Perawan Lembah Wilis; Bagian 085


Setelah pemuda itu mulai sadar daripada keadaan pesona yang membuatnya seperti lupa akan dirinya, mulailah ia menarik napas panjang berkali-kali. Sungguhpun hanya elahan napas, namun hal ini cukuplah bagi Setyaningsih yang berpendengaran tajam dan terlatih. Dara perkasa ini mengangkat tangan memberi isyarat kepada teman-temannya sambil meruncingkan bibirnya yang merah mungil,
"Ssttt ...." kemudian ia menoleh ke arah semak-semak. Pandang matanya yang tajam segera dapat melihat gerakan di belakang semak-semak, bukan gerakan yang diakibatkan oleh burung atau binatang hutan. Mulutnya segera membentak, halus namun nyaring dan penuh wibawa,
"Siapakah engkau yang berani menonton kami mandi sambil bersembunyi? Hayo keluarlah!!"
Bagi para gadis itu, tidak mengapa andaikata ada pemuda-pemuda atau orang-orang Padepokan Wilis kebetulan lewat di dekat situ dan melihat mereka mandi. Ditonton orang lain selagi mandi di sungai bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, apalagi kalau yang melihat itu orang-orang Padepokan Wilis sendiri yang tentu saja menganggap pemandangan ini biasa. Akan tetapi ditonton orang, biarpun dia seorang anggota padepokan sendiri, yang bersembunyi, hal ini merupakan pantangan, karena bersembunyi berarti tidak wajar dan mengandung niat buruk! Semak-semak itu bergoyang dan muncullah seorang pemuda dari balik semak semak, berdiri dengan wajahnya yang tampan masih terpesona, bahkan kemudian pemuda itu menggunakan punggung tangan kanan untuk menggosok-gosok kedua matanya karena melihat Setyaningsih berdiri di dalam air sebatas pinggang, dengan kain yang membungkus, dada yang padat itu basah kuyup sehingga seolah-olah menjadi kulit ke dua ia makin kagum dan tidak percaya bahwa di dunia ini ada seorang manusia sehebat dara yang menegurnya itu.

"Duhai....mimpikah aku ...” Pemuda itu berkata, suaranya halus dan kini matanya yang bersinar tajam itu memandang para gadis yang juga memandangnya.
"Segala puja-puji kepada para dewata yang agung. Kalau andika sekalian ini bidadari-bidadari kahyangan yang sedang mandi, mana gerangan pelangi yang menjadi anda (anak tangga) untuk andika sekalian turun ke bumi? Andaikata andika sekalian ini sebangsa peri, mengapa di balik kulit andika terbayang darah daging dan urat halus? Betapapun juga ... kalau benar andika bidadari, tunjukkan di mana andika menyimpan kemben antakusuma andika agar dapat hamba curi...!”
Terdengar kekeh tawa para gadis itu. Tadinya mereka ini tertegun dan marah melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak mereka kenal, akan tetapi ketika mendapat kenyataan betapa pemuda itu amat tampan dan ganteng melebihi semua pria yang pernah mereka jumpai, mereka terpesona.
Kini mendengar ucapan yang keluar dari mulut pemuda ganteng itu, mereka merasa lucu sekali, bahkan merasa mendapat pujian yang amat berbeda dengan pujIan yang biasa mereka dengar.
“....tampan sekali dia ....“
“....sikapnya tidak kurang ajar...”
“....pakaiannya indah seperti putera bangsawan.....“
“....tapi pecengas-pecengis seperti monyet .... “
“....jangan-jangan miring dia, sayang kalau begitu.... “
“....hi-hi-hik ....“
“....heh-he-heh ...“
Demiklanlah, para gadis itu berbisik-bisik, tersenyum-senyum dan terkekeh geli. Hanya Setyaningsih yang tidak tertawa tidak mengeluarkan suara, matanya memandang tajam penuh selidik, mulutnya yang berbentuk indah itu membayangkan kemarahan. Setyaningsih adalah seorang dara yang pendiam, selalu serius dan berpemandangan luas. Wataknya adil dan keras hati biarpun sikapnya selalu ramah den halus. Ia tidak mengenal takut dan oleh ayundanya selalu ditanamkan watak berani karena benar. Wajahnya membayangkan keagungan, bahkan kadang-kadang membayangkan wajah seorang puteri yang berwibawa dan tinggi hati sungguhpun ia sama sekali tidak memiliki watak sombong. Kini, melihat pemuda itu, ia menjadi marah dan ia sendiri tidak mengerti mengapa kemarahannya itu berdasarkan kecewa. Ia kecewa melihat betapa seorang pemuda seperti itu, dengan wajah dan bentuk tubuh yang hebat dan menarik, ternyata hanya seorang yang memiliki watak rendah, suka mengintai wanita-wanita sambil bersembunyi! Baru sekali ini ia marah dengan dasar kecewa.

Akan tetapi sebelum Setyaningsih dapat mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras,
"Tangkap penjahat ....!”
"Tangkap si keparat yang masuk tanpa ijin!"
Lima orang anak buah Padepokan Wilis yang tinggi besar dan kuat telah mengurung lalu menubruk maju hendak menangkap pemuda itu.
"Wuuuutt ....dess ..aiihhh...!!"
Semua orang terkejut. Sungguh tak disangka oleh lima orang satria Wilis itu maupun oleh para gadis yang sedang mandi. Lima orang tinggi besar itu menubruk dan hendak menangkap, akan tetapi mereka itu kelima-limanya terbanting ke belakang pada saat pemuda itu dengan wajah berseri menggerakkan kaki tangannya! Marahlah lima orang tinggi besar itu dan mereka meloncat berdiri dengan muka merah, lalu maju mengurung pemuda yang masih berdiri sambil tersenyum. Para gadis yang sedang mandi kini sudah keluar dari dalam air dan berserabutan pergi karena mereka itu dalam keadaan setengah telanjang atau dengan kain basah yang mencetak tubuh. Mereka adalah gadis-gadis perkasa, tentu saja tidak takut akan musuh, akan tetapl karena keadaan pakaian mereka dan karena lima orang yang menghadapi pemuda itu adalah tokoh-tokoh tua yang berilmu tinggi, maka mereka tidak ada yang berani untuk mencampuri pertempuran. Sebagian ada yang pergi untuk melapor, ada pula yang pergi untuk berganti pakaian. Setyaningsih sendiri lalu pergi menyelinap ke dalam gerombolan pohon dan cepat ia sudah bertukar tapih pinjung yang basah kuyup itu dengan pakaian kering. Setelah selesai berpakaian dan menyanggul rambutnya yang panjang, Setyaningsih lalu meloncat keluar dan lari mendekati tempat pertempuran. Kiranya pemuda itu benar-benar hebat gerakan-gerakannya. Lima orang satria Wilis yang mengeroyoknya dengan serbuan dahsyat, dengan pukulan dan cengkeraman, selalu dapat dlelakkan dengan sigapnya. Agaknya pemuda tampan yang halus gerak-geriknya itu memiliki aji keringanan tubuh yang sudah mahir sekali sehingga ia dapat berkelebat lincah dan gesit bagaikan seekor burung yang sukar ditangkap. Sementara itu, mulut pemuda itu tiada hentinya mencela.
"Kalian ini orang-orang apakah? Tiada hujan tiada angin mengganggu orang yang tidak berdosa. Salahkah aku menonton bidadari-bidadari yang sedang mandi? Aku tidak sengaja, hanya kebetulan lewat ....aih, galak amat..!" Kembali pemuda itu menghindarkan diri dari terjangan tiga orang sekaligus, meloncat tinggi dan berjungkir balik ke belakang dengan gerakan indah sampai tiga kali sehingga ketika ia turun, ia berada di jarak empat tombak lebih dari para pengeroyoknya.

Melihat betapa lima orang tinggi besar itu kini mencabut golok masing-masing, pemuda itu merubah sikapnya yang tertawa-tawa dan kini dengan wajah sungguh-sungguh dan berwibawa ia berkata,
"Kalian masih nekat dan bahkan tega untuk berniat membunuh seorang yang tidak bersalah?"
Seorang di antara pengeroyok itu membentak,
"Manusia sombong! Engkau masih berpura-pura tidak mengaku salah? Di manakah kau berada sekarang? Di lembah Gunung Wilis dan kau datang ke tempat ini tanpa setahu dan seijin kami! Tidak ada seorangpun manusia boleh melanggar perbatasan Wilis tanpa ijin, keparat!"
"Hemmm, apakah Gunung Wilis ini kalian yang membuat dahulu? Apakah anak sungai itu kalian yang menggalinya? Batu-batu inipun kalian yang membuatnya dan pohon-pohon dalam hutan serta rumput-rumput ini kalian yang menanam?"
"Cerewet! Orang sombong seperti engkau harus mampus!" teriak lima orang itu dan mereka menyerbu dahsyat dengan golok di tangan.
"Kalian orang-orang kasar perlu dihajar!" Pemuda itu membentak dan tubuhnya berkelebat ke depan menyambut terjangan lima orang lawannya. Gesit sekali, kaki tangannya menyambar jauh lebih cepat daripada lawan-lawannya. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan disusul bunyi golok-golok terlempar dan jatuh berkerontangan menimpa batu. Lima orang tinggi besar itu terhuyung mundur, meringis kesakitan sambil meraba-raba bagian tubuh yang kena gempur pemuda itu.
"Paman sekalian mundurlah!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Setyaningsih berkelebat maju, tahu-tahu gadis remaja ini telah berhadapan dengan pemuda yang perkasa itu.
Si pemuda terkesiap, melongo keheranan dan penuh kekaguman. Gerakan itu saja sudah menjadi bukti cukup baginya bahwa dara remaja yang telah merebut hatinya itu ternyata selain cantik jelita seperti bidadari kahyangan, juga memiliki kesaktian hebat.
"Heh keparat yang tak tahu susila! Siapakah andika, berani bermain gila di Wilis? Apakah menganggap andika seorang yang memiliki kegagahan di dunia ini?"
Melihat dara itu menudingkan telunjuk kiri ke arah mukanya, berdiri dengan sikap gagah, wajah yang marah itu kemerahan dan pandang matanya agung, mendengar suaranya yang merdu halus penuh kemarahan itu, si pemuda makin tertegun. Kalau tadi ia merasa penasaran dan marah terhadap lima orang tinggi besar yang kasar, kini kemarahannya sirna seperti uap tipis tertiup angin. Ia hanya berdiri bengong, memandang ke arah mulut yang baru saja menegurnya, seolah-olah pandang matanya lekat pada bibir itu, tak dapat dilepas kembali.
"Tulikah andika? Ataukah gagu?" Setyaningsih membentak, mukanya terasa panas dan warna merah naik ke pipi dan lehernya karena pandang mata pemuda itu terasa benar pada bibirnya, seperti mengandung getaran yang menggelikan.
Pemuda itu terkejut, lalu tersenyum.
"Duhai Bathara yang maha sakti! Mengapa hamba menjadi begini?" Ucapan ini halus dan seperti berbisik, kemudian ia menatap wajah dara itu dan berkata,
"Wahai, sang dyah ayu, harap andika sudi memaafkan aku. Sesungguhnya bukan sekali-kali aku ingin berkurang ajar dan tidak tahu akan susila menerjang wilayah kediaman orang lain. Akan tetapi secara tidak sengaja aku memasuki daerah ini dalam pengembaraanku, tiada maksud buruk, tiada pamrih mengacau. Tadi karena heran dan kagum melihat andika dan teman-teman andika bergembira di sungai, aku yang bermaksud mandi tidak berani memperlihatkan diri. Kemudian tiada hujan tiada angin orang-orang ini menyerangku. Mereka itu agaknya perampok-perampok liar. Kalau boleh saya bertanya, mengapa seorang seperti andika ini berada di antara para perampok?"

Diam-diam Setyaningsih dapat menerima alasan pemuda ini, akan tetapi karena nada bicara itu menegur dan menyalahkan, ia menjadi makin marah dan membentak,
"Hati-hatilah kalau bicara! Para paman ini adalah satria-satria Padepokan Wilis, bagaimana kau berani menyebut mereka perampok? Ketahuilah, daerah ini berada dalam kekuasaan kami, orang-orang Padepokan Wilis. Siapapun juga tidak boleh lewat tanpa perkenan kami! Agaknya andika mengandalkan kepandaian untuk melanggarnya! Hemm, apakah kau kira aku takut menghadapimu?" Pemuda itu makin kagum. Dara ini benar-benar gagah perkasa dan pemberani. Ingin benar ia mencoba kepandaiannya. Dan hatinya merasa geli mendengar bahwa lima orang tinggi besar yang kasar itu adalah "satria-satria Wilis"!
"Mereka ini satria-satria? Ha-ha-hal Sungguh hebat! Dan engkau agaknya pemimpin mereka?" Ia bertanya dengan suara tidak percaya.
"Ayundakulah yang menjadi pemimpin. Tak perlu banyak cerewet lagi, kau sudah berani merobohkan lima orang pamanku, sekarang rasakanlah hajaranku!" Setelah berkata demikian, Setyaningsih menerjang maju, mengirim pukulan dengan jari tangan terbuka, menggunakan Aji Pethit Nogo.
"Wuuuttt ....wuuuuttt.” Dua kali Setyaningsih menampar.
"Plakk ....plakk ...!!" Dua kali pemuda itu mengangkat kedua lengannya menangkis.
"Wahhhh ....!!" Pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang seperti ditiup angin badai. Ia tidak roboh karena cepat meloncat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan ia berdiri dengan mata terbelalak penuh kekaguman.
"Bukan main.....! Adakah andika ini benar-benar seorang dara yang tinggal di hutan? Aku tidak percaya! Tentu andika ini seorang bidadari, atau dewi kahyangan, ataukah Srikandi yang menitis dalam diri andika? Mana ada wanita cantik jelita memiliki tangan yang ampuhnya menggila? Aduhai, bocah ayu, aku ...aku mengaku kalah ....andika hebat sekali, kasihanilah diriku ...” Pemuda itu benar-benar terpesona dan hatinya makin jatuh, tidak ingin ia bertanding dan menjadi musuh dara yang hebat ini. Akan tetapi Setyaningsih menjadi makin marah dan penasaran karena pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuh itu dapat ditangkis dan pemuda itu tidak roboh karenanya. Iapun maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, maka iapun tidak mau berlaku ceroboh.
"Heh keparat yang bermulut manis! Mengakulah siapa nama andika dan apa kehendakmu datang mengacau di sini sebelum mati tanpa nama!"
"Wahai dewi jelita, sungguh mati, demi para dewata, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya kebetulan saja lewat dan karena pihak andika yang lebih dulu menyerangku, sudah sepatutnya kalau andika lebih dulu memperkenalkan diri."
"Hemm, benar manusia sombong. Baiklah, agar engkau tidak mati penasaran namaku Setyaningsih. Engkau siapa?" Pemuda itu tertegun.

<<< Bagian 084                                                                                   Bagian 086 >>>

No comments:

Post a Comment