Perawan Lembah Wilis; Bagian 082


Tak jauh dari tempat pelaksanaan hukuman ini terdapat sebuah panggung dan di situ duduk sang prabu bersama Suminten. Keruh wajah sang prabu karena sesungguhnya pelaksanaan hukuman ini tidak berkenan di hatinya, terpaksa diperintahkan untuk tidak mengecewakan hati Suminten! Wajah tua itu tampak makin berkerut-merut, makin tua, pandang matanya sayu. Berbeda dengan raja tua ini, Suminten tampak gilang-gemilang dalam cahaya mudanya, cantik jelita dan sikapnya tenang, agung dan angkuh dalam kemenangannya. Biarpun alun-alun itu penuh dengan manusia berjajaran, namun suasananya sunyi. Semua orang merasa prihatin dan gelisah. Memang ada banyak pula yang tersenyum-senyum puas, mereka ini adalah orang-orang yang memang mempunyai rasa permusuhan terhadap dua orang yang akan dijatuhi hukuman mati, dan terutama mereka yang telah menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan. Keluarga kedua orang hukuman yang diharuskan hadir, termasuk Ki Patih Brotomenggala, berkumpul di sudut dan di antara mereka, terutama kaum puterinya, menangis terisak-isak. Suasana makin mengharukan ketika dua orang hukuman itu digiring memasuki alun-alun. Mereka tidak muda lagi, lima puluhan tahun usianya. Terutama Empu Adisastra sudah kelihatan tua dengan jenggotnya yang panjang. Mereka sudah mendengar akan keputusan raja dan menerima keputusan ini dengan tenang. Mereka memasuki lapangan digiring oleh para algojo dengan kedua tangan terikat di belakang punggung, dan berjalan dengan langkah tenang dan dada terangkat. Dalam menghadapi kematian, kedua orang ini sama sekali tidak merasa takut. Dan mereka tahu bahwa mereka mati untuk kebenaran. Mereka telah menyebarkan kritik dan cela terhadap sang prabu dan Suminten, bukan sekali-kali karena dendam pribadi, melainkan karena dasar kebaktian terhadap kerajaan dan bangsa. Mereka melihat betapa Kerajaan Jenggala terancam kehancuran karena sang prabu tergila-gila kepada seorang wanita yang tidak baik. Mereka ditangkap karena fitnah yang dijatuhkan Pangeran Kukutan ketika pangeran ini mendengar di suatu pesta tentang kritik dan cela mereka, difitnah sebagai penyebar desas-desus yang menghina raja!

Dua orang ini dihadapkan kepada sang prabu. Mereka memandang ke arah Suminten dengan mata melotot penuh kebencian, kemudian berlutut ke arah sang prabu. Sang prabu meramkan mata, lalu mengangkat tangan ke atas memberi isyarat algojo menarik kedua orang itu, dibawa ke dekat lubang yang telah digali untuk menampung darah mereka, kemudian disuruh berlutut. Pada saat itu, terdengar jerit tangis. Mereka mengangkat muka memandang dan ketika melihat keluarga mereka menangis menjerit-jerit, panggilan isteri dan anak-anak mereka, tak dapat lagi mereka menahan air mata. Bukan air mata karena takut, melainkan air mata karena sedih bahwa mereka harus meninggalkan keluarga yang tentu akan menjadi berduka dan berkabung.
"Algojo, lakukan tugasmu!" kata Adipati Wirabayu.
Sang algolo lalu mengangkat goloknya ke atas mengertak gigi dan tampak sinar berkelebat dua kali berturut-turut. Putuslah leher kedua orang terhukum itu. Darah menyemprot ke atas dan beberapa orang anggauta keluarga roboh pingsan. Di antara para penonton terdengar isak tertahan. Sang prabu lalu bangkit, wajahnya agak pucat dan Suminten cepat bangkit pula, menggandeng lengan raja dan dituntunnya raja itu turun dari panggung, memasuki tandu dan cepat-cepat pergi meninggalkan tempat mengerikan itu, memasuki istana. Hanya karena pandainya Suminten menghibur saja maka dalam waktu singkat sang prabu telah melupakan peristiwa menyedihkan di alun-alun itu. Semenjak hari itu, sang prabu makin tenggelam ke dalam pelukan dan bujuk rayu Suminten sehingga raja yang tua itu mengabaikan tugasnya, tidak memperdulikan lagi bermalam di dalam kamar para selir lainnya, juga tidak lagi bermalam di kamar permaisuri. Amat pandainya Suminten mengambil hati dan amat pandai pula ia mencari-cari perkara sehingga tampak jelas olehnya siapa mereka yang membencinya dan memusuhinya agar dengan mudah ia dapat menjatuhkan fitnah kepada mereka dan turun tangan terlebih dahulu menghalau orang-orang yang sekiranya akan dapat menjadi penghalang bagi cita-citanya.
"Mengapa paduka kelihatan murung, gusti? Bukankah kematian kedua orang laknat itu berarti melenyapkan dua orang pemberontak yang tidak setia?"
Sang prabu menghela napas panjang, namun dalam kekecewaannya ia masih tidak dapat terlepas daripada daya tarik yang keluar dari gerak-gerik dan tubuh Suminten. Ditariknya selir terkasih itu, dipangku dan dielus rambut yang halus panjang itu.
"Engkau tidak tahu, Suminten. Mereka berdua itu adalah orang-orang yang pandai. Aku telah kehilangan dua pembantu, yang cakap."
"Ahhh, sinuwun, apakah artinya pembantu yang cakap dan pandai kalau dia tidak setia? Mencari orang pandai tidaklah sukar, akan tetapi, mencari orang setia adalah paling sukar. Dengan para pembantu macam ki patih dan antek- anteknya, paduka dikelilingi oleh musuh- musuh rahasia dan kedudukan paduka amatlah berbahaya. Akan tetapi, hendaknya paduka tenang dan percayalah bahwa selama hamba berada di sini, dibantu oleh puteranda Pangeran Kukutan yang berbakti dan setia, hamba berdua akan dapat menghalau semua bahaya yang mengancam paduka."
Sang prabu menggunakan kedua tangan untuk memegang kepala yang terasa pening. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan berkata, "Ah, aku bingung ....aku bingung.... Minten. Betapa mungkin patihku yang setia memusuhiku ... Kakang Patih Brotomenggala adalah patihku sejak dahulu .... dia ..... dia..”
"Betapa dapat mengukur isi hati manusia, gusti? Dalamnya bengawan dapat diselami, tingginya gunung dapat didaki, akan tetapi dalamnya hati manusia dan tingginya cita-cita manusia sukar diukur. Mungkin dahulu dia setia, akan tetapi sekarang ....hemm, dia berani membujuk-bujuk sang permaisuri ....dan menurut penyelidikan hamba dan Pangeran Kukutan, ki patih kini secara rahasia telah mengadakan kontak dengan para adipati dan bupati, agaknya siap-siap untuk memberontak apabila saatnya tiba."
Wajah sang prabu menjadi pucat. Terbelalak ia memandang Suminten dan berkata,
"Benarkah itu ....? Adakah bukti-buktinya .....?!”
Suminten tersenyum manis.
"Belum ada, gusti. Kalau sudah ada tentu hamba akan turun tangan. Akan tetapi bukti itu sewaktu-waktu tentu dapat kita cari asalkan paduka sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Hamba mendengar bahwa ki patih dan teman-temannya sudah pula memilih-milih calon putera mahkota di antara para pangeran, tentu saja pangeran yang bersekutu dengan mereka memusuhi paduka."
"Aahhhh .......bagaimana baiknya Minten?"
"Harap paduka tenang dan serahkanlah kepada hamba. Suminten akan melindungi dan membela paduka sampai titik darah terakhir! Menurut pendapat hamba, sebaiknya sekarang menggantikan kedudukan kedua orang pemberontak yang sudah di hukum mati. Menurut petunjuk anaknda Pangeran Kukutan, sebaiknya mengangkat Tumenggung Wirokeling dan Tumenggun Sosrogali menggantikan kedua orang itu."
Sang prabu mengangguk-angguk. Dua orang tumenggung itu adalah orang-orang kasar yang bodoh dan hanya tahu peran saja, akan tetapi bukankah tadi Suminten mengatakan bahwa yang penting mencar orang-orang setia?
"Baiklah, aku setuju. Biar besok kuperintahkan kepada ki patih.”
Suminten girang sekali. Memang ia sudah merencanakan semua ini dengan Pangeran Kukutan beberapa hari yang lalu ketika mereka mengadakan pertemuan kasih mesra, bermain cinta di taman. Kedua orang tumenggung itu adalah kaki tangan Pangeran Kukutan yang boleh dipercaya. Saking girangnya, ia lalu merangkul dan menciumi jenggot putih sang prabu.
"Duhai, gusti sesembahan hamba. Amat besar hati hamba melihat betapa paduka menaruh kepercayaan kepada hamba."
Sang prabu memeluk tubuh padat itu, kepercayaannya makin mendalam.
"Suminten, hanyalah engkau satu-satunya orang di dunia ini yang masih dapat kupercaya, berdasarkan cinta kasihmu yang telah kau buktikan selama ini."

Setelah beberapa lama mencumbu rayu junjungannya yang sudah tua dan yang sesungguhnya memuakkan hatinya, Suminten lalu berkata halus,
"Gusti sinuwun, hamba rasa untuk melawan usaha mereka memilih seorang putera mahkota untuk menggantikan paduka kelak kalau-kalau mereka berhasil menggulingkan paduka, sebaiknya kalau sekarang juga paduka mengumumkan pengangkatan seorang putera mahkota, seorang pangeran pati yang paduka tentukan sebagai calon pengganti raja kelak."
Sang prabu mengangguk-angguk. Memang sudah lama ia mempunyai keinginan seperti ini. Sayang bahwa permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki dan biarpun banyak ia mempunyai putera, namun para pangeran itu adalah anak-anak dari selir.
"Aku menanti sampai Panji Sigit cukup dewasa dan matang.”
Suminten diam-diam mengerutkan keningnya. Ia tahu bahwa di antara para pangeran putera selir, Pangeran Panji Sigit adalah seorang yang paling dicinta sang prabu. Bahkan semua selir dan ponggawa istana suka belaka kepada pemuda itu. Siapa pula orangnya yang tidak mencinta. Pemuda itu tampan sekali seperti Arjuna, sikapnya halus dan selalu ramah, tidak sombong, tidak mencari muka, pendeknya seorang pemuda yang benar-benar menyenangkan hati. Dia sendiri, sudah beberapa kali menelan ludah kalau bertemu pemuda remaja yang hebat ini dan sekarang nama ini disebut sang prabu sebagai calon putera mahkota! Pangeran Panji Sigit akan jauh lebih menyenangkan hatinya daripada Pangeran Kukutan yang biarpun tampan dan gagah juga akan tetapi tidak setampan dan sehalus Pangeran Panji Sigit, bahkan agak kasar dalam bermain cinta. Akan tetapi, pangeran remaja yang halus dan jujur bersih itu mana mungkin dapat ia ajak bersekutu? Pangeran Kukutan jauh lebih memenuhi syarat dengan sifat-sifatnya yang cerdik dan pandai bersandiwara. Namun, kalau dia bisa menarik Pangeran Panji Sigit menjadi pembantunya, wah ... hatinya akan puas sekali!
"Memang benar sekali wawasan paduka, gusti. Anaknda Pangeran Panji Sigit memang amat tepat, akan tetapi pada dewasa ini, hamba juga mengira dia masih terlampau muda. Padahal para pengkhianat itu selalu menanti kesempatan dan kiranya Pangeran Panji Sigit akan mudah terjebak ke dalam perangkap mereka ....“
Sang prabu mengangguk-angguk.
"Habis, menurut pendapatmu bagaimana, Suminten?"
"Mohon beribu ampun kalau pendapat hamba keliru, gusti. Paduka mempunyai banyak putera, akan tetapi hamha lihat bahwa para putera pangeran itu hanya mengejar foya-foya dan kesenangan belaka, tidak ada yang memperhatikan urusan pemerintahan, kecuali yang sudah terbukti, hanya anaknda Pangeran Kukutan. Maka, biarpun hamba setuju apabila paduka mengangkat Pangeran Panji Sigit, akan tetapi sementara ini, untuk menghadapi usaha busuk para pengkhianat, alangkah baiknya kalau paduka mengangkat Pangeran Kukutan sebagai putera mahkota. Hanya Pangeran Kukutan seorang yang tahu akan sifat-sifat para pengkhianat dan dapat menghadapi mereka, sehingga dia tali yang akan dapat menyelamatkan kerajaan paduka daripada pemberontakan."
Sejenak sang prabu termenung. Terhadap Pangeran Kukutan, tidak ada getaran kasih sayang yang kuat dari hatinya, sungguhpun selama ini Pangeran Kukutan tidak pernah memperlihatkan watak tidak baik, bahkan telah membuktikan kesetiaannya. Dia tidak menghendaki Pangeran Kukutan yang kelak menjadi raja menggantikannya. Akan tetap, kalau betul seperti wawasan Suminten bahwa ada usaha gelap para musuh rahasia untuk menggulingkannya, memang perlu sekali adanya seorang pangeran mahkota. Betapapun juga, pengangkatan seorang pangeran pati atau putera mahkota bukanlah hal sembarangan, maka ia lalu menunda urusan ini sampai beberapa hari untuk memikirkannya masak-masak. Sementara itu Suminten yang merasa gelisah kalau-kalau sang prabu akan menjatuhkan pilihannya atas diri Pangeran Panji Sigit, siang hari telah bersiap-siap. Sore hati itu ia hersolek keras, menaburi tubuhnya yang padat menarik itu dengan sari bunga. Selesai bersolek, ia lalu menyuruh emban kepercayaannya untuk mencegat Pangeran Panji Sigit dan mohon kepada pangeran itu untuk memenuhi panggilan selir termuda sang prabu ini.

Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera selir, akan tetapi selir raja itu telah meninggal dunia ketika Pangeran Panji Sigit masih kecil. Karena tidak beribu lagi, maka Pangeran Panji Sigit diasuh oleh seorang inang pengasuh yang setia dan karena dialah satu-satunya pangeran yang tidak dimanja oleh seorang ibu yang memperebutkan kedudukan, maka sifat-sifatnya menjadi amat baik. Inang pengasuh yang setia itu mentaati pesan terakhir ibu pangeran ini dan mendidiknya dengan hati-hati dan baik. Pangeran Panji Sigit dilatih belajar kesusasteraan dan juga ilmu olah keperajuritan sehingga dia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, lemah lembut dan rendah hati, tidak memandang rendah para kawula, juga tidak menjilat atasan, tidak menginginkan kedudukan dan tidak memperebutkan kekuasaan. Hal inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit disuka oleh semua orang, bahkan sang prabu sendiri yang kagum melihat ketampanan dan kehalusan budi puteranya ini, amat mengasihinya. Karena tidak menghiraukan kekuasaan dan kedudukan inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit sama sekali tidak mencampuri urusan pemerintahan dan tidak tahu-menahu tentang politik dalam istana.

<<< Bagian 081                                                                                    Bagian 083 >>>

No comments:

Post a Comment