Perawan Lembah Wilis; Bagian 088


Tiga hari menjelang hari sayembara tanding, samadhinya pangeran muda ini mencapai puncaknya dan mulailah terujud semua nafsu-nafsu badani berbentuk setan iblis brekasaan yang mengerikan. Kepala tanpa badan bergulingan di sekitar lututnya sambil tertawa bergelak, banaspati yang berambut dan bernapas api menggodanya dengan ancaman hendak membakar, gendruwo yang mengerik dan bertanduk, memedi pocongan seperti mayat terbungkus kain yang hidup kembali, tengkorak-tengkorak hidup yang mengejek dan mentertawakannya, wewe gombel, kuntianak, tuyul dan thethekan, semua bentuk iblis yahg pernah digambarkan orang bermunculan dan menggodanya. Namun wajah sang pangeran yang sudah mencorong (bercahaya) itu nampak tenang dan tenteram saja, penuh damai dan keheningan, wajah yang tampan itu makin tampan, bibirnya mengarah senyum penuh kesabaran dan peng-ampunan, kakinya bersila, kedua lengannya bersedakap, napas-nya satu-satu dan panjang-panjang hampir tidak nampak gerak dadanya. Tidak seekorpun nyamuk atau semut berani mengganggu kulit sang pangeran, seolah-olah ada hawa dan getaran gaib yang melindunginya. Bahkan bayangan para setan dan iblis itu akhirnya mundur-mundur ketakutan dan kepanasan. Tubuh sang pangeran agak kurus, wajahnya agak pucat, namun cahaya yang menyelubungi tubuhnya di pagi hari esoknya amatlah terangnya dan wajah yang pucat karena terlalu lama berpuasa itu makin berseri, samadhinya makin hening karena kini tiada lagi bayangan-bayangan mengganggunya.

Pada pagi hari itu tampak seorang kakek tua berjalan terbungkuk-bungkuk memasuki hutan di mana Sang Pangeran Panji Sigit bertapa. Kakek ini tidak kelihatan luar biasa, pakaiannya serba hitam seperti pakaian petani miskin, kotor berlepotan tanah dan lumpur, kakinya telanjang juga berlepotan lumpur. Tubuhnya kecil dan kate, mukanya penuh keriput menandakan usia tua, akan tetapi rambutnya masih hitam, gemuk dan kaku, bercerongatan ke sana-sini, sedangkan sepasang matanya sama sekali tidak kelihatan tua atau lamur bahkan seperti sepasang mata seekor harimau! Tiba-tiba kakek itu seperti orang tersentak kaget, menoleh ke kanan-kiri kemudian pandang matanya lekat ke arah kiri mulutnya mengeluarkan suara,
"Hemmmm ......... " dan kakinya lalu membelok ke kiri, langsung menuju ke arah kiri di mana Pangeran Panji Sigit duduk bertapa tidak jauh dari situ.
Tak lama kemudian kakek ini sudah tiba di depan Pangeran Panji Sigit. Ia memandang sejenak, lalu mengangguk-angguk dan kemudian menggeleng-geleng, menarik napas panjang dan menggumam lirih,
"Pantas.... pantas ... jantungku berdebar, kakiku tersandung, kiranya ada seorang yang begini tekun bertapa, tejanya sampai bercahaya kebiruan. Hemmm, orang muda, sayang akan jasmanimu kalau dilanjutkan ... " Setelah menggumam demikian, kakek itu lalu berdiri tegak, kedua lengan bersedakap, mukanya menunduk, matanya dipejamkan dan ia melakukan aji kesaktian "merogoh sukma" untuk menyadarkan pemuda yang sedang tenggelam dalam lautan keheningan itu. Hanya dengan cara itu saja agaknya pemuda yang tekun bertapa ini akan dapat disadarkan.
Kakek itu bergerak kembali, mengangkat muka memandang ke arah Pangeran Panji Sigit yang juga mulai bergerak-gerak, pelupuk matanya yang mulai gemetar, kemudian terdengar pemuda itu menghela napas, urat-urat syaraf di tubuhnya mulai bergerak, kulitnya berdenyut- denyut.
"Duhai, Angger, Kulup yang sedang prihatin, sadar dan bangkitlah, hentikan keprihatinanmu dan mari kubantu andika mengupas persoalanmu."

Bagaikan bangun dari mimpi, Pangeran Panji Sigit membuka kedua matanya dan memandang ke arah kakek itu. Mulutnya bergerak dan ia menggigit bibir ketika terasa betapa seluruh tubuhnya lemas, perutnya perih dan uratnya kaku-kaku sehingga kalau tidak kuat-kuat ia bertahan tentu ia akan roboh pingsan. Teringatlah ia akan segala hal-ihwalnya, teringat akan keprihatinannya dan ia dapat menduga bahwa tentu kakek sederhana dengan sinar mata seperti bintang ini yang telah menggugahnya dari samadhi. Naik sedu-sedan dari dadanya dan ia lalu memaksa diri yang lemas itu bangun dan menghadap kakek itu dengan sikap menghormat.
"Aduhhh, Eyang... , mengapa Eyang menyadarkan saya? Saya telah menyerahkan jiwa raga kepada para dewata dan kalau para dewata tidak menolong saya, biarlah saya tidak akan sadar lagi dari-pada samadhi ...." Ucapan ini seolah-olah ia katakan kepada diri sendiri, setengah berbisik setengah mengeluh, namun kakek itu agaknya dapat mendengarnya dan ia tersenyum.
"Wahai, Angger bocah bagus! Memang seorang satria utama harus tahan tapa, berani menghadapi kurang makan kurang tidur, akan tetapi bukanlah watak satria untuk berkecil hati dan berputus asa! Hidup adalah perjuangan dan sudah sewajarnya dan lumrah kalau dalam berjuang manusia menghadapi kegagalan ataupun hasil baik, mengalami jatuh bangun. Kalau jatuh, bangkitlah kembali dan pergunakan kejatuhan sebagai pelajaran untuk mengatur langkah selanjutnya. Kalau sedang bangun janganlah menyombongkan diri dan berhati-hatilah agar jangan jatuh. Kalau sedang berhasil baik dan menang janganlah menjadi mabuk namun selalu waspadalah bahwa di balik kemenangan, kekalahan selalu mengintai. Sebaliknya, kalau sedang kalah dan gagal, jangan berkecil hati, jangan hilang semangat, landasan prihatin harus dipimpin oleh ikhtiar yang tak kunjung henti, oleh semangat yang tak kunjung padam. Ketahuilah, Kulup bahwa tidak ada peristiwa, betapapun pahit dan sukarnya, yang takkan dapat diatasi oleh manusia, asalkan dia bermodal iktikad baik."
"Aduh Eyang yang bijaksana, mohon jangan kepalang memberi penerangan kepada saya. Apakah yang dimaksudkan dengan iktikad baik?"
"Kulup, iktikad baik ditujukan keluar, terhadap orang lain, berdasarkan kejujuran, keadilan dan keberanian. Kalau hanya baik bagi diri pribadi namun tidak baik untuk orang lain, hal ini bukanlah iktikad baik namanya. Pamrih yang bermaksud merusak terhadap orang lain, mendatangkan sengsara terhadap orang lain, pasti pada akhirnya akan gagal dan akan mencelakakan diri pribadi. Sebaliknya, kalau cita-cita itu tidak bersifat merusak orang lain maupun diri pribadi, sudah lurus melalui jalan kebenaran, harus terus dipegang oleh seorang satria, kegagalan hanya merupakan tempaan dan gemblengan untuk memperkuat semangat demi tercapainya cita-cita itu. Segala rintangan dan kegagalan pasti akan dapat diatasi. Batu yang dilontarkan ke atas sudah pasti akan jatuh kemball ke bawah, demikian pula, semua pamrih akan membawa akibat dan akibat pasti akan menimpa diri pribadi. Kalau pamrihnya baik, akibatnya sudah pasti baik, sebaliknya pamrih buruk juga akan berakibat buruk. Inilah keadilan namanya, Kulup."

Pangeran Panji Sigit mengangkat muka memandang wajah kakek itu, jantungnya berdebar girang dan pandang matanya terang. Ia mengerti bahwa ia berhadapan dengan seorang yang bijaksana dan sakti mandraguna. Tanpa ragu-ragu ia menyembah dan berkata,
"Mohon petunjuk selanjutnya, Eyang. Bagaimana saya dapat mengatasi kekecewaan dan keraguan, apalagi kegagalan. Saya hanya seorang manusia biasa, Eyang, manusia yang lemah dan tak berdaya menghadapi kesengsaraan karena kegagalan."
"Heh-heh-heh, anak baik. Pengakuan-mu ini saja sudah membuktikan bahwa engkau berjalan di atas jalan yang benar. Orang yang setulus-tulusnya mengaku bahwa dia bodoh dan lemah, gudang kesalahan, dia adalah orang yang sadar dan dapat diharapkan menjadi manusia yang baik. Ketahuilah bahwa di dalam hidup ini segala sesuatu ada kebaikannya, segala sesuatu mempunyai dwi muka (dua muka) yang berlawanan. Susah dan senang adalah saudara kembar yang tak terpisahkan. Siapa menikmati kesenangan, dia takkan kebal terhadap kesusahan. Siapa menderita kesusahan, sekali waktu akan merasakan kesenangan. Karena itu, jangan kita tertipu, Kulup. Kita harus waspada dan harus dapat mengatasi saudara kembar ini. Baik kesenangan mau-pun kesusahan, jika sudah mencengkeram dan memperbudak kita, akan membuat kita lupa diri. Yang mabuk kesenangan akan lupa sehingga sekali kesusahan tiba, ia amat menderita. Yang mabuk kesusahan akan lupa sehingga sekali kesenangan tiba, ia akan menjadi adigang-adigung-adiguna. Akan tetapi apabila kita dapat mengatasi sepasang saudara kembar ini, menghadapi mereka dengan hati lapang, dengan kesadaran penuh. Setiap peristiwa, baik menyusahkan maupun menyenangkan, akan dihadapi sebagai suatu kenyataan yang sudah semestinya. Segala peristiwa terjadi sebagai akibat dari sebab, maka kesemuanya wajar belaka. Susah atau senang tergantung kepada kita sendiri, bagaimana kita menerimanya. Diterima susah, maka susahlah kita. Diterima senang, akan senanglah kita."
"Duh Eyang .... betapa sukarnya manusia menghadapi kedua perasaan itu. Selama masih hidup di dunia ramai, terlibat terikat segala urusan duniawi, betapa mungkin kita dapat membebaskan diri daripada kedua perasaan itu, Eyang?"
"Benar, Angger. Belum tiba saatnya bagi seorang muda seperti andika untuk membebaskan diri daripada ikatan-ikatan itu. Yang kumaksud hanyalah agar supaya andika sadar dan berdiri di atas perasaan-perasaan itu. Hadapilah segala peristiwa yang menimpa dirimu, senang maupun susah, sebagai suatu kewajaran dan dengan hati yang tenang dan. waspada. Kenyataan yang pahit harus diterima sebagai sesuatu yang pahit, wajar bagi seorang yang belum bebas daripada ikatan duniawi, dan boleh saja engkau prihatin, namun di dalam keprihatinan ini, jangan sekali-kali andika putus asa, berikhtiarlah sekuat mungkin karena ini merupakan wajib, jangan menjadi keruh budi sehingga melakukan hal-hal yang nekat dan menyeleweng daripada kebenaran. Sebaliknya, kenyataan manis boleh saja diterima dengan gembira dan senang, akan tetapi di dalam kesenangan ini, jangan sekali-kali lupa diri dan mabuk kesenangan sehingga mengurangi atau menghilangkan kewaspadaan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kesombongan. Bersikaplah seperti air telaga yang dalam. Boleh saja ada angin bertiup menimbulkan keriput-keriput pada permukaannya, namun keriput itu tidak mendalam sampai ke dasarnya. Mengertikah, Kulup?"
"Duhai Eyang, serasa terangkat puncak Gunung Wilis yang menindih hati saya! Serasa tersiram air sewindu kekeringan hati saya karena duka! Terima kasih, Eyang, dan mohon ampun akan ketidaksopanan saya sehingga saya sampai terlupa untuk menanyakan nama Eyang yang mulia."

Kakek itu tersenyum. Girang hatinya melihat betapa pemuda ini dapat menerima wejangannya, menerima sampai mendalam, terbukti dari wajah yang berseri dan lega itu.
"Angger, sebutanku adalah Ki Datujiwa. Sebaliknya, siapakah andika dan kalau boleh seorang tua seperti aku mengetahui, mengapa gerangan andika menyiksa raga di dalam hutan ini?"
"Eyang, nama saya adalah Panji Sigit”
"Hemmm ... , melihat bentuk wajah, sikap, dan pakaianmu, aku dapat menduga bahwa andika tentulah seorang putera bangsawan. Benarkah, Angger?"
"Tidak salah dugaan Eyang, sungguh pun dalam keadaan menderita batin seperti sekarang ini, apakah bedanya antara bangsawan dan orang biasa? Eyang sesungguhnya ramandaku adalah sang prabu di Jenggala ... “
"Aahhh .... , pantas! Kiranya paduka adalah Pangeran Jenggala, keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga yang bijaksana! Apakah yang membuat paduka sampai terlunta-lunta di tempat ini?"
Dengan penuh keprihatinan, Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan persoalannya dengan Setyaningsih, betapa pinangannya ditolak dan dia dihadapkan pada keputusan sayembara tanding yang akan diadakan di puncak Wilis.
"Eyang, betapa saya dapat menangkan sayembara itu? Menghadapi adinda Setyaningsih saja, belum tentu saya dapat menang, apalagi harus mempunyai seorang wali yang akan mampu mengalahkan ayunda Endang Patibroto! Betapa hati saya yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada adinda Setyaningslh ini akan dapat terobati? Itulah sebabnya, Eyang, dalam keadaan bingung karena tiada harapan, saya lalu bertapa di hutan ini, mohon bantuan dewata."
Ki Datujiwa mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Memang, Endang Patibroto seorang wanita hebat! Semenjak dahulu ketika mudanya sampai kini, selalu memutuskan sesuatu dengan ukuran kesaktian. Angger, pangeran muda, harap jangan berduka. Bukan kebetulan saja agaknya kita dapat saling berjumpa di sini. Dewata telah menghendaki agaknya. Bangkitlah, Angger dan marilah kuantar paduka ke puncak Wilis. Biarlah aku yang sudah tua ini menjadi walimu, siapa tahu kalau memang paduka berjodoh dengan nini Setyaningsih, tentu Endang Patibroto akan suka mengalah terhadap seorang tua macam aku."

Bukan main girangnya hati Pangeran Panji Sigit. Ia belum melihat bukti kesaktian kakek ini, namun hatinya telah merasa yakin. Kakek ini bukan orang sembarangan, dan kalau sudah mengenal ayundanya tentu sudah mengenal pula kesaktian ayundanya itu. Kalau sudah berani menjadi walinya, tentu kakek ini mempunyai kesaktian yang boleh diandalkan. Serta-merta ia menyembah dan menghaturkan terima kasihnya.
"Aduh, Eyang, betapa besar rasa syukur dan terima kasih saya. Budi kebaikan Eyang berlimpah-limpah jatuh kepada saya seperti air di musim hujan! Bukan hanya wejangan-wejangan yang dapat meringankan batin, juga bahkan Eyang sudi menjadi wali saya, menambah budi dengan perbuatan nyata. Betapa saya akan dapat membalas budi Eyang yang demikian besarnya?"

<<< Bagian 087                                                                                    Bagian 089 >>>

No comments:

Post a Comment