Mengapa ayundanya ini sikap
dan wataknya berubah-ubah seperti keadaan Laut Selatan? Ia menganggap watak
ayundanya ini kurang tenang, sehingga mudah terguncang, mudah dipengaruhi
keadaan yang menimpa diri. Namun, ia merasa amat prihatin dan kasihan kepada
ayundanya sehingga mempertebal rasa kasihnya terhadap saudara kandungnya ini.
Setelah melakukan perjalanan
turun gunung dan masuk keluar hutan sampai berhari-hari, pada suatu pagi hari
yang cerah kedua orang wanita kakak beradik ini tiba di Gunung Wilis. Mereka
mendaki lereng Wilis yang sunyi itu dan keduanya merasa heran mengapa gunung
ini begitu sunyi, berbeda dengan gunung-gunung lain yang selalu dijadikan
tempat tinggal orang-orang yang bertani di lereng gunung, akan tetapi gunung
Wilis sunyi tidak ada dusunnya. Betapapun juga, hal ini malah menyenangkan hati
mereka berdua karena terutama sekali Endang Patibroto selalu menghendaki
kesunyian dan menghindari pertemuan dengan orang-orang lain. Apalagi
pemandangan di Gunung Wilis amat indahnya, hawanya sejuk dan tanahnya amat
subur, terbukti dengan padatnya tetumbuhan beraneka warna.
"Kita mengaso di sini
dulu, Ningsih." Setyaningsih mengangguk. Ketika Endang Patibroto duduk
bersila di bawah pohon jeruk yang teduh, mulai mengheningkan cipta untuk
bersamadhi seperti yang selalu dilakukan wanita sakti ini tiap kali
beristirahat untuk memulihkan tenaga, Setyaningsih pergi mencari air yang
banyak terdapat di sekitar lereng, yaitu air yang memancar keluar dari
celah-celah batu. Airnya jernih dan dingin sekali, yang ditampungnya dengan dua
buah batok kelapa yang sengaja mereka buat di tengah perjalanan. Setelah
meletakkan sebatok air jernih di depan ayundanya dan dia sendiri minum sedikit
air untuk membasahi kerongkongannya yang kering, Setyaningsih juga meniru
ayundanya, duduk bersila melepaskan lelah. Sikap duduk mereka itu adalah yang
disebut Padmasana atau sikap duduk bentuk bunga teratai. Duduk bersila dengan
kedua kaki tertumpang di paha masing-masing, kedua tangan telentang dan
terletak di antara kedua tumit, dibawah pusar, tulang punggung dari kepala
sampai ke pinggul tegak lurus. Duduk dengan sikap seperti ini lalu mengatur
pernapasan sesuai dengan ajaran Pranayama, sebentar saja dapat menyehatkan
tubuh dan memulihkan tenaga kembali.
Kedua orang kakak beradik
ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi ketika mereka mulai mendaki dari
kaki gunung, gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh puluhan pasang mata yang
mengintai dari atas. Dan kini, setelah mereka duduk melepas lelah, hanya Endang
Patibroto yang tahu bahwa ada orang-orang yang berindap-indap menyelinap di
antara pohon-pohon mendekati tempat mereka mengaso, akan tetapi Endang
Patibroto masih duduk diam melanjutkan samadhinya tanpa memperhatikan gerakan
orang-orang itu. Setyaningsih tidak tahu dan masih tekun dalam samadhi, makin
lama makin halus keluar masuknya napas dari lubang hidungnya dan makin tenang
bayangan pada wajahnya yang cantik. Endang Patibroto biarpun dengan ketajaman
pandangan dan pendengarannya dapat mengetahui kedatangan puluhan orang itu,
namun ia tidak dapat menduga siapa mereka. Ia tidak tahu bahwa Gunung Wilis
dihuni oleh segerombolan perampok yang sudah bertahun-tahun merajai pegunungan
ini dan menyebut diri mereka Gerombolan Wilis. Gerombolan ini besar juga
jumlahnya, kurang lebih seratus orang dan mereka membentuk sebuah perkampungan
perampok di dekat puncak, di mana para perampok ini hidup dengan keluarga
mereka. Pekerjaan mereka selain bertani dan memburu binatang hutan, juga
merampok! Siapa saja yang lewat di wilayah Wilis, tentu menjadi korban
perampok, bahkan kadang-kadang mereka tidak segan-segan untuk menyerbu kampung
yang berdekatan sehingga lama-lama tidak ada lagi orang berani tinggal di
sekitar daerah Wilis. Inilah sebabnya mengapa pegunungan ini begitu sunyi,
tidak ada dusunnya. Gerombolan Wilis ini dipimpin oleh tiga orang bersaudara
yang semenjak merajai Wilis lalu menyebut diri mereka sebagai Limanwilis,
Lembuwilis, dan Nogowilis!l Tiga orang kakak-beradik ini usianya sudah empat puluhan
lebih, dan mereka terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki
kedigdayaan dan kekebalan sehingga beberapa tahun kemudian, nama Gerombolan
Wilis amat terkenal dan ditakuti orang.
Ketika mendapat pelaporan
para penjaga di kaki gunung bahwa ada dua orang wanita mendaki gunung, tiga
orang kepala gerombolan ini terheran-heran dan memberi perintah agar mendiamkan
saja dua orang wanita itu mendaki karena mereka bertiga hendak menyaksikan
sendiri siapa gerangan dua orang wanita yang amat berani itu. Sedangkan puluhan
orang pria masih akan berpikir-pikir dahulu sebelum mendaki Wilis, bagaimana
kini ada dua orang wanita tanpa pengawal berani naik? Keluarlah tiga orang
kepala rampok ini dari pondok mereka dan diam-diam mereka ikut mengintai.
Alangkah kagum hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang mendaki gunung
mereka itu seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seperti Sang Bathari
Komaratih sendiri, berusia paling banyak tiga puluh tahun, bersama seorang
gadis cilik belasan tahun yang juga cantik jelita sukar dicari keduanya. Mereka
bertiga melongo. Sebagai orang-orang kasar, belum pernah mereka menyaksikan
kecantikan wanita yang bagi mereka tampak agung itu. Akan tetapi ketika mereka
melihat betapa dua orang wanita itu beristirahat dan duduk bersamadhi, mereka
makin bengong terlongong. Sebagai orang-orang yang telah mempelajari ilmu
kesaktian, tentu saja mereka mengenal sikap duduk dua orang wanita itu dan
dapat menduga bahwa dua orang wanita itu tentu bukan wanita-wanita sembarangan
atau wanita-wanita lemah. Karena inilah maka Limanwilis yang tertua di antara
tiga kepala rampok, memberi isyarat agar anak buahnya jangan turun tangan
secara kasar. Kemudian ia memberi isyarat lagi. Bergeraklah anak buahnya
melakukan pengurungan sehingga tempat di mana dua orang wanita itu duduk
bersamadhi telah dikelilingi barisan perampok yang jumlahnya hampir seratus
orang, terdiri dari laki-laki yang bertubuh kuat-kuat dan sudah biasa
berkelahi. Sekali lagi Limanwilis memberi isyarat dan majulah para perampok
itu, memperkecil lingkaran dan keluar dari tempat, persembunyiannya, juga
mereka kini bebas mengeluarkan suara.
Endang Patibroto tentu saja
dapat mengetahui semua gerakan ini biarpun kedua matanya masih dipejamkan.
Dengan ketajaman pendengarannya saja, ia sudah dapat mengikuti seluruh gerakan
mereka. Setyaningsih mendengar gerakan dan suara mereka, maka gadis cilik ini
membuka kedua matanya. Betapapun tenang wataknya, gadis cilik ini terkejut juga
ketika memandang ke sekeliling dan melihat puluhan laki-laki tinggi besar
kasar, rata-rata brewok, berpakaian serba hijau semua, di pinggang mereka
tergantung bermacam-macam senjata tajam, dipimpin oleh tiga orang laki-laki
tinggi besar, telah mengurung tempat itu. Anak perempuan ini melirik ayundanya
dan melihat ayundanya masih duduk bersamadhi dengan tenang sekali, kedua mata
dipejamkan. Ia menjadi tenang kembali menyaksikan sikap ayundanya, dan tahu
bahwa ayundanya menghendaki dia melayani orang-orang yang datang mengganggu
mereka ini. Tenang-tenang saja Setyaningsih bangkit berdiri, mengebut-ngebut
kainnya dari tanah debu, kemudian baru ia mengangkat muka menghadapi tiga orang
laki-laki tinggi besar yang ia dapat diduga tentulah pimpinan mereka karena
tiga orang laki-laki ini biar hijau, namun pakaian mereka lebih mewah dan sikap
mereka juga membayangkan kepemimpinan. Pula, mereka bertiga itulah yang
berdiri, paling dekat, sedangkan puluhan orang yang lain hanya berjajar dalam
barisan mengurung sambil menyeringai dan bersikap menanti perintah.
Setyaningsih melangkah maju
tiga tindak sampai ia berdiri berhadapan dengan tiga orang pimpinan Gerombolan
Wilis itu. Setelah memandang penuh selldik dengan sepasang matanya yang tajam
bersinar, berkatalah Setyaningsih, suara-nya lantang, sikapnya angkuh,
jangankan kelihatan gentar, bahkan seperti orang memandang rendah,
"Siapakah andika
bertiga ini? Dan apa sebabnya andika memimpin anak buah andika mengurung tempat
ini dan mengganggu aku dan ayundaku yang sedang beristirahat?" Sejenak
tiga orang kepala rampok itu melongo. Sungguh tak pernah mereka sangka akan
mendengar teguran yang keluar demikian tenangnya dari mulut bocah ini. Kemudian
mereka bertiga saling pandang dan tak dapat menahan ketawa mereka.
"Huah-ha-ha-ha!
Toblis-toblis. Luar biasa sekali bocah ini! Begini muda, masih kanak-kanak
sudah membayangkan kecantikan seperti bidadari kahyangan, dan keberaniannya
seperti seekor singa betina! Anak baik, bocah denok ayu, calon puteri pilihan
yang patut menjadi garwaku (isteriku), siapakah namamu cah ayu (anak
cantik)?" kata Limanwilis sambil tersenyum-senyum ramah dan wajah yang
penuh brewok itu berseri-seri, kemudian ia menuding ke arah Endang Patribroto
dan melanjutkan pertanyaannya,
"Dan siapakah wanita
cantik jelita seperti Sang Hyang Komaratih itu? Siapa namanya, mau pergi ke mana,
dan apa keperluannya datang ke Gunung Wilis?" Setyaningsih mengerutkan
alisnya yang kecil hitam, matanya menyinarkan kemarahan, kepalanya dikedikkan,
tubuhnya ditegakkan, tangan kiri bertolak pinggang dan telunjuk tangan kanan
menuding ke arah muka Limanwilis.
"Eh, paman tua. Mengapa
engkau begini tidak tahu tata susila? Kalianlah yang lebih dahulu mengganggu
kami yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan kalian, maka sudah semestinya
kalau kalian mengaku siapa kalian ini dan mengapa mengganggu kami berdua.
Jawablah pertanyaanku, kalau kalian tidak mau menjawab, lebih baik lekas pergi
dan jangan ganggu kami sebelum terlambat!"
"Heh-heh-heh, bocah
yang berhati singa! Sebelum terlambat katamu? Apa maksudmu?" tanya
Lembuwilis yang juga kagum menyaksikan ketabahan Setyaningsih, sambil mendekat.
"Karena kalau ayundaku
sampai marah dan bangkit, kalian takkan dapat mencari tempat untuk
menyembunyikan nyawa kalianl"
"Babo-babo, bocah
sombong sekali!" Nogowilis membentak. Di antara tiga orang bersaudara ini,
Nogowilis yang termuda dan yang paling berangasan (pemarah).
"Kau mundur dan
suruhlah ayundamu maju. Aku enggan melawan anak-anak!"
"Hush, adi Nogo,
sabarlah. Anak ini menarik sekali, dan aku yakin dia ini bukan bocah
sembarangan," kata Limanwills menyabarkan adiknya lalu menghadapi
Setyaningsih lagi, sikapnya masih ramah dan sabar.
"Eh, perawan cilik yang
berani mati, biarlah engkau mengenal kami. Aku adalah Limanwilis, dia adikku
Lembuwilis dan yang itu adik bungsu Nogowilis. Kami bertiga kakak beradik yang
menjadi pimpinan dari Gerombolan Wilis yang sudah kondang kaonang-onang
(terkenal sekali), disegani kawan ditakuti lawan! Gunung Wilis dan wilayahnya
adalah tempat kekuasaan kami, siapapun tidak boleh lewat sebelum mendapat ijin
dari kami! Pagi hari ini kalian berdua lewat daerah kami, tentu saja merupakan pelanggaran.
Akan tetapi, karena engkau begini tabah dan ayundamu begitu cantik jelita,
biarlah kami ampunkan kalian asalkan kalian suka tinggal bersama kami, menjadi
keluarga kami. Ha-ha-ha!"
"Hem m, wawasanmu
lancang sekali, Limanwilis! Engkau kira kami ini orang macam apa untuk kau
jadikan anggota keluargamu? Sudahlah, lebih baik menyingkir dari sini dan
biarkan kami melanjutkan perjalanan."
"Waduh-waduh,
sombongnya!" Nogowilis membentak lagi.
"Kakang Liman, kok
sabar-sabarnya itu, lho! Biar kupondong dan ciumi mulutnya biar dia kapok dan
tidak membuka mulut lebar lagi!"
"Huah-ha-ha-ha! Sabar
...sabar .....adi Nogo. Masa kita harus bertengkar dan bertanding melawan
perawan cilik? Alangkah memalukan! Eh, perawan cilik, kau panggil saja ayundamu
biar dia yang bicara dengan kami."
Setyaningsih menoleh ke arah
Endang Patibroto yang masih samadhi, lalu ia menggoyang kepala keras-keras.
"Tidak, ayunda sedang
samadhi, tidak boleh diganggu!"
"Biar aku yang membangunkannya!"
kata Lembuwilis yang sudah melangkah maju.
"Tahan ...!"
Sekali meloncat, tubuh Setyaningsih berkelebat dan sudah berada di depan
Lembuwilis, menghadang dengan keris di tangan kanan!
"Siapapun tidak boleh
mengganggu ayunda, kecuali melalui mayatku!" Lembuwilis mundur sampai tiga
langkah dengan mata terbelalak. Demikian heran dan kagum hatinya sampai ia
melongo, tak dapat bicara. Limanwilis juga kagum sekali, lalu menarik tangan
Lembuwilis mundur.
"Biarlah kita coba dia,
adi Lembu. Heh, Dayun, kau majulah dan coba kaulayani perawan cilik ini
bertanding!"
Seorang laki-laki tinggi
besar akan tetapi masih muda, rambutnya panjang riap-riapan meloncat maju dari
dalam barisan perampok. Dia ini anak buah perampok, akan tetapi merupakan
seorang yang kuat dan menjadi pembantu utama tiga orang pimpinan itu. Dayun
melangkah maju, tersenyum menyeringai lebar.
"Waahhh, kakangmas
Limanwilis, betapa memalukan melawan seorang bocah, apalagi kalau dia perempuan
dan begini halus .! Heh-heh!"
"Huah, tak usah banyak
cerewet. Kau ujilah dia, ingin aku melihat apakah dia setangkas mulutnya. Akan
tetapi cukup kalau kau merobohkan dia, jangan sampai melukai dia. Sayang kalau
terluka, begitu denok!"
"Baiklah!" Dayun
melangkah maju menghadapi Setyaningsih yang memandangnya dengan marah.
"Marilah bocah ayu,
mari kita main-main sebentar. Kau tusukkanlah kerismu yang sebesar daun padi
itu ke dadaku ini. Nah, kubuka dadaku, tusuklah, sayang. Heh-heh-heh!"
Dayun memasang lagak, membusungkan dadanya yang berbulu dan membusung kuat sekali.
Setyaningsih tidak menjawab, melainkan menyarungkan kerisnya kembali.
No comments:
Post a Comment