Perawan Lembah Wilis; Bagian 074


Yang amat menyakitkan hatinya adalah rintangan di depan mata, yang membuat Suminten gemas sekali. Rintangan ini berupa seorang selir lain yang sebelum Suminten diangkat menjadi selir, merupakan selir tercinta dari sang prabu. Selir ini adalah Puteri Sekarmadu yang baru berusia dua puluh lima tahun dan sudah lima tahun menjadi selir sang prabu. Puteri Sekarmadu memang cantik jelita, pendiam, pandai segala macam kesenian, berwatak halus dan memang dia adalah puteri seorang adipati di Kanigoro yang dipersembahkan kepada sang prabu oleh sang adipati.
Puteri Sekarmadu adalah yang tercantik di antara semua selir, namun setelah di situ ada Suminten, puteri ini biarpun pada dasarnya menang cantik, namun kalah pandai dalam keluwesan dan gaya memikat. Puteri Sekarmadu maklum akan segala polah tingkah Suminten, maklum betapa selir termuda ini, berbeda dengan lain-lain selir, berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan hati sang prabu, sebagai seorang puteri yang pandai membawa sikap, Sekarmadu tidak membuat reaksi apa-apa. Betapapun juga, sang prabu tidak pernah dapat melupakan Sekarmadu dan biarpun ia kini seolah-olah menjadi selemas rambut yang dipermainkan
oleh jari-jari tangan Suminten yang cekatan, namun sang prabu masih saja mendekati Sekarmadu dan membagi waktunya secara bergilir. Bagi Suminten, tentu saja ia tidak mencinta sang prabu setulus hatinya. Mana mungkin dia, seorang dara remaja berusia tujuh belas tahun, dapat mencurahkan kasih sayang yang setulusnya terhadap seorang kakek berusia enam puluh tahun? Tidak, ia muak terhadap belaian kasih sayang dan pencurahan cinta asmara sang prabu, dan dia sama sekali tidak cemburu atau iri hati terhadap Sekarmadu. Yang membuat ia gemas. adalah karena Sekarmadu dianggapnya sebuah rintangan yang harus dienyahkan kalau ia mau cepat-cepat mencapai cita-citanya. Namun, bagaimana ia dapat menjatuhkan Sekarmadu yang demikian pendiam, halus tutur sapanya, lemah lembut budinya, dan sukar dicari kesalahannya itu? Namun dengan sabar dan tekun Suminten mengatur semua rencana, mendekati semua selir, berbaik dan mengambil hati mereka, sambil menanti saat dan kesempatan yang baik untuk menghalau rintangan-rintangan itu, satu demi satu!

Kalau ada orang mengira bahwa selir-selir raja di jaman dahulu yang begitu banyaknya itu dapat hidup rukun, dia mengira keliru. Memang pada lahirnya mereka ini tampak rukun, namun sesungguhnya tidak demikianlah di dalam hati. Kalau mereka tampak rukun, dan tidak pernah bertengkar, adalah karena mereka ini takut kepada raja dan kebencian mereka satu sama lain hanya diutarakan secara diam-diam dan dengan jalan saling membicarakan keburukan masing-masing di belakang punggung. Karena maklum akan keadaan para selir sang prabu di Jenggala ini, maka secara cerdik sekali Suminten mendekati mereka semua dengan sikapnya yang mengambil hati dan merendah sehingga mereka semua merasa suka kepadanya dan menganggap selir termuda ini sebagai sahabat baik. Mulailah Suminten mengorek-ngorek rahasia pribadi masing-masing selir itu melalui selir-selir lainnya, membuat mereka saling membicarakan rahasia dan keburukan masing-masing sehingga Suminten dapat mengetahui sebagian besar cacat dan keburukan para selir yang menjadi saingannya.
Pada suatu malam terang bulan yang amat indah. Hawa malam itu sejuk sekali di dalam taman, berbeda dengan hawa di dalam kamar yang panas. Suminten duduk sendirian di dalam taman sari yang sunyi. Malam sudah mendekati tengah malam, semua penghuni keputren di mana para selir tinggal, telah tidur pulas, demikian pula para abdi dalem. Namun Suminten masih duduk melamun di taman sari. Hatinya tidak puas. Malam itu sang prabu menjatuhkan giliran kepada Sekarmadu. Hatinya panas. Bukan karena cemburu, karena dia sendiri sesungguhnya tidak pernah merasa senang apalagi cinta kepada sang prabu yang sudah tua. Hanya ia merasa panas dan tidak senang karena kenyataan bahwa sang prabu masih melekat kepada Sekarmadu itu berarti bahwa cita-citanya untuk naik ke tangga tertinggi menghadapi rintangan berat.
"Gilang-gemilang bulan purnama taman sari bermandi cahaya kencana termenung sendiri dewi jelita seperti Bathari Komaratih
Dewl Asmara."
Suminten kaget dan ketika ia menoleh dan melihat siapa orangnya yang berpantun dengan suara merdu dan penuh rayuan itu, bibirnya yang manis berjebi, matanya mengerling tajam. Lalu dengan gerakan yang genit ia membuang muka. Laki-laki itu masih muda, tampan dan tubuhnya tinggi besar. Usianya antara dua puluh lima tahun, pakaiannya indah. Dia ini adalah Pangeran Kukutan, seorang di antara banyak pangeran putera sang prabu terlahir dari para selir. Pangeran Kukutan ini adalah putera selir yang kini telah tua dan "tidak terpakai lagi" oleh sang prabu, seolah-olah telah di "pensiun". Namun sebagai selir raja mempunyai seorang putera, tentu hidupnya terjamin, juga Pangeran Kukutan mendapat kedudukan terhormat seperti para pangeran lain. Berdebar jantung Suminten, biarpun ia pura-pura membuang muka sambil berjebi. Pangeran Kukutan ini sudah lama menaruh hati kepadanya, semenjak ia menjadi abdi dalem dan belum diselir sang prabu. Kalau ia mau, ia tidak akan menjadi selir sang prabu, tentu didahului dan diselir pangeran ini. Akan tetapi, Suminten yang bercita-cita tinggi selalu menolaknya dan lebih suka menjadi selir sang prabu, sungguhpun di dalam hatinya seringkali mengenangkan pangeran yang muda dan tampan ini. Namun, ia seorang wanita yang amat cerdik dan la tidak mau membiarkan dirinya terseret oleh perasaannya karena hal ini akan membahayakan kedudukannya dan dapat menyeretnya turun kembali ke tingkat paling bawah! Maka ia selalu menghadapi Pangeran Kukutan seperti seekor burung dara yang sukar ditangkap, jinak-jinak merpati. Rasa sukanya kepada pangeran muda dan tampan gagah ini membuat ia jika bertemu melempar kerling memperlihatkan senyum, akan tetapi kewaspadaannya untuk mencapai cita-cita membuat ia selalu mengelak dari perangkap-perangkap asmara yang dipasang oleh sang pangeran.
"Aduhai juita ... jelita yang tiada bandingnya di atas permukaan bumi ini ... , agaknya para dewata memang telah menjodohkan kita, siapa mengira bahwa hamba yang tak dapat tidur dan berjalan-jalan di sini akan bertemu dengan dewi pujaan hati!" kata sang pangeran dengan suara merayu dan duduklah pangeran itu di atas bangku, dekat Suminten.

Suminten merasa akan kehadiran tubuh pria itu yang duduk begitu dekat di sampingnya. Kedua kakinya menggigil, jantungnya berdebar tegang, dan rasa bahagia menyelundup di hati mendengar kata-kata yang amat indah baginya itu. Selama menjadi selir sang prabu, ia tidak pernah mendengar rayuan seperti itu, melainkan suara sang prabu yang berwibawa dan memerintah, kasih sayang sang prabu yang kaku dan tidak merayu, dengus napas tuanya yang terengah-engah, tubuh tuanya yang lemah dan terlalu sering membutuhkan pijat sehingga melelahkan kedua tangannya. Kekerasan hatinya mulai mencair seperti lilin kepanasan dan seluruh urat syarafnya tegang dilanda berahi, membuat ia ingin sekali menjatuhkan dirinya dalam dekapan lengan yang kuat, bersandar pada dada yang bidang itu. Akan tetapi, Suminten menekan perasaannya dan tanpa menoleh ia berkata, suaranya diketus- ketuskan,
"Pangeran, mau apa engkau ke sini? Dan mengapa berani mengeluarkan kata-kata seperti itu, duduk bersanding dengan aku? Lupakah engkau bahwa aku adalah ibumu juga, selir daripada ramandamu?"
"Heh-heh," sang pangeran terkekeh perlahan,
"kalau begitu, aku adalah anak-mu?"
"Tentu saja engkau anakku! Anak tiri, karena engkau putera sang prabu!" kata Suminten yang belum berani menoleh karena ia mendengar suara pangeran itu amat dekat di telinga kanannya sehingga kalau ia menoleh, muka mereka akan berhadapan dan berdekatan sekali.
Kembali Pangeran Kukutan terkekeh, suara ketawanya merdu terdengar oleh telinga Suminten, berbeda dengan suara tertawa sang prabu yang serak terbabah diseling batuk!
"Ha-ha-ha ....., kalau begitu, biarlah aku menjadi puteramu, dan engkau ibuku. Duhai ibunda yang cantik manis seperti dewi kahyangan, terimalah sembah bakti puteranda!" Pangeran muda itu sambil tersenyum-senyum lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten, menyembah dan mencium ujung kainnya. Mau tidak mau Suminten kini memandang dan menunduk. Alangkah bagusnya kepala yang berambut hitam tebal itu, tidak seperti kepala sang prabu yang sudah botak dan rambutnya yang jarang dan memutih. Pundak yang lebar, dada yang bidang dan menonjol kekar, otot-otot melingkar kuat, perut yang rata dan kuat, semua tampak di balik baju pemuda itu yang terbuka di sebelah depan. Kulit yang halus padat, sama sekali tidak ada keriput. Berbeda dengan tubuh sang prabu dengan perutnya yang gendut, dadanya yang kerempeng, pundak yang menunduk, otot-ototnya sudah layu!
Suminten yang cerdik tidak membiarkan dirinya terseret oleh berahi, namun ia mempergunakan perhitungan dalam otaknya, perhitungan untung ruginya, kalau ia menuruti nafsunya menerima bujuk rayu pemuda ganteng ini. Ah, memang dia membutuhkan pembantu-pembantu untuk dapat mencapai cita-citanya. Dan agaknya Pangeran Kukutan ini dapat ditarik menjadi pembantu pertama dan pembantu utama. Pertama karena dia seorang pangeran yang selalu berada di istana, dekat dengannya. Kedua, karena ia telah mengetahui rahasia ibunda pangeran ini, selir ke tiga sang prabu sehingga ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya, apalagi kalau ia berhasil menundukkannya dengan keindahan wajah dan tubuhnya. Banyak sekali keuntungan didapat kalau ia melayani pangeran ini, pikir otaknya yang cerdik sementara jantungnya makin berdebar keras dan mulai terbakar nafsu berahi ketika pangeran itu sesudah menyembah lalu memegang kedua kakinya dan mengelus-elus kedua kaki kecil itu dengan jari-jari tangan yang nakal dan pandai membelai. Ketika ia merasa betapa jari-jari tangan itu dari kaki makin merayap naik, ia menegur dan mengibaskan tangannya,
"Ihhhh ....Pangeran, engkau tak tahu susila!" Pangeran Kukutan yang masih berlutut itu menengadahkan mukanya, memandang wajah Suminten dengan sepasang mata memancarkan sinar kasih sayang yang tenggelam dalam nafsu berahi yang berkobar-kobar, mulutnya tersenyum penuh ajakan dan ia berkata, suaranya tetap halus merdu dan jenaka,
"Elhoo ....Bukankah aku puteramu dan kau ibuku? Aduh, Kanjeng Ibu, aku minta dipangku!" Dan pangeran itu lalu betul-betul menjatuhkan mukanya di atas pangkuan Suminten, kedua lengannya memeluk pinggang yang ramping itu.
"Aiihhh ....!" Suminten menjerit lirlh karena geli, pinggangnya menggeliat. Akan tetapi Pangeran Kukutan yang sudah sepenuhnya dikuasai nafsu berahi itu, makin menggila.
"Ibunda yang cantik jelita, anakmu ini minta cium, minta emik (menyusu), minta kelon (ditemani tidur)!" Berkata demikian, pangeran itu melanjutkan belaiannya dan menciumi Suminten.
"Iihhhh ....aaahhh .......  Pangeran Kukutan, berhenti atau ....aku akan menjerit!"

Ancaman ini berhasil. Pangeran Kukutan tentu saja merasa takut karena kalau sampai "ibu tirinya" ini benar- benar menjerit sehingga perbuatannya diketahui oleh sang prabu, ia tentu akan celaka. Akan tetapi pada saat itu, nafsu berahi telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan suaranya menggigil ketika ia berbisik,
"Duhai Adinda Suminten, telah terlampau lama aku menyimpan cinta asmara di dalam hati terhadap Adinda, tak tertahankan lagi ah, adinda, kasihanilah kakanda ini“
Suminten juga menggigil seluruh tubuhnya. Perbuatan nakal pangeran tadi seolah-olah telah membakar tubuhnya, membuat nafsunya sendiri menyala-nyala, matanya setengah terpejam, bibirnya ditarik seperti orang tersiksa nyeri, hidungnya yang kecil mancung kembang-kempis, tarikan napasnya terdengar, tersendat-sendat, kedua tangannya digenggam erat-erat. Hanya kecerdikan otaknya sajalah yang tadi dapat membuat ia kuasa menahan diri. Kemudian la menunduk, memandang tubuh pangeran yang berlutut di depannya itu, tersenyum puas dan girang. Satu hal sudah nyata, ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya dengan pengaruh asmara. Akan tetapi ia masih belum puas. Pengaruh itu belum meyakinkan karena ia mau agar supaya pangeran muda ini benar-benar bersetia kepadanya, setia sampai mati. Maka ia lalu berkata perlahan,
"Pangeran Kukutan, sebelum aku membiarkan kau menurutkan keinginan hatimu itu, lebih dulu kaudengarkan, baik-baik kata-kataku. Mataku juga tidak buta dan aku dapat melihat bahwa sudah lama engkau mencintaku. Akan tetapi, pangeran. Cinta kasih seorang pria terhadap wanita adalah cinta kasih sementara saja seperti orang mencinta setangkai bunga yang harum. Kalau sudah kenyang menikmati keharuman bunga sampai bunga itu layu dan tidak harum lagi, akan berhentilah cinta kasihnya dan bunga layu itu akan dibuang begitu saja! Berahi seorang pria seperti orang makan tebu. Setelah kenyang mengunyah, menghisap sampai habis sari manisnya, dia akan mencampakkan sepahnya begitu saja! Aku tidak sudi kelak kauperlakukan seperti setangkai bunga atau sebatang tebu ...."
"Aduh, kekasih hati pujaan kalbu! Demi Sang Hyang Bathara Kamajaya, dewa segala cinta asmara di jagat ini, aku bersumpah akan bersetia dalam cinta kasihku terhadapmu ...“
"Bukan hanya kesetiaan yang kukehendaki, pangeran, melainkan juga ketaatan. Terutama sekali ketaatan. Engkau akan melakukan segala permintaanku?"
"Demi para dewata! Perintahkan apa saja, juwitaku, akan kulaksanakan. Engkau menghendaki aku menyeberangi lautan api? Bilamana saja, aku siap!". Suminten tersenyum, sengaja membuat senyuman mengejek tidak percaya.
"Sesungguhnyakah?"

<<< Bagian 073                                                                                    Bagian 075 >>>

No comments:

Post a Comment