"Eh-eh ...kau... kau menyimpan kembali kerismu? Ha-ha-ha, jadi engkau takut dan mengaku kalah, manis? Bagus, lebih baik begitu dan..... auuugghh!!" Tubuh Dayun yang tadinya bicara sambil tertawa itu terpelanting dibarengi teriakannya ketika Setyaningsih setelah menyimpan kerisnya tadi lalu menampar dadanya dengan pukulan tangan yang disertai Aji Pethit Nogo! Biarpun baru berusia sebelas tahun, namun Setyaningsih telah menerima gemblengan ibunya semenjak kecil, dan kalau diingat ibunya adalah wanita sakti Kartikosari, maka tidaklah mengherankan kalau tamparannya tadi membuat Dayun terpelanting dengan dada serasa remuk!
"Manusia sombong! Baru
ditampar saja sudah roboh, apalagi kalau ditusuk keris! Bangkitlah!" kata
Setyaningsih yang berdiri tegak dengan sikap gagah.
Semua mata melongo, terutama
sekali mata ketiga orang kepala rampok itu. Mereka tahu bahwa biarpun dalam hal
kesaktian Dayun belum seberapa, namun Dayun termasuk seorang yang kuat sehingga
kalau hanya pukulan seorang laki-laki dewasa saja mengenai dadanya, tentu akan
dapat ditahannya. Akan tetapi bagaimana sekarang tamparan tangan anak kecil
perempuan itu dapat merobohkannya? Dayun meringis dan menggosok-gosok dadanya,
napasnya menjadi sesak seperti orang kumat penyakit menginya, kemudian ia
bangkit berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.
"Kakang Limanwilis,
perkenankan aku menghajar bocah setan ini!" dengusnya. Limanwilis yang
kini yakin benar bahwa anak perempuan ini memiliki kesaktian tinggi, mengangguk
dengan pandang mata tak pernah pindah dari Setyaningsih. Setelah mendapat
perkenan dari Limanwilis, Dayun menggereng seperti seekor harimau marah,
kemudian ia mengembangkan kedua lengannya yang besar panjang dan berbulu,
dengan jari-jari tangan yang sebesar pisang raja itu ia menubruk, maksudnya
hendak mencengkeram dan
memeluk tubuh anak perempuan
itu.
"Iiihhhhh Dayun
terhuyung karena ia telah menubruk angin kosong, sedangkan Setyaningsih tadi
telah melesat sambil berseru nyaring, menggunakan Aji Bayu Tantra seperti
ajaran mendiang ibundanya. Aji Bayu Tantra adalah aji keringanan tubuh yang
membuat gerakannya menjadi gesit sekali, cepat dan seperti terbang saja ketika
ia mengelak dan meloncat menghindarkan cengkeraman lawan. Akan tetapi, karena
tadi merasa ngeri juga menyaksikan sikap lawan yang hendak memeluknya,
Setyaningsih meloncat terlalu jauh sehingga kini kembali ia berdiri tegak
menghadapi Dayun yang sudah membalikkan tubuh, mengembangkan kedua lengan,
melangkah perlahan-lahan seperti seekor monyet besar menari.
"Heeengggg ....ke mana
kau hendak lari?" kembali Dayun menubruk, lebih cepat daripada tadi.
Setyaningsih yang cerdik kini masih tetap mengerahkan Aji Bayu Tantra, akan
tetapi bukan untuk meloncat jauh menghindarkan diri, melainkan ia menggunakan
keringanan tubuhnya untuk menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan yang
menyambar sehingga kembali Dayun menubruk angin. Sebelum Dayun sempat
membalikkan tubuh, Setyaningsih sudah mendahuluinya, melompat ke atas mengayun
tangan dan ..."plakk!" tengkuk Dayun sudah dipukulnya dengan
jari-jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo!
"Aduhhh ...
tobaaaattt...!!" Dayun terjungkal dan bergulingan, mengeluarkan suara
seperti orang menangis sambil meraba-raba tengkuknya yang serasa patah-patah.
Kembali semua anak buah
gerombolan memandang dengan mata terbelalak. Mereka terlalu heran dan kagum
sehingga melongo, dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan kaget. Akan tetapi
Dayun mempunyai tubuh yang kuat, di samping itu, memang tenaga Setyaningsih
yang baru berusia sebelas tahun itu belum cukup kuat untuk merobohkan seorang
laki-laki tinggi besar seperti Dayun. Maka sebentar saja Dayun sudah bangkit
berdiri lagi dan sekali tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut goloknya,
sebuah golok yang besar, tebal dan amat kuat, lagi mengkilap saking tajamnya.
Diamang-amangkan golok ini dengan sikap menakutkan sekali sambil melangkah maju
menghampiri lawannya, mukanya beringas dan penuh kemarahan. Kali ini ia tidak
minta perkenan lagi dari pemimpinnya, dan sebaliknya tiga orang pimpinan
Gerombolan Wills itupun tidak mencegahnya. Melihat lawannya datang lagi membawa
golok, Setyaningsih tidak menjadi gentar. Bahkan ia marah sekali dan tangan
kanannya sudah mencabut kerisnya, tangan kiri yang sudah diisi Aji Pethit Nogo
siap dikembangkan. Matanya yang jeli dan bagus itu menatap lawan dan mengikuti
gerak-geriknya tanpa berkedip. Pada saat itu, telinga Setyaningsih mendengar
suara bisikan yang jelas sekali, dan ia mengenal suara ayundanya, Endang
Patibroto, yang berkata lirih,
"Ningsih, jangan bunuh
dia“
Setyaningsih tidak heran
menyaksikan kesaktian luar biasa ayundanya ini. Biarpun tidak sekuat ayundanya,
mendiang ibunya juga dapat mengirim suara dari jauh seperti itu, yang dapat
dilakukan hanya dengan dasar tenaga sakti yang sudah amat kuat.
Pada saat itu, Dayun
menggereng keras, goloknya terayun, tampak sinar golok berkilau, disusul suara
angin menyambar. Setyaningsih hanya menggeser kaki dan menundukkan kepala,
namun gerakan ini sudah cukup membuat sambaran golok ke arah lehernya tidak
mengenai sasaran. Dayun penasaran sekali, juga makin kaget. Goloknya yang
membabat angin kosong itu la putar membalik dan kini sudah menyambar lagi,
bukan merupakan bacokan melainkan menyerang dengan tusukan ke arah dada
Setyaningsih dengan kecepatan seperti anak panah menyambar dan kekuatan
serudukan tanduk seekor banteng! Semua orang menatan napas, karena biarpun
gadis cilik itu adalah lawan dari teman mereka Dayun, namun mereka semua tentu
saja tidak menganggapnya sebagai musuh.
"Wuuuuutttt ....cusss
... plakkk .......... ! Aduuhhhh ...!!" Cepat sekali terjadinya gebrakan
itu. Ketika golok menyambar ke arah dada, Setyaningsih tidak merubah kedudukan
kakinya, melainkan cepat ia berjongkok sehingga golok lawan meluncur lewat di
atas kepalanya. Pada saat itu, kerisnya cepat menusuk pangkal lengan kanan
Dayun, sedangkan tangan kirinya yang sudah siap itu menampar lutut. Tak dapat
dicegah lagi, golok terlepas dari tangan Dayun dan tubuh yang tinggi besar itu
terguling roboh, tak dapat bangun berdiri lagi karena selain pangkal lengan
kanannya terluka tusukan keris, juga sambungan lutut kanannya terlepas! Ia
hanya dapat mengerang kesakitan, tangan kanan memegang lutut, tangan kiri
meraba luka di pangkal lengan. Rasa heran dan kagum dari para anak buah Gerombolan
Wilis berubah menjadi kemarahan ketika mereka menyaksikan robohnya Dayun dalam
keadaan terluka. Segera mereka maju mengepung Setyaningsih tanpa menanti
komando lagi, masing-masing mencabut senjata, hendak mengeroyok anak perempuan
yang luar biasa itu. Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan nyaring,
"Tikus-tikus tak tahu
diri!" Maka tampaklah bayangan berkelebat, amat cepat sehingga sukar
diikuti pandangan mata, apalagi oleh mereka yang mengurung terdekat karena
tiba-tiba saja mata mereka menjadi gelap, tampak seribu bintang di kala kepala
mereka seperti meledak dan nanar seketika. Dalam waktu sekejap mata dua puluh
orang lebih, yaitu mereka yang mengurung paling dekat dengan Setyaningsih,
telah roboh, senjata mereka beterbangan ke sana-sini dan mereka mengaduh-aduh,
memegangi kepala
dan dada.
Ketika tiga pimpinan
Gerombolan Wilis memandang terbelalak, kiranya wanita cantik jelita yang tadi
duduk bersamadhi, kini telah berdiri di dekat bocah itu, berdiri tegak dan
memandang ke sekeliling dengan senyum manis mengejek, mata bersinar-sinar dan
suaranya nyaring penuh wibawa ketika berkata,
"Hayoh, siapa lagi yang
berani boleh maju! Kalian ini tikus-tikus tak tahu diri! Kalau adikku
menghendaki, dia ini sudah menggeletak mampus dengan perut robek, dan kalau aku
menghendaki, likuran (dua puluh lebih) orang ini sudah menggeletak mampus
dengan kepala remuk dan dada pecah!"
"Babo-babo!! Wanita
yang sepak terjangnya seperti halilintar menyambar-nyambar, sumbarmu
seakan-akan dapat menjebol puncak Gunung Wilis! Apakah yang andika kehendaki
maka andika mengacau di wilayah kami?" tanya Limanwilis dengan suara
menggeledek, sedangkan anak buahnya dengan hati gentar hanya dari lingkaran
yang makin menjauh, giris hati mereka menyaksikan tandang Endang Patibroto yang
luar biasa tadi. Endang Patibroto menoleh dan menghadapi Limanwilis.
"Bukan kami kakak
beradik yang mengacau, melainkan kalian yang tidak tahu diri. Dengar baik-baik,
kalian Gerombolan Wilis, aku dan adikku suka sekali dengan keadaan di sini dan
hendak menetap, tinggal di puncak Gunung Wills. Kalian harus bersedia melayani
kami sebagai pimpinan kalian kalau hendak tinggal di daerah Wills, kalau tidak,
lebih baik kalian sekarang juga minggat semua dari sini, karena sekali lagi
berani mengganggu kami, sudah pasti kalian akan kubunuh dan kulempar-lemparkan ke
dalam jurang menjadi makanan srigala dan burung gagak!"
"Waduh-waduh ....Bukan
main sumbarmu, wanita perkasa! Ketahuilah, kami bertiga kakak beradik Wilis.
Kalau kau dapat mengalahkan kami bertiga, barulah akan kami bertimbangkan
ucapan-mu tadi!" kata pula Limanwilis menantang. Kepala gerombolan ini
tadi sudah menyaksikan sepak terjang Endang Patibroto dan ia sudah cukup maklum
bahwa wanita cantik yang berdiri tegak di depannya ini adalah seorang yang sakti
mandraguna. Namun tentu saja dia dan adik-adiknya tidak akan mengalah begitu
saja.
"Bagus! Majulah kalian
bertiga, atau boleh ditambah seluruh gerombolanmu, aku tidak akan undur
selangkah!" jawab Endang Patibroto sambil berdiri tegak, siap menanti
pengeroyokan dengan kedua tangan kosong. Setyaningsih sudah melangkah mundur,
tidak mau mengganggu ayundanya, berdiri di pinggiran dengan keris siap di
tangan.
"Heh, wanita perkasa,
jangan bersombong! Betapapun juga, kami Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis
bukanlah laki-laki pengecut! Kau kalahkan dulu kami kakak beradik bertiga, baru
kita bicara lagi" bentak Limanwilis yang marah juga mendengar tantangan
Endang Patibroto.
Dia sudah mencabut goloknya,
demikian pula kedua adiknya, lalu membentak lagi,
"Keluarkan senjatamu,
wanita perkasa!"
Endang Patibroto tersenyum,
di dalam hatinya girang melihat bahwa tiga orang kepala gerombolan ini biarpun
orang-orang kasar, namun memiliki sifat gagah sehingga tidak sia-sialah dia dan
Setyaningsih mengampuni dan tidak membunuh anak buah mereka.
"Untuk menghadapi tiga
batang golok-mu, tidak perlu aku bersenjata, Limanwilis. Kalian majulah!"
Ucapan ini menambah
kemarahan tiga orang kepala gerombolan itu. Sambil mengeluarkan bentakan hebat,
Limanwilis sudah menerjang maju, diikuti oleh kedua orang adiknya dalam
detik-detik berikutnya. Serangan mereka luar biasa cepatnya, dan suara
berdesing yang keluar dari tiga batang golok itu membuktikan bahwa ketiganya
memiliki tenaga yang amat besar. Setyaningsih yang sudah mempelajari ilmu silat,
dapat mengerti akan kedigdayaan mereka dan diam-diam ia menjadi khawatir
sekali, memandang dengan mata terbelalak sambil menggigit bibir, siap untuk
nekat menerjang kalau sampai ayundanya terdesak. Maklumlah, anak ini biarpun
sudah mendengar dari mendiang ibunya akan kesaktian ayundanya, namun belum
pernah ia menyaksikannya dengan mata sendiri. Tadi sekelebatan ia menyaksikan
amukan ayundanya yang dalam sekejap mata saja merobohkan likuran orang, dan
karena gerakan Endang Patibroto terlampau cepat, ia hanya mendapat bukti bahwa
ayundanya telah menguasai ilmu bergerak cepat, yaitu Aji Bayu Tantra sampai
mendekati kesempurnaan. Hanya rakandanya Tejolaksono saja yang agaknya mampu
menandingi gerak cepat seperti itu tadi. Memang hebat bukan main sepak terjang
Endang Patibroto ketika ia dikeroyok tiga orang kepala rampok itu. Wanita muda
ini sedang mengandung dan ia bertangan kosong saja, akan tetapi tiga orang
kepala rampok yang bertenaga besar itu sama sekall tidak berdaya menghadapi
kecepatan gerak Endang Patibroto yang seolah-olah merupakan seekor burung
garuda betina yang marah dan menyambar-nyambar dahsyat!
Limanwilis,
orang pertama dari ketiga kepala rampok itu, merasa yakin benar bahwa mereka
berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia
berlaku hati-hati dan tidak berani berlaku lengah atau menyerang secara
sembrono. Tidak demikian dengan Nogowilis dan Lembuwilis. Kedua orang laki-laki
tinggi besar ini menjadi penasaran betul. Mereka bertiga terkenal sebagai
tokoh-tokoh gagah perkasa yang jarang menemui tanding, ditakuti semua orang.
Kini mereka mengeroyok seorang wanita yang halus gerak-geriknya, bertangan
kosong. Masa mereka akan kalah? Rasa penasaran membuat gerakan mereka menjadi
beringas dan liar, seperti singa-singa kelaparan. Nogowilis dan Lembuwilis
menggerakkan golok, menyerbu dari kanan kiri dengan suara menggereng
menyeramkan. Golok mereka sampai mengeluarkan suara berdesing dari kanan kiri.
Adapun Limanwilis yang melihat kenekatan kedua orang adiknya, bersiap dengan
goloknya untuk mencari kesempatan baik merobohkan lawan tangguh ini. Endang
Patibroto merasa kesal hatinya. Kalau ia menghendaki, dengan hantaman-hantaman
maut tentu sejak tadi ia telah mampu merobohkan ketiga orang lawannya. Akan
tetapi ia tidak menghendaki kematian mereka. Orang-orang kasar ini harus
ditundukkan karena mereka akan dapat menjadi pembantu-pembantu yang baik.
Inilah sebabnya mengapa Endang Patibroto tidak segera merobohkan mereka dan
sekarang, melihat betapa dua orang kepala rampok dengan nekat menerjangnya dari
kanan kiri, ia mendapat kesempatan baik.
Bagus sekali cerita ini. Luar biasa penulisnya. Apakah ini diangkat dari kisah nyata?
ReplyDelete