Perawan Lembah Wilis; Bagian 075


"Demi nyawaku ....!" Pangeran Kukutan hendak memeluk lagi akan tetapi Suminten menahan dengan kedua tangannya.
"Nanti dulu, pangeran. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Andaikata ...ini umpamanya saja untuk mengukur besarnya kesetiaanmu kepadaku, andaikata sekali waktu aku minta engkau ...membunuh sang prabu, bagaimana jawabmu?"

Pangeran Kukutan terbelalak dan meloncat mundur dalam keadaan berjongkok saking kagetnya. Sejenak ia tidak kuasa menjawab, hanya memandang wanita jelita itu dengan mata terbelalak, kaget dan khawatir. Bahkan ia sudah menoleh ke kanan-kiri, khawatir kalau-kalau ucapan tadi terdengar lain telinga.
"Apa ...? Apa yang kaukatakan ini ....? Harap kau jangan main-main, adinda Suminten“ Suminten tetap tersenyum, lalu berkata sambil memandang tajam,
"Engkau pun tidak perlu berpura-pura, Pangeran Kukutan. Kita harus berterus terang, saling membuka kartu. Biarpun aku selir termuda dan tersayang, namun tentu saja aku yang muda dan cantik ini tidak mencinta sang prabu yang tua dan lemah, bahkan aku...aku membenci tua bangka itu! Dan engkau ..., engkau sama juga. Jangan kaukira bahwa aku tidak tahu. Engkau ...bukan putera sang prabu. Aku sudah tahu bahwa dahulu ibumu melakukan hubungan rahasia dengan ki juru taman (penjaga taman) dan engkau adalah keturunan ki juru taman. Nah, sekarang katakan terus terang, bersediakah engkau bersekutu denganku dalam segala hal dan selalu akan tunduk terhadap perintahku?" Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat sekali. Sejenak ia ketakutan dan hampir saja timbul kenekatan hatinya untuk membunuh wanita yang tahu akan rahasia ibunya akan hal itu. Akan tetapi mendengar kalimat-kalimat selanjutnya, hatinya lega. Memang dia pun selalu menanti kesempatan untuk dapat merampas kekuasaan karena maklum bahwa kelak kedudukan raja tentu tidak akan diturunkan kepadanya. Hatinya lega, wanita ini cerdik bukan main, dan amat dekat dengan raja, mungkin tidak akan ada ruginya kalau ia bersekutu lengannya. Apalagi dengan hadiah balasan cinta kasih!
"Aku bersedia dan bersumpah akan bersetia kepadamu, adinda Suminten yang cerdik pandai. Bahkan aku girang sekali mendapat sekutu seperti adinda, karena dalam segala hal tentu adinda lebih pandai mengaturnya daripada aku." Suminten girang sekali, ia bangkit berdiri dan tertawa lirih.
"Bagus sekali, pangeran. Aku percaya akan kesetiaanmu, apalagi karena sekali kau berbuat curang, engkau dan ibumu akan celaka. Kau cukup tahu akan kekuasaanku atas diri sang prabu. Nah, kini lega hatiku dan terimalah hadiahku. Mari ...!" Wanita muda jelita itu mengulurkan dan mengembangkan kedua lengannya ke arah Pangeran Kukutan.
Pemuda itu mengeluarkan sorak perlahan saking girangnya, lalu bangkit dan menubruk Suminten seperti seekor singa kelaparan menubruk seekor domba. Mereka berdekapan dan berciuman dengan buas, seperti orang- orang kelaparan menghadapi nasi.
"Hushhhh ....kau gila, pangeran? Jangan di sini! Bawa aku ke pondok taman ...!" bisik Suminten di dekat telinga pangeran itu. Pangeran Kukutan tidak menjawab karena sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata di antara napasnya yang tersendat-sendat dan terengah-engah. Ia lalu memondong tubuh yang baginya amat ringan itu dan membawanya lari ke dalam gelap, menyelinap antara pohon-pohon dan rumpun bunga, kemudian menghilang ke dalam sebuah pondok kecil mungil yang memang sengaja dibangun di dalam taman itu sebagai tempat istirahat raja dan para selirnya.

Memang tidaklah mengherankan apabila semenjak malam hari penuh gairah nafsu iblis itu, Suminten selalu mengadakan pertemuan dan perhubungan gelap dengan Pangeran Kukutan, setiap malam apabila sang prabu tidak tidur di kamarnya. Semenjak masih perawan, Suminten diselir sang prabu dan selama itu ia hanya mengenal belaian kasih asmara sang prabu yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, yang tentu saja tidak sesuai dengan keadaan jasmaninya sendiri yang masih muda belia. Namun, wanita muda yang amat cerdik ini biarpun terbuai gelombang asmara, tetap ia masih dapat menguasai keadaan dan bukanlah dia yang dipermainkan oleh sang pangeran, melainkan si pangeran inilah yang makin lama makin mabuk dan jatuh terkulai, tunduk di bawah pengaruh Suminten. Sedemikian hebat kekuasaan wanita ini atas diri pangeran yang menjadi kekasihnya sehingga sang pangeran akan mentaati segala macam perintahnya secara membuta, biar disuruh mencuci kaki Suminten akan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Betapapun juga, nafsu berahi yang menguasai hati Suminten membuat wanita ini alpa. Dia lupa bahwa semua gerak-geriknya tidak terluput daripada pengintaian wanita yang menjadi saingannya, yaitu Sekarmadu. Selir inipun menggunakan seorang emban (pelayan) untuk mengawasi gerak-gerik Suminten dan pada suatu hari ia mendapat pelaporan mata-matanya bahwa Suminten seringkali mengadakan pertemuan gelap dengan Pangeran Kukutan di dalam pondok taman. Mendengar ini, Sekarmadu tertawa lebar, kemudian mengepal tangannya menjadi tinju kecil dan berkata,
"Nah, sekarang mampuslah engkau, perempuan rendah!" Sekarmadu menanti saat baik. Ketika sang prabu kebetulan bergilir kepada selir lain, suatu hal yang jarang sekali terjadi semenjak Suminten menjadi selirnya, dan emban yang menjadi mata-mata Sekarmadu melaporkan bahwa Pangeran Kukutan dan Suminten sudah berada di pondok taman, selir ini sendiri bersama embannya menyelinap memasuki taman, menghampiri pondok dengan hati-hati. Sang emban yang merasa takut karena urusan ini menyangkut selir sang prabu yang terkasih dan seorang pangeran muda, berjongkok di luar pondok dengan tubuh menggigil karena ia maklum bahwa tentu akan terjadl peristlwa hebat. Adapun Sekarmadu dengan hati panas penuh kemarahan lalu mendekati jendela, mengintai dan mendengarkan.
Di dalam pondok itu gelap remang-remang, hanya tampak bayangan dua orang yang tidak jelas. Akan tetapi suara percakapan mereka jelas mudah dikenal, yaitu suara Suminten dan Pangeran Kukutan. Dengan jantung berdebar-debar, Sekarmadu mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan lirih-lirih,
“... kekasihku wong bagus (orang tampan), betapa kuatnya engkau tidak seperti sang prabu yang loyo”
“...dan engkau wanita tercantik di dunia ini, pujaan hatiku .....“
Sekarmadu tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Dari luar jendela, ia memaki,
"Suminten perempuan rendah, perempuan hina! Berani engkau bermain gila dengan Pangeran Kukutan dan masih menghina sang prabu lagi. Tunggu saja, habiskan kesenanganmu malam ini karena besok engkau akan mampus!" Setelah berkata demikian, Sekarmadu dengan muka merah saking marahnya meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya, diikuti emban yang masih ketakutan. Betapapun juga, Sekarmadu tidak mau menimbulkan keributan malam hari itu karena sang prabu sedang bermalam di kamar selir ke tujuh. Karena hal ini amat memalukan, juga bagi sang prabu sendiri, maka Sekarmadu yang menghormati suaminya menahan gelora kemarahannya malam itu, hendak menanti sampai besok baru ia akan melapor secara diam-diam kepada junjungannya.

Adapun Suminten dan Pangeran Kukutan yang sedang langen asmara (bermain cinta) di dalam pondok taman, seolah-olah berubah menjadi arca saking kagetnya. Kalau di malam hari yang terang tiada mendung itu tiba-tiba terdengar Halilintar menyambar, agaknya mereka tidak akan sekaget ketika mendengar suara Sekarmadu di luar jendela. Pangeran Kukutan menjadi pucat dan tak dapat berkata sesuatu. Sumintenlah yang lebih dulu sadar dan dapat menguasai hatinya. Wanita ini mendorong tubuh kekasihnya dan melompat turun dari pembaringan, berkemas sambil berkata,
"Hayo cepat, kita harus turun tangan lebih dulu!" Mendengar suara kekasihnya yang sedikitpun tidak membayangkan rasa takut itu, barulah hati Pangeran Kukutan menjadi tenang. Mereka lalu berbisik-bisik dan Suminten yang cerdik itu mengatur rencananya. Cepat sekali Suminten mengatur rencana dan segera mereka melakukan siasat yang diatur Suminten malam itu juga. Pangeran Kukutan pergi ke pondok kediaman para juru taman, diam-diam memanggil pembantu juru taman yang muda bernama Jagaloka. Adapun Suminten pergi menemui tujuh orang emban pelayan yang menjadi kaki tangannya. Mereka berdua bekerja cepat sesuai dengan siasat Suminten dan tak lama kemudian, Suminten sudah bertemu lagi dengan Pangeran Kukutan yang datang bersama. Jagaloka yang muda dan cukup tampan, akan tetapi pada saat itu Jagaloka kelihatan bingung dan takut. Sekarmadu masih belum tidur. Dia sama sekali tidak dapat tidur, bahkan semenjak memasuki kamarnya, puteri ini berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya, hatinya penuh ketegangan. Ingin sekali ia sekarang juga melapor sang prabu, namun kalau ia melakukan hal ini, tentu banyak selir dan abdi dalem yang mendengar, juga sang prabu dapat menjadi tidak senang hati karena terganggu. Hatinya sudah tidak sabar dan ingin ia malam cepat-cepat berganti pagi agar ia dapat segera melapor dan wanita hina itu segera dihukum! Emban pembantunya yang tadi ketakutan sudah tidur melingkar di atas lantai.
Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di luar pintu kamarnya. Sekarmadu berhenti melangkah, memutar tubuh menoleh ke arah pintu kamar dan bertanya,
"Siapa di luar?" Sebagai jawaban pertanyaannya, tiba-tiba pintu kamarnya yang terkunci itu didobrak orang dari luar. Agaknya orang yang mendobraknya itu kuat sekali karena sekali tendang, daun pintu itu terbuka dan muncullah Jagaloka yang wajahnya pucat.
"Ehh ....., si Jagaloka, mau apa engkau ....??" Sekarmadu membentak, heran dan marah.
"Hamba ... hamba ... bukankah hamba dipanggil ....?”
"Keparat! Jangan kurang ajar engkau! Berani membuka pintu kamarku?"
Pada saat itu, berkelebat masuk bayangan Pangeran Kukutan yang membentak,
"Juru taman bedebah, kau harus mati!" Ucapan Pangeran Kukutan ini disusul terjangannya dengan keris di tangan. Sekali tusuk saja si juru taman yang tentu saja bukan lawan pangeran yang perkasa itu mengeluh dan terhuyung, darah muncrat-muncrat keluar dari ulu hatinya. Sekarmadu memandang dengan mata terbelalak, hendak menjerit, akan tetapi dengan gerakan sigap sekali Pangeran Kukutan sudah meloncat ke dekatnya dan sekali menggerakkan tangan, pangeran itu sudah merangkulnya dan membungkam mulutnya. Sekarmadu meronta-ronta dan berusaha menjerit, namun sia-sia karena pangeran itu kuat sekali merangkulnya dan kuat pula tangan yang menutupi mulut. Pada saat berikutnya, muncul Suminten yang tersenyum-senyum. Wanita ini sambil tersenyum genit mendekati Sekarmadu lalu merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sekarmadu, satu demi satu sampai Sekarmadu menjadi telanjang bulat! Setelah itu barulah Pangeran Kukutan melepaskan rangkulannya dan mendorong tubuh wanita yang telanjang itu sampai terlempar dan tertelungkup dalam pembaringannya. Emban yang terbangun oleh suara gaduh ini, memandang terbelalak, saking kaget dan takutnya sampai tak dapat bersuara.
"Bagus sekali engkau perempuan hina-dina, perempuan rendah, pelacur yang terseret memasuki istana!" Suara Suminten terdengar lantang karena ia sengaja mengeluarkan suara seperti menjerit-jerit, telunjuknya menuding ke arah tubuh Sekarmadu yang telanjang bulat di atas pembaringan.
"Sungguh menjijikkan! Tak tahu malu! Berjina dengan si juru taman!"
"Apa kau bilang? Kau perempuan keji .....kau ......kau!" Akan tetapi wanita yang malang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menangis dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan alas sutera pembaringan karena pada saat itu, para abdi dalem dan beberapa orang selir yang mendengar suara ribut-ribut itu sudah membanjir masuk ke dalam kamar. Mereka berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak, sejenak memandang ke atas pembaringan di mana puteri Sekarmadu rebah dalam keadaan telanjang bulat terbungkus alas pembaringan, kemudian memandang tubuh Jagaloka yang kini juga sudah telanjang bulat dan menjadi mayat berlepotan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, melihat Pangeran Kukutan yang berdiri dengan keris di tangan, tanpa diberitahu sekalipun mereka dapat menduga apa yang telah terjadi! Tentu Sekarmadu berjina dengan si juru taman, akan tetapi dipergoki Pangeran Kukutan dan Suminten yang berakibat kematian juru taman di tangan sang pangeran.
"Tidak ...! Tidaaaaaaaakkk ....Aku tidak......!" Sekarmadu menjerit-jerit karena iapun dapat mengerti akan bahaya yang mengancam dirinya. Gegerlah istana pada malam itu sehingga sang prabu sendiri sampai terkejut, terbangun dan mendengar apa yang terjadi di kamar selirnya yang terkasih, Sekarmadu. Mendengar ini sang prabu marah sekali. Setelah berpakaian rapi, sang prabu duduk di ruangan dalam dan memerintahkan menyeret Sekarmadu menghadapi juga memerintahkan agar Suminten dan Pangeran Kukutan menghadap sebagai saksi.

Sekarmadu menangis terisak-isak ketika dua orang pengawal istana menyeretnya, karena ia hampir tidak mampu berdiri, dengan tubuh masih terbungkus sutera merah alas pembaringan, rambutnya terurai dan wajahnya pucat. Di belakangnya, Suminten dan Pangeran Kukutan melangkah tenang, namun berbeda dengan wajah Suminten yang berseri-seri tersenyum, wajah Pangeran Kukutan pucat dan kedua kaki tangannya terasa dingin. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sang raja. Suminten yang pandai merayu itu segera berjalan jongkok menghampiri sang prabu, menyembah dan menyentuh kakinya sambil berkata lirih, suaranya serak-serak basah amat mengharukan,
"Hamba mohon beribu ampun bahwa hamba telah menimbulkan keributan, akan tetapi mohon paduka memaklumi betapa panas hati hamba penyaksikan perbuatan tak tahu malu dari perempuan itu yang menghina paduka."

<<< Bagian 074                                                                                    Bagian 076 >>>

No comments:

Post a Comment