"Demi nyawaku ....!" Pangeran Kukutan hendak memeluk lagi akan tetapi Suminten menahan dengan kedua tangannya.
"Nanti dulu, pangeran.
Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Andaikata ...ini umpamanya saja untuk
mengukur besarnya kesetiaanmu kepadaku, andaikata sekali waktu aku minta engkau
...membunuh sang prabu, bagaimana jawabmu?"
Pangeran Kukutan terbelalak
dan meloncat mundur dalam keadaan berjongkok saking kagetnya. Sejenak ia tidak
kuasa menjawab, hanya memandang wanita jelita itu dengan mata terbelalak, kaget
dan khawatir. Bahkan ia sudah menoleh ke kanan-kiri, khawatir kalau-kalau
ucapan tadi terdengar lain telinga.
"Apa ...? Apa yang
kaukatakan ini ....? Harap kau jangan main-main, adinda Suminten“ Suminten
tetap tersenyum, lalu berkata sambil memandang tajam,
"Engkau pun tidak perlu
berpura-pura, Pangeran Kukutan. Kita harus berterus terang, saling membuka
kartu. Biarpun aku selir termuda dan tersayang, namun tentu saja aku yang muda
dan cantik ini tidak mencinta sang prabu yang tua dan lemah, bahkan aku...aku
membenci tua bangka itu! Dan engkau ..., engkau sama juga. Jangan kaukira bahwa
aku tidak tahu. Engkau ...bukan putera sang prabu. Aku sudah tahu bahwa dahulu
ibumu melakukan hubungan rahasia dengan ki juru taman (penjaga taman) dan
engkau adalah keturunan ki juru taman. Nah, sekarang katakan terus terang,
bersediakah engkau bersekutu denganku dalam segala hal dan selalu akan tunduk
terhadap perintahku?" Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat sekali. Sejenak
ia ketakutan dan hampir saja timbul kenekatan hatinya untuk membunuh wanita
yang tahu akan rahasia ibunya akan hal itu. Akan tetapi mendengar
kalimat-kalimat selanjutnya, hatinya lega. Memang dia pun selalu menanti
kesempatan untuk dapat merampas kekuasaan karena maklum bahwa kelak kedudukan
raja tentu tidak akan diturunkan kepadanya. Hatinya lega, wanita ini cerdik
bukan main, dan amat dekat dengan raja, mungkin tidak akan ada ruginya kalau ia
bersekutu lengannya. Apalagi dengan hadiah balasan cinta kasih!
"Aku bersedia dan
bersumpah akan bersetia kepadamu, adinda Suminten yang cerdik pandai. Bahkan
aku girang sekali mendapat sekutu seperti adinda, karena dalam segala hal tentu
adinda lebih pandai mengaturnya daripada aku." Suminten girang sekali, ia
bangkit berdiri dan tertawa lirih.
"Bagus sekali,
pangeran. Aku percaya akan kesetiaanmu, apalagi karena sekali kau berbuat
curang, engkau dan ibumu akan celaka. Kau cukup tahu akan kekuasaanku atas diri
sang prabu. Nah, kini lega hatiku dan terimalah hadiahku. Mari ...!"
Wanita muda jelita itu mengulurkan dan mengembangkan kedua lengannya ke arah
Pangeran Kukutan.
Pemuda itu mengeluarkan
sorak perlahan saking girangnya, lalu bangkit dan menubruk Suminten seperti
seekor singa kelaparan menubruk seekor domba. Mereka berdekapan dan berciuman
dengan buas, seperti orang- orang kelaparan menghadapi nasi.
"Hushhhh ....kau gila,
pangeran? Jangan di sini! Bawa aku ke pondok taman ...!" bisik Suminten di
dekat telinga pangeran itu. Pangeran Kukutan tidak menjawab karena sukar
baginya untuk mengeluarkan kata-kata di antara napasnya yang tersendat-sendat
dan terengah-engah. Ia lalu memondong tubuh yang baginya amat ringan itu dan
membawanya lari ke dalam gelap, menyelinap antara pohon-pohon dan rumpun bunga,
kemudian menghilang ke dalam sebuah pondok kecil mungil yang memang sengaja
dibangun di dalam taman itu sebagai tempat istirahat raja dan para selirnya.
Memang tidaklah mengherankan
apabila semenjak malam hari penuh gairah nafsu iblis itu, Suminten selalu
mengadakan pertemuan dan perhubungan gelap dengan Pangeran Kukutan, setiap
malam apabila sang prabu tidak tidur di kamarnya. Semenjak masih perawan,
Suminten diselir sang prabu dan selama itu ia hanya mengenal belaian kasih
asmara sang prabu yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, yang tentu saja
tidak sesuai dengan keadaan jasmaninya sendiri yang masih muda belia. Namun,
wanita muda yang amat cerdik ini biarpun terbuai gelombang asmara, tetap ia
masih dapat menguasai keadaan dan bukanlah dia yang dipermainkan oleh sang pangeran,
melainkan si pangeran inilah yang makin lama makin mabuk dan jatuh terkulai,
tunduk di bawah pengaruh Suminten. Sedemikian hebat kekuasaan wanita ini atas
diri pangeran yang menjadi kekasihnya sehingga sang pangeran akan mentaati
segala macam perintahnya secara membuta, biar disuruh mencuci kaki Suminten
akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Betapapun juga, nafsu berahi yang
menguasai hati Suminten membuat wanita ini alpa. Dia lupa bahwa semua
gerak-geriknya tidak terluput daripada pengintaian wanita yang menjadi
saingannya, yaitu Sekarmadu. Selir inipun menggunakan seorang emban (pelayan)
untuk mengawasi gerak-gerik Suminten dan pada suatu hari ia mendapat pelaporan
mata-matanya bahwa Suminten seringkali mengadakan pertemuan gelap dengan Pangeran
Kukutan di dalam pondok taman. Mendengar ini, Sekarmadu tertawa lebar, kemudian
mengepal tangannya menjadi tinju kecil dan berkata,
"Nah, sekarang
mampuslah engkau, perempuan rendah!" Sekarmadu menanti saat baik. Ketika
sang prabu kebetulan bergilir kepada selir lain, suatu hal yang jarang sekali
terjadi semenjak Suminten menjadi selirnya, dan emban yang menjadi mata-mata
Sekarmadu melaporkan bahwa Pangeran Kukutan dan Suminten sudah berada di pondok
taman, selir ini sendiri bersama embannya menyelinap memasuki taman,
menghampiri pondok dengan hati-hati. Sang emban yang merasa takut karena urusan
ini menyangkut selir sang prabu yang terkasih dan seorang pangeran muda,
berjongkok di luar pondok dengan tubuh menggigil karena ia maklum bahwa tentu
akan terjadl peristlwa hebat. Adapun Sekarmadu dengan hati panas penuh
kemarahan lalu mendekati jendela, mengintai dan mendengarkan.
Di dalam pondok itu gelap
remang-remang, hanya tampak bayangan dua orang yang tidak jelas. Akan tetapi
suara percakapan mereka jelas mudah dikenal, yaitu suara Suminten dan Pangeran
Kukutan. Dengan jantung berdebar-debar, Sekarmadu mendengarkan percakapan
mereka yang dilakukan lirih-lirih,
“... kekasihku wong bagus
(orang tampan), betapa kuatnya engkau tidak seperti sang prabu yang loyo”
“...dan engkau wanita
tercantik di dunia ini, pujaan hatiku .....“
Sekarmadu tidak dapat
menahan kemarahan hatinya lagi. Dari luar jendela, ia memaki,
"Suminten perempuan
rendah, perempuan hina! Berani engkau bermain gila dengan Pangeran Kukutan dan
masih menghina sang prabu lagi. Tunggu saja, habiskan kesenanganmu malam ini
karena besok engkau akan mampus!" Setelah berkata demikian, Sekarmadu
dengan muka merah saking marahnya meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya,
diikuti emban yang masih ketakutan. Betapapun juga, Sekarmadu tidak mau
menimbulkan keributan malam hari itu karena sang prabu sedang bermalam di kamar
selir ke tujuh. Karena hal ini amat memalukan, juga bagi sang prabu sendiri,
maka Sekarmadu yang menghormati suaminya menahan gelora kemarahannya malam itu,
hendak menanti sampai besok baru ia akan melapor secara diam-diam kepada
junjungannya.
Adapun Suminten dan Pangeran
Kukutan yang sedang langen asmara (bermain cinta) di dalam pondok taman,
seolah-olah berubah menjadi arca saking kagetnya. Kalau di malam hari yang
terang tiada mendung itu tiba-tiba terdengar Halilintar menyambar, agaknya
mereka tidak akan sekaget ketika mendengar suara Sekarmadu di luar jendela.
Pangeran Kukutan menjadi pucat dan tak dapat berkata sesuatu. Sumintenlah yang
lebih dulu sadar dan dapat menguasai hatinya. Wanita ini mendorong tubuh
kekasihnya dan melompat turun dari pembaringan, berkemas sambil berkata,
"Hayo cepat, kita harus
turun tangan lebih dulu!" Mendengar suara kekasihnya yang sedikitpun tidak
membayangkan rasa takut itu, barulah hati Pangeran Kukutan menjadi tenang.
Mereka lalu berbisik-bisik dan Suminten yang cerdik itu mengatur rencananya.
Cepat sekali Suminten mengatur rencana dan segera mereka melakukan siasat yang
diatur Suminten malam itu juga. Pangeran Kukutan pergi ke pondok kediaman para
juru taman, diam-diam memanggil pembantu juru taman yang muda bernama Jagaloka.
Adapun Suminten pergi menemui tujuh orang emban pelayan yang menjadi kaki
tangannya. Mereka berdua bekerja cepat sesuai dengan siasat Suminten dan tak
lama kemudian, Suminten sudah bertemu lagi dengan Pangeran Kukutan yang datang
bersama. Jagaloka yang muda dan cukup tampan, akan tetapi pada saat itu
Jagaloka kelihatan bingung dan takut. Sekarmadu masih belum tidur. Dia sama
sekali tidak dapat tidur, bahkan semenjak memasuki kamarnya, puteri ini
berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya, hatinya penuh ketegangan. Ingin sekali
ia sekarang juga melapor sang prabu, namun kalau ia melakukan hal ini, tentu
banyak selir dan abdi dalem yang mendengar, juga sang prabu dapat menjadi tidak
senang hati karena terganggu. Hatinya sudah tidak sabar dan ingin ia malam
cepat-cepat berganti pagi agar ia dapat segera melapor dan wanita hina itu
segera dihukum! Emban pembantunya yang tadi ketakutan sudah tidur melingkar di
atas lantai.
Tiba-tiba ia mendengar suara
kaki di luar pintu kamarnya. Sekarmadu berhenti melangkah, memutar tubuh
menoleh ke arah pintu kamar dan bertanya,
"Siapa di luar?"
Sebagai jawaban pertanyaannya, tiba-tiba pintu kamarnya yang terkunci itu
didobrak orang dari luar. Agaknya orang yang mendobraknya itu kuat sekali
karena sekali tendang, daun pintu itu terbuka dan muncullah Jagaloka yang
wajahnya pucat.
"Ehh ....., si
Jagaloka, mau apa engkau ....??" Sekarmadu membentak, heran dan marah.
"Hamba ... hamba ...
bukankah hamba dipanggil ....?”
"Keparat! Jangan kurang
ajar engkau! Berani membuka pintu kamarku?"
Pada saat itu, berkelebat
masuk bayangan Pangeran Kukutan yang membentak,
"Juru taman bedebah,
kau harus mati!" Ucapan Pangeran Kukutan ini disusul terjangannya dengan
keris di tangan. Sekali tusuk saja si juru taman yang tentu saja bukan lawan
pangeran yang perkasa itu mengeluh dan terhuyung, darah muncrat-muncrat keluar
dari ulu hatinya. Sekarmadu memandang dengan mata terbelalak, hendak menjerit,
akan tetapi dengan gerakan sigap sekali Pangeran Kukutan sudah meloncat ke
dekatnya dan sekali menggerakkan tangan, pangeran itu sudah merangkulnya dan
membungkam mulutnya. Sekarmadu meronta-ronta dan berusaha menjerit, namun
sia-sia karena pangeran itu kuat sekali merangkulnya dan kuat pula tangan yang
menutupi mulut. Pada saat berikutnya, muncul Suminten yang tersenyum-senyum.
Wanita ini sambil tersenyum genit mendekati Sekarmadu lalu merenggut pakaian
yang menempel di tubuh Sekarmadu, satu demi satu sampai Sekarmadu menjadi
telanjang bulat! Setelah itu barulah Pangeran Kukutan melepaskan rangkulannya
dan mendorong tubuh wanita yang telanjang itu sampai terlempar dan tertelungkup
dalam pembaringannya. Emban yang terbangun oleh suara gaduh ini, memandang
terbelalak, saking kaget dan takutnya sampai tak dapat bersuara.
"Bagus sekali engkau
perempuan hina-dina, perempuan rendah, pelacur yang terseret memasuki
istana!" Suara Suminten terdengar lantang karena ia sengaja mengeluarkan
suara seperti menjerit-jerit, telunjuknya menuding ke arah tubuh Sekarmadu yang
telanjang bulat di atas pembaringan.
"Sungguh menjijikkan!
Tak tahu malu! Berjina dengan si juru taman!"
"Apa kau bilang? Kau
perempuan keji .....kau ......kau!" Akan tetapi wanita yang malang itu tak
dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menangis dan berusaha menutupi tubuh
telanjangnya dengan alas sutera pembaringan karena pada saat itu, para abdi
dalem dan beberapa orang selir yang mendengar suara ribut-ribut itu sudah
membanjir masuk ke dalam kamar. Mereka berdiri dengan muka pucat dan mata
terbelalak, sejenak memandang ke atas pembaringan di mana puteri Sekarmadu
rebah dalam keadaan telanjang bulat terbungkus alas pembaringan, kemudian
memandang tubuh Jagaloka yang kini juga sudah telanjang bulat dan menjadi mayat
berlepotan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, melihat Pangeran Kukutan yang
berdiri dengan keris di tangan, tanpa diberitahu sekalipun mereka dapat menduga
apa yang telah terjadi! Tentu Sekarmadu berjina dengan si juru taman, akan
tetapi dipergoki Pangeran Kukutan dan Suminten yang berakibat kematian juru
taman di tangan sang pangeran.
"Tidak ...!
Tidaaaaaaaakkk ....Aku tidak......!" Sekarmadu menjerit-jerit karena iapun
dapat mengerti akan bahaya yang mengancam dirinya. Gegerlah istana pada malam
itu sehingga sang prabu sendiri sampai terkejut, terbangun dan mendengar apa
yang terjadi di kamar selirnya yang terkasih, Sekarmadu. Mendengar ini sang
prabu marah sekali. Setelah berpakaian rapi, sang prabu duduk di ruangan dalam
dan memerintahkan menyeret Sekarmadu menghadapi juga memerintahkan agar
Suminten dan Pangeran Kukutan menghadap sebagai saksi.
Sekarmadu menangis
terisak-isak ketika dua orang pengawal istana menyeretnya, karena ia hampir
tidak mampu berdiri, dengan tubuh masih terbungkus sutera merah alas
pembaringan, rambutnya terurai dan wajahnya pucat. Di belakangnya, Suminten dan
Pangeran Kukutan melangkah tenang, namun berbeda dengan wajah Suminten yang
berseri-seri tersenyum, wajah Pangeran Kukutan pucat dan kedua kaki tangannya
terasa dingin. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sang raja.
Suminten yang pandai merayu itu segera berjalan jongkok menghampiri sang prabu,
menyembah dan menyentuh kakinya sambil berkata lirih, suaranya serak-serak
basah amat mengharukan,
"Hamba mohon beribu
ampun bahwa hamba telah menimbulkan keributan, akan tetapi mohon paduka
memaklumi betapa panas hati hamba penyaksikan perbuatan tak tahu malu dari
perempuan itu yang menghina paduka."
No comments:
Post a Comment