Perawan Lembah Wilis; Bagian 091



Siasatnya demikian harus, akan tetapi seperti sebatang pedang yang tajam pada kedua pinggirnya. Kalau bujukan berhasil berarti untung, atau dltolakpun dapat untung.
"Kapan kami berdua harus menjumpainya?" tanya Ni Dewi Nilamanik, suaranya jelas mengandung kepercayaan sepenuhnya.
"Jangan sekarang. Nanti saja menjelang senja kita mendaki puncak dan berpencar sehingga andaikata gagal dan terpaksa kalian bertanding, akan mudah untuk meloloskan diri di dalam gelap," kata Raden Warutama sambil meraih lengan Ni Dewi Nilamanik yang mandah saja sehingga tubuhnya roboh di pangkuan Raden Warutama yang memeluknya.
"Senja nanti masih terlalu lama. Sekarang masih pagi," Ki Kolohangkoro membantah.
"Memang masih banyak waktu. Aku dan Dewi hendak bercakap-cakap mempererat perkenalan. Kalau andika lapar di hutan ini banyak kancil dan kijang, boleh sekalian tangkap dan bakar daging-nya untuk kami," kata Raden Warutama sambil mendekap dan mencium Ni Dewi Nilamanik yang membalas belaiannya dengan senyum gembira. Laki-laki ini benar-benar menyenangkan hatinya. Tampan, gagah perkasa, juga penuh wibawa, pandai pula merayu.
Ki Kolohangkoro bersungut-sungut, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu bangkit dan tak lama kemudian ia menyusup semak-semak, meninggalkan kedua orang itu yang sedang bercinta dengan mesra. Tentu saja seorang yang sakti seperti Ki Kolohangkoro, dengan mudahnya dapat membunuh seekor kijang besar, kemudian merobek tubuh binatang itu dan membakar dagingnya. Untuk memuaskan nafsunya, Ki Kolohangkoro menjilat-jilat darah kijang dan mengunyah daging mentah yang dipilihnya dari bagian yang paling lunak. Agak redalah kekesalan hatinya melihat dua orang itu bermesraan tanpa memperdulikan dirinya, dan daging mentah serta darah kijang itu membangkitkan semangatnya kembali.

Endang Patibroto berada di taman bunga di puncak Wilis bersama puterinya. Retna Wilis telah berusia hampir enam tahun, dan anak ini benar-benar amat luar biasa. Sudah jelas tampak betapa tubuhnya padat dan di balik kulitnya yang kuning halus itu membayang urat-urat membaja. Terutama sekali keluar-biasaannya tampak pada sinar matanya yang jernih namun tajam bagaikan dapat menembus dada setiap orang yang dipandangnya. Wajahnya cantik manis dan mungil sekali, namun jelas pula tampak membayang kekerasan hati dalam tarikan bibir dan lekuk dagunya seperti yang dimiliki Endang Patibroto. Taman itu indah bukan main. Taman alam yang hanya diatur dengan penambahan tanaman bunga di sana sini oleh Endang Patibroto dan Setyaningsih. Pada saat itu, Endang Patibroto sedang melatih puterinya. Latihan yang amat berat dan amat aneh. Retno Wilis tengah berdiri tegak di depan ibunya, yang juga berdiri menghadapi puterinya itu, di bawah sebatang pohon nangka yang besar.
"Retna, mulai senja hati ini sampai semalam suntuk, kau harus berlatih samadhi seperti seekor kalong. Tahukah engkau apa yang harus kau lakukan?"
Bocah ini mengangguk.
"Seperti yang ibu ajarkan, aku harus menggantungkan kaki di cabang pohon, menggantung dan melemaskan seluruh urat di tubuh, menyatukan semua pikiran dan perasaan, memusatkannya di pusar dan ...“
"Cukup. Baik kalau kau masih ingat semua. Ketahuilah bahwa bertapa seperti ini merupakan tapa brata yang amat berat, namun mengandung kemujijatan luar biasa dan amatlah gaib. Seorang manusiapun harus bertapa seperti itu dalam kandungan ibu sebelum dapat terlahir sebagai manusia. Ulatpun baru dapat menjadi kupu setelah bertapa secara menggantung. Maka, latihan samadhi dengan menggantung ini hebat sekali hasilnya, Anakku. Tekunlah engkau berlatih agar kelak engkau menjadi pendekar yang tiada bandingnya di seluruh jagat ini! Ingat apapun yang terjadi malam ini, sebelum aku menyadarkanmu, engkau tidak sekali-kali boleh melepaskan samadhimu. Mengerti?"
"Baik, Ibu. Akupun ingin sekali menjadi wanita paling sakti di dunia ini, seperti ibu!"
"Ahhh, tidak seperti ibu, Retna Wills, melainkan jauh lebih sakti daripada ibumu."
Setelah berkata demikian, Endang Patibroto menyambar lengan puterinya dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah meloncat ke atas dan mereka sudah berada di atas cabang pohon nangka itu. Endang Patibroto dengan penuh perhatian dan kasih sayang lalu memberi petunjuk dan akhirnya, bergantunglah tubuh Retna Wilis dengan kedua kaki mengait cabang pohon! Setelah melihat betapa mata anaknya tidak bergerak-gerak lagi dan napasnya mulai teratur, Endang Patibroto melayang turun dengan ringan sehingga cabang itu tidak bergoyang sedikitpun.

Latihan anaknya amat berat dan biarpun Endang Patibroto tampaknya keras dalam mengajar anaknya, namun sesungguhnya ia merasa amat sayang dan kasihan kepada Retna Wills. Iapun tidak tega meninggalkan puterinya, melainkan duduk bersila di bawah pohon, menjaga. Tiba-tiba Endang Patibroto bangkit berdiri dan menoleh ke kanan, lalu terdengar suaranya, halus namun penuh wibawa,
"Siapa berani lancang memasuki taman mengganggu anakku berlatih?" Endang Patibroto yang berpendengaran tajam telah mendengar gerakan orang di sebelah kanan di balik semak-semak, dan mengira tentu ada anak buah Padepokan Wills yang datang.
Akan tetapi alis yang kecil panjang dan amat hitam itu berkerut ketika ia melihat bahwa yang muncul dari balik semak-semak adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang wanita cantik dan seorang laki-laki tinggi besar muncul keluar dan sekali pandang saja maklumlah Endang Patibroto bahwa dua orang ini bukanlah orang sembarangan, maka ia lalu bersikap waspada dan memandang tajam. Setelah tahu bahwa dua orang itu ternyata bukan anak buahnya, ia bersikap angkuh dan diam, hanya memandang dan menanti, sesuai dengan sikap seorang kepala padepokan yang ternama dan berwibawa. Ni Dewi Nilamanik memandang Endang Patibroto dengan kagum. Sudah lama ia mendengar nama wanita sakti ini yang pernah menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang kabarnya memiliki kedigdayaan yang menggiriskan dan jarang bertemu tanding dan yang kini menjadi pemimpin Padepokan Wills dan berhasil menggembleng Gerombolan Wilis menjadi satria-satria Wilis yang terkenal. Ia tidak menyangka bahwa wanita hebat itu ternyata begitu cantik jelita dengan sepasang mata yang luar biasa tajam dan beningnya, sinar mata yang mengandung hawa dingin membuat bulu tengkuk meremang. Adapun Ki Kolohangkoro yang tidak sewaspada temannya karena memang raksasa ini agak sombong mengandalkan kesaktian sendiri memandang rendah lawan, kini lebih tertarik kepada Retna Wills, anak perempuan yang kini sedang menggantung dengan kepala di bawah seperti seekor kalong di cabang pohon itu. Raksasa yang sedang melatih diri dengan aji kesaktian dahsyat Kolokroda dan yang masih belum sempurna itu, kini melihat seorang anak seperti Retna Wilis, tentu saja mengilar sekali dan tanpa dapat menguasai hatinya lagi mulutnya berseru,
"Eaduh, toblas-toblas! Bukan main bocah ini ..., darah daging dan tulangnya ... , waah, hebat, tiada keduanya di dunia ini..."
Ni Dewi Nilamanik melirik tajam ke arah Ki Kolohangkoro, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto akan menjadi tak senang hati menyaksikan dan mendengar ucapan kasar itu. Akan tetapi ia tidak tahu bahwa Endang Patibroto, sebagai murid mendiang Sang Dibyo Mamangkoro dan tinggal di Pulau Iblis bertahun-tahun lamanya bersama gurunya, sudah biasa akan sikap kekasaran kaum sesat ini. Bahkan melihat bentuk tubuh Ki Kolohangkoro yang tinggi besar, melihat sikap kasar dan kata-kata yang kasar pula, timbul rasa senang di hatinya dan girang bahwa puterinya dipuji-puji, biarpun pujiannya amat kasar. Orang yang sekali pandang dapat melihat keadaan puterinya, tentunya seorang yang memiliki kepandaian. Maka tersenyumlah Endang Patibroto dan lenyaplah sikapnya yang angkuh, malah dengan ramah ia mendahului berkata,
"Terima kasih atas pujian andika terhadap puteriku Retna Wilis. Siapakah gerangan andika berdua dan apakah maksud kunjungan andika yang tiba-tiba ini?"
Girang hati Ni Dewi Nilamanik melihat sikap wanita sakti itu yang tadi membuat hatinya tergetar. Cepat ia memberi hormat, membungkuk dan dengan suara ramah dan sikap hormat ia cepat mendahului Ki Kolohangkoro sebelum si raksasa kasar itu menjawab,
"Kami berdua mohon maaf sebanyaknya kalau kami dapat mengganggu andika yang sedang melatih puteri andika. Karena telah lama mendengar nama besar andika, mengagumi kebesaran Padepokan Wilis, apalagi mendengar akan diadakannya sayembara tanding, kami memberanikan diri lancang memasuki puncak ini dengan harapan dapat bertemu dan berwawancara dengan andika yang kami kagumi. Kami berdua adalah saudara-saudara seperguruan, nama saya Dewi Nilamanik, sedangkan dia ini adik seperguruanku bernama Kolohangkoro. Harap maafkan sikapnya yang kasar karena memang demikianlah wataknya."

Endang Patibroto diam-diam mengingat-ingat. Tidak pernah ia mendengar dua nama ini sungguhpun ia merasa yakin bahwa mereka berdua ini bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang sakti dan yang ia belum tahu apa kehendaknya.
"Andika berdua terlalu memujiku dan terlalu merendahkan diri. Memang aku mengadakan sayembara tanding sebagai syarat adik kandungku mencari jodohnya, akan tetapi sayembara dimulai dua hari lagi. Andika datang terlampau pagi."
Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan kilatan giginya yang putih membuka mata Endang Patibroto yang dapat menangkap sebuah gaya yang tidak menyenangkan hatinya pada diri wanita ini. Genit dan senyum serta pandang matanya membayangkan watak cabul, pikirnya dengan waspada.
"Maaf, kedatangan kami sama sekali bukan untuk sayembara tanding itu. Sama sekali bukan. Adik seperguruanku ini sudah terlalu tua untuk memikirkan soal itu. Kami datang untuk mengajak andika berwawancara, untuk menawarkan persekutuan dalam menghadapi dan menghancurkan musuh kita bersama."
Berdebar jantung Endang Patibroto. Hem, apa yang dimaksudkan orang-orang ini? Musuh bersama? Siapa? Akan tetapi karena maklum bahwa dua orang ini ingin membicarakan urusan penting, maka ia lalu menggerakkan tangan kanan mempersilahkan mereka duduk di atas tanah sambil berkata,
"Aku sedang menjaga puteriku berlatih. Silahkan andika berdua duduk, kita dapat bercakap-cakap di sini."
Ni Dewi Nilamanik mengerutkan kening dan menengadah, memandang ke arah tubuh kecil yang menggantung pada cabang pohon. Melihat kesangsian wanita itu, Endang Patibroto cepat berkata,
"Harap andika tenangkan hati karena puteriku dalam keadaan hening, tidak akan dapat mendengarkan percakapan kita."
Ki Kolohangkoro yang juga memandang ke atas, kembali berseru,
"Waahh, sekecil itu sudah dapat menutup panca indra dan hening dalam samadhi dengan keadaan seperti itu .... bukan main ...!!"
Mereka duduk di bawah pohon itu, saling berhadapan. Sejenak Endang Patibroto menyapu wajah kedua orang tamunya penuh selidik, kemudian berkata,
"Nah, silahkan andika berdua keluarkan apa yang menjadi isi hati andika."
Sikap Endang Patibroto amat berwibawa dan angker sehingga diam-diam Ni Dewi Nilamanik merasa betapa jantungnya berdebar.
"Telah lama kami mendengar nama besar andika," ia memulai.
"Bahkan kami telah mendengar akan segala peristiwa yang menimpa andika di Kerajaan Jenggala. Kami telah mendengar pula betapa suami andika yang mulia, Sang Pangeran Panjirawit, tewas karena kejahatan Jenggala, sehingga kini andika yang tadinya hidup mulia sebagai mantu raja, sampai berada di puncak gunung yang sunyi ini sebagai ketua Padepokan Wilis."
"Hemmm, kalau sudah demikian, mengapa? Harap andika lanjutkan." Di dalam suara Endang Patibroto terkandung pengaruh yang dingin dan menyeramkan, membuat Ni Dewi Nilamanik menelan ludah dan memberanikan hati untuk melanjutkan,
"Karena kami mengetahui keadaan andika inilah maka kami mempunyai harapan untuk dapat menarik andika sebagai seorang kawan seperjuangan. Kerajaan Jenggala amat buruk keadaannya, rajanya tidak bijaksana, tergila-gila oleh selir barunya yang bernama Suminten dan yang ingin merebut kekuasaan”
"Suminten ...?" Endang Patibroto bertanya kaget, teringat ia akan bekas pelayannya.
"Benar, mengapakah? Apakah andika mengenalnya?" Endang Patibroto menggeleng kepala. Tak mungkin, pikirnya, tentu hanya namanya saja yang kebetulan sama.
"Tidak apa-apa, harap teruskan."
"Karena itu, terus terang saja kami sebagai anak buah Sang Wasi Bagaspati utusan Kerajaan Cola, melihat kesempatan baik untuk merobohkan Jenggala dari dalam. Dan untuk ini kami membutuhkan bantuan dan kerja sama orang-orang sakti, terutama sekali andika. Bukankah hal ini merupakan kesempatan baik sekali bagi andika untuk membalas dendam kematian suami andika Pangeran Panjirawit? Percayalah, jasa andika akan dihargai dan Sang Wasi Bagaspati adalah seorang yang selain sakti mandraguna, juga amat bijaksana."

<<< Bagian 090                                                                                   Bagian 092 >>>

No comments:

Post a Comment