Betapapun hati mereka gandrung wuyung, tergila-gila menyaksikan dara remaja yang jelita dan tangkas itu, namun merekapun merasa segan untuk mendapat malu seperti Pranolo, baru bertanding dalam beberapa jurus saja sudah keok!
Berturut-turut maju lagi dua
orang pemuda yang masih muda dan cukup tampan. Melihat sikap mereka itupun
sopan seperti Pranolo, Setyaningsih maju melawan mereka dan mengalahkan mereka
dalam waktu singkat saja, melemparkan mereka turun dari panggung! Kembali
kekalahan dua orang pemuda yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari Pranolo
itu membuat banyak pemuda lainnya diam-diam membatalkan niatnya mencoba-coba.
Kiranya Setyaningsih benar-benar hebat sekali dan mereka menjadi ngeri sendiri
memikirkan betapa mereka akan dilempar atau dibanting oleh tangan halus itu.
Maka setelah Setyaningsih melompat turun dan duduk kembali dekat Endang
Patibroto sehabis mengalahkan orang ke tiga, dan ketika Limanwilis
mempersilahkan peserta berikutnya naik panggung, tidak ada seorangpun pemuda
berani naik dan mereka itu hanya saling pandang dan saling menanti saja. Memang
masih banyak di antara mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi
mereka yang menyaksikan ketangkasan Setyaningsih menjadi ragu-ragu apakah
mereka akan dapat menandingi dara perkasa itu.
Setelah keadaan mulai
menegang karena tidak ada yang menyambut desakan Limanwilis, tiba-tiba
terdengar suara terbahak dan sesosok bayangan tinggi besar meloncat naik ke
atas panggung. Terdengar suara berdebukan ketika kedua kaki laki-laki tinggi
besar ini tiba di papan panggung, dan panggung itu sendiri tergetar! Diam-diam
Endang Patibroto tertarik dan kaget. Pria itu tentu, lebih dari tiga puluh
tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan kokoh kuat seperti kebanyakan anak
buah Padepokan Wilis. Mukanya cukup gagah, dengan kumis melintang dan dagu
tertutup jenggot tipis. Ikat kepalanya berkembang merah, sabuknya putih dan
mengkilap, agaknya dari perak, kainnya berdasar merah dan celananya putih.
Begitu tiba di atas panggung, pria itu menghormat ke arah Endang Patibroto dan
berkata, suaranya keras sekali,
"Namaku Joko Bono, di
pesisir selatan orang menyebutku si Lengan Baja. Terus terang saja, aku kagum
menyaksikan kedigdayaan sang dyah ayu sehingga ragu-ragu untuk menandinginya.
Apalagi mendengar nama ketua Padepokan Wilis, sungguh sampai mati saya tidak
akan berani lancang melawannya. Akan tetapi, aku hidup seorang diri di dunia
ini, tidak ada wali. Karena ingin menguji ilmu, aku memaksa diri naik,
walinyapun aku sendiri. Terserah apakah Padepokan Wilis sudi memperkenankan aku
ikut atau tidak."
Semua orang memandang penuh
perhatian dan hati mereka merasa tertarik. Biarpun sebagian besar di antara
mereka baru sekali ini bertemu dengan pria tinggi besar itu, namun nama Si
Lengan Baja Joko Bono telah terkenal sekali sebagai seorang jagoan di pesisir
selatan. Terkenal karena lengan dan tangannya yang kuat sekali, dan wataknya
yang jujur, terbuka dan penuh keberanian. Dari ucapannya di atas panggung
tadipun terbayanglah sifatnya yang terbuka sehingga Endang Patibroto merasa
suka. Setelah bertukar pandang dengan Setyaningsih, ia berbisik lirih,
"Lawanlah, akan tetapi
hati-hati, kedua lengannya amat kuat dan jangan mengadu tenaga dengan dia.
Pergunakanlah kecepatan, tundukkan dengan Pethit Nogo sebelum mendorong dia ke
bawah."
Setyaningsih mengangguk lalu
bangkit dan melompat ke atas panggung. Semua orang berdebar tegang. Tadinya,
karena ucapan Bono, mereka mengira bahwa sekali ini tentulah Endang Patibroto
sendiri yang naik panggung karena bukankah Joko Bono itu tidak mempunyai wali?
Endang Patibroto berhak untuk menghadapinya. Akan tetapi, siapa menduga,
ternyata Setyaningsih sendiri yang maju! Tentu saja mereka menjadi berkhawatir
sekali dan berdesakanlah mereka, maju mendekati panggung agar dapat menonton
lebih jelas.
"Ha-ha-ha! Sungguh
Padepokan Wilis menaruh kasihan kepadaku, membiarkan sang dyah ayu melawanku.
Marilah, Nimas Ayu, biar terbuka mata Bono menyaksikan aji-aji kesaktian
Padepokan Wilis!"
Setyaningsih sudah mengenal
watak calon lawannya yang terbuka dan jujur, maka iapun tersenyum dan menjawab,
"Aku sudah siap.
Majulah, Joko Bono."
"Bagus! Awas seranganku
...hyeew eeetttt .....!!" Dengan gerakan cepat laksana seekor harimau
menubruk anak kambing, Bono menerjang maju, lengan kanan yang besar itu
menyerang dengan kepalan memukul ke arah pundak Setyaningsih. Cepat dan keras
sekali, mendatangkan angin yang sudah terasa oleh dara itu sebelum kepalannya
tiba. Namun Setyaningsih dengan kecekatan mengagumkan sudah miringkan tubuh dan
jari-jari tangannya yang terbuka dan diisi dengan Aji Pethit Nogo menyambar
dari samping, mengantam lambung.
"Wuuut
....plakk......!" Bono dapat menangkis tamparan itu dengan lengan kirinya
yang seperti juga lengan kanannya, terlindung lingkaran besi kuningan.
Setyaningsih memang tadi sengaja membiarkan tamparannya tertangkis karena
biarpun ia sudah diberi peringatan oleh ayundanya, ia masih belum puas kalau
tidak mencoba sendiri. Ternyata tamparan Pethit Nogo itu dapat ditangkis dan telapak
tangannya terasa panas, tanda bahwa lengan lawan memang benar amat kuat, sesuai
dengan julukannya Si Lengan Baja! Sebaliknya, Joko Bono juga merasa betapa
kulit lengannya pedas ketika bertemu dengan tamparan jari-jari tangan lunak
kecil itu. Diam-diam ia kaget dan kagum. Tahulah raksasa muda ini betapa sang
ayu benar-benar tak boleh dipandang ringan. Maka ia kembali berseru keras dan
tubuhnya bergerak-gerak maju, kadang-kadang berputar seperti sebuah kitiran
angin, kedua lengannya diputar sedemikian rupa merupakan baling-baling yang
dengan gencar bergantian menyambar ke arah tubuh Setyaningsih dengan pukulan,
dorongan, tamparan atau cengkeraman. Dahsyat sekali serangannya ini dan para
penonton menahan napas. Bahkan Endang Patibroto sendiri bersama Retna Wilis tak
terasa lagi maju mendekati panggung saking tegang dan tertariknya. Pertandingan
sekali ini baru ada harganya untuk ditonton. Setyanirgsih kelihatannya didesak
terus. Namun sesungguhnya dara remaja itu menguasai keadaan karena betapapun
cepat gerakan Joko Bono, dara ini memiliki gerakan yang jauh lebih cepat lagi
sehingga setiap pukulan kepalan tangan besar itu dapat ia lihat dengan nyata
dan dapat ia elakkan. Tubuhnya berkelebat ke kanan kadang-kadang meloncat ke
atas, kadang-kadang menyelinap ke bawah, kadang-kadang dengan jari-jari tangan
terbuka ia menyampok lengan lawan dari samping. Pethit Nogo adalah aji pukulan
yang mengandalkan jari-jari terbuka, dengan meminjam tenaga lawan dapat
menyampok ke samping dan apabila dipergunakan untuk menyerang, maka jari-jari
tangan itu mengandung tenaga mujljat yang amat ampuhnya. Penonton mulai
bersorak-sorak. Sungguh menarik pertandingan ini. Setelah kini Setyaningsih
mempergunakan Aji Bayu Tantra untuk bergerak mengelak dan menyelinap, baru
jelas tampak oleh mereka betapa gerakan kedua orang itu amat jauh bedanya.
Tubuh Joko, Bono yang tadi bergerak cepat, kini di samping gerakan dara itu
kelihatan seperti gerakan seekor badak yang kuat namun lamban sekali,
sebaliknya dara itu bergerak cepat dan ringan seperti seekor kijang. Semua
pukulan Joko Bono jauh meleset daripada sasarannya. Ada seperempat jam Joko
Bono mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lawan. Kadang-kadang
ia memang dapat mendesak Setyaningsih ke sudut panggung dan dengan penuh nafsu
ia hendak mendesak terus agar dara itu terpaksa melompat turun dan dengan
demikian ia akan dinyatakan menang. Namun setiap kali, dara yang lincah itu
dapat menyelinap melalui bawah kedua lengannya atau melalui atas pundaknya
dengan melompat tinggi dan tahu-tahu telah berada di tengah panggung lagi
sehingga ia harus membalikkan tubuh dan mulai dengan serangan baru lagi.
Beberapa kali sambil mengelak, Setyaningsih membalas dengan tamparan Aji Pethit
Nogo secara tiba-tiba dan tak terduga. Memang ada beberapa kali Joko Bonokena
diserempet tamparan, akan tetapi karena tidak tepat dan pukulannya dilakukan
sambil mengelak, sedangkan tubuh Joko Bono memiliki kekebalan yang amat kuat,
maka semua tamparan jari tangannya membalik, tidak berhasil merobohkan orang kuat
itu. Joko Bono mulai pening kepalanya, pandang matanya berkunang ketika
tiba-tiba Setyaningsih mempercepat gerakan tubuhnya, meloncat ke sana ke mari
sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra. Ia merasa penasaran dan sambil berseru
keras ia lalu maju menubruk, mengerahkan seluruh tenaganya, kedua tangan
dikepal dan tangan kirinya menghantam ke arah kepala Setyaningsih. Dara itu
cepat menggunakan jari-jari tangan kanannya menyampok dari samping kanan. Akan
tetapi ternyata sekali ini Joko Bono berlaku cerdik. Pukulan tangan kiri itu
hanya merupakan gertak belaka karena tiba-tiba saja tangan kanannya meluncur ke
depan dan ia berhasil menangkap lengan kiri Setyaningsih! Semua penonton
mengeluarkan seruan tertahan dan mengira bahwa dara itu akhirnya akan kalah
oleh Joko Bono, sungguhpun hal ini tidak berarti bahwa pria tinggi besar itu
telah lulus dalam sayembara karena ia harus mengalahkan Endang Patibroto.
ENDANG Patibroto bersikap
tenang-tenang saja. Dia dapat melihat jelas dan mengerti akan siasat
Setyaningsih. Dara itupun merasa bingung karena lawannya terlampau kuat
sehingga sukar dirobohkan, maka biarpun tidak kentara oleh siapapun, juga oleh
lawannya, ia sengaja memperlambat gerak tangan kirinya sehingga dapat
tertangkap lawan. Pada saat Joko Bono merasa kegirângan, tiba-tiba tubuh
Setyaningsih mencelat ke atas dan berjungkir balik sambil memutar lengan
kirinya yang terpegang.
Gerakan ini tentu saja
membawa pula tangan kanan Joko Bono sehingga terpuntir. Joko Bono kesakitan
namun tetap mempertahankan cengkeramannya dan dari atas, sambil meloncat ini,
Setyaningslh memukul tengkuk Joko Bono dengan jari-jari tangan kanannya, dengan
Aji Pethit Nogo sepenuhnya.
“Dess ....! Aduhhh .....!”
Joko Bono terhuyung, cengkeramannya lepas, akan tetapi ia benar-benar kuat
karena pukulan dahsyat itu belum merobohkannya. Namun Setyaningsih sudah
meloncat turun ke belakang tubuhnya, kedua kakinya bergantian menendang
belakang lutut, membuat kaki Joko Bono melengkung dan berlutut. Saat itulah
dipergunakan oleh Setyaningsih untuk mendorongkan kedua tangannya ke punggung
lawan dengan sekuat tenaga. Joko Bono yang sudah berlutut itu tentu saja tidak
mampu mempertahankan diri lagi dan tubuhnya bergulingan terus terjatuh dari
atas panggung!
"Hebat, aku mengaku
kalah ......” teriaknya sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkan tempat
itu dengan terhuyung-huyung. Tepuk tangan riuh gemuruh menyambut kemenangan
itu. Dara itu menyusut peluhnya dan melompat turun terus bersama Endang
Patibroto dan Retna Wills kembali ke tempat duduk mereka. Makin gentarlah hati
para muda yang hendak ikut sayembara, jelas sudah bahwa amat sukar menandingi
kedigdayaan perawan Lembah Wills itu. Joko Bono yang demikian perkasapun tidak
mampu menandinginya. Hanya ada beberapa orang pemuda, termasuk Pangeran Panji Sigit,
yang masih menanti kesempatan mereka. Melihat betapa agaknya tidak ada pengikut
lagi yang berani naik ke panggung, Pangeran Panji Sigit memandang Ki Datujiwa
yang menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. Pangeran itu lalu bangkit, akan
tetapi selagi ia hendak melangkah maju mendekati panggung, tiba-tiba tampak
sesosok bayangan tubuh seorang pria kurus kering melompat ke panggung
mendahuluinya. Terpaksa pangeran itu duduk kembali dan semua mata kini
memandang ke arah pria kurus kering yang berada di atas panggung. Cara orang
itu melompat amat mengagumkan, karena tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali,
kemudian dari atas ia turun dengan cara berjungkir, kepalanya di bawah. Semua
orang terkejut, bahkan ada yang menahan pekik, mengira bahwa kepala itu akan
remuk terbanting pada papan panggung. Akan tetapi anehnya, kepala itu mendarat
dengan lunaknya di atas papan dan laki-laki itu berdiri di atas kepalanya.
Kemudian sekali ia bersuara seperti orang terbatuk, tubuhnya sudah
berjumpalitan dan kini ia berdiri di tengah panggung sambil tersenyum
menyeringai.
Semua orang tercengang.
Laki-laki itu usianya tentu sudah mendekati lima puluh tahun, mukanya kurus
seperti tengkorak hidup, matanya berlubang dalam sekali dan kepalanya gundul.
Pakaiannya serba merah berkembang dan tubuhnya juga kurus kering, kaki kirinya
memegang tongkat bambu yang baru saja dicabutnya dari ikat pinggang. Kakinya
yang telanjang itulah yang menambah keanehannya, karena kalau tubuhnya kurus
kering, adalah kakinya itu besar dengan jari-jari kaki mekar seperti cakar
bebek. Wajah yang buruk menjijikkan, akan tetapi setiap orang dapat menduga
bahwa laki-laki ini tentu memiliki kesaktian luar biasa.
"Hemmm, si Hantu
Kelabang Purwoko berani mencari bencana ...!” terdengar oleh Pangeran Panji
Sigit suara Ki Datujiwa berbisik lirih. Ia segera mendekati kakek penolongnya
itu dan bertanya dalam bisikan.
"Orang apakah Purwoko
ini, Eyang?"
"Tokoh hitam di pesisir
utara, pertapa di Bukit Muria. Kalau ia mengenalku di sini, tentu dia tak akah
berani main gila," jawab kakek itu sambil mangerutkan kening. Munculnya
orang-orang macam Si Hantu Kelabang ini menandakan bahwa negara mulai lemah dan
tidak aman sehingga kaum sesat dan golongan hitam mulai keluar dari sarang
mencari kesempatan baik untuk mengacau dan merampas kedudukan serta keuntungan.
No comments:
Post a Comment