"Ehhh, kunyuk kecil
benar cerewet engkau!" Ki Kolohangkoro dengan marah lalu melangkah maju
dan menampar dengan tangan kanannya, sedangkan lengan kiri tetap memondong
Retno Wilis. Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya Ketika pemuda yang
dipandang rendah itu dengan gerakan indah sekali dapat mengelak dan
tamparannya, bahkan dari samping, tangan pemuda itu menjangkau cepat sekali
hendak merampas tubuh Retna Wilis!
"Aehhh, kau berani
melawan?" Ki Kolohangkoro sudah meloncat mundur, kemudian dengan beringas
ia menerjang maju lagi, menggunakan lengan kanan dan kaki untuk menyerang
bertubi-tubi. Gerakan tangan dan kaki raksasa ini menimbulkan angin saking
kerasnya. Pemuda itu berseru kaget dan cepat-cepat mengelak karena ia tahu
bahwa raksasa yang menculik anak itu benar-benar amat tangguh.
"Dewi, kaubunuh dia
yang sudah mengetahui tentang penculikan," kata Raden Warutama kepada Ni
Dewi Nilamanik. Wanita ini mengangguk, maklum bahwa memang pemuda tampan itu
merupakan bahaya bagi mereka. Tubuhnya melayang ke depan dan tahu-tahu ia sudah
berhadapan dengan pemuda itu. Melihat majunya Ni Dewi Nilamanik, Ki
Kolohangkorolalu mundur dan menyeringai lebar.
"Bocah bagus, sayang
sekali ketampananmu, engkau harus melepaskah nyawa sekarang juga ....“ kata
wanita itu dengan suara merdu dan ramah, akan tetapi secepat kilat, tangan
kirinya yang kecil dengan jari tangan terbuka sudah meluncur ke depan
menempiling kepala pemuda itu. Biarpun tangan kecil itu berkulit halus, namun
kepala yang kena ditempiling tentu akan retak atau setidaknya akan berantakan
isinya.
Pemuda itu kini melihat
munculnya wanita cantik yang gerakannya aneh, tidak berani memandang ringan,
lalu mengangkat tangan kanan menangkis. Lengannya bertemu dengan lengan kecil
yang lunak, akan tetapi akibatnya, tubuhnya terpental ke belakang. Pemuda itu
terbelalak kaget, merasa betapa lengan kanannya nyeri seperti ditusuk-tusuk
jarum, dan rasa ngilu sampai menusuk di bahu kanan. Adapun Ni Dewi Nilamanik
sambil tersenyum manis namun senyum yang membayangkan maut, sudah melangkah
maju, kebutan merah menggetar di tangannya!
"Matilah dengan tenang,
bocah bagus .....!" kata Ni Dewi Nilamanik, kebutannya bergerak ke atas
mengeluarkan bunyi ledakan nyaring.
Tiba-tiba terdengar Ki
Kolohangkoro berteriak kaget dan marah,
"Heiii ....!!
Kembalikan anak itu .... !!” Pada detik berikutnya terdengar jerit Ni Dewi
Nilamanik karena kebutannya yang ia hantamkan ke arah pemuda itu tiba-tiba
terlepas dari pegangannya dan sudah berpindah ke tangan seorang kakek tua yang
ternyata telah memondong Retna Wilis yang sudah dirampasnya tadi dari tangan Ki
Kolohangkoro!
Raden Warutama tadi
menyaksikan betapa bayangan hitam menyambar-nyambar disusul teriakan Ki
Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik, kemudian melihat betapa secara aneh sekali
puteri Endang Patibroto telah dirampasnya, bahkan sekaligus kakek itu
menyelamatkan si pemuda dan merampas kebutan merah dari tangan Ni Dewi
Nilamanik. Bukan main hebatnya gerakan itu sampai ia melongo keheranan melihat
kakek itu. Juga Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terbelalak memandang.
Kakek itu sama sekali tidak kelihatan aneh, bahkan biasa saja, terlalu biasa
tidak menimbulkan kesan. Seorang kakek sederhana yang tubuhnya kecil kate,
rambutnya masih hitam tidak terawat baik, pakaiannya serba hitam. Pantasnya dia
seorang petani miskin. Namun pandang matanya lembut dan mengandung sesuatu yang
jarang terdapat pada orang lain.
"Kembalikan anak
itu!" Ki Kolohangkoro dengan marah menubruk maju. Kakek itu tidak bergerak
dari tempatnya, hanya memandang tajam dan mendorongkan tangan kirinya ke depan,
sedangkan lengan kanan memondong tubuh Retna Wilis. Tiba-tiba saja tubuh Ki
Kolohangkoro terhenti di tengah jalan lalu terpelanting roboh. Ia menggereng,
bangkit dan menubruk lagi, akan tetapi kembali terbanting sebelum dapat
menyentuh kakek itu. Makin keras ia menubruk, makin keras pula ia terbanting
sehingga akhirnya ia duduk terlongong dengan kepala pening dan mata juling!
"Eh, si keparat.
Siapakah andika seorang tua yang lancang tangan mencampuri urusan orang
lain?" bentak NI Dewi Nilamanik sambil melangkah maju, namun ia masih
ragu-ragu untuk menyerang, melihat betapa pukulan jarak jauh kakek itu tadi
amat kuatnya.
"Wah, mulutmu memang
tajam, Nilamanik!" Tiba-tiba Retna Wilis yang berada dalam pondongan kakek
itu berkata. Bocah ini tadi ketika berada dalam tawanan saja sudah
memperlihatkan sikap berani menentang, apalagi sekarang setelah mendapat
pertolongan seorang kakek sakti.
"Sudah jelas kalian
bertiga yang menculik aku dan Eyang guru ini menolongku, berani bilang beliau
lancang tangan? Tidak tahukah kau bahwa beliau ini calon guruku? Eyang guru,
harap sikat saja mereka ini. Mereka ini orang-orang jahat! Siluman betina inl
namanya Ni Dewi Nilamanik, itu yang seperti Buto Terung itu namanya Ki
Kolohangkoro, dan yang satunya lagi, tampan tetapi palsu adalah Warutama."
Retno Wilis mengerti akan nama-nama mereka ketika mendengarkan percakapan
mereka di sepanjang jalan.
"Kalau ada ibuku, tentu
mereka ini sudah dibunuh semua. Dasar pengecut, beraninya hanya kepada anak
kecil, kalau menghadapi ibuku, ketua Padepokan Wilis, belum apa-apa tentu sudah
menggigil!"
"Puja-puji untuk para
dewata !!” kakek itu berkata lirih, suaranya halus dan tenang.
"Jadi engkau ini puteri
Endang Patibroto ketua Padepokan Wilis?"
"Benar, Eyang Guru.
Namaku adalah Retna Wilis. Harap kau suka mengajarku ilmu pukulan seperti tadi
agar aku dapat merobohkan siluman-siluman tengik ini."
Kakek ini mengangguk-angguk.
"Sebagai
pengikut-pengikut Wasi Bagaspati, tentu saja mereka suka menggunakan siasat
kotor. Engkau ingin mengalahkan mereka? Kalau engkau kusuruh, maukah melawan
mereka?"
Retno Wilis melorot dari
pondongan kakek itu.
"Eyang telah menjadi
Guruku, segala perintah Eyang tentu akan kutaati. Haruskah aku menyerang mereka?"
Kembali kakek itu
mengangguk-angguk.
"Perbuatan sesat memang
perlu dihukum, itu baru adil namanya. Mereka telah menculikmu, membikin engkau
seorang anak kecil mengalami kesengsaraan. Hukumlah mereka, pergunakan cambuk
ini." Kakek itu menyerahkan cambuk merah, atau kebutan, yang dirampasnya
dari tangan Ni Dewi Nilamanik tadi. Retna Wilis dengan sikap gagah dan tabah
melangkah maju, kebutan merah dipegang gagangnya dengan erat di tangan kanan.
Ia menghampiri Ki Kolohangkoro dengan pandang penuh kebencian dan kemarahan.
Raksasa itu memandang terbelalak, akan tetapi juga girang karena kini ia
mendapat kesempatan untuk menangkap lagi bocah ini.
Ia akan menyambarnya dan
membawanya lari sebelum kakek sakti yang aneh itu dapat merampasnya kembali.
"Retna Wilis, seranglah
dia, hajar dia!" terdengar kakek itu berseru. Retna Wilis dengan hati
tabah lalu menerjang maju, menghantamkan kebutanitu ke arah paha Ki
Kolohangkoro. Si Raksasa tertawa bergelak, tidak memperdulikan pukulan kebutan,
bahkan ia lalu menubruk maju hendak mencengkeram dan menyambar tubuh Retna
Wilis. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tiba-tiba tangan
dan kakinya tidak dapat ia gerakkan lagi, atau tertahan oleh sesuatu sehingga
terhenti di tengah jalan.
"Tar-tar!" Cambuk
itu menghajar pahanya, biarpun tidak begitu sakit akan tetapi karena tenaga
Retna Wilis memang sudah terlatih, celananya robek di bagian paha, Retna Wilis
terus mencambuki, dan tiap kali Ki Kolohangkoro hendak bergerak memukul atau
menangkis maupun mengelak, gerakannya selalu terhalang sehingga tidak ada
cambuk Retna Wilis yang tidak mengenai sasaran!
Menyaksikan hasil baik ini,
Retna Wilis gembira sekali. Ia tertawa-tawa dan mengamuk makin hebat, kini ia
menerjang Ni Dewi Nilamanik. Wanita sakti inipun berusaha menangkis, bahkan
berusaha memukul mati anak itu, namun seperti juga halnya Ki Kolohangkoro,
semua gerakannya tertahan dan tahulah ia bahwa ini adalah perbuatan kakek aneh
itu. Terpaksa ia mandah dicambuki sehingga. bajunya robek-robek pula, kulitnya matang
biru oleh cambuknya sendiri. Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ saja. Ia
kini menyerang Raden Warutama yang mengalami nasib sial seperti kedua orang
kawannya. Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, Retna Wilis
meloncat-loncat dan mencambuki tiga orang itu berganti-ganti sampai pakaian
mereka compang-camping semua. Akan tetapi karena tiga orang itu adalah
orang-orang sakti yang memiliki kekebalan, akhirnya tangan anak itu sendiri
yang menjadi lelah sehingga tanpa disuruh Retna Wilis berhenti sendiri dengan
tubuh berkeringat!
"Cukup, Retna Wilis.
Kembalikan, kebutan itu kepada pemiliknya!" kata kakek sakti itu.
Retna Wilis melemparkan
kebutan ke arah Ni Dewi Nilamanik yang menerimanya dengan muka merah sekali. Ki
Kolohangkoro menggereng-gereng saking marahnya namun iapun tidak berani
sembarangan bergerak. Hanya Raden Warutama yang diam saja, mukanya agak pucat,
kemudian ia menjura ke arah kakek itu sambil bertanya,
"Kami bertiga yang
bodoh telah menerima petunjuk Paman. Setelah Paman tahu akan nama dan keadaan
kami, sudah sepatutnya kalau Paman memberitahukan pula nama Paman kepada
kami."
"Orang memanggil aku Ki
Datujiwa," jawab kakek kecil itu sederhana.
"Dan aku Sigit,"
kata pangeran muda Panji Sigit dengan sederhana pula karena ia tidak ingin
dikenal orang sebagai Pangeran Jenggala.
Tiga orang itu tanpa
mengeluarkan sepatah kata lagi lalu meninggalkan tempat itu dengan pakaian
compang-camping, kepala tunduk dan hati tidak karuan rasanya. Mereka kehilangan
tawanan, kehilangan muka dan terancam bahaya pembalasan dendam Endang
Patibroto. Di dalam hati mereka, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro merasa
heran mengapa seringkali bertemu orang-orang pandai. Berbeda dengan mereka,
Raden Warutama menganggap pengalaman pahit ini sebagai pelajaran yang
membuatnya semakin hati-hati dan waspada. Memang, Raden Warutama bukan orang
sembarangan. Seperti telah dikenal oleh Endang Patibroto, dia adalah Raden
Sindupati, bekas kawula Jenggala yang melarikan diri ke Blambangan dan menjadi
perwira Blambangan. Kemudian, seperti telah diceritakan di bagian depan cerita
ini, Raden Sindupati meninggalkan Blambangan yang dihancurkan oleh
pasukan-pasukan Panjalu dan Jenggala di bawah pimpinan Pangeran Darmokusumo dan
Endang Patibroto. Raden Sindupati melarikan diri ke Bali-dwipa, di mana ia
merantau dan selama lima tahun berguru kepada beberapa orang sakti sehingga
memperoleh kepandaian tinggi. Kemudian ia kembali ke Jawa-dwipa, merubah bentuk
kumis jenggotnya, juga melukai sendiri bawah dagunya sehingga wajahnya berubah
dan tidak mudah dikenal sebagai Raden Sindupati. Untuk penyamaran ini ia
menggunakan nama Raden Warutama.
Setelah tiga orang yang
dipermainkan Ki Datujiwa itu tak tampak lagi bayangannya, Pangeran Panji Sigit
tertawa. Ia berjongkok dan merangkul Retna Wilis, mengusap rambut anak itu dan
berkata,
“Duhai, betapa bangga hatiku
mempunyai seorang keponakan seperti engkau, Retna Wilis! Engkau pemberani
seperti ibumu. Sungguh pantas menjadi puteri ayunda Endang Patibroto.”
Retna Wilis memandang
pangeran itu penuh perhatian. Dia tidak mengenalnya, karena ketika Pangeran
Panji Sigit menjadi tawanan ibunya, ia tidak sempat melihatnya. Hatinya senang
melihat pemuda yang tampan dan gagah ini, apalagi yang tadi telah menolongnya.
"Namamu tadi Sigit?
Engkau telah mengenal ibuku?"
"Tentu saja aku
mengenal ibumu, anak manis. Ibumu adalah kakak iparku sendiri. Aku Pangeran
Panji Sigit.... “
"Aihhh..... ! Yang
dikabarkan tertawan oleh Bibi Setyaningsih? Pangeran Jenggala yang hampir
dibunuh itu dan dibela Bibi Setyaningsih? Wah, mengapa ibu hendak membunuhmu?
Engkau tampan dan gagah, baik hati pula. Engkau tentu akan memasuki sayembara,
bukan? Paman Pangeran, aku akan gembira sekali kalau kau menjadi suami Bibi
Setyaningsih!"
"Tidak akan semudah
itu, Retna Wilis ....." kata Ki Datujiwa sambil tersenyum.
"Mengalahkan ibumu
dalam pertandingan tidak mudah.”
"Aku akan membantu! Aku
akan membujuk Bibi Setyaningsih agar mengalah terhadap Paman Pangeran Panji
Sigit, dan membujuk ibu agar mengalah terhadap Eyang. Akan tetapi ada
syaratnyal"
"Apa syaratnya,
Cah-ayu?"
"Kelak Paman harus
menemani aku puncak Wilis bersama Bibi Setyaningsih, sampai lima tahun, dan
Eyang harus mengajar ilmu pukulan yang hebat tadi kepadaku!" Pangeran
Panji Sigit berpikir-plkir, memang ia tidak mempunyai keinginan untuk
tergesa-gesa pulang ke Jenggala, karena hal ini hanya akan menimbulkan hal-hal
tidak enak baginya. Selama ramandanya berada di bawah kekuasaan Suminten, ia
tidak mau pulang dan lebih baik tinggal di puncak Wilis! Maka tanpa ragu-ragu lagi
ia mengangguk,
"Baik, aku berjanji
memenuhi permintaanmu, Retna."
Juga Ki Datujiwa
mengangguk-angguk.
"Apa yang kumiliki
belum cukup untuk mengisi dirimu yang memiliki bakat jauh lebih besar, Angger.
Akan tetapi sebagai dasar, bolehlah."
No comments:
Post a Comment