Perawan Lembah Wilis; Bagian 095



"Ehhh, kunyuk kecil benar cerewet engkau!" Ki Kolohangkoro dengan marah lalu melangkah maju dan menampar dengan tangan kanannya, sedangkan lengan kiri tetap memondong Retno Wilis. Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya Ketika pemuda yang dipandang rendah itu dengan gerakan indah sekali dapat mengelak dan tamparannya, bahkan dari samping, tangan pemuda itu menjangkau cepat sekali hendak merampas tubuh Retna Wilis!
"Aehhh, kau berani melawan?" Ki Kolohangkoro sudah meloncat mundur, kemudian dengan beringas ia menerjang maju lagi, menggunakan lengan kanan dan kaki untuk menyerang bertubi-tubi. Gerakan tangan dan kaki raksasa ini menimbulkan angin saking kerasnya. Pemuda itu berseru kaget dan cepat-cepat mengelak karena ia tahu bahwa raksasa yang menculik anak itu benar-benar amat tangguh.
"Dewi, kaubunuh dia yang sudah mengetahui tentang penculikan," kata Raden Warutama kepada Ni Dewi Nilamanik. Wanita ini mengangguk, maklum bahwa memang pemuda tampan itu merupakan bahaya bagi mereka. Tubuhnya melayang ke depan dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan pemuda itu. Melihat majunya Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkorolalu mundur dan menyeringai lebar.
"Bocah bagus, sayang sekali ketampananmu, engkau harus melepaskah nyawa sekarang juga ....“ kata wanita itu dengan suara merdu dan ramah, akan tetapi secepat kilat, tangan kirinya yang kecil dengan jari tangan terbuka sudah meluncur ke depan menempiling kepala pemuda itu. Biarpun tangan kecil itu berkulit halus, namun kepala yang kena ditempiling tentu akan retak atau setidaknya akan berantakan isinya.

Pemuda itu kini melihat munculnya wanita cantik yang gerakannya aneh, tidak berani memandang ringan, lalu mengangkat tangan kanan menangkis. Lengannya bertemu dengan lengan kecil yang lunak, akan tetapi akibatnya, tubuhnya terpental ke belakang. Pemuda itu terbelalak kaget, merasa betapa lengan kanannya nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum, dan rasa ngilu sampai menusuk di bahu kanan. Adapun Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum manis namun senyum yang membayangkan maut, sudah melangkah maju, kebutan merah menggetar di tangannya!
"Matilah dengan tenang, bocah bagus .....!" kata Ni Dewi Nilamanik, kebutannya bergerak ke atas mengeluarkan bunyi ledakan nyaring.
Tiba-tiba terdengar Ki Kolohangkoro berteriak kaget dan marah,
"Heiii ....!! Kembalikan anak itu .... !!” Pada detik berikutnya terdengar jerit Ni Dewi Nilamanik karena kebutannya yang ia hantamkan ke arah pemuda itu tiba-tiba terlepas dari pegangannya dan sudah berpindah ke tangan seorang kakek tua yang ternyata telah memondong Retna Wilis yang sudah dirampasnya tadi dari tangan Ki Kolohangkoro!
Raden Warutama tadi menyaksikan betapa bayangan hitam menyambar-nyambar disusul teriakan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik, kemudian melihat betapa secara aneh sekali puteri Endang Patibroto telah dirampasnya, bahkan sekaligus kakek itu menyelamatkan si pemuda dan merampas kebutan merah dari tangan Ni Dewi Nilamanik. Bukan main hebatnya gerakan itu sampai ia melongo keheranan melihat kakek itu. Juga Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terbelalak memandang. Kakek itu sama sekali tidak kelihatan aneh, bahkan biasa saja, terlalu biasa tidak menimbulkan kesan. Seorang kakek sederhana yang tubuhnya kecil kate, rambutnya masih hitam tidak terawat baik, pakaiannya serba hitam. Pantasnya dia seorang petani miskin. Namun pandang matanya lembut dan mengandung sesuatu yang jarang terdapat pada orang lain.
"Kembalikan anak itu!" Ki Kolohangkoro dengan marah menubruk maju. Kakek itu tidak bergerak dari tempatnya, hanya memandang tajam dan mendorongkan tangan kirinya ke depan, sedangkan lengan kanan memondong tubuh Retna Wilis. Tiba-tiba saja tubuh Ki Kolohangkoro terhenti di tengah jalan lalu terpelanting roboh. Ia menggereng, bangkit dan menubruk lagi, akan tetapi kembali terbanting sebelum dapat menyentuh kakek itu. Makin keras ia menubruk, makin keras pula ia terbanting sehingga akhirnya ia duduk terlongong dengan kepala pening dan mata juling!
"Eh, si keparat. Siapakah andika seorang tua yang lancang tangan mencampuri urusan orang lain?" bentak NI Dewi Nilamanik sambil melangkah maju, namun ia masih ragu-ragu untuk menyerang, melihat betapa pukulan jarak jauh kakek itu tadi amat kuatnya.
"Wah, mulutmu memang tajam, Nilamanik!" Tiba-tiba Retna Wilis yang berada dalam pondongan kakek itu berkata. Bocah ini tadi ketika berada dalam tawanan saja sudah memperlihatkan sikap berani menentang, apalagi sekarang setelah mendapat pertolongan seorang kakek sakti.
"Sudah jelas kalian bertiga yang menculik aku dan Eyang guru ini menolongku, berani bilang beliau lancang tangan? Tidak tahukah kau bahwa beliau ini calon guruku? Eyang guru, harap sikat saja mereka ini. Mereka ini orang-orang jahat! Siluman betina inl namanya Ni Dewi Nilamanik, itu yang seperti Buto Terung itu namanya Ki Kolohangkoro, dan yang satunya lagi, tampan tetapi palsu adalah Warutama." Retno Wilis mengerti akan nama-nama mereka ketika mendengarkan percakapan mereka di sepanjang jalan.
"Kalau ada ibuku, tentu mereka ini sudah dibunuh semua. Dasar pengecut, beraninya hanya kepada anak kecil, kalau menghadapi ibuku, ketua Padepokan Wilis, belum apa-apa tentu sudah menggigil!"
"Puja-puji untuk para dewata !!” kakek itu berkata lirih, suaranya halus dan tenang.
"Jadi engkau ini puteri Endang Patibroto ketua Padepokan Wilis?"
"Benar, Eyang Guru. Namaku adalah Retna Wilis. Harap kau suka mengajarku ilmu pukulan seperti tadi agar aku dapat merobohkan siluman-siluman tengik ini."

Kakek ini mengangguk-angguk.
"Sebagai pengikut-pengikut Wasi Bagaspati, tentu saja mereka suka menggunakan siasat kotor. Engkau ingin mengalahkan mereka? Kalau engkau kusuruh, maukah melawan mereka?"
Retno Wilis melorot dari pondongan kakek itu.
"Eyang telah menjadi Guruku, segala perintah Eyang tentu akan kutaati. Haruskah aku menyerang mereka?"
Kembali kakek itu mengangguk-angguk.
"Perbuatan sesat memang perlu dihukum, itu baru adil namanya. Mereka telah menculikmu, membikin engkau seorang anak kecil mengalami kesengsaraan. Hukumlah mereka, pergunakan cambuk ini." Kakek itu menyerahkan cambuk merah, atau kebutan, yang dirampasnya dari tangan Ni Dewi Nilamanik tadi. Retna Wilis dengan sikap gagah dan tabah melangkah maju, kebutan merah dipegang gagangnya dengan erat di tangan kanan. Ia menghampiri Ki Kolohangkoro dengan pandang penuh kebencian dan kemarahan. Raksasa itu memandang terbelalak, akan tetapi juga girang karena kini ia mendapat kesempatan untuk menangkap lagi bocah ini.
Ia akan menyambarnya dan membawanya lari sebelum kakek sakti yang aneh itu dapat merampasnya kembali.
"Retna Wilis, seranglah dia, hajar dia!" terdengar kakek itu berseru. Retna Wilis dengan hati tabah lalu menerjang maju, menghantamkan kebutanitu ke arah paha Ki Kolohangkoro. Si Raksasa tertawa bergelak, tidak memperdulikan pukulan kebutan, bahkan ia lalu menubruk maju hendak mencengkeram dan menyambar tubuh Retna Wilis. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tiba-tiba tangan dan kakinya tidak dapat ia gerakkan lagi, atau tertahan oleh sesuatu sehingga terhenti di tengah jalan.
"Tar-tar!" Cambuk itu menghajar pahanya, biarpun tidak begitu sakit akan tetapi karena tenaga Retna Wilis memang sudah terlatih, celananya robek di bagian paha, Retna Wilis terus mencambuki, dan tiap kali Ki Kolohangkoro hendak bergerak memukul atau menangkis maupun mengelak, gerakannya selalu terhalang sehingga tidak ada cambuk Retna Wilis yang tidak mengenai sasaran!

Menyaksikan hasil baik ini, Retna Wilis gembira sekali. Ia tertawa-tawa dan mengamuk makin hebat, kini ia menerjang Ni Dewi Nilamanik. Wanita sakti inipun berusaha menangkis, bahkan berusaha memukul mati anak itu, namun seperti juga halnya Ki Kolohangkoro, semua gerakannya tertahan dan tahulah ia bahwa ini adalah perbuatan kakek aneh itu. Terpaksa ia mandah dicambuki sehingga. bajunya robek-robek pula, kulitnya matang biru oleh cambuknya sendiri. Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ saja. Ia kini menyerang Raden Warutama yang mengalami nasib sial seperti kedua orang kawannya. Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, Retna Wilis meloncat-loncat dan mencambuki tiga orang itu berganti-ganti sampai pakaian mereka compang-camping semua. Akan tetapi karena tiga orang itu adalah orang-orang sakti yang memiliki kekebalan, akhirnya tangan anak itu sendiri yang menjadi lelah sehingga tanpa disuruh Retna Wilis berhenti sendiri dengan tubuh berkeringat!
"Cukup, Retna Wilis. Kembalikan, kebutan itu kepada pemiliknya!" kata kakek sakti itu.
Retna Wilis melemparkan kebutan ke arah Ni Dewi Nilamanik yang menerimanya dengan muka merah sekali. Ki Kolohangkoro menggereng-gereng saking marahnya namun iapun tidak berani sembarangan bergerak. Hanya Raden Warutama yang diam saja, mukanya agak pucat, kemudian ia menjura ke arah kakek itu sambil bertanya,
"Kami bertiga yang bodoh telah menerima petunjuk Paman. Setelah Paman tahu akan nama dan keadaan kami, sudah sepatutnya kalau Paman memberitahukan pula nama Paman kepada kami."
"Orang memanggil aku Ki Datujiwa," jawab kakek kecil itu sederhana.
"Dan aku Sigit," kata pangeran muda Panji Sigit dengan sederhana pula karena ia tidak ingin dikenal orang sebagai Pangeran Jenggala.
Tiga orang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi lalu meninggalkan tempat itu dengan pakaian compang-camping, kepala tunduk dan hati tidak karuan rasanya. Mereka kehilangan tawanan, kehilangan muka dan terancam bahaya pembalasan dendam Endang Patibroto. Di dalam hati mereka, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro merasa heran mengapa seringkali bertemu orang-orang pandai. Berbeda dengan mereka, Raden Warutama menganggap pengalaman pahit ini sebagai pelajaran yang membuatnya semakin hati-hati dan waspada. Memang, Raden Warutama bukan orang sembarangan. Seperti telah dikenal oleh Endang Patibroto, dia adalah Raden Sindupati, bekas kawula Jenggala yang melarikan diri ke Blambangan dan menjadi perwira Blambangan. Kemudian, seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, Raden Sindupati meninggalkan Blambangan yang dihancurkan oleh pasukan-pasukan Panjalu dan Jenggala di bawah pimpinan Pangeran Darmokusumo dan Endang Patibroto. Raden Sindupati melarikan diri ke Bali-dwipa, di mana ia merantau dan selama lima tahun berguru kepada beberapa orang sakti sehingga memperoleh kepandaian tinggi. Kemudian ia kembali ke Jawa-dwipa, merubah bentuk kumis jenggotnya, juga melukai sendiri bawah dagunya sehingga wajahnya berubah dan tidak mudah dikenal sebagai Raden Sindupati. Untuk penyamaran ini ia menggunakan nama Raden Warutama.

Setelah tiga orang yang dipermainkan Ki Datujiwa itu tak tampak lagi bayangannya, Pangeran Panji Sigit tertawa. Ia berjongkok dan merangkul Retna Wilis, mengusap rambut anak itu dan berkata,
“Duhai, betapa bangga hatiku mempunyai seorang keponakan seperti engkau, Retna Wilis! Engkau pemberani seperti ibumu. Sungguh pantas menjadi puteri ayunda Endang Patibroto.”
Retna Wilis memandang pangeran itu penuh perhatian. Dia tidak mengenalnya, karena ketika Pangeran Panji Sigit menjadi tawanan ibunya, ia tidak sempat melihatnya. Hatinya senang melihat pemuda yang tampan dan gagah ini, apalagi yang tadi telah menolongnya.
"Namamu tadi Sigit? Engkau telah mengenal ibuku?"
"Tentu saja aku mengenal ibumu, anak manis. Ibumu adalah kakak iparku sendiri. Aku Pangeran Panji Sigit.... “
"Aihhh..... ! Yang dikabarkan tertawan oleh Bibi Setyaningsih? Pangeran Jenggala yang hampir dibunuh itu dan dibela Bibi Setyaningsih? Wah, mengapa ibu hendak membunuhmu? Engkau tampan dan gagah, baik hati pula. Engkau tentu akan memasuki sayembara, bukan? Paman Pangeran, aku akan gembira sekali kalau kau menjadi suami Bibi Setyaningsih!"
"Tidak akan semudah itu, Retna Wilis ....." kata Ki Datujiwa sambil tersenyum.
"Mengalahkan ibumu dalam pertandingan tidak mudah.”
"Aku akan membantu! Aku akan membujuk Bibi Setyaningsih agar mengalah terhadap Paman Pangeran Panji Sigit, dan membujuk ibu agar mengalah terhadap Eyang. Akan tetapi ada syaratnyal"
"Apa syaratnya, Cah-ayu?"
"Kelak Paman harus menemani aku puncak Wilis bersama Bibi Setyaningsih, sampai lima tahun, dan Eyang harus mengajar ilmu pukulan yang hebat tadi kepadaku!" Pangeran Panji Sigit berpikir-plkir, memang ia tidak mempunyai keinginan untuk tergesa-gesa pulang ke Jenggala, karena hal ini hanya akan menimbulkan hal-hal tidak enak baginya. Selama ramandanya berada di bawah kekuasaan Suminten, ia tidak mau pulang dan lebih baik tinggal di puncak Wilis! Maka tanpa ragu-ragu lagi ia mengangguk,
"Baik, aku berjanji memenuhi permintaanmu, Retna."
Juga Ki Datujiwa mengangguk-angguk.
"Apa yang kumiliki belum cukup untuk mengisi dirimu yang memiliki bakat jauh lebih besar, Angger. Akan tetapi sebagai dasar, bolehlah."

<<< Bagian 094                                                                                   Bagian 096 >>>

No comments:

Post a Comment