Perawan Lembah Wilis; Bagian 079


"Eh-eh ...kau... kau menyimpan kembali kerismu? Ha-ha-ha, jadi engkau takut dan mengaku kalah, manis? Bagus, lebih baik begitu dan..... auuugghh!!" Tubuh Dayun yang tadinya bicara sambil tertawa itu terpelanting dibarengi teriakannya ketika Setyaningsih setelah menyimpan kerisnya tadi lalu menampar dadanya dengan pukulan tangan yang disertai Aji Pethit Nogo! Biarpun baru berusia sebelas tahun, namun Setyaningsih telah menerima gemblengan ibunya semenjak kecil, dan kalau diingat ibunya adalah wanita sakti Kartikosari, maka tidaklah mengherankan kalau tamparannya tadi membuat Dayun terpelanting dengan dada serasa remuk!
"Manusia sombong! Baru ditampar saja sudah roboh, apalagi kalau ditusuk keris! Bangkitlah!" kata Setyaningsih yang berdiri tegak dengan sikap gagah.
Semua mata melongo, terutama sekali mata ketiga orang kepala rampok itu. Mereka tahu bahwa biarpun dalam hal kesaktian Dayun belum seberapa, namun Dayun termasuk seorang yang kuat sehingga kalau hanya pukulan seorang laki-laki dewasa saja mengenai dadanya, tentu akan dapat ditahannya. Akan tetapi bagaimana sekarang tamparan tangan anak kecil perempuan itu dapat merobohkannya? Dayun meringis dan menggosok-gosok dadanya, napasnya menjadi sesak seperti orang kumat penyakit menginya, kemudian ia bangkit berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.
"Kakang Limanwilis, perkenankan aku menghajar bocah setan ini!" dengusnya. Limanwilis yang kini yakin benar bahwa anak perempuan ini memiliki kesaktian tinggi, mengangguk dengan pandang mata tak pernah pindah dari Setyaningsih. Setelah mendapat perkenan dari Limanwilis, Dayun menggereng seperti seekor harimau marah, kemudian ia mengembangkan kedua lengannya yang besar panjang dan berbulu, dengan jari-jari tangan yang sebesar pisang raja itu ia menubruk, maksudnya hendak mencengkeram dan
memeluk tubuh anak perempuan itu.
"Iiihhhhh Dayun terhuyung karena ia telah menubruk angin kosong, sedangkan Setyaningsih tadi telah melesat sambil berseru nyaring, menggunakan Aji Bayu Tantra seperti ajaran mendiang ibundanya. Aji Bayu Tantra adalah aji keringanan tubuh yang membuat gerakannya menjadi gesit sekali, cepat dan seperti terbang saja ketika ia mengelak dan meloncat menghindarkan cengkeraman lawan. Akan tetapi, karena tadi merasa ngeri juga menyaksikan sikap lawan yang hendak memeluknya, Setyaningsih meloncat terlalu jauh sehingga kini kembali ia berdiri tegak menghadapi Dayun yang sudah membalikkan tubuh, mengembangkan kedua lengan, melangkah perlahan-lahan seperti seekor monyet besar menari.
"Heeengggg ....ke mana kau hendak lari?" kembali Dayun menubruk, lebih cepat daripada tadi. Setyaningsih yang cerdik kini masih tetap mengerahkan Aji Bayu Tantra, akan tetapi bukan untuk meloncat jauh menghindarkan diri, melainkan ia menggunakan keringanan tubuhnya untuk menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan yang menyambar sehingga kembali Dayun menubruk angin. Sebelum Dayun sempat membalikkan tubuh, Setyaningsih sudah mendahuluinya, melompat ke atas mengayun tangan dan ..."plakk!" tengkuk Dayun sudah dipukulnya dengan jari-jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo!
"Aduhhh ... tobaaaattt...!!" Dayun terjungkal dan bergulingan, mengeluarkan suara seperti orang menangis sambil meraba-raba tengkuknya yang serasa patah-patah.

Kembali semua anak buah gerombolan memandang dengan mata terbelalak. Mereka terlalu heran dan kagum sehingga melongo, dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan kaget. Akan tetapi Dayun mempunyai tubuh yang kuat, di samping itu, memang tenaga Setyaningsih yang baru berusia sebelas tahun itu belum cukup kuat untuk merobohkan seorang laki-laki tinggi besar seperti Dayun. Maka sebentar saja Dayun sudah bangkit berdiri lagi dan sekali tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut goloknya, sebuah golok yang besar, tebal dan amat kuat, lagi mengkilap saking tajamnya. Diamang-amangkan golok ini dengan sikap menakutkan sekali sambil melangkah maju menghampiri lawannya, mukanya beringas dan penuh kemarahan. Kali ini ia tidak minta perkenan lagi dari pemimpinnya, dan sebaliknya tiga orang pimpinan Gerombolan Wills itupun tidak mencegahnya. Melihat lawannya datang lagi membawa golok, Setyaningsih tidak menjadi gentar. Bahkan ia marah sekali dan tangan kanannya sudah mencabut kerisnya, tangan kiri yang sudah diisi Aji Pethit Nogo siap dikembangkan. Matanya yang jeli dan bagus itu menatap lawan dan mengikuti gerak-geriknya tanpa berkedip. Pada saat itu, telinga Setyaningsih mendengar suara bisikan yang jelas sekali, dan ia mengenal suara ayundanya, Endang Patibroto, yang berkata lirih,
"Ningsih, jangan bunuh dia“
Setyaningsih tidak heran menyaksikan kesaktian luar biasa ayundanya ini. Biarpun tidak sekuat ayundanya, mendiang ibunya juga dapat mengirim suara dari jauh seperti itu, yang dapat dilakukan hanya dengan dasar tenaga sakti yang sudah amat kuat.
Pada saat itu, Dayun menggereng keras, goloknya terayun, tampak sinar golok berkilau, disusul suara angin menyambar. Setyaningsih hanya menggeser kaki dan menundukkan kepala, namun gerakan ini sudah cukup membuat sambaran golok ke arah lehernya tidak mengenai sasaran. Dayun penasaran sekali, juga makin kaget. Goloknya yang membabat angin kosong itu la putar membalik dan kini sudah menyambar lagi, bukan merupakan bacokan melainkan menyerang dengan tusukan ke arah dada Setyaningsih dengan kecepatan seperti anak panah menyambar dan kekuatan serudukan tanduk seekor banteng! Semua orang menatan napas, karena biarpun gadis cilik itu adalah lawan dari teman mereka Dayun, namun mereka semua tentu saja tidak menganggapnya sebagai musuh.
"Wuuuuutttt ....cusss ... plakkk .......... ! Aduuhhhh ...!!" Cepat sekali terjadinya gebrakan itu. Ketika golok menyambar ke arah dada, Setyaningsih tidak merubah kedudukan kakinya, melainkan cepat ia berjongkok sehingga golok lawan meluncur lewat di atas kepalanya. Pada saat itu, kerisnya cepat menusuk pangkal lengan kanan Dayun, sedangkan tangan kirinya yang sudah siap itu menampar lutut. Tak dapat dicegah lagi, golok terlepas dari tangan Dayun dan tubuh yang tinggi besar itu terguling roboh, tak dapat bangun berdiri lagi karena selain pangkal lengan kanannya terluka tusukan keris, juga sambungan lutut kanannya terlepas! Ia hanya dapat mengerang kesakitan, tangan kanan memegang lutut, tangan kiri meraba luka di pangkal lengan. Rasa heran dan kagum dari para anak buah Gerombolan Wilis berubah menjadi kemarahan ketika mereka menyaksikan robohnya Dayun dalam keadaan terluka. Segera mereka maju mengepung Setyaningsih tanpa menanti komando lagi, masing-masing mencabut senjata, hendak mengeroyok anak perempuan yang luar biasa itu. Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan nyaring,
"Tikus-tikus tak tahu diri!" Maka tampaklah bayangan berkelebat, amat cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata, apalagi oleh mereka yang mengurung terdekat karena tiba-tiba saja mata mereka menjadi gelap, tampak seribu bintang di kala kepala mereka seperti meledak dan nanar seketika. Dalam waktu sekejap mata dua puluh orang lebih, yaitu mereka yang mengurung paling dekat dengan Setyaningsih, telah roboh, senjata mereka beterbangan ke sana-sini dan mereka mengaduh-aduh, memegangi kepala
dan dada.

Ketika tiga pimpinan Gerombolan Wilis memandang terbelalak, kiranya wanita cantik jelita yang tadi duduk bersamadhi, kini telah berdiri di dekat bocah itu, berdiri tegak dan memandang ke sekeliling dengan senyum manis mengejek, mata bersinar-sinar dan suaranya nyaring penuh wibawa ketika berkata,
"Hayoh, siapa lagi yang berani boleh maju! Kalian ini tikus-tikus tak tahu diri! Kalau adikku menghendaki, dia ini sudah menggeletak mampus dengan perut robek, dan kalau aku menghendaki, likuran (dua puluh lebih) orang ini sudah menggeletak mampus dengan kepala remuk dan dada pecah!"
"Babo-babo!! Wanita yang sepak terjangnya seperti halilintar menyambar-nyambar, sumbarmu seakan-akan dapat menjebol puncak Gunung Wilis! Apakah yang andika kehendaki maka andika mengacau di wilayah kami?" tanya Limanwilis dengan suara menggeledek, sedangkan anak buahnya dengan hati gentar hanya dari lingkaran yang makin menjauh, giris hati mereka menyaksikan tandang Endang Patibroto yang luar biasa tadi. Endang Patibroto menoleh dan menghadapi Limanwilis.
"Bukan kami kakak beradik yang mengacau, melainkan kalian yang tidak tahu diri. Dengar baik-baik, kalian Gerombolan Wilis, aku dan adikku suka sekali dengan keadaan di sini dan hendak menetap, tinggal di puncak Gunung Wills. Kalian harus bersedia melayani kami sebagai pimpinan kalian kalau hendak tinggal di daerah Wills, kalau tidak, lebih baik kalian sekarang juga minggat semua dari sini, karena sekali lagi berani mengganggu kami, sudah pasti kalian akan kubunuh dan kulempar-lemparkan ke dalam jurang menjadi makanan srigala dan burung gagak!"
"Waduh-waduh ....Bukan main sumbarmu, wanita perkasa! Ketahuilah, kami bertiga kakak beradik Wilis. Kalau kau dapat mengalahkan kami bertiga, barulah akan kami bertimbangkan ucapan-mu tadi!" kata pula Limanwilis menantang. Kepala gerombolan ini tadi sudah menyaksikan sepak terjang Endang Patibroto dan ia sudah cukup maklum bahwa wanita cantik yang berdiri tegak di depannya ini adalah seorang yang sakti mandraguna. Namun tentu saja dia dan adik-adiknya tidak akan mengalah begitu saja.
"Bagus! Majulah kalian bertiga, atau boleh ditambah seluruh gerombolanmu, aku tidak akan undur selangkah!" jawab Endang Patibroto sambil berdiri tegak, siap menanti pengeroyokan dengan kedua tangan kosong. Setyaningsih sudah melangkah mundur, tidak mau mengganggu ayundanya, berdiri di pinggiran dengan keris siap di tangan.
"Heh, wanita perkasa, jangan bersombong! Betapapun juga, kami Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis bukanlah laki-laki pengecut! Kau kalahkan dulu kami kakak beradik bertiga, baru kita bicara lagi" bentak Limanwilis yang marah juga mendengar tantangan Endang Patibroto.
Dia sudah mencabut goloknya, demikian pula kedua adiknya, lalu membentak lagi,
"Keluarkan senjatamu, wanita perkasa!"
Endang Patibroto tersenyum, di dalam hatinya girang melihat bahwa tiga orang kepala gerombolan ini biarpun orang-orang kasar, namun memiliki sifat gagah sehingga tidak sia-sialah dia dan Setyaningsih mengampuni dan tidak membunuh anak buah mereka.
"Untuk menghadapi tiga batang golok-mu, tidak perlu aku bersenjata, Limanwilis. Kalian majulah!"
Ucapan ini menambah kemarahan tiga orang kepala gerombolan itu. Sambil mengeluarkan bentakan hebat, Limanwilis sudah menerjang maju, diikuti oleh kedua orang adiknya dalam detik-detik berikutnya. Serangan mereka luar biasa cepatnya, dan suara berdesing yang keluar dari tiga batang golok itu membuktikan bahwa ketiganya memiliki tenaga yang amat besar. Setyaningsih yang sudah mempelajari ilmu silat, dapat mengerti akan kedigdayaan mereka dan diam-diam ia menjadi khawatir sekali, memandang dengan mata terbelalak sambil menggigit bibir, siap untuk nekat menerjang kalau sampai ayundanya terdesak. Maklumlah, anak ini biarpun sudah mendengar dari mendiang ibunya akan kesaktian ayundanya, namun belum pernah ia menyaksikannya dengan mata sendiri. Tadi sekelebatan ia menyaksikan amukan ayundanya yang dalam sekejap mata saja merobohkan likuran orang, dan karena gerakan Endang Patibroto terlampau cepat, ia hanya mendapat bukti bahwa ayundanya telah menguasai ilmu bergerak cepat, yaitu Aji Bayu Tantra sampai mendekati kesempurnaan. Hanya rakandanya Tejolaksono saja yang agaknya mampu menandingi gerak cepat seperti itu tadi. Memang hebat bukan main sepak terjang Endang Patibroto ketika ia dikeroyok tiga orang kepala rampok itu. Wanita muda ini sedang mengandung dan ia bertangan kosong saja, akan tetapi tiga orang kepala rampok yang bertenaga besar itu sama sekall tidak berdaya menghadapi kecepatan gerak Endang Patibroto yang seolah-olah merupakan seekor burung garuda betina yang marah dan menyambar-nyambar dahsyat!

Limanwilis, orang pertama dari ketiga kepala rampok itu, merasa yakin benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan tidak berani berlaku lengah atau menyerang secara sembrono. Tidak demikian dengan Nogowilis dan Lembuwilis. Kedua orang laki-laki tinggi besar ini menjadi penasaran betul. Mereka bertiga terkenal sebagai tokoh-tokoh gagah perkasa yang jarang menemui tanding, ditakuti semua orang. Kini mereka mengeroyok seorang wanita yang halus gerak-geriknya, bertangan kosong. Masa mereka akan kalah? Rasa penasaran membuat gerakan mereka menjadi beringas dan liar, seperti singa-singa kelaparan. Nogowilis dan Lembuwilis menggerakkan golok, menyerbu dari kanan kiri dengan suara menggereng menyeramkan. Golok mereka sampai mengeluarkan suara berdesing dari kanan kiri. Adapun Limanwilis yang melihat kenekatan kedua orang adiknya, bersiap dengan goloknya untuk mencari kesempatan baik merobohkan lawan tangguh ini. Endang Patibroto merasa kesal hatinya. Kalau ia menghendaki, dengan hantaman-hantaman maut tentu sejak tadi ia telah mampu merobohkan ketiga orang lawannya. Akan tetapi ia tidak menghendaki kematian mereka. Orang-orang kasar ini harus ditundukkan karena mereka akan dapat menjadi pembantu-pembantu yang baik. Inilah sebabnya mengapa Endang Patibroto tidak segera merobohkan mereka dan sekarang, melihat betapa dua orang kepala rampok dengan nekat menerjangnya dari kanan kiri, ia mendapat kesempatan baik.

<<< Bagian 078                                                                                   Bagian 080 >>>

1 comment:

  1. Bagus sekali cerita ini. Luar biasa penulisnya. Apakah ini diangkat dari kisah nyata?

    ReplyDelete