Perawan Lembah Wilis; Bagian 073



Tejolaksono terkejut, girang dan juga bersyukur sekali karena anugerah ini amatlah besar baginya. Semenjak saat itu ia disebut Patih Tejolaksono dan mendapat sebuah istana di kepatihan Panjalu. Setelah menghaturkan terima kasih dan mendapat perkenan sang prabu, bergegas Tejolaksono pulang ke pesanggrahan menemui isterinya. Ayu Candra menyambut suaminya dengan tangis dan tawa saking gembira dan bahagianya. Tidak saja suaminya berhasil mengusir musuh negara dan membalas dendam atas kehancuran Selopenangkep dan kematian kedua orang bibi mereka, akan tetapi terutama sekali karena suaminya dapat pulang dalam keadaan selamat, mengingat akan beratnya tugas yang dipikulnya dan saktinya lawan-lawan yang dihadapinya.
"Nimas, sungguh terjadi hal yang sama sekali tak pernah kuduga ...., di puncak Gunung Merak aku bertemu dengan Bagus seta!"
Terbelalak mata Ayu Candra Memandang suaminya, berseri-seri penuh kebahaglaan dan dua titik air mata bahagia meloncat keluar ke atas pipinya.
"A ...anak.... kita ... ? Bagaimana dia? Kenapa tidak ikut pulang .....?”
Pertanyaan itu penuh harap dan dengan tenang Tejolaksono lalu menceritakan pengalamannya di puncak Pegunungan Merak, di mana hampir saja ia tewas kalau saja tidak ditolong oleh kakek sakti yang bernama Bhagawan Jitendrya, juga Bhagawan Sirnasarisa atau oleh sang prabu disebut Bhagawan Ekadenta. Ia ceritakan tentang keadaan Bagus Seta yang sehat dan betapa putera mereka itu telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.
"Aahhh ..., mengapa dia tidak diajak pulang? Bagaimana dia harus dipisahkan dari aku sampai lima tahun lagi?" Ibu yang sudah amat rindu kepada puteranya itu mengeluh dan mulailah Ayu Candra menangis. Tejolaksono mengeluarkan bunga cempaka putih dari saku dalam bajunya. Ia makin kagum menyaksikan betapa bunga itu tidak layu. Tahulah ia bahwa puteranya telah memiliki kesaktian yang mujijat, maka cepat-cepat ia menyerahkan bunga itu kepada isterinya sambil berkata,
"Nimas, kaulihat ini. Puteramu itu menitipkan bunga ini kepadaku dengan pesan agar diberikan kepada ibunya ..."
"Aduh, anakku .....!" Ayu Candra terbelalak memandang dan menerkam, lalu merampas bunga itu dari tangan suaminya dengan penuh gairah, lalu sambil tersedu-sedu ia menciumi bunga itu, mendekapnya di dada.
"Aduh, Bagus Seta ....angger ...anakku tercinta ... kau masih ingat kepada ibumu“
Tejolaksono menahan perasaannya agar tidak sampai menitikkan air mata karena terharu.
"Nimas, dia sama sekali tidak pernah melupakan ayah bundanya. Akan tetapi Bagus Seta berjiwa ksatria utama, mengesampingkan kesenangan pribadi untuk menggembleng diri agar kelak dapat berdharma bhakti kepada sesama manusia."

Ayu Candra hanya sebentar diamuk gelombang perasaan rindu dan terharu, .kini ia sudah tenang, memegangi bunga cempaka putih dengan bengong seperti orang melamun, kemudian ia mengangguk-angguk perlahan.
"Benar sekali, Kakanda, memang putera kita harus berjiwa ksatria. Biarlah kurelakan dia lima tahun lagi, biarlah kita sebagai orang tuanya berprihatin agar dia menjadi seorang manusia utama, seperti ramandanya."
Tejolaksono makin terharu, memeluk dan mengecup ubun-ubun isterinya yang terkasih.
"Engkau seorang ibu yang bijaksana, seorang isteri yang hebat ....! Dan Bagus Seta ...putera kita yang mengagumkan!” Memang ia kagum sekali karena bunga cempaka putih itu ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa sekali, yang dalam waktu sebentar telah dapat mengobati kerinduan hati Ayu Candra.
Mulailah Tejolaksono melaksanakan tugasnya yang baru, sebagai patih muda di Kerajaan Panjalu. Dengan amat tekunnya menggembleng barisan Panjalu melalui para senopati dan semenjak dia menjadi patih muda yang berkuasa di bagian pertahanan negara, maka keadaan menjadi aman tenteram, pengaruh Kerajaan Panjalu makin besar, tidak ada lagi raja-raja muda yang berani menentang dan melakukan penyerangan. Akan tetapi benar-benarkah Sriwijaya dan Cola menghentikan usaha mereka untuk menanam pengaruh di Panjalu? Benar-benarkah mereka itu mundur teratur dan tidak berani lagi melakukan kekacauan? Sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Tepat seperti yang dikatakan oleh sang prabu di Panjalu agar mereka semua mempertebal kewaspadaan, karena sesungguhnya, Kerajaan Panjalu, dan terutama sekali Jenggala yang tidak lagi diganggu kerusuhan-kerusuhan, belum terbebas daripada bahaya yang mengancam. Secara halus Kerajaan Sriwijaya masih mencoba untuk memperlebar pengaruhnya sampai di kedua kerajaan ini melalui Agama Buddha yang disebarluaskan, dipimpin oleh Biku Janapati yang bijaksana. Karena sang biku menggunakan cara yang halus, tidak memakai kekerasan, maka usahanya ini lebih berhasil. Namun yang menjadi ancaman bahaya besar adalah usaha yang dijalankan oleh Wasi Bagaspati. Sang wasi yang merasa penasaran akan gagalnya usahanya, kini menyebar kaki tangannya, terutama sekali di Jenggala, dengan secara cerdik dan halus ia menyuruh mereka menyelundup ke dalam kerajaan, menggunakan pengaruh harta benda dan ilmu hitam sehingga banyak di antara anak buahnya yang berhasil menduduki tempat-tempat terpenting dalam pemerintahan. Bahkan kuku-kuku cengkeraman yang tidak tampak oleh mata ini menyelundup sampai ke dalam istana Kerajaan Jenggala! Memang hebat sekali usaha Sang Wasi Bagaspati yang mengadakan penyelundupan-penyelundupan rahasia,
terutama sekali di istana Kerajaan Jenggala. Banyak di antara anak buahnya yang sakti, laki-laki dan terutama wanita-wanita cantik, dijadikan senjata untuk usaha ini. Pada waktu itu memang harus diakui bahwa Kerajaan Jenggala amat lemah kedudukannya. Kerajaan Jenggala masih dapat berdiri tegak dan tidak ada musuh berani mengganggu hanya karena mereka itu sungkan dan takut kepada Kerajaan Panjalu. Mereka maklum bahwa memusuhi Jenggala berarti akan berhadapan dengan Panjalu pula, karena sebagai saudara, Panjalu tentu akan membela Jenggala.

Sebetulnya, sebagai putera mendiang Sang Prabu Airlangga yang arif bijaksana, raja di Jenggala bukanlah seorang yang jahat atau lalim. Sang prabu di Jenggala cukup baik dalam arti kata sebagai raja, cukup mencinta rakyatnya dan bukan seorang raja yang menindas rakyat. Akan tetapi, sang prabu mempunyai sebuah kelemahan sebagai seorang pria, yaitu bahwa sang prabu mudah tergoda oleh wanita cantik. Kalau para wanita yang banyak jumlahnya itu menggoda sang prabu hanya dengan pamrih agar menjadi selir dan mendapat kedudukan mulia, hal itu tidak mengapa. Akan tetapi, akhir-akhir ini sang prabu di Jenggala amat berubah sikapnya setelah dia mendapatkan seorang selir baru. Celakanya, berbeda dengan selir-selir lainnya yang puluhan orang banyaknya, selir baru ini tidak hanya terbatas pada kemuliaan pamrihnya, melainkan lebih tinggi lagi. Selir baru ini ingin mendapatkan kekuasaan tertinggi sesudah raja, dan untuk mencapai hal ini, ia mempergunakan segala kecantikan wajahnya, segala kesegaran tubuh mudanya, segala bujuk rayu yang menggairahkan sehingga hati sang prabu di Jenggala yang masih muda biarpun tubuhnya sudah tua itu menjadi jatuh dan tunduk.
Siapakah selir baru yang muda belia, segar menggairahkan ini? Dia seorang wanita masih muda belia, tujuh belas atau delapan belas tahun usianya, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar semerbak mengharum, bagaikan buah mangga sedang ranum matang hati, manis segar dan renyahl Wajahnya manis sekali, terutama kerling matanya yang tajam melebihi mata pedang, kerling yang menyambar-nyambar membetot hati membuat sukma pria melayang-layang karena dalam kerling ini terkandung tantangan dan ajakan kepada pria untuk bertamasya ke dalam surga kenikmatan. Selain sepasang mata indah yang memiliki kerling "maut" ini, juga mulutnya membuat setiap mata laki-laki memandang bagaikan tergantung dan lekat pada sepasang bibir itu! Bibir itu merah segar, berkulit tipis seperti kulit kentang, seperti buah tomat masak, menggemaskan hati, membuat orang ingin sekali menggigitnya, menantang dan selain dapat mencipta senyum memikat dan memabukkan, juga bibir yang basah dapat bergerak-gerak menggairahkan sehingga selalu tampak memberahikan ketika dicemberutkan, atau dijebikan, atau bergerak-gerak seperti menggigil. Deretan gigi putih seperti pagar mutiara melindungi rongga mulut yang merah penuh tantangan. Wajah yang manis sekali, yang bagaikan besi semberani menarik pandang mata setiap orang pria yang berjumpa dengannya. Rambutnya hitam panjang dan agak berombak, membentuk sinom halus di dahi dan anak rambut melengkung di depan telinga, kalau dibiarkan terurai, panjangnya sampai ke bawah pinggul. Tubuhnya tingi ramping, padat penuh dengan lekuk-lengkung sempurna dalam pandangan setiap orang pria, dan ia dapat menggerak-gerakkan setiap bagian tubuhnya dengan gerakan yang luwes dan memikat. Kulitnya yang agak hitam tidak menjadi cacat, bahkan menambah kemanisannya. Siapakah dia? Kita sudah mengenalnya. Namanya Suminten! Di bagian depan cerita ini telah dituturkan bahwa Suminten adalah abdi dalem (pelayan) mendiang Pangeran Panjirawit dan Endang Patibroto. Suminten ketika menjadi abdi dalem di istana pangeran itu, seringkali mengintai dan menyaksikan adegan mesra antara Pangeran Panjirawit dan isterinya. Suami isteri itu selalu berkasih-kasihan dan akhirnya terbangunlah berahi dalam tubuh Suminten dan pelayan ini jatuh cinta kepada sang pangeran! Cinta berahi yang ditahan-tahan dan akhirnya tercetus menjadi cemburu, iri hati, dan kebencian terhadap Endang Patibroto. Ia mengharapkan untuk menjadi selir Pangeran Panjirawit yang tampan, akan tetapi semua pengharapan dan usahanya sia-sia belaka karena sang pangeran terlalu mencinta isterinya, tidak mau mempunyai selir. Telah diceritakan betapa kebencian ini membuat Suminten diam-diam lari kepada Ki Patih Brotomenggala, menceritakan perbuatan Endang Patibroto yang melukal ayam dengan ilmu hitam sehingga makin besarlah kecurigaan dan dugaan ki patih bahwa Endang Patibroto agaknya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para ponggawa dengan ilmu hitam.

Suminten dihadapkan kepada sang prabu di Jenggala, kemudian oleh sang prabu dijadikan abdi dalem istana. Semenjak saat itulah tampak Suminten yang sesungguhnya, yaitu seorang dara muda belia yang mempunyai pamrih besar sekali, tidak akan puas kalau belum mencapai kedudukan setinggi-tingginya. Terhadap Pangeran Panjirawit ia memang menaruh kasih sayang yang sesungguhnya, yang murni dan andaikata terlaksana keinginan hatinya menjadi selir Pangeran Panjirawit, agaknya ia akan merasa puas dan bahagia, tidak akan mencita-citakan hal lain lagi. Akan tetapi, ia mendengar akan keadaan Pangeran Panjirawit, akan kesengsaraan dan akhirnya akan kematiannya. Hatinya hancur dan ia bertekad untuk menyalurkan semua cinta bercampur duka ini menjadi cita-cita untuk menjadi manusia paling berkuasa di Jenggala agar ia dapat membalas dendam atas kematian Pangeran Panjirawit, pria yang pernah cinta sepenuh hatinya. Gadis ini selain cantik manis, juga amat cerdik. Setelah menjadi abdi dalem di Istana Kerajaan Jenggala, cepat sekali ia dapat mempelajari keadaan dan dapat pula mengambil hati para selir, bahkan sampai permaisuri sendiri menaruh kepercayaan kepadanya dan memberinya tugas melayani sang prabu. Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Suminten. Dengan daya tariknya yang luar biasa, ditambah kelemahan sang prabu terhadap wanita muda, dalam waktu beberapa hari saja ia berhasil menjatuhkan hati sang prabu yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun itu! Akhirnya, dengan resmi Suminten diangkat menjadi selir termuda Sang Prabu Jenggala. Semenjak ia diangkat menjadi selir, mulailah Suminten menggunakan kecerdikannya memasang jerat, merayu dan mengambil hati para selir lain untuk mencapai cita-cita hatinya. Makin pandai ia merayu sang prabu, menggoda dan melakukan segala macam akal wanita sehingga sang prabu menjadi makin mabuk dan cinta kepadanya. Sang prabu menganggap bahwa di antara semua selirnya, Suminten inilah yang paling mencinta dirinya yang sudah tua. Hanya Suminten inilah yang mempunyai rasa cinta kasih yang "murni" terhadap dirinya. Selain mempermainkan sang prabu seperti pandainya ia mempermainkan rambutnya, Suminten juga mengambil hati dan bermuka-muka kepada permaisuri sehingga sang ratu ini merasa lebih sayang kepadanya daripada kepada para selir lainnya. Di depan sang ratu, Suminten bersikap amat merendah diri, amat tekun merawat dan melayani segala keperluan sang ratu, pandai menghibur dengan kata-kata manis, memuji-muji dan menjilat-jilat. Sebentar saja naiklah derajat Suminten, karena ia dikasihi sang prabu dan disayang sang ratu, maka kedudukan atau derajatnya boleh dibilang meningkat tinggi di atas derajat semua selir sri baginda.

Kalau diingat betapa dalam waktu beberapa bulan saja ia telah dapat menanjak dari seorang abdi dalem pangeran menjadi selir terkasih sang prabu, sesungguhnya kenaikan derajat ini sudah hal yang luar biasa sekali, apalagi kalau diingat bahwa Suminten hanyalah seorang yang berasal dari desa. Namun, bagi Suminten hal ini masih belum memuaskan hatinya, masih jauh daripada memuaskan. Ia melihat ada hal-hal yang masih menjadi rintangan baginya untuk mencapai anak tangga tertinggi. Hal pertama adalah sang ratu atau permaisuri sendiri. Betapapun juga tinggi kedudukannya, ia hanya seorang selir termuda, tentu tidak akan dapat mengalahkan pengaruh sang ratu, maka sang ratu merupakan sebuah perintang baginya. Akan tetapi, ia tidak begitu memusingkan hal ini karena sang ratu harus dianggap rintangan terakhir.

<<< Bagian 072                                                                                    Bagian 074 >>>

No comments:

Post a Comment