Perawan Lembah Wilis; Bagian 086



"Setyaningsih ...? Setyaningsih.... ? Alangkah indahnya namamu dan tepat sekali, amat merdu terdengarnya! Setyaningsih berarti kesetiaan cinta kasih, aduh, memang seorang dewi seperti andika ini tentu amat setia dalam kasih sayang.... duhai dewata, hamba takkan penasaran hidup di dunia ini kalau bisa mendapatkan kesetiaan cinta kasihnya... !”
"Ngaco belo seperti burung jalak makan cabe! Hayo mengaku siapa namamu!" bentak Setyaningsih yang merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa hatinya menjadi senang mendengar ucapan-ucapan gila ini!
"Namaku adalah Panji Sigit...”
"Ah, engkau seorang pangeran...??" tanya Setyaningsih dan para gadis yang masih berada di situ menonton menjadi berisik mendengar bahwa jejaka bagus itu adalah seorang pangeran!

Pemuda itu membelalakkan matanya yang jernih dan tajam.
"Bagaimana andika bisa tahu?"
"Engkau pangeran dari Jenggala?"
Kembali pemuda itu tertegun. Memang dia adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Panji Sigit lolos dari istana setelah memaksa minta diri dari ramandanya karena hatinya gelisah dan marah oleh peristiwa semalam itu di kamar ibu tirinya, selir termuda ramandanya, Suminten. Semenjak kecil pangeran muda ini memang telah menggembleng diri dengan ilmu kesaktian. Banyak orang gagah di Kerajaan Jenggala dan karena para senopati yang perkasa itu semua suka belaka kepada pangeran ini, maka dengan rela mereka menurunkan ilmu mereka sehingga Pangeran Panji Sigit memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Terutama sekali ia mahir akan aji meringankan tubuh yang ia pelajari dari Empu Handoko, seorang empu pembuat keris yang terkenal di Jenggala.
"Eh, eh ...bagaimana andika bisa ....tahu semua“
Akan tetapi Setyaningsih kini menjadi marah sekali. Dicabutnya kerisnya dari ikat pinggang dan ia melangkah maju.
"Bagus! Pantas saja engkau sombong dan kurang ajar, kiranya engkau seorang pangeran Jenggala! Semua orang Jenggala jahat dan keji belaka!"
Gadis ini memang mempunyai rasa benci terhadap Jenggala karena ia anggap bahwa ayundanya, Endang Patibroti menerima perlakuan tidak selayaknya dari kerajaan itu. Tadi begitu mendengar nama Panji Sigit, maka ia segera menduganya bahwa pemuda ini seorang pangeran dari Jenggala. Setelah mendapat kenyataan bahwa dugaannya benar, ia menjadi marah, mencabut kerisnya dan langsung menerjang maju!
"Aduhai, adinda dewi yang cantik jelita dan sakti mandraguna, Setyaningsih! Mengapa andika memusuhiku? Aku tidak pernah bersalah kepadamu dan aku datang bukan membawa niat jahat. Kalau andika tidak percaya, ini dadaku. Hendak membunuh aku? Silahkan! Aku bukan seorang pengecut yang takut mati. Biarlah ....aku rela mati di tangan halus seorang seperti adinda dewi ...tusuklah ...” Pangeran Panji Sigit yang sudah tergila-gila itu malah maju dan membuka bajunya bagian depan, memperlihatkan dadanya yang bidang dan berkulit bersih halus, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum, matanya memandang dengan pancaran kasih sayang. Tangan yang memegang keris itu gemetar, kemudian lunglai dan keris itu menurun ke bawah. Seperti naik sedu-sedan ke atas kerongkongan Setya-ningsih dan ia lalu membuang muka, berkata kepada lima orang laki-laki tinggi besar,
"Tangkap dia, bawa menghadap ayunda!"
Tangan-tangan yang kasar menangkap kedua tangan Pangeran Panji Sigit dan digiringlah pangeran ini memasuki hutan, diiringkan oleh Setyaningsih dan beberapa orang gadis temannya. Setelah para satria Wilis tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Pangeran Jenggala, mereka tidak berani berbuat sembrono. Mereka maklum bahwa pimpinan mereka, Endang Patibroto, adalah bekas mantu Jenggala. Mereka menangkap dan menggiring pemuda ini hanya karena perintah Setyaningsih yang tentu saja mereka taati.

Belum juga tiba di pusat Padepokan Wilis yang berada di puncak, di mana terdapat pondok utama tempat tinggal pimpinan Padepokan Wilis, di bawah puncak rombongan yang menawan Pangeran Panji Sigit ini bertemu dengan Endang Patibroto yang diikuti oleh beberapa orang gadis yang tadi mandi bersama Setyaningsih dan melapor. Endang Patibroto menjadi marah ketika mendengar bahwa ada seorang pemuda asing datang dan menimbulkan kekacauan, mengintai Setyaningsih dan teman-temannya yang sedang mandi. Ketika ia mendengar betapa pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan lima orang anak buahnya, ia terheran dan makin penasaran, maka ia lalu meninggalkan pondoknya, menyuruh Retna Wilis melanjutkan latihan samadhi seorang diri dan turun dari puncak. Dari jauh Pangeran Panji Sigit sudah melihat datangnya rombongan wanita turun dari atas itu. Tertegun ia melihat wanita yang berjalan paling depan, wanita berusia tiga puluh tahun lebih, cantik dan agung, langkah dan geraknya mengandung wibawa dan kegagahan luar biasa dan beberapa orang gadis yang mengiringkan wanita itu tampak penuh hormat. Ia merasa kenal dengan wanita yang turun dari atas Setelah kedua rombongan bertemu dan lima orang laki-laki tinggi besar beserta semua gadis menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu, kecuali Setyaningsih yang tetap berdiri, muncul pula banyak sekali laki-laki yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar. Mereka ini semua pun menjatuhkan diri berlutut lalu bersila atau berjongkok di atas tanah, tak seorangpun mengeluarkan kata-kata. Kini yang berdiri hanya tiga orang. Wanita itu yang bukan lain adalah Endang Patibroto, Setyaningsih, dan Pangeran Panji Sigit. Kini jelas tampak oleh pangeran muda itu bahwa dugaannya tadi tidak keliru. Wanita ini, yang berdiri dengan sikap angkuh dan tenang, yang dihormati oleh semua anak buahnya seperti seorang ratu, bukan lain adalah kakak iparnya, Endang Patibroto isteri mendiang kakak tirinya Pangeran Panjirawit! Enam tujuh tahun telah lewat namun kakak iparnya ini masih tidak berubah, masih tetap cantik dan tidak kelihatan tua, hanya bedanya, kalau dahulu manis dan ramah, kini kelihatan angker dan galak!
"Puji syukur kepada para Dewata ....Kiranya Ayunda yang berada di sini ....!" Pangeran Panji Sigit melangkah maju dan berseru. Akan tetapi sinar tajam yang menyambar keluar dari pandang mata Endang Patibroto membuatnya terhenti dan memandang ragu.
"Apa yang telah dilakukan oleh keparat ini?" Suara Endang Patibroto seperti biasa amat halus dan merdu, namun di dalamnya terkandung hawa dingin yang menyeramkan. Pertanyaan itu ditujukan kepada adiknya, Setyaningsih, akan tetapi karena ia tetap menatap wajah pangeran itu, maka seolah-olah ia bertanya kepada si pangeran sendiri atau kepada diri sendiri.
"Ayunda ....bukankah paduka ini...Ayunda Endang Patibroto? Duhai Ayunda ....sudah lupakah kepadaku...?”

Memang Endang Patibroto sudah lupa kepada pangeran muda ini. Tujuh tahun yang lalu, pangeran ini masih merupakan seorang pemuda cilik yang belum dewasa, baru tiga belas tahun usianya, sedangka kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah.
"Ningsih! Siapakah dia ini?" Kini Endang Patibroto menoleh kepada adiknya.
"Menurut pengakuannya, dia bernama Panji Sigit, pangeran dari Jenggala," jawab Setyaningsih sambil melirik ke arah pemuda itu. Tidak berani ia memandang secara langsung karena pandang mata pemuda itu demikian terus terang memancarkan cinta kasih kalau memandangnya. Bahkan menyebutkan nama Panji Sigit saja jantungnya berdebar dan suaranya gemetar. Endang Patibroto kembali menghadapi pangeran itu, wajahnya tidak berubah, masih tenang angker dan pandang matanya dingin.
"Hemm ...? Mau apa engkau datang ke sini ....?"
Pangeran Panji Sigit terkejut dan diam-diam merasa serem. Ia tidak tahu betapa Endang Patibroto sekarang sudah jauh berubah kalau dibandingkan dengan dahulu ketika masih menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Pukulan batin yang menimpanya secara bertubi-tubi semenjak suaminya tewas, telah membuat hati wanita yang keras ini menjadi makin keras. Keras dan pahit.
"Ayunda ....Secara tidak sengaja aku tersesat sampai ke Wilis dalam perantauanku meninggalkan istana. Aku tidak betah lagi tinggal di istana yang makin lama makin panas dan makin kacau. Tanpa kusengaja aku memasuki daerah Wilis dan siapa menduga bahwa daerah ini dikuasai oleh Padepokan Wilis yang ternyata Ayunda sendiri yang pimpin. Ah, betapa bahagia hatiku”
"Cukuplah, Panji Sigit. Engkau datang tanpa kausengaja, itu masih amat baik. Sekarang kau pergilah cepat-cepat meninggalkan Wilis!"
Terbelalak sepasang mata Panji Sigit.
"Ahhhh ....bagaimana ini, Ayunda? Aku ...aku tidak berniat buruk dan ...di sini aku berjumpa dengan... Setyaningsih ini ... adakah dia adik kandung Ayunda? Terus terang saja,...Ayunda, aku ...aku jatuh cinta kepada Setyaningsih dan aku hendak meminangnya menjadi isteriku ...“
"Wuuuuutttt ..., plakkk...!!”
"Aduhhh”
Tubuh Pangeran Panji Sigit terbanting ke atas tanah ketika pundaknya, kena tampar tangan Endang Patibroto yang memiliki keampuhan menggiriskan. Pangeran inl merasa seluruh tubuhnya lumpuh dan kepalanya pening, bumi terasa bergelombang dan ia hanya dapat memandang ke arah Endang Patibroto dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Endang Patibroto agaknya marah sekali mendengar pernyataan sejujurnya dari pangeran itu. Setelah menampar, tubuhnya berkelebat ke arah seorang anggota Padepokan Wilis yang duduk terdekat dan tahu-tahu ia telah mencabut golok orang itu, kemudian sekali melompat ia telah berada di dekat tubuh Pangeran Panji Sigit yang masih rebah di atas tanah.
"Terimalah kematianmu, kau ...” Golok itu diangkat ke atas dan siap diayunkan memenggal leher Pangeran Panji Sigit yang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena tubuhnya masih belum pulih dari tamparan tadi.
"Ayunda Endang ....Jangan ....!!"

Endang Patibroto tertegun ketika merasa betapa dua buah tangan Setyaningsth merangkulnya dan memegang kedua lengannya dari belakang. Ia menoleh dan makin heranlah hatinya ketika melihat wajah adiknya itu pucat pasi, matanya basah oleh air mata, tubuhnya menggigil dan bibirnya bergerak-gerak seperti mau menangis.
"Ehh, Setyaningsih, mengapa kau ...?"
"Ayunda, jangan bunuh dia ..., jangan ...! Dia.... dia tidak bersalah apa-apa ... “
"Tapi dia.... dia berani mengucapkan kata-kata kurang ajar!”
"Ayunda, salahkah kalau ada orang mencintaiku? Salahkah kalau ada orang meminangku? Tidak! Kalau Ayunda membunuhnya, berarti dia mati karena aku. Lebih baik Ayunda membunuh aku saja yang menjadi gara-gara...”
Endang Patibroto terbeleilak. Ia maklum akan kesungguhan hati adiknya ini
"Hemm... hemmm....!" Sejenak tubuhnya menegang seolah-olah ia masih ragu, kemudian ia menghela napas, melepaskan rangkulan adiknya, lalu dengan jari-jari tangannya ia mematah-matahkan golok yang tadinya hendak dipergunakan memenggal leher Pangeran Panji Sigit.
"Kau sudah tidak berkeberatan dipinang orang? Baiklah, Setyaningsih, aku akan mengadakan sayembara!" Tanpa menanti jawaban adiknya, juga tanpa memperdulikan Pangeran Panji Sigit yang kini sudah bangkit dan duduk, masih tegang menghadapi ancaman maut yang baru saja lolos, Endang Patibroto lalu meloncat ke atas sebuah batu yang tinggi, kemudian dengan lantang ia berkata,
"Di mana adanya ketiga Kakang Wilis?"
Dari rombongan mereka yang kini makin banyak memenuhi tempat itu dan menonton tanpa mengeluarkan kata-kata, berdirilah tiga orang laki-laki raksasa. Mereka ini bukan lain adalah Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis.
"Hamba berada di sini!"
"Kakang Wilis bertiga, dengar baik-baik pengumumanku ini! Kalian umumkan ke seluruh penjuru agar diketahui oleh seluruh orang gagah, para satria, pangeran dan bangsawan, juga rakyat dan siapa saja yang menaruh minat, bahwa mulai sekarang Padepokan Wilis mengadakan sebuah sayembara. Sayembara tanding! Adikku Setyaningsih hendak, memilih jodoh dengan syarat sayembara tanding, yaitu siapa yang dapat menangkan adikku dalam pertandingan, dan walinya menangkan aku dalam pertandingan, dialah yang dianggap menang dalam sayembara dan berhak meminang adikku Setyaningsih! Umumkan sekarang juga, Kakang, dan sayembara akan diadakan tepat sebulan sesudah hati ini, pada hati Respati dimulai pagi-pagi!"
"Baiklah, Gusti puteri, akan hamba umumkan!" jawab Limanwilis.

Endang Patibroto tidak memperdulikan adiknya yang kini berdiri menjauh sambil menundukkan muka. Ia memandang kepada Pangeran Panji Sigit yang sudah berdiri dengan muka pucat, lalu berkata
"Nah, Panji Sigit, engkau sudah mendengar sendiri! Adikku adalah seorang wanita terhormat, seorang puteri sejati, tidaklah dapat diperoleh secara mudah. Kalau engkau memang ingin meminangnya, engkau harus menang dalam sayembara tanding, harus dapat mengalahkan dia dan walimu harus dapat mengalahkan aku. Nah, sekarang pergilah, aku tidak suka melihat engkau mengacau lebih lama lagi di sini!"

<<< Bagian 085                                                                                    Bagian 087 >>>

No comments:

Post a Comment