Tiba-tiba angin besar datang bertiup ketika pendeta ini mengangkat senjata itu ke atas kepalanya. Ia kelihatan menyeramkan sekali! Mukanya yang selalu merah itu kini seolah-olah berubah menjadi bara api yang mengeluarkan asap yang menyelubungi mukanya, namun masih ditembusi sinar matanya yang seperti kilat menyambar. Ketika angin bertiup, rambutnya yang panjang putih itu melambai berkibar-kibar seperti bendera. Angin makin besar dan tiba-tiba langit tertutup mendung, disusul geledek menyambar-nyambar diiringi kilat. Para prajurit makin ketakutan dan kini semua orang, termasuk para perwira, bertekuk lutut dan menyembunyikan muka di balik kedua tangan, penuh ketakutan dan kengerian. Dunia seolah-olah hendak kiamat, bumi bergetar dan pohon- pohon besar seperti akan tumbang.
Kembali Wasi Bagaspati
mengeluarkan pekik dahsyat. Kilat dan geledek makin hebat mengamuk dan turunlah
air hujan seperti dituang dari langit, air hujan yang besar-besar dan
berjatuhan menimpa kulit menimbulkan rasa nyeri. Makin ributlah para perajurit
kedua pihak.
"Sadhu-sadhu-sadhu
...., kembali kau tak dapat menguasai nafsu kemarahanmu, saudaraku Wasi
Bagaspati... !" terdengar suara Biku Janapati yang halus akan tetapi
mengatasi suara ribut dan ledakan-ledakan petir. Anehnya, tidak ada air hujan
yang menimpa tubuh pendeta Buddha ini. Tubuhnya seakan-akan terlindung sebuah
kurungan yang tak tampak sehingga air hujan yang menimpa dari atas menyeleweng
semua ke sekeliling tubuhnya! Hal ini membuktikan pendapat Ki Tunggaljiwa
dahulu kepada Tejolaksono bahwa tingkat ilmu kesaktian Sang Biku Janapati masih
lebih tinggi daripada Sang Wasi Bagaspati. Akan tetapi yang lebih aneh lagi
adalah kenyataan bahwa puncak di mana kakek aneh bersama Bagus Seta dan
Tejolaksono berada, sama sekali tidak terganggu oleh keadaan yang menyeramkan
ini. Jangankan hujan dan kilat, bahkan anginpun yang lewat hanyalah angin
gunung sumilir sejuk! Awan hitam yang tampaknya hendak menyerang daerah ini,
membalik lagi, demikian pun angin dan geledek!
"Wasi Bagaspati!"
terdengar suara kakek di balik kabut itu dengan suaranya yang halus namun
menembus semua kegaduhan dan terdengar oleh semua orang yang berada di situ.
"Kekuasaan dan
kesaktian yang didasari oleh sifat tidak benar, tidak adil, dan sewenang-wenang,
hanya akan meracuni diri pribadi!" Tangan kiri kakek itu terangkat ke atas
dan .... semua keadaan yang menakutkan itupun lenyaplah. Keadaan menjadi terang
kembali, tidak ada angin, tidak ada awan, tidak ada hujan maupun kilat. Akan tetapi
bekas-bekas amukannya masih tampak, pakaian para prajurit basah semua,
pohon-pohon tumbang.
"Pertapa keparat!
Berani engkau menghina murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa ... ?" Wasi
Bagaspati berteriak-teriak marah dan dilontarkannyalah senjata cakra di tangannya
itu ke udara. Senjata itu mengaung dan meluncur cepat bagaikan bernyawa, menuju
ke puncak depan. Tampak oleh semua prajurit betapa senjata yang kini merupakan
cahaya merah itu melayang-layang dan turun hendak menerjang tubuh si kakek aneh
di seberang puncak. Akan tetapi, senjata itu hanya melayang-layang dan
mengitari tubuh sang pertapa, seakan-akan tidak kuasa menembus cahaya berembun,
kemudian terbang kembali menuju Wasi Bagaspati yang menerima pusakanya sambil
membanting-banting kaki.
"Sadhu-sadhu-sadhu.....,
dia amat sakti mandraguna, senjata dewatapun tidak akan mempan. Saudaraku,
tiada gunanya melawan. Seorang bijaksana dapat menyadari keadaan sebelum
terlambat. Lebih baik kita mundur sebelum hancur. Sang Sakti Jitendrya bukanlah
lawan kita."
Setelah berkata demikian,
Biku Janapati lalu melangkah turun dari puncak itu tanpa menoleh lagi, pergi
secara terburu-buru. Melihat betapa temannya yang dapat ia andalkan telah
pergi, hati Wasi Bagaspati mulai menjadi gentar. Ia mengerahkan seluruh tenaga
batinnya, disalurkan ke dalam sinar matanya dan dengan kekuatan gaib ini ia
memandang ke puncak depan dan berhasil menembus kabut yang menyelimuti wajah
lawan. Begitu ia dapat memandang wajah kakek di depan itu, mukanya menjadi
pucat dan ia segera membuang muka, lalu melambaikan tangannya memberi isyarat
kepada semua anak buahnya dan hanya satu kata-kata yang keluar dari mulutnya,
namun cukup jelas dan lantang,
"Mundur ....”
Bagaikan rombongan semut
ditiup, bergeraklah semua prajurit anak buahnya, dipimpin oleh Cekel Wisangkoro
dan kawan-kawannya yang juga pucat wajahnya, tanpa mengeluarkan suara mereka
semua pergi dari situ, seolah-olah takut bahwa sedikit suara akan mendatangkan
malapetaka bagi mereka. Tidak sampai terlalu lama, Gunung Merak telah ditinggalkan
Wasi Bagaspati dan seluruh pasukan pengikutnya, tinggal para prajurit Panjalu
yang masih berlutut sambil memandang ke arah puncak di mana kakek aneh itu
masih berdiri tegak. Di sampingnya berdiri Bagus Seta dan di depannya berlutut
Tejolaksono. Setelah semua lawan pergi, Bagus Seta kini pun menjatuhkan diri
berlutut, menghadapi ayahnya dan terdengar suaranya memanggil,
"Kanjeng rama ....!!”
"Anakku Bagus Seta
.....“
Mereka saling pandang dan
dari pandang mata ini saja tercurah kasih sayang yang amat besar. Adipati
Tejolaksono maklum bahwa puteranya telah menjadi seorang gagah dan sakti, yang
tentu saja tidak mau tunduk terhadap perasaan dan nafsu sehingga rasa rindu
yang membuatnya ingin sekali memeluk ayahnya telah ditekannya dengan kuat.
Tejolaksono sendiri seorang yang sakti mandraguna, ia tidak mau memperlihatkan
kelemahan dan keharuan, maka ia hanya memandang wajah puteranya dengan sepasang
mata terasa panas karena menahan keluarnya air mata.
Tiba-tiba dari balik kabut
yang menyelimuti wajah kakek itu terdengar suara halus,
"Sang adipati, dharma
bakti menuntut pengorbanan. Relakan puteramu untuk lima tahun lagi agar kelak
berguna bagi tegaknya kebenaran dan keadilan."
Tejolaksono memandang dan ia
melihat seperti apa yang disaksikan Wasi Bagaspati tadi, melihat wajah yang
cemerlang, sukar ditentukan bentuknya, hanya tampak sebuah wajah seperti
bayangan, wajah yang terlalu lembut, terlalu halus, terlalu cemerlang seperti
keadaan langit bermandi cahaya matahari pagi, indah dipandang namun tak kuat mata
lama-lama memandang, sehingga ia menundukkan muka dan tidak berani mengeluarkan
suara. Di sudut hatinya, ia mengakui kebenaran kata-kata yang ditujukan
kepadanya itu. Memang tiada dharma bakti dapat terlaksana dengan baik tanpa
pengorbanan, tiada kebajikan dapat dilaksanakan tanpa pengorbanan. Namun
pengorbanan lahir belaka! Betapapun juga, ia tetap seorang manusia biasa yang
ada kelemahannya, seorang ayah yang rindu kepada putera tunggalnya. Biarpun
dengan kebijaksanaan ia yakin akan kebenaran pendapat kakek itu, namun perasaan
hatinya menjadi trenyuh dan terharu. Haruskah ia berpisah selama lima tahun
lagi dengan puteranya yang baru sekarang ia jumpai setelah berpisah lima tahun?
Tergetar seluruh tubuh Tejolaksono ketika ia memandang puteranya. Akan ia serahkan
keputusannya kepada puteranya sendiri. Seorang ayah berkewajiban membimbing
puteranya kalau putera itu masih kecil. Akan tetapi Bagus Seta bukan
kanak-kanak lagi, sudah dewasa dan kalau si anak sudah dewasa, si ayah harus
menyerahkan kekuasaan kepada si anak sendiri. Dia kini hanya menjadi pengawas,
penasehat, dan pelindung agar langkah-langkah anaknya tidak menyeleweng
daripada kebenaran.
Kakek itu menggerakkan kedua
kakinya, membalikkan tubuh dan melangkah pergi perlahan-lahan, tanpa sepatah
kata-pun kepada Tejolaksono dan puteranya. Agaknya kakek ini pun tidak
menggunakan paksaan kepada ayah dan anak. Ayah dan anak ini saling pandang
dengan sinar mata seolah-olah hendak menembus dada masing-masing, menjenguk
hati masing-masing. Lalu Bagus Seta tersenyum, menggerakkan tangan mengambil
bunga cempaka putih yang tadi terselip di atas telinganya.
"Kanjeng rama, hamba
mohon maaf bahwa sampai sekarang hamba belum juga dapat berdharma bakti kepada
rama ibu. Hamba harus memperdalam ilmu selama lima tahun lagi, dan mohon paduka
sudi menyerahkan bunga ini kepada kanjeng ibu sebagai pengganti jasmani
hamba."
Dengan jari-jari tangan
tergetar Tejolaksono menerima kembang cempaka putih dari tangan puteranya,
hatinya penuh kekaguman dan kecintaan. Ia dapat meraba dengan perasaan dan
kewaspadaannya bahwa puteranya kelak akan menjadi seorang yang luar biasa,
bahkan kini sentuhan ujung jari tangan mereka saja sudah mendatangkan getaran
hawa yang mendatangkan rasa nyaman, pandang mata yang halus itu begitu penuh
wibawa dan pengaruh murni.
"Baik, puteraku ...aku
..aku mengerti"
Hanya demikian Tejolaksono
dapat mengeluarkan kata-kata sambil menekan keharuan hatinya. Bagus Seta
meninggalkan senyum yang membuat hati ayahnya makin terharu karena pada senyum
itu selain Tejolaksono dapat melihat pengertian yang mendalam, juga senyum itu
sama benar dengan senyum Ayu Candra! Bagus Seta sudah melangkah pergi mengikuti
bayangan gurunya dan biarpun guru dan murid itu melangkah perlahan, namun dalam
sekejap mata saja mereka telah turun dari puncak!
Setelah bayangan kedua orang
itu lenyap, Tejolaksono menggoyang-goyang kepalanya seperti orang baru bangun
dari mimpi. Ia menoleh dan melihat betapa para prajuritnya yang kehilangan
musuh itu masih berlutut semua seperti orang-orang yang kehilangan semangat,
bengong dan tak tahu harus berbuat apa. Semua yang mereka saksikan tadi adalah
terlalu besar, terlalu aneh dan terlalu menyeramkan bagi mereka sehingga mereka
hampir tidak dapat mempercayai kedua mata sendiri. Tejolaksono bangkit,
memandang cempaka putih dan mencium bunga yang harum ini. Keharuman bunga itu
meresap terus sampai di hati dan aneh sekali rasanya, keharuman bunga ini
seolah-olah menyiram hatinya dan membuat hatinya kuat, mengusir keharuan dan
kekecewaan. Bukan main kagum hati Tejolaksono, kagum dan bangga. Puteranya
begini hebat, pikirnya. Dengan penuh rasa sayang ia menyimpan bunga itu ke
dalam saku dalam, kemudian ia menuruni puncak. Barulah pasukannya mendapatkan
kembali semangat mereka ketika melihat pimpinan mereka berada di antara mereka.
Segera mereka memenuhi perintah Tejolaksono, mengurus yang gugur dan merawat
yang luka. Kemudian Tejolaksono membawa pasukannya kembali ke Selopenangkep.
Dalam perjalan pulang ini saja sudah tampak perubahan besar sekali. Tidak
pernah mereka bertemu lawan dan di sepanjang jalan Tejolaksono mendengar dari
para penduduk bahwa pengacau-pengacau yang tadinya mengganggu dusun-dusun di
sekitar perbatasan daerah Panjalu kini telah pergi semua! Makin ke timur, makin
baiklah keadaannya, tidak terjadi gangguan-gangguan lagi. Penduduk yang tidak
mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi di puncak Gunung Merak, menganggap
bahwa larinya semua musuh ini adalah akibat "pembersihan" yang
dilakukan oleh Tejolaksono, maka dimana-mana rakyat menyambut pasukan
Tejolaksono dengan penuh syukur dan kegembiraan. Namun, para prajurit dan
Tejolaksono sendiri khususnya, mengerti bahwa semua ini adalah jasa kakek sakti
luar biasa yang disebut Bhagawan Jitendrya oleh Biku Janapati dan disebut
Bhagawan Sirnasarira oleh Wasi Bagaspati. Pengaruh pertapa luar biasa inilah
yang membuat dua orang pucuk pimpinan musuh itu menjadi gentar dan
memerintahkan penarikan mundur semua anak buah mereka. Tejolaksono menanti
sampai sebulan di Selopenangkep. Setelah mendapat kenyataan bahwa semua daerah
benar-benar sudah aman, berangkatlah ia membawa sisa pasukannya ke Panjalu,
menghadap sang prabu dan membuat laporan selengkapnya, juga ia melaporkan
tentang munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati sebagai utusan-utusan
Kerajaan Sriwijaya dan Cola dan betapa kedua orang ini telah dapat ditundukkan
dan ditaklukkan oleh seorang kakek sakti yang oleh kedua orang itu disebut
Bhagawan Jitendrya dan juga Bhagawan Sirnasarira.
"Jagat Dewa Bathara
....!" Sang Prabu Panjalu berseru kaget dan juga tercengang keheranan.
"Tidak bisa keliru
lagi, Adipati Tejolaksono! Kakek pertapa sakti itu bukan lain tentulah eyang
Bhagawan Ekadenta! Biarpun aku sendiri belum pernah berjumpa dengan beliau,
namun pernah dahulu aku mendengar penuturan mendiang Rama Prabu Airlangga yang
pernah ditolong oleh eyang Bhagawan Ekadenta ketika rama prabu mengungsi ke
Wonogiri dan terancam keselamatannya oleh musuh, yaitu pasukan-pasukan
Sriwijaya yang juga dibantu oleh tokoh-tokoh dari Cola. Sungguh luar biasa.
Semenjak setengah abad yang lalu, beliau sudah menjadi seorang kakek sakti, dan
selama ini tidak pernah terdengar namanya, bahkan ada berita bahwa Eyang
Bhagawan Ekadenta telah meninggalkan dunia ini tanpa jejak, muka berikut
raganya. Itulah sebabnya maka dijuluki Sirnasarira (lenyap tubuhnya)."
Juga para senopati kagum
mendengar ini dan menyatakan suka cita bahwa Panjalu dibantu oleh seorang yang
sakti itu, menjadi pertanda bahwa Kerajaan Panjalu masih dilindungi para
dewata.
"Betapapun juga, para
senopati dan ponggawaku yang setia. Kita tidak boleh mabuk oleh kemenangan,
karena betapapun sukarnya merebut kemenangan, menjaganya adalah lebih sukar
lagi. Justeru kemenangan yang ajaib ini malah harus menjadi cambuk bagi kita
untuk mempertebal kewaspadaan. Oleh karena itu, Tejolaksono, engkau tidak usah
kembali ke Selopenangkep, biarlah aku akan mengangkat orang lain untuk mengurus
Selopenangkep. Adapun engkau dan isterimu tinggallah di sini, karena engkau
kuangkat menjadi patih muda, membantu Kakang Patih Suroyudo dan kuserahi tugas
bagian pertahanan. Engkaulah sebagai wakilku sendiri mengatur semua senopati
dan seluruh barisan Panjalu!"
No comments:
Post a Comment