Tak jauh dari tempat pelaksanaan hukuman ini terdapat sebuah panggung dan di situ duduk sang prabu bersama Suminten. Keruh wajah sang prabu karena sesungguhnya pelaksanaan hukuman ini tidak berkenan di hatinya, terpaksa diperintahkan untuk tidak mengecewakan hati Suminten! Wajah tua itu tampak makin berkerut-merut, makin tua, pandang matanya sayu. Berbeda dengan raja tua ini, Suminten tampak gilang-gemilang dalam cahaya mudanya, cantik jelita dan sikapnya tenang, agung dan angkuh dalam kemenangannya. Biarpun alun-alun itu penuh dengan manusia berjajaran, namun suasananya sunyi. Semua orang merasa prihatin dan gelisah. Memang ada banyak pula yang tersenyum-senyum puas, mereka ini adalah orang-orang yang memang mempunyai rasa permusuhan terhadap dua orang yang akan dijatuhi hukuman mati, dan terutama mereka yang telah menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan. Keluarga kedua orang hukuman yang diharuskan hadir, termasuk Ki Patih Brotomenggala, berkumpul di sudut dan di antara mereka, terutama kaum puterinya, menangis terisak-isak. Suasana makin mengharukan ketika dua orang hukuman itu digiring memasuki alun-alun. Mereka tidak muda lagi, lima puluhan tahun usianya. Terutama Empu Adisastra sudah kelihatan tua dengan jenggotnya yang panjang. Mereka sudah mendengar akan keputusan raja dan menerima keputusan ini dengan tenang. Mereka memasuki lapangan digiring oleh para algojo dengan kedua tangan terikat di belakang punggung, dan berjalan dengan langkah tenang dan dada terangkat. Dalam menghadapi kematian, kedua orang ini sama sekali tidak merasa takut. Dan mereka tahu bahwa mereka mati untuk kebenaran. Mereka telah menyebarkan kritik dan cela terhadap sang prabu dan Suminten, bukan sekali-kali karena dendam pribadi, melainkan karena dasar kebaktian terhadap kerajaan dan bangsa. Mereka melihat betapa Kerajaan Jenggala terancam kehancuran karena sang prabu tergila-gila kepada seorang wanita yang tidak baik. Mereka ditangkap karena fitnah yang dijatuhkan Pangeran Kukutan ketika pangeran ini mendengar di suatu pesta tentang kritik dan cela mereka, difitnah sebagai penyebar desas-desus yang menghina raja!
Dua orang ini dihadapkan
kepada sang prabu. Mereka memandang ke arah Suminten dengan mata melotot penuh
kebencian, kemudian berlutut ke arah sang prabu. Sang prabu meramkan mata, lalu
mengangkat tangan ke atas memberi isyarat algojo menarik kedua orang itu,
dibawa ke dekat lubang yang telah digali untuk menampung darah mereka, kemudian
disuruh berlutut. Pada saat itu, terdengar jerit tangis. Mereka mengangkat muka
memandang dan ketika melihat keluarga mereka menangis menjerit-jerit, panggilan
isteri dan anak-anak mereka, tak dapat lagi mereka menahan air mata. Bukan air
mata karena takut, melainkan air mata karena sedih bahwa mereka harus meninggalkan
keluarga yang tentu akan menjadi berduka dan berkabung.
"Algojo, lakukan
tugasmu!" kata Adipati Wirabayu.
Sang algolo lalu mengangkat
goloknya ke atas mengertak gigi dan tampak sinar berkelebat dua kali
berturut-turut. Putuslah leher kedua orang terhukum itu. Darah menyemprot ke
atas dan beberapa orang anggauta keluarga roboh pingsan. Di antara para
penonton terdengar isak tertahan. Sang prabu lalu bangkit, wajahnya agak pucat
dan Suminten cepat bangkit pula, menggandeng lengan raja dan dituntunnya raja
itu turun dari panggung, memasuki tandu dan cepat-cepat pergi meninggalkan
tempat mengerikan itu, memasuki istana. Hanya karena pandainya Suminten
menghibur saja maka dalam waktu singkat sang prabu telah melupakan peristiwa
menyedihkan di alun-alun itu. Semenjak hari itu, sang prabu makin tenggelam ke
dalam pelukan dan bujuk rayu Suminten sehingga raja yang tua itu mengabaikan
tugasnya, tidak memperdulikan lagi bermalam di dalam kamar para selir lainnya,
juga tidak lagi bermalam di kamar permaisuri. Amat pandainya Suminten mengambil
hati dan amat pandai pula ia mencari-cari perkara sehingga tampak jelas olehnya
siapa mereka yang membencinya dan memusuhinya agar dengan mudah ia dapat
menjatuhkan fitnah kepada mereka dan turun tangan terlebih dahulu menghalau
orang-orang yang sekiranya akan dapat menjadi penghalang bagi cita-citanya.
"Mengapa paduka
kelihatan murung, gusti? Bukankah kematian kedua orang laknat itu berarti
melenyapkan dua orang pemberontak yang tidak setia?"
Sang prabu menghela napas
panjang, namun dalam kekecewaannya ia masih tidak dapat terlepas daripada daya
tarik yang keluar dari gerak-gerik dan tubuh Suminten. Ditariknya selir
terkasih itu, dipangku dan dielus rambut yang halus panjang itu.
"Engkau tidak tahu,
Suminten. Mereka berdua itu adalah orang-orang yang pandai. Aku telah
kehilangan dua pembantu, yang cakap."
"Ahhh, sinuwun, apakah
artinya pembantu yang cakap dan pandai kalau dia tidak setia? Mencari orang
pandai tidaklah sukar, akan tetapi, mencari orang setia adalah paling sukar.
Dengan para pembantu macam ki patih dan antek- anteknya, paduka dikelilingi
oleh musuh- musuh rahasia dan kedudukan paduka amatlah berbahaya. Akan tetapi,
hendaknya paduka tenang dan percayalah bahwa selama hamba berada di sini,
dibantu oleh puteranda Pangeran Kukutan yang berbakti dan setia, hamba berdua
akan dapat menghalau semua bahaya yang mengancam paduka."
Sang prabu menggunakan kedua
tangan untuk memegang kepala yang terasa pening. Ia menggeleng-geleng kepalanya
dan berkata, "Ah, aku bingung ....aku bingung.... Minten. Betapa mungkin
patihku yang setia memusuhiku ... Kakang Patih Brotomenggala adalah patihku
sejak dahulu .... dia ..... dia..”
"Betapa dapat mengukur
isi hati manusia, gusti? Dalamnya bengawan dapat diselami, tingginya gunung
dapat didaki, akan tetapi dalamnya hati manusia dan tingginya cita-cita manusia
sukar diukur. Mungkin dahulu dia setia, akan tetapi sekarang ....hemm, dia
berani membujuk-bujuk sang permaisuri ....dan menurut penyelidikan hamba dan
Pangeran Kukutan, ki patih kini secara rahasia telah mengadakan kontak dengan
para adipati dan bupati, agaknya siap-siap untuk memberontak apabila saatnya
tiba."
Wajah sang prabu menjadi
pucat. Terbelalak ia memandang Suminten dan berkata,
"Benarkah itu ....?
Adakah bukti-buktinya .....?!”
Suminten tersenyum manis.
"Belum ada, gusti.
Kalau sudah ada tentu hamba akan turun tangan. Akan tetapi bukti itu
sewaktu-waktu tentu dapat kita cari asalkan paduka sudah mengetahuinya terlebih
dahulu. Hamba mendengar bahwa ki patih dan teman-temannya sudah pula
memilih-milih calon putera mahkota di antara para pangeran, tentu saja pangeran
yang bersekutu dengan mereka memusuhi paduka."
"Aahhhh
.......bagaimana baiknya Minten?"
"Harap paduka tenang
dan serahkanlah kepada hamba. Suminten akan melindungi dan membela paduka
sampai titik darah terakhir! Menurut pendapat hamba, sebaiknya sekarang
menggantikan kedudukan kedua orang pemberontak yang sudah di hukum mati.
Menurut petunjuk anaknda Pangeran Kukutan, sebaiknya mengangkat Tumenggung
Wirokeling dan Tumenggun Sosrogali menggantikan kedua orang itu."
Sang prabu
mengangguk-angguk. Dua orang tumenggung itu adalah orang-orang kasar yang bodoh
dan hanya tahu peran saja, akan tetapi bukankah tadi Suminten mengatakan bahwa
yang penting mencar orang-orang setia?
"Baiklah, aku setuju.
Biar besok kuperintahkan kepada ki patih.”
Suminten girang sekali.
Memang ia sudah merencanakan semua ini dengan Pangeran Kukutan beberapa hari
yang lalu ketika mereka mengadakan pertemuan kasih mesra, bermain cinta di
taman. Kedua orang tumenggung itu adalah kaki tangan Pangeran Kukutan yang
boleh dipercaya. Saking girangnya, ia lalu merangkul dan menciumi jenggot putih
sang prabu.
"Duhai, gusti
sesembahan hamba. Amat besar hati hamba melihat betapa paduka menaruh
kepercayaan kepada hamba."
Sang prabu memeluk tubuh
padat itu, kepercayaannya makin mendalam.
"Suminten, hanyalah
engkau satu-satunya orang di dunia ini yang masih dapat kupercaya, berdasarkan
cinta kasihmu yang telah kau buktikan selama ini."
Setelah beberapa lama
mencumbu rayu junjungannya yang sudah tua dan yang sesungguhnya memuakkan
hatinya, Suminten lalu berkata halus,
"Gusti sinuwun, hamba
rasa untuk melawan usaha mereka memilih seorang putera mahkota untuk
menggantikan paduka kelak kalau-kalau mereka berhasil menggulingkan paduka,
sebaiknya kalau sekarang juga paduka mengumumkan pengangkatan seorang putera
mahkota, seorang pangeran pati yang paduka tentukan sebagai calon pengganti
raja kelak."
Sang prabu
mengangguk-angguk. Memang sudah lama ia mempunyai keinginan seperti ini. Sayang
bahwa permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki dan biarpun banyak ia mempunyai
putera, namun para pangeran itu adalah anak-anak dari selir.
"Aku menanti sampai
Panji Sigit cukup dewasa dan matang.”
Suminten diam-diam
mengerutkan keningnya. Ia tahu bahwa di antara para pangeran putera selir,
Pangeran Panji Sigit adalah seorang yang paling dicinta sang prabu. Bahkan
semua selir dan ponggawa istana suka belaka kepada pemuda itu. Siapa pula
orangnya yang tidak mencinta. Pemuda itu tampan sekali seperti Arjuna, sikapnya
halus dan selalu ramah, tidak sombong, tidak mencari muka, pendeknya seorang
pemuda yang benar-benar menyenangkan hati. Dia sendiri, sudah beberapa kali
menelan ludah kalau bertemu pemuda remaja yang hebat ini dan sekarang nama ini
disebut sang prabu sebagai calon putera mahkota! Pangeran Panji Sigit akan jauh
lebih menyenangkan hatinya daripada Pangeran Kukutan yang biarpun tampan dan
gagah juga akan tetapi tidak setampan dan sehalus Pangeran Panji Sigit, bahkan
agak kasar dalam bermain cinta. Akan tetapi, pangeran remaja yang halus dan
jujur bersih itu mana mungkin dapat ia ajak bersekutu? Pangeran Kukutan jauh
lebih memenuhi syarat dengan sifat-sifatnya yang cerdik dan pandai
bersandiwara. Namun, kalau dia bisa menarik Pangeran Panji Sigit menjadi
pembantunya, wah ... hatinya akan puas sekali!
"Memang benar sekali
wawasan paduka, gusti. Anaknda Pangeran Panji Sigit memang amat tepat, akan
tetapi pada dewasa ini, hamba juga mengira dia masih terlampau muda. Padahal
para pengkhianat itu selalu menanti kesempatan dan kiranya Pangeran Panji Sigit
akan mudah terjebak ke dalam perangkap mereka ....“
Sang prabu
mengangguk-angguk.
"Habis, menurut
pendapatmu bagaimana, Suminten?"
"Mohon beribu ampun
kalau pendapat hamba keliru, gusti. Paduka mempunyai banyak putera, akan tetapi
hamha lihat bahwa para putera pangeran itu hanya mengejar foya-foya dan
kesenangan belaka, tidak ada yang memperhatikan urusan pemerintahan, kecuali
yang sudah terbukti, hanya anaknda Pangeran Kukutan. Maka, biarpun hamba setuju
apabila paduka mengangkat Pangeran Panji Sigit, akan tetapi sementara ini,
untuk menghadapi usaha busuk para pengkhianat, alangkah baiknya kalau paduka
mengangkat Pangeran Kukutan sebagai putera mahkota. Hanya Pangeran Kukutan
seorang yang tahu akan sifat-sifat para pengkhianat dan dapat menghadapi
mereka, sehingga dia tali yang akan dapat menyelamatkan kerajaan paduka
daripada pemberontakan."
Sejenak sang prabu
termenung. Terhadap Pangeran Kukutan, tidak ada getaran kasih sayang yang kuat
dari hatinya, sungguhpun selama ini Pangeran Kukutan tidak pernah
memperlihatkan watak tidak baik, bahkan telah membuktikan kesetiaannya. Dia
tidak menghendaki Pangeran Kukutan yang kelak menjadi raja menggantikannya.
Akan tetap, kalau betul seperti wawasan Suminten bahwa ada usaha gelap para
musuh rahasia untuk menggulingkannya, memang perlu sekali adanya seorang
pangeran mahkota. Betapapun juga, pengangkatan seorang pangeran pati atau
putera mahkota bukanlah hal sembarangan, maka ia lalu menunda urusan ini sampai
beberapa hari untuk memikirkannya masak-masak. Sementara itu Suminten yang
merasa gelisah kalau-kalau sang prabu akan menjatuhkan pilihannya atas diri
Pangeran Panji Sigit, siang hari telah bersiap-siap. Sore hati itu ia hersolek
keras, menaburi tubuhnya yang padat menarik itu dengan sari bunga. Selesai
bersolek, ia lalu menyuruh emban kepercayaannya untuk mencegat Pangeran Panji
Sigit dan mohon kepada pangeran itu untuk memenuhi panggilan selir termuda sang
prabu ini.
Pangeran Panji
Sigit adalah seorang putera selir, akan tetapi selir raja itu telah meninggal
dunia ketika Pangeran Panji Sigit masih kecil. Karena tidak beribu lagi, maka
Pangeran Panji Sigit diasuh oleh seorang inang pengasuh yang setia dan karena
dialah satu-satunya pangeran yang tidak dimanja oleh seorang ibu yang
memperebutkan kedudukan, maka sifat-sifatnya menjadi amat baik. Inang pengasuh
yang setia itu mentaati pesan terakhir ibu pangeran ini dan mendidiknya dengan
hati-hati dan baik. Pangeran Panji Sigit dilatih belajar kesusasteraan dan juga
ilmu olah keperajuritan sehingga dia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa,
lemah lembut dan rendah hati, tidak memandang rendah para kawula, juga tidak
menjilat atasan, tidak menginginkan kedudukan dan tidak memperebutkan
kekuasaan. Hal inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit disuka oleh semua
orang, bahkan sang prabu sendiri yang kagum melihat ketampanan dan kehalusan
budi puteranya ini, amat mengasihinya. Karena tidak menghiraukan kekuasaan dan
kedudukan inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit sama sekali tidak mencampuri
urusan pemerintahan dan tidak tahu-menahu tentang politik dalam istana.
No comments:
Post a Comment