Pada pertemuan berikutnya dengan Pangeran Kukutan, ia menegur pangeran itu,
"Pangeran, engkau
benar-benar ceroboh! Kalau tidak ada aku yang bersikap hati-hati, tentu akan
celakalah kita di tangan Ki Patih Brotomenggala!" Pangeran Kukutan
merangkul, mendekap dan mencium bibir yang menantang itu sebelum bertanya,
"Ah, datang-datang aku
disambut makian. Apa salahanku kali ini, dewi jelita? Mengapa kau menyebut aku
ceroboh?"
"Dasar bodoh!"
Suminten melepaskan diri daripada pelukan.
"Lupakah engkau betapa
engkau menelanjangi juru taman?"
"Eh, mengapa ceroboh?
Bukankah perbuatan itu menunjukkan kecerdikanku, sesuai dengan siasatmu yang
amat sempurna?"
"Memang benar, akan
tetapi baju juru taman itu berlubang dan berdarah bekas tusukanmu!"
Pangeran Kukutan masih tidak mengerti dan memandang kekasihnya dengan mata
penuh pertanyaan.
"Habis, mengapa?"
"Mengapa? Benar-benar
kau tidak mengerti? Kalau kau bermain cinta dan bertelanjang bulat ketika kau
menusuknya, bagaimana pakaiannya dapat berlubang dan berdarah? Kalau kau
menusuknya dalam keadaan berpakaian, mengapa pakaiannya terlepas semua dan ia
telanjang? Perbuatanmu itu dapat membuka rahasia kita, seolah-olah pakaian
berlubang dan berdarah si juru taman itu dapat bercerita bahwa si juru taman
itu kautusuk lebih dulu, baru kemudian ditelanjangi! Kaukira ki patih orang
bodoh? Dia telah mencari-cari bekas pakaian si juru taman itu!"
Seketika pucat wajah
Pangeran Kukutan. Suaranya gemetar ketika ia bertanya,
"lalu .... , bagaimana
....? Di mana .... eh, pakaian itu....?" Suminten tersenyum, lalu
melangkah dan duduk di atas pembaringan, memasukkan kedua kakinya di dalam
tempayan berisi air bunga mawar untuk mencuci kakinya.
Kemudian ia mengangkat
mukanya memandang pangeran itu dan berkata,
"Kalau tidak ada aku,
sekarang engkau tentu telah digantung! Untung aku melihat kebodohanmu itu dan
sudah kusuruh singkirkan pakaian itu oleh embanku."
Pangeran Kukutan yang sudah
merangkul pundak itu, melangkah mundur dengan senyum dikulum. Sudah biasa ia
menyanjung dan menjilat untuk menyenangkan hati kekasihnya ini. Apalagi
sekarang, ia anggap bahwa kekasihnya telah menyelamatkan nyawanya. Tanpa sangsi
lagi ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten.
"Pangeran,
benar-benarkah engkau berterima kasih kepadaku bahwa aku telah menolong dan
menyelamatkan nyawamu?"
"Demi para dewata di
Suralaya, adinda Suminten. Aku bersyukur dan berterima kasih sekali, juga makin
mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku."
"Engkau mau melakukan
apa saja yang kuminta?"
"Siap sedia!"
"Kalau begitu, aku
ingin melihat kesetiaanmu, Pangeran Kukutan. Kau minumlah air mawar bekas
kakiku." Pangeran Kukutan mengangkat muka memandang.
Melihat betapa mulut itu
tersenyum manis dan mata itu memandang penuh berahi, ia tertawa, lalu menunduk,
mengangkat tempayan berisi air mawar bekas pencuci kaki Suminten, mendekatkan
ke mulutnya dan .......... ia minum beberapa teguk air itu.
"Aahhhh ..........
segar sekali!"
Pangeran Kukutan menaruh
tempayan di atas lantai. Melihat Suminten tertawa girang, iapun tertawa dan
merangkul pinggang, menyembunyikan mukanya di atas pangkuan wanita itu. Sejenak
Suminten diam saja, berdongak meramkan mata, kedua tangan menjambak rambut
kepala di atas pangkuannya, kemudian perlahan ia mendorong pangeran itu mundur.
"Cukup, pangeran. Malam
ini kita tidak boleh .....!!”
"Tapi .....tapi ....,
mengapa .......!?" Pangeran Kukutan terkejut. Minum air bekas cucian kaki
masih ringan, akan tetapi kalau wanita ini menolak cintanya, benar-benar hal
ini amat berat baginya.
"Kita harus hati-hati.
Bukan hanya Sekarmadu musuh kita. Masih banyak tugas menanti. Kesenangan dapat
kita lakukan segala waktu dan masih panjang bagi kita. Pangeran, mulai sekarang
kita atur rencana menyusun kekuatan mengumpulkan sekutu yang boleh dipercaya,
melenyapkan musuh-musuh yang berada di istana dan di luar istana. Adapun
tentang pertemuan kita ..hemm, mulai sekarang, akulah yang akan menentukan
waktu dan saatnya. Jangan sekali-kali kau berani datang menemuiku kalau tidak
kupanggil. Mengerti?"
Kekecewaan besar yang
tadinya membayang di wajah pangeran itu, perlahan-lahan lenyap, terganti oleh
kesungguhan dan pengertian. Pangeran itu mengangguk-angguk dan berkata lirih,
"Aku mengerti, Diajeng.
Memang seharusnya aku mentaati segala perintahmu, karena kaulah yang mempunyai
kecerdikan luar biasa."
"Nah, kalau begitu,
pergilah sekarang juga. Siapa tahu ki patih selalu memasang mata-mata. Aku akan
mengganti semua emban menjadi orang-orang yang tunduk kepadaku." Pangeran
Kukutan bangkit berdiri, mendekati hendak merangkul dan mencium seperti yang ia
selalu lakukan di saat mereka hendak berpisah. Akan tetapi Suminten juga
bangkit berdiri dan mendorong dengan kedua tangan.
"Jangan!"
"Hanya cium perpisahan,
Diajeng ..... "
"Itupun harus aku yang
menentukan!"
Sejenak sang pangeran
meragu, lalu menunduk dan mengangguk, membalikkan diri dan melangkah keluar ke
arah pintu pondok.
"Pangeran ...."
Panggilan lirih itu membuat ia berhenti dan membalikkan tubuh. Suminten
menggapai dan ia melangkah maju mendekat.
"Nah, berilah cium
perpisahan itu," kata Suminten sambil tertawa dan mengangkat mukanya.
Bagaikan kucing kelaparan
Pangeran Kukutan meraih, merangkul dan mencium mulut yang masih tertawa itu,
penuh cinta kasih dan berahi. Suminten mendorongnya perlahan dan menjauhkan
muka.
"Cukuplah, ingat, masih
banyak waktu bagi kita. Nah, pergilah, pangeran." Pangeran Kukutan
memandang sejenak, tersenyum penuh kasih sayang dan terima kasih, lalu pergi
keluar dari pondok memasuki taman gelap. Suminten yang ditinggal seorang diri di
atas pembaringan di pondok, meramkan matanya dan tertawa. Ia mengepal tangan
kanannya dan merasa seolah-olah Pangeran Kukutan berada di dalam kepalan
tangannya itu. Ia telah menguasai pangeran itu seluruhnya, dan ia puas. Bahkan
dalam hal cinta sekalipun ia yang berkuasa dan pangeran itu hanya seperti
seekor anjing penjaga yang akan datang apabila ia menjentikkan jari tangannya.
Demikianlah, makin lama,
secara teratur dan pandai sekali, Suminten makin menaik derajatnya di dalam
istana, makin dalam sang prabu tenggelam ke dalam pelukan dan makin mabuk dalam
belaiannya. Tidak hanya memabukkan sang prabu sehingga raja tua itu tunduk
kepadanya, juga wanita cerdik ini mulailah memperluas pengaruh dan kekuasaannya
sehingga seringkali sang prabu merundingkan soal-soal pemerintahan dengan selir
terkasih ini dan tidak jarang sang prabu mengambil keputusan berdasarkan
nasehat Suminten! Tahun demi tahun lewat dan kekuasaan Suminten makin terasa
oleh semua keluarga istana. Diam-diam Ki Patih Brotomenggala menjadi cemas
sekali. Bersama beberapa orang ponggawa tinggi lainnya, Ki Patih Brotomengala
seringkali mengadakan perundingan dan diam-diam mereka ini menyusun kekuatan ke
tiga untuk menandingi pengaruh Suminten yang mereka anggap meracuni Kerajaan
Jenggala. Akan tetapi, ki patih dan para ponggawa tinggl tidak berani secara
terang-terangan menentang Suminten karena mereka semua mengerti betapa besar
cinta kasih sang prabu kepada selir termuda ini yang makin lama makin
mempengaruhi junjungan mereka. Suminten sendiri secara cerdik sekali juga tidak
memperlihatkan permusuhan, bahkan di luarnya ia bersikap amat manis dan baik
terhadap mereka, namun secara diam-diam Suminten dibantu oleh Pangeran Kukutan
memperluas kekuasaannya dan memperbesar persekutuannya dengan para ponggawa
muda yang merasa tidak puas dengan kedudukan mereka. Makin lama makin
menjalarlah pengaruh dan kekuasaan Suminten di Kerajaan Jenggala, dan makin
tunduklah sang prabu yang sudah tua itu sehingga dalam waktu lima tahun, dapat
dikatakan bahwa segala keputusan perkara pemerintahan yang keluar dari mulut
sang prabu adalah keputusan berdasar kehendak Suminten!
Seperti telah diceritakan di
bagian depan, yaitu kurang lebih lima tahun yang lalu, Endang Patibroto
mengajak Setyaningsih adik kandungnya, pergi secara diam-diam meninggalkan
Selopenangkep. Ia pergi membawa hati yang perih, seperti disayat-sayat pisau
rasanya, betapapun ia menguatkan hati, air matanya bercucuran terus kalau ia
teringat akan Adipati Tejolaksono, suaminya yang amat dikasihinya. Tadinya ia
amat berbahagia, belum pernah selama hidupnya ia merasa sebahagia ketika ia
pergi menyusul suaminya itu ke Selopenangkep. Ia dahulu pernah bahagia menjadi
isteri Pangeran Panjirawit, namun tidak seperti ketika menjadi isteri
Tejolaksono, karena hal itu berarti bahwa ia telah menemukan cinta kasihnya
kembali, cinta kasih yang ditanamnya semenjak ia masih remaja dahulu. Mendiang
Pangeran Panjirawit hanya merupakan tempat pelarian, hanya merupakan obat
penawar yang menyejukkan hati. Akan tetapi, bertemu dan menjadi isteri
Tejolaksono berarti terpenuhi segala keinginannya sehingga ia dapat menumpahkan
semua kasih sayangnya kepada pria idaman hatinya itu. Apalagi ketika ia
mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung, cinta kasihnya terhadap
Tejolaksono makin kuat berakar di dalam hatinya. Akan tetapi, dia harus
meninggalkan kebahagiaan itu, harus meninggalkan Tejolaksono, tidak ingin
menyaksikan pria terkasih itu menderita sengsara. Dan ia maklum setelah
mendengar percakapan antara suaminya dan Ayu Candra, bahwa kalau dia tetap
tinggal di Selopenangkep sebagai isteri muda, akan timbul hal-hal yang tidak
baik antara dia dan Ayu Candra, dan akhirnya akan menyeret Tejolaksono ke dalam
lembah kedukaan. Selain itu iapun tidak mau lagi mengulang perbuatannya yang dahulu,
ia sudah terlalu banyak mendatangkan kesengsaraan kepada Ayu Candra. Dan
terutama sekali, ia tidak sudi berebut cinta dengan wanita lain. Betapapun
hancur hatinya, ia lebih baik pergi, bahkan lebih baik mati daripada
memperebutkan cinta yang dianggapnya merupakan hal yang amat memalukan. Mereka
berdua, Endang Patibroto dan Setyaningsih, terus melakukan perjalanan tanpa
tujuan ke timur. Di sepanjang jalan, Endang Patibroto menangis sedih, dan
Setyaningsih selalu berusaha menghibur ayundanya dengan ucapan-ucapan halus dan
tenang. Sungguh mengherankan sekali kalau diingat betapa dahulu Endang
Patibroto adalah seorang wanita yang pantang tangis, wanita yang sakti
mandraguna, yang keras hati melebihi baja, kini menjadi wanita cengeng yang
menangis sepanjang jalan! Memang, betapapun juga, dia tetap wanita dan sekali
tersentuh dan terbangkit cinta kasihnya, ia akan menjadi seorang yang perasa
sekali. Lebih aneh lagi kalau dilihat betapa Setyaningsih, gadis cilik yang
baru berusia sebelas tahun itu, bersikap tenang dan seperti seorang dewasa
saja, selalu menghibur Endang Patibroto. Seringkali, apabila Endang Patibroto
teringat akan pengalamannya berkasih mesra dengan Tejolaksono, ia tidak dapat
menahan diri dan menangis sesenggukan, menjatuhkan diri di pinggir jalan tak
dapat melanjutkan langkah kakinya. Dan pada saat seperti itu, Setyaningsih yang
segera memeluknya, merangkul dan menciuminya, dan berbisik-bisik menghibur,
membesarkan hati, seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel. Kalaupun
ada kalanya Setyaningsih sebagai seorang anak perempuan tak dapat menahan
karena terharu melihat ayundanya menangis seperti itu sehingga air matanya
sendiri runtuh, dia cepat-cepat mengusap air matanya dan menekan hatinya,
berkeras menyembunyikan tangisnya agar ayundanya tidak menjadi makin berduka.
"Sudahlah, ayunda
Endang Patibroto, perlu apa ayunda menangisi terus hal yang telah lewat?
Bukankah lebih baik kalau kita melihat ke depan, ke masa depan yang lebih
gemilang? Kalau ayunda tidak dapat melupakan masa lalu, baiklah, mari kita
lanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap tentang masa lalu. Aku ingin sekali
mendengarkan semua kisah ayunda yang pasti akan menarik sekali."
Kalau sudah dihibur oleh
adik kandungnya, Endang Patibroto menekan hati dan perasaannya yang hancur,
kagum menyaksikan sikap adiknya yang masih kecil namun tenang dan
berpemandangan luas seperti orang tua ini. Iapun agak terhibur dan berceritalah
ia kepada adiknya sambil melanjutkan perjalanan. Karena sikap Setyaningsih
seperti seorang tua, lupalah Endang Patibroto bahwa
adiknya ini
baru berusia sebelas tahun. Ia bercerita seperti kepada orang dewasa saja, dan
ia menceritakan semua pengalamannya tanpa tedeng aling-aling lagi, diceritakan
semua kepada Setyaningsih. Tentang pengalamannya dahulu, tentang
pertentangannya dengan Joko Wandiro, dan Ayu Candra, kemudian betapa hampir ia
membunuh diri karena terpencil dibenci semua orang dan dihibur oleh Pangeran
Panjirawit yang menjadi suaminya selama sepuluh tahun. Kemudian diceritakan
semua pengalaman akhir-akhir ini, tentang kematian suaminya dan tentang
pertemuannya dengan Adipati Tejolaksono di Blambangan, pengalaman mereka di
dalam sumur yang membuat mereka menjadi suami isteri dan seterusnya.
Setyaningsih mendengarkan semua penuturan ayundanya dengan hati penuh keharuan.
Akan tetapi, anak ini memang mempunyai pembawaan sikap tenang, pendiam, luas
pandangan, hati-hati dan angkuh, tinggi hati namun berdasarkan jiwa satria. Ia
dapat memaklumi keadaan ayundanya, dapat merasakan kedukaan yang menimpa diri
ayundanya, namun juga di dalam hati ia merasa heran terhadap diri ayundanya
ini.
No comments:
Post a Comment