"Ha-ha-ha, jangan bicara tentang budi, angger pangeran. Segala macam sifat kebaikan terhadap orang lain yang dilakukan seseorang tiada lain hanyalah kewajiban hidup semata. Pula, belum tentu orang tua macam aku ini akan dapat menandingi kesaktian seorang puteri sakti mandraguna seperti ayundamu Endang Patibroto itu, ha-ha- ha!"
Karena waktu diadakannya
sayembara tanding sudah mendekat, maka setelah memulihkan kelemahan tubuhnya
dengan makan buah-buahan dan minum, Pangeran Panji Sigit lalu pergi bersama Ki
Datujiwa menuju ke puncak Wilis.
Pada waktu itulah, seperti
yang telah diceritakan terdahulu, di Selopenangkep terjadi perang yang akhirnya
memaksa Adipati Tejolaksono dan isterinya melarikan diri ke Panjalu. Oleh
karena perang kemudian dilanjutkan dengan bantuan barisan Panjalu, maka
sayembara tanding ini tidak terdengar oleh para satria dan pangeran di Kerajaan
Panjalu maupun Jenggala yang saat itu sedang lemah dan tenggelam akibat
permainan Suminten yang membuat rajanya tidak memperdulikan urusan
pemerintahan. Di dalam hutan di lereng Gunung Wilis sebelah timur, berkelebat
bayangan dua orang. Bayangan ini berkelebat cepat sekali sehingga mencurigakan
dan menyeramkan bagi pemandangan orang biasa. Seperti bayangan setan-setan
saja. Apalagi kalau dapat melihat orangnya, tentu akan lebih menyeramkan. Yang
seorang adalah laki-laki tinggi besar seperti raksasa, telinganya terhias
anting-anting emas, matanya terbelalak lebar, usianya kurang lebih lima puluh
tahun. Adapun orang kedua adalah seorang wanita yang cantik, gerak-geriknya
mengandung kegairahan, genit dan sepasang matanya jalang, jelas terbayang nafsu
berahi bersembunyi di balik pandang mata yang memikat, senyum dan cuping
hidungnya yang bergerak-gerak. Namun di balik kegenitannya ini, bersembunyi
kekejaman yang mengerikan. Mereka ini bukan lain adalah Ki Kolohangkoro,
pimpinan kaum penyembah Bathara Kala, dan Ni Dewi Nilamanik, kepala kaum
penyembah Bathari Durga! Usianya sudah empat puluh tahunan namun ia masih kelihatan
muda dan menarik sekali. Seperti telah dituturkan di bagian depan, dua orang
tokoh yang menjadi anak buah Sang Wasi Bagaspati ini telah mengalami kegagalan
dalam perang menghadapi barisan Panjalu. Mereka kehilangan anak buah mereka
yang terbasmi oleh prajurit-prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tejolaksono.
Kemudian, setelah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati ditundukkan oleh
kakek sakti mandraguna yang dikenal sebagai Bhagawan Ekadenta, Bhagawan
Jitendrya atau juga Sirnasarira, mereka semua mundur dan sekaligus siasat telah
diubah sama sekali. Mereka membubarkan anak buah yang ditarik ke barat dan
hanya mempergunakan tenaga-tenaga ahli, yang cerdik pandai dan memiliki
kesaktian, untuk melakukan penyelundupan dan menyusup ke dalam kota raja, berusaha
untuk menggulingkan kerajaan dari sebelah dalam tanpa kekerasan perang!
Demikianlah, kedua orang
anak buah Wasi Bagaspati itu kini tiba di lereng Wilis sebelah timur dalam
perjalanan mereka menunaikan tugas baru, yaitu mencari orang-orang pandai untuk
diajak bersekutu. Di sepanjang jalan melalui daerah Wilis mereka telah
mendengar akan adanya sayembara tanding yang terjadi di puncak Wilis beberapa
hari lagi. Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena memang Ni Dewi
Nilamanik berniat pergi ke puncak Wilis menemui Endang Patibroto yang ia dengar
berada di tempat itu menjadi kepala Padepokan Wilis yang mulai terkenal.
Mula-mula Ki Kolohangkoro menentang keras akan niat hati Ni Dewi Nilamanik yang
ingin mengajak Endang Patibroto bersekutu ini,
"Bagaimana kita dapat
bersekutu dengan wanita iblis itu, Bunda Dewi? Dia adalah musuh besar kita dan
aku akan lebih setuju kalau kita pergi mencari dia untuk membunuhnya,
membalaskan dendam akan kematian kakang Wiku Kalawisesa! Dan bukankah belasan
tahun yang lalu, paman Bhagawan Kundilomuko juga tewas di tangan Endang
Patibroto? Dia adalah musuh kita, betapa mungkin diajak bersekutu?" Ni
Dewi Nilamanik tersenyum.
"Memang benar, dialah
yang telah membunuh kedua orang saudara kita itu. Akan tetapi, engkau harus
belajar mempergunakan kecerdikan, mempergunakan akal, Kolohangkoro! Manusia tak
dapat hidup dengan berhasil hanya mengandalkan okol (kekuatan) seperti engkau.
Kadang-kadang kita lebih membutuhkan akal daripada okol."
"Akal yang bagaimana
yang akan kita pergunakan terhadap Endang Patibroto, Bunda Dew!?"
"Serahkan saja
kepadaku. Endang Patibroto bukanlah seorang lawan yang boleh dipandang ringan.
Dalam kedigdayaan, mungkin dia lebih berbahaya daripada Tejolaksono sendiri.
Kita harus berhati-hati, karena bukankah sang wasi telah berpesan agar kita
menghemat tenaga dan tidak lagi menggunakan kekerasan? Kita tahu bahwa Endang
Patibroto berbeda dengan Tejolaksono. Wanita itu ganas dan keras hati, beberapa
kali menimbulkan geger di kedua kerajaan, tidak setia seperti Tejolaksono,
malah dia adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro yang menjadi datuk golongan hitam.
Alangkah baik dan menguntungkan kalau kita dapat menempel dan membujuknya.
Selain itu, tentu dalam sayembara tanding yang diadakan kita akan bertemu
banyak orang pandai. Kesempatan sebaik ini tidak harus dilewatkan saja. Akan
besar jasa kita kalau kita berhasil membujuk mereka menjadi sekutu, maka kita
harus bersikap halus, tidak menggunakan kekerasan."
"Bagaimana kalau tidak
berhasil?" tanya Ki Kolohangkoro yang tidak biasa bersikap halus dan
selalu haus darah ini.
"Kita lihat saja nanti
dan serahkan semua akal kepadaku."
Setelah Kl Kolohangkoro
menerima banyak petunjuk dari Ni Dewi Nilamanik, akhirnya kedua orang ini
dengan gerak cepat mereka mendaki Gunung Wilis dari lereng sebelah timur. Pagi
itu mereka sudah memasuki hutan dan terus mendaki. Gerakan mereka amat
menyeramkan karena tidak seperti manusia lumrah, seperti setan penghuni hutan
saja, seolah-olah kedua kaki mereka tidak menyentuh tanah. Ketika mereka tiba
di lereng yang tinggi, keduanya berhenti karena Ki Kolohangkoro menunjuk ke
arah utara. Mereka memandang sambil berdiri di atas puncak kecil itu, di daerah
yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.
"Lihat, Bunda Dewi.
Banyak sudah orang berkumpul di sana!" Si raksasa menudingkan telunjuknya.
"Kau benar. Akan ramai
agaknya sayembara ini. Lihat, gerakan merekapun tangkas. Banyak pemuda-pemuda
yang tampan ...hemmm..“
"Wah, Bunda akan banyak
senang, akan tetapi aku... ?”
"Hushhh, siapa ingin
bersenang-senang? Apakah kalau aku melihat pemuda tampan harus mendapatkannya?
Dan kau boleh menahan nafsu dulu, Kolohangkoro. Kita menghadapi tugas penting
sekali. Kalau berhasil akalku menarik Endang Patibroto dan orang-orang sakti
sebagai sekutu, hal itu baik sekali. Andaikata tidak berhasil, barulah kita
mencari akal untuk membalas dendam kepada Endang Patibroto atas kematian Wiku
Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko!"
"Ha-ha-ha! Bicara itu
mudah, namun pelaksanaannya yang sukar!"
Ni Dewi Nilamanik dan Ki
Kolohangkoro terkejut sekali dan bagaikan disambar petir mereka cepat meloncat
dan membalikkan tubuh. Tahu-tahu di belakang mereka telah berdiri seorang
laki-laki yang bertolak pinggang dan tersenyum-senyum. Karena terkejut melihat
betapa ada orang mengintai dan mendengarkan percakapan tadi, Ni Dewi Nilamanik
tidak membuang waktu lagi, melainkan cepat menubruk maju mengirim pukulan
dengan tangan kirinya yang ampuh.
"Desss ...!"
Dewi Nilamanik menahan pekik
karena sakit dan kaget. Pukulannya telah ditangkis dan ternyata lengan tangan
orang itu ampuh sekali, membuat ia terlempar ke belakang sampai tiga tombak
lebih, sedangkan orang itu hanya terhuyung sedikit sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh nama
Ni Dewi Nilamanik bukan nama kosong belaka! Selain sakti mandraguna, juga amat
cantik jelita seperti bidadari kahyangan, ha-ha-ha!" Merah wajah NI Dewi
Nilamanik. Ucapan orang ini bukan seperti seorang musuh. Ia menahan kemarahan
dan memandang penuh perhatian. Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh
tahun, wajahnya tampan dan gagah sekali dengan kumis dan jenggotnya yang pendek
terpelihara rapih. Sepasang matanya tajam dan penuh kecerdikan dengan kerling
yang menyambar-nyambar. Pakaian yang menutupi tubuhnya indah dan mewah,
sedangkan tubuh laki-laki itu juga tegap dan kekar namun gerak-geriknya halus
seperti seorang bangsawan. Seorang pria yang sudah "matang", dan
sekaligus hati Ni Dewi Nilamanik tertarik. Laki-laki ini jelas memiliki
kedigdayaan, tampan dan gagah, kaya dengan pengalaman, pandai merayu. Benar-benar
merupakan seorang calon sahabat baik dan menyenangkan!
Akan tetapi Ki Kolohangkoro
tak dapat menahan kemarahannya lagi. Jelas bahwa orang ini penyelidik musuh dan
sudah berani menghina Ni Dewi Nilamanik. Sambil mengeluarkan gerengan keras Ki
Kolohangkoro sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya yang sebesar buah
kelapa, menyambar ke arah kepala laki-laki itu.
"Werrrr ...!"
Dengan amat mudahnya
laki-laki itu mengelak, kemudian dari bawah tangannya dengan jari-jari terbuka
menyambar ke arah siku lengan Ki Kolohangkoro yang memukul. Raksasa ini kaget,
maklum bahwa sambungan sikunya terancam bahaya, maka cepat ia menarik kembali
lengannya dan melindunginya dengan tangkisan lengan kiri didorong ke depan.
"Dukkk ..” Dua buah
tangan yang sama kuatnya bertemu, saling dorong dan akibatnya tubuh Ki
Kolohangkoro terjengkang dan hampir roboh kalau saja kakek raksasa yang digdaya
ini tidak cepat meloncat ke belakang. Laki-laki Itu bertolak pinggang dan
tertawa.
"Ha-ha-ha, Ki
Kolohangkoro, engkaupun hebat dan kuat!"
Ki Kolohangkoro kaget. Orang
ini sudah mengenal Ni Dewi Nilamanik dan dia. Juga tenaganya amat kuat. Musuh
yang tangguh ini perlu cepat-cepat ditewaskan sebelum mendatangkan bahaya. Maka
cepat ia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang nenggala yang
menyeramkan, kemudian menubruk maju sambil mengeluarkan suara menggereng.
Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik hendak mencegah, akan tetapi ia mengurungkan
niatnya karena ia ingin melihat sampai di mana kehebatan laki-laki ini sebelum
ia mengambil keputusan untuk menjadikannya teman atau lawan. Ia hanya berdiri
tenang dan diam-diam telah mengeluarkan kebutannya, dipegang di tangan kanan,
siap-siap membantu temannya kalau sampai terdesak.
"Bagus! Akupun memang
ingin menguji kalian!" laki-laki itu berkata lagi, masih tersenyum-senyum
dan begitu nenggala itu menerjang dengan sebuah tusukan ke arah dadanya, ia
cepat miringkan tubuh sambil mencabut sebatang keris dari pinggangnya. Gerakan
orang itu cepat bukan main, tahu-tahu tubuhnya yang miring sudah meloncat ke
atas dan turun ke sebelah kanan Ki Kolohangkoro, kerisnya menusuk lambung
dengan cepat dan mendatangkan angin dingin. Ki Kolohangkoro bukan seorang
lemah, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka sambil memutar
tubuh ke kanan, nenggalanya bergerak menangkis keris lawan yang meluncur ke
arah lambung.
"Tranggg ...!"
Bunga api berpijar, keris dan nenggala terpental ke belakang, meluncur maju
lagi dan bertemu lagi mengakibatkan suara nyaring berkali-kali,
"trang ... trang
..cring....!” Dan bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata. Ki Kolohangkoro
terkejut dan juga penasaran. Senjatanya adalah senjata wasiat yang ampuh, pula
amatlah berat. Sebaliknya, senjata lawan hanya sebatang keris yang ringan.
Bagaimana setiap kali beradu, tangannya yang memegang nenggala menjadi amat
panas telapaknya dan lengannya seolah-olah akan lumpuh? Ia makin marah dan
sambil menggerenggereng la memutar nenggalanya, menerjang lawan dengan gerakan
cepat dan kuat.
Namun, ternyata lawannya itu
memiliki keringanan tubuh yang mentakjubkan. Tubuh itu berkelebatan seperti
burung srikatan terbang saja, tak pernah dapat tersenggol ujung senjata
nenggala. Sebaliknya, setiap kali Ki Kolohangkoro berseru kaget karena
tahu-tahu keris lawan sudah dekat sekali dengan tubuhnya dan hanya karena
kewaspadaannya saja ia berhasil menghindar. Dengan kemarahan meluap Ki
Kolohangkoro menubruk maju, mengirim serangan dahsyat, nenggalanya meluncur ke
arah dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram mengikuti gerakan nenggala.
"Bagus ...!" Laki-laki
itu masih dapat tersenyum tenang, tubuhnya miring ke kemudian pada saat
kerisnya menangkis nenggala, kakinya terayun keduanya, susul-menyusul, yang
kanan menangkis cengkeraman tangan lawan, yang kiri menendang dan tepat
mengenaI pergelangan tangan kanan lawan membuat nenggala itu terlepas dan
terlempar karena Ki Kolohangkoro merasa tangan kanannya lumpuh!
"Kepandaianmu hebat, Ki
Kolohangkoro, andika patut menjadi sahabat dan sekutuku!" kata laki-laki
itu.
Akan tetapi Ki
Kolohangkoro marah sekali. Wajahnya yang seperti wajah raksasa liar itu menjadi
merah, matanya yang lebar melotot dan tiba-tiba tubuhnya merendah, seperti
berjongkok, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri, seluruh tubuh menggigil
dan dari dalam perutnya keluar suara aneh, seperti suara tangis anak kecil.
Melihat ini laki-laki itu tercengang dan mundur dua langkah. Sedangkan Ni Dewi
Nilamanik terkejut sekali dan cepat ia maju. Wanita ini maklum bahwa Ki
Kolohangkoro sudah menjadi nekat dan hendak mempergunakan ajinya yang baru, yaitu
Aji Kolokrodo yang sedang dilatihnya, hasil dari ajaran Sang Wasi Bagaspati.
Untuk menyempurnakan Aji Kolokrodo inilah maka Ki Kolohangkoro suka makan bocah
hidup-hidup, diminum darahnya dan diganyang dagingnya!
No comments:
Post a Comment