Perawan Lembah Wilis; Bagian 077


Pada pertemuan berikutnya dengan Pangeran Kukutan, ia menegur pangeran itu,
"Pangeran, engkau benar-benar ceroboh! Kalau tidak ada aku yang bersikap hati-hati, tentu akan celakalah kita di tangan Ki Patih Brotomenggala!" Pangeran Kukutan merangkul, mendekap dan mencium bibir yang menantang itu sebelum bertanya,
"Ah, datang-datang aku disambut makian. Apa salahanku kali ini, dewi jelita? Mengapa kau menyebut aku ceroboh?"
"Dasar bodoh!" Suminten melepaskan diri daripada pelukan.
"Lupakah engkau betapa engkau menelanjangi juru taman?"
"Eh, mengapa ceroboh? Bukankah perbuatan itu menunjukkan kecerdikanku, sesuai dengan siasatmu yang amat sempurna?"
"Memang benar, akan tetapi baju juru taman itu berlubang dan berdarah bekas tusukanmu!" Pangeran Kukutan masih tidak mengerti dan memandang kekasihnya dengan mata penuh pertanyaan.
"Habis, mengapa?"
"Mengapa? Benar-benar kau tidak mengerti? Kalau kau bermain cinta dan bertelanjang bulat ketika kau menusuknya, bagaimana pakaiannya dapat berlubang dan berdarah? Kalau kau menusuknya dalam keadaan berpakaian, mengapa pakaiannya terlepas semua dan ia telanjang? Perbuatanmu itu dapat membuka rahasia kita, seolah-olah pakaian berlubang dan berdarah si juru taman itu dapat bercerita bahwa si juru taman itu kautusuk lebih dulu, baru kemudian ditelanjangi! Kaukira ki patih orang bodoh? Dia telah mencari-cari bekas pakaian si juru taman itu!"
Seketika pucat wajah Pangeran Kukutan. Suaranya gemetar ketika ia bertanya,
"lalu .... , bagaimana ....? Di mana .... eh, pakaian itu....?" Suminten tersenyum, lalu melangkah dan duduk di atas pembaringan, memasukkan kedua kakinya di dalam tempayan berisi air bunga mawar untuk mencuci kakinya.
Kemudian ia mengangkat mukanya memandang pangeran itu dan berkata,
"Kalau tidak ada aku, sekarang engkau tentu telah digantung! Untung aku melihat kebodohanmu itu dan sudah kusuruh singkirkan pakaian itu oleh embanku."
Pangeran Kukutan yang sudah merangkul pundak itu, melangkah mundur dengan senyum dikulum. Sudah biasa ia menyanjung dan menjilat untuk menyenangkan hati kekasihnya ini. Apalagi sekarang, ia anggap bahwa kekasihnya telah menyelamatkan nyawanya. Tanpa sangsi lagi ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten.
"Pangeran, benar-benarkah engkau berterima kasih kepadaku bahwa aku telah menolong dan menyelamatkan nyawamu?"
"Demi para dewata di Suralaya, adinda Suminten. Aku bersyukur dan berterima kasih sekali, juga makin mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku."
"Engkau mau melakukan apa saja yang kuminta?"
"Siap sedia!"
"Kalau begitu, aku ingin melihat kesetiaanmu, Pangeran Kukutan. Kau minumlah air mawar bekas kakiku." Pangeran Kukutan mengangkat muka memandang.
Melihat betapa mulut itu tersenyum manis dan mata itu memandang penuh berahi, ia tertawa, lalu menunduk, mengangkat tempayan berisi air mawar bekas pencuci kaki Suminten, mendekatkan ke mulutnya dan .......... ia minum beberapa teguk air itu.
"Aahhhh .......... segar sekali!"

Pangeran Kukutan menaruh tempayan di atas lantai. Melihat Suminten tertawa girang, iapun tertawa dan merangkul pinggang, menyembunyikan mukanya di atas pangkuan wanita itu. Sejenak Suminten diam saja, berdongak meramkan mata, kedua tangan menjambak rambut kepala di atas pangkuannya, kemudian perlahan ia mendorong pangeran itu mundur.
"Cukup, pangeran. Malam ini kita tidak boleh .....!!”
"Tapi .....tapi ...., mengapa .......!?" Pangeran Kukutan terkejut. Minum air bekas cucian kaki masih ringan, akan tetapi kalau wanita ini menolak cintanya, benar-benar hal ini amat berat baginya.
"Kita harus hati-hati. Bukan hanya Sekarmadu musuh kita. Masih banyak tugas menanti. Kesenangan dapat kita lakukan segala waktu dan masih panjang bagi kita. Pangeran, mulai sekarang kita atur rencana menyusun kekuatan mengumpulkan sekutu yang boleh dipercaya, melenyapkan musuh-musuh yang berada di istana dan di luar istana. Adapun tentang pertemuan kita ..hemm, mulai sekarang, akulah yang akan menentukan waktu dan saatnya. Jangan sekali-kali kau berani datang menemuiku kalau tidak kupanggil. Mengerti?"
Kekecewaan besar yang tadinya membayang di wajah pangeran itu, perlahan-lahan lenyap, terganti oleh kesungguhan dan pengertian. Pangeran itu mengangguk-angguk dan berkata lirih,
"Aku mengerti, Diajeng. Memang seharusnya aku mentaati segala perintahmu, karena kaulah yang mempunyai kecerdikan luar biasa."
"Nah, kalau begitu, pergilah sekarang juga. Siapa tahu ki patih selalu memasang mata-mata. Aku akan mengganti semua emban menjadi orang-orang yang tunduk kepadaku." Pangeran Kukutan bangkit berdiri, mendekati hendak merangkul dan mencium seperti yang ia selalu lakukan di saat mereka hendak berpisah. Akan tetapi Suminten juga bangkit berdiri dan mendorong dengan kedua tangan.
"Jangan!"
"Hanya cium perpisahan, Diajeng ..... "
"Itupun harus aku yang menentukan!"
Sejenak sang pangeran meragu, lalu menunduk dan mengangguk, membalikkan diri dan melangkah keluar ke arah pintu pondok.
"Pangeran ...." Panggilan lirih itu membuat ia berhenti dan membalikkan tubuh. Suminten menggapai dan ia melangkah maju mendekat.
"Nah, berilah cium perpisahan itu," kata Suminten sambil tertawa dan mengangkat mukanya.
Bagaikan kucing kelaparan Pangeran Kukutan meraih, merangkul dan mencium mulut yang masih tertawa itu, penuh cinta kasih dan berahi. Suminten mendorongnya perlahan dan menjauhkan muka.
"Cukuplah, ingat, masih banyak waktu bagi kita. Nah, pergilah, pangeran." Pangeran Kukutan memandang sejenak, tersenyum penuh kasih sayang dan terima kasih, lalu pergi keluar dari pondok memasuki taman gelap. Suminten yang ditinggal seorang diri di atas pembaringan di pondok, meramkan matanya dan tertawa. Ia mengepal tangan kanannya dan merasa seolah-olah Pangeran Kukutan berada di dalam kepalan tangannya itu. Ia telah menguasai pangeran itu seluruhnya, dan ia puas. Bahkan dalam hal cinta sekalipun ia yang berkuasa dan pangeran itu hanya seperti seekor anjing penjaga yang akan datang apabila ia menjentikkan jari tangannya.

Demikianlah, makin lama, secara teratur dan pandai sekali, Suminten makin menaik derajatnya di dalam istana, makin dalam sang prabu tenggelam ke dalam pelukan dan makin mabuk dalam belaiannya. Tidak hanya memabukkan sang prabu sehingga raja tua itu tunduk kepadanya, juga wanita cerdik ini mulailah memperluas pengaruh dan kekuasaannya sehingga seringkali sang prabu merundingkan soal-soal pemerintahan dengan selir terkasih ini dan tidak jarang sang prabu mengambil keputusan berdasarkan nasehat Suminten! Tahun demi tahun lewat dan kekuasaan Suminten makin terasa oleh semua keluarga istana. Diam-diam Ki Patih Brotomenggala menjadi cemas sekali. Bersama beberapa orang ponggawa tinggi lainnya, Ki Patih Brotomengala seringkali mengadakan perundingan dan diam-diam mereka ini menyusun kekuatan ke tiga untuk menandingi pengaruh Suminten yang mereka anggap meracuni Kerajaan Jenggala. Akan tetapi, ki patih dan para ponggawa tinggl tidak berani secara terang-terangan menentang Suminten karena mereka semua mengerti betapa besar cinta kasih sang prabu kepada selir termuda ini yang makin lama makin mempengaruhi junjungan mereka. Suminten sendiri secara cerdik sekali juga tidak memperlihatkan permusuhan, bahkan di luarnya ia bersikap amat manis dan baik terhadap mereka, namun secara diam-diam Suminten dibantu oleh Pangeran Kukutan memperluas kekuasaannya dan memperbesar persekutuannya dengan para ponggawa muda yang merasa tidak puas dengan kedudukan mereka. Makin lama makin menjalarlah pengaruh dan kekuasaan Suminten di Kerajaan Jenggala, dan makin tunduklah sang prabu yang sudah tua itu sehingga dalam waktu lima tahun, dapat dikatakan bahwa segala keputusan perkara pemerintahan yang keluar dari mulut sang prabu adalah keputusan berdasar kehendak Suminten!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, yaitu kurang lebih lima tahun yang lalu, Endang Patibroto mengajak Setyaningsih adik kandungnya, pergi secara diam-diam meninggalkan Selopenangkep. Ia pergi membawa hati yang perih, seperti disayat-sayat pisau rasanya, betapapun ia menguatkan hati, air matanya bercucuran terus kalau ia teringat akan Adipati Tejolaksono, suaminya yang amat dikasihinya. Tadinya ia amat berbahagia, belum pernah selama hidupnya ia merasa sebahagia ketika ia pergi menyusul suaminya itu ke Selopenangkep. Ia dahulu pernah bahagia menjadi isteri Pangeran Panjirawit, namun tidak seperti ketika menjadi isteri Tejolaksono, karena hal itu berarti bahwa ia telah menemukan cinta kasihnya kembali, cinta kasih yang ditanamnya semenjak ia masih remaja dahulu. Mendiang Pangeran Panjirawit hanya merupakan tempat pelarian, hanya merupakan obat penawar yang menyejukkan hati. Akan tetapi, bertemu dan menjadi isteri Tejolaksono berarti terpenuhi segala keinginannya sehingga ia dapat menumpahkan semua kasih sayangnya kepada pria idaman hatinya itu. Apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung, cinta kasihnya terhadap Tejolaksono makin kuat berakar di dalam hatinya. Akan tetapi, dia harus meninggalkan kebahagiaan itu, harus meninggalkan Tejolaksono, tidak ingin menyaksikan pria terkasih itu menderita sengsara. Dan ia maklum setelah mendengar percakapan antara suaminya dan Ayu Candra, bahwa kalau dia tetap tinggal di Selopenangkep sebagai isteri muda, akan timbul hal-hal yang tidak baik antara dia dan Ayu Candra, dan akhirnya akan menyeret Tejolaksono ke dalam lembah kedukaan. Selain itu iapun tidak mau lagi mengulang perbuatannya yang dahulu, ia sudah terlalu banyak mendatangkan kesengsaraan kepada Ayu Candra. Dan terutama sekali, ia tidak sudi berebut cinta dengan wanita lain. Betapapun hancur hatinya, ia lebih baik pergi, bahkan lebih baik mati daripada memperebutkan cinta yang dianggapnya merupakan hal yang amat memalukan. Mereka berdua, Endang Patibroto dan Setyaningsih, terus melakukan perjalanan tanpa tujuan ke timur. Di sepanjang jalan, Endang Patibroto menangis sedih, dan Setyaningsih selalu berusaha menghibur ayundanya dengan ucapan-ucapan halus dan tenang. Sungguh mengherankan sekali kalau diingat betapa dahulu Endang Patibroto adalah seorang wanita yang pantang tangis, wanita yang sakti mandraguna, yang keras hati melebihi baja, kini menjadi wanita cengeng yang menangis sepanjang jalan! Memang, betapapun juga, dia tetap wanita dan sekali tersentuh dan terbangkit cinta kasihnya, ia akan menjadi seorang yang perasa sekali. Lebih aneh lagi kalau dilihat betapa Setyaningsih, gadis cilik yang baru berusia sebelas tahun itu, bersikap tenang dan seperti seorang dewasa saja, selalu menghibur Endang Patibroto. Seringkali, apabila Endang Patibroto teringat akan pengalamannya berkasih mesra dengan Tejolaksono, ia tidak dapat menahan diri dan menangis sesenggukan, menjatuhkan diri di pinggir jalan tak dapat melanjutkan langkah kakinya. Dan pada saat seperti itu, Setyaningsih yang segera memeluknya, merangkul dan menciuminya, dan berbisik-bisik menghibur, membesarkan hati, seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel. Kalaupun ada kalanya Setyaningsih sebagai seorang anak perempuan tak dapat menahan karena terharu melihat ayundanya menangis seperti itu sehingga air matanya sendiri runtuh, dia cepat-cepat mengusap air matanya dan menekan hatinya, berkeras menyembunyikan tangisnya agar ayundanya tidak menjadi makin berduka.
"Sudahlah, ayunda Endang Patibroto, perlu apa ayunda menangisi terus hal yang telah lewat? Bukankah lebih baik kalau kita melihat ke depan, ke masa depan yang lebih gemilang? Kalau ayunda tidak dapat melupakan masa lalu, baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap tentang masa lalu. Aku ingin sekali mendengarkan semua kisah ayunda yang pasti akan menarik sekali."

Kalau sudah dihibur oleh adik kandungnya, Endang Patibroto menekan hati dan perasaannya yang hancur, kagum menyaksikan sikap adiknya yang masih kecil namun tenang dan berpemandangan luas seperti orang tua ini. Iapun agak terhibur dan berceritalah ia kepada adiknya sambil melanjutkan perjalanan. Karena sikap Setyaningsih seperti seorang tua, lupalah Endang Patibroto bahwa
adiknya ini baru berusia sebelas tahun. Ia bercerita seperti kepada orang dewasa saja, dan ia menceritakan semua pengalamannya tanpa tedeng aling-aling lagi, diceritakan semua kepada Setyaningsih. Tentang pengalamannya dahulu, tentang pertentangannya dengan Joko Wandiro, dan Ayu Candra, kemudian betapa hampir ia membunuh diri karena terpencil dibenci semua orang dan dihibur oleh Pangeran Panjirawit yang menjadi suaminya selama sepuluh tahun. Kemudian diceritakan semua pengalaman akhir-akhir ini, tentang kematian suaminya dan tentang pertemuannya dengan Adipati Tejolaksono di Blambangan, pengalaman mereka di dalam sumur yang membuat mereka menjadi suami isteri dan seterusnya. Setyaningsih mendengarkan semua penuturan ayundanya dengan hati penuh keharuan. Akan tetapi, anak ini memang mempunyai pembawaan sikap tenang, pendiam, luas pandangan, hati-hati dan angkuh, tinggi hati namun berdasarkan jiwa satria. Ia dapat memaklumi keadaan ayundanya, dapat merasakan kedukaan yang menimpa diri ayundanya, namun juga di dalam hati ia merasa heran terhadap diri ayundanya ini.

<<< Bagian 076                                                                                    Bagian 078 >>>

No comments:

Post a Comment