Perawan Lembah Wilis; Bagian 096



Retna Wilis berseru girang lalu berlari-lari naik gunung sambil berteriak,
"Aku akan cepat menemui ibu dan bibi!"

Ki Datujiwa dan pangeran muda itu saling pandang sambil tersenyum, kemudian mereka mengikuti larinya Retna Wilis, melindunginya dari jauh karena Ki Datujiwa menasehati sang pangeran,
"Lebih baik kita jangan menonjolkan tentang pertolongan atas diri Retna Wilis karena kalau sampai hal itu membuat Endang Patibroto terpaksa mengalah, hal itu akan menyinggung dan mencemarkan nama besarnya sebagai seorang pimpinan Padepokan Wilis. Kalau dia mengalah, biarlah hal itu terjadi atas kehendaknya sendiri, bukan karena kehadiran kita sebagai penolong puterinya."
Pangeran Panji Siglt biarpun masih muda, namun ia memiliki pandangan luas sehingga ia dapat menangkap maksud nasehat Ki Datujiwa yang sesungguhnya hanya ingin menjaga muka terang Endang Patibroto. Karena itu, mereka berdua hanya mengikuti Retna Wilis dari jauh sampai anak itu bertemu dengan para anak buah Padepokan Wilis dan beramai-ramai puteri yang hilang itu diiringkan naik ke puncak di mana Endang Patibroto dan Setyaningsih menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan kelegaan hati.
Dengan penuh semangat Retna Wilis lalu bercerita kepada ibunya dan bibinya tentang pengalamannya diculik tiga orang musuh itu, kemudian ia menceritakan pula betapa dirinya ditolong oleh Pangeran Panji Sigit dam seorang kakek yang bernama Ki Datujiwa.
"Ki Datujiwa ...?" Endang Patibroto mengerutkan kening dan mengingat-ingat akan tetapi merasa tidak pernah mendengar nama ini.
"Dia hebat, Ibu! Dan aku sudah diangkat menjadi muridnya!"
"Apa .....??”
"Benar! Bahkan dengan pertolongannya, aku telah berhasil merangket mereka, hi-hi-hik! Warutama, Nilamanik, dan Kolohangkoro kuhajar dengan kebutan milik Nilamanik sampai tubuh mereka matang biru dan pakaian mereka compang-camping!" Anak itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri menceritakan "pertempurannya" melawan tiga orang sakti itu. Endang Patibroto mendengarkan dengan kening berkerut. Menurut cerita anaknya, jelas bahwa kakek yang bernama Ki Datujiwa itu seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi hatinya tidak puas. Mengapa kakek itu begitu lancang mengangkat murid puterinya? Tanpa minta persetujuannya, hal itu sama dengan memandang rendah kepadanya!
Diganggu pikiran ini, ia tidak mendengarkan lagi cerita anaknya dan baru sadar ketika anaknya berkata sambil menarik-narik tangannya,
"Karena itu, dalam pertandingan sayembara nanti, ibu harus mengalah kepada Eyang Guru! Dan bibi Setyaningsih harus mengalah terhadap paman pangeran. Dia tampan, ganteng sekali seperti Sang Harjuna dan gagah perkasa, Bibi!"
Wajah Setyaningsih tiba-tiba menjadi merah sekali sampai ke lehernya, kepalanya menunduk dan ia tidak berani menentang pandang mata ayundanya. Adapun Endang Patibroto diam saja, hanya hatinya tidak puas. Sungguh keras dan aneh watak Endang Patibroto. Tadinya ia bersyukur dan berterima kasih, akan tetapi begitu puterinya menyatakan bahwa Ki Datujiwa mengangkat Retna Wilis sebagai murid, timbul amarah dan ketidaksenangan hatinya.

Pagi-pagi sekali para calon pengikut sayembara sudah berbondong-bondong mendaki puncak Wilis, didahului oleh serombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin sendiri oleh LimanWilis sebagai penyambut para tamu. Lebih dari dua puluh orang calon pengikut sayembara diiringkan wali masing-masing yang terdiri dari guru, ayah sendiri, atau jagoan undangan mereka. Mereka mendaki puncak dengan wajah serius dan hati berdebar-debar karena sedikit banyak nama Padepokan Wilis, terutama sekali nama Endang Patibroto sudah membuat hati mereka gentar. Di antara banyak pengikut ini tampak Pangeran Panji Sigit dan Ki Datujiwa yang berjalan paling belakang. Di tengah lapangan di atas puncak, tempat para anak buah Padepokan Wilis biasanya berlatih ulah yuda, telah dibangun sebuah panggung yang luasnya ada lima meter persegi, terbuat daripada balok-balok dan papan tebal. Panggung inilah yang akan menjadi arena pertandingan dengan ketentuan bahwa siapa yang dipaksa turun panggung, berarti kalah. Hal ini sengaja diadakan untuk mencegah atau mengurangi kekalahan yang mendatangkan maut, karena yang sudah terguling, tidak akan diserang lagi dan sudah dianggap kalah. Endang Patibroto, Setyaningslh, dan Retna Wilis sudah duduk di kursi dekat panggung. Semua mata tentu saja ditujukan ke arah mereka. Orang-orang muda yang menjadi calon pengikut, memandang ke arah Setyaningsih dan banyak di antara mereka yang menahan napas menelan ludah sendiri. Dara remaja itu demikian cantik jelita, sehingga bangkitlah semangat mereka untuk mencoba-coba, siapa tahu akan "kejatuhan bulan"! Andaikata kalah atau terluka berat sampai mati sekalipun, mereka tidak akan penasaran memperebutkan seorang dara seperti dewi kahyangan Itu. Setyaningsih hanya menyapu mereka dengan pandang mata kosong, akan tetapi pipi dara ini mendadak menjadi merah dan matanya berseri gembira bercampur malu-malu dan segera menundukkan muka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Pangeran Panji Sigit! Adapun para wali yang datang hendak membela murid, putera, atau pengundang mereka ini, memandang ke arah Endang Patibroto dengan pandang mata kagum bercampur sangsi dan khawatir. Baru melihat saja orang sudah dapat menduga bahwa Endang Patibroto adalah seorang wanita yang sakti mandraguna, pandang matanya tajam dan dingin mengerikan, seluruh pembawaannya membayangkan tenaga mujijat yang menyeramkan. Seorang lawan yang amat berat, demikian rata-rata di pikiran para wali yang terdiri daripada orang-orang tua yang digdaya itu. Tentu saja para orang muda yang hadir juga memandang ke arah Endang Patibroto dengan jerih dan kagum. Kagum menyaksikan betapa wanita sakti yang amat terkenal itu ternyata masih cantik jelita, bagaikan buah sudah masak di samping Setyaningsih yang bagaikan sebutir buah yang ranum matang ati. Dan jerih karena sesungguhnya dalam sayembara tanding ini, Endang Patibrotolah yang menentukan kesudahannya. Biarpun di antara mereka ada yang sanggup mengalahkan Setyaningsih, namun kalau walinya tidak dapat mengalahkan Endang Patibroto, berarti gagal juga.

Setelah hening sejenak, Limanwilis melompat naik ke atas panggung. Lompatannya ringan, karena tiga orang kakak beradik Wilis itu telah digembleng aji meringankan tubuh Bayu Tantra oleh Endang Patibroto. Melihat gaya lompatan pembantu ketua Padepokan Wilis ini saja, banyak sudah yang memuji dan menjadi gentar. Lompatan orang tinggi besar itu sedemikian ringannya seolah-olah lompatan seekor kucing, dan ketika kedua telapak kakinya menginjak papan panggung, sedikitpun tidak mengeluarkan suara, juga tidak menggetarkan panggung. Limanwilis mewakili ketuanya menyampaikan selamat datang kepada semua peserta, kemudian menjelaskan peraturan sayembara, dinyatakan bahwa maksud sayembara ialah memilih seorang calon jodoh untuk Setyaningsih, adik kandung ketua Padepokan Wilis dan bahwa di dalam sayembara ini tidak ada tentang permusuhan, baik pribadi maupun golongan sehingga pertandingan diatur dengan panggung agar mengurangi kemungkinan tewas. Hal ini diharapkan pengertian para peserta sehingga sifat sayembara hanya "menguji kepandaian" dan bukanlah pertempuran untuk membunuh atau melukai lawan. Kemudian ia menutup sambutannya dengan peraturan terakhir,
"Siapa saja yang berniat memasuki sayembara, dipersilahkan naik ke panggung secara bergilir. Adapun ketua kami yang akan menentukan apakah peserta yang boleh bertanding lebih dahulu ataukah walinya." Kemudian Limanwilis kembali mempersilahkan peserta pertama naik ke panggung. Lalu iapun melompat turun dan kembali ke tempatnya, yaitu rombongan anak buah Padepokan Wilis yang berbaris rapi dan angker. Karena sebagian besar para peserta mengambil sikap "sip", mereka itu hanya menanti dan "melihat-lihat gelagat" maka sampai lama tidak ada juga yang naik ke panggung! Keadaan sunyi hening dan menggelisahkan. Akhirnya terdengar suara kecil nyaring,
"Apakah yang datang para pengecut? Kalau tidak berani bertanding, untuk apa mengikuti sayembara dan mau apa datang ke sini?"
Semua orang menengok dan memandang ke arah Retna Wilis yang mengeluarkan ucapan itu. Merahlah muka semua orang, termasuk Endang Patibroto yang tidak keburu mencegah puterinya. Di dalam hatinya ia merasa cemas. Puterinya ini benar-benar amat tajam mulutnya, dan mempunyai pandangan seperti seorang dewasa saja.

Tiba-tiba tampak bayangan melompat ke atas panggung. Dia seorang pemuda tampan dan setelah menghadap ke arah Endang Patibroto, ia berkata,
"Saya Pranolo dari Ponorogo mengambil kehormatan untuk menjadi peserta pertama!"
Tepuk sorak gemuruh menyambut naiknya pemuda ini. Orang bukan kagum akan gerakannya melompat yang tak dapat dikatakan gesit, masih kalah oleh Limanwilis tadi, melainkan memuji ketabahannya naik sebagai orang pertama. Sekilas pandang Endang Patibroto merasa suka kepada pemuda ini yang cukup tampan. Dia teringat bahwa daerah Ponorogo memiliki banyak orang sakti. Akan tetapi melihat gerakan pemuda ini ketika melompat tadi, jelas bahwa ilmunya meringankan tubuh kurang tinggi.
Betapapun juga, masih timbul harapan di hatinya. Siapa tahu kalau-kalau hanya ilmu meringankan tubuhnya saja yang lemah sedangkan ilmu lainnya kuat. Maka ia memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Setyaningsih yang bangkit dengan tenang, melangkah maju dan sekali mengayun tubuh, tubuhnya yang langsing dan berkulit kuning itu melayang seperti seekor burung terbang, hinggap di atas panggung di depan Pranolo.
Tepuk tangan makin riuh dan semua orang kini benar-benar kagum, baik atas gaya loncatan indah itu maupun untuk kejelitaan yang kini nampak nyata setelah dara itu berada di atas panggung. Setyaningsih mengikat rambutnya ke belakang, ujung rambut terurai seperti ekor kuda, di atas terhias cunduk emas permata. Bajunya berlengan pendek, berkembang dan berwarna merah. Kembennya berwarna kuning kehijauan, sedangkan kainnya berwarna biru, tepinya agak tinggi sehingga tampaklah betis memadi bunting dan mata kaki yang merit, tungkak yang berwarna jambon. Kulit lengan dan betis itu bersih halus, kuning kemerahan amat menggairahkan hati para peserta sayembara. Dengan sikap tenang Setyaningsih berdiri di depan Pranolo.
Pranolo sejenak seperti terpesona, tak tahu harus berbuat atau berkata apa melainkan memandang dara yang berada di depannya. Tercium olehnya keharuman yang tipis dan pemuda ini menelan ludah. Kebimbangan dan kebingungan Pranolo, sampai cara ia menelan ludah jelas tampak oleh semua orang sehingga mulailah terdengar kekeh tawa yang membuat pemuda itu makin gagap-gugup lagi. Dari bawah panggung terdengar seorang kakek berkata,
"Pranolo, lawan telah siap, engkau menanti apa lagi?"
"Ohh ...baiklah, Eyang, baik ....!" Pranolo menjawab gagap lalu melangkah maju mendekati Setyaningsih dan berkata,
"Maafkan .... maafkan keberanianku .....“ Setyaningsih hanya mengangguk, diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda yang canggung ini. Pranolo lalu menerjang maju, serangannyapun bukan serangan pukulan atau tendangan, melainkan serangan untuk menangkap lengan dara itu, agaknya ia pikir kalau dapat menangkap lengan Setaningsih dan mendorongnya turun panggung, ia tentu akan menang. Gerakannya cukup sebat dan mantap, namun dalam hal kepandaian ia jauh kalah oleh Setyaningsih. Gadis inipun tidak suka mempermainkan orang. Begitu ia mengelak beberapa kali daripada sambaran tangan lawan yang hendak menangkap lengannya, cepat dari samping ia menendang ke arah belakang lutut kanan Pranolo. Pemuda itu berseru kaget karena kakinya tiba-tiba melengkung dan ia hampir roboh. Tiba-tiba pergelangan tangannya disambar oleh Setyaningsih dan sekali dara ini mengayun, tubuh Pranolo melayang terlempar turun panggung akan tetapi pemuda itu tidak terbanting keras, melainkan melayang turun dengan kaki di bawah sehingga ketika ia mendarat, ia hanya terhuyung saja dan mengalami kaget.

Tepuk tangan gemuruh menyambut kemenangan pertama ini. Mereka yang ilmunya tinggi, termasuk Endang Patibroto, tentu saja mengerti bahwa Setyaningsih menaruh kasihan kepada lawannya, kalau tidak tentu lemparan ke bawah panggung itu setidaknya akan membuat kulit lecet kepala benjut. Endang Patibroto kecewa. Kalau macam itu saja pemuda-pemuda yang hadir, tidak ada harapan bagi Setyaningsih untuk mendapatkan jodoh yang patut. Ia teringat akan Pangeran Panji Sigit dan mengerling ke arah pemuda itu. Ia melihat seorang kakek berpakaian sederhana, bertubuh kecil berdiri di dekat Panji Sigit dan menduga bahwa tentu itulah yang bernama Ki Datujiwa. Sinar mata orang itu hebat, pikir Endang Patibroto, akan tetapi hatinya panas kembali kalau teringat betapa orang itu langsung mengangkat Retna Wilis sebagai murid. Pula, sungguhpun harus ia akui bahwa Pangeran Panji Sigit mempunyai banyak persamaan dengan mendiang suaminya, Pangeran Panjirawit, wajahnya mirip dan sikapnya juga sama halusnya, akan tetapi di sudut hati Endang Patibroto sudah menaruh rasa tidak suka kepada Jenggala sehingga kalau mungkin, lebih senang kalau ia melihat adik kandungnya mendapatkan jodoh lain orang. Kekalahan Pranolo itu diam-diam telah mengundurkan enam orang peserta lainnya, yaitu mereka yang merasa masih belum dapat menandingi Pranolo, apalagi harus melawan Setyaningsih.

<<< Bagian 095                                                                                    Bagian 097 >>>

No comments:

Post a Comment