Perawan Lembah Wilis; Bagian 072


Tiba-tiba angin besar datang bertiup ketika pendeta ini mengangkat senjata itu ke atas kepalanya. Ia kelihatan menyeramkan sekali! Mukanya yang selalu merah itu kini seolah-olah berubah menjadi bara api yang mengeluarkan asap yang menyelubungi mukanya, namun masih ditembusi sinar matanya yang seperti kilat menyambar. Ketika angin bertiup, rambutnya yang panjang putih itu melambai berkibar-kibar seperti bendera. Angin makin besar dan tiba-tiba langit tertutup mendung, disusul geledek menyambar-nyambar diiringi kilat. Para prajurit makin ketakutan dan kini semua orang, termasuk para perwira, bertekuk lutut dan menyembunyikan muka di balik kedua tangan, penuh ketakutan dan kengerian. Dunia seolah-olah hendak kiamat, bumi bergetar dan pohon- pohon besar seperti akan tumbang.
Kembali Wasi Bagaspati mengeluarkan pekik dahsyat. Kilat dan geledek makin hebat mengamuk dan turunlah air hujan seperti dituang dari langit, air hujan yang besar-besar dan berjatuhan menimpa kulit menimbulkan rasa nyeri. Makin ributlah para perajurit kedua pihak.
"Sadhu-sadhu-sadhu ...., kembali kau tak dapat menguasai nafsu kemarahanmu, saudaraku Wasi Bagaspati... !" terdengar suara Biku Janapati yang halus akan tetapi mengatasi suara ribut dan ledakan-ledakan petir. Anehnya, tidak ada air hujan yang menimpa tubuh pendeta Buddha ini. Tubuhnya seakan-akan terlindung sebuah kurungan yang tak tampak sehingga air hujan yang menimpa dari atas menyeleweng semua ke sekeliling tubuhnya! Hal ini membuktikan pendapat Ki Tunggaljiwa dahulu kepada Tejolaksono bahwa tingkat ilmu kesaktian Sang Biku Janapati masih lebih tinggi daripada Sang Wasi Bagaspati. Akan tetapi yang lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa puncak di mana kakek aneh bersama Bagus Seta dan Tejolaksono berada, sama sekali tidak terganggu oleh keadaan yang menyeramkan ini. Jangankan hujan dan kilat, bahkan anginpun yang lewat hanyalah angin gunung sumilir sejuk! Awan hitam yang tampaknya hendak menyerang daerah ini, membalik lagi, demikian pun angin dan geledek!
"Wasi Bagaspati!" terdengar suara kakek di balik kabut itu dengan suaranya yang halus namun menembus semua kegaduhan dan terdengar oleh semua orang yang berada di situ.
"Kekuasaan dan kesaktian yang didasari oleh sifat tidak benar, tidak adil, dan sewenang-wenang, hanya akan meracuni diri pribadi!" Tangan kiri kakek itu terangkat ke atas dan .... semua keadaan yang menakutkan itupun lenyaplah. Keadaan menjadi terang kembali, tidak ada angin, tidak ada awan, tidak ada hujan maupun kilat. Akan tetapi bekas-bekas amukannya masih tampak, pakaian para prajurit basah semua, pohon-pohon tumbang.
"Pertapa keparat! Berani engkau menghina murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa ... ?" Wasi Bagaspati berteriak-teriak marah dan dilontarkannyalah senjata cakra di tangannya itu ke udara. Senjata itu mengaung dan meluncur cepat bagaikan bernyawa, menuju ke puncak depan. Tampak oleh semua prajurit betapa senjata yang kini merupakan cahaya merah itu melayang-layang dan turun hendak menerjang tubuh si kakek aneh di seberang puncak. Akan tetapi, senjata itu hanya melayang-layang dan mengitari tubuh sang pertapa, seakan-akan tidak kuasa menembus cahaya berembun, kemudian terbang kembali menuju Wasi Bagaspati yang menerima pusakanya sambil membanting-banting kaki.
"Sadhu-sadhu-sadhu....., dia amat sakti mandraguna, senjata dewatapun tidak akan mempan. Saudaraku, tiada gunanya melawan. Seorang bijaksana dapat menyadari keadaan sebelum terlambat. Lebih baik kita mundur sebelum hancur. Sang Sakti Jitendrya bukanlah lawan kita."

Setelah berkata demikian, Biku Janapati lalu melangkah turun dari puncak itu tanpa menoleh lagi, pergi secara terburu-buru. Melihat betapa temannya yang dapat ia andalkan telah pergi, hati Wasi Bagaspati mulai menjadi gentar. Ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya, disalurkan ke dalam sinar matanya dan dengan kekuatan gaib ini ia memandang ke puncak depan dan berhasil menembus kabut yang menyelimuti wajah lawan. Begitu ia dapat memandang wajah kakek di depan itu, mukanya menjadi pucat dan ia segera membuang muka, lalu melambaikan tangannya memberi isyarat kepada semua anak buahnya dan hanya satu kata-kata yang keluar dari mulutnya, namun cukup jelas dan lantang,
"Mundur ....”
Bagaikan rombongan semut ditiup, bergeraklah semua prajurit anak buahnya, dipimpin oleh Cekel Wisangkoro dan kawan-kawannya yang juga pucat wajahnya, tanpa mengeluarkan suara mereka semua pergi dari situ, seolah-olah takut bahwa sedikit suara akan mendatangkan malapetaka bagi mereka. Tidak sampai terlalu lama, Gunung Merak telah ditinggalkan Wasi Bagaspati dan seluruh pasukan pengikutnya, tinggal para prajurit Panjalu yang masih berlutut sambil memandang ke arah puncak di mana kakek aneh itu masih berdiri tegak. Di sampingnya berdiri Bagus Seta dan di depannya berlutut Tejolaksono. Setelah semua lawan pergi, Bagus Seta kini pun menjatuhkan diri berlutut, menghadapi ayahnya dan terdengar suaranya memanggil,
"Kanjeng rama ....!!”
"Anakku Bagus Seta .....“
Mereka saling pandang dan dari pandang mata ini saja tercurah kasih sayang yang amat besar. Adipati Tejolaksono maklum bahwa puteranya telah menjadi seorang gagah dan sakti, yang tentu saja tidak mau tunduk terhadap perasaan dan nafsu sehingga rasa rindu yang membuatnya ingin sekali memeluk ayahnya telah ditekannya dengan kuat. Tejolaksono sendiri seorang yang sakti mandraguna, ia tidak mau memperlihatkan kelemahan dan keharuan, maka ia hanya memandang wajah puteranya dengan sepasang mata terasa panas karena menahan keluarnya air mata.

Tiba-tiba dari balik kabut yang menyelimuti wajah kakek itu terdengar suara halus,
"Sang adipati, dharma bakti menuntut pengorbanan. Relakan puteramu untuk lima tahun lagi agar kelak berguna bagi tegaknya kebenaran dan keadilan."
Tejolaksono memandang dan ia melihat seperti apa yang disaksikan Wasi Bagaspati tadi, melihat wajah yang cemerlang, sukar ditentukan bentuknya, hanya tampak sebuah wajah seperti bayangan, wajah yang terlalu lembut, terlalu halus, terlalu cemerlang seperti keadaan langit bermandi cahaya matahari pagi, indah dipandang namun tak kuat mata lama-lama memandang, sehingga ia menundukkan muka dan tidak berani mengeluarkan suara. Di sudut hatinya, ia mengakui kebenaran kata-kata yang ditujukan kepadanya itu. Memang tiada dharma bakti dapat terlaksana dengan baik tanpa pengorbanan, tiada kebajikan dapat dilaksanakan tanpa pengorbanan. Namun pengorbanan lahir belaka! Betapapun juga, ia tetap seorang manusia biasa yang ada kelemahannya, seorang ayah yang rindu kepada putera tunggalnya. Biarpun dengan kebijaksanaan ia yakin akan kebenaran pendapat kakek itu, namun perasaan hatinya menjadi trenyuh dan terharu. Haruskah ia berpisah selama lima tahun lagi dengan puteranya yang baru sekarang ia jumpai setelah berpisah lima tahun? Tergetar seluruh tubuh Tejolaksono ketika ia memandang puteranya. Akan ia serahkan keputusannya kepada puteranya sendiri. Seorang ayah berkewajiban membimbing puteranya kalau putera itu masih kecil. Akan tetapi Bagus Seta bukan kanak-kanak lagi, sudah dewasa dan kalau si anak sudah dewasa, si ayah harus menyerahkan kekuasaan kepada si anak sendiri. Dia kini hanya menjadi pengawas, penasehat, dan pelindung agar langkah-langkah anaknya tidak menyeleweng daripada kebenaran.

Kakek itu menggerakkan kedua kakinya, membalikkan tubuh dan melangkah pergi perlahan-lahan, tanpa sepatah kata-pun kepada Tejolaksono dan puteranya. Agaknya kakek ini pun tidak menggunakan paksaan kepada ayah dan anak. Ayah dan anak ini saling pandang dengan sinar mata seolah-olah hendak menembus dada masing-masing, menjenguk hati masing-masing. Lalu Bagus Seta tersenyum, menggerakkan tangan mengambil bunga cempaka putih yang tadi terselip di atas telinganya.
"Kanjeng rama, hamba mohon maaf bahwa sampai sekarang hamba belum juga dapat berdharma bakti kepada rama ibu. Hamba harus memperdalam ilmu selama lima tahun lagi, dan mohon paduka sudi menyerahkan bunga ini kepada kanjeng ibu sebagai pengganti jasmani hamba."
Dengan jari-jari tangan tergetar Tejolaksono menerima kembang cempaka putih dari tangan puteranya, hatinya penuh kekaguman dan kecintaan. Ia dapat meraba dengan perasaan dan kewaspadaannya bahwa puteranya kelak akan menjadi seorang yang luar biasa, bahkan kini sentuhan ujung jari tangan mereka saja sudah mendatangkan getaran hawa yang mendatangkan rasa nyaman, pandang mata yang halus itu begitu penuh wibawa dan pengaruh murni.
"Baik, puteraku ...aku ..aku mengerti"
Hanya demikian Tejolaksono dapat mengeluarkan kata-kata sambil menekan keharuan hatinya. Bagus Seta meninggalkan senyum yang membuat hati ayahnya makin terharu karena pada senyum itu selain Tejolaksono dapat melihat pengertian yang mendalam, juga senyum itu sama benar dengan senyum Ayu Candra! Bagus Seta sudah melangkah pergi mengikuti bayangan gurunya dan biarpun guru dan murid itu melangkah perlahan, namun dalam sekejap mata saja mereka telah turun dari puncak!
Setelah bayangan kedua orang itu lenyap, Tejolaksono menggoyang-goyang kepalanya seperti orang baru bangun dari mimpi. Ia menoleh dan melihat betapa para prajuritnya yang kehilangan musuh itu masih berlutut semua seperti orang-orang yang kehilangan semangat, bengong dan tak tahu harus berbuat apa. Semua yang mereka saksikan tadi adalah terlalu besar, terlalu aneh dan terlalu menyeramkan bagi mereka sehingga mereka hampir tidak dapat mempercayai kedua mata sendiri. Tejolaksono bangkit, memandang cempaka putih dan mencium bunga yang harum ini. Keharuman bunga itu meresap terus sampai di hati dan aneh sekali rasanya, keharuman bunga ini seolah-olah menyiram hatinya dan membuat hatinya kuat, mengusir keharuan dan kekecewaan. Bukan main kagum hati Tejolaksono, kagum dan bangga. Puteranya begini hebat, pikirnya. Dengan penuh rasa sayang ia menyimpan bunga itu ke dalam saku dalam, kemudian ia menuruni puncak. Barulah pasukannya mendapatkan kembali semangat mereka ketika melihat pimpinan mereka berada di antara mereka. Segera mereka memenuhi perintah Tejolaksono, mengurus yang gugur dan merawat yang luka. Kemudian Tejolaksono membawa pasukannya kembali ke Selopenangkep. Dalam perjalan pulang ini saja sudah tampak perubahan besar sekali. Tidak pernah mereka bertemu lawan dan di sepanjang jalan Tejolaksono mendengar dari para penduduk bahwa pengacau-pengacau yang tadinya mengganggu dusun-dusun di sekitar perbatasan daerah Panjalu kini telah pergi semua! Makin ke timur, makin baiklah keadaannya, tidak terjadi gangguan-gangguan lagi. Penduduk yang tidak mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi di puncak Gunung Merak, menganggap bahwa larinya semua musuh ini adalah akibat "pembersihan" yang dilakukan oleh Tejolaksono, maka dimana-mana rakyat menyambut pasukan Tejolaksono dengan penuh syukur dan kegembiraan. Namun, para prajurit dan Tejolaksono sendiri khususnya, mengerti bahwa semua ini adalah jasa kakek sakti luar biasa yang disebut Bhagawan Jitendrya oleh Biku Janapati dan disebut Bhagawan Sirnasarira oleh Wasi Bagaspati. Pengaruh pertapa luar biasa inilah yang membuat dua orang pucuk pimpinan musuh itu menjadi gentar dan memerintahkan penarikan mundur semua anak buah mereka. Tejolaksono menanti sampai sebulan di Selopenangkep. Setelah mendapat kenyataan bahwa semua daerah benar-benar sudah aman, berangkatlah ia membawa sisa pasukannya ke Panjalu, menghadap sang prabu dan membuat laporan selengkapnya, juga ia melaporkan tentang munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati sebagai utusan-utusan Kerajaan Sriwijaya dan Cola dan betapa kedua orang ini telah dapat ditundukkan dan ditaklukkan oleh seorang kakek sakti yang oleh kedua orang itu disebut Bhagawan Jitendrya dan juga Bhagawan Sirnasarira.

"Jagat Dewa Bathara ....!" Sang Prabu Panjalu berseru kaget dan juga tercengang keheranan.
"Tidak bisa keliru lagi, Adipati Tejolaksono! Kakek pertapa sakti itu bukan lain tentulah eyang Bhagawan Ekadenta! Biarpun aku sendiri belum pernah berjumpa dengan beliau, namun pernah dahulu aku mendengar penuturan mendiang Rama Prabu Airlangga yang pernah ditolong oleh eyang Bhagawan Ekadenta ketika rama prabu mengungsi ke Wonogiri dan terancam keselamatannya oleh musuh, yaitu pasukan-pasukan Sriwijaya yang juga dibantu oleh tokoh-tokoh dari Cola. Sungguh luar biasa. Semenjak setengah abad yang lalu, beliau sudah menjadi seorang kakek sakti, dan selama ini tidak pernah terdengar namanya, bahkan ada berita bahwa Eyang Bhagawan Ekadenta telah meninggalkan dunia ini tanpa jejak, muka berikut raganya. Itulah sebabnya maka dijuluki Sirnasarira (lenyap tubuhnya)."
Juga para senopati kagum mendengar ini dan menyatakan suka cita bahwa Panjalu dibantu oleh seorang yang sakti itu, menjadi pertanda bahwa Kerajaan Panjalu masih dilindungi para dewata.
"Betapapun juga, para senopati dan ponggawaku yang setia. Kita tidak boleh mabuk oleh kemenangan, karena betapapun sukarnya merebut kemenangan, menjaganya adalah lebih sukar lagi. Justeru kemenangan yang ajaib ini malah harus menjadi cambuk bagi kita untuk mempertebal kewaspadaan. Oleh karena itu, Tejolaksono, engkau tidak usah kembali ke Selopenangkep, biarlah aku akan mengangkat orang lain untuk mengurus Selopenangkep. Adapun engkau dan isterimu tinggallah di sini, karena engkau kuangkat menjadi patih muda, membantu Kakang Patih Suroyudo dan kuserahi tugas bagian pertahanan. Engkaulah sebagai wakilku sendiri mengatur semua senopati dan seluruh barisan Panjalu!"

<<< Bagian 071                                                                                     Bagian 073 >>>

No comments:

Post a Comment