Setelah pemuda itu mulai sadar daripada keadaan pesona yang membuatnya seperti lupa akan dirinya, mulailah ia menarik napas panjang berkali-kali. Sungguhpun hanya elahan napas, namun hal ini cukuplah bagi Setyaningsih yang berpendengaran tajam dan terlatih. Dara perkasa ini mengangkat tangan memberi isyarat kepada teman-temannya sambil meruncingkan bibirnya yang merah mungil,
"Ssttt ...."
kemudian ia menoleh ke arah semak-semak. Pandang matanya yang tajam segera
dapat melihat gerakan di belakang semak-semak, bukan gerakan yang diakibatkan
oleh burung atau binatang hutan. Mulutnya segera membentak, halus namun nyaring
dan penuh wibawa,
"Siapakah engkau yang
berani menonton kami mandi sambil bersembunyi? Hayo keluarlah!!"
Bagi para gadis itu, tidak
mengapa andaikata ada pemuda-pemuda atau orang-orang Padepokan Wilis kebetulan
lewat di dekat situ dan melihat mereka mandi. Ditonton orang lain selagi mandi
di sungai bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, apalagi kalau yang melihat
itu orang-orang Padepokan Wilis sendiri yang tentu saja menganggap pemandangan
ini biasa. Akan tetapi ditonton orang, biarpun dia seorang anggota padepokan
sendiri, yang bersembunyi, hal ini merupakan pantangan, karena bersembunyi
berarti tidak wajar dan mengandung niat buruk! Semak-semak itu bergoyang dan
muncullah seorang pemuda dari balik semak semak, berdiri dengan wajahnya yang
tampan masih terpesona, bahkan kemudian pemuda itu menggunakan punggung tangan
kanan untuk menggosok-gosok kedua matanya karena melihat Setyaningsih berdiri
di dalam air sebatas pinggang, dengan kain yang membungkus, dada yang padat itu
basah kuyup sehingga seolah-olah menjadi kulit ke dua ia makin kagum dan tidak
percaya bahwa di dunia ini ada seorang manusia sehebat dara yang menegurnya
itu.
"Duhai....mimpikah aku
...” Pemuda itu berkata, suaranya halus dan kini matanya yang bersinar tajam
itu memandang para gadis yang juga memandangnya.
"Segala puja-puji
kepada para dewata yang agung. Kalau andika sekalian ini bidadari-bidadari
kahyangan yang sedang mandi, mana gerangan pelangi yang menjadi anda (anak
tangga) untuk andika sekalian turun ke bumi? Andaikata andika sekalian ini
sebangsa peri, mengapa di balik kulit andika terbayang darah daging dan urat
halus? Betapapun juga ... kalau benar andika bidadari, tunjukkan di mana andika
menyimpan kemben antakusuma andika agar dapat hamba curi...!”
Terdengar kekeh tawa para
gadis itu. Tadinya mereka ini tertegun dan marah melihat seorang pemuda yang
sama sekali tidak mereka kenal, akan tetapi ketika mendapat kenyataan betapa
pemuda itu amat tampan dan ganteng melebihi semua pria yang pernah mereka
jumpai, mereka terpesona.
Kini mendengar ucapan yang
keluar dari mulut pemuda ganteng itu, mereka merasa lucu sekali, bahkan merasa
mendapat pujian yang amat berbeda dengan pujIan yang biasa mereka dengar.
“....tampan sekali dia ....“
“....sikapnya tidak kurang
ajar...”
“....pakaiannya indah
seperti putera bangsawan.....“
“....tapi pecengas-pecengis
seperti monyet .... “
“....jangan-jangan miring
dia, sayang kalau begitu.... “
“....hi-hi-hik ....“
“....heh-he-heh ...“
Demiklanlah, para gadis itu
berbisik-bisik, tersenyum-senyum dan terkekeh geli. Hanya Setyaningsih yang
tidak tertawa tidak mengeluarkan suara, matanya memandang tajam penuh selidik,
mulutnya yang berbentuk indah itu membayangkan kemarahan. Setyaningsih adalah
seorang dara yang pendiam, selalu serius dan berpemandangan luas. Wataknya adil
dan keras hati biarpun sikapnya selalu ramah den halus. Ia tidak mengenal takut
dan oleh ayundanya selalu ditanamkan watak berani karena benar. Wajahnya
membayangkan keagungan, bahkan kadang-kadang membayangkan wajah seorang puteri
yang berwibawa dan tinggi hati sungguhpun ia sama sekali tidak memiliki watak
sombong. Kini, melihat pemuda itu, ia menjadi marah dan ia sendiri tidak
mengerti mengapa kemarahannya itu berdasarkan kecewa. Ia kecewa melihat betapa
seorang pemuda seperti itu, dengan wajah dan bentuk tubuh yang hebat dan
menarik, ternyata hanya seorang yang memiliki watak rendah, suka mengintai
wanita-wanita sambil bersembunyi! Baru sekali ini ia marah dengan dasar kecewa.
Akan tetapi sebelum
Setyaningsih dapat mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba terdengar
bentakan-bentakan keras,
"Tangkap penjahat
....!”
"Tangkap si keparat
yang masuk tanpa ijin!"
Lima orang anak buah
Padepokan Wilis yang tinggi besar dan kuat telah mengurung lalu menubruk maju
hendak menangkap pemuda itu.
"Wuuuutt ....dess
..aiihhh...!!"
Semua orang terkejut.
Sungguh tak disangka oleh lima orang satria Wilis itu maupun oleh para gadis
yang sedang mandi. Lima orang tinggi besar itu menubruk dan hendak menangkap,
akan tetapi mereka itu kelima-limanya terbanting ke belakang pada saat pemuda
itu dengan wajah berseri menggerakkan kaki tangannya! Marahlah lima orang
tinggi besar itu dan mereka meloncat berdiri dengan muka merah, lalu maju
mengurung pemuda yang masih berdiri sambil tersenyum. Para gadis yang sedang
mandi kini sudah keluar dari dalam air dan berserabutan pergi karena mereka itu
dalam keadaan setengah telanjang atau dengan kain basah yang mencetak tubuh.
Mereka adalah gadis-gadis perkasa, tentu saja tidak takut akan musuh, akan
tetapl karena keadaan pakaian mereka dan karena lima orang yang menghadapi
pemuda itu adalah tokoh-tokoh tua yang berilmu tinggi, maka mereka tidak ada
yang berani untuk mencampuri pertempuran. Sebagian ada yang pergi untuk
melapor, ada pula yang pergi untuk berganti pakaian. Setyaningsih sendiri lalu
pergi menyelinap ke dalam gerombolan pohon dan cepat ia sudah bertukar tapih
pinjung yang basah kuyup itu dengan pakaian kering. Setelah selesai berpakaian
dan menyanggul rambutnya yang panjang, Setyaningsih lalu meloncat keluar dan
lari mendekati tempat pertempuran. Kiranya pemuda itu benar-benar hebat
gerakan-gerakannya. Lima orang satria Wilis yang mengeroyoknya dengan serbuan
dahsyat, dengan pukulan dan cengkeraman, selalu dapat dlelakkan dengan
sigapnya. Agaknya pemuda tampan yang halus gerak-geriknya itu memiliki aji
keringanan tubuh yang sudah mahir sekali sehingga ia dapat berkelebat lincah dan
gesit bagaikan seekor burung yang sukar ditangkap. Sementara itu, mulut pemuda
itu tiada hentinya mencela.
"Kalian ini orang-orang
apakah? Tiada hujan tiada angin mengganggu orang yang tidak berdosa. Salahkah
aku menonton bidadari-bidadari yang sedang mandi? Aku tidak sengaja, hanya
kebetulan lewat ....aih, galak amat..!" Kembali pemuda itu menghindarkan
diri dari terjangan tiga orang sekaligus, meloncat tinggi dan berjungkir balik
ke belakang dengan gerakan indah sampai tiga kali sehingga ketika ia turun, ia
berada di jarak empat tombak lebih dari para pengeroyoknya.
Melihat betapa lima orang
tinggi besar itu kini mencabut golok masing-masing, pemuda itu merubah sikapnya
yang tertawa-tawa dan kini dengan wajah sungguh-sungguh dan berwibawa ia
berkata,
"Kalian masih nekat dan
bahkan tega untuk berniat membunuh seorang yang tidak bersalah?"
Seorang di antara pengeroyok
itu membentak,
"Manusia sombong!
Engkau masih berpura-pura tidak mengaku salah? Di manakah kau berada sekarang?
Di lembah Gunung Wilis dan kau datang ke tempat ini tanpa setahu dan seijin
kami! Tidak ada seorangpun manusia boleh melanggar perbatasan Wilis tanpa ijin,
keparat!"
"Hemmm, apakah Gunung
Wilis ini kalian yang membuat dahulu? Apakah anak sungai itu kalian yang
menggalinya? Batu-batu inipun kalian yang membuatnya dan pohon-pohon dalam
hutan serta rumput-rumput ini kalian yang menanam?"
"Cerewet! Orang sombong
seperti engkau harus mampus!" teriak lima orang itu dan mereka menyerbu
dahsyat dengan golok di tangan.
"Kalian orang-orang kasar
perlu dihajar!" Pemuda itu membentak dan tubuhnya berkelebat ke depan
menyambut terjangan lima orang lawannya. Gesit sekali, kaki tangannya menyambar
jauh lebih cepat daripada lawan-lawannya. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan
disusul bunyi golok-golok terlempar dan jatuh berkerontangan menimpa batu. Lima
orang tinggi besar itu terhuyung mundur, meringis kesakitan sambil meraba-raba
bagian tubuh yang kena gempur pemuda itu.
"Paman sekalian
mundurlah!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Setyaningsih
berkelebat maju, tahu-tahu gadis remaja ini telah berhadapan dengan pemuda yang
perkasa itu.
Si pemuda terkesiap, melongo
keheranan dan penuh kekaguman. Gerakan itu saja sudah menjadi bukti cukup
baginya bahwa dara remaja yang telah merebut hatinya itu ternyata selain cantik
jelita seperti bidadari kahyangan, juga memiliki kesaktian hebat.
"Heh keparat yang tak
tahu susila! Siapakah andika, berani bermain gila di Wilis? Apakah menganggap
andika seorang yang memiliki kegagahan di dunia ini?"
Melihat dara itu menudingkan
telunjuk kiri ke arah mukanya, berdiri dengan sikap gagah, wajah yang marah itu
kemerahan dan pandang matanya agung, mendengar suaranya yang merdu halus penuh
kemarahan itu, si pemuda makin tertegun. Kalau tadi ia merasa penasaran dan
marah terhadap lima orang tinggi besar yang kasar, kini kemarahannya sirna
seperti uap tipis tertiup angin. Ia hanya berdiri bengong, memandang ke arah
mulut yang baru saja menegurnya, seolah-olah pandang matanya lekat pada bibir
itu, tak dapat dilepas kembali.
"Tulikah andika?
Ataukah gagu?" Setyaningsih membentak, mukanya terasa panas dan warna
merah naik ke pipi dan lehernya karena pandang mata pemuda itu terasa benar
pada bibirnya, seperti mengandung getaran yang menggelikan.
Pemuda itu terkejut, lalu
tersenyum.
"Duhai Bathara yang
maha sakti! Mengapa hamba menjadi begini?" Ucapan ini halus dan seperti
berbisik, kemudian ia menatap wajah dara itu dan berkata,
"Wahai, sang dyah ayu,
harap andika sudi memaafkan aku. Sesungguhnya bukan sekali-kali aku ingin
berkurang ajar dan tidak tahu akan susila menerjang wilayah kediaman orang
lain. Akan tetapi secara tidak sengaja aku memasuki daerah ini dalam
pengembaraanku, tiada maksud buruk, tiada pamrih mengacau. Tadi karena heran
dan kagum melihat andika dan teman-teman andika bergembira di sungai, aku yang
bermaksud mandi tidak berani memperlihatkan diri. Kemudian tiada hujan tiada
angin orang-orang ini menyerangku. Mereka itu agaknya perampok-perampok liar.
Kalau boleh saya bertanya, mengapa seorang seperti andika ini berada di antara
para perampok?"
Diam-diam Setyaningsih dapat
menerima alasan pemuda ini, akan tetapi karena nada bicara itu menegur dan
menyalahkan, ia menjadi makin marah dan membentak,
"Hati-hatilah kalau
bicara! Para paman ini adalah satria-satria Padepokan Wilis, bagaimana kau
berani menyebut mereka perampok? Ketahuilah, daerah ini berada dalam kekuasaan
kami, orang-orang Padepokan Wilis. Siapapun juga tidak boleh lewat tanpa
perkenan kami! Agaknya andika mengandalkan kepandaian untuk melanggarnya! Hemm,
apakah kau kira aku takut menghadapimu?" Pemuda itu makin kagum. Dara ini
benar-benar gagah perkasa dan pemberani. Ingin benar ia mencoba kepandaiannya.
Dan hatinya merasa geli mendengar bahwa lima orang tinggi besar yang kasar itu
adalah "satria-satria Wilis"!
"Mereka ini
satria-satria? Ha-ha-hal Sungguh hebat! Dan engkau agaknya pemimpin
mereka?" Ia bertanya dengan suara tidak percaya.
"Ayundakulah yang
menjadi pemimpin. Tak perlu banyak cerewet lagi, kau sudah berani merobohkan
lima orang pamanku, sekarang rasakanlah hajaranku!" Setelah berkata
demikian, Setyaningsih menerjang maju, mengirim pukulan dengan jari tangan
terbuka, menggunakan Aji Pethit Nogo.
"Wuuuttt ....wuuuuttt.”
Dua kali Setyaningsih menampar.
"Plakk ....plakk
...!!" Dua kali pemuda itu mengangkat kedua lengannya menangkis.
"Wahhhh ....!!"
Pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang seperti ditiup angin badai. Ia tidak
roboh karena cepat meloncat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan ia berdiri
dengan mata terbelalak penuh kekaguman.
"Bukan main.....!
Adakah andika ini benar-benar seorang dara yang tinggal di hutan? Aku tidak
percaya! Tentu andika ini seorang bidadari, atau dewi kahyangan, ataukah
Srikandi yang menitis dalam diri andika? Mana ada wanita cantik jelita memiliki
tangan yang ampuhnya menggila? Aduhai, bocah ayu, aku ...aku mengaku kalah
....andika hebat sekali, kasihanilah diriku ...” Pemuda itu benar-benar
terpesona dan hatinya makin jatuh, tidak ingin ia bertanding dan menjadi musuh
dara yang hebat ini. Akan tetapi Setyaningsih menjadi makin marah dan penasaran
karena pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuh itu dapat ditangkis dan pemuda itu
tidak roboh karenanya. Iapun maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan,
maka iapun tidak mau berlaku ceroboh.
"Heh keparat yang
bermulut manis! Mengakulah siapa nama andika dan apa kehendakmu datang mengacau
di sini sebelum mati tanpa nama!"
"Wahai dewi jelita,
sungguh mati, demi para dewata, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya kebetulan
saja lewat dan karena pihak andika yang lebih dulu menyerangku, sudah
sepatutnya kalau andika lebih dulu memperkenalkan diri."
"Hemm, benar manusia
sombong. Baiklah, agar engkau tidak mati penasaran namaku Setyaningsih. Engkau
siapa?" Pemuda itu tertegun.
No comments:
Post a Comment