Perawan Lembah Wilis; Bagian 084


Ia tahu bahwa ia tidak boleh terburu nafsu, harus hati-hati dan sedikit demi sedikit menyeret sang prabu agar tunduk dan menuruti segala kehendaknya. Biarpun Pangeran Kukutan belum diangkat menjadi putera mahkota, namun kekuasaan Pangeran Kukutan makin lama makin besar karena selalu mewakili sang prabu dalam urusan pemerintahan. Adapun di sebelah dalam istana untuk semua urusan dalam, seluruhnya telah berada dalam kekuasaan Suminten! Kepergian Pangeran Panji Sigit melegakan hati Suminten. Pertama, karena jelas bahwa pangeran itu tidak menceritakan kepada sang prabu tentang peristiwa penolakan cinta kasih di malam itu. Ke dua, karena kepergian ini memang diharapkan oleh Suminten yang ingin menghalau pangeran itu keluar dari istana. Suminten dan juga Pangeran Kukutan yang kehilangan seorang saingan, merasa lega dan gembira. Akan tetapi tidaklah demikian dengan mereka yang menjadi musuh-musuh Suminten. Ki Patih Brotomenggala yang sudah tua dan beberapa orang hulubalang yang setia kepada Kerajaan Jenggala, menjadi gelisah. Apalagi ketika secara diam-diam Ki Patih Brotomenggala dipanggil menghadap oleh sang permaisuri dan mendengarkan sendiri laporan emban tua yang menjadi inang pengasuh Pangeran Panji Sigit sejak kecil, mereka makin marah. Kiranya dalam duka dan bingungnya setelah berhasil lari dari cengkeraman Suminten, Pangeran Panji Sigit yang sudah tiada beribu lagi dan menganggap emban tua itu sebagai pengganti ibunya, telah menceritakan apa yang telah ia alami di kamar selir termuda ayahandanya itu dan adalah emban tua ini pula yang melihat bahaya mengancam dan menganjurkan agar sang pangeran yang dikasihinya seperti putera kandungnya sendiri untuk pergi merantau menjauhkan diri dari bahaya yang mengancam. Karena maklum bahwa sang permaisuri juga menderita karena Suminten, maka emban ini lalu menghadap dan melaporkan peristiwa itu kepada permaisuri.
"Hemmm, sungguh keji dan tak tahu malu perempuan itu!"
Ki Patih Brotomenggala menyumpah ketika mendengar pelaporan emban tua. Ia tak pernah berhenti menyesali diri sendiri tentang Suminten karena dialah sendiri yang dahulu menghadapkan Suminten kepada sang prabu. Semenjak dahulu itu, Suminten telah menimbulkan malapetaka. Bukankah pelaporannya tentang Endang Patibroto telah membuat sang prabu makin curiga terhadap mantunya itu? Bukankah Suminten telah berusaha untuk mencelakakan Pangeran Panji Rawit dan Endang Patibroto dengan laporannya itu? Siapa kira bahwa pelayan kecil itu kini dapat menguasai sang prabu sedemikian rupa!

"Kakang patih, aku hanya mengkhawatirkan keadaan sang prabu. Ada perasaan tidak baik di dalam hatiku seolah-olah ada sasmita gaib yang membisikkan bahwa kalau wanita itu tidak dienyahkan dari sini, Kerajaan Jenggala akan mengalami kehancuran. Ah, kakang, bagaimana baiknya?" Sang permaisuri menahan-nahan perasaan akan tetapi tak dapat ia menahan runtuhnya beberapa tetes air mata.
Ki Patih Brotomenggala menggigit bibirnya, menahan kemarahan hatinya.
"Gusti, hal ini memang tidaklah mudah untuk diatasinya. Kalau saja Jenggala diserbu musuh, dada Patih Bratomenggala inilah yang akan menjadi perisai, dan hamba rela untuk membela kerajaan sampai titik darah terakhir! Akan tetapi, persoalannya kini lain lagi. Gusti sinuwunlah yang tergoda dan apa yang dapat hamba lakukan? Apalagi ...apalagi menurut para penyelidik hamba, yang menguasal sang prabu bukan hanya wanita itu, melainkan dengan kerja sama antara wanita itu dan Pangeran Kukutan.”
"Aku tahu, kakang patih. Karena itu, carilah jalan. Pasanglah mata-mata di antara para embah. Kita mengetahui kelemahan wanita itu, bahkan dia main gila dengan Pangeran Kukutan, bahkan mungkin dengan pangeran-pangeran lain kalau diingat bahwa dia berani menggoda Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi kita harus dapat memiliki buktinya, harus dapat menangkap basah. Usahakanlah agar dapat menyadarkan sang prabu. Kurasa, jika sang prabu melihat sendiri bukti akan penyelewengan dan perjinahan selirnya yang terkutuk itu, tentu beliau akan sadar. Kalau sang prabu sudah sadar dan tahu betapa cabul, kotor dan jahat adanya iblis betina itu, tentu dia akan dibasmi dan Jenggala akan selamat.”
Ki Patih Brotomenggala mengangguk-angguk.
"Baiklah, gusti. Akan hamba usahakan dan mudah-mudahan Sang Hyang Wisesa membantu hamba menandingi perempuan yang palsu dan curang itu."

Ah, betapa kedua orang bangsawan ini memandang rendah kepada Suminten si bekas emban! Boleh jadi Ki Patih Brotomenggala memiliki kedigdayaan dahsyat dan pandai mengatur siasat perang dan tata negara. Boleh jadi sang permaisuri merupakan seorang wanita yang boleh dicontoh dalam hal keluwesan, kehalusan, kesenian, kesusilaan dan kebudayaan. Namun, dalam hal kecerdikan bersiasat, mereka itu jauh tertinggal oleh Suminten. Mereka tidak tahu bahwa demIkian hebat pengaruh dan kecerdikan Suminten sehingga pintu dan jendela saja bertelinga dan siap membantunya! Di antara semua emban yang melayani semua selir raja dan terutama sang permaisuri, pasti terdapat mata-mata yang menjadi kaki tangan Suminten. Mereka tidak tahu betapa percakapan mereka tadi tertangkap oleh sepasang telinga milik seorang emban muda yang bersembunyi di balik daun pintu dan betapa emban itu kemudian secara rahasia menghadap dan melapor kepada Suminten, menceritakan semua percakapan antara sang permaisuri dan Ki Patih Brotomenggala!
"Hi-hi-hik, he-he-heh, tibalah saatnya kalian harus lenyap, sang permaisuri dan patih dungu!" Suminten tertawa terkekeh-kekeh setelah memberi hadiah kepada emban itu dan menyuruhnya pergi. Kini rencana musuh-musuhnya itu telah berada di tangannya dan hal ini saja sudah merupakan sebuah kemenangan baginya. Ia harus cepat-cepat mengatur siasat dengan Pangeran Kukutan dan malam hari itu juga, seperti biasa dengan dalih "berhalangan" ia berhasil menjauhkan diri dari sang prabu yang menyangka dia tidur sendiri di kamarnya, padahal Suminten tidur dalam pelukan Pangeran Kukutan sambil berbisik-bisik mengatur siasat di seling permainan cinta mereka yang tak kunjung dingin.

Semenjak Endang Patibroto berdiam di puncak Gunung Wilis, memimpin kurang lebih seratus orang yang tadinya terkenal sebagai Gerombolan Wilis yang kemudian mendirikan Padepokan Wilis, maka daerah Gunung Wilis ini menjadi daerah yang "angker" dan terkenal sekali sampai jauh. Mulailah daerah ini dikenal oleh para orang gagah, disegani dan Padepokan Wilis dianggap sebagai sarang orang gagah, sebuah perguruan di mana terdapat murid-murid Wilis yang berilmu tinggi! Tentu saja berita yang disampaikan orang selalu berlebihan, akan tetapi yang jelas sekali, berita-berita itu amat terkenal dan membuat orang segan untuk melewati daerah Wilis. Tidak seorangpun perampok berani memperlihatkan hidungnya di daerah Wilis ini, bahkan di seluruh daerah pegunungan ini tidak pernah ada terjadi kejahatan, tidak ada maling, tidak ada perampok, dan juga tidak ada orang melakukan maksiat mengandalkan kekuatannya. Hal ini adalah karena setiap kali terjadi hal-hal maksiat, tentu penjahatnya tertangkap dan dibunuh oleh para "satria" Wilis, demikianlah sebutan untuk bekas anak buah gerombolan Wilis! Siapa pun juga orangnya yang melakukan perjalanan dan terpaksa melalui daerah Wilis, harus tunduk akan peraturan para penjaga dan harus rela membayar "tanda hormat" kepada para satria Wilis. Namun mereka rela membayar, karena selain pembayaran itu disesuaikan dengan keadaan mereka, juga mereka akan terjamin keselamatan mereka, takkan ada yang berani mengganggu selama mereka berada di wilayah Wilis. Endang Patibroto memimpin bekas gerombolan Wilis dengan tangan besi. Dia tahu bahwa orang-orang yang dipimpinnya adalah bekas perampok-perampok yang kasar dan setengah liar, maka ia harus menundukkan mereka dengan kekerasan pula. Kemudian setelah mereka itu benar-benar tunduk terhadap kesaktiannya dan menjadi pengikut-pengikut setia yang membuta akan semua perintahnya, barulah Endang Patibroto melatih mereka, yaitu melalui tiga orang pembantu-pembantunya Limanwilis, Lembuwilis, dan NogowiIlis. Dia menurunkan beberapa ilmu kesaktian kepada tiga orang gagah ini yang kemudian melatih anak buah mereka sehingga makin kuatlah barisan satria Wilis. Selain itu, keadaan keluarga mereka lebih teratur setelah Endang Patibroto memimpin mereka. Pondok-pondok dibuat, tanaman dan pertanian diperbanyak dan dibagi-bagilah tugas di antara mereka. Ada yang bertani, berburu hewan, menjala ikan, ada pula yang bertugas sebagai tukang kayu, sebagai pandai besi, dan lain pekerjaan yang dapat memenuhi mereka. Endang Patibroto bahkan tidak melupakan hiburan bagi mereka, maka diadakan pulalah bagian kesenian, gamelan dan lain sebagainya.

Di samping semua kesibukannya sebagai pemimpin Padepokan Wilis, Endang Patibroto selalu meluangkan waktu untuk memberi gemblengan kepada adiknya yaitu Setyaningsih yang berlatih dengan tekun, giat, dan sungguh-sungguh. Juga semenjak lahir, Retno Wilis menerima gemblengan ibunya, di "dadah" oleh jari-jari tangan sakti ibu kandungnya! Karena gemblengan-gemblengan hebat ini yang diberikan secara rapi selama lima tahun, kini Setyaningsih yeng sudah berusia enam belas tahun atau tujuh belas tahun telah menjadi seorang dara remaja yang cantik jelita namun juga gagah perkasa, sakti mandraguna. Juga Retno Wilis, dalam usia lima tahun ini merupakan seorang anak luar biasa yang jarang dapat ditemukan keduanya.Di antara keluarga para anggota Padepokan Wilis, terdapat banyak pula gadis-gadis yang sebaya dengan Setyaningsih dan dara perkasa ini tidak bersikap pelit, melainkan dengan senang hati pula melatih ilmu pencak silat kepada teman-temannya sehingga sebagian besar para gadis di situ adalah gadis-gadis perkasa belaka, cantik-cantik dan gagah perkasa, demikian pula pemuda-pemudanya. Namun terutama sekali gadis-gadisnya karena tentu saja Setyaningsih lebih suka melatih ilmu kepada teman-temannya. Maka terkenallah Padepokan Wilis sebagai tempat perawan-perawan jelita yang perkasa, dan orang-orang gagah di seluruh daerah itu mulai membicarakan tentang Perawan Lembah Wilis dengan kagum di hati.

Pada pagi hari itu cuaca amatlah cerah. Pemandangan di lembah Gunung Wilis amat mentakjubkan, indah cemerlang disinari matahari pagi. Dilihat dari atas, tamasya alam di bawah seperti diselaput emas. Sinar matahari keemasan menyinari daun-daun pohon yang ujungnya digantungi butir-butiran embun berkilauan seperti butiran-butiran intan. Burung-burung berlompatan di antara pohon-pohon, beterbangan bersenda-gurau dan bercumbuan sambil berkicau riang gembira. Binatang-binatang hutan menyambut matahari pagi dengan penuh keriangan pula, ada yang berjemur sinar matahari, ada yang makan rumput-rumput hijau segar, ada pula yang berkeliaran di sepanjang sungai gunung yang mengalirkan air jernih sambil berkericik seperti suara gelak tawa dara-dara remaja bersenda-gurauan. Kalau didengar dengan teliti, bukan hanya kericik air sungai yang menimbulkan suara itu, melainkan suara gelak tawa yang merdu dari beberapa orang dara remaja yang sedang mandi di sungai. Ada sebelas orang dara-dara jelita berada di sungai itu, berendam di air jernih dengan bertapih pinjung (sehelai kain menutup sebatas dada), mencuci pakaian, mandi keramas, sambil bersendau gurau tertawa-tawa. Mereka ini bukan lain adalah Setyaningsih dan sepuluh orang temannya, yaitu dara keluarga Padepokan Wilis. Setiap pagi mereka mandi di sungai jernih ini sambil mencuci pakaian. Kecantikan Setyaningsih amatlah menonjol di antara mereka itu. Setyaningsih berkulit halus dan putih kekuningan, rambutnya tebal hitam berikal mayang, dilepas dan terurai sampai ke lutut. Biarpun sepuluh orang teman-temannya juga merupakan gadis remaja yang seperti kembang sedang mekar, cantik-cantik menarik, namun dibandingkan dengan mereka Setyaningsih tampak seperti seekor merak di antara ayam-ayam hutan. Juga dara ini amat pendiam, hanya tersenyum-senyum kecil mendengar sendau-gurau teman-temannya. Biarpun dia itu adik kandung Endang Patibroto yang menjadi "ketua" atau pemimpin Padepokan Wilis, bahkan boleh dikatakan ia menjadi "guru" para gadis temannya itu, namun Setyaningsih tidaklah bersikap sombong atau tinggi hati. Dia mandi bersama, bahkan mencuci pakaiannya sendiri sehingga selain disegani dan dihormati, juga ia amat dicinta oleh gadis-gadis lainnya di situ. Dara-dara jelita itu bekerja sambil mandi dan bergembira. Ada yang bertembang saling sahut, saling goda saling menjodohkan dengan pemuda-pemuda sebaya di padepokan, ada yang saling siram air jernih, tertawa-tawa. Dalam kegembiraan mereka, bahkan Setyaningsih sendiri sampai lengah, tidak tahu bahwa ada seorang laki-laki mengintai dari balik semak-semak, memandang ke arah mereka dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, terpesona dan seolah-olah tidak percaya akan pandang mata sendiri.

Laki-laki ini masih muda belia, paling banyak sembilan belas tahun usianya, tubuhnya sedang, berkulit bersih dan tampak ciri-ciri kebangsawanan pada pakaian dan gerak-geriknya, wajahnya tampan sekali seperti Sang Harjuna. Pandang mata laki-laki muda ini tadi menyapu semua gadis yang berada di sungai, kemudian berhenti pada diri Setyaningsih, melekat di situ dan makin dipandang, makin tertegunlah dia, seperti lupa diri, lupa bergerak, bahkan lupa bahwa perbuatannya ini merupakan sebuah pelanggaran susila. Tentu saja ia lupa segala, bahkan bernapaspun hampir lupa, demikian terpesona pemuda ini melihat Setyaningsih. Banyak sudah ia melihat wanita, bahkan bertemu dengan puteri-puteri istana yang cantik-cantik jelita, namun selama hidupnya, ia merasa belum pernah melihat seorang dara seperti Setyaningsih yang sekaligus telah menerobos masuk melalui matanya, langsung ke dalam dada dan merampas hati dan semangatnya.

<<< Bagian 083                                                                                   Bagian 085 >>>

No comments:

Post a Comment