Retna Wilis berseru girang
lalu berlari-lari naik gunung sambil berteriak,
"Aku akan cepat menemui
ibu dan bibi!"
Ki Datujiwa dan pangeran
muda itu saling pandang sambil tersenyum, kemudian mereka mengikuti larinya
Retna Wilis, melindunginya dari jauh karena Ki Datujiwa menasehati sang
pangeran,
"Lebih baik kita jangan
menonjolkan tentang pertolongan atas diri Retna Wilis karena kalau sampai hal
itu membuat Endang Patibroto terpaksa mengalah, hal itu akan menyinggung dan mencemarkan
nama besarnya sebagai seorang pimpinan Padepokan Wilis. Kalau dia mengalah,
biarlah hal itu terjadi atas kehendaknya sendiri, bukan karena kehadiran kita
sebagai penolong puterinya."
Pangeran Panji Siglt biarpun
masih muda, namun ia memiliki pandangan luas sehingga ia dapat menangkap maksud
nasehat Ki Datujiwa yang sesungguhnya hanya ingin menjaga muka terang Endang
Patibroto. Karena itu, mereka berdua hanya mengikuti Retna Wilis dari jauh
sampai anak itu bertemu dengan para anak buah Padepokan Wilis dan beramai-ramai
puteri yang hilang itu diiringkan naik ke puncak di mana Endang Patibroto dan
Setyaningsih menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan kelegaan hati.
Dengan penuh semangat Retna
Wilis lalu bercerita kepada ibunya dan bibinya tentang pengalamannya diculik
tiga orang musuh itu, kemudian ia menceritakan pula betapa dirinya ditolong
oleh Pangeran Panji Sigit dam seorang kakek yang bernama Ki Datujiwa.
"Ki Datujiwa ...?"
Endang Patibroto mengerutkan kening dan mengingat-ingat akan tetapi merasa
tidak pernah mendengar nama ini.
"Dia hebat, Ibu! Dan
aku sudah diangkat menjadi muridnya!"
"Apa .....??”
"Benar! Bahkan dengan
pertolongannya, aku telah berhasil merangket mereka, hi-hi-hik! Warutama,
Nilamanik, dan Kolohangkoro kuhajar dengan kebutan milik Nilamanik sampai tubuh
mereka matang biru dan pakaian mereka compang-camping!" Anak itu dengan
mata bersinar-sinar dan wajah berseri menceritakan "pertempurannya"
melawan tiga orang sakti itu. Endang Patibroto mendengarkan dengan kening
berkerut. Menurut cerita anaknya, jelas bahwa kakek yang bernama Ki Datujiwa
itu seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi hatinya tidak puas. Mengapa
kakek itu begitu lancang mengangkat murid puterinya? Tanpa minta
persetujuannya, hal itu sama dengan memandang rendah kepadanya!
Diganggu pikiran ini, ia
tidak mendengarkan lagi cerita anaknya dan baru sadar ketika anaknya berkata
sambil menarik-narik tangannya,
"Karena itu, dalam
pertandingan sayembara nanti, ibu harus mengalah kepada Eyang Guru! Dan bibi
Setyaningsih harus mengalah terhadap paman pangeran. Dia tampan, ganteng sekali
seperti Sang Harjuna dan gagah perkasa, Bibi!"
Wajah Setyaningsih tiba-tiba
menjadi merah sekali sampai ke lehernya, kepalanya menunduk dan ia tidak berani
menentang pandang mata ayundanya. Adapun Endang Patibroto diam saja, hanya
hatinya tidak puas. Sungguh keras dan aneh watak Endang Patibroto. Tadinya ia
bersyukur dan berterima kasih, akan tetapi begitu puterinya menyatakan bahwa Ki
Datujiwa mengangkat Retna Wilis sebagai murid, timbul amarah dan
ketidaksenangan hatinya.
Pagi-pagi sekali para calon
pengikut sayembara sudah berbondong-bondong mendaki puncak Wilis, didahului
oleh serombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin sendiri oleh
LimanWilis sebagai penyambut para tamu. Lebih dari dua puluh orang calon
pengikut sayembara diiringkan wali masing-masing yang terdiri dari guru, ayah
sendiri, atau jagoan undangan mereka. Mereka mendaki puncak dengan wajah serius
dan hati berdebar-debar karena sedikit banyak nama Padepokan Wilis, terutama
sekali nama Endang Patibroto sudah membuat hati mereka gentar. Di antara banyak
pengikut ini tampak Pangeran Panji Sigit dan Ki Datujiwa yang berjalan paling
belakang. Di tengah lapangan di atas puncak, tempat para anak buah Padepokan
Wilis biasanya berlatih ulah yuda, telah dibangun sebuah panggung yang luasnya
ada lima meter persegi, terbuat daripada balok-balok dan papan tebal. Panggung
inilah yang akan menjadi arena pertandingan dengan ketentuan bahwa siapa yang
dipaksa turun panggung, berarti kalah. Hal ini sengaja diadakan untuk mencegah
atau mengurangi kekalahan yang mendatangkan maut, karena yang sudah terguling,
tidak akan diserang lagi dan sudah dianggap kalah. Endang Patibroto,
Setyaningslh, dan Retna Wilis sudah duduk di kursi dekat panggung. Semua mata
tentu saja ditujukan ke arah mereka. Orang-orang muda yang menjadi calon
pengikut, memandang ke arah Setyaningsih dan banyak di antara mereka yang
menahan napas menelan ludah sendiri. Dara remaja itu demikian cantik jelita,
sehingga bangkitlah semangat mereka untuk mencoba-coba, siapa tahu akan
"kejatuhan bulan"! Andaikata kalah atau terluka berat sampai mati
sekalipun, mereka tidak akan penasaran memperebutkan seorang dara seperti dewi
kahyangan Itu. Setyaningsih hanya menyapu mereka dengan pandang mata kosong,
akan tetapi pipi dara ini mendadak menjadi merah dan matanya berseri gembira
bercampur malu-malu dan segera menundukkan muka ketika pandang matanya bertemu
dengan pandang mata Pangeran Panji Sigit! Adapun para wali yang datang hendak membela
murid, putera, atau pengundang mereka ini, memandang ke arah Endang Patibroto
dengan pandang mata kagum bercampur sangsi dan khawatir. Baru melihat saja
orang sudah dapat menduga bahwa Endang Patibroto adalah seorang wanita yang
sakti mandraguna, pandang matanya tajam dan dingin mengerikan, seluruh
pembawaannya membayangkan tenaga mujijat yang menyeramkan. Seorang lawan yang
amat berat, demikian rata-rata di pikiran para wali yang terdiri daripada
orang-orang tua yang digdaya itu. Tentu saja para orang muda yang hadir juga
memandang ke arah Endang Patibroto dengan jerih dan kagum. Kagum menyaksikan
betapa wanita sakti yang amat terkenal itu ternyata masih cantik jelita,
bagaikan buah sudah masak di samping Setyaningsih yang bagaikan sebutir buah
yang ranum matang ati. Dan jerih karena sesungguhnya dalam sayembara tanding
ini, Endang Patibrotolah yang menentukan kesudahannya. Biarpun di antara mereka
ada yang sanggup mengalahkan Setyaningsih, namun kalau walinya tidak dapat
mengalahkan Endang Patibroto, berarti gagal juga.
Setelah hening sejenak,
Limanwilis melompat naik ke atas panggung. Lompatannya ringan, karena tiga
orang kakak beradik Wilis itu telah digembleng aji meringankan tubuh Bayu
Tantra oleh Endang Patibroto. Melihat gaya lompatan pembantu ketua Padepokan
Wilis ini saja, banyak sudah yang memuji dan menjadi gentar. Lompatan orang
tinggi besar itu sedemikian ringannya seolah-olah lompatan seekor kucing, dan
ketika kedua telapak kakinya menginjak papan panggung, sedikitpun tidak
mengeluarkan suara, juga tidak menggetarkan panggung. Limanwilis mewakili
ketuanya menyampaikan selamat datang kepada semua peserta, kemudian menjelaskan
peraturan sayembara, dinyatakan bahwa maksud sayembara ialah memilih seorang
calon jodoh untuk Setyaningsih, adik kandung ketua Padepokan Wilis dan bahwa di
dalam sayembara ini tidak ada tentang permusuhan, baik pribadi maupun golongan
sehingga pertandingan diatur dengan panggung agar mengurangi kemungkinan tewas.
Hal ini diharapkan pengertian para peserta sehingga sifat sayembara hanya
"menguji kepandaian" dan bukanlah pertempuran untuk membunuh atau
melukai lawan. Kemudian ia menutup sambutannya dengan peraturan terakhir,
"Siapa saja yang
berniat memasuki sayembara, dipersilahkan naik ke panggung secara bergilir.
Adapun ketua kami yang akan menentukan apakah peserta yang boleh bertanding
lebih dahulu ataukah walinya." Kemudian Limanwilis kembali mempersilahkan
peserta pertama naik ke panggung. Lalu iapun melompat turun dan kembali ke
tempatnya, yaitu rombongan anak buah Padepokan Wilis yang berbaris rapi dan
angker. Karena sebagian besar para peserta mengambil sikap "sip",
mereka itu hanya menanti dan "melihat-lihat gelagat" maka sampai lama
tidak ada juga yang naik ke panggung! Keadaan sunyi hening dan menggelisahkan.
Akhirnya terdengar suara kecil nyaring,
"Apakah yang datang
para pengecut? Kalau tidak berani bertanding, untuk apa mengikuti sayembara dan
mau apa datang ke sini?"
Semua orang menengok dan
memandang ke arah Retna Wilis yang mengeluarkan ucapan itu. Merahlah muka semua
orang, termasuk Endang Patibroto yang tidak keburu mencegah puterinya. Di dalam
hatinya ia merasa cemas. Puterinya ini benar-benar amat tajam mulutnya, dan
mempunyai pandangan seperti seorang dewasa saja.
Tiba-tiba tampak bayangan
melompat ke atas panggung. Dia seorang pemuda tampan dan setelah menghadap ke
arah Endang Patibroto, ia berkata,
"Saya Pranolo dari
Ponorogo mengambil kehormatan untuk menjadi peserta pertama!"
Tepuk sorak gemuruh
menyambut naiknya pemuda ini. Orang bukan kagum akan gerakannya melompat yang
tak dapat dikatakan gesit, masih kalah oleh Limanwilis tadi, melainkan memuji
ketabahannya naik sebagai orang pertama. Sekilas pandang Endang Patibroto
merasa suka kepada pemuda ini yang cukup tampan. Dia teringat bahwa daerah Ponorogo
memiliki banyak orang sakti. Akan tetapi melihat gerakan pemuda ini ketika
melompat tadi, jelas bahwa ilmunya meringankan tubuh kurang tinggi.
Betapapun juga, masih timbul
harapan di hatinya. Siapa tahu kalau-kalau hanya ilmu meringankan tubuhnya saja
yang lemah sedangkan ilmu lainnya kuat. Maka ia memberi isyarat dengan pandang
matanya kepada Setyaningsih yang bangkit dengan tenang, melangkah maju dan
sekali mengayun tubuh, tubuhnya yang langsing dan berkulit kuning itu melayang
seperti seekor burung terbang, hinggap di atas panggung di depan Pranolo.
Tepuk tangan makin riuh dan
semua orang kini benar-benar kagum, baik atas gaya loncatan indah itu maupun
untuk kejelitaan yang kini nampak nyata setelah dara itu berada di atas
panggung. Setyaningsih mengikat rambutnya ke belakang, ujung rambut terurai
seperti ekor kuda, di atas terhias cunduk emas permata. Bajunya berlengan
pendek, berkembang dan berwarna merah. Kembennya berwarna kuning kehijauan,
sedangkan kainnya berwarna biru, tepinya agak tinggi sehingga tampaklah betis
memadi bunting dan mata kaki yang merit, tungkak yang berwarna jambon. Kulit
lengan dan betis itu bersih halus, kuning kemerahan amat menggairahkan hati
para peserta sayembara. Dengan sikap tenang Setyaningsih berdiri di depan
Pranolo.
Pranolo sejenak seperti
terpesona, tak tahu harus berbuat atau berkata apa melainkan memandang dara
yang berada di depannya. Tercium olehnya keharuman yang tipis dan pemuda ini
menelan ludah. Kebimbangan dan kebingungan Pranolo, sampai cara ia menelan ludah
jelas tampak oleh semua orang sehingga mulailah terdengar kekeh tawa yang
membuat pemuda itu makin gagap-gugup lagi. Dari bawah panggung terdengar
seorang kakek berkata,
"Pranolo, lawan telah
siap, engkau menanti apa lagi?"
"Ohh ...baiklah, Eyang,
baik ....!" Pranolo menjawab gagap lalu melangkah maju mendekati
Setyaningsih dan berkata,
"Maafkan .... maafkan
keberanianku .....“ Setyaningsih hanya mengangguk, diam-diam merasa kasihan
juga kepada pemuda yang canggung ini. Pranolo lalu menerjang maju, serangannyapun
bukan serangan pukulan atau tendangan, melainkan serangan untuk menangkap
lengan dara itu, agaknya ia pikir kalau dapat menangkap lengan Setaningsih dan
mendorongnya turun panggung, ia tentu akan menang. Gerakannya cukup sebat dan
mantap, namun dalam hal kepandaian ia jauh kalah oleh Setyaningsih. Gadis
inipun tidak suka mempermainkan orang. Begitu ia mengelak beberapa kali
daripada sambaran tangan lawan yang hendak menangkap lengannya, cepat dari
samping ia menendang ke arah belakang lutut kanan Pranolo. Pemuda itu berseru
kaget karena kakinya tiba-tiba melengkung dan ia hampir roboh. Tiba-tiba
pergelangan tangannya disambar oleh Setyaningsih dan sekali dara ini mengayun,
tubuh Pranolo melayang terlempar turun panggung akan tetapi pemuda itu tidak
terbanting keras, melainkan melayang turun dengan kaki di bawah sehingga ketika
ia mendarat, ia hanya terhuyung saja dan mengalami kaget.
Tepuk tangan
gemuruh menyambut kemenangan pertama ini. Mereka yang ilmunya tinggi, termasuk
Endang Patibroto, tentu saja mengerti bahwa Setyaningsih menaruh kasihan kepada
lawannya, kalau tidak tentu lemparan ke bawah panggung itu setidaknya akan
membuat kulit lecet kepala benjut. Endang Patibroto kecewa. Kalau macam itu
saja pemuda-pemuda yang hadir, tidak ada harapan bagi Setyaningsih untuk
mendapatkan jodoh yang patut. Ia teringat akan Pangeran Panji Sigit dan
mengerling ke arah pemuda itu. Ia melihat seorang kakek berpakaian sederhana,
bertubuh kecil berdiri di dekat Panji Sigit dan menduga bahwa tentu itulah yang
bernama Ki Datujiwa. Sinar mata orang itu hebat, pikir Endang Patibroto, akan
tetapi hatinya panas kembali kalau teringat betapa orang itu langsung
mengangkat Retna Wilis sebagai murid. Pula, sungguhpun harus ia akui bahwa
Pangeran Panji Sigit mempunyai banyak persamaan dengan mendiang suaminya,
Pangeran Panjirawit, wajahnya mirip dan sikapnya juga sama halusnya, akan
tetapi di sudut hati Endang Patibroto sudah menaruh rasa tidak suka kepada
Jenggala sehingga kalau mungkin, lebih senang kalau ia melihat adik kandungnya
mendapatkan jodoh lain orang. Kekalahan Pranolo itu diam-diam telah
mengundurkan enam orang peserta lainnya, yaitu mereka yang merasa masih belum
dapat menandingi Pranolo, apalagi harus melawan Setyaningsih.
No comments:
Post a Comment