Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik menghentikan bujukannya karena melihat betapa Endang Patibroto menggeleng kepala dengan gerakan yang tegas, kemudian terdengar suaranya yang dingin,
"Tidak, aku tidak dapat
menerima ajakan andika. Aku tidak sudi mengikatkan diri dengan persoalan luar,
di luar dari Padepokan Wills. Kedatangan andika berdua sia-sia kalau hanya
untuk maksud itu. Soal ini tidak perlu dilanjutkan lagi, tidak perlu
dibicarakan dan kuharap andika berdua suka meninggalkan tempat ini."
Ucapan ini sudah jelas,
tegas dan singkat yang berarti penolakan penuh untuk bekerja sama! Baik Ni Dewi
Nilamanik maupun Ki Kolohangkoro maklum bahwa membujuk wanita dingin ini tidak
akan ada gunanya lagi. Ki Kolohangkoro meloncat bangun dan berkata sambil
tertawa,
"Ha-ha-ha, Bunda Dewi,
sudah kukatakan bahwa percuma saja mengajak bicara! Eh, Endang Patibroto, soal
kerja sama tidak perlu kita bicarakan lagi, akan tetapi setelah tiba di
depanmu, aku Ki Kolohangkoro tidak akan merasa puas kalau belum mencoba sampai
di mana kedigdayaanmu sehingga engkau berani bersikap begini sombong dan dingin
terhadap kami berdua!"
Endang Patibroto mengerling
ke arah Ni Dewi Nilamanik, bibirnya bergerak dan terdengarlah pertanyannya,
tenang dan dingin,
"Apakah begini pula
pendirianmu?"
Ni Dewi Nilamanik tak dapat
menghindari lagi, maka sambil tersenyum mengejek ia mencabut kebutannya dan
bangkit berdiri,
"Begitulah, Endang
Patibroto. Kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Tidak berhasil bekerja
sama, setidaknya kami ingin menguji sampai di mana kepandaianmu!"
Tiba-tiba terdengar
bentakan-bentakan keras dan muncullah tiga orang tinggi besar diikuti oleh
belasan orang. Mereka muncul dari dalam gelap, seperti iblis-iblis hutan.
"Tidak perlu paduka
yang bergerak, Gusti Puteri. Biarkan hamba menghancurkan kepala dua orang
kurang ajar ini!"
Endang Patibroto memandang
mereka dengan kening berkerut.
"Kakang Limanwilis,
Lembuwilis, dan Nogowilis. Mundurlah kalian dan bawa saudara-saudara kita pergi
dari sini. Biarkan aku sendiri menghadapi dua orang tamuku. Perkuat penjagaan
dan aku tidak memerlukan bantuan kalian di sini. Tak seorangpun boleh turun
tangan, bahkan tidak boleh masuk taman. Mengerti?"
Tiga orang laki-laki tinggi
besar itu memberi hormat dan sekali berkelebat belasan orang itu lenyap di
dalam gelap. Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro diam-diam
menjadi lega hatinya. Akan tetapi mereka tersenyum mengejek lalu berkatalah Ki
Kolohangkoro,
"Mengapa mereka disuruh
pergi, Endang Patibroto? Biarkan mereka mengeroyok kami agar enak aku membabat!
mereka. Ha-ha-ha!"
"Hemm, kalian menantang
aku seorang. Apa kamu kira aku takut, Kolohangkoro? Biar ada sepuluh orang
lawan macam kalian, aku tidak akan undur selangkah! Majulah kalian kalau sudah
bosan hidup."
"Babo-babo.... sumbarmu
seperti dapat memecahkan Gunung Mahameru! Endang Patibroto, biarpun andika
telah berhasil menewaskan .....eh, banyak orang sakti, jangan memandang ringan
Ki Kolohangkoro!" teriak Ki Kolohangkoro yang masih sempat menahan diri
dan tidak menyebut-nyebut nama Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko yang
sudah hampir terluncur keluar dari mulutnya tadi.
"Terserah bagaimana
wawasanmu," jawab Endang Patibroto dengan suara dingin dan sikap tenang
memandang rendah,
"kalau kalian berani
dan menantangku, majulah. Kalau tidak, minggatlah dari sini jangan banyak
tingkah lagi!"
"Phuaaahhh,
sombongnya!" bentak Ki Kolohangkoro, agak tertegun karena belum pernah
selama hidupnya ada orang berani memandang rendah kepadanya seperti sikap dan kata-kata
wanita tokoh Padepokan Wills ini.
Juga Ni Dewi Nilamanik
menjadi merah telinganya. Ia mendenguskan napas dari hidungnya,
menggerak-gerakkan pengebut di depan dada lalu berkata,
"Tajam sekali lidahmu,
Endang Patibroto! Ingin aku melihat apakah kepandaianmu juga sehebat
mulutmu!" Baru saja habis kata-kata ini keluar dari mulut Ni Dewi
Nilamanik, tokoh pemuja Bathari Durga ini sudah menerjang maju. Cepat bukan
main gerakannya ketika ia meloncat, tahu-tahu sudah berada di depan Endang
Patibroto dan kebutannya menyambar ke arah leher, sebuah pukulan maut yang
mendatangkan angin pukulan panas!
"Wuuuuutttt ....
plakkkk ....!!”
"Aihhh ......!" Ni
Dewi Nilamanik merintih perlahan dan terhuyung mundur.
Ketika ujung kebutannya tadi
menyambar, Endang Patibroto diam saja dengan tenang. Baru setelah ujung kebutan
hampir menyentuh lehernya, secara tiba-tiba ia mengelak dan tangan kirinya
dengan jari terbuka mengirim pukulan bawah mengarah perut Ni Dewi Nilamanik!
lnilah gerak tipu yang amat, hebat dan amat curang, sesuai dengan ilmu tata
kelahi kaum sesat dan yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Ni
Dewi Nilamanik. Begitu melihat perutnya terancam pukulan maut yang tak mungkin
dapat ia tahan, Ni Dewi Nilamanik cepat menggerakkan tangannya pula menerima
dorongan telapak tangan lawan yang ampuh itu dengan telapak tangannya sendiri.
Akibatnya, ia terhuyung mundur, wajahnya pucat, isi dadanya seperti
ditusuk-tusuk pisau dingin dan ia merintih. Akan tetapi tentu saja Ni Dewi
Nilamanik yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi itu tidak dapat
dirobohkan hanya dengan pertemuan telapak tangan. Karena merasa kalah dalam
segebrakan, Ni Dewi Nilamanik menjadi marah bukan main, tubuhnya sampai
menggigil. Pada saat itu, Ki Kolohangkoro sudah maju pula menubruk,
menggerakkan senjata nenggala menghunjam ke arah pelipis kiri Endang Patibroto,
disusul dengan kepalan tangan kirinya yang sebesar buah kelapa itu menghantam
dada lawan.
"Hemmm i" Endang
Patibroto hanya mendengus pendek, tubuhnya berkelebat ke belakang, sengaja
memperlambat gerakannya sehingga kedua serangan itu hampir mengenainya dan
membesaran hati Ki Kolohangkoro yang cepat mengejar ke depan. Inilah yang
diharapkan Endang Patibroto. Tubuhnya tadinya agak terhuyung, akan tetapi
begitu melihat gerakan lawan mengejar maju, tiba-tiba sekali kakinya bergerak
dengan kecepatan yang tak dapat diduga sebelumnya, tahu-tahu kedua kakinya
sudah melakukan tendangan berantai mengarah bawah pusar Ki Kolohangkoro, bagian
paling lemah bagi seorang pria!
"Ougghhhh .....!!"
Ki Kolohangkoro terkejut setengah mati. Tubuhnya sudah condong ke depan, maka
secepat kilat mengenjotkan kakinya meloncat mundur. Ia terbebas daripada bahaya
maut, akan tetapi tidak cukup cepat untuk menghindarkan diri sama sekali dari
tendangan berantai.
"Trokkkk!!"
"Aduhhh ...tohobaatt
....!" Ki Kolohangkoro yang meloncat mundur masih kena disambar tulang
keringnya oleh tendangan Endang Patibroto. Biarpun ia bertubuh kebal, akan
tetapi tulang keringnya serasa remuk-remuk, sumsum di dalamnya rontok,
kiut-miut nyerinya sampai menusuk ulu hati. Ia berjingkrak-jingkrak mengangkat
kaki yang tertendang dan mengelus-elus tulang kering yang tampak membiru.
Setelah rasa nyeri agak mengendur, ia menjadi marah, matanya terbelalak sebesar
jengkol, mukanya merah seperti yuyu dipanggang.
Seperti dikomando saja, Ni
Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro lalu menyerbu ke depan, senjata nenggala
berseling dengan kebutan merah, merupakan cakar-cakar maut yang hendak merenggut
nyawa Endang Patibroto. Wanita perkasa ini cukup maklum bahwa ia menghadapi
lawan-lawan berat. Kalau satu lawan satu, dalam waktu pendek ia masih akan
sanggup merobohkan lawan. Akan tetapi setelah mereka maju berdua, ia tidak mau
bersikap sembrono dan menghadapi senjata-senjata dengan tangan kosong lagi.
"Cattt ... catttt...
!!"
Dua sinar menyambar ke arah
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang menjadi terkejut dan cepat
menggunakan senjata menyampok runtuh dua batang anak panah tangan itu. Akan tetapi
alangkah terkejut hati dua orang ini ketika melihat tubuh Endang Patibroto
sudah menyambar ke depan, sebatang keris luk tujuh menusuk ke arah dada Ki
Kolohangkoro sedangkan tangan kiri wanita sakti ini menampar ke arah muka Ni
Dewi Nilamanik. Demikian ganas dan dahsyat serangan itu sehingga sukar bagi
kedua orang lawannya untuk mengelak lagi. Ki Kolohangkoro menangkis keris
dengan senjata nenggalanya, adapun Ni Dewi Nilamanik menangkis sambil
menyabetkan kebutan ke arah tangan kiri yang menghantamnya.
"Tranggg ....” Bunga
api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu. Ujung kebutan yang menangkis,
dapat dicengkeram oleh Endang Patibroto, lalu dihentakkan ke kiri. Akibatnya,
tubuh Ni Dewi Nilamanik terhuyung dan hampir terbanting ke kiri, sedangkan tubuh
Ki Kolohangkoro terjengkang ke belakang saking hebatnya tenaga yang tersalur
melalui keris. Keadaan dua orang itu dalam bahaya karena posisi mereka yang
terhuyung itu dalam keadaan terbuka. Kalau saja Endang Patibroto melanjutkan
serangan dengan susulan, tentu mereka akan celaka. Akan tetapi pada saat itu,
tampak bayangan berkelebat cepat disusul bentakan,
"Sungguh tak tahu diri
berani mengacau puncak Wilis!" Bayangan itu bukan lain Raden Warutama yang
sudah mendahului Endang Patibroto, menerjang ke arah dua orang itu dengan
gerakannya yang cepat seperti burung menyambar. Dua kali kakinya menendang dan
.... tubuh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik terkena tendangan sampai roboh
bergulingan. Namun kedua orang ini bergulingan sampai jauh dan terus melompat,
melarikan diri!
Saking heran dan kagetnya,
Endang Patibroto berdiri memandang laki-laki itu, tidak memperdulikan larinya
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Memang ia tidak ingin bermusuhan dengan
mereka. Ia heran dan kaget melihat betapa laki-laki ini sekali serang saja
berhasil menendang roboh kedua orang yang ia tahu bukan orang-orang lemah itu.
Alangkah sigap dan cepatnya. Tentu bukan sembarang orang, pikirnya sambil
menentang wajah yang gagah dan tampan itu. Jantungnya berdebar dan otaknya
diperas untuk mengingat-ingat. Ia merasa pernah mengenal, pernah melihat orang
ini, atau orang yang mirip dengan pria ini. Hatinya tidak senang seperti telah
menjadi wataknya, bahwa ia tadi dibantu dalam perkelahian, akan tetapi setelah
kini menjadi seorang pemimpin padepokan, Endang Patibroto cukup dapat menahan
perasaannya dan dengan sikap angker ia bertanya,
"Andika ini siapakah
dan siapakah pula yang memperkenankan andika datang ke puncak dan mencampuri
urusanku, tanpa diminta membantuku? Apakah andika mengira bahwa aku jerih
melawan kedua orang itu dan bahwa hanya andika yang memiliki kedigdayaan
sehingga perlu mengalahkan mereka?" Raden Warutama tersenyum, wajahnya
yang tampan membayangkan kesabaran dan keramahan, kemudian ia membungkuk penuh
hormat sambil berkata,
"Mohon maaf sebesarnya
atas kelancangan saya berani melanggar wilayah kekuasaan andika yang saya telah
dengar adalah ketua Padepokan Wilis yang sakti mandraguna, dan bukan
sekali-kali pula saya merendahkan kesaktian andika. Akan tetapi karena saya menaruh
rasa curiga terhadap kedua orang itu yang saya jumpai di lereng, maka diam-diam
saya mengikuti mereka ke sini dan melihat kekurangajaran mereka, saya sampai
lupa diri dan menyerang mereka. Sekali lagi, mohon maaf dan baiklah saya
memperkenalkan diri. Saya adalah Raden Warutama dari Bali-dwipa."
Endang Patibroto mengerutkan
keningnya. Siapapun adanya pria ini, merupakan hal yang tidak menyenangkan
hatinya kalau ada orang berani naik ke puncak begitu saja, dengan alasan apapun
juga dan mengganggu puterinya yang sedang berlatih keras. Ia melirik ke atas
dan melihat bayangan anaknya masih tergantung di pohon. Malam mulai tiba dan
keadaan mulai gelap.
"Apakah kedatangan
andika ke Wilis ada hubungannya dengan sayembara tanding yang kami adakan besok
lusa?"
"Memang sebenarnyalah,
karena mendengar tentang sayembara tanding itu maka saya datang ke Wills."
"Kalau andika datang
untuk itu, mengapa tidak menanti di kaki Wilis seperti orang-orang lain?"
"Maaf, sudah saya
ceritakan sebabnya. Pula, kedatangan saya tidak ingin memasuki sayembara
tanding."
"Habis, untuk
apa?"
Raden Warutama tersenyum
lebar.
"Terus terang saja saya
katakan bahwa saya harus mengawasi dan melindungi andika sekeluarga. Ketahuilah
bahwa saya masih terhitung anak keponakan dari mendiang Sang Sakti
Narotama."
Diam-diam Endang Patibroto
terkejut. Memang dia sudah tahu bahwa baik Sang Prabu Airlangga maupun Ki Patih
Narotama adalah orang-orang dari Bali-dwipa. Hal-hal mengenai raja dan patihnya
yang sakti itu banyak ia dengar dahulu dari suaminya, yaitu mendiang Pangeran
Panjirawit yang terhitung cucu Sang Prabu Airlangga. Jadi pria ini adalah
keponakan Ki Patih Narotama yang sakti? Pantas saja gerakan-gerakannya tadi
hebat. Berkuranglah kemarahannya, akan tetapi ia masih mendesak,
"Apa hubungannya itu
dengan kami?"
Warutama kelihatan tertegun,
akan tetapi kemudian ia menjawab tenang,
"Mungkin bagi andika
tidak ada hubungannya, akan tetapi bagi saya amatlah penting artinya. Hendaknya
diketahui bahwa kami keturunan Sang Sakti Narotama adalah orang-orang yang
mementingkan arti kata setia terhadap raja. Sayapun mengikuti jejak Sang
Narotama yang amat setia terhadap Sang Prabu Airlangga. Andika adalah cucu
mantu Sang Prabu Airlangga. Biarpun sekarang telah menjadi janda, akan tetapi
puteri andika itu.... " Ia menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Retna
Wilis yang menggantung,
"adalah keturunan Sang
Prabu Airlangga. Tentu saja andika dan puteri andika harus saya lindungi sekuat
tenaga saya. Demikianlah sebabnya, begitu mendengar bahwa andika membuka sayembara
tanding untuk memilihkan jodoh adik kandung andika, saya langsung mengunjungi
Wilis."
No comments:
Post a Comment