Dengan gerakan halus dan
penuh kasih sayang, tangan sang prabu menjamah rambut yang halus berikal mayang
itu, kemudian berkata,
"Engkau malah berjasa,
Suminten. Mundurlah, biar kuperiksa perkara menjijikkan ini!" Akan tetapi
Suminten tidak mundur jauh, menyembah lagi dan berkata,
"Mohon ampun. Junjungan
hamba. Perempuan ini amat keji dan palsu, sebelum ia sempat bercerita bohong,
harap paduka sudi mendengar dulu kesaksian hamba dan puteranda Pangeran
Kukutan." Sang prabu mengelus-elus jenggotnya sambil memandang selirnya
yang terkasih itu.
"Duhai, gusti pujaan
hamba ...sudilah paduka mendengarkan penuturan hamba ...., hamba kena fitnah
...hamba tidak bersalah ....dialah perempuan rendah yang hamba yakin menjadi
biang keladi fitnah ini! Dia ...dia dan Pangeran Kukutan!!”
"Diam kau, perempuan
terkutukk!” Sang prabu membentak dan pucatlah muka Sekarmadu, maklum bahwa
nasibnya sudah ditentukan dengan sikap sri baginda raja itu. Akan tetapi tentu
saja ia tidak berani membantah, hanya menunduk dan menangis, meratap di dalam
hati mohon pertolongan dewata.
"Berceritalah kau,
Suminten." Dengan suara lantang Suminten bercerita,
"Malam tadi hamba tidak
dapat tidur .." Ia mengerling tajam kepada sang prabu yang memandangnya
dan sang prabu mengangguk-angguk, mulutnya tersenyum maklum, karena ia tahu
bahwa seperti biasanya menurut pengakuan Suminten, tiap kali sang prabu tidur
dengan selir lain, selir termuda dan tercinta ini tentu tak dapat tidur!
"..karena gelisah dan
merasa gerah, hamba keluar dari kamar dengan maksud mencari angin sejuk di
taman. Akan tetapi, seperti paduka maklum, jalan menuju ke taman melalui
belakang kamar ...perempuan rendah ini. Hamba mendengar suara-suara di dalam
kamar, suara kekeh tertawa genit dan cumbu rayu pria. Hamba curiga dan
mendengarkan di luar jendela, kemudian hamba yakin bahwa itu adalah suara si
perempuan rendah dan si juru taman keparat itu. Kebetulan sekali, pada saat
itu, hamba melihat berkelebatnya bayangan orang di taman, dan ketika hamba mengenal
bayangan itu adalah puteranda Pangeran Kukutan, hamba lalu memanggilnya dan
menceritakan bahwa di kamar perempuan ini ada seorang duratmoko (maling).
Demikianlah, Gusti, puteranda pangeran lalu turun tangan membunuh si bedebah
juru taman."
Sang prabu menjadi merah
mukanya, mengepal tinju dan giginya yang sudah banyak ompongnya berkerot.
"Kukutan, ceritakan
kesaksianmu!"
Setelah menyembah, Pangeran
Kukutan bercerita yang tentu saja memperkuat cerita Suminten, yaitu bahwa
karena hawa terasa panas ia pergi ke tamansari, dipanggil "ibunda"
dan diberi tahu kejadian di kamar Sekarmadu, dan saking marahnya, ia menendang
daun pintu kamar, melihat betapa selir yang berjina itu berada di atas
pembaringan bersama Jagaloka.
"Si bedebah itu hendak
melarikan diri, akan tetapi hamba menerjangnya dan menikam ulu hatinya dengan
keris hamba."
Demikian sang pangeran
menutup ceritanya. Sang prabu makin marah dan pada saat itu,
"persidangan" kecil ini diganggu dengan munculnya Ki Patih
Brotomenggala yang tergopoh-gopoh menghadap karena mendengar akan kekacauan di
istana. Ia menyembah dan diberi isyarat tangan sang prabu agar duduk. Ki patih
yang sudah tua ini pun duduk bersila dan mendengarkan dengan hati tegang dan
wajah berkerut.
"Perempuan tak tahu
malu, perempuan rendah! Apa yang dapat kauceritakan sekarang?" bentak sri
baginda kepada Sekarmadu yang mendengarkan semua tuduhan itu dengan wajah pucat
akan tetapi sepasang matanya menyinarkan kebencian dan kemarahan kepada
Suminten dan Pangeran Kukutan.
"Fitnah! Semua itu fitnah
belaka, Gusti! Tidak tahukah Paduka betapa jahat dan palsu dua orang manusia
terkutuk ini? Hamba tidak bersalah. Hamba sedang berada di kamar, tahu-tahu
pintu tertendang dan masuk si juru taman, disusul Pangeran Kukutan yang
serta-merta membunuhnya, kemudian manusia keparat ini memeluk hamba, si
perempuan tak tahu malu itu menelanjangi hamba dan ..."
"Eh, Sekarmadu, sungguh
mulutmu lancang sekali!" Suminten memotong. Hanya dialah satu-satunya
orang yang berani berlancang mulut di depan sang prabu.
"Sudah berdosa, mengapa
tidak mengaku dan memohon ampun kepada sri baginda? Dengan bicara membabi-buta,
dosamu bertambah berat. Engkau sudah kubantu, kurahasiakan kata-katamu yang
kudengar, akan tetapi engkau malah menyebar fitnah ...!!”
"Suminten, apa yang dia
katakan? Hayo kau mengaku, apa yang ia katakan kepada juru taman keparat
itu?" Sri baginda menjadi tertarik dan ingin sekali mendengar
"rahasia" itu.
Suminten menggeser duduknya
makin dekat depan kaki sang prabu, lalu menunduk, memasang tubuh sedemikian rupa
sehingga kelihatan amat menggairahkan dalam pandangan sri baginda yang sudah
tua itu. Kemudian ia berkata, suaranya menggetar,
"Hamba .....hamba tidak
berani”
"Eh, kenapa tidak
berani? Takut kepada siapa? Jangan takut, tidak ada seorang setan pun yang akan
berani menganggu seujung rambutmu, Suminten!" kata sri baginda penuh kasih
sayang sehingga ia diupah sekilas senyum dan kerling tajam kekasihnya.
"Hamba ....hamba takut
kalau-kalau akan membuat paduka marah .... “
"Tidak, Suminten.
Kalaupun marah, tentu tidak kepadamu yang bersih daripada dosa."
"Kalau begitu,
sebelumnya hamba mohon ampun. Hamba mendengar jelas ucapan yang keluar dari
mulut busuk perempuan hina itu begini, ....kekasihku wong bagus, betapa kuatnya
engkau ....tidak seperti sang prabu, si tua bangka yang loyo ....“
Tidak hanya wajah Sekarmadu
yang menjadi pucat, bahkan wajah Pangeran Kukutan sendiri menjadi pucat dan
matanya terbelalak memandang Suminten yang tersenyum. Alangkah beraninya wanita
itu! Padahal, ucapan itu adalah persis seperti apa yang diucapkan Suminten
sendiri kepadanya ketika mereka berlangen asmara! Sekarmadu terbelalak,
kemarahannya memuncak dan ia bangkit berdiri, menjerit,
"Perempuan iblis...!
Engkaulah yang mengatakan itu ....! Engkau ...engkau keji ...“ Akan tetapi sang
prabu yang sudah tak dapat menahan kemarahannya, meloncat turun dari atas
kursinya. Biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih kuat
dan tangkas. Keris pusaka di tangannya berkilat dan di lain detik, tubuh
Sekarmadu roboh mandi darahnya sendiri yang muncrat keluar dari dadanya. Tangan
kiri Sekarmadu mendekap luka di dada, ia berusaha bangkit, berlutut dan tangan
kanannya menunjuk ke arah Suminten, matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan
kata-kata lemah,
“....engkau ... Suminten
perempuan keji.. dan engkau Pangeran Kukutan laki-laki pengecut... terkutuklah
kalian .. aduhhh .... sang prabu telah khilaf, mudah terbujuk .... semua ini
fitnah.... mereka ..... merekalah yang berjina, harap tanyakan kepada emban
..... auuughhhl" Robohlah kembali tubuh Sekarmadu, terkulai miring tak
bernapas lagi. Alas pembaringan sutera merah menjadi lebih merah lagi dan kini
terlepas, terbuka, sehingga tampaklah tubuh yang berkulit putih berslh itu,
sebersih hatinya, namun ternoda warna merah, darahnya sendiri!
"Aduhhhh, gusti puteri
.....!" Emban pelayan pribadi Sekarmadu menubruk mayat itu dan menangis.
"Heh, emban! Apa
artinya ucapan terakhir gustimu yang berdosa tadi?"' Sang prabu bertanya
kepada emban itu, hatinya agak terharu dan kemarahannya mereda ketika ia
melihat betapa tubuh muda yang biasanya amat dikasihaninya itu kini sudah
menggeletak tak bernyawa lagi.
Emban itu terengah-engah,
menyembah-nyembah sampai dahinya terbentur lantai.
"Ampun, kanjeng gusti
.. sesungguhnya gusti puteri tidak berdosa ... gusti putri mulus dan murni
tanpa cacat .....sesungguhnyalah yang berjina adalah ... gusti puteri Suminten
dan gusti Pangeran Kukutan.... hamba menyaksikan sendiri!!”
"Keparat ..“
Pangeran Kukutan melompat
dan sebelum dapat dicegah, kerisnya telah menembus lambung emban itu yang
seketika roboh, berkelojotan dan tewas! Sang prabu mengerutkan kening dan
menghardik.
"Kukutan! Apa yang
kaulakukan ini?"
Pangeran itu segera
menjatuhkan diri menyembah.
"Mohon ampun, Kanjeng
Rama! Bagaimana hati hamba kuat mendengar fitnah yang keluar dari mulut si
bedebah ini. Tentu saja ia berusaha membalas dendam gustinya dan berusaha
menjatuhkan fitnah. Kedosaan Sekarmadu sudah terbukti, adapun tuduhan tanpa
bukti terhadap hamba adalah fitnah belaka. Hamba tidak dapat menahah kemarahan,
mohon paduka sudi memberi ampun."
"Memang bujang hina itu
tak patut dibiarkan hidup!" Suminten menyambung sambil mencium kaki sri
baginda.
"Betapa dia boleh
menghina hamba begitu saja. Seorang emban! Dan tentang hubungan antara
Sekarmadu dengan Jagaloka bukan hal yang aneh lagi. Hamba mempunyai banyak
saksi ... !" Suminten melambaikan tangannya ke dalam, memanggil para emban
keputren. Mereka ini adalah kaki tangannya yang tadi sudah ia pesan dan beri
hadiah, tentu saja tujuh orang pelayan ini segera menerangkan dengan suara
seragam bahwa mereka pernah menyaksikan Sekarmadu mengadakan
pertemuan-pertemuan rahasia dengan Jagaloka, dan yang menjadi perantara adalah
si emban yang terbunuh Pangeran Kukutan!
Marahlah sri baginda.
"Sudahlah, lekas
enyahkan bangkai terkutuk kedua orang itu!"
Tergopoh-gopoh para pengawal
dan pelayan mengangkut dua mayat wanita itu dan membersihkan lantai sehingga
tidak ada lagi bekas-bekas darah.
"Kakang Patih
Brotomenggala, engkau jaga agar peristiwa kotor ini tidak sampai tersiar
keluar."
"Hamba akan mentaati
perintah paduka, Gusti," jawab ki patih yang wajahnya masih keruh dan
alisnya berkerut.
"Eh, Kakang patih, kau
kelihatan tidak senang hatimu. Bukankah sudah tepat sekali dua orang manusia
jahanam itu dibunuh?"
"Maafkan hamba, gusti.
Memang sudah sepatutnya yang salah dihukum. Akan tetapi ..., tidak seyogianya
kalau paduka sendiri yang menjatuhkan hukuman. Selain itu, barulah adil namanya
kalau si terdakwa diberi kesempatan untuk membela diri dan perkara diselidiki
terlebih dahulu kebenarannya sebelum menjatuhkan hukuman. Hukuman pun harus
dilaksanakan oleh petugas yang sudah ada."
"Eh, ki patih! Apakah
andika tidak percaya akan keterangan hamba dan puteranda Pangeran
Kukutan?" Terdengar Suminten bertanya, suaranya lantang penuh tantangan.
"Bukan begitu, sang
puteri. Bukan soal percaya atau tidak percaya, akan tetapi hamba hanya
menyatakan hal yang semestinya menurut adilnya hukum. Menurut penglihatan
hamba, biasanya Sang Puteri Sekarmadu berwatak baik dan berbudi bersih."
"Kakang patih, apakah
seorang manusia itu dinilai daripada sikapnya yang baik? Siapa tahu akan isi
hati seseorang?" Sang prabu membantah karena merasa ikut tersinggung bahwa
patihnya ini agaknya menyangsikan kesaksian selirnya yang tercinta.
Patih Brotomenggala
menyembah kepada sang prabu lalu berkata,
"Memang benar sekali
sabda paduka, gusti. Akan tetapi, sedikit banyak gerak-gerik seseorang
mencerminkan dasar wataknya”
"Hemm, Paman patih,
agaknya andika adalah seorang ahli mengenal watak wanita!" Pangeran
Kukutan mengejek. Ki Patih Brotomenggala yang tua itu memandang tajam ke arah
wajah pangeran itu dan berkata, suaranya perlahan dan hormat namun mengandung
getaran berwibawa,
"Sedikitnya pengetahuan
hamba akan watak wanita lebih banyak daripada yang paduka ketahui, gusti
pangeran, karena sebelum paduka terlahir, hamba sudah banyak mengenal
wanita."
"Sudahlah, Kakang
patih," kata sang prabu dengan suara kesal,
"sudah terang akan dosa
Sekarmadu, saksinyapun bukan sembarang orang melainkan selirku dan puteraku,
juga tujuh orang emban. Tentu saja mereka tidak mau mengaku, si bedebah juru
taman dan perempuan laknat itu. Akan tetapi mereka sudah dihukum, dan hal ini
sudah adil dan sudah habis, tidak perlu dipercakapkan lagi. Yang perlu dijaga
agar hal seperti ini jangan sampai terdengar keluar, karena hanya akan
mendatangkan aib belaka."
"Hamba mentaati
perintah paduka, gusti," jawab ki patih sambil menyembah.
Sang prabu lalu membubarkan
persidangan kecil itu, kemudian kembali ke tempat peraduan, akan tetapi sekali
ini bukan kembali ke tempat selir yang digiliri malam tadi, melainkan
menggandeng lengan Suminten yang berkulit halus dan padat itu, memasuki kamar
Suminten yang indah bersih dan berbau harum. Dengan sikap manja sambil berjalan
perlahan, Suminten menggenggam tangan
junjungannya, berjalan mepet
dan menggosok-gosokkan tubuhnya agar bersentuhan dengan tubuh sang prabu,
senyum manisnya melebar, kerling matanya makin tajam! Demikianlah, dengan amat
cerdik, Suminten dapat membalikkan kenyataan, dari keadaan terancam bahaya
karena perjinaannya, menjadi pemenang atas diri saingannya yang terberat, yaitu
Sekarmadu, berhasil membunuh wanita tak berdosa itu dan mempertebal kepercayaan
dan kecintaan sang prabu kepadanya.
No comments:
Post a Comment