Perawan Lembah Wilis; Bagian 080



Ia sengaja berlaku lambat, seolah-olah membiarkan dua batang golok dari kanan kiri itu menggunting tubuhnya. Akan tetapi pada detik terakhir, tiba-tiba tubuhnya menyelinap secepat kilat ke belakang, sehingga tak dapat dicegah lagi dua batang golok dari kanan kiri saling bertemu di udara.
"Cringgggg ....!!"
Keras sekali pertemuan kedua batang golok itu sehingga muncratlah bunga api dan dua batang golok itu terlepas dari pegangan tangan kedua orang kepala rampok. Kakak beradik ini memiliki tenaga yang seimbang dan karena tadi mereka mengeluarkan seluruh tenaga, maka begitu kedua batang golok bertemu, mereka merasa betapa lengan kanan mereka lumpuh dan tidak kuat memegang golok masing-masing. Pada saat mereka menjadi kaget dan menyesal mengapa golok mereka beradu dengan golok saudara sendiri, tiba-tiba Nogowilis dan Lembuwilis berteriak keras, merasa kepala mereka disambar petir yang membuat kepala terasa panas dan pening, mata berkunang dan bumi yang diinjak serasa berputaran. Mereka terhuyung, mempertahankan diri, namun tidak kuat dan akhirnya kedua orang kepala rampok yang kuat ini roboh terguling, memegangi kepala yang kena tampar Aji Pethit Nogo tadi sambil mengerang kesakitan. Limanwilis cepat menyerbu, membacokkan goloknya ke arah kepala Endang Patibroto. Wanita sakti ini tidak bergerak dari tempatnya, berdiri tegak dan begitu golok meluncur datang, ia hanya miringkan tubuh dan dari arah samping, tangan kirinya dengan jari-jari penuh Aji Pethit Nogo menyambar ke arah golok.
"Krakkk!!" Golok di tangan Limanwilis itu tinggal sepotong, patah terkena tangkisan Aji Pethit Nogo. Limanwilis terbelalak kaget, heran dan kagum. Ia membuang sisa goloknya, menoleh ke arah kedua orang adiknya yang sudah bangun dan duduk melongo menyaksikan kekalahan kakak mereka, kemudian membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada Endang Patibroto sambil berkata,
"Kepandaian andika memang hebat, kami mengaku kalah. Wanita perkasa, kalau boleh kami mengetahui, siapakah gerangan andika?"
"Namaku Endang Patibroto dan ini adikku Setyaningsih."
Mendengar disebutnya nama ini, tiga orang kepala rampok, dan juga anak buah mereka, mengeluarkan seruan kaget dan memandang dengan mata terbelalak.
"Endang Patibroto ....senopati puteri dan juga puteri mantu Jenggala yang sakti mandraguna dan telah menggegerkan jagat (dunia) itu!”

Endang Patibroto tersenyum masam, lalu mengangguk.
"Bekas senopati dan bekas puteri mantu Jenggala, sekarang tidak lagi. Sekarang aku menjadi pemilik Gunung Wills dan kalian menjadi anak buahku. Ataukah .....kalian tidak mau dan lebih baik minggat pergi dari sini?"
Limanwilis dan kedua orang adiknya sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Endang Patibroto. Demikian pula semua anak buah perampok sudah menjatuhkan diri berlutut. Limanwilis mewakili semua temannya berkata,
"Harap paduka suka memberi ampun kepada kami semua. Sungguh kami tidak menyangka bahwa paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto yang sudah terkenal sejak dahulu. Kalau memang paduka berkenan hendak berdiam di Wilis, tentu saja kami siap untuk mentaati segala perintah paduka dan kami menyerahkan jiwa raga kami ke dalam kekuasaan paduka. Percayalah gusti, kami Gerombolan Wills bukanlah sembarangan perampok dan tahu akan arti setia."
Endang Patibroto tersenyum girang, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus sekali, kakang Limanwilis dan hatiku amat girang mendengar kesanggupan kalian. Ketahuilah kalian semua! Aku bersama adik kandungku ini sekarang tiada keluarga lagi dan seperti kukatakan tadi, aku senang sekali melihat keadaan Gunung Wilis, maka kami berdua mengambil keputusan untuk menetap di tempat ini. Kalau kalian suka menjadi anak buahku, baiklah. Aku akan tinggal di puncak, buatkan pondok untuk kami. Tempat ini akan kunamakan Padepokan Wilis yang wilayahnya meliputi seluruh daerah Gunung Wilis. Kalian semua adalah anak buah Padepokan Wills, bukan Gerombolan Wilis lagi yang mulai saat ini kububarkan! Kalian bukan perampok-perampok dan aku bukan kepala rampok! Kalian mulai saat ini adalah satria-satria Wilis yang tidak boleh merampok. Daerah Wilis ini amat luas dan amat subur, kita dapat hidup bertani dan berburu binatang hutan. Penduduk pegunungan ini tidak boleh diganggu karena mereka adalah rakyat kita! Kita harus mengangkat Padepokan Wilis sehingga dunia akan tahu bahwa di sini adalah tempat tinggal orang-orang gagah perkasa. Kalian semua selain menjadi anak buah padepokan Wilis, juga akan menerima gemblengan yang akan kuturunkan melalui ketiga kakang Wilis. Mengerti?"
Semua orang bekas perampok yang jumlahnya hampir seratus orang itu bersorak gembira. Siapa orangnya tidak akan berbesar hati kalau sekaligus derajat mereka diangkat dari "perampok" menjadi "satria"?
Beramai-ramai para bekas perampok ini lalu membangun padepokan untuk Endang Patibroto dan Setyaningsih, juga membuat pondok-pondok untuk mereka di lereng bawah puncak. Kemudian mereka membuka hutan, mengerjakan sawah, mencangkul dan bercocok tanam. Mulai saat itu, lahirlah Padepokan Wilis di mana Endang Patibroto hidup dengan tenang dan tenteram bersama adik kandungnya, memimpin seratus orang laki-laki yang amat setia. Beberapa bulan kemudian, terlahir pula anak yang dikandung Endang Patibroto, seorang anak perempuan yang sehat dan mungil, yang tangisnya mengejutkan para laki-laki gagah anak buah Padepokan Wilis karena amat nyaring, yang rambutnya hitam panjang dan subur, dengan sepasang mata yang mengeluarkan sinar tajam sebagai tanda bahwa anak ini bukanlah anak biasa. Para anak buah Padepokan Wilis menyambut kelahiran anak ini dengan penuh kegembiraan, dengan pesta reog dan tari-tarian. Keluarga bekas perampok yang kini otomatis juga tinggal di lereng dan menjadi anggota-anggota Padepokan Wilis, menyelenggarakan pesta itu sehingga cukup meriah, dikunjungi pula oleh penduduk sekitar Wilis yang tidak berapa banyak jumlahnya. Maka terlahirlah Retno Wilis, demikian nama anak itu. Retno Wilis, anak Gunung Wilis, yang sejak kecil oleh ibunya telah diberi pakaian serba hijau warnanya, sesuai dengan namanya dan tempat tinggalnya karena Wilis berarti Hijau.

Suminten menghadapi cermin, berhias sambil rengeng-rengeng (bersenandung). Hatinya merasa puas sekali dengan kemajuan-kemajuan yang dicapainya. Ia telah berhasil baik dengan bantuan Pangeran Kukutan yang menjadi pembantu amat setia. Ia maklum bahwa Ki Patih Brotomenggala dengan kawan-kawannya merupakan ancaman dan musuh berbahaya baginya. Namun, dengan bantuan Kukutan, ia telah mulai dapat menanam kecurigaan dan ketidakpercayaan sang prabu terhadap para pembesar ini. Beberapa hari yang lalu, rencananya bersama Kukutan telah berhasil baik sekali. Dua orang di antara pembantu ki patih yang merupakan orang-orang kuat dan berbahaya, yaitu Adipati Wirabayu mantu Ki Patih Brotomenggala dan Empu Adisastra, telah ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan! Suminten menatap bayangan wajahnya yang manis di dalam cermin. Digosok-gosoknya pipinya yang terhias tahi lalat hitam kecil di sebelah kiri, di atas mulut, sampai kedua pipi yang halus itu menjadi kemerahan seperti jambu matang. Digerak-gerakkan bibirnya sehingga dapat membentuk mulut yang menggairahkan, bibir yang menantang dan yang ia tahu akan menundukkan hati sang prabu. Diaturnya sinom (anak rambut) di dahi dan depan telinga. Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul lepas- lepas di belakang tengkuk, seperti lingkaran ular yang malas, dan dihias bunga melati setelah ia gosok dengan sari kembang melati sehingga berbau harum wangi.
Bunga air mawar yang tadi ia pakai untuk mandi dan mencuci tubuh, membuat tubuhnya berbau sedap dan segar seperti setangkai mawar yang semerbak harum. Suminten tersenyum, mengagumi wajahnya sendiri di dalam cermin, lalu melirik ke arah tubuhnya dengan pandang mata bangga. Memang tubuhnya patut dibanggakan, tubuhnya yang muda, belum dua puluh tahun, padat dan amat
dikagumi sang prabu. Ia tersenyum lagi penuh kebanggaan dan kepuasan, lalu menarik kain penutup buah dada agak ke bawah agar lebih banyak lagi bagian buah dada yang sebelah atas tampak. Kali ini ia harus benar-benar mempergunakan seluruh keindahan wajah dan tubuhnya untuk mengalahkan sang prabu, untuk mencapai tujuannya. Ia harus dapat membuat sang prabu mabuk, lebih mabuk daripada yang sudah-sudah agar segala yang dimintanya akan dikabulkan.
Suminten bangkit berdiri. Kini tampak betapa tubuhnya benar-benar amat menggairahkan. Tinggi semampai dengan lekuk-lengkung sempurna, padat berisi, semua bagian tampak halus lunak namun mengkal berisi seperti buah mangga muda matang ati. Sekali lagi ia meneliti keadaan dirinya, memandangan bayangan tubuhnya dari segala jurusan, berputaran di depan cermin, lalu ia tersenyum puas dan bertepuk tangan memberi isyarat kepada pada abdinya bahwa mereka kini boleh memasuki kamarnya. Tiga orang emban yang muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi kelihatan sederhana kalau dibandingkan dengan Suminten yang gemilang, memasuki kamar itu dengan langkah gemulai dengan tersenyum-senyum genit. Mereka itu tanpa diperintah lalu sibuk mengelilingi junjungan mereka, ada yang membetulkan letak kain, ada yang hendak memperbaiki letak rambut dan mulut mereka memuji-muji dengan sikap menjilat.
"Hish, jangan lancang! Rambut dan riasanku sudah baik semua, jangan diganggu! Kalian ini merusak saja, selera kalian mana cocok dengan seleraku?"
Suminten adalah bekas seorang emban, abdi dalem mendiang Pangeran Panjirawit dan isterinya. Karena inilah agaknya maka setelah kini menduduki tempat tinggi di samping sang prabu, ia masih belum dapat melenyapkan sifatnya yang suka bersendau-gurau dengan para abdinya seperti terhadap kawan-kawan sendiri. Hal ini amat menyenangkan hati para abdinya yang membuat mereka makin cinta dan setia. Memang pandai sekali Suminten mengambil hati para pembantunya. Para emban yang ditegur itu tersenyum-senyum dan melontarkan kata-kata pujian yang bukan penjilatan semata karena memang pada saat itu Suminten tampak amat cantik manis menarik hati. Jumlah para emban yang mengabdi kepada Suminten ada tujuh orang dan mereka ini kesemuanya telah bersumpah setia kepada Suminten. Mereka ini pula yang tempo hati telah membuat kesaksian palsu untuk menjatuhkan Puteri Sekarmadu. Mereka yakin bahwa hidup mati mereka, suka-duka mereka, bahagia sengsara mereka terletak di tangan Suminten, oleh karena itu mereka amat setia dan ingin sehidup semati dengan junjungan ini yang mereka percaya penuh keyakinan pasti akan menanjak kedudukannya dan menjadi seorang yang paling berkuasa di Jenggala kelak. Dengan demikian, nasib mereka pun sudah boleh dipastikan akan menjadi makin baik. Siapa tahu kelak mereka itupun akan diangkat menjadi puteri-puteri yang terhormat seperti halnya Suminten yang dahulupun hanya seorang emban seperti mereka.
"Sudahlah, simpan segala puji-pujian itu untuk lain kali, emban. Lebih baik lekas kalian pergi menemui pengawal pribadi yang menjaga kamar peraduan sang prabu, katakan bahwa aku hendak menghadap sang prabu sekarang juga."
Tiga orang emban yang cantik itu tersenyum-senyum. Mereka selalu merasa girang kalau disuruh menemui para pengawal yang gagah-gagah dan ganteng-ganteng itu, dan kesempatan-kesempatan seperti itu tentu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk bersendau-gurau dengan para pengawal. Berlari-larilah mereka seperti anak-anak nakal keluar dari kamar Suminten untuk menyampaikan perintah junjungan mereka. Memang amat besar kekuasaan Suminten. Belum pernah sebelumnya seorang isteri selir dapat menghadap sang prabu begitu saja tanpa dipanggil, setiap saat yang dikehendakinya! Bahkan sang permaisuri sekalipun tidak pernah atau jarang sekali mempergunakan kekuasaan seperti ini. Hebatnya, bukan hanya sang prabu sendiri yang selalu menurut dan menerima kunjungan selirnya ini dengan kedua tangan terbuka dan hati gembira, dalam keadaan bagaimanapun, juga para pengawal sang prabu tidak seorang pun berani membantah. Hal ini adalah berkat kecerdikan Suminten yang merengek-rengek dan membujuk-bujuk sang prabu dengan alasan bahwa sejak peristiwa Sekarmadu, istana harus dijaga oleh pengawal-pengawal yang benar-benar dapat dipercaya dan untuk memilih para pengawal ini, ditunjuk Pangeran Kukutan "yang setia" oleh Suminten. Dan seperti yang sudah-sudah, karena mabuk dalam pelukan dan belaian Suminten, sang prabu meluluskan atau menyetujuinya. Kini para pengawal pribadi sang prabu adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan sebagai anak buah pangeran itu, tentu saja dengan sendirinya mereka itu tunduk dan taat kepada Suminten.

Demikianlah, malam hari itu, biarpun bukan waktunya sang prabu memanggilnya, Suminten memasuki kamar peraduan sang prabu dengan langkah perlahan. Para pengawal yang menjaga di luar, menelan ludah ketika melihat sang puteri ini lewat. Para pelayan yang tadi melayani sang prabu, telah diperintahkan ke-luar dari kamar oleh raja yang tua ini. Setiap kali selirnya yang tercinta ini datang, mendadak saja sang prabu yang tua itu seolah-olah kembali menjadi muda, dikuasai nafsu berahi. Tadi sebelum mendengar akan permintaan Suminten untuk menghadap, sang prabu benar-benar menikmati masa tuanya, seperti orang-orang tua yang lain dia suka duduk bermalasan di kursi yang lunak, dilayani para emban, dipijiti lengan dan kakinya, sambil makan hidangan yang serba lezat dan empuk tidak melelahkan mulut yang sudah ompong, mendengarkan. emban bersenandung dengan suaranya yang merdu, kadang-kadang minum minuman yang hangat dicampuri jahe membuat tubuh terasa hangat dan enak, meram melek seperti seekor lembu menjerum (mendekap dalam lumpur).

<<< Bagian 079                                                                                    Bagian 081 >>>

No comments:

Post a Comment