Perawan Lembah Wilis; Bagian 076



Dengan gerakan halus dan penuh kasih sayang, tangan sang prabu menjamah rambut yang halus berikal mayang itu, kemudian berkata,
"Engkau malah berjasa, Suminten. Mundurlah, biar kuperiksa perkara menjijikkan ini!" Akan tetapi Suminten tidak mundur jauh, menyembah lagi dan berkata,
"Mohon ampun. Junjungan hamba. Perempuan ini amat keji dan palsu, sebelum ia sempat bercerita bohong, harap paduka sudi mendengar dulu kesaksian hamba dan puteranda Pangeran Kukutan." Sang prabu mengelus-elus jenggotnya sambil memandang selirnya yang terkasih itu.
"Duhai, gusti pujaan hamba ...sudilah paduka mendengarkan penuturan hamba ...., hamba kena fitnah ...hamba tidak bersalah ....dialah perempuan rendah yang hamba yakin menjadi biang keladi fitnah ini! Dia ...dia dan Pangeran Kukutan!!”
"Diam kau, perempuan terkutukk!” Sang prabu membentak dan pucatlah muka Sekarmadu, maklum bahwa nasibnya sudah ditentukan dengan sikap sri baginda raja itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani membantah, hanya menunduk dan menangis, meratap di dalam hati mohon pertolongan dewata.
"Berceritalah kau, Suminten." Dengan suara lantang Suminten bercerita,
"Malam tadi hamba tidak dapat tidur .." Ia mengerling tajam kepada sang prabu yang memandangnya dan sang prabu mengangguk-angguk, mulutnya tersenyum maklum, karena ia tahu bahwa seperti biasanya menurut pengakuan Suminten, tiap kali sang prabu tidur dengan selir lain, selir termuda dan tercinta ini tentu tak dapat tidur!
"..karena gelisah dan merasa gerah, hamba keluar dari kamar dengan maksud mencari angin sejuk di taman. Akan tetapi, seperti paduka maklum, jalan menuju ke taman melalui belakang kamar ...perempuan rendah ini. Hamba mendengar suara-suara di dalam kamar, suara kekeh tertawa genit dan cumbu rayu pria. Hamba curiga dan mendengarkan di luar jendela, kemudian hamba yakin bahwa itu adalah suara si perempuan rendah dan si juru taman keparat itu. Kebetulan sekali, pada saat itu, hamba melihat berkelebatnya bayangan orang di taman, dan ketika hamba mengenal bayangan itu adalah puteranda Pangeran Kukutan, hamba lalu memanggilnya dan menceritakan bahwa di kamar perempuan ini ada seorang duratmoko (maling). Demikianlah, Gusti, puteranda pangeran lalu turun tangan membunuh si bedebah juru taman."
Sang prabu menjadi merah mukanya, mengepal tinju dan giginya yang sudah banyak ompongnya berkerot.
"Kukutan, ceritakan kesaksianmu!"
Setelah menyembah, Pangeran Kukutan bercerita yang tentu saja memperkuat cerita Suminten, yaitu bahwa karena hawa terasa panas ia pergi ke tamansari, dipanggil "ibunda" dan diberi tahu kejadian di kamar Sekarmadu, dan saking marahnya, ia menendang daun pintu kamar, melihat betapa selir yang berjina itu berada di atas pembaringan bersama Jagaloka.
"Si bedebah itu hendak melarikan diri, akan tetapi hamba menerjangnya dan menikam ulu hatinya dengan keris hamba."

Demikian sang pangeran menutup ceritanya. Sang prabu makin marah dan pada saat itu, "persidangan" kecil ini diganggu dengan munculnya Ki Patih Brotomenggala yang tergopoh-gopoh menghadap karena mendengar akan kekacauan di istana. Ia menyembah dan diberi isyarat tangan sang prabu agar duduk. Ki patih yang sudah tua ini pun duduk bersila dan mendengarkan dengan hati tegang dan wajah berkerut.
"Perempuan tak tahu malu, perempuan rendah! Apa yang dapat kauceritakan sekarang?" bentak sri baginda kepada Sekarmadu yang mendengarkan semua tuduhan itu dengan wajah pucat akan tetapi sepasang matanya menyinarkan kebencian dan kemarahan kepada Suminten dan Pangeran Kukutan.
"Fitnah! Semua itu fitnah belaka, Gusti! Tidak tahukah Paduka betapa jahat dan palsu dua orang manusia terkutuk ini? Hamba tidak bersalah. Hamba sedang berada di kamar, tahu-tahu pintu tertendang dan masuk si juru taman, disusul Pangeran Kukutan yang serta-merta membunuhnya, kemudian manusia keparat ini memeluk hamba, si perempuan tak tahu malu itu menelanjangi hamba dan ..."
"Eh, Sekarmadu, sungguh mulutmu lancang sekali!" Suminten memotong. Hanya dialah satu-satunya orang yang berani berlancang mulut di depan sang prabu.
"Sudah berdosa, mengapa tidak mengaku dan memohon ampun kepada sri baginda? Dengan bicara membabi-buta, dosamu bertambah berat. Engkau sudah kubantu, kurahasiakan kata-katamu yang kudengar, akan tetapi engkau malah menyebar fitnah ...!!”
"Suminten, apa yang dia katakan? Hayo kau mengaku, apa yang ia katakan kepada juru taman keparat itu?" Sri baginda menjadi tertarik dan ingin sekali mendengar "rahasia" itu.
Suminten menggeser duduknya makin dekat depan kaki sang prabu, lalu menunduk, memasang tubuh sedemikian rupa sehingga kelihatan amat menggairahkan dalam pandangan sri baginda yang sudah tua itu. Kemudian ia berkata, suaranya menggetar,
"Hamba .....hamba tidak berani”
"Eh, kenapa tidak berani? Takut kepada siapa? Jangan takut, tidak ada seorang setan pun yang akan berani menganggu seujung rambutmu, Suminten!" kata sri baginda penuh kasih sayang sehingga ia diupah sekilas senyum dan kerling tajam kekasihnya.
"Hamba ....hamba takut kalau-kalau akan membuat paduka marah .... “
"Tidak, Suminten. Kalaupun marah, tentu tidak kepadamu yang bersih daripada dosa."
"Kalau begitu, sebelumnya hamba mohon ampun. Hamba mendengar jelas ucapan yang keluar dari mulut busuk perempuan hina itu begini, ....kekasihku wong bagus, betapa kuatnya engkau ....tidak seperti sang prabu, si tua bangka yang loyo ....“
Tidak hanya wajah Sekarmadu yang menjadi pucat, bahkan wajah Pangeran Kukutan sendiri menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang Suminten yang tersenyum. Alangkah beraninya wanita itu! Padahal, ucapan itu adalah persis seperti apa yang diucapkan Suminten sendiri kepadanya ketika mereka berlangen asmara! Sekarmadu terbelalak, kemarahannya memuncak dan ia bangkit berdiri, menjerit,
"Perempuan iblis...! Engkaulah yang mengatakan itu ....! Engkau ...engkau keji ...“ Akan tetapi sang prabu yang sudah tak dapat menahan kemarahannya, meloncat turun dari atas kursinya. Biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih kuat dan tangkas. Keris pusaka di tangannya berkilat dan di lain detik, tubuh Sekarmadu roboh mandi darahnya sendiri yang muncrat keluar dari dadanya. Tangan kiri Sekarmadu mendekap luka di dada, ia berusaha bangkit, berlutut dan tangan kanannya menunjuk ke arah Suminten, matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan kata-kata lemah,
“....engkau ... Suminten perempuan keji.. dan engkau Pangeran Kukutan laki-laki pengecut... terkutuklah kalian .. aduhhh .... sang prabu telah khilaf, mudah terbujuk .... semua ini fitnah.... mereka ..... merekalah yang berjina, harap tanyakan kepada emban ..... auuughhhl" Robohlah kembali tubuh Sekarmadu, terkulai miring tak bernapas lagi. Alas pembaringan sutera merah menjadi lebih merah lagi dan kini terlepas, terbuka, sehingga tampaklah tubuh yang berkulit putih berslh itu, sebersih hatinya, namun ternoda warna merah, darahnya sendiri!
"Aduhhhh, gusti puteri .....!" Emban pelayan pribadi Sekarmadu menubruk mayat itu dan menangis.
"Heh, emban! Apa artinya ucapan terakhir gustimu yang berdosa tadi?"' Sang prabu bertanya kepada emban itu, hatinya agak terharu dan kemarahannya mereda ketika ia melihat betapa tubuh muda yang biasanya amat dikasihaninya itu kini sudah menggeletak tak bernyawa lagi.
Emban itu terengah-engah, menyembah-nyembah sampai dahinya terbentur lantai.
"Ampun, kanjeng gusti .. sesungguhnya gusti puteri tidak berdosa ... gusti putri mulus dan murni tanpa cacat .....sesungguhnyalah yang berjina adalah ... gusti puteri Suminten dan gusti Pangeran Kukutan.... hamba menyaksikan sendiri!!”
"Keparat ..“

Pangeran Kukutan melompat dan sebelum dapat dicegah, kerisnya telah menembus lambung emban itu yang seketika roboh, berkelojotan dan tewas! Sang prabu mengerutkan kening dan menghardik.
"Kukutan! Apa yang kaulakukan ini?"
Pangeran itu segera menjatuhkan diri menyembah.
"Mohon ampun, Kanjeng Rama! Bagaimana hati hamba kuat mendengar fitnah yang keluar dari mulut si bedebah ini. Tentu saja ia berusaha membalas dendam gustinya dan berusaha menjatuhkan fitnah. Kedosaan Sekarmadu sudah terbukti, adapun tuduhan tanpa bukti terhadap hamba adalah fitnah belaka. Hamba tidak dapat menahah kemarahan, mohon paduka sudi memberi ampun."
"Memang bujang hina itu tak patut dibiarkan hidup!" Suminten menyambung sambil mencium kaki sri baginda.
"Betapa dia boleh menghina hamba begitu saja. Seorang emban! Dan tentang hubungan antara Sekarmadu dengan Jagaloka bukan hal yang aneh lagi. Hamba mempunyai banyak saksi ... !" Suminten melambaikan tangannya ke dalam, memanggil para emban keputren. Mereka ini adalah kaki tangannya yang tadi sudah ia pesan dan beri hadiah, tentu saja tujuh orang pelayan ini segera menerangkan dengan suara seragam bahwa mereka pernah menyaksikan Sekarmadu mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan Jagaloka, dan yang menjadi perantara adalah si emban yang terbunuh Pangeran Kukutan!
Marahlah sri baginda.
"Sudahlah, lekas enyahkan bangkai terkutuk kedua orang itu!"
Tergopoh-gopoh para pengawal dan pelayan mengangkut dua mayat wanita itu dan membersihkan lantai sehingga tidak ada lagi bekas-bekas darah.
"Kakang Patih Brotomenggala, engkau jaga agar peristiwa kotor ini tidak sampai tersiar keluar."
"Hamba akan mentaati perintah paduka, Gusti," jawab ki patih yang wajahnya masih keruh dan alisnya berkerut.
"Eh, Kakang patih, kau kelihatan tidak senang hatimu. Bukankah sudah tepat sekali dua orang manusia jahanam itu dibunuh?"
"Maafkan hamba, gusti. Memang sudah sepatutnya yang salah dihukum. Akan tetapi ..., tidak seyogianya kalau paduka sendiri yang menjatuhkan hukuman. Selain itu, barulah adil namanya kalau si terdakwa diberi kesempatan untuk membela diri dan perkara diselidiki terlebih dahulu kebenarannya sebelum menjatuhkan hukuman. Hukuman pun harus dilaksanakan oleh petugas yang sudah ada."
"Eh, ki patih! Apakah andika tidak percaya akan keterangan hamba dan puteranda Pangeran Kukutan?" Terdengar Suminten bertanya, suaranya lantang penuh tantangan.
"Bukan begitu, sang puteri. Bukan soal percaya atau tidak percaya, akan tetapi hamba hanya menyatakan hal yang semestinya menurut adilnya hukum. Menurut penglihatan hamba, biasanya Sang Puteri Sekarmadu berwatak baik dan berbudi bersih."
"Kakang patih, apakah seorang manusia itu dinilai daripada sikapnya yang baik? Siapa tahu akan isi hati seseorang?" Sang prabu membantah karena merasa ikut tersinggung bahwa patihnya ini agaknya menyangsikan kesaksian selirnya yang tercinta.
Patih Brotomenggala menyembah kepada sang prabu lalu berkata,
"Memang benar sekali sabda paduka, gusti. Akan tetapi, sedikit banyak gerak-gerik seseorang mencerminkan dasar wataknya”
"Hemm, Paman patih, agaknya andika adalah seorang ahli mengenal watak wanita!" Pangeran Kukutan mengejek. Ki Patih Brotomenggala yang tua itu memandang tajam ke arah wajah pangeran itu dan berkata, suaranya perlahan dan hormat namun mengandung getaran berwibawa,
"Sedikitnya pengetahuan hamba akan watak wanita lebih banyak daripada yang paduka ketahui, gusti pangeran, karena sebelum paduka terlahir, hamba sudah banyak mengenal wanita."
"Sudahlah, Kakang patih," kata sang prabu dengan suara kesal,
"sudah terang akan dosa Sekarmadu, saksinyapun bukan sembarang orang melainkan selirku dan puteraku, juga tujuh orang emban. Tentu saja mereka tidak mau mengaku, si bedebah juru taman dan perempuan laknat itu. Akan tetapi mereka sudah dihukum, dan hal ini sudah adil dan sudah habis, tidak perlu dipercakapkan lagi. Yang perlu dijaga agar hal seperti ini jangan sampai terdengar keluar, karena hanya akan mendatangkan aib belaka."
"Hamba mentaati perintah paduka, gusti," jawab ki patih sambil menyembah.
Sang prabu lalu membubarkan persidangan kecil itu, kemudian kembali ke tempat peraduan, akan tetapi sekali ini bukan kembali ke tempat selir yang digiliri malam tadi, melainkan menggandeng lengan Suminten yang berkulit halus dan padat itu, memasuki kamar Suminten yang indah bersih dan berbau harum. Dengan sikap manja sambil berjalan perlahan, Suminten menggenggam tangan
junjungannya, berjalan mepet dan menggosok-gosokkan tubuhnya agar bersentuhan dengan tubuh sang prabu, senyum manisnya melebar, kerling matanya makin tajam! Demikianlah, dengan amat cerdik, Suminten dapat membalikkan kenyataan, dari keadaan terancam bahaya karena perjinaannya, menjadi pemenang atas diri saingannya yang terberat, yaitu Sekarmadu, berhasil membunuh wanita tak berdosa itu dan mempertebal kepercayaan dan kecintaan sang prabu kepadanya.

<<< Bagian 075                                                                                     Bagian 077 >>>

No comments:

Post a Comment