"Setyaningsih ...?
Setyaningsih.... ? Alangkah indahnya namamu dan tepat sekali, amat merdu
terdengarnya! Setyaningsih berarti kesetiaan cinta kasih, aduh, memang seorang
dewi seperti andika ini tentu amat setia dalam kasih sayang.... duhai dewata,
hamba takkan penasaran hidup di dunia ini kalau bisa mendapatkan kesetiaan
cinta kasihnya... !”
"Ngaco belo seperti
burung jalak makan cabe! Hayo mengaku siapa namamu!" bentak Setyaningsih
yang merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa hatinya menjadi senang
mendengar ucapan-ucapan gila ini!
"Namaku adalah Panji
Sigit...”
"Ah, engkau seorang
pangeran...??" tanya Setyaningsih dan para gadis yang masih berada di situ
menonton menjadi berisik mendengar bahwa jejaka bagus itu adalah seorang
pangeran!
Pemuda itu membelalakkan
matanya yang jernih dan tajam.
"Bagaimana andika bisa
tahu?"
"Engkau pangeran dari
Jenggala?"
Kembali pemuda itu tertegun.
Memang dia adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala. Seperti telah diceritakan
di bagian depan, Pangeran Panji Sigit lolos dari istana setelah memaksa minta
diri dari ramandanya karena hatinya gelisah dan marah oleh peristiwa semalam
itu di kamar ibu tirinya, selir termuda ramandanya, Suminten. Semenjak kecil
pangeran muda ini memang telah menggembleng diri dengan ilmu kesaktian. Banyak
orang gagah di Kerajaan Jenggala dan karena para senopati yang perkasa itu
semua suka belaka kepada pangeran ini, maka dengan rela mereka menurunkan ilmu
mereka sehingga Pangeran Panji Sigit memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Terutama sekali ia mahir akan aji meringankan tubuh yang ia pelajari dari Empu
Handoko, seorang empu pembuat keris yang terkenal di Jenggala.
"Eh, eh ...bagaimana
andika bisa ....tahu semua“
Akan tetapi Setyaningsih
kini menjadi marah sekali. Dicabutnya kerisnya dari ikat pinggang dan ia
melangkah maju.
"Bagus! Pantas saja
engkau sombong dan kurang ajar, kiranya engkau seorang pangeran Jenggala! Semua
orang Jenggala jahat dan keji belaka!"
Gadis ini memang mempunyai
rasa benci terhadap Jenggala karena ia anggap bahwa ayundanya, Endang Patibroti
menerima perlakuan tidak selayaknya dari kerajaan itu. Tadi begitu mendengar
nama Panji Sigit, maka ia segera menduganya bahwa pemuda ini seorang pangeran
dari Jenggala. Setelah mendapat kenyataan bahwa dugaannya benar, ia menjadi
marah, mencabut kerisnya dan langsung menerjang maju!
"Aduhai, adinda dewi
yang cantik jelita dan sakti mandraguna, Setyaningsih! Mengapa andika
memusuhiku? Aku tidak pernah bersalah kepadamu dan aku datang bukan membawa
niat jahat. Kalau andika tidak percaya, ini dadaku. Hendak membunuh aku?
Silahkan! Aku bukan seorang pengecut yang takut mati. Biarlah ....aku rela mati
di tangan halus seorang seperti adinda dewi ...tusuklah ...” Pangeran Panji
Sigit yang sudah tergila-gila itu malah maju dan membuka bajunya bagian depan,
memperlihatkan dadanya yang bidang dan berkulit bersih halus, wajahnya berseri,
mulutnya tersenyum, matanya memandang dengan pancaran kasih sayang. Tangan yang
memegang keris itu gemetar, kemudian lunglai dan keris itu menurun ke bawah.
Seperti naik sedu-sedan ke atas kerongkongan Setya-ningsih dan ia lalu membuang
muka, berkata kepada lima orang laki-laki tinggi besar,
"Tangkap dia, bawa
menghadap ayunda!"
Tangan-tangan yang kasar
menangkap kedua tangan Pangeran Panji Sigit dan digiringlah pangeran ini
memasuki hutan, diiringkan oleh Setyaningsih dan beberapa orang gadis temannya.
Setelah para satria Wilis tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Pangeran
Jenggala, mereka tidak berani berbuat sembrono. Mereka maklum bahwa pimpinan
mereka, Endang Patibroto, adalah bekas mantu Jenggala. Mereka menangkap dan
menggiring pemuda ini hanya karena perintah Setyaningsih yang tentu saja mereka
taati.
Belum juga tiba di pusat
Padepokan Wilis yang berada di puncak, di mana terdapat pondok utama tempat
tinggal pimpinan Padepokan Wilis, di bawah puncak rombongan yang menawan
Pangeran Panji Sigit ini bertemu dengan Endang Patibroto yang diikuti oleh
beberapa orang gadis yang tadi mandi bersama Setyaningsih dan melapor. Endang
Patibroto menjadi marah ketika mendengar bahwa ada seorang pemuda asing datang
dan menimbulkan kekacauan, mengintai Setyaningsih dan teman-temannya yang
sedang mandi. Ketika ia mendengar betapa pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan
lima orang anak buahnya, ia terheran dan makin penasaran, maka ia lalu
meninggalkan pondoknya, menyuruh Retna Wilis melanjutkan latihan samadhi
seorang diri dan turun dari puncak. Dari jauh Pangeran Panji Sigit sudah
melihat datangnya rombongan wanita turun dari atas itu. Tertegun ia melihat
wanita yang berjalan paling depan, wanita berusia tiga puluh tahun lebih,
cantik dan agung, langkah dan geraknya mengandung wibawa dan kegagahan luar
biasa dan beberapa orang gadis yang mengiringkan wanita itu tampak penuh
hormat. Ia merasa kenal dengan wanita yang turun dari atas Setelah kedua
rombongan bertemu dan lima orang laki-laki tinggi besar beserta semua gadis
menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu, kecuali Setyaningsih yang tetap
berdiri, muncul pula banyak sekali laki-laki yang rata-rata bertubuh tinggi
besar dan bersikap kasar. Mereka ini semua pun menjatuhkan diri berlutut lalu
bersila atau berjongkok di atas tanah, tak seorangpun mengeluarkan kata-kata.
Kini yang berdiri hanya tiga orang. Wanita itu yang bukan lain adalah Endang
Patibroto, Setyaningsih, dan Pangeran Panji Sigit. Kini jelas tampak oleh
pangeran muda itu bahwa dugaannya tadi tidak keliru. Wanita ini, yang berdiri
dengan sikap angkuh dan tenang, yang dihormati oleh semua anak buahnya seperti
seorang ratu, bukan lain adalah kakak iparnya, Endang Patibroto isteri mendiang
kakak tirinya Pangeran Panjirawit! Enam tujuh tahun telah lewat namun kakak
iparnya ini masih tidak berubah, masih tetap cantik dan tidak kelihatan tua,
hanya bedanya, kalau dahulu manis dan ramah, kini kelihatan angker dan galak!
"Puji syukur kepada
para Dewata ....Kiranya Ayunda yang berada di sini ....!" Pangeran Panji
Sigit melangkah maju dan berseru. Akan tetapi sinar tajam yang menyambar keluar
dari pandang mata Endang Patibroto membuatnya terhenti dan memandang ragu.
"Apa yang telah
dilakukan oleh keparat ini?" Suara Endang Patibroto seperti biasa amat
halus dan merdu, namun di dalamnya terkandung hawa dingin yang menyeramkan.
Pertanyaan itu ditujukan kepada adiknya, Setyaningsih, akan tetapi karena ia
tetap menatap wajah pangeran itu, maka seolah-olah ia bertanya kepada si
pangeran sendiri atau kepada diri sendiri.
"Ayunda ....bukankah
paduka ini...Ayunda Endang Patibroto? Duhai Ayunda ....sudah lupakah
kepadaku...?”
Memang Endang Patibroto
sudah lupa kepada pangeran muda ini. Tujuh tahun yang lalu, pangeran ini masih
merupakan seorang pemuda cilik yang belum dewasa, baru tiga belas tahun
usianya, sedangka kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan
gagah.
"Ningsih! Siapakah dia
ini?" Kini Endang Patibroto menoleh kepada adiknya.
"Menurut pengakuannya,
dia bernama Panji Sigit, pangeran dari Jenggala," jawab Setyaningsih
sambil melirik ke arah pemuda itu. Tidak berani ia memandang secara langsung
karena pandang mata pemuda itu demikian terus terang memancarkan cinta kasih
kalau memandangnya. Bahkan menyebutkan nama Panji Sigit saja jantungnya
berdebar dan suaranya gemetar. Endang Patibroto kembali menghadapi pangeran
itu, wajahnya tidak berubah, masih tenang angker dan pandang matanya dingin.
"Hemm ...? Mau apa
engkau datang ke sini ....?"
Pangeran Panji Sigit
terkejut dan diam-diam merasa serem. Ia tidak tahu betapa Endang Patibroto
sekarang sudah jauh berubah kalau dibandingkan dengan dahulu ketika masih
menjadi isteri Pangeran Panjirawit. Pukulan batin yang menimpanya secara
bertubi-tubi semenjak suaminya tewas, telah membuat hati wanita yang keras ini
menjadi makin keras. Keras dan pahit.
"Ayunda ....Secara
tidak sengaja aku tersesat sampai ke Wilis dalam perantauanku meninggalkan
istana. Aku tidak betah lagi tinggal di istana yang makin lama makin panas dan
makin kacau. Tanpa kusengaja aku memasuki daerah Wilis dan siapa menduga bahwa
daerah ini dikuasai oleh Padepokan Wilis yang ternyata Ayunda sendiri yang
pimpin. Ah, betapa bahagia hatiku”
"Cukuplah, Panji Sigit.
Engkau datang tanpa kausengaja, itu masih amat baik. Sekarang kau pergilah
cepat-cepat meninggalkan Wilis!"
Terbelalak sepasang mata
Panji Sigit.
"Ahhhh ....bagaimana
ini, Ayunda? Aku ...aku tidak berniat buruk dan ...di sini aku berjumpa
dengan... Setyaningsih ini ... adakah dia adik kandung Ayunda? Terus terang
saja,...Ayunda, aku ...aku jatuh cinta kepada Setyaningsih dan aku hendak
meminangnya menjadi isteriku ...“
"Wuuuuutttt ...,
plakkk...!!”
"Aduhhh”
Tubuh Pangeran Panji Sigit
terbanting ke atas tanah ketika pundaknya, kena tampar tangan Endang Patibroto
yang memiliki keampuhan menggiriskan. Pangeran inl merasa seluruh tubuhnya
lumpuh dan kepalanya pening, bumi terasa bergelombang dan ia hanya dapat memandang
ke arah Endang Patibroto dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Endang
Patibroto agaknya marah sekali mendengar pernyataan sejujurnya dari pangeran
itu. Setelah menampar, tubuhnya berkelebat ke arah seorang anggota Padepokan
Wilis yang duduk terdekat dan tahu-tahu ia telah mencabut golok orang itu,
kemudian sekali melompat ia telah berada di dekat tubuh Pangeran Panji Sigit
yang masih rebah di atas tanah.
"Terimalah kematianmu,
kau ...” Golok itu diangkat ke atas dan siap diayunkan memenggal leher Pangeran
Panji Sigit yang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena tubuhnya masih belum
pulih dari tamparan tadi.
"Ayunda Endang
....Jangan ....!!"
Endang Patibroto tertegun
ketika merasa betapa dua buah tangan Setyaningsth merangkulnya dan memegang
kedua lengannya dari belakang. Ia menoleh dan makin heranlah hatinya ketika
melihat wajah adiknya itu pucat pasi, matanya basah oleh air mata, tubuhnya
menggigil dan bibirnya bergerak-gerak seperti mau menangis.
"Ehh, Setyaningsih,
mengapa kau ...?"
"Ayunda, jangan bunuh
dia ..., jangan ...! Dia.... dia tidak bersalah apa-apa ... “
"Tapi dia.... dia
berani mengucapkan kata-kata kurang ajar!”
"Ayunda, salahkah kalau
ada orang mencintaiku? Salahkah kalau ada orang meminangku? Tidak! Kalau Ayunda
membunuhnya, berarti dia mati karena aku. Lebih baik Ayunda membunuh aku saja
yang menjadi gara-gara...”
Endang Patibroto
terbeleilak. Ia maklum akan kesungguhan hati adiknya ini
"Hemm...
hemmm....!" Sejenak tubuhnya menegang seolah-olah ia masih ragu, kemudian
ia menghela napas, melepaskan rangkulan adiknya, lalu dengan jari-jari
tangannya ia mematah-matahkan golok yang tadinya hendak dipergunakan memenggal
leher Pangeran Panji Sigit.
"Kau sudah tidak
berkeberatan dipinang orang? Baiklah, Setyaningsih, aku akan mengadakan sayembara!"
Tanpa menanti jawaban adiknya, juga tanpa memperdulikan Pangeran Panji Sigit
yang kini sudah bangkit dan duduk, masih tegang menghadapi ancaman maut yang
baru saja lolos, Endang Patibroto lalu meloncat ke atas sebuah batu yang
tinggi, kemudian dengan lantang ia berkata,
"Di mana adanya ketiga
Kakang Wilis?"
Dari rombongan mereka yang
kini makin banyak memenuhi tempat itu dan menonton tanpa mengeluarkan
kata-kata, berdirilah tiga orang laki-laki raksasa. Mereka ini bukan lain
adalah Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis.
"Hamba berada di
sini!"
"Kakang Wilis bertiga,
dengar baik-baik pengumumanku ini! Kalian umumkan ke seluruh penjuru agar
diketahui oleh seluruh orang gagah, para satria, pangeran dan bangsawan, juga
rakyat dan siapa saja yang menaruh minat, bahwa mulai sekarang Padepokan Wilis
mengadakan sebuah sayembara. Sayembara tanding! Adikku Setyaningsih hendak,
memilih jodoh dengan syarat sayembara tanding, yaitu siapa yang dapat menangkan
adikku dalam pertandingan, dan walinya menangkan aku dalam pertandingan, dialah
yang dianggap menang dalam sayembara dan berhak meminang adikku Setyaningsih!
Umumkan sekarang juga, Kakang, dan sayembara akan diadakan tepat sebulan
sesudah hati ini, pada hati Respati dimulai pagi-pagi!"
"Baiklah, Gusti puteri,
akan hamba umumkan!" jawab Limanwilis.
Endang Patibroto tidak
memperdulikan adiknya yang kini berdiri menjauh sambil menundukkan muka. Ia
memandang kepada Pangeran Panji Sigit yang sudah berdiri dengan muka pucat,
lalu berkata
"Nah,
Panji Sigit, engkau sudah mendengar sendiri! Adikku adalah seorang wanita
terhormat, seorang puteri sejati, tidaklah dapat diperoleh secara mudah. Kalau
engkau memang ingin meminangnya, engkau harus menang dalam sayembara tanding,
harus dapat mengalahkan dia dan walimu harus dapat mengalahkan aku. Nah,
sekarang pergilah, aku tidak suka melihat engkau mengacau lebih lama lagi di
sini!"
No comments:
Post a Comment