Akan tetapi begitu mendengar bahwa Suminten akan datang, tiba-tiba saja si lembu berubah menjadi singa! Sinar mata yang tadinya tenang tenteram merem melek, kini terbuka lebar, bersinar-sinar dan wajah yang tua itu berseri penuh nafsu. Dengan tak sabar sang prabu lalu menggunakan kata-kata dan isyarat, mengusir semua emban dan membersihkan semua bekas hidangan. Ia sendiri lalu duduk di kamar kosong, duduk di atas kursi empuk, memandang dengan penuh kegembiraan ke arah pintu, semua urat syaraf di tubuh menegang seperti biasanya kalau ia akan didekati Suminten!
Pandang mata sang prabu
makin bersinar dan kini mata itu terbelalak penuh kagum ketika selirnya
tercinta memasuki kamar dari pintu yang terbuka dari luar. Daun pintu tertutup
kembali dan Suminten menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dengan gerakan
lemah gemulai sehingga mempertontonkan keindahan tubuhnya dengan jelas oleh
gerakan-gerakan terlatih.
"Bangunlah
...bangunlah... dan berjalanlah ... perlahan-lahan ke sini, juitaku. Aku ingin
melihat engkau melenggang" Sang prabu menggerak-gerakkan kedua lengannya
seperti hendak mengangkat Suminten bangun.
Suminten menengadah sehingga
wajahnya tampak sepenuhnya oleh sang prabu. Mulut yang semringah merah segar
itu agak terbuka, mengarah senyum, mata mengerling penuh hasrat, hidung kecil
mungil itu agak bergerak cupingnya kemudian Suminten menyembah dan bangkit
berdiri. Tidak sembarangan saja ia bangun ini, melainkan diaturnya, seperti
bangkitnya seorang penari, memakai irama, memakai aturan sehingga setiap gerak,
setiap perubahan tubuh tampak menarik menggairahkan.
Kemudian wanita cantik manis
yang amat cerdik ini melangkah maju, dengan langkah-langkah kecil, setiap
melangkah kaki menyilang ke depan, tumit diangkat, maka tampaklah penglihatan
yang mempesonakan. Tubuh dari pinggang ke atas tegak dan kelihatan agung, akan
tetapi dari pinggang ke bawah, seluruhnya merupakan pergerakan yang seratus
prosen menonjolkan sifat kewanitaan yang halus lunak, lemas dan memikat. Karena
tumit diangkat melangkah, maka buah pinggul meninggi, dan karena kaki menyilang
ke depan setiap langkah, pinggul itu melenggang-lenggok seperti pinggul
harimau, pinggang yang ramping itu mematah ke kanan kiri seolah-olah tidak
bertulang, seperti tubuh ular, ayunan lengan, tapak semua mengandung keindahan
seni menggairahkan, ditambah suara ujung kain perlahan-lahan setiap melangkah,
seperti daun-daun bambu bersendau-gurau membislkkan janji-janji yang muluk
membakar nafsu berahi.
Sebetulnya sang prabu yang sudah
tua itu merasa tubuhnya lelah dan matanya mengantuk. Akan tetapi melihat
Suminten, lenyap rasa kantuknya seperti mencuci muka dengan air wayu, timbul
seleranya seperti orang mengandung melihat rujak jeruk yang masam manis dan
pedas! Diam-diam sang prabu merasa amat heran mengapa setelah menyelir wanita
ini sampai bertahun-tahun, setiap kali melihat Suminten selalu timbul
hasratnya, tak pernah merasa bosan, bahkan makin lama makin terpikat dan
melekat, seperti orang ketagihan candu.
"Duhai Suminten, wong
ayu denok montok, kedatanganmu seperti munculnya matahari di musim hujan,
seperti jatuhnya hujan di musim kering! Ke sinilah, manis, mendekatlah agar
terobat rasa rindu hatiku!" Suminten mencibirkan bibir bawahnya yang penuh
merah dengan sikap manja dan centil, mengerling dan kemudian tersenyum.
"Duh, sinuhun pujaan
hamba! Baru dua malam yang lalu hamba menemani paduka, akan tetapi entah
mengapa, dua malam berpisahan dengan paduka hamba tidak dapat tidur barang
sekejap mata, tersiksa hati rindu rendam." Suminten lalu menjatuhkan diri
di dekat kaki sang prabu, menyembah.
Raja tua itu mendekap kepala
itu, menariknya ke atas pangkuannya, lalu menggunakan kedua telapak tangan
memegang pipi yang kemerahan, menengadahkan muka yang manis itu, terpesona oleh
keindahan yang dilihatnya, kemudian sang prabu menunduk, membungkuk dan mencium
kening yang menjelirit indah, penuh kemesraan dan kasih sayang.
"Wahai, manisku yang
tercinta, kalau sudah mendengar ucapanmu, meraba kulitmu, menciummu, aku lupa
bahwa aku sudah tua dan agaknya aku tidak akan mau mati sampai seribu tahun
lagi!" Suminten memeluk pinggang junjungannya dan membenamkan mukanya di
atas pangkuan. Ia muak, seperti pada malam pertama ia diperisteri raja tua ini.
Muak ia kalau dicium dan merasa betapa jenggot dan kumis panjang, kasar dan
beruban itu mengusap-usap kulit mukanya yang halus lunak. Di dalam pangkuan, ia
berjebi, dan kali ini bukan berjebi manja, melainkan berjebi sungguh-sungguh
karena hatinya mengkal dan mencemoohkan. Hatinya berbisik gemas,
"Huh, tua bangka, siapa
sih yang ingin melihat engkau tidak segera mampus? Akan tetapi jangan kau
mampus dulu karena hanya melalui kebodohanmu sajalah cita-citaku akan tercapai.
Kalau sudah tercapai, tidak ingin mampus pun akan kuusahakan supaya kau segera mampus,
kau tua bangka menjemukan!"
Akan tetapi, ia segera dapat
menindas perasaan hatinya ini dan dengan muka penuh keharuan dan penuh cinta
kasih ia menengadah, memandang wajah sang prabu, dua titik air mata yang jernih
tergantung pada bulu mata yang lentik panjang.
"Aduhai, gusti
junjungan hamba! Mengapa paduka bicara tentang mati? Hambalah orang pertama
yang siang malam berdoa dan memohon kepada para dewata semoga paduka
dianugerahi panjang usia dan takkan berpisah dari sisi hamba selama hamba masih
hidup."
"Wah ... , adindaku,
jantung hatiku yang tiada keduanya di dunia ini! Betapa besar rasa syukur dan
terima kasihku kepada para dewata yang menganugerahi aku di hati tuaku dengan
seorang den ayu seperti engkau!" Sang prabu yang masih kuat itu menarik tubuh
Suminten, didudukkannya wanita itu di atas pangkuannya dan mulailah mereka
bercumbu dan berkasih mesra. Pandang mata sang prabu berpesta menjelajahi tubuh
yang denok montok itu, yang memang sengaja ditonjol-tonjolkan bagian-bagian
yang menarik oleh Suminten di kala ia berdandan tadi. Suminten yang semuda itu
sudah amat ahli dalam merayu, membuat sri baginda mabuk dengan belaian-belaian
sepuluh jari tangannya yang halus dan hidup merayap-rayap, membelai dan
mengusap penuh kasih, dengan pelukan-pelukan ketat, dengan ciuman-ciuman manja
dan panas bernafsu sampai raja tua itu terengah-engah dibakar nafsunya sendiri
kemudian memondong tubuh selirnya dibawa ke peraduan yang dibuat daripada emas
bertilam sutera dan berbau harum. Suminten pandai menyimpan rahasianya, juga
pandai menekan perasaan. Ia melayani sang prabu seperti seorang selir yang
benar-benar mencinta. Ia menanti saat dan kesempatan baik, dan sampai jauh
malam setelah sang prabu merem melek menikmati pijatan jari-jari tangan halus
itu pada kedua kaki tuanya yang lelah, Suminten masih belum menyampaikan hasrat
yang terkandung di hatinya, sesuai dengan rencana yang dibuatnya sejak siang
tadi ia melakukan perundingan rahasia dengan Pangeran Kukutan. Rencananya
dilakukan semenjak tadi ia berdandan mempersolek diri, merupakan sebagian
siasatnya untuk menjatuhkan hati sang prabu.
Melihat betapa tekunnya
wanita cantik manis itu memijati betis dan pahanya, sang prabu menghela napas
penuh kepuasan, lalu berbisik,
"Suminten, betapa aku
mencintamu ....“
Saat yang amat baik telah
tiba dan Suminten menahan isak, kemudian kedua tangannya berhenti memijati kaki
dan digunakan untuk menutupi mukanya. Ia terisak dan air mata mengalir dari
celah-celah jari tangannya. Sang prabu terkejut dan cepat bangun, merangkul leher
kekasihnya.
"Eh, eh, ada apakah,
Suminten? Mengapa engkau meruntuhkan waspa (air mata), kekasihku?"
Suminten makin sesenggukan, menyembunyikan mukanya di dada sang prabu.
"Hati hamba amat
terharu... dan justeru karena kekalnya cinta kasih antara kita.... menimbulkan
hal-hal yang tidak enak... karena mereka menjadi iri hati”
"Eh, siapakah? Siapa
iri hati kepadamu?"
"Paduka tentu maklum.
Sudah terbuktl desas-desus yang dikeluarkan oleh mulut kurang ajar Adipati
Wirabayu dan Empu Adisastra“
"Hemm, tenangkan hatimu.
Bukankah mereka telah kutangkap dan dijebloskan dalam penjara?"
"Benar, gusti hamba
yang tercinta. Akan tetapi apa gunanya? Mereka itu malah makin mendendam
...hamba orang yang hina-dina dan celaka ... dibenci oleh banyak orang karena
iri hati”
"Eh, siapa pula berani?
Aku sendiri akan melindungimu, kekasih manis. Siapapun dia yang membencimu akan
berhadapan dengan aku sendiril" seru sang prabu dengan nada menantang dan
marah.
"Ah, gusti sesembahan
hamba yang hamba cinta dengan seluruh jiwa raga hamba.... , tidak sedetikpun
hamba meragukan kasih sayang paduka..... akan tetapi, mereka itu orang-orang
terpenting, termasuk Ki Patih Brotomenggala yang menjadi orang pertama dengan
antek-anteknya, para tumenggung dan adipati .....dan bahkan beberapa orang
pangeran juga membenci hamba ....di bawah lindungan gusti ayu ratu sendiri”
"Hemmm, hanya dugaanmu
saja, Suminten. Mereka tidak membencimu!"
"Hamba seorang wanita.
Perasaan hamba dapat mengetahui, biarpun mereka tidak secara berterang
menyatakan benci karena takut kepada paduka. Akan tetapi cara mereka memandang
hamba, dan desas-desus di luaran, para abdi sudah mengetahui semua ...ah,
betapa akan lega hati hamba kalau hamba dapat membalas mereka semua!"
Sang prabu benar-benar
terkejut. Dipegangnya pundak kekasihnya dan dipaksanya wanita itu memandangnya.
"Suminten!. Apa yang
kaukatakan ini? Mereka .... mereka adalah keluargaku, isteriku dan
putera-puteraku, dan ponggawa-ponggawa tinggi yang setia ....!’ Suminten
menangis makin mengguguk, kemudian ia melepaskan rangkulan sang prabu, melorot
turun sambil menangis lalu berlutut di depan pembaringan sambil
menyembah-nyembah.
"Ampunkan hamba, gusti.
Sungguh hamba tidak tahu diri! Mereka adalah orang-orang berjasa dan setia dan
pandai, sedangkan hamba? Ah, hamba hanya orang sudera, rendahan hina, bodoh dan
canggung. Hamba tidak punya apa-apa, hanya punya cinta kasih, hamba merelakan
badan dan nyawa ini ....paduka bunuh saja hamba sekarang juga, agar paduka
tidak menjadi pusing karena urusan mereka membenci hamba" Suminten
terisak-isak.
"Hushhh ..hushhhh ..
kau kekasihku, omongan apa ini? Ke sinilah dan hentikan tangismu" Sang
prabu menarik tubuh kekasihnya, merangkul dan memangkunya. Diusapnya air mata
yang membasahi pipi yang montok, diciumnya mulut yang terisak, lalu sang prabu
tersenyum, bertanya,
"Suminten, habis apa
yang kau ingin kulakukan? Menangkapi mereka semua? Kakang patih, permaisuri,
para adipati dan tumenggung, bahkan para pangeran?"
Suminten
menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan nada sedih,
"Hamba bukan seorang
yang tidak tahu diri, gusti. Tidak, hamba tidak menghendaki sejauh itu. Hanya
tentu saja hamba merasa sengsara hidup ini kalau dijadikan bahan percakapan
mereka yang membenci, padahal di dalam hati hamba, tiada rasa benci kecuali keinginan
hendak melayani paduka sepenuh cinta kasih, membahagiakan paduka dengan setia“
Sang prabu mengecup bibir
yang mengeluarkan ucapan semanis itu.
"Habis, apa kehendakmu
sekarang, Suminten?"
"Dua orang bedebah itu,
gusti Si Wirabayu dan Adisatra.... , mereka membuat desas-desus bahwa hamba
telah menjatuhkan guna-guna atas diri paduka, bahwa hamba meracuni hidup
paduka, melemahkan Kerajaan Jenggala. Untung ada putera paduka yang amat setia
dan berbakti, anak Pangeran Kukutan yang dapat membongkar kejahatan mereka.
Kalau tidak, dan sampai rakyat mempercaya desas-desus itu, bukankah
mencelakakan hamba dan merendahkan nama paduka?"
"Mereka sudah
ditangkap, manis..”
"Tidak, mereka harus
dihukum mati, gusti. Mereka telah menghina paduka dan kalau mereka tidak dihukum
mati di alun-alun, yang lain-lain tidak akan menjadi takut! Kewibawaan paduka
akan terancam dan untuk memulihkan kewibawaan paduka, jalan satu-satunya hanya
menghukum mati mereka yang telah menghina paduka." Berubah wajah sang
prabu.
"Tapi .... tapi ....
Wirabayu adalah anak mantu kakang Patih Brotomenggala..... dan .... dan kakang
Empu Adisastra banyak jasanya dalam kesenian“
Kembali Suminten menangis.
"Sudahlah, hendaknya
paduka bunuh saja hambamu ini, gusti ...sudah hamba katakan tadi, hamba tiada
jasa, hamba tiada guna ..., silahkan paduka tusuk saja dada ini dengan pusaka
paduka....’ Suminten menarik penutup dadanya, menantang. Akan tetapi perbuatan
ini bahkan membuat sang prabu terpesona. Tiada bosannya sang prabu mengagumi
tubuh yang muda dan indah itu. Ia memeluk mesra.
"Baiklah, kekasihku
....baiklah memang kau benar, mereka harus dijadikan contoh untuk mengembalikan
kewibawaanku, agar tidak ada orang berani lagi menghinamu ....!!”
"Menghina paduka, bukan
hamba ..." kata Suminten manja sambil memeluk dan kembali dengan pandainya
wanita ini mencumbu sehingga sang prabu menjadi makin mabuk. Jin setan dan
iblis brekasakan yang meliar di malam hari itu berpesta pora, bersorak gembira
melihat hasil kemenangan nafsu kejahatan ini.
Alun-alum
penuh rakyat, berjejal-jejal. Hendak menyaksikan hukuman mati atas diri Adipati
Wirabayu dan Empu Adisastra. Bagian pengawal menjaga di sekeliling alun-alun,
mencegah rakyat mendekati tempat pelaksanaan hukuman.
No comments:
Post a Comment