Kalau Raden Warutama pada saat itu menerjang dan menusukkan kerisnya, tentu akan tewaslah Endang Patibroto. Akan tetapi Warutama meragu, setelah dekat pembaringan, makin hebatlah ia terpesona. Kini tampak makin jelas wajah yang ayu itu, dada yang membusung mengalun halus, mulut yang berbentuk indah itu setengah terbuka dengan bibir yang merah menantang dan di baliknya tampak kilau deretan gigi putih. Kedua kaki Warutama gemetar. Ah, betapa sayangnya kalau dibunuh begitu saja, pikirnya. Ia mulai memutar otak mencari akal agar supaya bisa mendapatkan tubuh yang mebuatnya gandrung ini. Akan tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan, kerisnya masih menodong lambung. Dia harus dibuat tidak berdaya, pikirnya, sehingga aku dapat menggagahinya. Setelah itu, harus membunuhnya. Raden Warutama memang cerdik. Kalau ia hanya menggunakan tali atau kain untuk mengikat kaki tangan Endang Patibroto, tentu ia akan gagal karena sebelum berhasil membelenggu, wanita sakti itu tentu sudah sadar dan celaka-lah dia. Kini Warutama mengangkat tangan kiri dengan jari tangan terbuka, mengukur jarak dan tenaga, mengerahkan aji kesaktiannya, kemudian tangan itu dengan cepat sekali menyambar ke bawah, tepat menghantam tengkuk Endang Patibroto di belakang telinga kanan.
"Ngekk ....! Aauhhhhhh
..... Kedua mata Endang Patibroto terbelalak sekejap ketika pukulan itu
mengenai tengkuknya, mulutnya merintih lirih dan matanya lalu terpejam,
tubuhnya lemas dan ia pingsan. Iblis dan setan tertawa ria menyaksikan hasil
kemenangan kejahatan, puas gembira menyaksikan perbuatan terkutuk yang
dilakukan Raden Wautama di malam jahanam itu. Perbuatan-perbuatan jahanam yang
terkutuk seperti yang dilakukan Raden Warutama masih akan terus merajalela
menguasai hati manusia. Setan-setan dan iblis masih akan terus menguasai
manusia yang berbatin lemah, yang tidak kuasa mengendalikan nafsu-nafsunya dan
yang hanya ingin melampiaskan nafsu yang menjerumuskan mereka ke jalan sesat.
Makin sunyi keadaan di pondok pusat Padepokan Wilis itu karena semua
penjaganya, anak buah Padepokan Wilis masih nyenyak dl bawah pengaruh aji
penyirepan, tidak tahu sama sekali bahwa di padepokan telah terjadi malapetaka
hebat menimpa diri ketua mereka. Sunyi sepi, bahkan kerik jengkerik dan nyanyi
kutu-kutu walang atogo terhenti seolah-olah ikut merasa ngeri dan prihatin atas
terjadlnya perbuatan terkutuk itu. Hanya kadang-kadang saja terdengar suara
menyeramkan burung hantu yang seperti kekeh iblis sendiri beriang gembira
menyaksikan tingkah manusia pengabdi nafsu, seolah-olah binatang yang tidak
mempunyai peradaban lagi. Dan selain kekeh burung hantu itu, dari dalam pondok
terdengar kekeh penuh kepuasan dari mulut Raden Warutama ketika ia melihat
korbannya tergeletak tak berdaya di hadapannya.
Kemudian hanya sunyi, sunyi
yang menyayat hati. Endang Patibroto merintih lirih, menggerakkan kaki
tangannya namun tidak dapat. Kepalanya nanar sekali dan ia merasa heran mengapa
kaki tangannya tak dapat ia gerakkan. Ia membuka mata, cepat memejamkan kembali
karena begitu matanya dibuka, kepalanya makin pening. Ia mengejap-ngejapkan
matanya, kemudian membukanya perlahan-lahan. Dapat dibayangkan betapa kagetnya
ketika ia mendapat kenyataan bahwa kaki tangannya terpentang dan terikat dengan
kainnya sendiri pada kaki pembaringan! Dan Raden Warutama tampak berdiri di
kamar, sedang mengenakan pakaian! Melihat keadaan dirinya yang tak berpakaian
lagi, melihat Raden Warutama, wanita sakti ini seketika maklum apa yang telah
menimpa dirinya. Ia hampir pingsan lagi namun dikuat-kuatkan dirinya.
"Heh-heh, engkau sudah
sadar, manis?" Raden Warutama yang baru selesai berpakaian itu,
membalikkan tubuh, keris bersinar hijau di tangan kanannya, lalu melangkah
maju.
"Sudah tercapai
hasratku memilikimu, Endang Patibroto, dan sekarang bersiaplah untuk
mati!" Sambil berkata demikian, Raden Warutama mengangkat kerisnya, siap
menusuk. Pada saat itu, pada detik yang mengerikan itulah Endang Patibroto
teringat akan wajah pria yang menyeringai di depannya.
“Sindupati......!!” Keris
yang sudah siap menusuk itu terhenti. Wajah Raden Warutama pucat. Akan tetapi
ia lalu tertawa.
"Ha- ha-ha, engkau
mengenalku, Endang Patibroto? Lebih baik lagi, agar engkau tidak mati penasaran
....." Kembali tangan itu menegang.
Tiba-tiba terdengar pekik
melengking keluar dari mulut Endang Patibroto. Itulah Aji Sardulo Bairowo yang
hebat luar biasa. Pekik ini seolah-olah gerengan seribu ekor harimau marah,
menggetarkan seluruh puncak Wilis, membuat pondok seolah-olah hendak roboh.
Dalam kemarahannya dan sakit hati yang meluap-luap, Endang Patibroto memekik,
merenggutkan kaki tangannya dan dalam beberapa detik saja ikatan kaki tangannya
hancur semua.
Raden Warutama atau yang
dahulu bernama Raden Sindupati makin pucat, tubuhnya menggigil dan cepat sekali
ia sudah meloncat keluar pintu kamar itu dan melarikan diri, berlindung pada
kegelapan akhir malam. Endang Patibroto hendak meloncat keluar, namun ia
teringat akan keadaannya yang telanjang bulat. Cepat ia menyambar ke arah
tempat pakaian, mengambil kain dan baju, dikenakannya dengan cepat sekali,
namun betapapun juga, sudah memberi banyak waktu kepada Raden Warutama. Ketika
wanita saktl itu melompat keluar, datanglah berbondong anak buah Padepokan
Wilis. Kiranya pekik sakti Sardulo Bairowo tadi telah membuyarkan aji penyirepan
dan mengagetkan serta membangunkan semua anak buah yang melakukan penjagaan.
Mereka berlarian dan berada dalam keadaan panik karena memang belum pernah
mereka mendengar pekik saktil ketua mereka yang sedemIkian hebatnya.
"Kejar .... ! Cari dia
....! Tangkap atau bunuh Warutama ...!”
"Siapa ....? Dl mana
.....?" Anak buah Padepokan Wilis bingung sendiri.
"Tamu yang semalam
berada di sini!” Endang Patibroto membentak.
"Cepat ke......jar, dia
lari .....!” Ketika para anak buahnya berserabutan lari mencari, Endang
Patibroto sendiri cepat-cepat lari menuju ke taman karena ia teringat akan
puterinya. Dengan beberapa lompatan saja ia sudah tiba di bawah pohon dan ia
berdiri terpaku di situ ketika melihat pohon itu sudah kosong, Retna Wilis
tidak ada lagi tergantung di cabang pohon.
"Anakku ....!!” Endang
Patibroto menjerit. Jerit tertahan dan ia benar-benar terkejut, gelisah,
bingung dan berduka di samping kemarahannya yang makin berkobar. Ia maklum
bahwa dirinya telah tertimpa malapetaka hebat, penghinaan luar biasa yang tiada
taranya, ia telah dibuat pingsan oleh Raden Warutama atau Raden Sindupati musuh
besarnya itu, dan tahu pula bahwa ia telah diperkosa dalam keadaan pingsan.
Malapetaka ini hebat bukan main, akan tetapi lenyapnya Retna Wilis lebih hebat
dan lebih berat lagi rasanya. Bagaikan seorang gila, Endang Patibroto lalu
berlari-lari cepat sekali mencari-cari di seluruh puncak, lalu turun ke
lereng-lereng, ke lembah-lembah. Anak buahnya hanya melihat ketua mereka itu
berkelebatan amat cepatnya, juga di antara para tamu calon pengikut sayembara
di kaki dan lereng bukit, ada yang melihat wanita sakti ini berkelebatan sampai
siang keesokan harinya.
"Anakku....! Retna
Wilis ...... !” Endang Patibroto memanggil-manggil, mencari-cari, diseling caci
makinya,
"Si keparat Sindupati!
Kau tunggu saja, akan kulumatkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi
perutmu!" Dan akhirnya, beberapa anak buah Padepokan Wilis yang ikut
mencari-cari tanpa aturan, menemukan ketua mereka itu menggeletak pingsan di
pinggir jurang. Mereka terkejut sekali dan cepat-cepat mereka lalu mengangkat
tubuh ketua mereka itu, membawa pulang ke puncak dan merawatnya di dalam
pondok.
"Lepaskan aku
....Lepaskan……. !”
Di sepanjang jalan Retna
Wilis meronta-ronta terus, memaki-maki, setiap kali mendapat kesempatan tentu
memukul, mencakar, menjambak, menggigit. Akan tetapi semua itu sia-sia belaka.
Ia berada dalam pondongan dua lengan Ki Kolohangkoro yang kuat dan tubuh
raksasa itu memang kebal. Biarpun sejak kecil sudah digembleng hebat, tenaga seorang
kanak-kanak berusia lima enam tahun saja tentu tidak berarti bagi Ki
Kolohangkoro yang dapat menerima bacokan senjata tajam sambil tertawa enak. Ki
Kolohangkoro sambil tertawa-tawa memperlakukan Ratna Wilis sebagai sebutir buah
delima yang membuatnya mengilar. Dibelainya, diciumnya kepala dan tengkuk anak
itu, dijilati dan kalau tidak berkali-kali dilarang oleh Ni Devil Nilamanik,
tentu sudah digigitnya leher Ratna Wilis, disedotnya darah anak itu sampai
habis, diganyangnya daging yang lunak manis, dihisapnya sumsum dalam tulang
muda yang segar!
Mereka berdua sudah berhasil
menuruni Gunung Wilis, menjauhi kaki Wilis, bahkan pagi hari itu Raden Warutama
sudah pula menyusul mereka, bertemu di tempat yang memang sudah mereka
rundingkan sebelumnya.
"Ha-ha-ha, bagaimana,
Raden? Berhasikah membunuh Endang Patibroto?" bertanya Ki Kolohangkoro
begitu Raden Warutama muncul di dalam hutan di mana keduanya tadi duduk
menanti. Retna Wilis yang mendengar pertanyaan ini menjadi pucat mukanya dan
matanya yang bening terbelalak memandang laki-laki gagah yang baru muncul.
Raden Warutama menggeleng-geleng kepala dan alisnya berkerut. Ia sungguh merasa
tidak puas kepada dirinya sendiri. Mengapa tidak langsung dibunuhnya saja
Endang Patibroto selagi pingsan? Kalau ia melakukan hal itu, tentu sekarang
Endang Patibroto sudah mati dan tidak akan khawatir dan pusing-pusing lagi.
Akan tetapi ia begitu bodoh untuk memuaskan nafsunya dan setelah hal itu
terlaksana, akhirnya ia tidak merasa puas juga, bahkan kecewa. Endang Patibroto
berada dalam keadaan pingsan seperti orang mati, dan sekarang, karena ia
menurutkan nafsu, ia gagal membunuh Endang Patibroto, bahkan menanamkan dendam
dan kebencian luar biasa. Wanita itu telah mengenalnya pula. Mengingat ini,
Raden Warutama bergidik dan diam-diam ia menggigil penuh kengerian. Akan
tetapi, di depan kedua orang itu ia tidak mau memperlihatkan kelemahan hatinya
dan hanya berkata,
"Dia terlampau sakti
untuk dapat dibunuh dengan mudah. Aku gagal, akan tetapi syukur, kalian
berhasil. Kita harus menjadikan puterinya ini sebagai tanggungan agar dia tidak
mencelakai kita.”
"Tadi dia ini sudah
menjadi milikku, Raden! Darah dan dagingnya akan menyempurnakan Kolokroda yang
kulatih.”
"Dan engkau akan mati
tersayat-sayat oleh Endang Patibroto! Jangan bodoh, Ki Kolohangkoro. Dia amat
sakti, sukar dilawan ..”
Ni Dewi Nilamanik menyela.
"Tidak perlu diributkan
hal ini. Kaupun harus bersabar dulu, Kolohangkoro. Yang terpenting adalah
terlaksananya rencana kita terhadap Jenggala. Adapun bocah ini, biar kita minta
pertimbangan sang wasi bagaimana baiknya karena hanya sang wasi yang akan mampu
menandingi Endang Patibroto."
Mereka melanjutkan
perjalanan dan kini Retna Wilis yang sudah yakin bahwa tiga orang ini adalah
musuh-musuh ibunya, menjadi makin keras berusaha untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Kalian
orang-orang biadab! Kalian orang-orang tak tahu malu, pengecut laknat yang
patut mampus seribu kali! Muka kalian begini tebal, beraninya hanya sama anak
kecil! Kalau memang berani, hayo kembalikan aku kepada ibu dan hendak kulihat
berapa jurus kalian bertiga ini sanggup bertahan sebelum mampus di tangan
ibuku!"
"Hem m, bocah ini tajam
lidahnya!" Raden Warutama mencela marah.
"Nyalinya besar, dia
tidak mengenal takut," kata Ni Dewi Nilamanik.
"Dan darahnya tentu
mempunyai kekuatan mujijat, tulangnya bersih..... hah-ha-ha!" dengus Ki
Kolohangkoro yang merasa kecewa mengapa ia belum diperkenankan melahap darah
daging anak.
"Kalian orang-orang
biadab! Lepaskan aku! Lepaskan !" jerit Retna Wilis sambil meronta-ronta
sehingga terpaksa Ki Kolohangkoro membungkam mulut yang kecil itu dengan
telapak tangannya yang lebar.
Akan tetapi terlambat. Jerit
Retna Wilis tadi sudah terdengar orang. Buktinya, terdengar orang berlari ke
arah mereka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali. Pemuda ini
pakaiannya amat indah akan tetapi sudah agak kotor, wajahnya berkulit kuning
bersih, matanya menyorotkan ketajaman luar biasa, dan ia amatlah tampannya
sehingga Ni Dewi Nilamanik yang memandangnya sampai terpesona.
"Hemm, mengapa anak itu
menjerit jerit? Kalian apakan dia?" pemuda itu menegur sambil memandang
kepada Retna Wilis yang dibungkam mulutnya.
"Waaahh, bedes! Mau apa
banyak tanya-tanya? Dia ini anakku, hayo lekas kau minggatl" bentak Ki
Kolohangkoro sambil memelototkan matanya agar pemuda remaja itu menjadi takut.
"Bukan ....dia bohong
....aku bukan anaknya....” Retna Wilis sempat menjerit sebelum Ki Kolohangkoro
mendekap mulutnya.
Pemuda itu segera melompat
ke tengah jalan menghadang, sikapnya keren dan suaranya nyaring ketika ia
berkata,
"Kisanak, aku tidak
mengenal andika bertiga dan aku sama sekali tidak ingin mencampuri urusan orang
lain. Akan tetapi jelas bahwa anak ini kalian bawa di luar kehendaknya, maka
kuharap andika bertiga suka menaruh kasihan kepadanya dan membebaskannya
....!!”
No comments:
Post a Comment