Perawan Lembah Wilis; Bagian 090



Ni Dewi Nilamanik maklum betapa dahsyatnya ilmu ini, dan karena belum dilatih sempuma, maka kalau gagal, berarti akan menewaskan Ki Kolohangkoro sendiri. Cepat ia meloncat maju ke depan Ki Kolohangkoro dan berkata halus,
"Kolohangkoro, simpanlah kembali ajimu dan jangan menurutkan nafsu amarah yang hanya akan merugikan dirimu sendiri. Biarlah aku menghadapi orang ini." Di dalam kehalusan suara Ni Dewi Nilamanik terkandung wibawa yang menggetar dan menyadarkan Ki Kolohangkoro yang dapat menekan perasaannya. Sambil bersungut-sungut raksasa ini kembali bangkit, memungut nenggalanya dan mundur berdiri di pinggir.

Ni Dewi Nilamanik melangkah maju dan menghadapi laki-laki itu dan berkata, suaranya halus, diiring kerling tajam dan senyum manis,
"Eh, satria perkasa, siapakah nama andika yang sudah mengenal kami dan apa pula kehendakmu menghadang perjalanan kami?"
"Ni Dewi Nilamanik yang cantik manis, namaku adalah Raden Warutama, tempat asalku dari Bali-dwipa. Aku tidak berniat buruk terhadap andika berdua, melainkan tadi mendengar akan percakapan kalian yang cocok sekali dengan hasrat hatiku, maka aku ingin berkenalan dan bersahabat dengan kedua orang sakti mandraguna seperti kalian."
"Hemmm, tidak saja engkau digdaya, Raden Warutama, juga engkau pandai sekali bicara, kata-katamu mengelus hati melalui telinga. Kami tidak tahu sesuatu tentang andika, sebaliknya apakah yang andika ketahui tentang kami?"
Laki-laki yang bernama Raden Warutama itu tertawa dan tampak deretan giginya yang masih utuh, kuat dan putih mengkilat.
"Ni Dewi, biarpun aku seorang bodoh, seorang pengembara yang sedang berkelana, namun sudah banyak aku mendengar akan segala peristiwa di dunia ini. Bukankah andika berdua ini adalah pemimpin-pemimpin dari barisan yang datang dari Cola, dibawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati, yang baru-baru ini berperang melawan Kerajaan Panjalu dan dikalahkan? Bukankah andika berdua kalah dalam perang melawan Adipati Tejolaksono? Ahhh, tentu saja kalah karena untuk dapat berhasil seharusnya menggunakan cara yang halus ....“
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali. Kiranya orang ini benar-benar telah mengenaI mereka dan tahu pula akan keadaan mereka. Ni Dewi Nilamanik maklum akan bahayanya orang ini, maka ia cepat mengerahkan ajinya, memasang aji Guna Sakti untuk menguji dan kalau mungkin mengalahkan orang ini agar tunduk di bawah pengaruhnya. Dengan kerling mata yang mengelus hati dan senyum yang manis mengalahkan madu, suaranya halus menggetar penuh hawa sakti yang mengandung aji guna-guna, Ni Dewi Nilamanik berkata,
"Duhai sang bagus yang perkasa, andika benar-benar amat mengagumkan hatiku! Sudah dua kali andika mendebar-debarkan jantungku dengan menyebut aku orang wanita yang cantik jelita dan manis. Benarkah itu, Raden Warutama? Pandanglah wajahku baik-baik. Benarkah aku cantik jelita? Pandang mataku, lihat baik-baik, tidakkah andika melihat sesuatu dalam sinar mataku? Tidakkah melihat cinta kasih ....”
Raden Warutama memandang, tersenyum dan mengangguk.
"Andika memang cantik jelita, matamu hebat.... “
"Aduh, Raden ... adakah andika mencintaku ... “ Kembali Warutama tersenyum lebar.
"Alangkah mudahnya mencinta seorang wanita seperti andika.... “
"Engkau mencintaku?"
"Aku mencintamu."

Diam-diam hati Ni Dewi Nilamanik girang bukan main, juga bangga. Betapapun saktinya lawan, kalau dia itu seorang pria, jarang yang akan mampu melawan aji pengasihannya dan jelas bahwa laki-laki inipun sudah tercengkeram oleh ajinya yang ampuh.
"Raden Warutama, kalau benar engkau mencintaku, tentu engkau akan suka melakukan segala permintaanku, bukan? Engkau akan tunduk kepadaku? Melakukan segala perintahku?"
Warutama menunduk dan mengangguk.
"Tentu, kalau saja perintah itu menyenangkan, misalnya... diperintah menciummu!"
Ihh, dasar laki-laki pemogoran, demikian Ni Dewi Nilamanik mengumpat di dalam hatinya. Sudah terpengaruh juga masih ceriwis! Akan tetapi ia tetap tersenyum dan memperkuat getaran aji pengasihan Guna Saktinya.
"Tentu saja boleh! Orang mencinta tentu boleh mencium. Dan kau boleh menciumku, Raden Warutama, akan tetapi sesudah mencium engkau harus berlutut menyembah di depan kakiku, mengerti?"
Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk sambil melangkah maju. Ni Dewi Nilamanik menjulurkan mukanya, agak berpaling, memberikan pipi kirinya.
"Nah, kau boleh mengambung pipi kiriku, lalu berlututlah, Raden Warutama! Engkau akan menurut segala perintahku!" Perintah ini dikeluarkan dengan suara menggetar penuh hawa sakti yang akan menundukkan hati setiap orang pria.
Warutama melangkah makin dekat, lalu memeluk tubuh Ni Dewl Nilamanik yang ramping dan padat, kemudian ia menundukkan mukanya mencium mulut wanita itu dengan mesra dan penuh nafsu! Kagetlah Ni Dewi Nilamanik. Gerakan ini sama sekali bukan gerakan orang yang telah tunduk dan terpengaruh aji pengasihan! Cepat ia menggerakkan kedua tangan hendak mendorong, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh Warutama dan sama sekali tidak dapat ia gerakkan lagi! Ia hendak meronta dan berseru, akan tetapi mulutnya telah tercium, bibirnya tergigit mulut Raden Warutama sehingga ia hanya dapat menahan nafas dan terpaksa mandah saja membiarkan laki-laki itu menciumnya sepuas hatinya. Sampai terengah-engah Ni Dewi Nilamanik ketika Warutama melepaskan ciumannya, lalu menatap wajahnya dengan pandang mata yang tajam melebihi ujung pedang dan yang mengandung sinar aneh sekali, langsung menembus jantungnya.
Terdengar oleh Ni Dewi Nilamanik bisikan-bisikan mesra laki-laki itu dan suaranya halus penuh getaran hawa sakti,
"Ni Dewi Nilamanik, kau telah membuktikan betapa kuatnya aku, betapa nikmatnya ciumanku, engkau jatuh cinta kepadaku dan akan melakukan segala perintahku. Beranikah engkau menyangka!? Engkau mencintaku, bukan?" Bagaikan telah luluh semua kemauannya, Ni Dewi Nilamanik yang memandang wajah pria itu dari balik bulu matanya yang setengah terpejam, mengangguk.

Raden Warutama tertawa dan melepaskan pelukannya.
"Ni Dewi yang manis, kekasihku kau berlutut dan menyembahlah kepadaku!"
Ni Dewi Nilamanik menjatuhkan diri berlutut di depan Raden Warutama yang tertawa bergelak. Ia hendak menyembah, akan tetapi Ki Kolohangkoro sudah meloncat maju dan membentak keras,
“Bunda Dewi! Sadarlah, andika terkena guna asmara!!" Bentakan Ki Kolohangkoro bukanlah sembarang bentakan, melainkan bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga batin sehingga mengandung getaran amat kuat. Ni Dewi Nilamanik tersentak kaget, membuka matanya dan ketika ia melihat betapa ia berlutut di depan kaki Raden Warutama yang tertawa bergelak, ia memekik nyaring dan melompat bangun, cepat mencabut bulu merahnya dan hendak menerjang maju. Akan tetapi Raden Warutama sudah mendahuluinya, cepat menyambar dan memegang ujung kebutan sambil berkata, suaranya berbeda dengan tadi, kini berpengaruh dan sungguh-sungguh,
"Ni Dewi Nilamanik! Hentikan main-main ini terhadap aku! Engkau tahu bahwa aku bukan sembarang orang yang boleh dibuat main-main. Sudah kubuktikan bahwa aku tidak kalah olehmu dalam kesaktian. Juga andika, Ki Kolohangkoro, simpan senjatamu dan mari bicara secara baik-baik. Kalau kalian berkeras, biarpun aku belum tentu akan mudah menang, akan tetapi jangan harap andika berdua akan mudah mengalahkan Raden Warutama! Kesudahannya kita bertiga akan rugi, apalagi kalau ketahuan oleh Endang Patibroto. Mari kita bicara secara sahabat, maukah?"
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro saling pandang. Warutama lalu memberi isyarat,
"Mari ikut bersamaku, kita bicara di tempat sembunyi agar jangan terlihat dan terdengar orang lain."

Pergilah mereka berdua mengikuti laki-laki perkasa itu memasuki semak-semak dan tak lama kemudian mereka sudah bercakap-cakap di dalam sebuah guha yang terdapat di balik semak-semak itu. Mereka bicara dengan serius samba berbisik-bisik.
"Ketahuilah kalian, aku bukanlah lawan kalian, melainkan sekutu karena kita mempunyai hasrat yang sama sungguhpun dengan alasan lain. Kalian ingin membujuk Endang Patibroto menjadi sekutu menghancurkan Panjalu dan Jenggala? Akupun ingin mendapatkan Endang Patibroto si janda jelita perkasa itu sebagai kekasih! Kalian ingin membunuhnya kalau gagal? Demikian pula aku yang mendendam kepadanya! Kalian ingin melaksanakan tugas atasan kalian untuk menjatuhkan kerajaan-kerajaan keturunan Mataram? Aku juga! Dan kini tiba saatnya untuk kita bergerak. Akan tetapi, kalian harus selalu menurut dan tunduk atas petunjuk-petunjukku ...”
Melihat kedua orang itu mengerutkan kening, Raden Warutama cepat menyambung,
"Harap kalian jangan ragu- ragu, Aku lebih mengetahui keadaan Endang Patibroto, aku lebih mengetahui pula keadaan kerajaan-kerajaan itu. Menggunakan kekerasan terhadap Endang, amat berbahaya dan takkan berhasil. Tak usah kau berkecil hati, Ki Kolohanghoro. Ketahuilah, dahulu kakak seperguruan andika, mendiang Wiku Kalawisesa, adalah seorang pembantuku pula."
Mendengar ini, kedua orang ini makin percaya. Apalagi setelah kini Ni Dewi Nilamanik yakin bahwa pria ini benar-benar menarik, selain pandai dan tampan, juga ahli dalam soal-soal yang disukainya, yaitu bermain cinta.
"Raden Warutama, katakanlah bagaimana rencanamu, kalau memang baik tentu kami tidak akan berkeberatan untuk membantumu."
Warutama bangkit kembali kejenakaan dan kenakalannya terhadap wanita.
"Andika memang cantik manis, Dewi, dan aku percaya, di antara kita berdua pasti akan dapat dibangun kerja sama yang mesra dan erat, yang akan membawa kita berdua ke arah hasil gilang-gemilang di kemudian hari. Percayalah, aku Raden Warutama adalah seorang yang sudah tergembleng bertahun-tahun, sudah mengunjungi semua pendeta-pendeta sakti di Bali-dwipa untuk memperdalam ilmu, dan ketahuilah pula, bahwa aku adalah keturunan dari mendiang Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna."
"Ahhh ....???" Kedua orang itu terkejut sekali, akan tetapi Raden Warutama tidak memberi kesempatan mereka mengeluarkan kata-kata.
"Nenekku adalah adik misan Ki Patih Narotama, akan tetapi sudahlah, hal itu tidak ada pentingnya dibicarakan. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita dapat menundukkan Endang Patibroto. Jangan lupa, dia itu sakti luar biasa. Aku mengenal segala ilmunya yang dahsyat. Ajl Pethit Nogo dan Wisangnala yang menyeramkan, apalagi pukulan Gelap Musti yang mengerikan. Belum lagi panah tangan yang beracun dan semua itu ditambah gerakan-gerakannya yang amat lincah. Dalam hal kesaktian, dia tidak berada di sebelah bawah tingkat Adipati Tejolaksono. Karena itu, kita harus mempergunakan akal. Syukur-syukur kalau selain dapat membujuknya, juga dapat menarik sebagian orang-orang gagah yang memasuki sayembara agar suka menjadi sekutu kita."
"Bagaimana siasatmu, Raden?" tanya Kolohangkoro yang diam-diam bergidik ngeri juga mendengar akan kesaktian Endang Patibroto, pemimpin Padepokan Wilis yang sudah lama ia dengar namaya itu. Apalagi kalau ia teringat bahwa Endang Patibroto adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro, belum apa-apa tengkuknya sudah terasa tebal dan mengkirik.
"Kita harus dapat bersabar dan melihat gelagat. Sebaiknya kalau kita turun tangan sebelum sayembara diadakan tiga hari lagi. Kalian temuilah Endang Patibroto di puncak, dan cobalah kalian membujuknya untuk suka bekerja sama. Bangkitkan hatinya, ingatkan kepadanya akan perlakuan Jenggala terhadap dirinya agar ia timbul rasa marah kepada Jenggala. Ingat, sasaran yang paling lunak adalah Jenggala. Panjalu merupakan negara yang kuat tidak boleh dibuat main-main, apalagi Tejolaksono berada di sana. Sebaiknya kita mencurahkan perhatian kepada Jenggala yang pada dewasa ini sedang lemah sekali dan aku kelak akan mencari jalan untuk mendapatkan kedudukan dan pengaruh di sana. Nah, kalau dia terpikat dan suka bersekutu, syukurlah dan kita akan menentukan sikap dan siasat selanjutnya."
"Kalau dia menolak?" tanya Ni Dewi Nilamanik.
"Kalau dia menolak, kita harus dapat mengambil keuntungan pula dari penolakan ini. Kalian tantang dia bertanding dan aku akan muncul membantunya!"
"Hah ...!" Ki Kolohangkoro melompat ke atas, memandang marah.

Raden Warutama mengangkat tangannya dan tersenyum.
"Duduklah, Ki Kolohangkoro dan simpan dulu kemarahanmu. Aku membantunya hanya siasat belaka. Tentu saja akan kuusahakan agar kalian berdua lolos dan selanjutnya aku yang akan membujuk-bujuknya. Tentu lebih mudah bagiku setelah aku membantunya melawan kalian. Malamnya, aku datang ke tempat ini dan kalian harap menanti di sini."
Ni Dewi Nilamanik mengangguk-angguk, juga Ki Kolohangkoro mulai mengerti dan diam-diam mereka merasa kagum bukan main orang ini.

<<< Bagian 089                                                                                    Bagian 091 >>>

No comments:

Post a Comment