Perawan Lembah Wilis; Bagian 094


Kalau Raden Warutama pada saat itu menerjang dan menusukkan kerisnya, tentu akan tewaslah Endang Patibroto. Akan tetapi Warutama meragu, setelah dekat pembaringan, makin hebatlah ia terpesona. Kini tampak makin jelas wajah yang ayu itu, dada yang membusung mengalun halus, mulut yang berbentuk indah itu setengah terbuka dengan bibir yang merah menantang dan di baliknya tampak kilau deretan gigi putih. Kedua kaki Warutama gemetar. Ah, betapa sayangnya kalau dibunuh begitu saja, pikirnya. Ia mulai memutar otak mencari akal agar supaya bisa mendapatkan tubuh yang mebuatnya gandrung ini. Akan tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan, kerisnya masih menodong lambung. Dia harus dibuat tidak berdaya, pikirnya, sehingga aku dapat menggagahinya. Setelah itu, harus membunuhnya. Raden Warutama memang cerdik. Kalau ia hanya menggunakan tali atau kain untuk mengikat kaki tangan Endang Patibroto, tentu ia akan gagal karena sebelum berhasil membelenggu, wanita sakti itu tentu sudah sadar dan celaka-lah dia. Kini Warutama mengangkat tangan kiri dengan jari tangan terbuka, mengukur jarak dan tenaga, mengerahkan aji kesaktiannya, kemudian tangan itu dengan cepat sekali menyambar ke bawah, tepat menghantam tengkuk Endang Patibroto di belakang telinga kanan.

"Ngekk ....! Aauhhhhhh ..... Kedua mata Endang Patibroto terbelalak sekejap ketika pukulan itu mengenai tengkuknya, mulutnya merintih lirih dan matanya lalu terpejam, tubuhnya lemas dan ia pingsan. Iblis dan setan tertawa ria menyaksikan hasil kemenangan kejahatan, puas gembira menyaksikan perbuatan terkutuk yang dilakukan Raden Wautama di malam jahanam itu. Perbuatan-perbuatan jahanam yang terkutuk seperti yang dilakukan Raden Warutama masih akan terus merajalela menguasai hati manusia. Setan-setan dan iblis masih akan terus menguasai manusia yang berbatin lemah, yang tidak kuasa mengendalikan nafsu-nafsunya dan yang hanya ingin melampiaskan nafsu yang menjerumuskan mereka ke jalan sesat. Makin sunyi keadaan di pondok pusat Padepokan Wilis itu karena semua penjaganya, anak buah Padepokan Wilis masih nyenyak dl bawah pengaruh aji penyirepan, tidak tahu sama sekali bahwa di padepokan telah terjadi malapetaka hebat menimpa diri ketua mereka. Sunyi sepi, bahkan kerik jengkerik dan nyanyi kutu-kutu walang atogo terhenti seolah-olah ikut merasa ngeri dan prihatin atas terjadlnya perbuatan terkutuk itu. Hanya kadang-kadang saja terdengar suara menyeramkan burung hantu yang seperti kekeh iblis sendiri beriang gembira menyaksikan tingkah manusia pengabdi nafsu, seolah-olah binatang yang tidak mempunyai peradaban lagi. Dan selain kekeh burung hantu itu, dari dalam pondok terdengar kekeh penuh kepuasan dari mulut Raden Warutama ketika ia melihat korbannya tergeletak tak berdaya di hadapannya.
Kemudian hanya sunyi, sunyi yang menyayat hati. Endang Patibroto merintih lirih, menggerakkan kaki tangannya namun tidak dapat. Kepalanya nanar sekali dan ia merasa heran mengapa kaki tangannya tak dapat ia gerakkan. Ia membuka mata, cepat memejamkan kembali karena begitu matanya dibuka, kepalanya makin pening. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian membukanya perlahan-lahan. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kaki tangannya terpentang dan terikat dengan kainnya sendiri pada kaki pembaringan! Dan Raden Warutama tampak berdiri di kamar, sedang mengenakan pakaian! Melihat keadaan dirinya yang tak berpakaian lagi, melihat Raden Warutama, wanita sakti ini seketika maklum apa yang telah menimpa dirinya. Ia hampir pingsan lagi namun dikuat-kuatkan dirinya.
"Heh-heh, engkau sudah sadar, manis?" Raden Warutama yang baru selesai berpakaian itu, membalikkan tubuh, keris bersinar hijau di tangan kanannya, lalu melangkah maju.
"Sudah tercapai hasratku memilikimu, Endang Patibroto, dan sekarang bersiaplah untuk mati!" Sambil berkata demikian, Raden Warutama mengangkat kerisnya, siap menusuk. Pada saat itu, pada detik yang mengerikan itulah Endang Patibroto teringat akan wajah pria yang menyeringai di depannya.
“Sindupati......!!” Keris yang sudah siap menusuk itu terhenti. Wajah Raden Warutama pucat. Akan tetapi ia lalu tertawa.
"Ha- ha-ha, engkau mengenalku, Endang Patibroto? Lebih baik lagi, agar engkau tidak mati penasaran ....." Kembali tangan itu menegang.
Tiba-tiba terdengar pekik melengking keluar dari mulut Endang Patibroto. Itulah Aji Sardulo Bairowo yang hebat luar biasa. Pekik ini seolah-olah gerengan seribu ekor harimau marah, menggetarkan seluruh puncak Wilis, membuat pondok seolah-olah hendak roboh. Dalam kemarahannya dan sakit hati yang meluap-luap, Endang Patibroto memekik, merenggutkan kaki tangannya dan dalam beberapa detik saja ikatan kaki tangannya hancur semua.

Raden Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati makin pucat, tubuhnya menggigil dan cepat sekali ia sudah meloncat keluar pintu kamar itu dan melarikan diri, berlindung pada kegelapan akhir malam. Endang Patibroto hendak meloncat keluar, namun ia teringat akan keadaannya yang telanjang bulat. Cepat ia menyambar ke arah tempat pakaian, mengambil kain dan baju, dikenakannya dengan cepat sekali, namun betapapun juga, sudah memberi banyak waktu kepada Raden Warutama. Ketika wanita saktl itu melompat keluar, datanglah berbondong anak buah Padepokan Wilis. Kiranya pekik sakti Sardulo Bairowo tadi telah membuyarkan aji penyirepan dan mengagetkan serta membangunkan semua anak buah yang melakukan penjagaan. Mereka berlarian dan berada dalam keadaan panik karena memang belum pernah mereka mendengar pekik saktil ketua mereka yang sedemIkian hebatnya.
"Kejar .... ! Cari dia ....! Tangkap atau bunuh Warutama ...!”
"Siapa ....? Dl mana .....?" Anak buah Padepokan Wilis bingung sendiri.
"Tamu yang semalam berada di sini!” Endang Patibroto membentak.
"Cepat ke......jar, dia lari .....!” Ketika para anak buahnya berserabutan lari mencari, Endang Patibroto sendiri cepat-cepat lari menuju ke taman karena ia teringat akan puterinya. Dengan beberapa lompatan saja ia sudah tiba di bawah pohon dan ia berdiri terpaku di situ ketika melihat pohon itu sudah kosong, Retna Wilis tidak ada lagi tergantung di cabang pohon.
"Anakku ....!!” Endang Patibroto menjerit. Jerit tertahan dan ia benar-benar terkejut, gelisah, bingung dan berduka di samping kemarahannya yang makin berkobar. Ia maklum bahwa dirinya telah tertimpa malapetaka hebat, penghinaan luar biasa yang tiada taranya, ia telah dibuat pingsan oleh Raden Warutama atau Raden Sindupati musuh besarnya itu, dan tahu pula bahwa ia telah diperkosa dalam keadaan pingsan. Malapetaka ini hebat bukan main, akan tetapi lenyapnya Retna Wilis lebih hebat dan lebih berat lagi rasanya. Bagaikan seorang gila, Endang Patibroto lalu berlari-lari cepat sekali mencari-cari di seluruh puncak, lalu turun ke lereng-lereng, ke lembah-lembah. Anak buahnya hanya melihat ketua mereka itu berkelebatan amat cepatnya, juga di antara para tamu calon pengikut sayembara di kaki dan lereng bukit, ada yang melihat wanita sakti ini berkelebatan sampai siang keesokan harinya.
"Anakku....! Retna Wilis ...... !” Endang Patibroto memanggil-manggil, mencari-cari, diseling caci makinya,
"Si keparat Sindupati! Kau tunggu saja, akan kulumatkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu!" Dan akhirnya, beberapa anak buah Padepokan Wilis yang ikut mencari-cari tanpa aturan, menemukan ketua mereka itu menggeletak pingsan di pinggir jurang. Mereka terkejut sekali dan cepat-cepat mereka lalu mengangkat tubuh ketua mereka itu, membawa pulang ke puncak dan merawatnya di dalam pondok.

"Lepaskan aku ....Lepaskan……. !”
Di sepanjang jalan Retna Wilis meronta-ronta terus, memaki-maki, setiap kali mendapat kesempatan tentu memukul, mencakar, menjambak, menggigit. Akan tetapi semua itu sia-sia belaka. Ia berada dalam pondongan dua lengan Ki Kolohangkoro yang kuat dan tubuh raksasa itu memang kebal. Biarpun sejak kecil sudah digembleng hebat, tenaga seorang kanak-kanak berusia lima enam tahun saja tentu tidak berarti bagi Ki Kolohangkoro yang dapat menerima bacokan senjata tajam sambil tertawa enak. Ki Kolohangkoro sambil tertawa-tawa memperlakukan Ratna Wilis sebagai sebutir buah delima yang membuatnya mengilar. Dibelainya, diciumnya kepala dan tengkuk anak itu, dijilati dan kalau tidak berkali-kali dilarang oleh Ni Devil Nilamanik, tentu sudah digigitnya leher Ratna Wilis, disedotnya darah anak itu sampai habis, diganyangnya daging yang lunak manis, dihisapnya sumsum dalam tulang muda yang segar!
Mereka berdua sudah berhasil menuruni Gunung Wilis, menjauhi kaki Wilis, bahkan pagi hari itu Raden Warutama sudah pula menyusul mereka, bertemu di tempat yang memang sudah mereka rundingkan sebelumnya.
"Ha-ha-ha, bagaimana, Raden? Berhasikah membunuh Endang Patibroto?" bertanya Ki Kolohangkoro begitu Raden Warutama muncul di dalam hutan di mana keduanya tadi duduk menanti. Retna Wilis yang mendengar pertanyaan ini menjadi pucat mukanya dan matanya yang bening terbelalak memandang laki-laki gagah yang baru muncul. Raden Warutama menggeleng-geleng kepala dan alisnya berkerut. Ia sungguh merasa tidak puas kepada dirinya sendiri. Mengapa tidak langsung dibunuhnya saja Endang Patibroto selagi pingsan? Kalau ia melakukan hal itu, tentu sekarang Endang Patibroto sudah mati dan tidak akan khawatir dan pusing-pusing lagi. Akan tetapi ia begitu bodoh untuk memuaskan nafsunya dan setelah hal itu terlaksana, akhirnya ia tidak merasa puas juga, bahkan kecewa. Endang Patibroto berada dalam keadaan pingsan seperti orang mati, dan sekarang, karena ia menurutkan nafsu, ia gagal membunuh Endang Patibroto, bahkan menanamkan dendam dan kebencian luar biasa. Wanita itu telah mengenalnya pula. Mengingat ini, Raden Warutama bergidik dan diam-diam ia menggigil penuh kengerian. Akan tetapi, di depan kedua orang itu ia tidak mau memperlihatkan kelemahan hatinya dan hanya berkata,
"Dia terlampau sakti untuk dapat dibunuh dengan mudah. Aku gagal, akan tetapi syukur, kalian berhasil. Kita harus menjadikan puterinya ini sebagai tanggungan agar dia tidak mencelakai kita.”
"Tadi dia ini sudah menjadi milikku, Raden! Darah dan dagingnya akan menyempurnakan Kolokroda yang kulatih.”
"Dan engkau akan mati tersayat-sayat oleh Endang Patibroto! Jangan bodoh, Ki Kolohangkoro. Dia amat sakti, sukar dilawan ..”
Ni Dewi Nilamanik menyela.
"Tidak perlu diributkan hal ini. Kaupun harus bersabar dulu, Kolohangkoro. Yang terpenting adalah terlaksananya rencana kita terhadap Jenggala. Adapun bocah ini, biar kita minta pertimbangan sang wasi bagaimana baiknya karena hanya sang wasi yang akan mampu menandingi Endang Patibroto."
Mereka melanjutkan perjalanan dan kini Retna Wilis yang sudah yakin bahwa tiga orang ini adalah musuh-musuh ibunya, menjadi makin keras berusaha untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Kalian orang-orang biadab! Kalian orang-orang tak tahu malu, pengecut laknat yang patut mampus seribu kali! Muka kalian begini tebal, beraninya hanya sama anak kecil! Kalau memang berani, hayo kembalikan aku kepada ibu dan hendak kulihat berapa jurus kalian bertiga ini sanggup bertahan sebelum mampus di tangan ibuku!"
"Hem m, bocah ini tajam lidahnya!" Raden Warutama mencela marah.
"Nyalinya besar, dia tidak mengenal takut," kata Ni Dewi Nilamanik.
"Dan darahnya tentu mempunyai kekuatan mujijat, tulangnya bersih..... hah-ha-ha!" dengus Ki Kolohangkoro yang merasa kecewa mengapa ia belum diperkenankan melahap darah daging anak.
"Kalian orang-orang biadab! Lepaskan aku! Lepaskan !" jerit Retna Wilis sambil meronta-ronta sehingga terpaksa Ki Kolohangkoro membungkam mulut yang kecil itu dengan telapak tangannya yang lebar.

Akan tetapi terlambat. Jerit Retna Wilis tadi sudah terdengar orang. Buktinya, terdengar orang berlari ke arah mereka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali. Pemuda ini pakaiannya amat indah akan tetapi sudah agak kotor, wajahnya berkulit kuning bersih, matanya menyorotkan ketajaman luar biasa, dan ia amatlah tampannya sehingga Ni Dewi Nilamanik yang memandangnya sampai terpesona.
"Hemm, mengapa anak itu menjerit jerit? Kalian apakan dia?" pemuda itu menegur sambil memandang kepada Retna Wilis yang dibungkam mulutnya.
"Waaahh, bedes! Mau apa banyak tanya-tanya? Dia ini anakku, hayo lekas kau minggatl" bentak Ki Kolohangkoro sambil memelototkan matanya agar pemuda remaja itu menjadi takut.
"Bukan ....dia bohong ....aku bukan anaknya....” Retna Wilis sempat menjerit sebelum Ki Kolohangkoro mendekap mulutnya.
Pemuda itu segera melompat ke tengah jalan menghadang, sikapnya keren dan suaranya nyaring ketika ia berkata,
"Kisanak, aku tidak mengenal andika bertiga dan aku sama sekali tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi jelas bahwa anak ini kalian bawa di luar kehendaknya, maka kuharap andika bertiga suka menaruh kasihan kepadanya dan membebaskannya ....!!”

<<< Bagian 093                                                                                    Bagian 095 >>>

No comments:

Post a Comment