Ia tahu bahwa ia tidak boleh terburu nafsu, harus hati-hati dan sedikit demi sedikit menyeret sang prabu agar tunduk dan menuruti segala kehendaknya. Biarpun Pangeran Kukutan belum diangkat menjadi putera mahkota, namun kekuasaan Pangeran Kukutan makin lama makin besar karena selalu mewakili sang prabu dalam urusan pemerintahan. Adapun di sebelah dalam istana untuk semua urusan dalam, seluruhnya telah berada dalam kekuasaan Suminten! Kepergian Pangeran Panji Sigit melegakan hati Suminten. Pertama, karena jelas bahwa pangeran itu tidak menceritakan kepada sang prabu tentang peristiwa penolakan cinta kasih di malam itu. Ke dua, karena kepergian ini memang diharapkan oleh Suminten yang ingin menghalau pangeran itu keluar dari istana. Suminten dan juga Pangeran Kukutan yang kehilangan seorang saingan, merasa lega dan gembira. Akan tetapi tidaklah demikian dengan mereka yang menjadi musuh-musuh Suminten. Ki Patih Brotomenggala yang sudah tua dan beberapa orang hulubalang yang setia kepada Kerajaan Jenggala, menjadi gelisah. Apalagi ketika secara diam-diam Ki Patih Brotomenggala dipanggil menghadap oleh sang permaisuri dan mendengarkan sendiri laporan emban tua yang menjadi inang pengasuh Pangeran Panji Sigit sejak kecil, mereka makin marah. Kiranya dalam duka dan bingungnya setelah berhasil lari dari cengkeraman Suminten, Pangeran Panji Sigit yang sudah tiada beribu lagi dan menganggap emban tua itu sebagai pengganti ibunya, telah menceritakan apa yang telah ia alami di kamar selir termuda ayahandanya itu dan adalah emban tua ini pula yang melihat bahaya mengancam dan menganjurkan agar sang pangeran yang dikasihinya seperti putera kandungnya sendiri untuk pergi merantau menjauhkan diri dari bahaya yang mengancam. Karena maklum bahwa sang permaisuri juga menderita karena Suminten, maka emban ini lalu menghadap dan melaporkan peristiwa itu kepada permaisuri.
"Hemmm, sungguh keji
dan tak tahu malu perempuan itu!"
Ki Patih Brotomenggala
menyumpah ketika mendengar pelaporan emban tua. Ia tak pernah berhenti
menyesali diri sendiri tentang Suminten karena dialah sendiri yang dahulu
menghadapkan Suminten kepada sang prabu. Semenjak dahulu itu, Suminten telah
menimbulkan malapetaka. Bukankah pelaporannya tentang Endang Patibroto telah
membuat sang prabu makin curiga terhadap mantunya itu? Bukankah Suminten telah
berusaha untuk mencelakakan Pangeran Panji Rawit dan Endang Patibroto dengan
laporannya itu? Siapa kira bahwa pelayan kecil itu kini dapat menguasai sang
prabu sedemikian rupa!
"Kakang patih, aku
hanya mengkhawatirkan keadaan sang prabu. Ada perasaan tidak baik di dalam
hatiku seolah-olah ada sasmita gaib yang membisikkan bahwa kalau wanita itu
tidak dienyahkan dari sini, Kerajaan Jenggala akan mengalami kehancuran. Ah,
kakang, bagaimana baiknya?" Sang permaisuri menahan-nahan perasaan akan
tetapi tak dapat ia menahan runtuhnya beberapa tetes air mata.
Ki Patih Brotomenggala
menggigit bibirnya, menahan kemarahan hatinya.
"Gusti, hal ini memang
tidaklah mudah untuk diatasinya. Kalau saja Jenggala diserbu musuh, dada Patih
Bratomenggala inilah yang akan menjadi perisai, dan hamba rela untuk membela
kerajaan sampai titik darah terakhir! Akan tetapi, persoalannya kini lain lagi.
Gusti sinuwunlah yang tergoda dan apa yang dapat hamba lakukan? Apalagi
...apalagi menurut para penyelidik hamba, yang menguasal sang prabu bukan hanya
wanita itu, melainkan dengan kerja sama antara wanita itu dan Pangeran
Kukutan.”
"Aku tahu, kakang
patih. Karena itu, carilah jalan. Pasanglah mata-mata di antara para embah.
Kita mengetahui kelemahan wanita itu, bahkan dia main gila dengan Pangeran
Kukutan, bahkan mungkin dengan pangeran-pangeran lain kalau diingat bahwa dia
berani menggoda Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi kita harus dapat memiliki
buktinya, harus dapat menangkap basah. Usahakanlah agar dapat menyadarkan sang
prabu. Kurasa, jika sang prabu melihat sendiri bukti akan penyelewengan dan
perjinahan selirnya yang terkutuk itu, tentu beliau akan sadar. Kalau sang
prabu sudah sadar dan tahu betapa cabul, kotor dan jahat adanya iblis betina
itu, tentu dia akan dibasmi dan Jenggala akan selamat.”
Ki Patih Brotomenggala
mengangguk-angguk.
"Baiklah, gusti. Akan
hamba usahakan dan mudah-mudahan Sang Hyang Wisesa membantu hamba menandingi
perempuan yang palsu dan curang itu."
Ah, betapa kedua orang
bangsawan ini memandang rendah kepada Suminten si bekas emban! Boleh jadi Ki
Patih Brotomenggala memiliki kedigdayaan dahsyat dan pandai mengatur siasat
perang dan tata negara. Boleh jadi sang permaisuri merupakan seorang wanita
yang boleh dicontoh dalam hal keluwesan, kehalusan, kesenian, kesusilaan dan
kebudayaan. Namun, dalam hal kecerdikan bersiasat, mereka itu jauh tertinggal
oleh Suminten. Mereka tidak tahu bahwa demIkian hebat pengaruh dan kecerdikan
Suminten sehingga pintu dan jendela saja bertelinga dan siap membantunya! Di
antara semua emban yang melayani semua selir raja dan terutama sang permaisuri,
pasti terdapat mata-mata yang menjadi kaki tangan Suminten. Mereka tidak tahu
betapa percakapan mereka tadi tertangkap oleh sepasang telinga milik seorang
emban muda yang bersembunyi di balik daun pintu dan betapa emban itu kemudian
secara rahasia menghadap dan melapor kepada Suminten, menceritakan semua
percakapan antara sang permaisuri dan Ki Patih Brotomenggala!
"Hi-hi-hik, he-he-heh,
tibalah saatnya kalian harus lenyap, sang permaisuri dan patih dungu!"
Suminten tertawa terkekeh-kekeh setelah memberi hadiah kepada emban itu dan
menyuruhnya pergi. Kini rencana musuh-musuhnya itu telah berada di tangannya
dan hal ini saja sudah merupakan sebuah kemenangan baginya. Ia harus
cepat-cepat mengatur siasat dengan Pangeran Kukutan dan malam hari itu juga,
seperti biasa dengan dalih "berhalangan" ia berhasil menjauhkan diri
dari sang prabu yang menyangka dia tidur sendiri di kamarnya, padahal Suminten
tidur dalam pelukan Pangeran Kukutan sambil berbisik-bisik mengatur siasat di
seling permainan cinta mereka yang tak kunjung dingin.
Semenjak Endang Patibroto
berdiam di puncak Gunung Wilis, memimpin kurang lebih seratus orang yang
tadinya terkenal sebagai Gerombolan Wilis yang kemudian mendirikan Padepokan
Wilis, maka daerah Gunung Wilis ini menjadi daerah yang "angker" dan
terkenal sekali sampai jauh. Mulailah daerah ini dikenal oleh para orang gagah,
disegani dan Padepokan Wilis dianggap sebagai sarang orang gagah, sebuah
perguruan di mana terdapat murid-murid Wilis yang berilmu tinggi! Tentu saja
berita yang disampaikan orang selalu berlebihan, akan tetapi yang jelas sekali,
berita-berita itu amat terkenal dan membuat orang segan untuk melewati daerah
Wilis. Tidak seorangpun perampok berani memperlihatkan hidungnya di daerah
Wilis ini, bahkan di seluruh daerah pegunungan ini tidak pernah ada terjadi
kejahatan, tidak ada maling, tidak ada perampok, dan juga tidak ada orang melakukan
maksiat mengandalkan kekuatannya. Hal ini adalah karena setiap kali terjadi
hal-hal maksiat, tentu penjahatnya tertangkap dan dibunuh oleh para
"satria" Wilis, demikianlah sebutan untuk bekas anak buah gerombolan
Wilis! Siapa pun juga orangnya yang melakukan perjalanan dan terpaksa melalui
daerah Wilis, harus tunduk akan peraturan para penjaga dan harus rela membayar
"tanda hormat" kepada para satria Wilis. Namun mereka rela membayar,
karena selain pembayaran itu disesuaikan dengan keadaan mereka, juga mereka
akan terjamin keselamatan mereka, takkan ada yang berani mengganggu selama
mereka berada di wilayah Wilis. Endang Patibroto memimpin bekas gerombolan
Wilis dengan tangan besi. Dia tahu bahwa orang-orang yang dipimpinnya adalah
bekas perampok-perampok yang kasar dan setengah liar, maka ia harus menundukkan
mereka dengan kekerasan pula. Kemudian setelah mereka itu benar-benar tunduk
terhadap kesaktiannya dan menjadi pengikut-pengikut setia yang membuta akan
semua perintahnya, barulah Endang Patibroto melatih mereka, yaitu melalui tiga
orang pembantu-pembantunya Limanwilis, Lembuwilis, dan NogowiIlis. Dia
menurunkan beberapa ilmu kesaktian kepada tiga orang gagah ini yang kemudian
melatih anak buah mereka sehingga makin kuatlah barisan satria Wilis. Selain
itu, keadaan keluarga mereka lebih teratur setelah Endang Patibroto memimpin
mereka. Pondok-pondok dibuat, tanaman dan pertanian diperbanyak dan
dibagi-bagilah tugas di antara mereka. Ada yang bertani, berburu hewan, menjala
ikan, ada pula yang bertugas sebagai tukang kayu, sebagai pandai besi, dan lain
pekerjaan yang dapat memenuhi mereka. Endang Patibroto bahkan tidak melupakan
hiburan bagi mereka, maka diadakan pulalah bagian kesenian, gamelan dan lain
sebagainya.
Di samping semua
kesibukannya sebagai pemimpin Padepokan Wilis, Endang Patibroto selalu
meluangkan waktu untuk memberi gemblengan kepada adiknya yaitu Setyaningsih
yang berlatih dengan tekun, giat, dan sungguh-sungguh. Juga semenjak lahir,
Retno Wilis menerima gemblengan ibunya, di "dadah" oleh jari-jari
tangan sakti ibu kandungnya! Karena gemblengan-gemblengan hebat ini yang
diberikan secara rapi selama lima tahun, kini Setyaningsih yeng sudah berusia
enam belas tahun atau tujuh belas tahun telah menjadi seorang dara remaja yang
cantik jelita namun juga gagah perkasa, sakti mandraguna. Juga Retno Wilis,
dalam usia lima tahun ini merupakan seorang anak luar biasa yang jarang dapat
ditemukan keduanya.Di antara keluarga para anggota Padepokan Wilis, terdapat
banyak pula gadis-gadis yang sebaya dengan Setyaningsih dan dara perkasa ini
tidak bersikap pelit, melainkan dengan senang hati pula melatih ilmu pencak
silat kepada teman-temannya sehingga sebagian besar para gadis di situ adalah
gadis-gadis perkasa belaka, cantik-cantik dan gagah perkasa, demikian pula
pemuda-pemudanya. Namun terutama sekali gadis-gadisnya karena tentu saja
Setyaningsih lebih suka melatih ilmu kepada teman-temannya. Maka terkenallah
Padepokan Wilis sebagai tempat perawan-perawan jelita yang perkasa, dan
orang-orang gagah di seluruh daerah itu mulai membicarakan tentang Perawan
Lembah Wilis dengan kagum di hati.
Pada pagi hari itu cuaca
amatlah cerah. Pemandangan di lembah Gunung Wilis amat mentakjubkan, indah
cemerlang disinari matahari pagi. Dilihat dari atas, tamasya alam di bawah
seperti diselaput emas. Sinar matahari keemasan menyinari daun-daun pohon yang
ujungnya digantungi butir-butiran embun berkilauan seperti butiran-butiran
intan. Burung-burung berlompatan di antara pohon-pohon, beterbangan
bersenda-gurau dan bercumbuan sambil berkicau riang gembira. Binatang-binatang
hutan menyambut matahari pagi dengan penuh keriangan pula, ada yang berjemur
sinar matahari, ada yang makan rumput-rumput hijau segar, ada pula yang
berkeliaran di sepanjang sungai gunung yang mengalirkan air jernih sambil
berkericik seperti suara gelak tawa dara-dara remaja bersenda-gurauan. Kalau
didengar dengan teliti, bukan hanya kericik air sungai yang menimbulkan suara
itu, melainkan suara gelak tawa yang merdu dari beberapa orang dara remaja yang
sedang mandi di sungai. Ada sebelas orang dara-dara jelita berada di sungai
itu, berendam di air jernih dengan bertapih pinjung (sehelai kain menutup
sebatas dada), mencuci pakaian, mandi keramas, sambil bersendau gurau
tertawa-tawa. Mereka ini bukan lain adalah Setyaningsih dan sepuluh orang
temannya, yaitu dara keluarga Padepokan Wilis. Setiap pagi mereka mandi di
sungai jernih ini sambil mencuci pakaian. Kecantikan Setyaningsih amatlah
menonjol di antara mereka itu. Setyaningsih berkulit halus dan putih
kekuningan, rambutnya tebal hitam berikal mayang, dilepas dan terurai sampai ke
lutut. Biarpun sepuluh orang teman-temannya juga merupakan gadis remaja yang
seperti kembang sedang mekar, cantik-cantik menarik, namun dibandingkan dengan
mereka Setyaningsih tampak seperti seekor merak di antara ayam-ayam hutan. Juga
dara ini amat pendiam, hanya tersenyum-senyum kecil mendengar sendau-gurau
teman-temannya. Biarpun dia itu adik kandung Endang Patibroto yang menjadi
"ketua" atau pemimpin Padepokan Wilis, bahkan boleh dikatakan ia
menjadi "guru" para gadis temannya itu, namun Setyaningsih tidaklah
bersikap sombong atau tinggi hati. Dia mandi bersama, bahkan mencuci pakaiannya
sendiri sehingga selain disegani dan dihormati, juga ia amat dicinta oleh gadis-gadis
lainnya di situ. Dara-dara jelita itu bekerja sambil mandi dan bergembira. Ada
yang bertembang saling sahut, saling goda saling menjodohkan dengan
pemuda-pemuda sebaya di padepokan, ada yang saling siram air jernih,
tertawa-tawa. Dalam kegembiraan mereka, bahkan Setyaningsih sendiri sampai
lengah, tidak tahu bahwa ada seorang laki-laki mengintai dari balik
semak-semak, memandang ke arah mereka dengan mata terbelalak dan mulut
ternganga, terpesona dan seolah-olah tidak percaya akan pandang mata sendiri.
Laki-laki ini masih muda
belia, paling banyak sembilan belas tahun usianya, tubuhnya sedang, berkulit
bersih dan tampak ciri-ciri kebangsawanan pada pakaian dan gerak-geriknya,
wajahnya tampan sekali seperti Sang Harjuna. Pandang mata laki-laki muda ini
tadi menyapu semua gadis yang berada di sungai, kemudian berhenti pada diri
Setyaningsih, melekat di situ dan makin dipandang, makin tertegunlah dia,
seperti lupa diri, lupa bergerak, bahkan lupa bahwa perbuatannya ini merupakan
sebuah pelanggaran susila. Tentu saja ia lupa segala, bahkan bernapaspun hampir
lupa, demikian terpesona pemuda ini melihat Setyaningsih. Banyak sudah ia
melihat wanita, bahkan bertemu dengan puteri-puteri istana yang cantik-cantik
jelita, namun selama hidupnya, ia merasa belum pernah melihat seorang dara
seperti Setyaningsih yang sekaligus telah menerobos masuk melalui matanya,
langsung ke dalam dada dan merampas hati dan semangatnya.
No comments:
Post a Comment