Siasatnya demikian harus,
akan tetapi seperti sebatang pedang yang tajam pada kedua pinggirnya. Kalau
bujukan berhasil berarti untung, atau dltolakpun dapat untung.
"Kapan kami berdua
harus menjumpainya?" tanya Ni Dewi Nilamanik, suaranya jelas mengandung
kepercayaan sepenuhnya.
"Jangan sekarang. Nanti
saja menjelang senja kita mendaki puncak dan berpencar sehingga andaikata gagal
dan terpaksa kalian bertanding, akan mudah untuk meloloskan diri di dalam
gelap," kata Raden Warutama sambil meraih lengan Ni Dewi Nilamanik yang
mandah saja sehingga tubuhnya roboh di pangkuan Raden Warutama yang memeluknya.
"Senja nanti masih
terlalu lama. Sekarang masih pagi," Ki Kolohangkoro membantah.
"Memang masih banyak
waktu. Aku dan Dewi hendak bercakap-cakap mempererat perkenalan. Kalau andika
lapar di hutan ini banyak kancil dan kijang, boleh sekalian tangkap dan bakar
daging-nya untuk kami," kata Raden Warutama sambil mendekap dan mencium Ni
Dewi Nilamanik yang membalas belaiannya dengan senyum gembira. Laki-laki ini
benar-benar menyenangkan hatinya. Tampan, gagah perkasa, juga penuh wibawa,
pandai pula merayu.
Ki Kolohangkoro
bersungut-sungut, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu bangkit dan tak
lama kemudian ia menyusup semak-semak, meninggalkan kedua orang itu yang sedang
bercinta dengan mesra. Tentu saja seorang yang sakti seperti Ki Kolohangkoro,
dengan mudahnya dapat membunuh seekor kijang besar, kemudian merobek tubuh
binatang itu dan membakar dagingnya. Untuk memuaskan nafsunya, Ki Kolohangkoro
menjilat-jilat darah kijang dan mengunyah daging mentah yang dipilihnya dari
bagian yang paling lunak. Agak redalah kekesalan hatinya melihat dua orang itu
bermesraan tanpa memperdulikan dirinya, dan daging mentah serta darah kijang itu
membangkitkan semangatnya kembali.
Endang Patibroto berada di
taman bunga di puncak Wilis bersama puterinya. Retna Wilis telah berusia hampir
enam tahun, dan anak ini benar-benar amat luar biasa. Sudah jelas tampak betapa
tubuhnya padat dan di balik kulitnya yang kuning halus itu membayang urat-urat
membaja. Terutama sekali keluar-biasaannya tampak pada sinar matanya yang
jernih namun tajam bagaikan dapat menembus dada setiap orang yang dipandangnya.
Wajahnya cantik manis dan mungil sekali, namun jelas pula tampak membayang
kekerasan hati dalam tarikan bibir dan lekuk dagunya seperti yang dimiliki
Endang Patibroto. Taman itu indah bukan main. Taman alam yang hanya diatur
dengan penambahan tanaman bunga di sana sini oleh Endang Patibroto dan
Setyaningsih. Pada saat itu, Endang Patibroto sedang melatih puterinya. Latihan
yang amat berat dan amat aneh. Retno Wilis tengah berdiri tegak di depan
ibunya, yang juga berdiri menghadapi puterinya itu, di bawah sebatang pohon
nangka yang besar.
"Retna, mulai senja hati
ini sampai semalam suntuk, kau harus berlatih samadhi seperti seekor kalong.
Tahukah engkau apa yang harus kau lakukan?"
Bocah ini mengangguk.
"Seperti yang ibu
ajarkan, aku harus menggantungkan kaki di cabang pohon, menggantung dan
melemaskan seluruh urat di tubuh, menyatukan semua pikiran dan perasaan,
memusatkannya di pusar dan ...“
"Cukup. Baik kalau kau
masih ingat semua. Ketahuilah bahwa bertapa seperti ini merupakan tapa brata
yang amat berat, namun mengandung kemujijatan luar biasa dan amatlah gaib.
Seorang manusiapun harus bertapa seperti itu dalam kandungan ibu sebelum dapat
terlahir sebagai manusia. Ulatpun baru dapat menjadi kupu setelah bertapa
secara menggantung. Maka, latihan samadhi dengan menggantung ini hebat sekali
hasilnya, Anakku. Tekunlah engkau berlatih agar kelak engkau menjadi pendekar
yang tiada bandingnya di seluruh jagat ini! Ingat apapun yang terjadi malam
ini, sebelum aku menyadarkanmu, engkau tidak sekali-kali boleh melepaskan
samadhimu. Mengerti?"
"Baik, Ibu. Akupun
ingin sekali menjadi wanita paling sakti di dunia ini, seperti ibu!"
"Ahhh, tidak seperti
ibu, Retna Wills, melainkan jauh lebih sakti daripada ibumu."
Setelah berkata demikian,
Endang Patibroto menyambar lengan puterinya dan sekali berkelebat, tubuhnya
sudah meloncat ke atas dan mereka sudah berada di atas cabang pohon nangka itu.
Endang Patibroto dengan penuh perhatian dan kasih sayang lalu memberi petunjuk
dan akhirnya, bergantunglah tubuh Retna Wilis dengan kedua kaki mengait cabang
pohon! Setelah melihat betapa mata anaknya tidak bergerak-gerak lagi dan
napasnya mulai teratur, Endang Patibroto melayang turun dengan ringan sehingga
cabang itu tidak bergoyang sedikitpun.
Latihan anaknya amat berat
dan biarpun Endang Patibroto tampaknya keras dalam mengajar anaknya, namun
sesungguhnya ia merasa amat sayang dan kasihan kepada Retna Wills. Iapun tidak
tega meninggalkan puterinya, melainkan duduk bersila di bawah pohon, menjaga.
Tiba-tiba Endang Patibroto bangkit berdiri dan menoleh ke kanan, lalu terdengar
suaranya, halus namun penuh wibawa,
"Siapa berani lancang
memasuki taman mengganggu anakku berlatih?" Endang Patibroto yang
berpendengaran tajam telah mendengar gerakan orang di sebelah kanan di balik
semak-semak, dan mengira tentu ada anak buah Padepokan Wills yang datang.
Akan tetapi alis yang kecil
panjang dan amat hitam itu berkerut ketika ia melihat bahwa yang muncul dari
balik semak-semak adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang
wanita cantik dan seorang laki-laki tinggi besar muncul keluar dan sekali
pandang saja maklumlah Endang Patibroto bahwa dua orang ini bukanlah orang
sembarangan, maka ia lalu bersikap waspada dan memandang tajam. Setelah tahu
bahwa dua orang itu ternyata bukan anak buahnya, ia bersikap angkuh dan diam,
hanya memandang dan menanti, sesuai dengan sikap seorang kepala padepokan yang
ternama dan berwibawa. Ni Dewi Nilamanik memandang Endang Patibroto dengan
kagum. Sudah lama ia mendengar nama wanita sakti ini yang pernah menggegerkan
Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang kabarnya memiliki kedigdayaan yang
menggiriskan dan jarang bertemu tanding dan yang kini menjadi pemimpin
Padepokan Wills dan berhasil menggembleng Gerombolan Wilis menjadi
satria-satria Wilis yang terkenal. Ia tidak menyangka bahwa wanita hebat itu
ternyata begitu cantik jelita dengan sepasang mata yang luar biasa tajam dan
beningnya, sinar mata yang mengandung hawa dingin membuat bulu tengkuk
meremang. Adapun Ki Kolohangkoro yang tidak sewaspada temannya karena memang
raksasa ini agak sombong mengandalkan kesaktian sendiri memandang rendah lawan,
kini lebih tertarik kepada Retna Wills, anak perempuan yang kini sedang
menggantung dengan kepala di bawah seperti seekor kalong di cabang pohon itu.
Raksasa yang sedang melatih diri dengan aji kesaktian dahsyat Kolokroda dan
yang masih belum sempurna itu, kini melihat seorang anak seperti Retna Wilis,
tentu saja mengilar sekali dan tanpa dapat menguasai hatinya lagi mulutnya
berseru,
"Eaduh, toblas-toblas!
Bukan main bocah ini ..., darah daging dan tulangnya ... , waah, hebat, tiada
keduanya di dunia ini..."
Ni Dewi Nilamanik melirik
tajam ke arah Ki Kolohangkoro, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto akan
menjadi tak senang hati menyaksikan dan mendengar ucapan kasar itu. Akan tetapi
ia tidak tahu bahwa Endang Patibroto, sebagai murid mendiang Sang Dibyo
Mamangkoro dan tinggal di Pulau Iblis bertahun-tahun lamanya bersama gurunya,
sudah biasa akan sikap kekasaran kaum sesat ini. Bahkan melihat bentuk tubuh Ki
Kolohangkoro yang tinggi besar, melihat sikap kasar dan kata-kata yang kasar
pula, timbul rasa senang di hatinya dan girang bahwa puterinya dipuji-puji,
biarpun pujiannya amat kasar. Orang yang sekali pandang dapat melihat keadaan
puterinya, tentunya seorang yang memiliki kepandaian. Maka tersenyumlah Endang
Patibroto dan lenyaplah sikapnya yang angkuh, malah dengan ramah ia mendahului
berkata,
"Terima kasih atas
pujian andika terhadap puteriku Retna Wilis. Siapakah gerangan andika berdua
dan apakah maksud kunjungan andika yang tiba-tiba ini?"
Girang hati Ni Dewi
Nilamanik melihat sikap wanita sakti itu yang tadi membuat hatinya tergetar.
Cepat ia memberi hormat, membungkuk dan dengan suara ramah dan sikap hormat ia
cepat mendahului Ki Kolohangkoro sebelum si raksasa kasar itu menjawab,
"Kami berdua mohon maaf
sebanyaknya kalau kami dapat mengganggu andika yang sedang melatih puteri
andika. Karena telah lama mendengar nama besar andika, mengagumi kebesaran
Padepokan Wilis, apalagi mendengar akan diadakannya sayembara tanding, kami
memberanikan diri lancang memasuki puncak ini dengan harapan dapat bertemu dan
berwawancara dengan andika yang kami kagumi. Kami berdua adalah saudara-saudara
seperguruan, nama saya Dewi Nilamanik, sedangkan dia ini adik seperguruanku
bernama Kolohangkoro. Harap maafkan sikapnya yang kasar karena memang
demikianlah wataknya."
Endang Patibroto diam-diam
mengingat-ingat. Tidak pernah ia mendengar dua nama ini sungguhpun ia merasa
yakin bahwa mereka berdua ini bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang
yang sakti dan yang ia belum tahu apa kehendaknya.
"Andika berdua terlalu
memujiku dan terlalu merendahkan diri. Memang aku mengadakan sayembara tanding
sebagai syarat adik kandungku mencari jodohnya, akan tetapi sayembara dimulai
dua hari lagi. Andika datang terlampau pagi."
Ni Dewi Nilamanik tersenyum
dan kilatan giginya yang putih membuka mata Endang Patibroto yang dapat
menangkap sebuah gaya yang tidak menyenangkan hatinya pada diri wanita ini.
Genit dan senyum serta pandang matanya membayangkan watak cabul, pikirnya
dengan waspada.
"Maaf, kedatangan kami
sama sekali bukan untuk sayembara tanding itu. Sama sekali bukan. Adik
seperguruanku ini sudah terlalu tua untuk memikirkan soal itu. Kami datang
untuk mengajak andika berwawancara, untuk menawarkan persekutuan dalam
menghadapi dan menghancurkan musuh kita bersama."
Berdebar jantung Endang
Patibroto. Hem, apa yang dimaksudkan orang-orang ini? Musuh bersama? Siapa?
Akan tetapi karena maklum bahwa dua orang ini ingin membicarakan urusan
penting, maka ia lalu menggerakkan tangan kanan mempersilahkan mereka duduk di
atas tanah sambil berkata,
"Aku sedang menjaga
puteriku berlatih. Silahkan andika berdua duduk, kita dapat bercakap-cakap di
sini."
Ni Dewi Nilamanik
mengerutkan kening dan menengadah, memandang ke arah tubuh kecil yang
menggantung pada cabang pohon. Melihat kesangsian wanita itu, Endang Patibroto
cepat berkata,
"Harap andika tenangkan
hati karena puteriku dalam keadaan hening, tidak akan dapat mendengarkan
percakapan kita."
Ki Kolohangkoro yang juga
memandang ke atas, kembali berseru,
"Waahh, sekecil itu
sudah dapat menutup panca indra dan hening dalam samadhi dengan keadaan seperti
itu .... bukan main ...!!"
Mereka duduk di bawah pohon
itu, saling berhadapan. Sejenak Endang Patibroto menyapu wajah kedua orang
tamunya penuh selidik, kemudian berkata,
"Nah, silahkan andika
berdua keluarkan apa yang menjadi isi hati andika."
Sikap Endang Patibroto amat
berwibawa dan angker sehingga diam-diam Ni Dewi Nilamanik merasa betapa
jantungnya berdebar.
"Telah lama kami
mendengar nama besar andika," ia memulai.
"Bahkan kami telah
mendengar akan segala peristiwa yang menimpa andika di Kerajaan Jenggala. Kami
telah mendengar pula betapa suami andika yang mulia, Sang Pangeran Panjirawit,
tewas karena kejahatan Jenggala, sehingga kini andika yang tadinya hidup mulia
sebagai mantu raja, sampai berada di puncak gunung yang sunyi ini sebagai ketua
Padepokan Wilis."
"Hemmm, kalau sudah
demikian, mengapa? Harap andika lanjutkan." Di dalam suara Endang
Patibroto terkandung pengaruh yang dingin dan menyeramkan, membuat Ni Dewi
Nilamanik menelan ludah dan memberanikan hati untuk melanjutkan,
"Karena kami mengetahui
keadaan andika inilah maka kami mempunyai harapan untuk dapat menarik andika
sebagai seorang kawan seperjuangan. Kerajaan Jenggala amat buruk keadaannya,
rajanya tidak bijaksana, tergila-gila oleh selir barunya yang bernama Suminten
dan yang ingin merebut kekuasaan”
"Suminten ...?"
Endang Patibroto bertanya kaget, teringat ia akan bekas pelayannya.
"Benar, mengapakah?
Apakah andika mengenalnya?" Endang Patibroto menggeleng kepala. Tak
mungkin, pikirnya, tentu hanya namanya saja yang kebetulan sama.
"Tidak apa-apa, harap
teruskan."
"Karena itu, terus
terang saja kami sebagai anak buah Sang Wasi Bagaspati utusan Kerajaan Cola,
melihat kesempatan baik untuk merobohkan Jenggala dari dalam. Dan untuk ini
kami membutuhkan bantuan dan kerja sama orang-orang sakti, terutama sekali
andika. Bukankah hal ini merupakan kesempatan baik sekali bagi andika untuk
membalas dendam kematian suami andika Pangeran Panjirawit? Percayalah, jasa
andika akan dihargai dan Sang Wasi Bagaspati adalah seorang yang selain sakti
mandraguna, juga amat bijaksana."
No comments:
Post a Comment