Perawan Lembah Wilis; Bagian 093


Hati Endang Patibroto tertusuk. Pria ini belum tahu bahwa Retna Wilis bukanlah puteri Pangeran Panjirawit, melainkan puteri Tejolaksono! Akan tetapi ia tidak menyalahkannya, karena memang jarang ada yang mengetahuinya dan iapun tidak perduli. Hanya kini pandangannya terhadap pria ini berubah dan tidak mungkin lagi ia bersikap kasar setelah mengetahui latar belakang sikap orang ini.
"Kalau begitu, ternyata andika bermaksud baik dan biarlah saya menghaturkan terima kasih kepada iktikad baik andika. Andika saya terima sebagai seorang tamu dan sahabat, dan marilah, persilahkan mengaso di pondok kami." Endang Patibroto mengajak tamunya untuk meninggalkan tempat itu menuju ke pondok. Warutama girang sekali, akan tetapi dengan ragu-ragu ia berkata,
"Akan tetapi ....puteri andika” Endang Patibroto tersenyum.
"Biarkan saja. Dia sedang berlatih dan baru akan selesai besok pagi. Sudah biasa dia berlatih begitu. Marilah, Raden Warutama, silahkan."
Raden Warutama menggeleng-geleng kepala penuh kagum.
"Hebat sekali puteri andika, sungguh tidak mengecewakan menjadi cucu buyut mendiang Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna.”
Ibu mana di dunia ini yang tidak akan menjadi senang hatinya mendengar pujian terhadap anaknya? Endang Patibroto senang sekali dan makin suka ia kepada pria yang gagah perkasa dan ramah serta halus budi bahasanya ini. Di dalam pondok, para pelayan lalu mengeluarkan hidangan dan dijamulah Raden Warutama oleh Endang Patibroto, kemudian dipersilahkan ke ruangan dalam di mana mereka berdua lalu bercakap-cakap dengan asyiknya. Dalam percakapan inilah dengan cerdik sekali Raden Warutama menyinggung-nyinggung soal Kerajaan Jenggala.
"Sungguh sayang sekali," demikian katanya sambil lalu,
"usaha baik Sang Prabu Airlangga dirusak oleh penyelewengan puteranya yang menjadi raja di Jenggala. Saya banyak mendengar tentang kekacauan di Jenggala, gara-gara penyelewengan sang prabu yang hanya memikirkan kesenangan diri pribadi saja. Seyogyanya, orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian seperti saya, terutama sekali seorang sakti mandraguna seperti andika, turun tangan dan ikut menyelamatkan keadaan Kerajaan Jenggala yang terancam keruntuhan. Bagaimana pendapat andika?"
Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Dunia ini penuh dengan orang-orang yang saling memperebutkan kedudukan. Memang banyak sekali yang mula-mula didasari iktikad baik, menyelamatkan negara dan rakyat. Akan tetapi sekali mereka sudah mencapai kedudukan tinggi, negara dan rakyat dilupakan, bahkan lebih buruk lagi, negara dan rakyat dipergunakan sebagai modal untuk mencari kesenangan pribadi! Karena itulah, Raden, aku tidak sudi mencampuri urusan kerajaan. Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro tadipun membujukku untuk membantu mereka memusuhi Jenggala, akan tetapi sudah bulat tekad dan pendirianku, aku tidak akan sudi mencampuri urusan Jenggala dan tidak perduli siapa pula yang menang atau kalah, siapa pula yang menjadi raja." Dalam suara wanita sakti ini terdengar jelas oleh Raden Warutama kekerasan yang tak mungkin dapat dibelokkan lagi. Sia-sia belaka menarik Endang Patibroto untuk bersekutu menghadapi Jenggala. Takkan berhasil semua bujukan, maka iapun tidak mau membujuk terus, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto menjadi curiga kepadanya, kemudian tamu ini dipersilahkan mengaso dalam sebuah kamar yang bersih dan indah. Endang Patibroto sendiripun lalu beristirahat di kamarnya. Peristiwa-peristiwa yang dialami tadi membuat ia agak lengah, sejenak melupakannya kepada Retna Wilis yang berlatih seorang diri tanpa penjaga.

Peristiwa yang terjadi itu membuat Endang Patibroto teringat akan semua pengalaman hidupnya yang lalu. Apalagi peristiwa mendatang, yaitu sayembara tanding yang akan terjadi dua hari lagi, membuatnya terkenang akan ibunya, kepada Tejolaksono, dan membuatnya merasa kesunyian dan merana. Benarkah ia sudah begitu hampa perasaan hatinya sehingga ia tidak sudi mencampuri urusan kerajaan maupun urusan orang lain? Ataukah hal ini hanya timbul karena kekosongan hatinya, karena kesunyian hidupnya dan karena kekecewaannya setelah ia gagal mencapai rumah tangga bahagia bersama Tejolaksono yang dikasihinya? Pertanyaan-pertanyaan ini ada dalam hatinya, namun ia sendiri tidak dapat menjawab. Hatinya yang sudah mengeras seperti baja itu mendadak menjadi cair dan tak dapat dikuasainya lagi wanita sakti yang dingin dan keras hati ini menitikkan air mata sehingga membuatnya menjadi lemas dan akhirnya Endang Patibroto tertidur di atas pembaringannya, lupa kepada puterinya. Memang tepatlah kata-kata para cerdik pandai bahwa manusia harus dapat mengatasi pengaruh perasaan. Perasaan apapun, terutama sekali marah, senang, dan susah, dapat menguasai manusia dengan pengaruhnya dengan membuat manusia menjadi lengah dan bahkan buta. Dari perasaan yang meluap tak terkendalikan lagi, muncullah perbuatan-perbuatan yang tidak wajar dan yang akan merugikan diri sendiri. Perasaan yang tak terkendalikan akan membuat pertimbangan akal budi menjadi miring, keteguhan hati menjadi goyah dan kesadaran menjadi lalai. Demikian pula dengan keadaan Endang Patibroto. Ia terpengaruh rasa sedih dan merana sehingga ia menjadi lalai, berkurang kewaspadaannya, tidak sadar bahwa bahaya besar mengancam keluarganya.
Tiga bayangan hitam yang amat gesit berkelebat di antara kegelapan bayang-bayang pohon di dekat pondok. Waktu itu sudah jauh lewat tengah malam, bahkan hampir pagi. Hawa udara amatlah dinginnya dan keadaan amat sunyi, kesunyian yang tidak wajar karena semua penjaga di sekitar pondok itupun ikut pula tertidur di tempat penjagaan. Ini hanya menjadi tanda bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi, bahwa malam itu penuh dengan hawa mujijat aji penyirepan yang dipasang oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama. Kini tiga orang sakti itu telah berkelebat di sekitar pondok. Semua terjadi sesuai dengan rencana dan siasat Raden Warutama. Setelah ia tadi berhasil menjadi tamu Endang Patibroto, dia menyebar sirep dan berhasil menyelinap keluar dari pondok, diam-diam menemui Dewi Nilamanik dan Kolohangkoro, kemudian setelah berunding sebentar, mereka bertiga kembali ke pondok,
"Mari masuk bersama dan mengeroyoknya sampai mampus!" bisik Ki Kolohangkoro yang sudah amat bernafsu untuk membunuh Endang Patibroto yang sore hari tadi telah mengalahkannya.
"Sttt, jangan sembronol" bisik Raden Warutama.
"Turut rencanaku. Anaknya di taman situ, di pohon sore tadi. Kalian tahu harus berbuat apa. Cepat ....!”
"Mari, Kolohangkoro, jangan banyak membantah," kata Ni Dewi Nilamanik.

Rencana tadi telah mereka. rundingkan, yaitu, kedua orang ini akan pergi ke taman untuk menculik Retna Wilis. Adapun Raden Warutama sendiri yang akan memasuki kamar Endang Patibroto, karena andaikata ketahuan oleh wanita sakti itu, akan mudah baginya mencari alasan. Berbeda sekali tentu kalau dua orang bekas lawan Endang Patibroto itu ikut masuk, tentu akan membuka rahasia kalau ketahuan oleh si wanita sakti. Dua orang yang berkelebat cepat seperti setan itu sebentar saja sudah tiba di bawah pohon. Mereka girang sekali, terutama Ki Kolohangkoro, ketika melihat bahwa Retna Wilis masih bergantung di cabang pohon. Diam-diam mereka menjadi amat kagum. Bocah itu menggantung dengan kedua kakinya, kelihatan seperti tidak bernyawa saja, dengan tubuh kelihatan enak dan tidak kaku, seolah-olah tidur dalam keadaan seperti itu merupakan sebuah kenikmatan.
"Biar kutangkap dia!" kata Ki Kolohangkoro tidak sabar. Tanpa menanti jawaban Ni Dewi Nilamanik ia sudah meloncat ke atas, kedua tangannya diulurkan menjangkau tubuh Retna Wilis, hendak mencengkeram dan merenggut tubuh kecil itu terlepas dari batang pohon.
"Aaaggghhh.....!" Tubuh Kr Kolohangkoro yang tinggi besar itu terlempar kembali ke bawah, jatuh berdebuk seperti buah nangka busuk, lalu dia merintih diseling kutuk caci sambil memegangi lehernya. Ternyata bahwa ketika tangannya tadi mencengkeram, tiba-tiba tangan kanan Retna Wilis bergerak dan memukul lehernya. Gerakan yang tiba-tiba dan otomatis. Sungguhpun anak itu masih amat kecil, namun keadaan samadhi berjungkir-balik itu ternyata mendatangkan tenaga ajaib kepadanya, dan pukulannya tadi dilancarkan secara otomatis karena dia telah terganggu samadhinya. Pukulan bukan sembarang pukulan karena itu adalah Aji Wisangnala dan mengandung tenaga mujijat hasil samadhi semalam suntuk. Dan kiranya Ki Kolohanghoro tidak akan mungkin dapat terpukul sedemikian mudahnya kalau ia berhati-hati. Akan tetapi kakek yang sembrono ini tentu saja tadi memandang rendah calon korbannya, seorang anak perempuan yang baru berusia lima enam tahun!
"Itulah hasilnya kalau kau berlaku sembrono!" kata Ni Dewi Nilamanik. Ki Kolohangkoro sudah bangkit lagi dan pada saat itu, tubuh Retna Wilis sudah melayang turun dengan ringannya, bocah ini sudah berdiri berhadapan dengan mereka. Sepasang mata kecil yang bening itu memandang, sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, malah membayangkan kemarahan.
"Kalian ini siapa? Berani benar mengganggu aku yang sedang latihan. Kalau ibu mengetahui tentu kalian akan dibunuh sekarang juga. Eh, di mana ibu?" Anak itu memandang ke kanan kiri, kemudian kembali menghadapi dua orang asing itu, penuh kecurigaan.
"Anak baik, marilah kau ikut bersama kami. Ibumu yang menyuruh kami menyemputmu. Marilahl" kata Ni Dewi Nilamanik sambil mengulurkan tangan, suaranya manis dan ramah.
"Tidak! Tidak! Kalian bukan orang baik-baik! Aku tidak mau!" Retna Wilis mundur-mundur dan kedua tangannya dikepal menjadi tinju-tinju kecil.
"Huah-ha-ha-ha! Kau anak nakal, darahmu tentu manis sekali. Mari ikut bersamaku, kupondong ...“ Ki Kolohangkoro menubruk, Retna Wilis mengelak dari kiri dan memukul. Akan tetapi kali ini tentu saja Ki Kolohangkoro sudah siap. Sekali ia menyambar, ia sudah menangkap tangan kanan Retna Wilis yang memukulnya dan sekali ia membetot, tubuh bocah itu sudah diangkat dan dipeluknya. Namun Retna Wilis bukanlah sembarang anak kecil. Ia tidak merasa takut, malah menggunakan tangan kirinya menusuk dengan jari-jari kecilnya ke arah mata Ki Kolohangkoro!
"Ha-ha-ha, tiada ubahnya seekor anak macan!" Ki Kolohangkoro kembali menangkap lengan kecil itu sehingga kini kedua lengan Retna Wilis berada dalam cengkeraman tangan kirinya. Retna Wilis meronta-ronta dan berusaha menendangkan kedua kakinya, akan tetapi karena tubuhnya kini sudah dikempit, ia tidak lapat bergerak lagi.
"Lepaskan .....Lepaskan aku, engkau setan tua bangka.....!" Kemudian anak ini menggunakan giginya yang kecil-kecil dan kuat untuk menggigit tangan yang mencengkeram kedua lengannya!
"Huah-ha-ha, benar-benar anak setan!" Ki Kolohangkoro tertawa dan tentu saja lengan dan tangannya yang berbulu dan berkulit tebal kuat dan kebal itu tidak terluka oleh gigitan Retna Wilis.
"Hayo cepat kita pergi ....” kata Ni Dewi Nilamanik yang merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau ibu anak ini muncul. Ia sudah merasa jerih untuk menghadapi Endang Patibroto yang selain sakti mandraguna, juga amat liar dan ganas sehingga kalau tahu puterinya diculik tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat menghancurkan kepala mereka! Mereka lalu meloncat dan berlari cepat menuruni puncak.

Sementara itu, dengan jantung berdebar keras, Raden Warutama mengintai dari celah-celah pintu kamar Endang PatIbroto. Ia tidak dapat melihat sesuatu, hanya dapat mendengar tarikan napas yang teratur dan halus, tanda bahwa orang yang berada di dalam kamar tengah tidur nyenyak. Ia sudah mempersiapkan akal kalau-kalau Endang Patibroto terbangun. Setelah menguatkan hatinya, ia mendorong daun pintu kamar. Bau yang harum menyambut hidungnya yang sejuk memasuki kamar melalui lubang-lubang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu. Sebuah lampu kecil bernyala di atas lemari di sudut kamar. Namun pandang mata Raden Warutama melekat pada sesosok tubuh yang membujur terlentang di atas dipan yang bertilam merah muda. Ia terpesona! Endang Patibroto tidur nyenyak di atas dipan itu. Tidak berselimut. Tubuh yang padat itu hanya melawan hawa dingin dengan pakaian yang dipakainya lepas-lepas sehingga sebagian dadanya dan betisnya tampak. Kepalanya terletak miring di atas bantal, lengan kiri melintang di atas dahi, lengan kanan di atas perut yang kempis langsing. Rambutnya terurai kacau, menutupi sebagian muka dan leher, amat hitamnya. Raden Warutama menahan napas. Alangkah indahnya penglihatan ini. Endang Patibroto bukan seorang gadis remaja lagi, bukan pula seorang wanita muda, melainkan seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun. Wanita yang matang! Namun setelah tertidur seperti itu, benar-benar merupakan seorang wanita cantik jelita menggairahkan, seperti Sang Dewi Komaratih sendiri, penuh dengan daya tarik yang sukar dilawan oleh pria yang manapun. Warutama tampak melamun, berulang kali menghela napas, kemudian tangannya bergerak dan tercabutlah sebatang keris yang mengeluarkan sinar hijau, kakinya berindap-indap melangkah maju menghampiri pembaringan. Endang Patibroto benar-benar sedang tidur nyenyak. Kesedihan membuatnya seperti terbius, padahal semua aji penyirepan tadi sama sekali tidak pernah membiusnya. Namun kesedihan merupakan pembius yang amat ampuh sehingga ia masih tidak sadar sama sekali betapa nyawanya terancam maut.

<<< Bagian 092                                                                                    Bagian 094 >>>

No comments:

Post a Comment