Ia sengaja berlaku lambat,
seolah-olah membiarkan dua batang golok dari kanan kiri itu menggunting
tubuhnya. Akan tetapi pada detik terakhir, tiba-tiba tubuhnya menyelinap
secepat kilat ke belakang, sehingga tak dapat dicegah lagi dua batang golok
dari kanan kiri saling bertemu di udara.
"Cringgggg ....!!"
Keras sekali pertemuan kedua
batang golok itu sehingga muncratlah bunga api dan dua batang golok itu
terlepas dari pegangan tangan kedua orang kepala rampok. Kakak beradik ini
memiliki tenaga yang seimbang dan karena tadi mereka mengeluarkan seluruh
tenaga, maka begitu kedua batang golok bertemu, mereka merasa betapa lengan
kanan mereka lumpuh dan tidak kuat memegang golok masing-masing. Pada saat
mereka menjadi kaget dan menyesal mengapa golok mereka beradu dengan golok
saudara sendiri, tiba-tiba Nogowilis dan Lembuwilis berteriak keras, merasa
kepala mereka disambar petir yang membuat kepala terasa panas dan pening, mata
berkunang dan bumi yang diinjak serasa berputaran. Mereka terhuyung,
mempertahankan diri, namun tidak kuat dan akhirnya kedua orang kepala rampok
yang kuat ini roboh terguling, memegangi kepala yang kena tampar Aji Pethit
Nogo tadi sambil mengerang kesakitan. Limanwilis cepat menyerbu, membacokkan goloknya
ke arah kepala Endang Patibroto. Wanita sakti ini tidak bergerak dari
tempatnya, berdiri tegak dan begitu golok meluncur datang, ia hanya miringkan
tubuh dan dari arah samping, tangan kirinya dengan jari-jari penuh Aji Pethit
Nogo menyambar ke arah golok.
"Krakkk!!" Golok
di tangan Limanwilis itu tinggal sepotong, patah terkena tangkisan Aji Pethit
Nogo. Limanwilis terbelalak kaget, heran dan kagum. Ia membuang sisa goloknya,
menoleh ke arah kedua orang adiknya yang sudah bangun dan duduk melongo menyaksikan
kekalahan kakak mereka, kemudian membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada
Endang Patibroto sambil berkata,
"Kepandaian andika
memang hebat, kami mengaku kalah. Wanita perkasa, kalau boleh kami mengetahui,
siapakah gerangan andika?"
"Namaku Endang Patibroto
dan ini adikku Setyaningsih."
Mendengar disebutnya nama
ini, tiga orang kepala rampok, dan juga anak buah mereka, mengeluarkan seruan
kaget dan memandang dengan mata terbelalak.
"Endang Patibroto
....senopati puteri dan juga puteri mantu Jenggala yang sakti mandraguna dan
telah menggegerkan jagat (dunia) itu!”
Endang Patibroto tersenyum
masam, lalu mengangguk.
"Bekas senopati dan
bekas puteri mantu Jenggala, sekarang tidak lagi. Sekarang aku menjadi pemilik
Gunung Wills dan kalian menjadi anak buahku. Ataukah .....kalian tidak mau dan
lebih baik minggat pergi dari sini?"
Limanwilis dan kedua orang
adiknya sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Endang Patibroto.
Demikian pula semua anak buah perampok sudah menjatuhkan diri berlutut.
Limanwilis mewakili semua temannya berkata,
"Harap paduka suka
memberi ampun kepada kami semua. Sungguh kami tidak menyangka bahwa paduka
adalah Gusti Puteri Endang Patibroto yang sudah terkenal sejak dahulu. Kalau
memang paduka berkenan hendak berdiam di Wilis, tentu saja kami siap untuk
mentaati segala perintah paduka dan kami menyerahkan jiwa raga kami ke dalam
kekuasaan paduka. Percayalah gusti, kami Gerombolan Wills bukanlah sembarangan
perampok dan tahu akan arti setia."
Endang Patibroto tersenyum
girang, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus sekali, kakang
Limanwilis dan hatiku amat girang mendengar kesanggupan kalian. Ketahuilah
kalian semua! Aku bersama adik kandungku ini sekarang tiada keluarga lagi dan
seperti kukatakan tadi, aku senang sekali melihat keadaan Gunung Wilis, maka
kami berdua mengambil keputusan untuk menetap di tempat ini. Kalau kalian suka
menjadi anak buahku, baiklah. Aku akan tinggal di puncak, buatkan pondok untuk
kami. Tempat ini akan kunamakan Padepokan Wilis yang wilayahnya meliputi
seluruh daerah Gunung Wilis. Kalian semua adalah anak buah Padepokan Wills,
bukan Gerombolan Wilis lagi yang mulai saat ini kububarkan! Kalian bukan
perampok-perampok dan aku bukan kepala rampok! Kalian mulai saat ini adalah
satria-satria Wilis yang tidak boleh merampok. Daerah Wilis ini amat luas dan
amat subur, kita dapat hidup bertani dan berburu binatang hutan. Penduduk
pegunungan ini tidak boleh diganggu karena mereka adalah rakyat kita! Kita
harus mengangkat Padepokan Wilis sehingga dunia akan tahu bahwa di sini adalah
tempat tinggal orang-orang gagah perkasa. Kalian semua selain menjadi anak buah
padepokan Wilis, juga akan menerima gemblengan yang akan kuturunkan melalui
ketiga kakang Wilis. Mengerti?"
Semua orang bekas perampok
yang jumlahnya hampir seratus orang itu bersorak gembira. Siapa orangnya tidak
akan berbesar hati kalau sekaligus derajat mereka diangkat dari
"perampok" menjadi "satria"?
Beramai-ramai para bekas
perampok ini lalu membangun padepokan untuk Endang Patibroto dan Setyaningsih, juga
membuat pondok-pondok untuk mereka di lereng bawah puncak. Kemudian mereka
membuka hutan, mengerjakan sawah, mencangkul dan bercocok tanam. Mulai saat
itu, lahirlah Padepokan Wilis di mana Endang Patibroto hidup dengan tenang dan
tenteram bersama adik kandungnya, memimpin seratus orang laki-laki yang amat
setia. Beberapa bulan kemudian, terlahir pula anak yang dikandung Endang
Patibroto, seorang anak perempuan yang sehat dan mungil, yang tangisnya
mengejutkan para laki-laki gagah anak buah Padepokan Wilis karena amat nyaring,
yang rambutnya hitam panjang dan subur, dengan sepasang mata yang mengeluarkan
sinar tajam sebagai tanda bahwa anak ini bukanlah anak biasa. Para anak buah
Padepokan Wilis menyambut kelahiran anak ini dengan penuh kegembiraan, dengan
pesta reog dan tari-tarian. Keluarga bekas perampok yang kini otomatis juga
tinggal di lereng dan menjadi anggota-anggota Padepokan Wilis, menyelenggarakan
pesta itu sehingga cukup meriah, dikunjungi pula oleh penduduk sekitar Wilis
yang tidak berapa banyak jumlahnya. Maka terlahirlah Retno Wilis, demikian nama
anak itu. Retno Wilis, anak Gunung Wilis, yang sejak kecil oleh ibunya telah
diberi pakaian serba hijau warnanya, sesuai dengan namanya dan tempat
tinggalnya karena Wilis berarti Hijau.
Suminten menghadapi cermin,
berhias sambil rengeng-rengeng (bersenandung). Hatinya merasa puas sekali
dengan kemajuan-kemajuan yang dicapainya. Ia telah berhasil baik dengan bantuan
Pangeran Kukutan yang menjadi pembantu amat setia. Ia maklum bahwa Ki Patih
Brotomenggala dengan kawan-kawannya merupakan ancaman dan musuh berbahaya
baginya. Namun, dengan bantuan Kukutan, ia telah mulai dapat menanam kecurigaan
dan ketidakpercayaan sang prabu terhadap para pembesar ini. Beberapa hari yang
lalu, rencananya bersama Kukutan telah berhasil baik sekali. Dua orang di
antara pembantu ki patih yang merupakan orang-orang kuat dan berbahaya, yaitu
Adipati Wirabayu mantu Ki Patih Brotomenggala dan Empu Adisastra, telah
ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan! Suminten menatap bayangan wajahnya
yang manis di dalam cermin. Digosok-gosoknya pipinya yang terhias tahi lalat
hitam kecil di sebelah kiri, di atas mulut, sampai kedua pipi yang halus itu
menjadi kemerahan seperti jambu matang. Digerak-gerakkan bibirnya sehingga
dapat membentuk mulut yang menggairahkan, bibir yang menantang dan yang ia tahu
akan menundukkan hati sang prabu. Diaturnya sinom (anak rambut) di dahi dan
depan telinga. Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul lepas- lepas di
belakang tengkuk, seperti lingkaran ular yang malas, dan dihias bunga melati
setelah ia gosok dengan sari kembang melati sehingga berbau harum wangi.
Bunga air mawar yang tadi ia
pakai untuk mandi dan mencuci tubuh, membuat tubuhnya berbau sedap dan segar
seperti setangkai mawar yang semerbak harum. Suminten tersenyum, mengagumi
wajahnya sendiri di dalam cermin, lalu melirik ke arah tubuhnya dengan pandang
mata bangga. Memang tubuhnya patut dibanggakan, tubuhnya yang muda, belum dua
puluh tahun, padat dan amat
dikagumi sang prabu. Ia
tersenyum lagi penuh kebanggaan dan kepuasan, lalu menarik kain penutup buah
dada agak ke bawah agar lebih banyak lagi bagian buah dada yang sebelah atas
tampak. Kali ini ia harus benar-benar mempergunakan seluruh keindahan wajah dan
tubuhnya untuk mengalahkan sang prabu, untuk mencapai tujuannya. Ia harus dapat
membuat sang prabu mabuk, lebih mabuk daripada yang sudah-sudah agar segala
yang dimintanya akan dikabulkan.
Suminten bangkit berdiri.
Kini tampak betapa tubuhnya benar-benar amat menggairahkan. Tinggi semampai
dengan lekuk-lengkung sempurna, padat berisi, semua bagian tampak halus lunak
namun mengkal berisi seperti buah mangga muda matang ati. Sekali lagi ia
meneliti keadaan dirinya, memandangan bayangan tubuhnya dari segala jurusan,
berputaran di depan cermin, lalu ia tersenyum puas dan bertepuk tangan memberi
isyarat kepada pada abdinya bahwa mereka kini boleh memasuki kamarnya. Tiga
orang emban yang muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi kelihatan sederhana
kalau dibandingkan dengan Suminten yang gemilang, memasuki kamar itu dengan
langkah gemulai dengan tersenyum-senyum genit. Mereka itu tanpa diperintah lalu
sibuk mengelilingi junjungan mereka, ada yang membetulkan letak kain, ada yang
hendak memperbaiki letak rambut dan mulut mereka memuji-muji dengan sikap
menjilat.
"Hish, jangan lancang!
Rambut dan riasanku sudah baik semua, jangan diganggu! Kalian ini merusak saja,
selera kalian mana cocok dengan seleraku?"
Suminten adalah bekas
seorang emban, abdi dalem mendiang Pangeran Panjirawit dan isterinya. Karena
inilah agaknya maka setelah kini menduduki tempat tinggi di samping sang prabu,
ia masih belum dapat melenyapkan sifatnya yang suka bersendau-gurau dengan para
abdinya seperti terhadap kawan-kawan sendiri. Hal ini amat menyenangkan hati
para abdinya yang membuat mereka makin cinta dan setia. Memang pandai sekali
Suminten mengambil hati para pembantunya. Para emban yang ditegur itu
tersenyum-senyum dan melontarkan kata-kata pujian yang bukan penjilatan semata
karena memang pada saat itu Suminten tampak amat cantik manis menarik hati.
Jumlah para emban yang mengabdi kepada Suminten ada tujuh orang dan mereka ini
kesemuanya telah bersumpah setia kepada Suminten. Mereka ini pula yang tempo
hati telah membuat kesaksian palsu untuk menjatuhkan Puteri Sekarmadu. Mereka
yakin bahwa hidup mati mereka, suka-duka mereka, bahagia sengsara mereka
terletak di tangan Suminten, oleh karena itu mereka amat setia dan ingin
sehidup semati dengan junjungan ini yang mereka percaya penuh keyakinan pasti
akan menanjak kedudukannya dan menjadi seorang yang paling berkuasa di Jenggala
kelak. Dengan demikian, nasib mereka pun sudah boleh dipastikan akan menjadi
makin baik. Siapa tahu kelak mereka itupun akan diangkat menjadi puteri-puteri
yang terhormat seperti halnya Suminten yang dahulupun hanya seorang emban
seperti mereka.
"Sudahlah, simpan
segala puji-pujian itu untuk lain kali, emban. Lebih baik lekas kalian pergi
menemui pengawal pribadi yang menjaga kamar peraduan sang prabu, katakan bahwa
aku hendak menghadap sang prabu sekarang juga."
Tiga orang emban yang cantik
itu tersenyum-senyum. Mereka selalu merasa girang kalau disuruh menemui para
pengawal yang gagah-gagah dan ganteng-ganteng itu, dan kesempatan-kesempatan
seperti itu tentu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk bersendau-gurau
dengan para pengawal. Berlari-larilah mereka seperti anak-anak nakal keluar
dari kamar Suminten untuk menyampaikan perintah junjungan mereka. Memang amat
besar kekuasaan Suminten. Belum pernah sebelumnya seorang isteri selir dapat menghadap
sang prabu begitu saja tanpa dipanggil, setiap saat yang dikehendakinya! Bahkan
sang permaisuri sekalipun tidak pernah atau jarang sekali mempergunakan
kekuasaan seperti ini. Hebatnya, bukan hanya sang prabu sendiri yang selalu
menurut dan menerima kunjungan selirnya ini dengan kedua tangan terbuka dan
hati gembira, dalam keadaan bagaimanapun, juga para pengawal sang prabu tidak
seorang pun berani membantah. Hal ini adalah berkat kecerdikan Suminten yang
merengek-rengek dan membujuk-bujuk sang prabu dengan alasan bahwa sejak
peristiwa Sekarmadu, istana harus dijaga oleh pengawal-pengawal yang
benar-benar dapat dipercaya dan untuk memilih para pengawal ini, ditunjuk
Pangeran Kukutan "yang setia" oleh Suminten. Dan seperti yang
sudah-sudah, karena mabuk dalam pelukan dan belaian Suminten, sang prabu
meluluskan atau menyetujuinya. Kini para pengawal pribadi sang prabu adalah
orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan sebagai anak buah pangeran itu, tentu
saja dengan sendirinya mereka itu tunduk dan taat kepada Suminten.
Demikianlah,
malam hari itu, biarpun bukan waktunya sang prabu memanggilnya, Suminten
memasuki kamar peraduan sang prabu dengan langkah perlahan. Para pengawal yang
menjaga di luar, menelan ludah ketika melihat sang puteri ini lewat. Para pelayan
yang tadi melayani sang prabu, telah diperintahkan ke-luar dari kamar oleh raja
yang tua ini. Setiap kali selirnya yang tercinta ini datang, mendadak saja sang
prabu yang tua itu seolah-olah kembali menjadi muda, dikuasai nafsu berahi.
Tadi sebelum mendengar akan permintaan Suminten untuk menghadap, sang prabu
benar-benar menikmati masa tuanya, seperti orang-orang tua yang lain dia suka
duduk bermalasan di kursi yang lunak, dilayani para emban, dipijiti lengan dan
kakinya, sambil makan hidangan yang serba lezat dan empuk tidak melelahkan
mulut yang sudah ompong, mendengarkan. emban bersenandung dengan suaranya yang
merdu, kadang-kadang minum minuman yang hangat dicampuri jahe membuat tubuh
terasa hangat dan enak, meram melek seperti seekor lembu menjerum (mendekap
dalam lumpur).
No comments:
Post a Comment