Tiga hari menjelang hari sayembara tanding, samadhinya pangeran muda ini mencapai puncaknya dan mulailah terujud semua nafsu-nafsu badani berbentuk setan iblis brekasaan yang mengerikan. Kepala tanpa badan bergulingan di sekitar lututnya sambil tertawa bergelak, banaspati yang berambut dan bernapas api menggodanya dengan ancaman hendak membakar, gendruwo yang mengerik dan bertanduk, memedi pocongan seperti mayat terbungkus kain yang hidup kembali, tengkorak-tengkorak hidup yang mengejek dan mentertawakannya, wewe gombel, kuntianak, tuyul dan thethekan, semua bentuk iblis yahg pernah digambarkan orang bermunculan dan menggodanya. Namun wajah sang pangeran yang sudah mencorong (bercahaya) itu nampak tenang dan tenteram saja, penuh damai dan keheningan, wajah yang tampan itu makin tampan, bibirnya mengarah senyum penuh kesabaran dan peng-ampunan, kakinya bersila, kedua lengannya bersedakap, napas-nya satu-satu dan panjang-panjang hampir tidak nampak gerak dadanya. Tidak seekorpun nyamuk atau semut berani mengganggu kulit sang pangeran, seolah-olah ada hawa dan getaran gaib yang melindunginya. Bahkan bayangan para setan dan iblis itu akhirnya mundur-mundur ketakutan dan kepanasan. Tubuh sang pangeran agak kurus, wajahnya agak pucat, namun cahaya yang menyelubungi tubuhnya di pagi hari esoknya amatlah terangnya dan wajah yang pucat karena terlalu lama berpuasa itu makin berseri, samadhinya makin hening karena kini tiada lagi bayangan-bayangan mengganggunya.
Pada pagi hari itu tampak
seorang kakek tua berjalan terbungkuk-bungkuk memasuki hutan di mana Sang
Pangeran Panji Sigit bertapa. Kakek ini tidak kelihatan luar biasa, pakaiannya
serba hitam seperti pakaian petani miskin, kotor berlepotan tanah dan lumpur,
kakinya telanjang juga berlepotan lumpur. Tubuhnya kecil dan kate, mukanya
penuh keriput menandakan usia tua, akan tetapi rambutnya masih hitam, gemuk dan
kaku, bercerongatan ke sana-sini, sedangkan sepasang matanya sama sekali tidak
kelihatan tua atau lamur bahkan seperti sepasang mata seekor harimau! Tiba-tiba
kakek itu seperti orang tersentak kaget, menoleh ke kanan-kiri kemudian pandang
matanya lekat ke arah kiri mulutnya mengeluarkan suara,
"Hemmmm .........
" dan kakinya lalu membelok ke kiri, langsung menuju ke arah kiri di mana
Pangeran Panji Sigit duduk bertapa tidak jauh dari situ.
Tak lama kemudian kakek ini
sudah tiba di depan Pangeran Panji Sigit. Ia memandang sejenak, lalu
mengangguk-angguk dan kemudian menggeleng-geleng, menarik napas panjang dan
menggumam lirih,
"Pantas.... pantas ...
jantungku berdebar, kakiku tersandung, kiranya ada seorang yang begini tekun
bertapa, tejanya sampai bercahaya kebiruan. Hemmm, orang muda, sayang akan
jasmanimu kalau dilanjutkan ... " Setelah menggumam demikian, kakek itu
lalu berdiri tegak, kedua lengan bersedakap, mukanya menunduk, matanya
dipejamkan dan ia melakukan aji kesaktian "merogoh sukma" untuk
menyadarkan pemuda yang sedang tenggelam dalam lautan keheningan itu. Hanya
dengan cara itu saja agaknya pemuda yang tekun bertapa ini akan dapat
disadarkan.
Kakek itu bergerak kembali,
mengangkat muka memandang ke arah Pangeran Panji Sigit yang juga mulai
bergerak-gerak, pelupuk matanya yang mulai gemetar, kemudian terdengar pemuda
itu menghela napas, urat-urat syaraf di tubuhnya mulai bergerak, kulitnya
berdenyut- denyut.
"Duhai, Angger, Kulup
yang sedang prihatin, sadar dan bangkitlah, hentikan keprihatinanmu dan mari
kubantu andika mengupas persoalanmu."
Bagaikan bangun dari mimpi,
Pangeran Panji Sigit membuka kedua matanya dan memandang ke arah kakek itu.
Mulutnya bergerak dan ia menggigit bibir ketika terasa betapa seluruh tubuhnya
lemas, perutnya perih dan uratnya kaku-kaku sehingga kalau tidak kuat-kuat ia
bertahan tentu ia akan roboh pingsan. Teringatlah ia akan segala hal-ihwalnya,
teringat akan keprihatinannya dan ia dapat menduga bahwa tentu kakek sederhana
dengan sinar mata seperti bintang ini yang telah menggugahnya dari samadhi.
Naik sedu-sedan dari dadanya dan ia lalu memaksa diri yang lemas itu bangun dan
menghadap kakek itu dengan sikap menghormat.
"Aduhhh, Eyang... ,
mengapa Eyang menyadarkan saya? Saya telah menyerahkan jiwa raga kepada para
dewata dan kalau para dewata tidak menolong saya, biarlah saya tidak akan sadar
lagi dari-pada samadhi ...." Ucapan ini seolah-olah ia katakan kepada diri
sendiri, setengah berbisik setengah mengeluh, namun kakek itu agaknya dapat
mendengarnya dan ia tersenyum.
"Wahai, Angger bocah
bagus! Memang seorang satria utama harus tahan tapa, berani menghadapi kurang
makan kurang tidur, akan tetapi bukanlah watak satria untuk berkecil hati dan
berputus asa! Hidup adalah perjuangan dan sudah sewajarnya dan lumrah kalau
dalam berjuang manusia menghadapi kegagalan ataupun hasil baik, mengalami jatuh
bangun. Kalau jatuh, bangkitlah kembali dan pergunakan kejatuhan sebagai
pelajaran untuk mengatur langkah selanjutnya. Kalau sedang bangun janganlah
menyombongkan diri dan berhati-hatilah agar jangan jatuh. Kalau sedang berhasil
baik dan menang janganlah menjadi mabuk namun selalu waspadalah bahwa di balik
kemenangan, kekalahan selalu mengintai. Sebaliknya, kalau sedang kalah dan
gagal, jangan berkecil hati, jangan hilang semangat, landasan prihatin harus
dipimpin oleh ikhtiar yang tak kunjung henti, oleh semangat yang tak kunjung
padam. Ketahuilah, Kulup bahwa tidak ada peristiwa, betapapun pahit dan
sukarnya, yang takkan dapat diatasi oleh manusia, asalkan dia bermodal iktikad
baik."
"Aduh Eyang yang
bijaksana, mohon jangan kepalang memberi penerangan kepada saya. Apakah yang
dimaksudkan dengan iktikad baik?"
"Kulup, iktikad baik
ditujukan keluar, terhadap orang lain, berdasarkan kejujuran, keadilan dan
keberanian. Kalau hanya baik bagi diri pribadi namun tidak baik untuk orang
lain, hal ini bukanlah iktikad baik namanya. Pamrih yang bermaksud merusak
terhadap orang lain, mendatangkan sengsara terhadap orang lain, pasti pada
akhirnya akan gagal dan akan mencelakakan diri pribadi. Sebaliknya, kalau
cita-cita itu tidak bersifat merusak orang lain maupun diri pribadi, sudah
lurus melalui jalan kebenaran, harus terus dipegang oleh seorang satria,
kegagalan hanya merupakan tempaan dan gemblengan untuk memperkuat semangat demi
tercapainya cita-cita itu. Segala rintangan dan kegagalan pasti akan dapat
diatasi. Batu yang dilontarkan ke atas sudah pasti akan jatuh kemball ke bawah,
demikian pula, semua pamrih akan membawa akibat dan akibat pasti akan menimpa
diri pribadi. Kalau pamrihnya baik, akibatnya sudah pasti baik, sebaliknya
pamrih buruk juga akan berakibat buruk. Inilah keadilan namanya, Kulup."
Pangeran Panji Sigit
mengangkat muka memandang wajah kakek itu, jantungnya berdebar girang dan
pandang matanya terang. Ia mengerti bahwa ia berhadapan dengan seorang yang
bijaksana dan sakti mandraguna. Tanpa ragu-ragu ia menyembah dan berkata,
"Mohon petunjuk selanjutnya,
Eyang. Bagaimana saya dapat mengatasi kekecewaan dan keraguan, apalagi
kegagalan. Saya hanya seorang manusia biasa, Eyang, manusia yang lemah dan tak
berdaya menghadapi kesengsaraan karena kegagalan."
"Heh-heh-heh, anak
baik. Pengakuan-mu ini saja sudah membuktikan bahwa engkau berjalan di atas
jalan yang benar. Orang yang setulus-tulusnya mengaku bahwa dia bodoh dan
lemah, gudang kesalahan, dia adalah orang yang sadar dan dapat diharapkan
menjadi manusia yang baik. Ketahuilah bahwa di dalam hidup ini segala sesuatu
ada kebaikannya, segala sesuatu mempunyai dwi muka (dua muka) yang berlawanan.
Susah dan senang adalah saudara kembar yang tak terpisahkan. Siapa menikmati
kesenangan, dia takkan kebal terhadap kesusahan. Siapa menderita kesusahan, sekali
waktu akan merasakan kesenangan. Karena itu, jangan kita tertipu, Kulup. Kita
harus waspada dan harus dapat mengatasi saudara kembar ini. Baik kesenangan
mau-pun kesusahan, jika sudah mencengkeram dan memperbudak kita, akan membuat
kita lupa diri. Yang mabuk kesenangan akan lupa sehingga sekali kesusahan tiba,
ia amat menderita. Yang mabuk kesusahan akan lupa sehingga sekali kesenangan
tiba, ia akan menjadi adigang-adigung-adiguna. Akan tetapi apabila kita dapat
mengatasi sepasang saudara kembar ini, menghadapi mereka dengan hati lapang,
dengan kesadaran penuh. Setiap peristiwa, baik menyusahkan maupun menyenangkan,
akan dihadapi sebagai suatu kenyataan yang sudah semestinya. Segala peristiwa
terjadi sebagai akibat dari sebab, maka kesemuanya wajar belaka. Susah atau
senang tergantung kepada kita sendiri, bagaimana kita menerimanya. Diterima
susah, maka susahlah kita. Diterima senang, akan senanglah kita."
"Duh Eyang .... betapa
sukarnya manusia menghadapi kedua perasaan itu. Selama masih hidup di dunia ramai,
terlibat terikat segala urusan duniawi, betapa mungkin kita dapat membebaskan
diri daripada kedua perasaan itu, Eyang?"
"Benar, Angger. Belum
tiba saatnya bagi seorang muda seperti andika untuk membebaskan diri daripada
ikatan-ikatan itu. Yang kumaksud hanyalah agar supaya andika sadar dan berdiri
di atas perasaan-perasaan itu. Hadapilah segala peristiwa yang menimpa dirimu,
senang maupun susah, sebagai suatu kewajaran dan dengan hati yang tenang dan.
waspada. Kenyataan yang pahit harus diterima sebagai sesuatu yang pahit, wajar
bagi seorang yang belum bebas daripada ikatan duniawi, dan boleh saja engkau
prihatin, namun di dalam keprihatinan ini, jangan sekali-kali andika putus asa,
berikhtiarlah sekuat mungkin karena ini merupakan wajib, jangan menjadi keruh
budi sehingga melakukan hal-hal yang nekat dan menyeleweng daripada kebenaran.
Sebaliknya, kenyataan manis boleh saja diterima dengan gembira dan senang, akan
tetapi di dalam kesenangan ini, jangan sekali-kali lupa diri dan mabuk
kesenangan sehingga mengurangi atau menghilangkan kewaspadaan yang dapat
menjerumuskan kita ke dalam kesombongan. Bersikaplah seperti air telaga yang
dalam. Boleh saja ada angin bertiup menimbulkan keriput-keriput pada
permukaannya, namun keriput itu tidak mendalam sampai ke dasarnya. Mengertikah,
Kulup?"
"Duhai Eyang, serasa
terangkat puncak Gunung Wilis yang menindih hati saya! Serasa tersiram air
sewindu kekeringan hati saya karena duka! Terima kasih, Eyang, dan mohon ampun
akan ketidaksopanan saya sehingga saya sampai terlupa untuk menanyakan nama
Eyang yang mulia."
Kakek itu tersenyum. Girang
hatinya melihat betapa pemuda ini dapat menerima wejangannya, menerima sampai
mendalam, terbukti dari wajah yang berseri dan lega itu.
"Angger, sebutanku
adalah Ki Datujiwa. Sebaliknya, siapakah andika dan kalau boleh seorang tua
seperti aku mengetahui, mengapa gerangan andika menyiksa raga di dalam hutan
ini?"
"Eyang, nama saya
adalah Panji Sigit”
"Hemmm ... , melihat
bentuk wajah, sikap, dan pakaianmu, aku dapat menduga bahwa andika tentulah
seorang putera bangsawan. Benarkah, Angger?"
"Tidak salah dugaan
Eyang, sungguh pun dalam keadaan menderita batin seperti sekarang ini, apakah
bedanya antara bangsawan dan orang biasa? Eyang sesungguhnya ramandaku adalah
sang prabu di Jenggala ... “
"Aahhh .... , pantas!
Kiranya paduka adalah Pangeran Jenggala, keturunan mendiang Sang Prabu
Airlangga yang bijaksana! Apakah yang membuat paduka sampai terlunta-lunta di
tempat ini?"
Dengan penuh keprihatinan,
Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan persoalannya dengan Setyaningsih, betapa
pinangannya ditolak dan dia dihadapkan pada keputusan sayembara tanding yang
akan diadakan di puncak Wilis.
"Eyang, betapa saya
dapat menangkan sayembara itu? Menghadapi adinda Setyaningsih saja, belum tentu
saya dapat menang, apalagi harus mempunyai seorang wali yang akan mampu
mengalahkan ayunda Endang Patibroto! Betapa hati saya yang sudah terlanjur
jatuh cinta kepada adinda Setyaningslh ini akan dapat terobati? Itulah
sebabnya, Eyang, dalam keadaan bingung karena tiada harapan, saya lalu bertapa
di hutan ini, mohon bantuan dewata."
Ki Datujiwa
mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Memang, Endang
Patibroto seorang wanita hebat! Semenjak dahulu ketika mudanya sampai kini,
selalu memutuskan sesuatu dengan ukuran kesaktian. Angger, pangeran muda, harap
jangan berduka. Bukan kebetulan saja agaknya kita dapat saling berjumpa di
sini. Dewata telah menghendaki agaknya. Bangkitlah, Angger dan marilah kuantar
paduka ke puncak Wilis. Biarlah aku yang sudah tua ini menjadi walimu, siapa
tahu kalau memang paduka berjodoh dengan nini Setyaningsih, tentu Endang
Patibroto akan suka mengalah terhadap seorang tua macam aku."
Bukan main girangnya hati
Pangeran Panji Sigit. Ia belum melihat bukti kesaktian kakek ini, namun hatinya
telah merasa yakin. Kakek ini bukan orang sembarangan, dan kalau sudah mengenal
ayundanya tentu sudah mengenal pula kesaktian ayundanya itu. Kalau sudah berani
menjadi walinya, tentu kakek ini mempunyai kesaktian yang boleh diandalkan.
Serta-merta ia menyembah dan menghaturkan terima kasihnya.
"Aduh, Eyang, betapa
besar rasa syukur dan terima kasih saya. Budi kebaikan Eyang berlimpah-limpah
jatuh kepada saya seperti air di musim hujan! Bukan hanya wejangan-wejangan
yang dapat meringankan batin, juga bahkan Eyang sudi menjadi wali saya,
menambah budi dengan perbuatan nyata. Betapa saya akan dapat membalas budi
Eyang yang demikian besarnya?"
No comments:
Post a Comment