Perawan Lembah Wilis; Bagian 081


Akan tetapi begitu mendengar bahwa Suminten akan datang, tiba-tiba saja si lembu berubah menjadi singa! Sinar mata yang tadinya tenang tenteram merem melek, kini terbuka lebar, bersinar-sinar dan wajah yang tua itu berseri penuh nafsu. Dengan tak sabar sang prabu lalu menggunakan kata-kata dan isyarat, mengusir semua emban dan membersihkan semua bekas hidangan. Ia sendiri lalu duduk di kamar kosong, duduk di atas kursi empuk, memandang dengan penuh kegembiraan ke arah pintu, semua urat syaraf di tubuh menegang seperti biasanya kalau ia akan didekati Suminten!
Pandang mata sang prabu makin bersinar dan kini mata itu terbelalak penuh kagum ketika selirnya tercinta memasuki kamar dari pintu yang terbuka dari luar. Daun pintu tertutup kembali dan Suminten menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dengan gerakan lemah gemulai sehingga mempertontonkan keindahan tubuhnya dengan jelas oleh gerakan-gerakan terlatih.
"Bangunlah ...bangunlah... dan berjalanlah ... perlahan-lahan ke sini, juitaku. Aku ingin melihat engkau melenggang" Sang prabu menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti hendak mengangkat Suminten bangun.
Suminten menengadah sehingga wajahnya tampak sepenuhnya oleh sang prabu. Mulut yang semringah merah segar itu agak terbuka, mengarah senyum, mata mengerling penuh hasrat, hidung kecil mungil itu agak bergerak cupingnya kemudian Suminten menyembah dan bangkit berdiri. Tidak sembarangan saja ia bangun ini, melainkan diaturnya, seperti bangkitnya seorang penari, memakai irama, memakai aturan sehingga setiap gerak, setiap perubahan tubuh tampak menarik menggairahkan.
Kemudian wanita cantik manis yang amat cerdik ini melangkah maju, dengan langkah-langkah kecil, setiap melangkah kaki menyilang ke depan, tumit diangkat, maka tampaklah penglihatan yang mempesonakan. Tubuh dari pinggang ke atas tegak dan kelihatan agung, akan tetapi dari pinggang ke bawah, seluruhnya merupakan pergerakan yang seratus prosen menonjolkan sifat kewanitaan yang halus lunak, lemas dan memikat. Karena tumit diangkat melangkah, maka buah pinggul meninggi, dan karena kaki menyilang ke depan setiap langkah, pinggul itu melenggang-lenggok seperti pinggul harimau, pinggang yang ramping itu mematah ke kanan kiri seolah-olah tidak bertulang, seperti tubuh ular, ayunan lengan, tapak semua mengandung keindahan seni menggairahkan, ditambah suara ujung kain perlahan-lahan setiap melangkah, seperti daun-daun bambu bersendau-gurau membislkkan janji-janji yang muluk membakar nafsu berahi.
Sebetulnya sang prabu yang sudah tua itu merasa tubuhnya lelah dan matanya mengantuk. Akan tetapi melihat Suminten, lenyap rasa kantuknya seperti mencuci muka dengan air wayu, timbul seleranya seperti orang mengandung melihat rujak jeruk yang masam manis dan pedas! Diam-diam sang prabu merasa amat heran mengapa setelah menyelir wanita ini sampai bertahun-tahun, setiap kali melihat Suminten selalu timbul hasratnya, tak pernah merasa bosan, bahkan makin lama makin terpikat dan melekat, seperti orang ketagihan candu.
"Duhai Suminten, wong ayu denok montok, kedatanganmu seperti munculnya matahari di musim hujan, seperti jatuhnya hujan di musim kering! Ke sinilah, manis, mendekatlah agar terobat rasa rindu hatiku!" Suminten mencibirkan bibir bawahnya yang penuh merah dengan sikap manja dan centil, mengerling dan kemudian tersenyum.
"Duh, sinuhun pujaan hamba! Baru dua malam yang lalu hamba menemani paduka, akan tetapi entah mengapa, dua malam berpisahan dengan paduka hamba tidak dapat tidur barang sekejap mata, tersiksa hati rindu rendam." Suminten lalu menjatuhkan diri di dekat kaki sang prabu, menyembah.

Raja tua itu mendekap kepala itu, menariknya ke atas pangkuannya, lalu menggunakan kedua telapak tangan memegang pipi yang kemerahan, menengadahkan muka yang manis itu, terpesona oleh keindahan yang dilihatnya, kemudian sang prabu menunduk, membungkuk dan mencium kening yang menjelirit indah, penuh kemesraan dan kasih sayang.
"Wahai, manisku yang tercinta, kalau sudah mendengar ucapanmu, meraba kulitmu, menciummu, aku lupa bahwa aku sudah tua dan agaknya aku tidak akan mau mati sampai seribu tahun lagi!" Suminten memeluk pinggang junjungannya dan membenamkan mukanya di atas pangkuan. Ia muak, seperti pada malam pertama ia diperisteri raja tua ini. Muak ia kalau dicium dan merasa betapa jenggot dan kumis panjang, kasar dan beruban itu mengusap-usap kulit mukanya yang halus lunak. Di dalam pangkuan, ia berjebi, dan kali ini bukan berjebi manja, melainkan berjebi sungguh-sungguh karena hatinya mengkal dan mencemoohkan. Hatinya berbisik gemas,
"Huh, tua bangka, siapa sih yang ingin melihat engkau tidak segera mampus? Akan tetapi jangan kau mampus dulu karena hanya melalui kebodohanmu sajalah cita-citaku akan tercapai. Kalau sudah tercapai, tidak ingin mampus pun akan kuusahakan supaya kau segera mampus, kau tua bangka menjemukan!"
Akan tetapi, ia segera dapat menindas perasaan hatinya ini dan dengan muka penuh keharuan dan penuh cinta kasih ia menengadah, memandang wajah sang prabu, dua titik air mata yang jernih tergantung pada bulu mata yang lentik panjang.
"Aduhai, gusti junjungan hamba! Mengapa paduka bicara tentang mati? Hambalah orang pertama yang siang malam berdoa dan memohon kepada para dewata semoga paduka dianugerahi panjang usia dan takkan berpisah dari sisi hamba selama hamba masih hidup."
"Wah ... , adindaku, jantung hatiku yang tiada keduanya di dunia ini! Betapa besar rasa syukur dan terima kasihku kepada para dewata yang menganugerahi aku di hati tuaku dengan seorang den ayu seperti engkau!" Sang prabu yang masih kuat itu menarik tubuh Suminten, didudukkannya wanita itu di atas pangkuannya dan mulailah mereka bercumbu dan berkasih mesra. Pandang mata sang prabu berpesta menjelajahi tubuh yang denok montok itu, yang memang sengaja ditonjol-tonjolkan bagian-bagian yang menarik oleh Suminten di kala ia berdandan tadi. Suminten yang semuda itu sudah amat ahli dalam merayu, membuat sri baginda mabuk dengan belaian-belaian sepuluh jari tangannya yang halus dan hidup merayap-rayap, membelai dan mengusap penuh kasih, dengan pelukan-pelukan ketat, dengan ciuman-ciuman manja dan panas bernafsu sampai raja tua itu terengah-engah dibakar nafsunya sendiri kemudian memondong tubuh selirnya dibawa ke peraduan yang dibuat daripada emas bertilam sutera dan berbau harum. Suminten pandai menyimpan rahasianya, juga pandai menekan perasaan. Ia melayani sang prabu seperti seorang selir yang benar-benar mencinta. Ia menanti saat dan kesempatan baik, dan sampai jauh malam setelah sang prabu merem melek menikmati pijatan jari-jari tangan halus itu pada kedua kaki tuanya yang lelah, Suminten masih belum menyampaikan hasrat yang terkandung di hatinya, sesuai dengan rencana yang dibuatnya sejak siang tadi ia melakukan perundingan rahasia dengan Pangeran Kukutan. Rencananya dilakukan semenjak tadi ia berdandan mempersolek diri, merupakan sebagian siasatnya untuk menjatuhkan hati sang prabu.

Melihat betapa tekunnya wanita cantik manis itu memijati betis dan pahanya, sang prabu menghela napas penuh kepuasan, lalu berbisik,
"Suminten, betapa aku mencintamu ....“
Saat yang amat baik telah tiba dan Suminten menahan isak, kemudian kedua tangannya berhenti memijati kaki dan digunakan untuk menutupi mukanya. Ia terisak dan air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya. Sang prabu terkejut dan cepat bangun, merangkul leher kekasihnya.
"Eh, eh, ada apakah, Suminten? Mengapa engkau meruntuhkan waspa (air mata), kekasihku?" Suminten makin sesenggukan, menyembunyikan mukanya di dada sang prabu.
"Hati hamba amat terharu... dan justeru karena kekalnya cinta kasih antara kita.... menimbulkan hal-hal yang tidak enak... karena mereka menjadi iri hati”
"Eh, siapakah? Siapa iri hati kepadamu?"
"Paduka tentu maklum. Sudah terbuktl desas-desus yang dikeluarkan oleh mulut kurang ajar Adipati Wirabayu dan Empu Adisastra“
"Hemm, tenangkan hatimu. Bukankah mereka telah kutangkap dan dijebloskan dalam penjara?"
"Benar, gusti hamba yang tercinta. Akan tetapi apa gunanya? Mereka itu malah makin mendendam ...hamba orang yang hina-dina dan celaka ... dibenci oleh banyak orang karena iri hati”
"Eh, siapa pula berani? Aku sendiri akan melindungimu, kekasih manis. Siapapun dia yang membencimu akan berhadapan dengan aku sendiril" seru sang prabu dengan nada menantang dan marah.
"Ah, gusti sesembahan hamba yang hamba cinta dengan seluruh jiwa raga hamba.... , tidak sedetikpun hamba meragukan kasih sayang paduka..... akan tetapi, mereka itu orang-orang terpenting, termasuk Ki Patih Brotomenggala yang menjadi orang pertama dengan antek-anteknya, para tumenggung dan adipati .....dan bahkan beberapa orang pangeran juga membenci hamba ....di bawah lindungan gusti ayu ratu sendiri”
"Hemmm, hanya dugaanmu saja, Suminten. Mereka tidak membencimu!"
"Hamba seorang wanita. Perasaan hamba dapat mengetahui, biarpun mereka tidak secara berterang menyatakan benci karena takut kepada paduka. Akan tetapi cara mereka memandang hamba, dan desas-desus di luaran, para abdi sudah mengetahui semua ...ah, betapa akan lega hati hamba kalau hamba dapat membalas mereka semua!"
Sang prabu benar-benar terkejut. Dipegangnya pundak kekasihnya dan dipaksanya wanita itu memandangnya.
"Suminten!. Apa yang kaukatakan ini? Mereka .... mereka adalah keluargaku, isteriku dan putera-puteraku, dan ponggawa-ponggawa tinggi yang setia ....!’ Suminten menangis makin mengguguk, kemudian ia melepaskan rangkulan sang prabu, melorot turun sambil menangis lalu berlutut di depan pembaringan sambil menyembah-nyembah.
"Ampunkan hamba, gusti. Sungguh hamba tidak tahu diri! Mereka adalah orang-orang berjasa dan setia dan pandai, sedangkan hamba? Ah, hamba hanya orang sudera, rendahan hina, bodoh dan canggung. Hamba tidak punya apa-apa, hanya punya cinta kasih, hamba merelakan badan dan nyawa ini ....paduka bunuh saja hamba sekarang juga, agar paduka tidak menjadi pusing karena urusan mereka membenci hamba" Suminten terisak-isak.
"Hushhh ..hushhhh .. kau kekasihku, omongan apa ini? Ke sinilah dan hentikan tangismu" Sang prabu menarik tubuh kekasihnya, merangkul dan memangkunya. Diusapnya air mata yang membasahi pipi yang montok, diciumnya mulut yang terisak, lalu sang prabu tersenyum, bertanya,
"Suminten, habis apa yang kau ingin kulakukan? Menangkapi mereka semua? Kakang patih, permaisuri, para adipati dan tumenggung, bahkan para pangeran?"
Suminten menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan nada sedih,
"Hamba bukan seorang yang tidak tahu diri, gusti. Tidak, hamba tidak menghendaki sejauh itu. Hanya tentu saja hamba merasa sengsara hidup ini kalau dijadikan bahan percakapan mereka yang membenci, padahal di dalam hati hamba, tiada rasa benci kecuali keinginan hendak melayani paduka sepenuh cinta kasih, membahagiakan paduka dengan setia“
Sang prabu mengecup bibir yang mengeluarkan ucapan semanis itu.
"Habis, apa kehendakmu sekarang, Suminten?"
"Dua orang bedebah itu, gusti Si Wirabayu dan Adisatra.... , mereka membuat desas-desus bahwa hamba telah menjatuhkan guna-guna atas diri paduka, bahwa hamba meracuni hidup paduka, melemahkan Kerajaan Jenggala. Untung ada putera paduka yang amat setia dan berbakti, anak Pangeran Kukutan yang dapat membongkar kejahatan mereka. Kalau tidak, dan sampai rakyat mempercaya desas-desus itu, bukankah mencelakakan hamba dan merendahkan nama paduka?"
"Mereka sudah ditangkap, manis..”
"Tidak, mereka harus dihukum mati, gusti. Mereka telah menghina paduka dan kalau mereka tidak dihukum mati di alun-alun, yang lain-lain tidak akan menjadi takut! Kewibawaan paduka akan terancam dan untuk memulihkan kewibawaan paduka, jalan satu-satunya hanya menghukum mati mereka yang telah menghina paduka." Berubah wajah sang prabu.
"Tapi .... tapi .... Wirabayu adalah anak mantu kakang Patih Brotomenggala..... dan .... dan kakang Empu Adisastra banyak jasanya dalam kesenian“
Kembali Suminten menangis.
"Sudahlah, hendaknya paduka bunuh saja hambamu ini, gusti ...sudah hamba katakan tadi, hamba tiada jasa, hamba tiada guna ..., silahkan paduka tusuk saja dada ini dengan pusaka paduka....’ Suminten menarik penutup dadanya, menantang. Akan tetapi perbuatan ini bahkan membuat sang prabu terpesona. Tiada bosannya sang prabu mengagumi tubuh yang muda dan indah itu. Ia memeluk mesra.
"Baiklah, kekasihku ....baiklah memang kau benar, mereka harus dijadikan contoh untuk mengembalikan kewibawaanku, agar tidak ada orang berani lagi menghinamu ....!!”
"Menghina paduka, bukan hamba ..." kata Suminten manja sambil memeluk dan kembali dengan pandainya wanita ini mencumbu sehingga sang prabu menjadi makin mabuk. Jin setan dan iblis brekasakan yang meliar di malam hari itu berpesta pora, bersorak gembira melihat hasil kemenangan nafsu kejahatan ini.

Alun-alum penuh rakyat, berjejal-jejal. Hendak menyaksikan hukuman mati atas diri Adipati Wirabayu dan Empu Adisastra. Bagian pengawal menjaga di sekeliling alun-alun, mencegah rakyat mendekati tempat pelaksanaan hukuman.

<<< Bagian 080                                                                                   Bagian 082 >>>

No comments:

Post a Comment