Perawan Lembah Wilis; Bagian 097


Betapapun hati mereka gandrung wuyung, tergila-gila menyaksikan dara remaja yang jelita dan tangkas itu, namun merekapun merasa segan untuk mendapat malu seperti Pranolo, baru bertanding dalam beberapa jurus saja sudah keok!
Berturut-turut maju lagi dua orang pemuda yang masih muda dan cukup tampan. Melihat sikap mereka itupun sopan seperti Pranolo, Setyaningsih maju melawan mereka dan mengalahkan mereka dalam waktu singkat saja, melemparkan mereka turun dari panggung! Kembali kekalahan dua orang pemuda yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari Pranolo itu membuat banyak pemuda lainnya diam-diam membatalkan niatnya mencoba-coba. Kiranya Setyaningsih benar-benar hebat sekali dan mereka menjadi ngeri sendiri memikirkan betapa mereka akan dilempar atau dibanting oleh tangan halus itu. Maka setelah Setyaningsih melompat turun dan duduk kembali dekat Endang Patibroto sehabis mengalahkan orang ke tiga, dan ketika Limanwilis mempersilahkan peserta berikutnya naik panggung, tidak ada seorangpun pemuda berani naik dan mereka itu hanya saling pandang dan saling menanti saja. Memang masih banyak di antara mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi mereka yang menyaksikan ketangkasan Setyaningsih menjadi ragu-ragu apakah mereka akan dapat menandingi dara perkasa itu.

Setelah keadaan mulai menegang karena tidak ada yang menyambut desakan Limanwilis, tiba-tiba terdengar suara terbahak dan sesosok bayangan tinggi besar meloncat naik ke atas panggung. Terdengar suara berdebukan ketika kedua kaki laki-laki tinggi besar ini tiba di papan panggung, dan panggung itu sendiri tergetar! Diam-diam Endang Patibroto tertarik dan kaget. Pria itu tentu, lebih dari tiga puluh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan kokoh kuat seperti kebanyakan anak buah Padepokan Wilis. Mukanya cukup gagah, dengan kumis melintang dan dagu tertutup jenggot tipis. Ikat kepalanya berkembang merah, sabuknya putih dan mengkilap, agaknya dari perak, kainnya berdasar merah dan celananya putih. Begitu tiba di atas panggung, pria itu menghormat ke arah Endang Patibroto dan berkata, suaranya keras sekali,
"Namaku Joko Bono, di pesisir selatan orang menyebutku si Lengan Baja. Terus terang saja, aku kagum menyaksikan kedigdayaan sang dyah ayu sehingga ragu-ragu untuk menandinginya. Apalagi mendengar nama ketua Padepokan Wilis, sungguh sampai mati saya tidak akan berani lancang melawannya. Akan tetapi, aku hidup seorang diri di dunia ini, tidak ada wali. Karena ingin menguji ilmu, aku memaksa diri naik, walinyapun aku sendiri. Terserah apakah Padepokan Wilis sudi memperkenankan aku ikut atau tidak."
Semua orang memandang penuh perhatian dan hati mereka merasa tertarik. Biarpun sebagian besar di antara mereka baru sekali ini bertemu dengan pria tinggi besar itu, namun nama Si Lengan Baja Joko Bono telah terkenal sekali sebagai seorang jagoan di pesisir selatan. Terkenal karena lengan dan tangannya yang kuat sekali, dan wataknya yang jujur, terbuka dan penuh keberanian. Dari ucapannya di atas panggung tadipun terbayanglah sifatnya yang terbuka sehingga Endang Patibroto merasa suka. Setelah bertukar pandang dengan Setyaningsih, ia berbisik lirih,
"Lawanlah, akan tetapi hati-hati, kedua lengannya amat kuat dan jangan mengadu tenaga dengan dia. Pergunakanlah kecepatan, tundukkan dengan Pethit Nogo sebelum mendorong dia ke bawah."
Setyaningsih mengangguk lalu bangkit dan melompat ke atas panggung. Semua orang berdebar tegang. Tadinya, karena ucapan Bono, mereka mengira bahwa sekali ini tentulah Endang Patibroto sendiri yang naik panggung karena bukankah Joko Bono itu tidak mempunyai wali? Endang Patibroto berhak untuk menghadapinya. Akan tetapi, siapa menduga, ternyata Setyaningsih sendiri yang maju! Tentu saja mereka menjadi berkhawatir sekali dan berdesakanlah mereka, maju mendekati panggung agar dapat menonton lebih jelas.

"Ha-ha-ha! Sungguh Padepokan Wilis menaruh kasihan kepadaku, membiarkan sang dyah ayu melawanku. Marilah, Nimas Ayu, biar terbuka mata Bono menyaksikan aji-aji kesaktian Padepokan Wilis!"
Setyaningsih sudah mengenal watak calon lawannya yang terbuka dan jujur, maka iapun tersenyum dan menjawab,
"Aku sudah siap. Majulah, Joko Bono."
"Bagus! Awas seranganku ...hyeew eeetttt .....!!" Dengan gerakan cepat laksana seekor harimau menubruk anak kambing, Bono menerjang maju, lengan kanan yang besar itu menyerang dengan kepalan memukul ke arah pundak Setyaningsih. Cepat dan keras sekali, mendatangkan angin yang sudah terasa oleh dara itu sebelum kepalannya tiba. Namun Setyaningsih dengan kecekatan mengagumkan sudah miringkan tubuh dan jari-jari tangannya yang terbuka dan diisi dengan Aji Pethit Nogo menyambar dari samping, mengantam lambung.
"Wuuut ....plakk......!" Bono dapat menangkis tamparan itu dengan lengan kirinya yang seperti juga lengan kanannya, terlindung lingkaran besi kuningan. Setyaningsih memang tadi sengaja membiarkan tamparannya tertangkis karena biarpun ia sudah diberi peringatan oleh ayundanya, ia masih belum puas kalau tidak mencoba sendiri. Ternyata tamparan Pethit Nogo itu dapat ditangkis dan telapak tangannya terasa panas, tanda bahwa lengan lawan memang benar amat kuat, sesuai dengan julukannya Si Lengan Baja! Sebaliknya, Joko Bono juga merasa betapa kulit lengannya pedas ketika bertemu dengan tamparan jari-jari tangan lunak kecil itu. Diam-diam ia kaget dan kagum. Tahulah raksasa muda ini betapa sang ayu benar-benar tak boleh dipandang ringan. Maka ia kembali berseru keras dan tubuhnya bergerak-gerak maju, kadang-kadang berputar seperti sebuah kitiran angin, kedua lengannya diputar sedemikian rupa merupakan baling-baling yang dengan gencar bergantian menyambar ke arah tubuh Setyaningsih dengan pukulan, dorongan, tamparan atau cengkeraman. Dahsyat sekali serangannya ini dan para penonton menahan napas. Bahkan Endang Patibroto sendiri bersama Retna Wilis tak terasa lagi maju mendekati panggung saking tegang dan tertariknya. Pertandingan sekali ini baru ada harganya untuk ditonton. Setyanirgsih kelihatannya didesak terus. Namun sesungguhnya dara remaja itu menguasai keadaan karena betapapun cepat gerakan Joko Bono, dara ini memiliki gerakan yang jauh lebih cepat lagi sehingga setiap pukulan kepalan tangan besar itu dapat ia lihat dengan nyata dan dapat ia elakkan. Tubuhnya berkelebat ke kanan kadang-kadang meloncat ke atas, kadang-kadang menyelinap ke bawah, kadang-kadang dengan jari-jari tangan terbuka ia menyampok lengan lawan dari samping. Pethit Nogo adalah aji pukulan yang mengandalkan jari-jari terbuka, dengan meminjam tenaga lawan dapat menyampok ke samping dan apabila dipergunakan untuk menyerang, maka jari-jari tangan itu mengandung tenaga mujljat yang amat ampuhnya. Penonton mulai bersorak-sorak. Sungguh menarik pertandingan ini. Setelah kini Setyaningsih mempergunakan Aji Bayu Tantra untuk bergerak mengelak dan menyelinap, baru jelas tampak oleh mereka betapa gerakan kedua orang itu amat jauh bedanya. Tubuh Joko, Bono yang tadi bergerak cepat, kini di samping gerakan dara itu kelihatan seperti gerakan seekor badak yang kuat namun lamban sekali, sebaliknya dara itu bergerak cepat dan ringan seperti seekor kijang. Semua pukulan Joko Bono jauh meleset daripada sasarannya. Ada seperempat jam Joko Bono mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lawan. Kadang-kadang ia memang dapat mendesak Setyaningsih ke sudut panggung dan dengan penuh nafsu ia hendak mendesak terus agar dara itu terpaksa melompat turun dan dengan demikian ia akan dinyatakan menang. Namun setiap kali, dara yang lincah itu dapat menyelinap melalui bawah kedua lengannya atau melalui atas pundaknya dengan melompat tinggi dan tahu-tahu telah berada di tengah panggung lagi sehingga ia harus membalikkan tubuh dan mulai dengan serangan baru lagi. Beberapa kali sambil mengelak, Setyaningsih membalas dengan tamparan Aji Pethit Nogo secara tiba-tiba dan tak terduga. Memang ada beberapa kali Joko Bonokena diserempet tamparan, akan tetapi karena tidak tepat dan pukulannya dilakukan sambil mengelak, sedangkan tubuh Joko Bono memiliki kekebalan yang amat kuat, maka semua tamparan jari tangannya membalik, tidak berhasil merobohkan orang kuat itu. Joko Bono mulai pening kepalanya, pandang matanya berkunang ketika tiba-tiba Setyaningsih mempercepat gerakan tubuhnya, meloncat ke sana ke mari sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra. Ia merasa penasaran dan sambil berseru keras ia lalu maju menubruk, mengerahkan seluruh tenaganya, kedua tangan dikepal dan tangan kirinya menghantam ke arah kepala Setyaningsih. Dara itu cepat menggunakan jari-jari tangan kanannya menyampok dari samping kanan. Akan tetapi ternyata sekali ini Joko Bono berlaku cerdik. Pukulan tangan kiri itu hanya merupakan gertak belaka karena tiba-tiba saja tangan kanannya meluncur ke depan dan ia berhasil menangkap lengan kiri Setyaningsih! Semua penonton mengeluarkan seruan tertahan dan mengira bahwa dara itu akhirnya akan kalah oleh Joko Bono, sungguhpun hal ini tidak berarti bahwa pria tinggi besar itu telah lulus dalam sayembara karena ia harus mengalahkan Endang Patibroto.

ENDANG Patibroto bersikap tenang-tenang saja. Dia dapat melihat jelas dan mengerti akan siasat Setyaningsih. Dara itupun merasa bingung karena lawannya terlampau kuat sehingga sukar dirobohkan, maka biarpun tidak kentara oleh siapapun, juga oleh lawannya, ia sengaja memperlambat gerak tangan kirinya sehingga dapat tertangkap lawan. Pada saat Joko Bono merasa kegirângan, tiba-tiba tubuh Setyaningsih mencelat ke atas dan berjungkir balik sambil memutar lengan kirinya yang terpegang.
Gerakan ini tentu saja membawa pula tangan kanan Joko Bono sehingga terpuntir. Joko Bono kesakitan namun tetap mempertahankan cengkeramannya dan dari atas, sambil meloncat ini, Setyaningslh memukul tengkuk Joko Bono dengan jari-jari tangan kanannya, dengan Aji Pethit Nogo sepenuhnya.
“Dess ....! Aduhhh .....!” Joko Bono terhuyung, cengkeramannya lepas, akan tetapi ia benar-benar kuat karena pukulan dahsyat itu belum merobohkannya. Namun Setyaningsih sudah meloncat turun ke belakang tubuhnya, kedua kakinya bergantian menendang belakang lutut, membuat kaki Joko Bono melengkung dan berlutut. Saat itulah dipergunakan oleh Setyaningsih untuk mendorongkan kedua tangannya ke punggung lawan dengan sekuat tenaga. Joko Bono yang sudah berlutut itu tentu saja tidak mampu mempertahankan diri lagi dan tubuhnya bergulingan terus terjatuh dari atas panggung!
"Hebat, aku mengaku kalah ......” teriaknya sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu dengan terhuyung-huyung. Tepuk tangan riuh gemuruh menyambut kemenangan itu. Dara itu menyusut peluhnya dan melompat turun terus bersama Endang Patibroto dan Retna Wills kembali ke tempat duduk mereka. Makin gentarlah hati para muda yang hendak ikut sayembara, jelas sudah bahwa amat sukar menandingi kedigdayaan perawan Lembah Wills itu. Joko Bono yang demikian perkasapun tidak mampu menandinginya. Hanya ada beberapa orang pemuda, termasuk Pangeran Panji Sigit, yang masih menanti kesempatan mereka. Melihat betapa agaknya tidak ada pengikut lagi yang berani naik ke panggung, Pangeran Panji Sigit memandang Ki Datujiwa yang menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. Pangeran itu lalu bangkit, akan tetapi selagi ia hendak melangkah maju mendekati panggung, tiba-tiba tampak sesosok bayangan tubuh seorang pria kurus kering melompat ke panggung mendahuluinya. Terpaksa pangeran itu duduk kembali dan semua mata kini memandang ke arah pria kurus kering yang berada di atas panggung. Cara orang itu melompat amat mengagumkan, karena tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali, kemudian dari atas ia turun dengan cara berjungkir, kepalanya di bawah. Semua orang terkejut, bahkan ada yang menahan pekik, mengira bahwa kepala itu akan remuk terbanting pada papan panggung. Akan tetapi anehnya, kepala itu mendarat dengan lunaknya di atas papan dan laki-laki itu berdiri di atas kepalanya. Kemudian sekali ia bersuara seperti orang terbatuk, tubuhnya sudah berjumpalitan dan kini ia berdiri di tengah panggung sambil tersenyum menyeringai.

Semua orang tercengang. Laki-laki itu usianya tentu sudah mendekati lima puluh tahun, mukanya kurus seperti tengkorak hidup, matanya berlubang dalam sekali dan kepalanya gundul. Pakaiannya serba merah berkembang dan tubuhnya juga kurus kering, kaki kirinya memegang tongkat bambu yang baru saja dicabutnya dari ikat pinggang. Kakinya yang telanjang itulah yang menambah keanehannya, karena kalau tubuhnya kurus kering, adalah kakinya itu besar dengan jari-jari kaki mekar seperti cakar bebek. Wajah yang buruk menjijikkan, akan tetapi setiap orang dapat menduga bahwa laki-laki ini tentu memiliki kesaktian luar biasa.
"Hemmm, si Hantu Kelabang Purwoko berani mencari bencana ...!” terdengar oleh Pangeran Panji Sigit suara Ki Datujiwa berbisik lirih. Ia segera mendekati kakek penolongnya itu dan bertanya dalam bisikan.
"Orang apakah Purwoko ini, Eyang?"
"Tokoh hitam di pesisir utara, pertapa di Bukit Muria. Kalau ia mengenalku di sini, tentu dia tak akah berani main gila," jawab kakek itu sambil mangerutkan kening. Munculnya orang-orang macam Si Hantu Kelabang ini menandakan bahwa negara mulai lemah dan tidak aman sehingga kaum sesat dan golongan hitam mulai keluar dari sarang mencari kesempatan baik untuk mengacau dan merampas kedudukan serta keuntungan.

<<< Bagian 096                                                                                   Bagian 098 >>>

No comments:

Post a Comment