan bahwa senyum ini dapat menjadi
senyum maut yang akan merenggut nyawa lawan. Terdengar ia bersuara,
"Hemmml" dan
tahu-tahu tubuhnya sudah meloncat ke atas panggung. Cara meloncat ini dalam
keadaan tegak berdiri, seolah-olah dari tempat ia berdiri tadi tubuhnya dibawa
angin mujijat dan ia sudah berhadapan dengan Purwoko di atas panggung. Itulah
aji meringankan tubuh Bayu Tantra yang sudah mencapai puncaknya! Biarpun apa
yang diperlihatkan Endang Patibroto ini hebat, akan tetapi tidak ada yang
bertepuk tangan. Suasana terlalu menegangkan sehingga semua orang memandang dan
menahan napas, lupa untuk bersorak memuji.
"Purwoko, alangkah
sombongnya engkau! Kita tidak saling mengenal dan aku tidak tahu orang macam
apa engkau ini, akan tetapi melihat lagakmu dan mendengar ucapanmu, mudah saja
menilai bahwa engkau ini seorang yang masih kosong melompong!"
"Gentong kosong
suaranya nyaring!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wills menyela kata-kata
ibunya. Semua orang mau tak mau tertawa geli karena ucapan bocah itu membuyarkan
keadaan yang tegang.
"Gasak saja, Ibu,
habiskan giginya yang tinggal dua!"
Endang Patibroto tidak
memperdulikan kenakalan puterinya, lalu berkata lagi,
"Purwoko, kalau saja
engkau tidak muncul di atas panggung sayembara, tentu aku tidak akan dapat
mengampunimu. Akan tetapi karena kau muncul di sini, marilah kita buktikan
apakah kepandaianmu juga sehebat suaramu."
"Heh-heh-heh! Engkaupun
seorang wanita sombong, Endang Patibroto. Aku sudah banyak mendengar tentang
sepak terjangmu. Nah, kau bersiaplah!" Belum juga habis gema suaranya,
kakek gundul itu sudah menerjang maju dengan tongkatnya, menusuk perut Endang
Patibroto dengan tongkat di tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencengkeram
dengan kuku tangan kiri yang tiba-tiba saja sudah berubah merah seperti dicat!
Endang Patibroto cepat melangkah mundur dan menyentil ujung tongkat dengan
telunjuk kirinya. Ia mengerti bahwa tangan kiri lawan yang berubah merah itu
amat berbahaya, tentu mengandung racun yang hebat. Inilah agaknya mengapa orang
ini mendapat julukan Si Hantu Kelabang. Agaknya tangan kiri itu telah dilatih
dengan sari racun kelabang sehingga sekali gores dengan kuku, atau sekali
sentuh dengan tangan itu saja sudah cukup untuk mengirim nyawa lawan
meninggalkan raganya.
Si gundul itu berseru kaget
ketika tongkatnya tiba-tiba membalik seperti didorong tenaga raksasa begitu
kena disentil telunjuk tangan wanita itu. Diam-diam ia kagum dan tahu bahwa
tangan wanita itu mengandung hawa sakti yang kuatnya menggila. Tidak berani
lagi ia memandang ringan dan mulailah kakek ini melakukan serangan dengan
hati-hati sekali. Ia tadi sudah melihat kelincahan Setyaningsih, maka ia pun
dapat menduga bahwa Endang Patibroto tentu memiliki ilmu meringankan tubuh yang
luar biasa pula. Dia sendiri biarpun tidak dapat mengimbangi ilmu meringankan
diri yang dibuktikan dengan cara meloncat Endang Patibroto tadi, namun ia
mengandalkan ajinya tangan beracun dan kekuatan hawa sakti yang timbul dari
cara bertempur berjungkir-balik seperti yang ia demonstrasikan ketika meloncat
tadi. Namun sesungguhnya sudah terlambat bagi Purwoko untuk menyadari bahwa dia
tadi terlalu memandang rendah Endang Patibroto. Kini wanita sakti itu sudah
terlampau marah dan tubuh yang masih langsing itu tiba-tiba lenyap dan
berkelebatan di sekeliling dirinya, menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Purwoko memutar tongkatnya melindungi tubuh, dan gerakan yang cepat ini membuat
tongkatnya menimbulkan gulungan sinar yang menyelimuti dirinya. Pertandingan
berlangsung cepat, sukar diikuti pandang mata biasa. Hanya tampak gulungan
sinar dan bayang-bayang tubuh berkelebatan, dan terdengar suara bersiutan.
"Plakkk .....krakkk
...!!”
Tubuh Purwoko terhuyung ke
belakang dan tongkatnya telah patah-patah dan remuk! Kiranya tadi tongkatnya
kena dicengkeram tangan Endang Patibroto dan direnggutkan sehingga patah-patah
dan remuk, Purwoko yang berusaha merampas tongkat, kini hanya memegang sepotong
kecil saja dan terbawa oleh tenaga betotannya sendiri. Ia terhuyung ke
belakang. Marahlah si gundul. Ia mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya dan
berseru,
"Aku belum kalah, belum
turun dari panggung. Endang Patibroto, kau tidak mau disayang, rasakan
kedigdayaan Si Hantu Kelabang!" Tiba-tiba saja kedua tangan yang tadi
sudah kemerahan kini berubah hitam dan tercium bau yang wengur seperti bau
binatang kelabang atau ular-ular berbisa. Tubuh yang kurus kering itu melompat
berjungkir balik dan .... ia menyerang Endang Patibroto dengan kepala di bawah
kaki di atas! Hebat bukan main serangan ini. Hebat dan juga aneh. Karena
keanehan inilah maka amat berbahaya, sukar diduga dan setiap serangan
mengandung hawa beracun yang dapat merenggut nyawa. Kepala gundul yang berubah
kegunaannya menjadi kaki itu berloncatan dengan suara
"dak-duk-dak-duk!" di atas panggung, kedua kaki di atas dan
bergerak-gerak seperti dua batang tongkat, juga kedua lengannya bergerak-gerak
mencari sasaran, bukan hanya untuk memukul atau mencengkeram, bahkan kini kedua
tangan itu bergantian menyambitkan jarum-jarum beracun ke arah Endang
Patibroto!
"Serr-serr-serrr
!"
Jarum-jarum berwarna merah
menyambar dari bawah ke arah tubuh Endang Patibroto. Ketua Padepokan Wilis ini
maklum betapa bahayanya jarum-jarum beracun ini, maka ia menggunakan
kegesitannya untuk melayang ke atas dan menyampok runtuh jarum-jarum itu dengan
angin pukulan tangannya.
"Manusia keji tak dapat
diberi hati!" kata Endang Patibroto dan ketika tubuh-nya melayang,
tangannya bergerak dan
"cuat-cuat .....!"
dua batang panah anak panah telah menyambar ke arah kedua kaki Purwoko. Namun
kedua kaki si gundul itu ternyata hebat juga, karena secara cepat menendang
runtuh dua batang anak panah itu dari samping. Mendadak Purwoko berseru keras
dan kedua tangannya menangkis ke belakang karena tahu-tahu Endang Patibroto
sudah berada di belakangnya dan menendang ke arah kepalanya. Kiranya panah
tangan yang dilepas Endang Patibroto tadi hanya sebagai jawaban terhadap
kiriman jarum-jarum beracun, sekalian dipergunakan untuk gertak sehingga ia
dapat meloncat ke belakang lawan dan mengirim tendangan-tendangan kilat.
Si Hantu Kelabang Purwoko
ternyata dapat menangkis tendangan-tendangan itu dan kepalanya di atas papan
itu berputar sehingga tubuhnya membalik ke belakang. Melihat ini, Endang
Patibroto menggeser kakinya, cepat sekali dan ia menyerang dari arah belakang
tubuh si kurus kering, melancarkan pukulan-pukulan Pethit Nogo ke arah punggung
dan tendangan-tendangan ke arah tengkuk. Diserang dari belakang, Purwoko
kembali berputar akan tetapi bayangan Endang Patibroto sudah lenyap karena
wanita itu sudah menggeser kaki pula dan berada di belakangnya. Demikianlah,
bagaikan seekor kucing mempermainkan tikus, tubuh Endang Patibroto berkelebatan
dengan geseran-geseran kaki indah teratur serta cepat sekali, sedangkan Purwoko
yang maklum akan bahayanya diserang dari belakang, kini berpuat-putar seperti
gasing di atas kepalanya. Hebat sekali pertandingan itu, Setyaningsih memandang
dengan wajah tegang. Diam-diam ia bersyukur bahwa ayundanya mencegah ia turun
tangan, karena kini jelas tampak olehnya bahwa akan sukar sekali bagi dia untuk
mengalahkan si gundul yang luar biasa itu. Adapun Retna Wills yang menonton
penuh perhatian, menjadi kagum dan diam-diam memperhatikan. Gadis cilik ini
dapat menduga bahwa ada persamaannya antara cara si gundul berjungkir balik
dengan cara berlatih samadhi seperti diajarkan ibunya, yaitu dengan menggantung
jungkir balik di cabang pohon. Para penontong juga memandang ke atas panggung
dengan mata terbelalak. Sebagian besar di antara mereka tidak dapat mengikuti
jalannya pertandingan karena terlampau cepat. Mereka ini hanya melihat tubuh si
gundul berputaran seperti gasing dan tubuh Endang Patibroto berkelebatan
seperti seekor burung srikatan menyambar nyamuk-nyamuk di udara. Memang tak
dapat disangsikan lagi bahwa Si Hantu Kelabang Purwoko akan menjadi lawan yang
terlampau berat bagi Setyariingsih. Akan tetapi menghadapi Endang Patibroto ia
masih kalah jauh. Andaikata Endang Patibroto bertanding dengan pamrih membunuh,
agaknya pertempuran itu tidak akan berlangsung sedemikian lamanya dan tentu
sekarang juga Purwoko sudah menggeletak tewas sebagai korban pukulan Gelap
Musti atau Aji Wisangnala. Akan tetapi Endang Patibroto dalam kedudukannya
sebagai ketua Padepokan Wilis, tentu saja memegang teguh peraturan yang ia
keluarkan sendiri, maka ia berusaha untuk mengalahkan Purwoko tanpa
membunuhnya, dan hal inilah yang membuat ia membutuhkan waktu yang agak lama
karena Purwoko merupakan seorang lawan yang tidak ringan.
"Robohlah ......
!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan Endang Patibroto ketika dengan keras
ia sengaja menangkis serangan kedua kaki Purwoko dengan tamparan jari-jari
tangan yang penuh dengan getaran Aji Pethit Nogo. Hebat tangkisan itu sehingga
tubuh Purwoko mendoyong miring. Kesempatan itu dipergunakan oleh Endang
Patibroto untuk membentak dan mendorongkan kedua lengannya ke depan, dengan Aji
Wisangnala. Aji ini kalau dipergunakan untuk memukul, mungkin tidak akan kuat
ditahan oleh seorang sakti seperti Purwoko sekalipun, akan tetapi sekali ini
hanya dipergunakan oleh Endang Patibroto sebagai pukulan jarak jauh sehingga
hanya hawa pukulannya saja yang mendorong tubuh lawan.
"Aduhhh ...... !!"
Tubuh Purwoko terguling karena ia tidak dapat menahan hawa dorongan yang
mengandung rasa panas luar biasa itu. Akan tetapi, begitu tubuhnya rebah di
atas papan panggung, tubuh itu lalu menerjang maju cepat sekali dengan jalan
merayap seperti seekor kelabang. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah
disangka oleh Endang Patibroto. Belum pernah ia menyaksikan hal seperti itu,
juga ketika masih berguru kepada Dibyo Mamangkoro ia belum pernah mendengar
gurunya bercerita tentang ilmu aneh seperti itu sungguhpun sudah banyak ia
ketahui tentang pelbagai aji kesaktian golongan hitam dan kaum sesat. Karena
kaget ia tidak dapat mencegah lagi ketika tangan kiri Purwoko mencengkeram
ujung kainnya!
"Aihhhh .....!” Dalam
keadaan terancam mengalami penghinaan yang memalukan itu, Endang Patibroto
tidak kehilangan akal. Cepat tubuhnya membungkuk dan jari-jari tangan kanannya
menyambar tengkuk Purwoko, mengirim tamparan Pethit Nogo dengan sebagian tenaga
saja.
"Brettt.....!
Kekkk…….!!” Ujung kain Endang Patibroto robek sedikit akan tetapi Purwoko roboh
pingsan! Dengan menahan gemas Endang Patibroto menggunakan kakinya, mencokel
tubuh itu sehingga terlempar ke bawah panggung dalam keadaan tubuh masih
pingsan. Penonton yang tadi menahan napas menyaksikan pertandingan hebat itu,
kini berisik saling membicarakan pertandingan itu dan kini makin gentarlah hati
mereka. Tidak hanya Setyaningsih sudah memperlihatkan kedigdayaan yang
mengagumkan, juga kini Endang Patibroto membuktikan bahwa dia memang seorang
wanita sakti sukar dicari bandingnya. Setelah Endang Patibroto meloncat turun
dan kembali duduk ke tempatnya, suasana kembali menjadi hening.
No comments:
Post a Comment