Hati Endang Patibroto tertusuk. Pria ini belum tahu bahwa Retna Wilis bukanlah puteri Pangeran Panjirawit, melainkan puteri Tejolaksono! Akan tetapi ia tidak menyalahkannya, karena memang jarang ada yang mengetahuinya dan iapun tidak perduli. Hanya kini pandangannya terhadap pria ini berubah dan tidak mungkin lagi ia bersikap kasar setelah mengetahui latar belakang sikap orang ini.
"Kalau begitu, ternyata
andika bermaksud baik dan biarlah saya menghaturkan terima kasih kepada iktikad
baik andika. Andika saya terima sebagai seorang tamu dan sahabat, dan marilah,
persilahkan mengaso di pondok kami." Endang Patibroto mengajak tamunya
untuk meninggalkan tempat itu menuju ke pondok. Warutama girang sekali, akan
tetapi dengan ragu-ragu ia berkata,
"Akan tetapi ....puteri
andika” Endang Patibroto tersenyum.
"Biarkan saja. Dia
sedang berlatih dan baru akan selesai besok pagi. Sudah biasa dia berlatih
begitu. Marilah, Raden Warutama, silahkan."
Raden Warutama
menggeleng-geleng kepala penuh kagum.
"Hebat sekali puteri
andika, sungguh tidak mengecewakan menjadi cucu buyut mendiang Sang Prabu
Airlangga yang sakti mandraguna.”
Ibu mana di dunia ini yang
tidak akan menjadi senang hatinya mendengar pujian terhadap anaknya? Endang
Patibroto senang sekali dan makin suka ia kepada pria yang gagah perkasa dan
ramah serta halus budi bahasanya ini. Di dalam pondok, para pelayan lalu
mengeluarkan hidangan dan dijamulah Raden Warutama oleh Endang Patibroto,
kemudian dipersilahkan ke ruangan dalam di mana mereka berdua lalu
bercakap-cakap dengan asyiknya. Dalam percakapan inilah dengan cerdik sekali
Raden Warutama menyinggung-nyinggung soal Kerajaan Jenggala.
"Sungguh sayang
sekali," demikian katanya sambil lalu,
"usaha baik Sang Prabu
Airlangga dirusak oleh penyelewengan puteranya yang menjadi raja di Jenggala.
Saya banyak mendengar tentang kekacauan di Jenggala, gara-gara penyelewengan
sang prabu yang hanya memikirkan kesenangan diri pribadi saja. Seyogyanya,
orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian seperti saya, terutama sekali
seorang sakti mandraguna seperti andika, turun tangan dan ikut menyelamatkan
keadaan Kerajaan Jenggala yang terancam keruntuhan. Bagaimana pendapat
andika?"
Endang Patibroto menghela
napas panjang.
"Dunia ini penuh dengan
orang-orang yang saling memperebutkan kedudukan. Memang banyak sekali yang
mula-mula didasari iktikad baik, menyelamatkan negara dan rakyat. Akan tetapi
sekali mereka sudah mencapai kedudukan tinggi, negara dan rakyat dilupakan,
bahkan lebih buruk lagi, negara dan rakyat dipergunakan sebagai modal untuk
mencari kesenangan pribadi! Karena itulah, Raden, aku tidak sudi mencampuri
urusan kerajaan. Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro tadipun membujukku untuk
membantu mereka memusuhi Jenggala, akan tetapi sudah bulat tekad dan
pendirianku, aku tidak akan sudi mencampuri urusan Jenggala dan tidak perduli
siapa pula yang menang atau kalah, siapa pula yang menjadi raja." Dalam
suara wanita sakti ini terdengar jelas oleh Raden Warutama kekerasan yang tak
mungkin dapat dibelokkan lagi. Sia-sia belaka menarik Endang Patibroto untuk
bersekutu menghadapi Jenggala. Takkan berhasil semua bujukan, maka iapun tidak
mau membujuk terus, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto menjadi curiga
kepadanya, kemudian tamu ini dipersilahkan mengaso dalam sebuah kamar yang
bersih dan indah. Endang Patibroto sendiripun lalu beristirahat di kamarnya.
Peristiwa-peristiwa yang dialami tadi membuat ia agak lengah, sejenak
melupakannya kepada Retna Wilis yang berlatih seorang diri tanpa penjaga.
Peristiwa yang terjadi itu
membuat Endang Patibroto teringat akan semua pengalaman hidupnya yang lalu.
Apalagi peristiwa mendatang, yaitu sayembara tanding yang akan terjadi dua hari
lagi, membuatnya terkenang akan ibunya, kepada Tejolaksono, dan membuatnya
merasa kesunyian dan merana. Benarkah ia sudah begitu hampa perasaan hatinya
sehingga ia tidak sudi mencampuri urusan kerajaan maupun urusan orang lain?
Ataukah hal ini hanya timbul karena kekosongan hatinya, karena kesunyian
hidupnya dan karena kekecewaannya setelah ia gagal mencapai rumah tangga
bahagia bersama Tejolaksono yang dikasihinya? Pertanyaan-pertanyaan ini ada
dalam hatinya, namun ia sendiri tidak dapat menjawab. Hatinya yang sudah
mengeras seperti baja itu mendadak menjadi cair dan tak dapat dikuasainya lagi
wanita sakti yang dingin dan keras hati ini menitikkan air mata sehingga
membuatnya menjadi lemas dan akhirnya Endang Patibroto tertidur di atas
pembaringannya, lupa kepada puterinya. Memang tepatlah kata-kata para cerdik
pandai bahwa manusia harus dapat mengatasi pengaruh perasaan. Perasaan apapun,
terutama sekali marah, senang, dan susah, dapat menguasai manusia dengan
pengaruhnya dengan membuat manusia menjadi lengah dan bahkan buta. Dari
perasaan yang meluap tak terkendalikan lagi, muncullah perbuatan-perbuatan yang
tidak wajar dan yang akan merugikan diri sendiri. Perasaan yang tak
terkendalikan akan membuat pertimbangan akal budi menjadi miring, keteguhan
hati menjadi goyah dan kesadaran menjadi lalai. Demikian pula dengan keadaan Endang
Patibroto. Ia terpengaruh rasa sedih dan merana sehingga ia menjadi lalai,
berkurang kewaspadaannya, tidak sadar bahwa bahaya besar mengancam keluarganya.
Tiga bayangan hitam yang
amat gesit berkelebat di antara kegelapan bayang-bayang pohon di dekat pondok.
Waktu itu sudah jauh lewat tengah malam, bahkan hampir pagi. Hawa udara amatlah
dinginnya dan keadaan amat sunyi, kesunyian yang tidak wajar karena semua
penjaga di sekitar pondok itupun ikut pula tertidur di tempat penjagaan. Ini
hanya menjadi tanda bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi, bahwa malam itu
penuh dengan hawa mujijat aji penyirepan yang dipasang oleh Ni Dewi Nilamanik,
Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama. Kini tiga orang sakti itu telah berkelebat
di sekitar pondok. Semua terjadi sesuai dengan rencana dan siasat Raden
Warutama. Setelah ia tadi berhasil menjadi tamu Endang Patibroto, dia menyebar
sirep dan berhasil menyelinap keluar dari pondok, diam-diam menemui Dewi
Nilamanik dan Kolohangkoro, kemudian setelah berunding sebentar, mereka bertiga
kembali ke pondok,
"Mari masuk bersama dan
mengeroyoknya sampai mampus!" bisik Ki Kolohangkoro yang sudah amat
bernafsu untuk membunuh Endang Patibroto yang sore hari tadi telah
mengalahkannya.
"Sttt, jangan
sembronol" bisik Raden Warutama.
"Turut rencanaku.
Anaknya di taman situ, di pohon sore tadi. Kalian tahu harus berbuat apa. Cepat
....!”
"Mari, Kolohangkoro,
jangan banyak membantah," kata Ni Dewi Nilamanik.
Rencana tadi telah mereka.
rundingkan, yaitu, kedua orang ini akan pergi ke taman untuk menculik Retna
Wilis. Adapun Raden Warutama sendiri yang akan memasuki kamar Endang Patibroto,
karena andaikata ketahuan oleh wanita sakti itu, akan mudah baginya mencari
alasan. Berbeda sekali tentu kalau dua orang bekas lawan Endang Patibroto itu
ikut masuk, tentu akan membuka rahasia kalau ketahuan oleh si wanita sakti. Dua
orang yang berkelebat cepat seperti setan itu sebentar saja sudah tiba di bawah
pohon. Mereka girang sekali, terutama Ki Kolohangkoro, ketika melihat bahwa
Retna Wilis masih bergantung di cabang pohon. Diam-diam mereka menjadi amat
kagum. Bocah itu menggantung dengan kedua kakinya, kelihatan seperti tidak
bernyawa saja, dengan tubuh kelihatan enak dan tidak kaku, seolah-olah tidur
dalam keadaan seperti itu merupakan sebuah kenikmatan.
"Biar kutangkap
dia!" kata Ki Kolohangkoro tidak sabar. Tanpa menanti jawaban Ni Dewi
Nilamanik ia sudah meloncat ke atas, kedua tangannya diulurkan menjangkau tubuh
Retna Wilis, hendak mencengkeram dan merenggut tubuh kecil itu terlepas dari batang
pohon.
"Aaaggghhh.....!"
Tubuh Kr Kolohangkoro yang tinggi besar itu terlempar kembali ke bawah, jatuh
berdebuk seperti buah nangka busuk, lalu dia merintih diseling kutuk caci
sambil memegangi lehernya. Ternyata bahwa ketika tangannya tadi mencengkeram,
tiba-tiba tangan kanan Retna Wilis bergerak dan memukul lehernya. Gerakan yang
tiba-tiba dan otomatis. Sungguhpun anak itu masih amat kecil, namun keadaan
samadhi berjungkir-balik itu ternyata mendatangkan tenaga ajaib kepadanya, dan
pukulannya tadi dilancarkan secara otomatis karena dia telah terganggu
samadhinya. Pukulan bukan sembarang pukulan karena itu adalah Aji Wisangnala
dan mengandung tenaga mujijat hasil samadhi semalam suntuk. Dan kiranya Ki
Kolohanghoro tidak akan mungkin dapat terpukul sedemikian mudahnya kalau ia
berhati-hati. Akan tetapi kakek yang sembrono ini tentu saja tadi memandang
rendah calon korbannya, seorang anak perempuan yang baru berusia lima enam
tahun!
"Itulah hasilnya kalau
kau berlaku sembrono!" kata Ni Dewi Nilamanik. Ki Kolohangkoro sudah
bangkit lagi dan pada saat itu, tubuh Retna Wilis sudah melayang turun dengan
ringannya, bocah ini sudah berdiri berhadapan dengan mereka. Sepasang mata
kecil yang bening itu memandang, sedikitpun tidak membayangkan rasa takut,
malah membayangkan kemarahan.
"Kalian ini siapa?
Berani benar mengganggu aku yang sedang latihan. Kalau ibu mengetahui tentu
kalian akan dibunuh sekarang juga. Eh, di mana ibu?" Anak itu memandang ke
kanan kiri, kemudian kembali menghadapi dua orang asing itu, penuh kecurigaan.
"Anak baik, marilah kau
ikut bersama kami. Ibumu yang menyuruh kami menyemputmu. Marilahl" kata Ni
Dewi Nilamanik sambil mengulurkan tangan, suaranya manis dan ramah.
"Tidak! Tidak! Kalian
bukan orang baik-baik! Aku tidak mau!" Retna Wilis mundur-mundur dan kedua
tangannya dikepal menjadi tinju-tinju kecil.
"Huah-ha-ha-ha! Kau
anak nakal, darahmu tentu manis sekali. Mari ikut bersamaku, kupondong ...“ Ki
Kolohangkoro menubruk, Retna Wilis mengelak dari kiri dan memukul. Akan tetapi
kali ini tentu saja Ki Kolohangkoro sudah siap. Sekali ia menyambar, ia sudah
menangkap tangan kanan Retna Wilis yang memukulnya dan sekali ia membetot,
tubuh bocah itu sudah diangkat dan dipeluknya. Namun Retna Wilis bukanlah
sembarang anak kecil. Ia tidak merasa takut, malah menggunakan tangan kirinya
menusuk dengan jari-jari kecilnya ke arah mata Ki Kolohangkoro!
"Ha-ha-ha, tiada
ubahnya seekor anak macan!" Ki Kolohangkoro kembali menangkap lengan kecil
itu sehingga kini kedua lengan Retna Wilis berada dalam cengkeraman tangan
kirinya. Retna Wilis meronta-ronta dan berusaha menendangkan kedua kakinya,
akan tetapi karena tubuhnya kini sudah dikempit, ia tidak lapat bergerak lagi.
"Lepaskan .....Lepaskan
aku, engkau setan tua bangka.....!" Kemudian anak ini menggunakan giginya
yang kecil-kecil dan kuat untuk menggigit tangan yang mencengkeram kedua
lengannya!
"Huah-ha-ha,
benar-benar anak setan!" Ki Kolohangkoro tertawa dan tentu saja lengan dan
tangannya yang berbulu dan berkulit tebal kuat dan kebal itu tidak terluka oleh
gigitan Retna Wilis.
"Hayo cepat kita pergi
....” kata Ni Dewi Nilamanik yang merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau ibu
anak ini muncul. Ia sudah merasa jerih untuk menghadapi Endang Patibroto yang
selain sakti mandraguna, juga amat liar dan ganas sehingga kalau tahu puterinya
diculik tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat menghancurkan kepala
mereka! Mereka lalu meloncat dan berlari cepat menuruni puncak.
Sementara itu,
dengan jantung berdebar keras, Raden Warutama mengintai dari celah-celah pintu
kamar Endang PatIbroto. Ia tidak dapat melihat sesuatu, hanya dapat mendengar
tarikan napas yang teratur dan halus, tanda bahwa orang yang berada di dalam
kamar tengah tidur nyenyak. Ia sudah mempersiapkan akal kalau-kalau Endang
Patibroto terbangun. Setelah menguatkan hatinya, ia mendorong daun pintu kamar.
Bau yang harum menyambut hidungnya yang sejuk memasuki kamar melalui
lubang-lubang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu. Sebuah lampu kecil
bernyala di atas lemari di sudut kamar. Namun pandang mata Raden Warutama
melekat pada sesosok tubuh yang membujur terlentang di atas dipan yang bertilam
merah muda. Ia terpesona! Endang Patibroto tidur nyenyak di atas dipan itu.
Tidak berselimut. Tubuh yang padat itu hanya melawan hawa dingin dengan pakaian
yang dipakainya lepas-lepas sehingga sebagian dadanya dan betisnya tampak.
Kepalanya terletak miring di atas bantal, lengan kiri melintang di atas dahi,
lengan kanan di atas perut yang kempis langsing. Rambutnya terurai kacau,
menutupi sebagian muka dan leher, amat hitamnya. Raden Warutama menahan napas.
Alangkah indahnya penglihatan ini. Endang Patibroto bukan seorang gadis remaja
lagi, bukan pula seorang wanita muda, melainkan seorang wanita yang usianya
sudah tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun. Wanita yang matang! Namun
setelah tertidur seperti itu, benar-benar merupakan seorang wanita cantik
jelita menggairahkan, seperti Sang Dewi Komaratih sendiri, penuh dengan daya
tarik yang sukar dilawan oleh pria yang manapun. Warutama tampak melamun,
berulang kali menghela napas, kemudian tangannya bergerak dan tercabutlah
sebatang keris yang mengeluarkan sinar hijau, kakinya berindap-indap melangkah
maju menghampiri pembaringan. Endang Patibroto benar-benar sedang tidur
nyenyak. Kesedihan membuatnya seperti terbius, padahal semua aji penyirepan
tadi sama sekali tidak pernah membiusnya. Namun kesedihan merupakan pembius
yang amat ampuh sehingga ia masih tidak sadar sama sekali betapa nyawanya
terancam maut.
No comments:
Post a Comment