Perawan Lembah Wilis; Bagian 092


Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik menghentikan bujukannya karena melihat betapa Endang Patibroto menggeleng kepala dengan gerakan yang tegas, kemudian terdengar suaranya yang dingin,
"Tidak, aku tidak dapat menerima ajakan andika. Aku tidak sudi mengikatkan diri dengan persoalan luar, di luar dari Padepokan Wills. Kedatangan andika berdua sia-sia kalau hanya untuk maksud itu. Soal ini tidak perlu dilanjutkan lagi, tidak perlu dibicarakan dan kuharap andika berdua suka meninggalkan tempat ini."
Ucapan ini sudah jelas, tegas dan singkat yang berarti penolakan penuh untuk bekerja sama! Baik Ni Dewi Nilamanik maupun Ki Kolohangkoro maklum bahwa membujuk wanita dingin ini tidak akan ada gunanya lagi. Ki Kolohangkoro meloncat bangun dan berkata sambil tertawa,
"Ha-ha-ha, Bunda Dewi, sudah kukatakan bahwa percuma saja mengajak bicara! Eh, Endang Patibroto, soal kerja sama tidak perlu kita bicarakan lagi, akan tetapi setelah tiba di depanmu, aku Ki Kolohangkoro tidak akan merasa puas kalau belum mencoba sampai di mana kedigdayaanmu sehingga engkau berani bersikap begini sombong dan dingin terhadap kami berdua!"
Endang Patibroto mengerling ke arah Ni Dewi Nilamanik, bibirnya bergerak dan terdengarlah pertanyannya, tenang dan dingin,
"Apakah begini pula pendirianmu?"
Ni Dewi Nilamanik tak dapat menghindari lagi, maka sambil tersenyum mengejek ia mencabut kebutannya dan bangkit berdiri,
"Begitulah, Endang Patibroto. Kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Tidak berhasil bekerja sama, setidaknya kami ingin menguji sampai di mana kepandaianmu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan muncullah tiga orang tinggi besar diikuti oleh belasan orang. Mereka muncul dari dalam gelap, seperti iblis-iblis hutan.
"Tidak perlu paduka yang bergerak, Gusti Puteri. Biarkan hamba menghancurkan kepala dua orang kurang ajar ini!"
Endang Patibroto memandang mereka dengan kening berkerut.
"Kakang Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis. Mundurlah kalian dan bawa saudara-saudara kita pergi dari sini. Biarkan aku sendiri menghadapi dua orang tamuku. Perkuat penjagaan dan aku tidak memerlukan bantuan kalian di sini. Tak seorangpun boleh turun tangan, bahkan tidak boleh masuk taman. Mengerti?"
Tiga orang laki-laki tinggi besar itu memberi hormat dan sekali berkelebat belasan orang itu lenyap di dalam gelap. Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro diam-diam menjadi lega hatinya. Akan tetapi mereka tersenyum mengejek lalu berkatalah Ki Kolohangkoro,
"Mengapa mereka disuruh pergi, Endang Patibroto? Biarkan mereka mengeroyok kami agar enak aku membabat! mereka. Ha-ha-ha!"
"Hemm, kalian menantang aku seorang. Apa kamu kira aku takut, Kolohangkoro? Biar ada sepuluh orang lawan macam kalian, aku tidak akan undur selangkah! Majulah kalian kalau sudah bosan hidup."
"Babo-babo.... sumbarmu seperti dapat memecahkan Gunung Mahameru! Endang Patibroto, biarpun andika telah berhasil menewaskan .....eh, banyak orang sakti, jangan memandang ringan Ki Kolohangkoro!" teriak Ki Kolohangkoro yang masih sempat menahan diri dan tidak menyebut-nyebut nama Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko yang sudah hampir terluncur keluar dari mulutnya tadi.
"Terserah bagaimana wawasanmu," jawab Endang Patibroto dengan suara dingin dan sikap tenang memandang rendah,
"kalau kalian berani dan menantangku, majulah. Kalau tidak, minggatlah dari sini jangan banyak tingkah lagi!"
"Phuaaahhh, sombongnya!" bentak Ki Kolohangkoro, agak tertegun karena belum pernah selama hidupnya ada orang berani memandang rendah kepadanya seperti sikap dan kata-kata wanita tokoh Padepokan Wills ini.

Juga Ni Dewi Nilamanik menjadi merah telinganya. Ia mendenguskan napas dari hidungnya, menggerak-gerakkan pengebut di depan dada lalu berkata,
"Tajam sekali lidahmu, Endang Patibroto! Ingin aku melihat apakah kepandaianmu juga sehebat mulutmu!" Baru saja habis kata-kata ini keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, tokoh pemuja Bathari Durga ini sudah menerjang maju. Cepat bukan main gerakannya ketika ia meloncat, tahu-tahu sudah berada di depan Endang Patibroto dan kebutannya menyambar ke arah leher, sebuah pukulan maut yang mendatangkan angin pukulan panas!
"Wuuuuutttt .... plakkkk ....!!”
"Aihhh ......!" Ni Dewi Nilamanik merintih perlahan dan terhuyung mundur.
Ketika ujung kebutannya tadi menyambar, Endang Patibroto diam saja dengan tenang. Baru setelah ujung kebutan hampir menyentuh lehernya, secara tiba-tiba ia mengelak dan tangan kirinya dengan jari terbuka mengirim pukulan bawah mengarah perut Ni Dewi Nilamanik! lnilah gerak tipu yang amat, hebat dan amat curang, sesuai dengan ilmu tata kelahi kaum sesat dan yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Ni Dewi Nilamanik. Begitu melihat perutnya terancam pukulan maut yang tak mungkin dapat ia tahan, Ni Dewi Nilamanik cepat menggerakkan tangannya pula menerima dorongan telapak tangan lawan yang ampuh itu dengan telapak tangannya sendiri. Akibatnya, ia terhuyung mundur, wajahnya pucat, isi dadanya seperti ditusuk-tusuk pisau dingin dan ia merintih. Akan tetapi tentu saja Ni Dewi Nilamanik yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi itu tidak dapat dirobohkan hanya dengan pertemuan telapak tangan. Karena merasa kalah dalam segebrakan, Ni Dewi Nilamanik menjadi marah bukan main, tubuhnya sampai menggigil. Pada saat itu, Ki Kolohangkoro sudah maju pula menubruk, menggerakkan senjata nenggala menghunjam ke arah pelipis kiri Endang Patibroto, disusul dengan kepalan tangan kirinya yang sebesar buah kelapa itu menghantam dada lawan.
"Hemmm i" Endang Patibroto hanya mendengus pendek, tubuhnya berkelebat ke belakang, sengaja memperlambat gerakannya sehingga kedua serangan itu hampir mengenainya dan membesaran hati Ki Kolohangkoro yang cepat mengejar ke depan. Inilah yang diharapkan Endang Patibroto. Tubuhnya tadinya agak terhuyung, akan tetapi begitu melihat gerakan lawan mengejar maju, tiba-tiba sekali kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diduga sebelumnya, tahu-tahu kedua kakinya sudah melakukan tendangan berantai mengarah bawah pusar Ki Kolohangkoro, bagian paling lemah bagi seorang pria!
"Ougghhhh .....!!" Ki Kolohangkoro terkejut setengah mati. Tubuhnya sudah condong ke depan, maka secepat kilat mengenjotkan kakinya meloncat mundur. Ia terbebas daripada bahaya maut, akan tetapi tidak cukup cepat untuk menghindarkan diri sama sekali dari tendangan berantai.
"Trokkkk!!"
"Aduhhh ...tohobaatt ....!" Ki Kolohangkoro yang meloncat mundur masih kena disambar tulang keringnya oleh tendangan Endang Patibroto. Biarpun ia bertubuh kebal, akan tetapi tulang keringnya serasa remuk-remuk, sumsum di dalamnya rontok, kiut-miut nyerinya sampai menusuk ulu hati. Ia berjingkrak-jingkrak mengangkat kaki yang tertendang dan mengelus-elus tulang kering yang tampak membiru. Setelah rasa nyeri agak mengendur, ia menjadi marah, matanya terbelalak sebesar jengkol, mukanya merah seperti yuyu dipanggang.

Seperti dikomando saja, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro lalu menyerbu ke depan, senjata nenggala berseling dengan kebutan merah, merupakan cakar-cakar maut yang hendak merenggut nyawa Endang Patibroto. Wanita perkasa ini cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan-lawan berat. Kalau satu lawan satu, dalam waktu pendek ia masih akan sanggup merobohkan lawan. Akan tetapi setelah mereka maju berdua, ia tidak mau bersikap sembrono dan menghadapi senjata-senjata dengan tangan kosong lagi.
"Cattt ... catttt... !!"
Dua sinar menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang menjadi terkejut dan cepat menggunakan senjata menyampok runtuh dua batang anak panah tangan itu. Akan tetapi alangkah terkejut hati dua orang ini ketika melihat tubuh Endang Patibroto sudah menyambar ke depan, sebatang keris luk tujuh menusuk ke arah dada Ki Kolohangkoro sedangkan tangan kiri wanita sakti ini menampar ke arah muka Ni Dewi Nilamanik. Demikian ganas dan dahsyat serangan itu sehingga sukar bagi kedua orang lawannya untuk mengelak lagi. Ki Kolohangkoro menangkis keris dengan senjata nenggalanya, adapun Ni Dewi Nilamanik menangkis sambil menyabetkan kebutan ke arah tangan kiri yang menghantamnya.
"Tranggg ....” Bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu. Ujung kebutan yang menangkis, dapat dicengkeram oleh Endang Patibroto, lalu dihentakkan ke kiri. Akibatnya, tubuh Ni Dewi Nilamanik terhuyung dan hampir terbanting ke kiri, sedangkan tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang ke belakang saking hebatnya tenaga yang tersalur melalui keris. Keadaan dua orang itu dalam bahaya karena posisi mereka yang terhuyung itu dalam keadaan terbuka. Kalau saja Endang Patibroto melanjutkan serangan dengan susulan, tentu mereka akan celaka. Akan tetapi pada saat itu, tampak bayangan berkelebat cepat disusul bentakan,
"Sungguh tak tahu diri berani mengacau puncak Wilis!" Bayangan itu bukan lain Raden Warutama yang sudah mendahului Endang Patibroto, menerjang ke arah dua orang itu dengan gerakannya yang cepat seperti burung menyambar. Dua kali kakinya menendang dan .... tubuh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik terkena tendangan sampai roboh bergulingan. Namun kedua orang ini bergulingan sampai jauh dan terus melompat, melarikan diri!

Saking heran dan kagetnya, Endang Patibroto berdiri memandang laki-laki itu, tidak memperdulikan larinya Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Memang ia tidak ingin bermusuhan dengan mereka. Ia heran dan kaget melihat betapa laki-laki ini sekali serang saja berhasil menendang roboh kedua orang yang ia tahu bukan orang-orang lemah itu. Alangkah sigap dan cepatnya. Tentu bukan sembarang orang, pikirnya sambil menentang wajah yang gagah dan tampan itu. Jantungnya berdebar dan otaknya diperas untuk mengingat-ingat. Ia merasa pernah mengenal, pernah melihat orang ini, atau orang yang mirip dengan pria ini. Hatinya tidak senang seperti telah menjadi wataknya, bahwa ia tadi dibantu dalam perkelahian, akan tetapi setelah kini menjadi seorang pemimpin padepokan, Endang Patibroto cukup dapat menahan perasaannya dan dengan sikap angker ia bertanya,
"Andika ini siapakah dan siapakah pula yang memperkenankan andika datang ke puncak dan mencampuri urusanku, tanpa diminta membantuku? Apakah andika mengira bahwa aku jerih melawan kedua orang itu dan bahwa hanya andika yang memiliki kedigdayaan sehingga perlu mengalahkan mereka?" Raden Warutama tersenyum, wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan keramahan, kemudian ia membungkuk penuh hormat sambil berkata,
"Mohon maaf sebesarnya atas kelancangan saya berani melanggar wilayah kekuasaan andika yang saya telah dengar adalah ketua Padepokan Wilis yang sakti mandraguna, dan bukan sekali-kali pula saya merendahkan kesaktian andika. Akan tetapi karena saya menaruh rasa curiga terhadap kedua orang itu yang saya jumpai di lereng, maka diam-diam saya mengikuti mereka ke sini dan melihat kekurangajaran mereka, saya sampai lupa diri dan menyerang mereka. Sekali lagi, mohon maaf dan baiklah saya memperkenalkan diri. Saya adalah Raden Warutama dari Bali-dwipa."
Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Siapapun adanya pria ini, merupakan hal yang tidak menyenangkan hatinya kalau ada orang berani naik ke puncak begitu saja, dengan alasan apapun juga dan mengganggu puterinya yang sedang berlatih keras. Ia melirik ke atas dan melihat bayangan anaknya masih tergantung di pohon. Malam mulai tiba dan keadaan mulai gelap.
"Apakah kedatangan andika ke Wilis ada hubungannya dengan sayembara tanding yang kami adakan besok lusa?"
"Memang sebenarnyalah, karena mendengar tentang sayembara tanding itu maka saya datang ke Wills."
"Kalau andika datang untuk itu, mengapa tidak menanti di kaki Wilis seperti orang-orang lain?"
"Maaf, sudah saya ceritakan sebabnya. Pula, kedatangan saya tidak ingin memasuki sayembara tanding."
"Habis, untuk apa?"
Raden Warutama tersenyum lebar.
"Terus terang saja saya katakan bahwa saya harus mengawasi dan melindungi andika sekeluarga. Ketahuilah bahwa saya masih terhitung anak keponakan dari mendiang Sang Sakti Narotama."

Diam-diam Endang Patibroto terkejut. Memang dia sudah tahu bahwa baik Sang Prabu Airlangga maupun Ki Patih Narotama adalah orang-orang dari Bali-dwipa. Hal-hal mengenai raja dan patihnya yang sakti itu banyak ia dengar dahulu dari suaminya, yaitu mendiang Pangeran Panjirawit yang terhitung cucu Sang Prabu Airlangga. Jadi pria ini adalah keponakan Ki Patih Narotama yang sakti? Pantas saja gerakan-gerakannya tadi hebat. Berkuranglah kemarahannya, akan tetapi ia masih mendesak,
"Apa hubungannya itu dengan kami?"
Warutama kelihatan tertegun, akan tetapi kemudian ia menjawab tenang,
"Mungkin bagi andika tidak ada hubungannya, akan tetapi bagi saya amatlah penting artinya. Hendaknya diketahui bahwa kami keturunan Sang Sakti Narotama adalah orang-orang yang mementingkan arti kata setia terhadap raja. Sayapun mengikuti jejak Sang Narotama yang amat setia terhadap Sang Prabu Airlangga. Andika adalah cucu mantu Sang Prabu Airlangga. Biarpun sekarang telah menjadi janda, akan tetapi puteri andika itu.... " Ia menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Retna Wilis yang menggantung,
"adalah keturunan Sang Prabu Airlangga. Tentu saja andika dan puteri andika harus saya lindungi sekuat tenaga saya. Demikianlah sebabnya, begitu mendengar bahwa andika membuka sayembara tanding untuk memilihkan jodoh adik kandung andika, saya langsung mengunjungi Wilis."

<<< Bagian 091                                                                                    Bagian 093 >>>

No comments:

Post a Comment