Perawan Lembah Wilis; Bagian 078



Mengapa ayundanya ini sikap dan wataknya berubah-ubah seperti keadaan Laut Selatan? Ia menganggap watak ayundanya ini kurang tenang, sehingga mudah terguncang, mudah dipengaruhi keadaan yang menimpa diri. Namun, ia merasa amat prihatin dan kasihan kepada ayundanya sehingga mempertebal rasa kasihnya terhadap saudara kandungnya ini.
Setelah melakukan perjalanan turun gunung dan masuk keluar hutan sampai berhari-hari, pada suatu pagi hari yang cerah kedua orang wanita kakak beradik ini tiba di Gunung Wilis. Mereka mendaki lereng Wilis yang sunyi itu dan keduanya merasa heran mengapa gunung ini begitu sunyi, berbeda dengan gunung-gunung lain yang selalu dijadikan tempat tinggal orang-orang yang bertani di lereng gunung, akan tetapi gunung Wilis sunyi tidak ada dusunnya. Betapapun juga, hal ini malah menyenangkan hati mereka berdua karena terutama sekali Endang Patibroto selalu menghendaki kesunyian dan menghindari pertemuan dengan orang-orang lain. Apalagi pemandangan di Gunung Wilis amat indahnya, hawanya sejuk dan tanahnya amat subur, terbukti dengan padatnya tetumbuhan beraneka warna.
"Kita mengaso di sini dulu, Ningsih." Setyaningsih mengangguk. Ketika Endang Patibroto duduk bersila di bawah pohon jeruk yang teduh, mulai mengheningkan cipta untuk bersamadhi seperti yang selalu dilakukan wanita sakti ini tiap kali beristirahat untuk memulihkan tenaga, Setyaningsih pergi mencari air yang banyak terdapat di sekitar lereng, yaitu air yang memancar keluar dari celah-celah batu. Airnya jernih dan dingin sekali, yang ditampungnya dengan dua buah batok kelapa yang sengaja mereka buat di tengah perjalanan. Setelah meletakkan sebatok air jernih di depan ayundanya dan dia sendiri minum sedikit air untuk membasahi kerongkongannya yang kering, Setyaningsih juga meniru ayundanya, duduk bersila melepaskan lelah. Sikap duduk mereka itu adalah yang disebut Padmasana atau sikap duduk bentuk bunga teratai. Duduk bersila dengan kedua kaki tertumpang di paha masing-masing, kedua tangan telentang dan terletak di antara kedua tumit, dibawah pusar, tulang punggung dari kepala sampai ke pinggul tegak lurus. Duduk dengan sikap seperti ini lalu mengatur pernapasan sesuai dengan ajaran Pranayama, sebentar saja dapat menyehatkan tubuh dan memulihkan tenaga kembali.

Kedua orang kakak beradik ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi ketika mereka mulai mendaki dari kaki gunung, gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh puluhan pasang mata yang mengintai dari atas. Dan kini, setelah mereka duduk melepas lelah, hanya Endang Patibroto yang tahu bahwa ada orang-orang yang berindap-indap menyelinap di antara pohon-pohon mendekati tempat mereka mengaso, akan tetapi Endang Patibroto masih duduk diam melanjutkan samadhinya tanpa memperhatikan gerakan orang-orang itu. Setyaningsih tidak tahu dan masih tekun dalam samadhi, makin lama makin halus keluar masuknya napas dari lubang hidungnya dan makin tenang bayangan pada wajahnya yang cantik. Endang Patibroto biarpun dengan ketajaman pandangan dan pendengarannya dapat mengetahui kedatangan puluhan orang itu, namun ia tidak dapat menduga siapa mereka. Ia tidak tahu bahwa Gunung Wilis dihuni oleh segerombolan perampok yang sudah bertahun-tahun merajai pegunungan ini dan menyebut diri mereka Gerombolan Wilis. Gerombolan ini besar juga jumlahnya, kurang lebih seratus orang dan mereka membentuk sebuah perkampungan perampok di dekat puncak, di mana para perampok ini hidup dengan keluarga mereka. Pekerjaan mereka selain bertani dan memburu binatang hutan, juga merampok! Siapa saja yang lewat di wilayah Wilis, tentu menjadi korban perampok, bahkan kadang-kadang mereka tidak segan-segan untuk menyerbu kampung yang berdekatan sehingga lama-lama tidak ada lagi orang berani tinggal di sekitar daerah Wilis. Inilah sebabnya mengapa pegunungan ini begitu sunyi, tidak ada dusunnya. Gerombolan Wilis ini dipimpin oleh tiga orang bersaudara yang semenjak merajai Wilis lalu menyebut diri mereka sebagai Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis!l Tiga orang kakak-beradik ini usianya sudah empat puluhan lebih, dan mereka terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki kedigdayaan dan kekebalan sehingga beberapa tahun kemudian, nama Gerombolan Wilis amat terkenal dan ditakuti orang.

Ketika mendapat pelaporan para penjaga di kaki gunung bahwa ada dua orang wanita mendaki gunung, tiga orang kepala gerombolan ini terheran-heran dan memberi perintah agar mendiamkan saja dua orang wanita itu mendaki karena mereka bertiga hendak menyaksikan sendiri siapa gerangan dua orang wanita yang amat berani itu. Sedangkan puluhan orang pria masih akan berpikir-pikir dahulu sebelum mendaki Wilis, bagaimana kini ada dua orang wanita tanpa pengawal berani naik? Keluarlah tiga orang kepala rampok ini dari pondok mereka dan diam-diam mereka ikut mengintai. Alangkah kagum hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang mendaki gunung mereka itu seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seperti Sang Bathari Komaratih sendiri, berusia paling banyak tiga puluh tahun, bersama seorang gadis cilik belasan tahun yang juga cantik jelita sukar dicari keduanya. Mereka bertiga melongo. Sebagai orang-orang kasar, belum pernah mereka menyaksikan kecantikan wanita yang bagi mereka tampak agung itu. Akan tetapi ketika mereka melihat betapa dua orang wanita itu beristirahat dan duduk bersamadhi, mereka makin bengong terlongong. Sebagai orang-orang yang telah mempelajari ilmu kesaktian, tentu saja mereka mengenal sikap duduk dua orang wanita itu dan dapat menduga bahwa dua orang wanita itu tentu bukan wanita-wanita sembarangan atau wanita-wanita lemah. Karena inilah maka Limanwilis yang tertua di antara tiga kepala rampok, memberi isyarat agar anak buahnya jangan turun tangan secara kasar. Kemudian ia memberi isyarat lagi. Bergeraklah anak buahnya melakukan pengurungan sehingga tempat di mana dua orang wanita itu duduk bersamadhi telah dikelilingi barisan perampok yang jumlahnya hampir seratus orang, terdiri dari laki-laki yang bertubuh kuat-kuat dan sudah biasa berkelahi. Sekali lagi Limanwilis memberi isyarat dan majulah para perampok itu, memperkecil lingkaran dan keluar dari tempat, persembunyiannya, juga mereka kini bebas mengeluarkan suara.
Endang Patibroto tentu saja dapat mengetahui semua gerakan ini biarpun kedua matanya masih dipejamkan. Dengan ketajaman pendengarannya saja, ia sudah dapat mengikuti seluruh gerakan mereka. Setyaningsih mendengar gerakan dan suara mereka, maka gadis cilik ini membuka kedua matanya. Betapapun tenang wataknya, gadis cilik ini terkejut juga ketika memandang ke sekeliling dan melihat puluhan laki-laki tinggi besar kasar, rata-rata brewok, berpakaian serba hijau semua, di pinggang mereka tergantung bermacam-macam senjata tajam, dipimpin oleh tiga orang laki-laki tinggi besar, telah mengurung tempat itu. Anak perempuan ini melirik ayundanya dan melihat ayundanya masih duduk bersamadhi dengan tenang sekali, kedua mata dipejamkan. Ia menjadi tenang kembali menyaksikan sikap ayundanya, dan tahu bahwa ayundanya menghendaki dia melayani orang-orang yang datang mengganggu mereka ini. Tenang-tenang saja Setyaningsih bangkit berdiri, mengebut-ngebut kainnya dari tanah debu, kemudian baru ia mengangkat muka menghadapi tiga orang laki-laki tinggi besar yang ia dapat diduga tentulah pimpinan mereka karena tiga orang laki-laki ini biar hijau, namun pakaian mereka lebih mewah dan sikap mereka juga membayangkan kepemimpinan. Pula, mereka bertiga itulah yang berdiri, paling dekat, sedangkan puluhan orang yang lain hanya berjajar dalam barisan mengurung sambil menyeringai dan bersikap menanti perintah.

Setyaningsih melangkah maju tiga tindak sampai ia berdiri berhadapan dengan tiga orang pimpinan Gerombolan Wilis itu. Setelah memandang penuh selldik dengan sepasang matanya yang tajam bersinar, berkatalah Setyaningsih, suara-nya lantang, sikapnya angkuh, jangankan kelihatan gentar, bahkan seperti orang memandang rendah,
"Siapakah andika bertiga ini? Dan apa sebabnya andika memimpin anak buah andika mengurung tempat ini dan mengganggu aku dan ayundaku yang sedang beristirahat?" Sejenak tiga orang kepala rampok itu melongo. Sungguh tak pernah mereka sangka akan mendengar teguran yang keluar demikian tenangnya dari mulut bocah ini. Kemudian mereka bertiga saling pandang dan tak dapat menahan ketawa mereka.
"Huah-ha-ha-ha! Toblis-toblis. Luar biasa sekali bocah ini! Begini muda, masih kanak-kanak sudah membayangkan kecantikan seperti bidadari kahyangan, dan keberaniannya seperti seekor singa betina! Anak baik, bocah denok ayu, calon puteri pilihan yang patut menjadi garwaku (isteriku), siapakah namamu cah ayu (anak cantik)?" kata Limanwilis sambil tersenyum-senyum ramah dan wajah yang penuh brewok itu berseri-seri, kemudian ia menuding ke arah Endang Patribroto dan melanjutkan pertanyaannya,
"Dan siapakah wanita cantik jelita seperti Sang Hyang Komaratih itu? Siapa namanya, mau pergi ke mana, dan apa keperluannya datang ke Gunung Wilis?" Setyaningsih mengerutkan alisnya yang kecil hitam, matanya menyinarkan kemarahan, kepalanya dikedikkan, tubuhnya ditegakkan, tangan kiri bertolak pinggang dan telunjuk tangan kanan menuding ke arah muka Limanwilis.
"Eh, paman tua. Mengapa engkau begini tidak tahu tata susila? Kalianlah yang lebih dahulu mengganggu kami yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan kalian, maka sudah semestinya kalau kalian mengaku siapa kalian ini dan mengapa mengganggu kami berdua. Jawablah pertanyaanku, kalau kalian tidak mau menjawab, lebih baik lekas pergi dan jangan ganggu kami sebelum terlambat!"
"Heh-heh-heh, bocah yang berhati singa! Sebelum terlambat katamu? Apa maksudmu?" tanya Lembuwilis yang juga kagum menyaksikan ketabahan Setyaningsih, sambil mendekat.
"Karena kalau ayundaku sampai marah dan bangkit, kalian takkan dapat mencari tempat untuk menyembunyikan nyawa kalianl"
"Babo-babo, bocah sombong sekali!" Nogowilis membentak. Di antara tiga orang bersaudara ini, Nogowilis yang termuda dan yang paling berangasan (pemarah).
"Kau mundur dan suruhlah ayundamu maju. Aku enggan melawan anak-anak!"
"Hush, adi Nogo, sabarlah. Anak ini menarik sekali, dan aku yakin dia ini bukan bocah sembarangan," kata Limanwills menyabarkan adiknya lalu menghadapi Setyaningsih lagi, sikapnya masih ramah dan sabar.
"Eh, perawan cilik yang berani mati, biarlah engkau mengenal kami. Aku adalah Limanwilis, dia adikku Lembuwilis dan yang itu adik bungsu Nogowilis. Kami bertiga kakak beradik yang menjadi pimpinan dari Gerombolan Wilis yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal sekali), disegani kawan ditakuti lawan! Gunung Wilis dan wilayahnya adalah tempat kekuasaan kami, siapapun tidak boleh lewat sebelum mendapat ijin dari kami! Pagi hari ini kalian berdua lewat daerah kami, tentu saja merupakan pelanggaran. Akan tetapi, karena engkau begini tabah dan ayundamu begitu cantik jelita, biarlah kami ampunkan kalian asalkan kalian suka tinggal bersama kami, menjadi keluarga kami. Ha-ha-ha!"
"Hem m, wawasanmu lancang sekali, Limanwilis! Engkau kira kami ini orang macam apa untuk kau jadikan anggota keluargamu? Sudahlah, lebih baik menyingkir dari sini dan biarkan kami melanjutkan perjalanan."
"Waduh-waduh, sombongnya!" Nogowilis membentak lagi.
"Kakang Liman, kok sabar-sabarnya itu, lho! Biar kupondong dan ciumi mulutnya biar dia kapok dan tidak membuka mulut lebar lagi!"
"Huah-ha-ha-ha! Sabar ...sabar .....adi Nogo. Masa kita harus bertengkar dan bertanding melawan perawan cilik? Alangkah memalukan! Eh, perawan cilik, kau panggil saja ayundamu biar dia yang bicara dengan kami."
Setyaningsih menoleh ke arah Endang Patibroto yang masih samadhi, lalu ia menggoyang kepala keras-keras.
"Tidak, ayunda sedang samadhi, tidak boleh diganggu!"
"Biar aku yang membangunkannya!" kata Lembuwilis yang sudah melangkah maju.
"Tahan ...!" Sekali meloncat, tubuh Setyaningsih berkelebat dan sudah berada di depan Lembuwilis, menghadang dengan keris di tangan kanan!
"Siapapun tidak boleh mengganggu ayunda, kecuali melalui mayatku!" Lembuwilis mundur sampai tiga langkah dengan mata terbelalak. Demikian heran dan kagum hatinya sampai ia melongo, tak dapat bicara. Limanwilis juga kagum sekali, lalu menarik tangan Lembuwilis mundur.
"Biarlah kita coba dia, adi Lembu. Heh, Dayun, kau majulah dan coba kaulayani perawan cilik ini bertanding!"

Seorang laki-laki tinggi besar akan tetapi masih muda, rambutnya panjang riap-riapan meloncat maju dari dalam barisan perampok. Dia ini anak buah perampok, akan tetapi merupakan seorang yang kuat dan menjadi pembantu utama tiga orang pimpinan itu. Dayun melangkah maju, tersenyum menyeringai lebar.
"Waahhh, kakangmas Limanwilis, betapa memalukan melawan seorang bocah, apalagi kalau dia perempuan dan begini halus .! Heh-heh!"
"Huah, tak usah banyak cerewet. Kau ujilah dia, ingin aku melihat apakah dia setangkas mulutnya. Akan tetapi cukup kalau kau merobohkan dia, jangan sampai melukai dia. Sayang kalau terluka, begitu denok!"
"Baiklah!" Dayun melangkah maju menghadapi Setyaningsih yang memandangnya dengan marah.
"Marilah bocah ayu, mari kita main-main sebentar. Kau tusukkanlah kerismu yang sebesar daun padi itu ke dadaku ini. Nah, kubuka dadaku, tusuklah, sayang. Heh-heh-heh!" Dayun memasang lagak, membusungkan dadanya yang berbulu dan membusung kuat sekali. Setyaningsih tidak menjawab, melainkan menyarungkan kerisnya kembali.

<<< Bagian 077                                                                                     Bagian 079 >>>

No comments:

Post a Comment