Tejolaksono terkejut, girang
dan juga bersyukur sekali karena anugerah ini amatlah besar baginya. Semenjak
saat itu ia disebut Patih Tejolaksono dan mendapat sebuah istana di kepatihan
Panjalu. Setelah menghaturkan terima kasih dan mendapat perkenan sang prabu,
bergegas Tejolaksono pulang ke pesanggrahan menemui isterinya. Ayu Candra
menyambut suaminya dengan tangis dan tawa saking gembira dan bahagianya. Tidak
saja suaminya berhasil mengusir musuh negara dan membalas dendam atas
kehancuran Selopenangkep dan kematian kedua orang bibi mereka, akan tetapi
terutama sekali karena suaminya dapat pulang dalam keadaan selamat, mengingat
akan beratnya tugas yang dipikulnya dan saktinya lawan-lawan yang dihadapinya.
"Nimas, sungguh terjadi
hal yang sama sekali tak pernah kuduga ...., di puncak Gunung Merak aku bertemu
dengan Bagus seta!"
Terbelalak mata Ayu Candra
Memandang suaminya, berseri-seri penuh kebahaglaan dan dua titik air mata
bahagia meloncat keluar ke atas pipinya.
"A ...anak.... kita ...
? Bagaimana dia? Kenapa tidak ikut pulang .....?”
Pertanyaan itu penuh harap
dan dengan tenang Tejolaksono lalu menceritakan pengalamannya di puncak
Pegunungan Merak, di mana hampir saja ia tewas kalau saja tidak ditolong oleh
kakek sakti yang bernama Bhagawan Jitendrya, juga Bhagawan Sirnasarisa atau
oleh sang prabu disebut Bhagawan Ekadenta. Ia ceritakan tentang keadaan Bagus
Seta yang sehat dan betapa putera mereka itu telah menjadi seorang pemuda yang
gagah dan tampan.
"Aahhh ..., mengapa dia
tidak diajak pulang? Bagaimana dia harus dipisahkan dari aku sampai lima tahun
lagi?" Ibu yang sudah amat rindu kepada puteranya itu mengeluh dan
mulailah Ayu Candra menangis. Tejolaksono mengeluarkan bunga cempaka putih dari
saku dalam bajunya. Ia makin kagum menyaksikan betapa bunga itu tidak layu.
Tahulah ia bahwa puteranya telah memiliki kesaktian yang mujijat, maka
cepat-cepat ia menyerahkan bunga itu kepada isterinya sambil berkata,
"Nimas, kaulihat ini.
Puteramu itu menitipkan bunga ini kepadaku dengan pesan agar diberikan kepada
ibunya ..."
"Aduh, anakku
.....!" Ayu Candra terbelalak memandang dan menerkam, lalu merampas bunga
itu dari tangan suaminya dengan penuh gairah, lalu sambil tersedu-sedu ia
menciumi bunga itu, mendekapnya di dada.
"Aduh, Bagus Seta
....angger ...anakku tercinta ... kau masih ingat kepada ibumu“
Tejolaksono menahan
perasaannya agar tidak sampai menitikkan air mata karena terharu.
"Nimas, dia sama sekali
tidak pernah melupakan ayah bundanya. Akan tetapi Bagus Seta berjiwa ksatria
utama, mengesampingkan kesenangan pribadi untuk menggembleng diri agar kelak
dapat berdharma bhakti kepada sesama manusia."
Ayu Candra hanya sebentar
diamuk gelombang perasaan rindu dan terharu, .kini ia sudah tenang, memegangi
bunga cempaka putih dengan bengong seperti orang melamun, kemudian ia
mengangguk-angguk perlahan.
"Benar sekali, Kakanda,
memang putera kita harus berjiwa ksatria. Biarlah kurelakan dia lima tahun
lagi, biarlah kita sebagai orang tuanya berprihatin agar dia menjadi seorang
manusia utama, seperti ramandanya."
Tejolaksono makin terharu,
memeluk dan mengecup ubun-ubun isterinya yang terkasih.
"Engkau seorang ibu
yang bijaksana, seorang isteri yang hebat ....! Dan Bagus Seta ...putera kita
yang mengagumkan!” Memang ia kagum sekali karena bunga cempaka putih itu
ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa sekali, yang dalam waktu sebentar
telah dapat mengobati kerinduan hati Ayu Candra.
Mulailah Tejolaksono
melaksanakan tugasnya yang baru, sebagai patih muda di Kerajaan Panjalu. Dengan
amat tekunnya menggembleng barisan Panjalu melalui para senopati dan semenjak
dia menjadi patih muda yang berkuasa di bagian pertahanan negara, maka keadaan
menjadi aman tenteram, pengaruh Kerajaan Panjalu makin besar, tidak ada lagi
raja-raja muda yang berani menentang dan melakukan penyerangan. Akan tetapi
benar-benarkah Sriwijaya dan Cola menghentikan usaha mereka untuk menanam
pengaruh di Panjalu? Benar-benarkah mereka itu mundur teratur dan tidak berani
lagi melakukan kekacauan? Sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Tepat seperti
yang dikatakan oleh sang prabu di Panjalu agar mereka semua mempertebal
kewaspadaan, karena sesungguhnya, Kerajaan Panjalu, dan terutama sekali
Jenggala yang tidak lagi diganggu kerusuhan-kerusuhan, belum terbebas daripada
bahaya yang mengancam. Secara halus Kerajaan Sriwijaya masih mencoba untuk
memperlebar pengaruhnya sampai di kedua kerajaan ini melalui Agama Buddha yang
disebarluaskan, dipimpin oleh Biku Janapati yang bijaksana. Karena sang biku
menggunakan cara yang halus, tidak memakai kekerasan, maka usahanya ini lebih
berhasil. Namun yang menjadi ancaman bahaya besar adalah usaha yang dijalankan
oleh Wasi Bagaspati. Sang wasi yang merasa penasaran akan gagalnya usahanya,
kini menyebar kaki tangannya, terutama sekali di Jenggala, dengan secara cerdik
dan halus ia menyuruh mereka menyelundup ke dalam kerajaan, menggunakan
pengaruh harta benda dan ilmu hitam sehingga banyak di antara anak buahnya yang
berhasil menduduki tempat-tempat terpenting dalam pemerintahan. Bahkan
kuku-kuku cengkeraman yang tidak tampak oleh mata ini menyelundup sampai ke
dalam istana Kerajaan Jenggala! Memang hebat sekali usaha Sang Wasi Bagaspati
yang mengadakan penyelundupan-penyelundupan rahasia,
terutama sekali di istana
Kerajaan Jenggala. Banyak di antara anak buahnya yang sakti, laki-laki dan
terutama wanita-wanita cantik, dijadikan senjata untuk usaha ini. Pada waktu
itu memang harus diakui bahwa Kerajaan Jenggala amat lemah kedudukannya.
Kerajaan Jenggala masih dapat berdiri tegak dan tidak ada musuh berani
mengganggu hanya karena mereka itu sungkan dan takut kepada Kerajaan Panjalu.
Mereka maklum bahwa memusuhi Jenggala berarti akan berhadapan dengan Panjalu
pula, karena sebagai saudara, Panjalu tentu akan membela Jenggala.
Sebetulnya, sebagai putera
mendiang Sang Prabu Airlangga yang arif bijaksana, raja di Jenggala bukanlah
seorang yang jahat atau lalim. Sang prabu di Jenggala cukup baik dalam arti
kata sebagai raja, cukup mencinta rakyatnya dan bukan seorang raja yang
menindas rakyat. Akan tetapi, sang prabu mempunyai sebuah kelemahan sebagai
seorang pria, yaitu bahwa sang prabu mudah tergoda oleh wanita cantik. Kalau
para wanita yang banyak jumlahnya itu menggoda sang prabu hanya dengan pamrih
agar menjadi selir dan mendapat kedudukan mulia, hal itu tidak mengapa. Akan
tetapi, akhir-akhir ini sang prabu di Jenggala amat berubah sikapnya setelah
dia mendapatkan seorang selir baru. Celakanya, berbeda dengan selir-selir
lainnya yang puluhan orang banyaknya, selir baru ini tidak hanya terbatas pada
kemuliaan pamrihnya, melainkan lebih tinggi lagi. Selir baru ini ingin
mendapatkan kekuasaan tertinggi sesudah raja, dan untuk mencapai hal ini, ia
mempergunakan segala kecantikan wajahnya, segala kesegaran tubuh mudanya,
segala bujuk rayu yang menggairahkan sehingga hati sang prabu di Jenggala yang
masih muda biarpun tubuhnya sudah tua itu menjadi jatuh dan tunduk.
Siapakah selir baru yang
muda belia, segar menggairahkan ini? Dia seorang wanita masih muda belia, tujuh
belas atau delapan belas tahun usianya, bagaikan setangkai bunga yang sedang
mekar semerbak mengharum, bagaikan buah mangga sedang ranum matang hati, manis
segar dan renyahl Wajahnya manis sekali, terutama kerling matanya yang tajam
melebihi mata pedang, kerling yang menyambar-nyambar membetot hati membuat
sukma pria melayang-layang karena dalam kerling ini terkandung tantangan dan
ajakan kepada pria untuk bertamasya ke dalam surga kenikmatan. Selain sepasang
mata indah yang memiliki kerling "maut" ini, juga mulutnya membuat
setiap mata laki-laki memandang bagaikan tergantung dan lekat pada sepasang
bibir itu! Bibir itu merah segar, berkulit tipis seperti kulit kentang, seperti
buah tomat masak, menggemaskan hati, membuat orang ingin sekali menggigitnya,
menantang dan selain dapat mencipta senyum memikat dan memabukkan, juga bibir
yang basah dapat bergerak-gerak menggairahkan sehingga selalu tampak
memberahikan ketika dicemberutkan, atau dijebikan, atau bergerak-gerak seperti
menggigil. Deretan gigi putih seperti pagar mutiara melindungi rongga mulut
yang merah penuh tantangan. Wajah yang manis sekali, yang bagaikan besi
semberani menarik pandang mata setiap orang pria yang berjumpa dengannya.
Rambutnya hitam panjang dan agak berombak, membentuk sinom halus di dahi dan
anak rambut melengkung di depan telinga, kalau dibiarkan terurai, panjangnya
sampai ke bawah pinggul. Tubuhnya tingi ramping, padat penuh dengan
lekuk-lengkung sempurna dalam pandangan setiap orang pria, dan ia dapat
menggerak-gerakkan setiap bagian tubuhnya dengan gerakan yang luwes dan
memikat. Kulitnya yang agak hitam tidak menjadi cacat, bahkan menambah
kemanisannya. Siapakah dia? Kita sudah mengenalnya. Namanya Suminten! Di bagian
depan cerita ini telah dituturkan bahwa Suminten adalah abdi dalem (pelayan)
mendiang Pangeran Panjirawit dan Endang Patibroto. Suminten ketika menjadi abdi
dalem di istana pangeran itu, seringkali mengintai dan menyaksikan adegan mesra
antara Pangeran Panjirawit dan isterinya. Suami isteri itu selalu
berkasih-kasihan dan akhirnya terbangunlah berahi dalam tubuh Suminten dan
pelayan ini jatuh cinta kepada sang pangeran! Cinta berahi yang ditahan-tahan
dan akhirnya tercetus menjadi cemburu, iri hati, dan kebencian terhadap Endang
Patibroto. Ia mengharapkan untuk menjadi selir Pangeran Panjirawit yang tampan,
akan tetapi semua pengharapan dan usahanya sia-sia belaka karena sang pangeran
terlalu mencinta isterinya, tidak mau mempunyai selir. Telah diceritakan betapa
kebencian ini membuat Suminten diam-diam lari kepada Ki Patih Brotomenggala,
menceritakan perbuatan Endang Patibroto yang melukal ayam dengan ilmu hitam
sehingga makin besarlah kecurigaan dan dugaan ki patih bahwa Endang Patibroto
agaknya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para ponggawa dengan ilmu
hitam.
Suminten dihadapkan kepada
sang prabu di Jenggala, kemudian oleh sang prabu dijadikan abdi dalem istana.
Semenjak saat itulah tampak Suminten yang sesungguhnya, yaitu seorang dara muda
belia yang mempunyai pamrih besar sekali, tidak akan puas kalau belum mencapai
kedudukan setinggi-tingginya. Terhadap Pangeran Panjirawit ia memang menaruh
kasih sayang yang sesungguhnya, yang murni dan andaikata terlaksana keinginan
hatinya menjadi selir Pangeran Panjirawit, agaknya ia akan merasa puas dan
bahagia, tidak akan mencita-citakan hal lain lagi. Akan tetapi, ia mendengar
akan keadaan Pangeran Panjirawit, akan kesengsaraan dan akhirnya akan
kematiannya. Hatinya hancur dan ia bertekad untuk menyalurkan semua cinta
bercampur duka ini menjadi cita-cita untuk menjadi manusia paling berkuasa di
Jenggala agar ia dapat membalas dendam atas kematian Pangeran Panjirawit, pria
yang pernah cinta sepenuh hatinya. Gadis ini selain cantik manis, juga amat
cerdik. Setelah menjadi abdi dalem di Istana Kerajaan Jenggala, cepat sekali ia
dapat mempelajari keadaan dan dapat pula mengambil hati para selir, bahkan
sampai permaisuri sendiri menaruh kepercayaan kepadanya dan memberinya tugas
melayani sang prabu. Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Suminten.
Dengan daya tariknya yang luar biasa, ditambah kelemahan sang prabu terhadap
wanita muda, dalam waktu beberapa hari saja ia berhasil menjatuhkan hati sang
prabu yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun itu! Akhirnya, dengan resmi
Suminten diangkat menjadi selir termuda Sang Prabu Jenggala. Semenjak ia
diangkat menjadi selir, mulailah Suminten menggunakan kecerdikannya memasang
jerat, merayu dan mengambil hati para selir lain untuk mencapai cita-cita
hatinya. Makin pandai ia merayu sang prabu, menggoda dan melakukan segala macam
akal wanita sehingga sang prabu menjadi makin mabuk dan cinta kepadanya. Sang
prabu menganggap bahwa di antara semua selirnya, Suminten inilah yang paling
mencinta dirinya yang sudah tua. Hanya Suminten inilah yang mempunyai rasa
cinta kasih yang "murni" terhadap dirinya. Selain mempermainkan sang
prabu seperti pandainya ia mempermainkan rambutnya, Suminten juga mengambil
hati dan bermuka-muka kepada permaisuri sehingga sang ratu ini merasa lebih
sayang kepadanya daripada kepada para selir lainnya. Di depan sang ratu, Suminten
bersikap amat merendah diri, amat tekun merawat dan melayani segala keperluan
sang ratu, pandai menghibur dengan kata-kata manis, memuji-muji dan
menjilat-jilat. Sebentar saja naiklah derajat Suminten, karena ia dikasihi sang
prabu dan disayang sang ratu, maka kedudukan atau derajatnya boleh dibilang
meningkat tinggi di atas derajat semua selir sri baginda.
Kalau diingat
betapa dalam waktu beberapa bulan saja ia telah dapat menanjak dari seorang
abdi dalem pangeran menjadi selir terkasih sang prabu, sesungguhnya kenaikan
derajat ini sudah hal yang luar biasa sekali, apalagi kalau diingat bahwa
Suminten hanyalah seorang yang berasal dari desa. Namun, bagi Suminten hal ini
masih belum memuaskan hatinya, masih jauh daripada memuaskan. Ia melihat ada
hal-hal yang masih menjadi rintangan baginya untuk mencapai anak tangga
tertinggi. Hal pertama adalah sang ratu atau permaisuri sendiri. Betapapun juga
tinggi kedudukannya, ia hanya seorang selir termuda, tentu tidak akan dapat
mengalahkan pengaruh sang ratu, maka sang ratu merupakan sebuah perintang
baginya. Akan tetapi, ia tidak begitu memusingkan hal ini karena sang ratu
harus dianggap rintangan terakhir.
No comments:
Post a Comment