Yang amat menyakitkan hatinya adalah rintangan di depan mata, yang membuat Suminten gemas sekali. Rintangan ini berupa seorang selir lain yang sebelum Suminten diangkat menjadi selir, merupakan selir tercinta dari sang prabu. Selir ini adalah Puteri Sekarmadu yang baru berusia dua puluh lima tahun dan sudah lima tahun menjadi selir sang prabu. Puteri Sekarmadu memang cantik jelita, pendiam, pandai segala macam kesenian, berwatak halus dan memang dia adalah puteri seorang adipati di Kanigoro yang dipersembahkan kepada sang prabu oleh sang adipati.
Puteri Sekarmadu adalah yang
tercantik di antara semua selir, namun setelah di situ ada Suminten, puteri ini
biarpun pada dasarnya menang cantik, namun kalah pandai dalam keluwesan dan
gaya memikat. Puteri Sekarmadu maklum akan segala polah tingkah Suminten,
maklum betapa selir termuda ini, berbeda dengan lain-lain selir, berusaha
sekuat tenaga untuk menjatuhkan hati sang prabu, sebagai seorang puteri yang
pandai membawa sikap, Sekarmadu tidak membuat reaksi apa-apa. Betapapun juga,
sang prabu tidak pernah dapat melupakan Sekarmadu dan biarpun ia kini
seolah-olah menjadi selemas rambut yang dipermainkan
oleh jari-jari tangan
Suminten yang cekatan, namun sang prabu masih saja mendekati Sekarmadu dan
membagi waktunya secara bergilir. Bagi Suminten, tentu saja ia tidak mencinta
sang prabu setulus hatinya. Mana mungkin dia, seorang dara remaja berusia tujuh
belas tahun, dapat mencurahkan kasih sayang yang setulusnya terhadap seorang kakek
berusia enam puluh tahun? Tidak, ia muak terhadap belaian kasih sayang dan
pencurahan cinta asmara sang prabu, dan dia sama sekali tidak cemburu atau iri
hati terhadap Sekarmadu. Yang membuat ia gemas. adalah karena Sekarmadu
dianggapnya sebuah rintangan yang harus dienyahkan kalau ia mau cepat-cepat
mencapai cita-citanya. Namun, bagaimana ia dapat menjatuhkan Sekarmadu yang
demikian pendiam, halus tutur sapanya, lemah lembut budinya, dan sukar dicari
kesalahannya itu? Namun dengan sabar dan tekun Suminten mengatur semua rencana,
mendekati semua selir, berbaik dan mengambil hati mereka, sambil menanti saat
dan kesempatan yang baik untuk menghalau rintangan-rintangan itu, satu demi
satu!
Kalau ada orang mengira
bahwa selir-selir raja di jaman dahulu yang begitu banyaknya itu dapat hidup
rukun, dia mengira keliru. Memang pada lahirnya mereka ini tampak rukun, namun
sesungguhnya tidak demikianlah di dalam hati. Kalau mereka tampak rukun, dan
tidak pernah bertengkar, adalah karena mereka ini takut kepada raja dan
kebencian mereka satu sama lain hanya diutarakan secara diam-diam dan dengan
jalan saling membicarakan keburukan masing-masing di belakang punggung. Karena
maklum akan keadaan para selir sang prabu di Jenggala ini, maka secara cerdik
sekali Suminten mendekati mereka semua dengan sikapnya yang mengambil hati dan
merendah sehingga mereka semua merasa suka kepadanya dan menganggap selir
termuda ini sebagai sahabat baik. Mulailah Suminten mengorek-ngorek rahasia
pribadi masing-masing selir itu melalui selir-selir lainnya, membuat mereka
saling membicarakan rahasia dan keburukan masing-masing sehingga Suminten dapat
mengetahui sebagian besar cacat dan keburukan para selir yang menjadi
saingannya.
Pada suatu malam terang
bulan yang amat indah. Hawa malam itu sejuk sekali di dalam taman, berbeda
dengan hawa di dalam kamar yang panas. Suminten duduk sendirian di dalam taman
sari yang sunyi. Malam sudah mendekati tengah malam, semua penghuni keputren di
mana para selir tinggal, telah tidur pulas, demikian pula para abdi dalem.
Namun Suminten masih duduk melamun di taman sari. Hatinya tidak puas. Malam itu
sang prabu menjatuhkan giliran kepada Sekarmadu. Hatinya panas. Bukan karena
cemburu, karena dia sendiri sesungguhnya tidak pernah merasa senang apalagi
cinta kepada sang prabu yang sudah tua. Hanya ia merasa panas dan tidak senang
karena kenyataan bahwa sang prabu masih melekat kepada Sekarmadu itu berarti
bahwa cita-citanya untuk naik ke tangga tertinggi menghadapi rintangan berat.
"Gilang-gemilang bulan
purnama taman sari bermandi cahaya kencana termenung sendiri dewi jelita
seperti Bathari Komaratih
Dewl Asmara."
Suminten kaget dan ketika ia
menoleh dan melihat siapa orangnya yang berpantun dengan suara merdu dan penuh
rayuan itu, bibirnya yang manis berjebi, matanya mengerling tajam. Lalu dengan
gerakan yang genit ia membuang muka. Laki-laki itu masih muda, tampan dan
tubuhnya tinggi besar. Usianya antara dua puluh lima tahun, pakaiannya indah.
Dia ini adalah Pangeran Kukutan, seorang di antara banyak pangeran putera sang
prabu terlahir dari para selir. Pangeran Kukutan ini adalah putera selir yang
kini telah tua dan "tidak terpakai lagi" oleh sang prabu, seolah-olah
telah di "pensiun". Namun sebagai selir raja mempunyai seorang
putera, tentu hidupnya terjamin, juga Pangeran Kukutan mendapat kedudukan
terhormat seperti para pangeran lain. Berdebar jantung Suminten, biarpun ia
pura-pura membuang muka sambil berjebi. Pangeran Kukutan ini sudah lama menaruh
hati kepadanya, semenjak ia menjadi abdi dalem dan belum diselir sang prabu.
Kalau ia mau, ia tidak akan menjadi selir sang prabu, tentu didahului dan
diselir pangeran ini. Akan tetapi, Suminten yang bercita-cita tinggi selalu
menolaknya dan lebih suka menjadi selir sang prabu, sungguhpun di dalam hatinya
seringkali mengenangkan pangeran yang muda dan tampan ini. Namun, ia seorang
wanita yang amat cerdik dan la tidak mau membiarkan dirinya terseret oleh
perasaannya karena hal ini akan membahayakan kedudukannya dan dapat menyeretnya
turun kembali ke tingkat paling bawah! Maka ia selalu menghadapi Pangeran
Kukutan seperti seekor burung dara yang sukar ditangkap, jinak-jinak merpati.
Rasa sukanya kepada pangeran muda dan tampan gagah ini membuat ia jika bertemu
melempar kerling memperlihatkan senyum, akan tetapi kewaspadaannya untuk
mencapai cita-cita membuat ia selalu mengelak dari perangkap-perangkap asmara
yang dipasang oleh sang pangeran.
"Aduhai juita ...
jelita yang tiada bandingnya di atas permukaan bumi ini ... , agaknya para
dewata memang telah menjodohkan kita, siapa mengira bahwa hamba yang tak dapat
tidur dan berjalan-jalan di sini akan bertemu dengan dewi pujaan hati!"
kata sang pangeran dengan suara merayu dan duduklah pangeran itu di atas
bangku, dekat Suminten.
Suminten merasa akan
kehadiran tubuh pria itu yang duduk begitu dekat di sampingnya. Kedua kakinya
menggigil, jantungnya berdebar tegang, dan rasa bahagia menyelundup di hati
mendengar kata-kata yang amat indah baginya itu. Selama menjadi selir sang
prabu, ia tidak pernah mendengar rayuan seperti itu, melainkan suara sang prabu
yang berwibawa dan memerintah, kasih sayang sang prabu yang kaku dan tidak
merayu, dengus napas tuanya yang terengah-engah, tubuh tuanya yang lemah dan
terlalu sering membutuhkan pijat sehingga melelahkan kedua tangannya. Kekerasan
hatinya mulai mencair seperti lilin kepanasan dan seluruh urat syarafnya tegang
dilanda berahi, membuat ia ingin sekali menjatuhkan dirinya dalam dekapan
lengan yang kuat, bersandar pada dada yang bidang itu. Akan tetapi, Suminten
menekan perasaannya dan tanpa menoleh ia berkata, suaranya diketus- ketuskan,
"Pangeran, mau apa
engkau ke sini? Dan mengapa berani mengeluarkan kata-kata seperti itu, duduk
bersanding dengan aku? Lupakah engkau bahwa aku adalah ibumu juga, selir
daripada ramandamu?"
"Heh-heh," sang
pangeran terkekeh perlahan,
"kalau begitu, aku
adalah anak-mu?"
"Tentu saja engkau
anakku! Anak tiri, karena engkau putera sang prabu!" kata Suminten yang
belum berani menoleh karena ia mendengar suara pangeran itu amat dekat di
telinga kanannya sehingga kalau ia menoleh, muka mereka akan berhadapan dan
berdekatan sekali.
Kembali Pangeran Kukutan
terkekeh, suara ketawanya merdu terdengar oleh telinga Suminten, berbeda dengan
suara tertawa sang prabu yang serak terbabah diseling batuk!
"Ha-ha-ha ....., kalau
begitu, biarlah aku menjadi puteramu, dan engkau ibuku. Duhai ibunda yang
cantik manis seperti dewi kahyangan, terimalah sembah bakti puteranda!"
Pangeran muda itu sambil tersenyum-senyum lalu menjatuhkan diri berlutut di
depan kaki Suminten, menyembah dan mencium ujung kainnya. Mau tidak mau
Suminten kini memandang dan menunduk. Alangkah bagusnya kepala yang berambut
hitam tebal itu, tidak seperti kepala sang prabu yang sudah botak dan rambutnya
yang jarang dan memutih. Pundak yang lebar, dada yang bidang dan menonjol
kekar, otot-otot melingkar kuat, perut yang rata dan kuat, semua tampak di
balik baju pemuda itu yang terbuka di sebelah depan. Kulit yang halus padat,
sama sekali tidak ada keriput. Berbeda dengan tubuh sang prabu dengan perutnya
yang gendut, dadanya yang kerempeng, pundak yang menunduk, otot-ototnya sudah
layu!
Suminten yang cerdik tidak
membiarkan dirinya terseret oleh berahi, namun ia mempergunakan perhitungan
dalam otaknya, perhitungan untung ruginya, kalau ia menuruti nafsunya menerima
bujuk rayu pemuda ganteng ini. Ah, memang dia membutuhkan pembantu-pembantu
untuk dapat mencapai cita-citanya. Dan agaknya Pangeran Kukutan ini dapat
ditarik menjadi pembantu pertama dan pembantu utama. Pertama karena dia seorang
pangeran yang selalu berada di istana, dekat dengannya. Kedua, karena ia telah
mengetahui rahasia ibunda pangeran ini, selir ke tiga sang prabu sehingga ia
dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya, apalagi kalau ia berhasil
menundukkannya dengan keindahan wajah dan tubuhnya. Banyak sekali keuntungan
didapat kalau ia melayani pangeran ini, pikir otaknya yang cerdik sementara
jantungnya makin berdebar keras dan mulai terbakar nafsu berahi ketika pangeran
itu sesudah menyembah lalu memegang kedua kakinya dan mengelus-elus kedua kaki
kecil itu dengan jari-jari tangan yang nakal dan pandai membelai. Ketika ia
merasa betapa jari-jari tangan itu dari kaki makin merayap naik, ia menegur dan
mengibaskan tangannya,
"Ihhhh ....Pangeran,
engkau tak tahu susila!" Pangeran Kukutan yang masih berlutut itu
menengadahkan mukanya, memandang wajah Suminten dengan sepasang mata
memancarkan sinar kasih sayang yang tenggelam dalam nafsu berahi yang
berkobar-kobar, mulutnya tersenyum penuh ajakan dan ia berkata, suaranya tetap
halus merdu dan jenaka,
"Elhoo ....Bukankah aku
puteramu dan kau ibuku? Aduh, Kanjeng Ibu, aku minta dipangku!" Dan
pangeran itu lalu betul-betul menjatuhkan mukanya di atas pangkuan Suminten,
kedua lengannya memeluk pinggang yang ramping itu.
"Aiihhh ....!"
Suminten menjerit lirlh karena geli, pinggangnya menggeliat. Akan tetapi
Pangeran Kukutan yang sudah sepenuhnya dikuasai nafsu berahi itu, makin
menggila.
"Ibunda yang cantik
jelita, anakmu ini minta cium, minta emik (menyusu), minta kelon (ditemani
tidur)!" Berkata demikian, pangeran itu melanjutkan belaiannya dan
menciumi Suminten.
"Iihhhh ....aaahhh
....... Pangeran Kukutan, berhenti atau
....aku akan menjerit!"
Ancaman ini berhasil.
Pangeran Kukutan tentu saja merasa takut karena kalau sampai "ibu
tirinya" ini benar- benar menjerit sehingga perbuatannya diketahui oleh
sang prabu, ia tentu akan celaka. Akan tetapi pada saat itu, nafsu berahi telah
memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut
dan suaranya menggigil ketika ia berbisik,
"Duhai Adinda Suminten,
telah terlampau lama aku menyimpan cinta asmara di dalam hati terhadap Adinda,
tak tertahankan lagi ah, adinda, kasihanilah kakanda ini“
Suminten juga menggigil
seluruh tubuhnya. Perbuatan nakal pangeran tadi seolah-olah telah membakar
tubuhnya, membuat nafsunya sendiri menyala-nyala, matanya setengah terpejam,
bibirnya ditarik seperti orang tersiksa nyeri, hidungnya yang kecil mancung
kembang-kempis, tarikan napasnya terdengar, tersendat-sendat, kedua tangannya
digenggam erat-erat. Hanya kecerdikan otaknya sajalah yang tadi dapat membuat
ia kuasa menahan diri. Kemudian la menunduk, memandang tubuh pangeran yang
berlutut di depannya itu, tersenyum puas dan girang. Satu hal sudah nyata, ia
dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya dengan pengaruh asmara. Akan
tetapi ia masih belum puas. Pengaruh itu belum meyakinkan karena ia mau agar
supaya pangeran muda ini benar-benar bersetia kepadanya, setia sampai mati.
Maka ia lalu berkata perlahan,
"Pangeran Kukutan,
sebelum aku membiarkan kau menurutkan keinginan hatimu itu, lebih dulu
kaudengarkan, baik-baik kata-kataku. Mataku juga tidak buta dan aku dapat
melihat bahwa sudah lama engkau mencintaku. Akan tetapi, pangeran. Cinta kasih
seorang pria terhadap wanita adalah cinta kasih sementara saja seperti orang
mencinta setangkai bunga yang harum. Kalau sudah kenyang menikmati keharuman
bunga sampai bunga itu layu dan tidak harum lagi, akan berhentilah cinta
kasihnya dan bunga layu itu akan dibuang begitu saja! Berahi seorang pria seperti
orang makan tebu. Setelah kenyang mengunyah, menghisap sampai habis sari
manisnya, dia akan mencampakkan sepahnya begitu saja! Aku tidak sudi kelak
kauperlakukan seperti setangkai bunga atau sebatang tebu ...."
"Aduh, kekasih hati
pujaan kalbu! Demi Sang Hyang Bathara Kamajaya, dewa segala cinta asmara di
jagat ini, aku bersumpah akan bersetia dalam cinta kasihku terhadapmu ...“
"Bukan hanya kesetiaan
yang kukehendaki, pangeran, melainkan juga ketaatan. Terutama sekali ketaatan.
Engkau akan melakukan segala permintaanku?"
"Demi para dewata!
Perintahkan apa saja, juwitaku, akan kulaksanakan. Engkau menghendaki aku
menyeberangi lautan api? Bilamana saja, aku siap!". Suminten tersenyum,
sengaja membuat senyuman mengejek tidak percaya.
"Sesungguhnyakah?"
No comments:
Post a Comment