Perawan Lembah Wilis; Bagian 087


Pangeran Panji Sigit merasa terpukul hatinya dan berduka sekali. Ia adalah seorang yang biasanya gembira dan jenaka, tidak mudah murung, akan tetapi sekali ini ia benar-benar merasa prihatin. Ia menoleh ke arah Setyaningsih, akan tetapi dara itu hanya menundukkan muka, tidak bergerak. Ia menghela napas dan kemudian menjura ke arah Endang Patibroto, berkata,
"Baiklah, Ayunda. Tentu saja aku akan memasuki sayembara, dan sekiranya aku yang tidak mempunyai wali ini kelak mati di tangan adinda Setyaningsih atau di tangan Ayunda, aku rela."
Endang Patibroto hanya mendengus tanpa menjawab, maka pangeran itu setelah melempar pandang yang sayu sekali lagi ke arah Setyaningsih, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya terasa berat sekali, kedua kakinya seperti lumpuh, namun ia memaksa diri pergi menuruni lereng Gunung Wilis, terhuyung-huyung dan terbungkuk-bungkuk. Pangeran Panji Sigit menekan batin untuk mengurangi rasa duka yang menindih hatinya. Ia berkali-kali mencela diri sendiri mengapa sekali ini begini lemah. Semenjak kecil ia hidup mewah dan senang di istana ramandanya, bertemu dengan banyak puteri-puteri cantik jelita, bahkan ia tahu betapa banyaknya dara-dara ayu dan puteri-puteri jelita gandrung (tergila-gila) kepadanya, mengharapkan cinta kasihnya, namun ia tidak pernah tertarik, bahkan ketika Suminten selir ramandanya yang masih muda dan cantik menarik itu merayunya, ia sama sekali tidak tertarik malah menjadi jijik dan takut sehingga ia meninggalkan istana! Mengapa sekarang, sekali bertemu dengan Setyaningsih ia menjadi gandrung wuyung, tergila-gila dan hatinya penuh oleh cinta kasih yang amat mendalam? Mengapa begitu melihat wajah perawan Wilis itu, begitu bertemu pandang, ia jatuh cinta sedemikian rupa sehingga la rela untuk mengorbankan nyawa? Mengapa jiwa mudanya bergelora seperti laut selatan mengamuk begitu ia bertukar pandang dengan Setyaningsih? Adakah ini menjadi akibat daripada rayuan Suminten yang seolah-olah membangkitkan gelora darah mudanya?
"Ahhh ..., Panji Sigit, mengapa engkau begini lemah?" Ia mengeluh kepada diri sendiri. Ketika bayang-bayang wajah Setyaningsih tampak tersenyum di depan matanya, ia mengeluh lagi.
"Adindaku Setyaningsih ...sudahkah dikehendaki Hyang Widdhi bahwa engkau adalah jodohku? Kalau begitu, betapa mungkin? Sayembara tanding itu amat berat. Melawanmu mungkin aku masih ada harapan karena mungkin sekali, melihat pembelaanmu tadi ketika aku akan dibunuh, engkau akan suka mengalah terhadap aku. Akan tetapi, kekasihku, juwitaku ...betapa mungkin aku dapat melawan ayunda Endang Patibroto? Ahh, kalau dia kehendaki, sekali pukul saja aku akan tewas di dalam tangannya. Setyaningsih ..... mana ada harapan bagiku untuk dapat bertanding denganmu, sayang.. “

Demikianlah, seperti orang gila karena merasa tergoda asmara, Pangeran Panji Sigit berjalan terus, terhuyung-huyung dan tanpa tujuan, kadang-kadang ia bicara seorang diri, kadang-kadang tersenyum-senyum mesra, kadang-kadang seperti orang hendak menangis. Betapa besarnya kekuasaan asmara, hanya dapat diakui oleh mereka yang telah merasakannya. Betapapun sengsara hatinya oleh siksaan asmara yang mengamuk di hatinya, namun Pangeran Panji Sigit adalah seorang keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna dan bijaksana. Sedikitnya, darah satria utama mengalir di dalam tubuhnya, tekad seorang jantan telah menjadi wataknya. Setelah sehari semalam menuruni puncak dan lereng Wilis, akhirnya Panji Sigit masuk ke dalam sebuah hutan kecil yang amat liar. Hutan itu kelihatan menyeramkan sekali, penuh pohon-pohon raksasa dan penuh dengan alang-alang dan duri sehingga sukar dilalui manusia. Keadaannya yang gelap dan rungkut amat mengerikan dan menyeramkan, karena hutan seperti ini amat angker, jarang atau tak pernah dimasuki karena banyak bahaya mengancam, bukan hanya bahaya yang datangnya dari ancaman binatang-binatang hutan yang buas, melainkan terutama sekali gangguan jin setan iblis dan siluman yang sepatutnya menjadi penghuni sebuah hutan seperti itu. Akan tetapi Pangeran Panji Sigit sudah tidak perduli lagi akan keselamatan dirinya. Hatinya yang perih membuat ia nekat, bahkan timbul tekadnya untuk bertapa di dalam hutan ini sambil menanti datangnya hari sayembara tanding. Ia bertekad untuk bertapa di dalam hutan yang angker ini selama sebulan! Setelah memasuki bagian yang paling dalam, paling gelap dan paling rungkut, sang pangeran lalu menjatuhkan diri duduk di bawah sebatang. pohon besar, pohon asem yang entah sudah berapa abad usianya. Ia duduk bersila, mematikan raga, mengheningkan cipta dan menyatukan pancaindra, didasari keprihatinannya memohon petunjuk dan pertolongan Sang Hyang Widdhi, Tuhan Yang Maha Kuasa. Segera ia tenggelam ke dalam samadhinya, seolah-olah telah berubah menjadi arca batu, tidak terasa lagi olehnya betapa ada seekor semut angkrang (semut merah besar) merayap-rayap di sepanjang lengannya.

Begitu sayembara tanding itu diumumkan gegerlah dunia orang gagah. Nama Padepokan Wilis sudah amat terkenal dan semua orang sudah tahu belaka, sedikit-nya mendengar berita betapa Padepokan Wilis adalah sarang atau tempat berkumpulnya wanita-wanita yang cantik-cantik seperti bidadari dan berilmu tinggi. Juga telah banyak disinggung orang tentang "Perawan Lembah Wilis", yaitu dara cantik jelita namun yang berilmu tinggi sehingga sukar dilihat sukar dikenal. Tidak ada yang tahu siapa sesungguhnya yang mereka sebut-sebut sebagai Perawan Lembah Wilis itu, karena terlalu banyak dara remaja yang jelita di situ dan setiap kali ada seorang dara Padepokan Wilis yang kebetulan bertemu dengan orang luar, tentu orang luar ini menganggapnya sebagai orang yang disebut Perawan Lembah Wilis. Kini ada pengumuman bahwa di puncak Wilis diadakan sayembara tanding untuk mempersunting perawan lembah Wilis yang bernama Setyaningsih dan di dalam pengumuman disebut sebagai adik kandung pemimpin Padepokan Wilis sendiri. Betapa tidak akan gempar orang-orang muda yang mendengar pengumuman ini. Jauh sebelum diadakannya sayembara tanding tiba, sudah berbondong-bondong orang datang mengunjungi Gunung Wilis dan memondok di dusun-dusun sekitar kaki Gunung Wilis, karena sebelum hari Respati yang ditentukan tiba, tidak ada yang diperbolehkan naik ke lereng Gunung Wilis. Bermacam-macam orang dari segala golongan berdatangan, dan mereka ini pada umumnya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, karena Padepokan Wilis sudah terkenal sebagai kedung (pusat) orang-orang pandai maka tentu saja pemimpinnya juga seorang yang sakti mandraguna. Hal ini membuat mereka yang kurang tinggi ilmunya, tidak berani main-main betapapun inginnya hati mereka mempersunting kembang Wilis yang disohorkan amat cantik jelita melebihi puteri kerajaan itu. Satria-satria yang perkasa dan tampan berdatangan, bersama dengan wali mereka yang terdiri dari guru-guru mereka, para pertapa, pendeta, dan empu empu gemblengan yang selain datang untuk membela murid-murid mereka, juga ingin melihat siapa gerangan pimpinan Padepokan Wilis yang terkenal sakti mandraguna akan tetapi tak pernah dapat ditemui orang luar itu. Sementara itu, di Padepokan Wilis, Setyaningsih melewatkan hari-hari dengan hati gelisah. Tentu saja ia tidak berani membantah ayundanya yang mengadakan sayembara tanding, bahkan ia merasa bangga karena dengan adanya sayembara ini, derajatnya menaik tinggi, tidak kalah dengan derajat seorang puteri istana! Sayembara tanding itu telah mengangkat kehormatan dan harga dirinya tinggi sekali, apalagi ditambah syarat bahwa si peminang harus mempunyai wali yang dapat menandingi kesaktian ayundanya! Dengan sayembara ini, maka ia tidak akan salah pilih lagi, pemenangnya tentu seorang yang sakti mandraguna dari murid atau putera seorang yang lebih sakti daripada ayundanya. Benarkah tidak akan salah pilih? Apakah kebaikan seorang suami dapat diukur dari kedigdayaannya? Bagaimana kalau yang muncul sebagai pemenang seorang kaum sesat yang berilmu tinggi? Mengingat akan hal ini, Setyaningsih bergidik ngeri. Akan tetapi hatinya terhibur oleh kepercayaan dan kesaktian ayundanya. Tentu ayundanya pandai memilih dan kalau yang muncul seorang dari golongan sesat, ia sendiri akan bertanding mati-matian mempertaruhkan nyawa, sedangkan ia percaya ayundanya tentu juga akan berbuat demikian.

Akan tetapi, tetap saja hati Setyaningsih risau kalau ia teringat akan Pangeran Panji Sigit. Ia tidak dapat menyangkal dan menipu hatinya sendiri. Semenjak pertama kali beradu pandang mata, hatinya sudah tertarik dan biarpun selama hidupnya ia belum pernah mengalami, namun perasaan wanitanya dapat menduga bahwa ia jatuh cinta kepada pangeran muda itu. Kalau pemuda itu maju menandinginya, tidak mungkin ia tega hati untuk mengalahkannya sungguhpun belum tentu pula dapat menang dalam pertandingan wajar. Hal ini mudah saja diatasi, akan tetapi kalau ia teringat bahwa pangeran itu harus membawa seorang wali yang dapat mengalahkan ayundanya, hatinya menjadi risau dan bingung. Ia hanya berdoa kepada dewata semoga pemuda idamannya itu mempunyai wali yang sakti mandraguna sehingga dapat menandingi kesaktian ayundanya. Makin risau dan bingunglah hati Setyaningsih ketika dari para penjaga dan penyelidik bahwa di antara sekian banyak orang-orang yang berkumpul dl kaki gunung, tidak tampak si pangeran muda! Padahal, sayembara akan diadakan tiga hari lagi! Benar-benarkah pangeran itu tidak akan muncul? Begitu penakutkah melihat beratnya syarat yang diajukan? Sesungguhnya, apa yang dirisaukan hati Setyaningsih tidaklah benar sama sekali. Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang penakut, bukan lagi seorang yang mudah putus asa. Sebaliknya daripada itu, Pangeran Panji Sigit mewarisi watak kakeknya, mendiang Sang Prabu Airlangga yang bijaksana dan sakti, mewarisi watak satria yang pantang undur dalam melaksanakan kewajiban dan dalam mengejar tercapainya cita-cita. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, demikianlah pendiriannya. Apapun yang menjadi penghalang, betapa beratpun, akan ia terjang dan hadapi. Pangeran Panji Sigit amat tekun dalam samadhinya, dalam bertapa mohon petunjuk dewata, menyerahkan jiwa raga ke dalam kekuasaan Hyang Wadhi. Pemuda remaja yang tampan ini seolah-olah telah berubah menjadi arca batu di bawah pohon asem raksasa itu, sama sekali tidak bergerak. Hanya naik turunnya dada yang amat jarang dan halus itu saja yang menjadi tanda bahwa "arca" ini bukanlah terbuat daripada darah daging, bukan benda mati melainkan seorang manusia hidup. Hutan itu memang amat angker dan liar, pantasnya menjadi tempat tinggal raja setan dengan kawulanya yang terdiri daripada iblis brekasakan. Dan memang blasanya, orang yang bertapa selalu digoda oleh makhluk-makhluk halus ini yang sesungguhnya hanyalah penciptaan nafsu-nafsu badani yang berada di tubuh manusia itu sendiri. Godaan mahluk-mahluk halus ini amatlah beratnya bagi seorang pertapa, dan banyaklah orang yang gagal dalam tapanya, jauh lebih banyak daripada mereka yang berhasil. Sama banyaknya dengan kegagalan orang-orang yang mengejar cita-cita, namun tidak dapat mengatasi rintangan di tengah jalan. Setiap pelaksanaan dalam mengejar cita-cita selalu pasti akan menimbulkan rintangan-rintangan, halangan dan godaan yang akan menyelewengkan orang itu daripada titik tujuan sehingga cita-cita itu gagal tercapai. Hanya orang-orang yang berjiwa satria saja yang akan mampu mengatasi segala macam rintangan ini, betapapun berat dan pahitnya, dan hanya mereka ini yang akan dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Demiklan pula dengan orang bertapa, hanya dia yang dapat menghadapi godaan bayangan setan sehingga imannya tidak terguncang, daya ciptanya tetap membubung ke atas menuju Yang Satu tak pernah goyah, dialah yang akan memetik buah hasil tercapainya cita-cita. Amat berat memang keadaan bayangan ini.

Ketika Pangeran Panji Sigit bertapa dan duduk bersila sampai pada malam ke tiga, bayangan wajah Setyaningsih selalu menggodanya sehingga ia hampir-hampir tidak kuat bertahan. Setelah ia dapat mengatasi bayangan wanita yang dikasihinya itu, muncul bayangan lain yang agaknya timbul daripada nafsu berahinya sebagai seorang pria muda. Muncullah bayangan wanita-wanita cantik yang menanggalkan pakaian mereka satu per satu di depannya, kemudian dengan tubuh telanjang menggairahkan dan dengan gaya memikat, mencumburayunya. Semalam suntuk ia digoda oleh wanita-wanita cantik yang melakukan segala usahanya untuk merayu dan mencumbunya, untuk menyelewengkan perhatiannya. Namun, sang pertapa muda ini tetap tidak bergeming imannya, tidak goyah batinnya, keadaannya seperti sikap dalam samadhi yang pernah ia pelajari sebagai wejangan seorang di antara guru-gurunya Pancadriya wus gineleng tunggil mung sajuga kang sinidhikara. kinarya nut pangesthine, Catur warna binesut pinarwasa ajwa ngribedi mring lenging tyas sopana, jwa keron pandulu marang luguning parasdya kang kaesthi muhung dumununging Gusti panuksmane Hyang Suman. (Dandanggendis)
Bagi seorang pria, apalagi kalau ia masih muda remaja seperti Pangeran Panji Sigit, amatlah beratnya godaan yang merupakan bayangan wanita-wanita cantik ini yang timbul daripada nafsu-nafsunya sendiri yang kadang-kadang dapat menggoda setiap orang pria dengan lamunan-lamunan. Namun sang pangeran lulus daripada ujian dan cahaya di wajahnya makin gemilang ketika pada keesokan harinya bayang-bayang para wanita itu lenyap tanpa bekas. Bagi pandangan seorang yang sidik paningal (awas mata batinnya) akan tampaklah teja (cahaya) bersinar dari kepala sang pangeran tanda bahwa samadhinya amat mendalam dan tekadnya bulat, sudah bersatu jiwa dan raga, dikatakan mati tapi hidup karena jantungnya masih berdenyut, dibilang hidup keadaannya seperti orang mati, tak bergerak tak merasa tak berpikir.

<<< Bagian 086                                                                                   Bagian 088 >>>

No comments:

Post a Comment