Perawan Lembah Wilis; Bagian 089


"Ha-ha-ha, jangan bicara tentang budi, angger pangeran. Segala macam sifat kebaikan terhadap orang lain yang dilakukan seseorang tiada lain hanyalah kewajiban hidup semata. Pula, belum tentu orang tua macam aku ini akan dapat menandingi kesaktian seorang puteri sakti mandraguna seperti ayundamu Endang Patibroto itu, ha-ha- ha!"
Karena waktu diadakannya sayembara tanding sudah mendekat, maka setelah memulihkan kelemahan tubuhnya dengan makan buah-buahan dan minum, Pangeran Panji Sigit lalu pergi bersama Ki Datujiwa menuju ke puncak Wilis.

Pada waktu itulah, seperti yang telah diceritakan terdahulu, di Selopenangkep terjadi perang yang akhirnya memaksa Adipati Tejolaksono dan isterinya melarikan diri ke Panjalu. Oleh karena perang kemudian dilanjutkan dengan bantuan barisan Panjalu, maka sayembara tanding ini tidak terdengar oleh para satria dan pangeran di Kerajaan Panjalu maupun Jenggala yang saat itu sedang lemah dan tenggelam akibat permainan Suminten yang membuat rajanya tidak memperdulikan urusan pemerintahan. Di dalam hutan di lereng Gunung Wilis sebelah timur, berkelebat bayangan dua orang. Bayangan ini berkelebat cepat sekali sehingga mencurigakan dan menyeramkan bagi pemandangan orang biasa. Seperti bayangan setan-setan saja. Apalagi kalau dapat melihat orangnya, tentu akan lebih menyeramkan. Yang seorang adalah laki-laki tinggi besar seperti raksasa, telinganya terhias anting-anting emas, matanya terbelalak lebar, usianya kurang lebih lima puluh tahun. Adapun orang kedua adalah seorang wanita yang cantik, gerak-geriknya mengandung kegairahan, genit dan sepasang matanya jalang, jelas terbayang nafsu berahi bersembunyi di balik pandang mata yang memikat, senyum dan cuping hidungnya yang bergerak-gerak. Namun di balik kegenitannya ini, bersembunyi kekejaman yang mengerikan. Mereka ini bukan lain adalah Ki Kolohangkoro, pimpinan kaum penyembah Bathara Kala, dan Ni Dewi Nilamanik, kepala kaum penyembah Bathari Durga! Usianya sudah empat puluh tahunan namun ia masih kelihatan muda dan menarik sekali. Seperti telah dituturkan di bagian depan, dua orang tokoh yang menjadi anak buah Sang Wasi Bagaspati ini telah mengalami kegagalan dalam perang menghadapi barisan Panjalu. Mereka kehilangan anak buah mereka yang terbasmi oleh prajurit-prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tejolaksono. Kemudian, setelah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati ditundukkan oleh kakek sakti mandraguna yang dikenal sebagai Bhagawan Ekadenta, Bhagawan Jitendrya atau juga Sirnasarira, mereka semua mundur dan sekaligus siasat telah diubah sama sekali. Mereka membubarkan anak buah yang ditarik ke barat dan hanya mempergunakan tenaga-tenaga ahli, yang cerdik pandai dan memiliki kesaktian, untuk melakukan penyelundupan dan menyusup ke dalam kota raja, berusaha untuk menggulingkan kerajaan dari sebelah dalam tanpa kekerasan perang!

Demikianlah, kedua orang anak buah Wasi Bagaspati itu kini tiba di lereng Wilis sebelah timur dalam perjalanan mereka menunaikan tugas baru, yaitu mencari orang-orang pandai untuk diajak bersekutu. Di sepanjang jalan melalui daerah Wilis mereka telah mendengar akan adanya sayembara tanding yang terjadi di puncak Wilis beberapa hari lagi. Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena memang Ni Dewi Nilamanik berniat pergi ke puncak Wilis menemui Endang Patibroto yang ia dengar berada di tempat itu menjadi kepala Padepokan Wilis yang mulai terkenal. Mula-mula Ki Kolohangkoro menentang keras akan niat hati Ni Dewi Nilamanik yang ingin mengajak Endang Patibroto bersekutu ini,
"Bagaimana kita dapat bersekutu dengan wanita iblis itu, Bunda Dewi? Dia adalah musuh besar kita dan aku akan lebih setuju kalau kita pergi mencari dia untuk membunuhnya, membalaskan dendam akan kematian kakang Wiku Kalawisesa! Dan bukankah belasan tahun yang lalu, paman Bhagawan Kundilomuko juga tewas di tangan Endang Patibroto? Dia adalah musuh kita, betapa mungkin diajak bersekutu?" Ni Dewi Nilamanik tersenyum.
"Memang benar, dialah yang telah membunuh kedua orang saudara kita itu. Akan tetapi, engkau harus belajar mempergunakan kecerdikan, mempergunakan akal, Kolohangkoro! Manusia tak dapat hidup dengan berhasil hanya mengandalkan okol (kekuatan) seperti engkau. Kadang-kadang kita lebih membutuhkan akal daripada okol."
"Akal yang bagaimana yang akan kita pergunakan terhadap Endang Patibroto, Bunda Dew!?"
"Serahkan saja kepadaku. Endang Patibroto bukanlah seorang lawan yang boleh dipandang ringan. Dalam kedigdayaan, mungkin dia lebih berbahaya daripada Tejolaksono sendiri. Kita harus berhati-hati, karena bukankah sang wasi telah berpesan agar kita menghemat tenaga dan tidak lagi menggunakan kekerasan? Kita tahu bahwa Endang Patibroto berbeda dengan Tejolaksono. Wanita itu ganas dan keras hati, beberapa kali menimbulkan geger di kedua kerajaan, tidak setia seperti Tejolaksono, malah dia adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro yang menjadi datuk golongan hitam. Alangkah baik dan menguntungkan kalau kita dapat menempel dan membujuknya. Selain itu, tentu dalam sayembara tanding yang diadakan kita akan bertemu banyak orang pandai. Kesempatan sebaik ini tidak harus dilewatkan saja. Akan besar jasa kita kalau kita berhasil membujuk mereka menjadi sekutu, maka kita harus bersikap halus, tidak menggunakan kekerasan."
"Bagaimana kalau tidak berhasil?" tanya Ki Kolohangkoro yang tidak biasa bersikap halus dan selalu haus darah ini.
"Kita lihat saja nanti dan serahkan semua akal kepadaku."

Setelah Kl Kolohangkoro menerima banyak petunjuk dari Ni Dewi Nilamanik, akhirnya kedua orang ini dengan gerak cepat mereka mendaki Gunung Wilis dari lereng sebelah timur. Pagi itu mereka sudah memasuki hutan dan terus mendaki. Gerakan mereka amat menyeramkan karena tidak seperti manusia lumrah, seperti setan penghuni hutan saja, seolah-olah kedua kaki mereka tidak menyentuh tanah. Ketika mereka tiba di lereng yang tinggi, keduanya berhenti karena Ki Kolohangkoro menunjuk ke arah utara. Mereka memandang sambil berdiri di atas puncak kecil itu, di daerah yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.
"Lihat, Bunda Dewi. Banyak sudah orang berkumpul di sana!" Si raksasa menudingkan telunjuknya.
"Kau benar. Akan ramai agaknya sayembara ini. Lihat, gerakan merekapun tangkas. Banyak pemuda-pemuda yang tampan ...hemmm..“
"Wah, Bunda akan banyak senang, akan tetapi aku... ?”
"Hushhh, siapa ingin bersenang-senang? Apakah kalau aku melihat pemuda tampan harus mendapatkannya? Dan kau boleh menahan nafsu dulu, Kolohangkoro. Kita menghadapi tugas penting sekali. Kalau berhasil akalku menarik Endang Patibroto dan orang-orang sakti sebagai sekutu, hal itu baik sekali. Andaikata tidak berhasil, barulah kita mencari akal untuk membalas dendam kepada Endang Patibroto atas kematian Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko!"
"Ha-ha-ha! Bicara itu mudah, namun pelaksanaannya yang sukar!"
Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali dan bagaikan disambar petir mereka cepat meloncat dan membalikkan tubuh. Tahu-tahu di belakang mereka telah berdiri seorang laki-laki yang bertolak pinggang dan tersenyum-senyum. Karena terkejut melihat betapa ada orang mengintai dan mendengarkan percakapan tadi, Ni Dewi Nilamanik tidak membuang waktu lagi, melainkan cepat menubruk maju mengirim pukulan dengan tangan kirinya yang ampuh.
"Desss ...!"
Dewi Nilamanik menahan pekik karena sakit dan kaget. Pukulannya telah ditangkis dan ternyata lengan tangan orang itu ampuh sekali, membuat ia terlempar ke belakang sampai tiga tombak lebih, sedangkan orang itu hanya terhuyung sedikit sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh nama Ni Dewi Nilamanik bukan nama kosong belaka! Selain sakti mandraguna, juga amat cantik jelita seperti bidadari kahyangan, ha-ha-ha!" Merah wajah NI Dewi Nilamanik. Ucapan orang ini bukan seperti seorang musuh. Ia menahan kemarahan dan memandang penuh perhatian. Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah sekali dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapih. Sepasang matanya tajam dan penuh kecerdikan dengan kerling yang menyambar-nyambar. Pakaian yang menutupi tubuhnya indah dan mewah, sedangkan tubuh laki-laki itu juga tegap dan kekar namun gerak-geriknya halus seperti seorang bangsawan. Seorang pria yang sudah "matang", dan sekaligus hati Ni Dewi Nilamanik tertarik. Laki-laki ini jelas memiliki kedigdayaan, tampan dan gagah, kaya dengan pengalaman, pandai merayu. Benar-benar merupakan seorang calon sahabat baik dan menyenangkan!

Akan tetapi Ki Kolohangkoro tak dapat menahan kemarahannya lagi. Jelas bahwa orang ini penyelidik musuh dan sudah berani menghina Ni Dewi Nilamanik. Sambil mengeluarkan gerengan keras Ki Kolohangkoro sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya yang sebesar buah kelapa, menyambar ke arah kepala laki-laki itu.
"Werrrr ...!"
Dengan amat mudahnya laki-laki itu mengelak, kemudian dari bawah tangannya dengan jari-jari terbuka menyambar ke arah siku lengan Ki Kolohangkoro yang memukul. Raksasa ini kaget, maklum bahwa sambungan sikunya terancam bahaya, maka cepat ia menarik kembali lengannya dan melindunginya dengan tangkisan lengan kiri didorong ke depan.
"Dukkk ..” Dua buah tangan yang sama kuatnya bertemu, saling dorong dan akibatnya tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang dan hampir roboh kalau saja kakek raksasa yang digdaya ini tidak cepat meloncat ke belakang. Laki-laki Itu bertolak pinggang dan tertawa.
"Ha-ha-ha, Ki Kolohangkoro, engkaupun hebat dan kuat!"
Ki Kolohangkoro kaget. Orang ini sudah mengenal Ni Dewi Nilamanik dan dia. Juga tenaganya amat kuat. Musuh yang tangguh ini perlu cepat-cepat ditewaskan sebelum mendatangkan bahaya. Maka cepat ia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang nenggala yang menyeramkan, kemudian menubruk maju sambil mengeluarkan suara menggereng. Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik hendak mencegah, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia ingin melihat sampai di mana kehebatan laki-laki ini sebelum ia mengambil keputusan untuk menjadikannya teman atau lawan. Ia hanya berdiri tenang dan diam-diam telah mengeluarkan kebutannya, dipegang di tangan kanan, siap-siap membantu temannya kalau sampai terdesak.
"Bagus! Akupun memang ingin menguji kalian!" laki-laki itu berkata lagi, masih tersenyum-senyum dan begitu nenggala itu menerjang dengan sebuah tusukan ke arah dadanya, ia cepat miringkan tubuh sambil mencabut sebatang keris dari pinggangnya. Gerakan orang itu cepat bukan main, tahu-tahu tubuhnya yang miring sudah meloncat ke atas dan turun ke sebelah kanan Ki Kolohangkoro, kerisnya menusuk lambung dengan cepat dan mendatangkan angin dingin. Ki Kolohangkoro bukan seorang lemah, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka sambil memutar tubuh ke kanan, nenggalanya bergerak menangkis keris lawan yang meluncur ke arah lambung.
"Tranggg ...!" Bunga api berpijar, keris dan nenggala terpental ke belakang, meluncur maju lagi dan bertemu lagi mengakibatkan suara nyaring berkali-kali,
"trang ... trang ..cring....!” Dan bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata. Ki Kolohangkoro terkejut dan juga penasaran. Senjatanya adalah senjata wasiat yang ampuh, pula amatlah berat. Sebaliknya, senjata lawan hanya sebatang keris yang ringan. Bagaimana setiap kali beradu, tangannya yang memegang nenggala menjadi amat panas telapaknya dan lengannya seolah-olah akan lumpuh? Ia makin marah dan sambil menggerenggereng la memutar nenggalanya, menerjang lawan dengan gerakan cepat dan kuat.

Namun, ternyata lawannya itu memiliki keringanan tubuh yang mentakjubkan. Tubuh itu berkelebatan seperti burung srikatan terbang saja, tak pernah dapat tersenggol ujung senjata nenggala. Sebaliknya, setiap kali Ki Kolohangkoro berseru kaget karena tahu-tahu keris lawan sudah dekat sekali dengan tubuhnya dan hanya karena kewaspadaannya saja ia berhasil menghindar. Dengan kemarahan meluap Ki Kolohangkoro menubruk maju, mengirim serangan dahsyat, nenggalanya meluncur ke arah dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram mengikuti gerakan nenggala.
"Bagus ...!" Laki-laki itu masih dapat tersenyum tenang, tubuhnya miring ke kemudian pada saat kerisnya menangkis nenggala, kakinya terayun keduanya, susul-menyusul, yang kanan menangkis cengkeraman tangan lawan, yang kiri menendang dan tepat mengenaI pergelangan tangan kanan lawan membuat nenggala itu terlepas dan terlempar karena Ki Kolohangkoro merasa tangan kanannya lumpuh!
"Kepandaianmu hebat, Ki Kolohangkoro, andika patut menjadi sahabat dan sekutuku!" kata laki-laki itu.
Akan tetapi Ki Kolohangkoro marah sekali. Wajahnya yang seperti wajah raksasa liar itu menjadi merah, matanya yang lebar melotot dan tiba-tiba tubuhnya merendah, seperti berjongkok, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri, seluruh tubuh menggigil dan dari dalam perutnya keluar suara aneh, seperti suara tangis anak kecil. Melihat ini laki-laki itu tercengang dan mundur dua langkah. Sedangkan Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali dan cepat ia maju. Wanita ini maklum bahwa Ki Kolohangkoro sudah menjadi nekat dan hendak mempergunakan ajinya yang baru, yaitu Aji Kolokrodo yang sedang dilatihnya, hasil dari ajaran Sang Wasi Bagaspati. Untuk menyempurnakan Aji Kolokrodo inilah maka Ki Kolohangkoro suka makan bocah hidup-hidup, diminum darahnya dan diganyang dagingnya!

<<< Bagian 088                                                                                   Bagian 090 >>>

No comments:

Post a Comment