Ia hanya tahu dan mendengar betapa ayahandanya tergila-gila kepada selir termuda yang baru, dan hal ini hanya membuat dia tersenyum saja. Dia sudah membaca dari kitab-kitab lama betapa seorang pria tidak akan dapat melepaskan diri daripada nafsu kejantanan yang akan mengejar dan menguasainya sampai nyawa meninggalkan badan, dan hanya dengan kekuatan batin dan kemauan sajalah seorang pria dapat menguasai nafsunya sendiri. Ramandanya lemah, akan tetapi apa salahnya kalau seorang raja menikmati kesenangan duniawi yang sudah menjadi haknya? Pangeran Panji Sigit biarpun telah berusia delapan belas tahun, tidak suka mengganggu wanita, tidak suka menurutkan nafsu bermain cinta seperti yang dilakukan saudara-saudaranya, para pangeran lainnya yang telah mengumbar nafsu semenjak berusia empat lima belas tahun! Pangeran Panji Sigit lebih suka pergi mencari guru-guru ilmu silat yang pandai-pandai di antara para panglima dan pendeta, kemudian pergi berburu ke hutan-hutan seorang diri saja sehingga tubuhnya yang kelihatan halus gerak-geriknya itu menjadi amat kuat. Senja hari itu karena cuaca amat baik, Pangeran Panji Sigit yang baru saja selesai mandi sehabis berlatih pencak silat dan berjalan-jalan di dalam taman istana yang luas dan indah menghirup hawa sejuk, tiba-tiba melihat seorang emban berlari-lari menghampirinya dan berjongkok sembah di depannya sambil berkata,
"Ampunkan hamba yang
berani mengganggu, gusti pangeran. Akan tetapi hamba hanya melaksanakan
perintah ibunda selir paduka yang minta agar paduka sudi datang
menghadap." Pangeran Panji Sigit termenung sejenak. Ia tidak pernah
mendekati selir-selir ramandanya yang ia tahu masih muda-muda, apalagi selir
termuda Suminten yang terkenal cantik jelita dan yang menghebohkan seluruh
istana. Akan tetapi pemuda ini dapat mengekang perasaannya karena ia merasa
tidak sopan kalau menolak, maka ia bertanya dengan halus,
"Emban, ibunda yang
manakah yang memerintahkan aku datang menghadap?" Emban itu masih muda,
belum tiga puluh tahun usianya, cantik berkulit halus dan bermata jeli. Ketika
ditanya, ia kelihatan terkejut dan sadar daripada lamunannya. Tadi ia
menengadah dan memandangi wajah pemuda itu sambil menahan napas dan menelan
ludah, kagum akan ketampanan wajah Sang Pangeran Panji Sigit.
"Eh ... ohh .... maaf,
gusti ...ibunda paduka yang termuda ...“
Jantung pemuda itu berdenyut
keras akan tetapi cepat ditekannya. Hatinya-merasa tidak enak, akan tetapi
betapapun ia tidak berani menolak karena setiap orang selir ramandanya adalah
ibundanya pula. Ibu kandungnya yang telah tiadapun seorang selir, sehingga
biarpun ia seorang pangeran, namun derajatnya tidaklah lebih tinggi daripada
selir ramandanya karena iapun putera selir.
"Baiklah, emban. Tentu
ada hal yang amat penting maka ibunda memanggilku."
Maka pergilah Pangeran Panji
Sigit diantar oleh emban itu, langsung menuju ke bangunan mungil dekat taman
sari yang khusus ditinggali Suminten. Begitu memasuki bangunan yang tak pernah
ia kunjungi ini, diam-diam Pangeran Panji Sigit tertegun dan kagum. Amat
indahnya perabot-perabot di bangunan ini, jauh lebih indah daripada
tempat-tempat tinggal para selir yang lain. Jelas bahwa berita yang ia dengar
benar adanya yaitu bahwa selir termuda ini amat dikasihi ramandanya.
Sunyi di bangunan mungil itu.
Sambil tersenyum emban tadi menunjuk ke arah sebuah kamar dari mana terpancar
cahaya lampu kemerahan, kemudian tanpa berkata sesuatu emban itu pergi
meninggalkan ruangan itu. Selagi Pangeran Panji Sigit berdiri termangu,
tiba-tiba terdengar suara halus dari dalam kamar itu,
"Anaknda pangeran, mari
masuklah saja. Ibu berada di sini, masuklah jangan ragu-ragu, pangeran."
Makin berdebar jantung
Pangeran Panji Sigit. Ia harus taat akan perintah selir ramandanya, namun
kesopanan yang telah mendarah daging di hatinya, membuat kakinya terasa berat
untuk melangkah memasuki kamar. Baru beberapa langkah dan baru sampai di depan
pintu yang tertutup, ia berhenti dan berkata,
"Maafkan saya, ibunda.
Biarlah saya menanti di sini saja sampai ibunda selesai untuk kemudian
mendengarkan perintah ibunda yang akan disampaikan kepada saya."
Sunyi sejenak dari dalam
kamar, kemudian terdengar lagi suara yang halus merdu,
"Iihhh, puteranda Panji
Sigit! Apakah engkau merasa sungkan dan malu? Hii-hik, masa seorang putera
meragu dipanggil masuk kamar oleh ibundanya? Kalau begitu, engkau mengandung
pikiran yang kotor“
"Sama sekali tidak,
ibunda!"
"Kalau tidak masuklah,
jangan seperti kanak-kanak. Aku mau bicara urusan penting denganmu, berdua
saja, kalau di luar khawatir terdengar orang. Marilah, pangeran."
Ditegur seperti itu,
Pangeran Panji Sigit bingung kemudian menggigit bibir dan memberanikan hatinya
mendorong daun pintu. Bau yang harum menyambutnya dan ia melihat selir
ramandanya yang muda dan cantik itu duduk di atas pembaringan membelakanginya,
menghadap cermin dan agaknya sedang membereskan rambutnya. Ia makin berdebar
dan hatinya tidak enak. Biarpun disebut ibunya, wanita ini masih amat muda,
sebaya atau sedikit saja lebih tua daripadanya.
"Maaf, ada keperluan
apakah, ibunda?"
Suminten menengok dengan
gerakan indah, matanya yang menjadi hiasan paling indah di samping mulutnya,
mangerling tajam, mulutnya tersenyum lalu merekah merah, apalagi disinari lampu
yang dibungkus kertas merah, lebih indah lagi.
"Mendekatlah sini,
pangeran. Engkau terhitung anakku, bukan? Aku ibumu, mengapa mesti malu-malu?
Ke sinilah dan tolonglah engkau pasangkan hiasan rambut ini. Jengkel sekali
hatiku, memasang sejak tadi tidak mau sempurna juga."
Betapapun tidak enak hati
Pangeran Panji Sigit, namun ia terdesak oleh kata-kata itu dan terpaksa ia
melangkah maju dan berhenti di belakang punggung yang tampak bagian atas
setengahnya itu. Halus seperti batu pualam.
"Mana mungkin saya bisa
memasangnya, ibunda .....”
"Ihh, anak bodoh. Masa
tidak bisa. Lihat, rambutku masih terurai, kaupasangkan hiasan ini, seperti
sisir, sisipkan saja di atas kepalaku, di tengah .... hi-hik canggung benar kau
.... , nanti dulu, memang tidak akan tepat kalau dari belakang, biar dari depan
..." Sambil tertawa-tawa Suminten lalu membalikkan tubuhnya dan duduk
menghadapi Pangeran Panji Sigit.
Pangeran itu terkesiap dan
menahan napas. Ingin ia melompat pergi dan lari dari situ. Kiranya baju
Suminten tidak beres! Kemben yang menutup tubuh atas bagian depan itu amat
longgar sehingga tampaklah membayang gumpalan daging yang merangsang. Jari-jari
tangan Suminten menangkap kedua tangan pangeran itu dan suaranya agak serak
penuh getaran nafsu dan cumbu rayu,
"Kenapa, pangeran?
Tidak senangkah engkau melihat aku? Tidak cantikkah aku dalam pandanganmu, wong
bagus?"
Pangeran Panji Sigit merasa
seolah-olah ada halilintar menyambar kepalanya. Ia bukanlah kanak-kanak lagi,
sudah dewasa dan tahu apa artinya ini semua. Ia maklum bahwa kini keadaannya
benar-benar dalam bahaya, tidak hanya dugaan belaka atau kekhawatiran seperti
tadi. Ia merasa seperti seekor kijang terjeblos dalam perangkap yang ia tidak
tahu pergunakan untuk apa. Cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan wanita
itu dan berkata,
"Ampunkan saya, ibunda.
Harap ibunda sudi melepaskan saya dan membiarkan saya pergi dari sini” Akan
tetapi sebagai jawaban,
tiba-tiba Suminten mendekap
kepala itu dan menariknya sehingga muka si pangeran terbenam ke dadanya!
Pangeran Panji Sigit terkejut bukan main ketika merasa betapa mukanya terbenam
ke dalam kelembutan yang harum. Kalau ia tidak terlatih batinnya, tentu ada dua
kemungkinan buruk, yaitu pertama, ia akan roboh dalam buaian kenikmatan nafsu
berahi, dan ke dua ia akan lupa dan memberontak lalu menghantam wanita ini
sampai tewas di saat itu juga. Untung ia waspada dan dapat menguasai dirinya.
Dengan halus namun kuat sekali ia menarik mukanya, sekali tangannya bergerak
terlepaslah ia daripada dekapan dan begitu tubuhnya berkelebat, pemuda ini
telah melompat dan lenyap dari dalam kamar.
Suminten bengong, menatap
api lampu yang bergoyang-goyang oleh angin ketika pemuda itu meloncat, hatinya
penuh kekecewaan dan juga penasaran. Betapa mungkin seorang pemuda dapat
menolak cinta kasihnya? Dapat menolak tubuhnya? Ia masih tidak mau percaya dan
menganggapnya seperti sebuah mimpi buruk. Disangkanya bahwa semua pria di dunia
ini pasti akan bertekuk lutut di depannya untuk mendapatkan cintanya, seperti
halnya sang prabu yang sudah tua dan Pangeran Kukutan yang masih muda dan
tampan. Sekali ini ia kecelik dan setengah sadar bahwa yang dialaminya bukan
mimpi buruk, wanita ini bangkit berdiri, mengepal tinju dan berjalan
mondar-mandir di depan kamarnya, mencari akal untuk mengenyahkan Pangeran Panji
Sigit! Tadinya ia menggunakan siasat bujuk rayu ini untuk menundukkan pangeran
ini sehingga kalau kelak pangeran ini benar-benar dijadikan putera mahkota, ia
dapat mempengaruhinya. Siapa sangka, ia ditolak mentah-mentah. Hal ini berarti
bahwa pangeran ganteng ini tidak bisa ajak kerja sama, dan berarti pula bahwa pangeran
ini adalah musuhnya yang harus dienyahkan!
Malam itu Suminten tidak
dapat tidur dan ia mengatur siasat namun belum juga ia mendapatkan siasat yang
cukup baik untuk menjatuhkan pangeran muda yang ganteng itu. Alangkah sukarnya
menjatuhkan seorang yang begitu baik dan ramah terhadap siapapun juga itu. Amat
sukar mencari kesalahan untuk Pangeran Panji Sigit dan ia harus berhati-hati
sekali karena sang prabu amat sayang kepada puteranya ini. Apa yang harus ia
lakukan? Suminten belum juga dapat menemukan jalan yang baik dan menjelang pagi
baru ia dapat pulas dengan sebuah keputusan yang keji, yaitu bahwa jalan
satu-satunya untuk melenyapkan
"musuh" ini hanya
... membunuhnya. Untuk ini akan ia rundingkan dengan Pangeran Kukutan. Tentu
pangeran ini akan melaksanakannya dengan baik, apalagi kalau ia takut-takuti
bahwa ada kemungkinan Panji Sigit terpilih sebagai putera mahkota.
Akan tetapi ternyata pada
keesokan harinya dia tidak usah melanjutkan rencananya yang kejam ini karena
segera ia mendengar bahwa Pangeran Panji Sigit pada keesokan harinya, pagi-pagi
sekali telah meninggalkan istana! Hal ini ia dengar sendiri dari sang prabu
yang sepagi itu telah datang kepadanya untuk mencari hiburan. Sang prabu yang
sudah tua itu benar-benar sekali ini membutuhkan hiburan Suminten. Wajahnya
muram, alisnya berkerut dan berkali-kali ia menghela napas.
"Ahhh, sungguh
menyedihkan ....puteraku yang paling kuharapkan, tak dapat kutahan. Ia berpamit
dan dengan paksa ia menyatakan hendak pergi merantau ....ah, Panji Sigit ... benar-benar
mengecewakan hatiku“
Suminten yang sudah
cepat-cepat memeluk dan mencumbit sang prabu, menghibur dengan kata-kata dan
perbuatan, mengajak sang prabu agar beristirahat dan rebah-rebahan di atas
pembaringan yang lunak bersih dan harum, cepat-cepat menyuguhi minuman dan
memijit-mijit kaki tangan sang prabu dengan kedua tangannya sendiri dengan
sikap mesra dan gerakan halus, lalu bertanya, "Apakah sebabnya puteranda
pangeran pergi merantau secara mendadak, sinuwun? Apakah alasannya?"
Raja tua itu menggeleng
kepala.
"Entahlah, dia tidak
menyatakan sebab-sebabnya, hanya berpamit dan menyatakan bahwa ia hendak
mencari guru yang pandai dan memperdalam ilmu-ilmu kesaktian. Sudah kukatakan
bahwa aku ingin mengangkatnya menjadi putera mahkota, akan tetapi ia tetap
hendak pergi dengan alasan bahwa untuk menjadi putera mahkota ia harus memiliki
ilmu kepandaian yang cukup. Ahhh, Suminten, betapa kecewa hatiku“
"Duh gusti sesembahan
hamba! Mengapa harus berduka?" Suminten menghibur dan hatinya lega karena
ternyata pangeran muda itu tidak menyinggung-nyinggung tentang dia.
"Hamba dapat mengerti
dan membenarkan pendapat puteranda Pangeran Panji Sigit yang amat baik dan
tepat itu. Harap paduka tenangkan hati dan biarlah sang pangeran memperluas
pengalaman dan memperdalam ilmu karena memang seorang calon raja yang bijaksana
harus memiliki bekal yang cukup. Bukankah puteranda pangeran itu adalah cucu
mendiang Gusti Prabu Airlangga yang sakti mandraguna dan ahli tapa pula?"
Senang hati sang prabu yang
tua ini mendengar kata-kata Suminten yang sedap didengar ini. Ia mulai
terhibur, memeluk dan memperlihatkan cinta kasihnya dengan belaian dan rabaan
jari-jari tangannya.
"Engkau selalu benar,
Suminten. Memang, agaknya puteraku Panji Sigit itu mewarisi watak eyangnya yang
suka bertapa dan memupuk ilmu dan aji kesaktian."
"Nah, karena itu harap
paduka tenang saja. Adapun untuk menghadapi perbuatan khianat, menurut usul
hamba tempo hari, sebaiknya paduka mengangkat puteranda Pangeran Kukutan
sebagai putera mahkota."
Sang prabu terlihat
mengangguk-angguk.
"Memang sudah
kupikirkan hal ini. Akan tetapi aku sendiri masih kuat menghadapi segala macam
pemberontakan atau pengkhianatan, apalagi dengan adanya engkau di dekatku,
sayang. Aku merasa menjadi muda kembali dan siap menghadapi apa-pun juga!"
Sang prabu memeluk dan mencium. Suminten menyembunyikan muka di dada sang prabu
untuk menyembunyikan rasa tidak puas dan tidak senang hatinya. Tua bangka tak
tahu diri, pikirnya. Namun ia bukan seorang wanita yang bodoh dan hanya menurutkan
perasaan saja. Tidak, Suminten adalah seorang wanita yang cerdik sekali, yang
pandai menggunakan pikiran, yang pandai menguasai perasaan hatinya dan segala
gerak-geriknya telah ia perhitungkan masak-masak.
No comments:
Post a Comment