Ni Dewi Nilamanik maklum
betapa dahsyatnya ilmu ini, dan karena belum dilatih sempuma, maka kalau gagal,
berarti akan menewaskan Ki Kolohangkoro sendiri. Cepat ia meloncat maju ke
depan Ki Kolohangkoro dan berkata halus,
"Kolohangkoro,
simpanlah kembali ajimu dan jangan menurutkan nafsu amarah yang hanya akan
merugikan dirimu sendiri. Biarlah aku menghadapi orang ini." Di dalam
kehalusan suara Ni Dewi Nilamanik terkandung wibawa yang menggetar dan
menyadarkan Ki Kolohangkoro yang dapat menekan perasaannya. Sambil
bersungut-sungut raksasa ini kembali bangkit, memungut nenggalanya dan mundur
berdiri di pinggir.
Ni Dewi Nilamanik melangkah
maju dan menghadapi laki-laki itu dan berkata, suaranya halus, diiring kerling
tajam dan senyum manis,
"Eh, satria perkasa,
siapakah nama andika yang sudah mengenal kami dan apa pula kehendakmu
menghadang perjalanan kami?"
"Ni Dewi Nilamanik yang
cantik manis, namaku adalah Raden Warutama, tempat asalku dari Bali-dwipa. Aku
tidak berniat buruk terhadap andika berdua, melainkan tadi mendengar akan
percakapan kalian yang cocok sekali dengan hasrat hatiku, maka aku ingin
berkenalan dan bersahabat dengan kedua orang sakti mandraguna seperti
kalian."
"Hemmm, tidak saja
engkau digdaya, Raden Warutama, juga engkau pandai sekali bicara, kata-katamu
mengelus hati melalui telinga. Kami tidak tahu sesuatu tentang andika,
sebaliknya apakah yang andika ketahui tentang kami?"
Laki-laki yang bernama Raden
Warutama itu tertawa dan tampak deretan giginya yang masih utuh, kuat dan putih
mengkilat.
"Ni Dewi, biarpun aku
seorang bodoh, seorang pengembara yang sedang berkelana, namun sudah banyak aku
mendengar akan segala peristiwa di dunia ini. Bukankah andika berdua ini adalah
pemimpin-pemimpin dari barisan yang datang dari Cola, dibawah pimpinan Sang
Wasi Bagaspati, yang baru-baru ini berperang melawan Kerajaan Panjalu dan
dikalahkan? Bukankah andika berdua kalah dalam perang melawan Adipati
Tejolaksono? Ahhh, tentu saja kalah karena untuk dapat berhasil seharusnya
menggunakan cara yang halus ....“
Ni Dewi Nilamanik dan Ki
Kolohangkoro terkejut sekali. Kiranya orang ini benar-benar telah mengenaI
mereka dan tahu pula akan keadaan mereka. Ni Dewi Nilamanik maklum akan
bahayanya orang ini, maka ia cepat mengerahkan ajinya, memasang aji Guna Sakti
untuk menguji dan kalau mungkin mengalahkan orang ini agar tunduk di bawah
pengaruhnya. Dengan kerling mata yang mengelus hati dan senyum yang manis
mengalahkan madu, suaranya halus menggetar penuh hawa sakti yang mengandung aji
guna-guna, Ni Dewi Nilamanik berkata,
"Duhai sang bagus yang
perkasa, andika benar-benar amat mengagumkan hatiku! Sudah dua kali andika
mendebar-debarkan jantungku dengan menyebut aku orang wanita yang cantik jelita
dan manis. Benarkah itu, Raden Warutama? Pandanglah wajahku baik-baik. Benarkah
aku cantik jelita? Pandang mataku, lihat baik-baik, tidakkah andika melihat
sesuatu dalam sinar mataku? Tidakkah melihat cinta kasih ....”
Raden Warutama memandang,
tersenyum dan mengangguk.
"Andika memang cantik
jelita, matamu hebat.... “
"Aduh, Raden ... adakah
andika mencintaku ... “ Kembali Warutama tersenyum lebar.
"Alangkah mudahnya
mencinta seorang wanita seperti andika.... “
"Engkau
mencintaku?"
"Aku mencintamu."
Diam-diam hati Ni Dewi
Nilamanik girang bukan main, juga bangga. Betapapun saktinya lawan, kalau dia
itu seorang pria, jarang yang akan mampu melawan aji pengasihannya dan jelas
bahwa laki-laki inipun sudah tercengkeram oleh ajinya yang ampuh.
"Raden Warutama, kalau
benar engkau mencintaku, tentu engkau akan suka melakukan segala permintaanku,
bukan? Engkau akan tunduk kepadaku? Melakukan segala perintahku?"
Warutama menunduk dan
mengangguk.
"Tentu, kalau saja
perintah itu menyenangkan, misalnya... diperintah menciummu!"
Ihh, dasar laki-laki pemogoran,
demikian Ni Dewi Nilamanik mengumpat di dalam hatinya. Sudah terpengaruh juga
masih ceriwis! Akan tetapi ia tetap tersenyum dan memperkuat getaran aji
pengasihan Guna Saktinya.
"Tentu saja boleh!
Orang mencinta tentu boleh mencium. Dan kau boleh menciumku, Raden Warutama,
akan tetapi sesudah mencium engkau harus berlutut menyembah di depan kakiku,
mengerti?"
Laki-laki itu tersenyum dan
mengangguk sambil melangkah maju. Ni Dewi Nilamanik menjulurkan mukanya, agak
berpaling, memberikan pipi kirinya.
"Nah, kau boleh
mengambung pipi kiriku, lalu berlututlah, Raden Warutama! Engkau akan menurut
segala perintahku!" Perintah ini dikeluarkan dengan suara menggetar penuh
hawa sakti yang akan menundukkan hati setiap orang pria.
Warutama melangkah makin
dekat, lalu memeluk tubuh Ni Dewl Nilamanik yang ramping dan padat, kemudian ia
menundukkan mukanya mencium mulut wanita itu dengan mesra dan penuh nafsu!
Kagetlah Ni Dewi Nilamanik. Gerakan ini sama sekali bukan gerakan orang yang
telah tunduk dan terpengaruh aji pengasihan! Cepat ia menggerakkan kedua tangan
hendak mendorong, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan
bahwa kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh Warutama dan sama sekali
tidak dapat ia gerakkan lagi! Ia hendak meronta dan berseru, akan tetapi
mulutnya telah tercium, bibirnya tergigit mulut Raden Warutama sehingga ia
hanya dapat menahan nafas dan terpaksa mandah saja membiarkan laki-laki itu
menciumnya sepuas hatinya. Sampai terengah-engah Ni Dewi Nilamanik ketika
Warutama melepaskan ciumannya, lalu menatap wajahnya dengan pandang mata yang
tajam melebihi ujung pedang dan yang mengandung sinar aneh sekali, langsung
menembus jantungnya.
Terdengar oleh Ni Dewi
Nilamanik bisikan-bisikan mesra laki-laki itu dan suaranya halus penuh getaran
hawa sakti,
"Ni Dewi Nilamanik, kau
telah membuktikan betapa kuatnya aku, betapa nikmatnya ciumanku, engkau jatuh
cinta kepadaku dan akan melakukan segala perintahku. Beranikah engkau
menyangka!? Engkau mencintaku, bukan?" Bagaikan telah luluh semua
kemauannya, Ni Dewi Nilamanik yang memandang wajah pria itu dari balik bulu
matanya yang setengah terpejam, mengangguk.
Raden Warutama tertawa dan
melepaskan pelukannya.
"Ni Dewi yang manis,
kekasihku kau berlutut dan menyembahlah kepadaku!"
Ni Dewi Nilamanik
menjatuhkan diri berlutut di depan Raden Warutama yang tertawa bergelak. Ia
hendak menyembah, akan tetapi Ki Kolohangkoro sudah meloncat maju dan membentak
keras,
“Bunda Dewi! Sadarlah,
andika terkena guna asmara!!" Bentakan Ki Kolohangkoro bukanlah sembarang
bentakan, melainkan bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga batin
sehingga mengandung getaran amat kuat. Ni Dewi Nilamanik tersentak kaget,
membuka matanya dan ketika ia melihat betapa ia berlutut di depan kaki Raden
Warutama yang tertawa bergelak, ia memekik nyaring dan melompat bangun, cepat
mencabut bulu merahnya dan hendak menerjang maju. Akan tetapi Raden Warutama
sudah mendahuluinya, cepat menyambar dan memegang ujung kebutan sambil berkata,
suaranya berbeda dengan tadi, kini berpengaruh dan sungguh-sungguh,
"Ni Dewi Nilamanik!
Hentikan main-main ini terhadap aku! Engkau tahu bahwa aku bukan sembarang
orang yang boleh dibuat main-main. Sudah kubuktikan bahwa aku tidak kalah
olehmu dalam kesaktian. Juga andika, Ki Kolohangkoro, simpan senjatamu dan mari
bicara secara baik-baik. Kalau kalian berkeras, biarpun aku belum tentu akan
mudah menang, akan tetapi jangan harap andika berdua akan mudah mengalahkan
Raden Warutama! Kesudahannya kita bertiga akan rugi, apalagi kalau ketahuan oleh
Endang Patibroto. Mari kita bicara secara sahabat, maukah?"
Ni Dewi Nilamanik dan Ki
Kolohangkoro saling pandang. Warutama lalu memberi isyarat,
"Mari ikut bersamaku,
kita bicara di tempat sembunyi agar jangan terlihat dan terdengar orang
lain."
Pergilah mereka berdua
mengikuti laki-laki perkasa itu memasuki semak-semak dan tak lama kemudian
mereka sudah bercakap-cakap di dalam sebuah guha yang terdapat di balik
semak-semak itu. Mereka bicara dengan serius samba berbisik-bisik.
"Ketahuilah kalian, aku
bukanlah lawan kalian, melainkan sekutu karena kita mempunyai hasrat yang sama
sungguhpun dengan alasan lain. Kalian ingin membujuk Endang Patibroto menjadi
sekutu menghancurkan Panjalu dan Jenggala? Akupun ingin mendapatkan Endang
Patibroto si janda jelita perkasa itu sebagai kekasih! Kalian ingin membunuhnya
kalau gagal? Demikian pula aku yang mendendam kepadanya! Kalian ingin
melaksanakan tugas atasan kalian untuk menjatuhkan kerajaan-kerajaan keturunan
Mataram? Aku juga! Dan kini tiba saatnya untuk kita bergerak. Akan tetapi,
kalian harus selalu menurut dan tunduk atas petunjuk-petunjukku ...”
Melihat kedua orang itu
mengerutkan kening, Raden Warutama cepat menyambung,
"Harap kalian jangan
ragu- ragu, Aku lebih mengetahui keadaan Endang Patibroto, aku lebih mengetahui
pula keadaan kerajaan-kerajaan itu. Menggunakan kekerasan terhadap Endang, amat
berbahaya dan takkan berhasil. Tak usah kau berkecil hati, Ki Kolohanghoro.
Ketahuilah, dahulu kakak seperguruan andika, mendiang Wiku Kalawisesa, adalah
seorang pembantuku pula."
Mendengar ini, kedua orang
ini makin percaya. Apalagi setelah kini Ni Dewi Nilamanik yakin bahwa pria ini
benar-benar menarik, selain pandai dan tampan, juga ahli dalam soal-soal yang
disukainya, yaitu bermain cinta.
"Raden Warutama, katakanlah
bagaimana rencanamu, kalau memang baik tentu kami tidak akan berkeberatan untuk
membantumu."
Warutama bangkit kembali
kejenakaan dan kenakalannya terhadap wanita.
"Andika memang cantik
manis, Dewi, dan aku percaya, di antara kita berdua pasti akan dapat dibangun
kerja sama yang mesra dan erat, yang akan membawa kita berdua ke arah hasil
gilang-gemilang di kemudian hari. Percayalah, aku Raden Warutama adalah seorang
yang sudah tergembleng bertahun-tahun, sudah mengunjungi semua pendeta-pendeta
sakti di Bali-dwipa untuk memperdalam ilmu, dan ketahuilah pula, bahwa aku
adalah keturunan dari mendiang Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna."
"Ahhh ....???"
Kedua orang itu terkejut sekali, akan tetapi Raden Warutama tidak memberi
kesempatan mereka mengeluarkan kata-kata.
"Nenekku adalah adik
misan Ki Patih Narotama, akan tetapi sudahlah, hal itu tidak ada pentingnya
dibicarakan. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita dapat menundukkan Endang
Patibroto. Jangan lupa, dia itu sakti luar biasa. Aku mengenal segala ilmunya
yang dahsyat. Ajl Pethit Nogo dan Wisangnala yang menyeramkan, apalagi pukulan
Gelap Musti yang mengerikan. Belum lagi panah tangan yang beracun dan semua itu
ditambah gerakan-gerakannya yang amat lincah. Dalam hal kesaktian, dia tidak
berada di sebelah bawah tingkat Adipati Tejolaksono. Karena itu, kita harus
mempergunakan akal. Syukur-syukur kalau selain dapat membujuknya, juga dapat
menarik sebagian orang-orang gagah yang memasuki sayembara agar suka menjadi
sekutu kita."
"Bagaimana siasatmu,
Raden?" tanya Kolohangkoro yang diam-diam bergidik ngeri juga mendengar
akan kesaktian Endang Patibroto, pemimpin Padepokan Wilis yang sudah lama ia
dengar namaya itu. Apalagi kalau ia teringat bahwa Endang Patibroto adalah
murid Sang Dibyo Mamangkoro, belum apa-apa tengkuknya sudah terasa tebal dan
mengkirik.
"Kita harus dapat
bersabar dan melihat gelagat. Sebaiknya kalau kita turun tangan sebelum
sayembara diadakan tiga hari lagi. Kalian temuilah Endang Patibroto di puncak,
dan cobalah kalian membujuknya untuk suka bekerja sama. Bangkitkan hatinya,
ingatkan kepadanya akan perlakuan Jenggala terhadap dirinya agar ia timbul rasa
marah kepada Jenggala. Ingat, sasaran yang paling lunak adalah Jenggala.
Panjalu merupakan negara yang kuat tidak boleh dibuat main-main, apalagi
Tejolaksono berada di sana. Sebaiknya kita mencurahkan perhatian kepada
Jenggala yang pada dewasa ini sedang lemah sekali dan aku kelak akan mencari
jalan untuk mendapatkan kedudukan dan pengaruh di sana. Nah, kalau dia terpikat
dan suka bersekutu, syukurlah dan kita akan menentukan sikap dan siasat
selanjutnya."
"Kalau dia
menolak?" tanya Ni Dewi Nilamanik.
"Kalau dia menolak,
kita harus dapat mengambil keuntungan pula dari penolakan ini. Kalian tantang
dia bertanding dan aku akan muncul membantunya!"
"Hah ...!" Ki
Kolohangkoro melompat ke atas, memandang marah.
Raden Warutama mengangkat
tangannya dan tersenyum.
"Duduklah, Ki
Kolohangkoro dan simpan dulu kemarahanmu. Aku membantunya hanya siasat belaka.
Tentu saja akan kuusahakan agar kalian berdua lolos dan selanjutnya aku yang
akan membujuk-bujuknya. Tentu lebih mudah bagiku setelah aku membantunya
melawan kalian. Malamnya, aku datang ke tempat ini dan kalian harap menanti di
sini."
Ni Dewi
Nilamanik mengangguk-angguk, juga Ki Kolohangkoro mulai mengerti dan diam-diam
mereka merasa kagum bukan main orang ini.
No comments:
Post a Comment