"Sadhu-sadhu-sadhu ..”
Terdengar suara yang mengejutkan Tejolaksono, apalagi ketika tampak olehnya
betapa kini di samping Wasi Bagaspati muncul seorang kakek lain, yang berkepala
gundul, bertubuh gendut pendek, memegang tasbih dan tongkat, seorang kakek yang
sudah pernah dilihatnya, yaitu Sang Biku Janapati yang entah bagaimana
tahu-tahu telah muncul di atas puncak sebelah kanan itu! Suaranya perlahan dan
halus namun seolah-olah suara itu berada di dekat telinga Tejolaksono!
"Semoga Sang Triratna
selalu melindungi kita, memberkahi yang benar dan menuntun yang sesat ke jalan
kebenaran! Siapakah gerangan andika, wahai saudara yang sakti mandraguna?
Adakah andika golongan dewa? Kalau dewa, mengapa mencampuri urusan manusia? Kalau
manusia mengapa menggunakan kekuasaan seperti dewa? Ataukah andika hendak
mengandalkan aji kesaktian untuk menyombong dan menganggap bahwa di dunia ini
tidak ada lagi lain manusia yang dapat menandingi andika? Mengakulah andika,
wahai saudara yang berada di puncak depan!" Tejolaksono terbelalak
memandang. Jelas tampak wajah puteranya yang kini telah membayangkan
kedewasaan, tampan dan gagah akan tetapi tampak keterangan dan keagungan,
dengan sinar mata redup namun menyembunyikan sinar tajam, tubuhnya sedang,
sedikitpun tidak membayangkan sesuatu perasaan pada wajah yang muda itu. Di
sampingnya, kakek aneh yang tidak tampak mukanya, masih saja diam tak bergerak,
juga tidak mengeluarkan suara, seolah-olah tidak mendengar atau memperdulikan
teguran dan pertanyaan Biku Janapati yang halus namun penuh teguran itu.
"Hemmm ......babo-babo!
Heh, si tua bangka yang berada di puncak depan!" Wasi Bagaspati berkata
marah, suaranya nyaring sekali, terdengar menggema di seluruh Gunung Merak,
tanda bahwa dalam kemarahannya pendeta ini telah mengerahkan tenaga dalam yang
dahsyat.
"Biarpun kita sudah
sama-sama tua bangka, akan tetapi tidak selayaknya andika menyombongkan
kesaktian di depan kami! Apakah matamu buta telingamu tuli sehingga tidak
mengenal kami berdua dan berani berlancang tangan mencampuri urusan kami?
Benarkah itu sikap seorang pendeta yang sudah bijaksana untuk membela satu
pihak saja dan memilih kasih? Hayo mengaku andika sebelum disempurnakan oleh
kedua tangan Wasi Bagaspati!"
Akan tetapi, kakek aneh itu tetap
diam saja, sama sekali tidak bergerak, juga sama sekali tidak menjawab.
Tejolaksono kini secara tiba-tiba sekali dapat menggerakkan kaki tangannya,
akan tetapi ada getaran sesuatu yang aneh, yang membuat semua api perang yang
membakar semangatnya padam. Ia lalu berjalan perlahan karena khawatir
kalau-kalau membikin marah kakek itu, khawatir pula kalau puteranya itu hanya
bayangan mimpi dan akan lenyap kalau ia bergerak cepat. Ia berjalan perlahan
mendaki puncak di sebelah kiri di mana puteranya dan kakek aneh itu berdiri
seperti arca. Juga para prajurit kedua pihak kini dapat bergerak kembali, akan
tetapi seperti juga Tejolaksono, api perang yang mendorong mereka saling gempur
tadi kini telah padam, mereka itu kini bengong memandang dan memperhatikan kakek
aneh, hendak mendengar dan melihat sikapnya menghadapi, dua orang kakek sakti
dari Sriwijaya dan Cola itu. Cekel Wisangkoro dan tiga orang temannya juga
bangkit berdiri di belakang Wasi Bagaspati, hati mereka gentar dan dengan mata
terbelalak memandang ke puncak depan.
"Inilah akibat daripada
kekerasan yang andika lakukan, saudaraku Wasi Bagaspati," Sang Biku
Janapati menegur temannya setelah menghela napas panjang, seolah-olah dalam
suasana yang diam itu ia mendapat jawaban. Kemudian ia menghadap ke arah puncak
dan merangkap kedua tangan yang dibuka jarinya di depan dada sebagai
penghormatan sambil berkata,
"Wahai sang pertapa
yang sidik paningal dan bijaksana! Kalau saya menyatakan tidak mengenal andika,
seolah-olah buta kedua mata ini. Sebaliknya kalau, saya mengatakan tahu,
seakan-akan saya hendak mendahului andika. Karena kita sudah saling berjumpa
dan jalan kita bersilang, harap andika sudi berwawancara dengan saya, Biku
Janapati dari Kerajaan Sriwijaya."
Kakek di puncak kiri itu
masih tidak bergerak, wajahnya tidak tampak sama sekali karena ada semacam
kabut menyelimuti mukanya, akan tetapi kini terdengar suara halus menembus
keluar dari kabut itu,
"Biku Janapati,
setengah abad lebih yang lalu pernah kita saling berjumpa. Andika masih tetap
bijaksana, sayang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu kencana yang
melibatkan diri andika dengan Kerajaan Sriwijaya!" Semua prajurit kedua
pihak yang tadi bermusuhan, kini tertegun, tidak ada yang bergerak, semua
memandang bergantian ke puncak kanan dan puncak kiri di mana Biku Janapati dan
Wasi Bagaspati mengadakan "percakapan" dengan seorang kakek yang
mukanya terselimut kabut dan yang suaranya begitu halus bergema dan
menggetarkan hati semua pendengarnya. Betapa orang-orang yang berada di kedua
puncak yang berhadapan dapat saling bicara, sungguh hal yang amat mengherankan
dan mengejutkan.
"Sadhu-sadhu-sadhti,.....betapa
mungkin saya dapat melupakan suara ini? Bukankah andika ini Sang Sakti
Jitendrya?" berkata Biku Janapati sambil menggoyang tangan kirinya dan
terdengarlah suara berdencingan nyaring menyakitkan telinga. Semua prajurit
tercengang keheranan melihat betapa seuntai tasbih digerakkan perlahan dapat
mengeluarkan suara seperti itu!
Suara dari dalam kabut
terdengar lagi,
"Terserah kepada andika,
Biku Janapati, hendak menyebut dengan nama apapun boleh. Memang bukan hanya
menjadi kewajibanku seorang, bahkan seluruh manusia di atas bumi ini harus
melatih diri dengan jitendrya (menahan nafsu)!"
"Wahai Sang Sakti
Jitendrya yang arif bijaksana! Andika menyatakan bahwa saya belum terbebas
daripada belenggu kencana yang melibatkan diri saya dengan Kerajaan Sriwijaya!
Sebaliknya, semenjak setengah abad yang lalu, andika selalu berpihak kepada
keturunan Mataram! Bagaimana pula ini? Adakah seorang sakti mandraguna dan arif
bijaksana seperti andika masih juga memiliki sifat menyalahkan orang lain tanpa
menengok cacad sendiri?" Suara di balik kabut itu kini terdengar lagi,
angker dan penuh wibawa, seperti suara seorang guru menasehati dan menegur
muridnya,
"Sang Biku Janapati,
seorang biku tidak hanya hafal akan isi kitab-kitab pelajaran agama, melainkan
terutama sekali mentaati dan mengerjakan semua isi pelajaran itu untuk memberi
contoh dan menuntun para umatnya. Aku sama sekali tidak memihak atau pilih kasih,
tidak membela keturunan Mataram hanya membela yang benar mengingatkan yang
keliru. Andika khilaf dalam memilih sahabat sehingga andika telah menyalahi
makna pelajaran yang berbunyi demikian: 'Hendaknya orang tidak berteman dengan
orang jahat atau tercela, sebaliknya bertemanlah dengan orang yang melakukan
kebajikan dan yang berjiwa luhur. Orang bijaksana tenang menghadapi apapun yang
menimpa dirinya, tidak merengek-rengek menginginkan kesenangan duniawi, tidak
memperlihatkan perubahan, dalam suka atau duka, tidak terikat oleh kebahagiaan
ataupun penderitaan. Namun, andika masih menghambakan diri kepada Sriwijaya
sehingga tidak mungkin andika bebas daripada duniawi!"
Merah wajah Biku Janapati
mendengar ucapan ini. Dia diserang dengan ujar-ujar dari Agama Buddha sendiri!
Dengan suara gemetar karena menahan peluapan perasaan tersinggung, pendeta ini
berkata,
"Wahai Sang Sakti
Jitendrya! Faham kita berselisih karena pandangan kita berbeda, seperti bedanya
kedudukanmu sekarang. Andika berada di puncak itu, sebaliknya saya berada di
puncak ini. Tentu saja pemandangan menjadi berlainan kalau dipandang dari situ
dengan kalau dipandang dari sini. Saya hanya seorang manusia, tidak lepas
daripada kewajiban terhadap negara dan bangsa. Saya menghambakan diri di Sriwijaya
dan agama, demi untuk kebaikan di dunia ini."
Kakek aneh itu tidak
menjawab dan pada saat itu, Tejolaksono sudah tiba di puncak. Ia melihat cahaya
terang menyelimuti wajah kakek itu, membuat matanya menjadi silau dan
serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan bersembah sujut. Jelas kini bahwa
pemuda yang, berdiri di samping kakek itu adalah Bagus Seta yang memandangnya
dengan pandang mata penuh keharuan dan cinta kasih yang terpendam dan
tertindas, sehingga wajah anak itu mengeluarkan(sinar lembut, akan tetapi anak
itupun tidak berkata-kata apa-apa. Sebagai seorang sakti, Tejolaksono maklum
bahwa puteranya tidak berani mengganggu kakek sakti yang sedang berwawancara
secara aneh itu, menghadapi dua orang kakek yang berdiri di puncak jauh di
sebelah depan.
"Hah, Biku Janapati!
Perlu apa banyak berbantah dengan dia? Sekarang akupun teringat siapa dia
itu!" Sang Wasi Bagaspati kini berkata, suaranya penuh ejekan dan
kemarahan.
"Hei, engkau pertapa
sombong yang berada di depan! Bukankah engkau ini yang dahulu disebut Bhagawan
Sirnasarira yang pernah menyelamatkan Airlangga di Wonogiri dari tanganku?
Engkau memang selalu membela keturunan Mataram akan tetapi lidahmu yang tak
bertulang pandai mengelak dan menyangkal, itu bukan perbuatan orang gagah dan
kalau kau memang berkepandaian, mari kita mengadu kesaktian! Sang Hyang Bathara
Shiwa yang maha kuasa melebur seisi jagad akan menghancurkan pula orang
berlagak dewa seperti engkau!" Ucapan yang kasar penuh tantangan dari Wasi
Bagaspati ini dikeluarkan dengan suara yang nyaring sehingga semua orang yang
mendengarnya menjadi gentar dan tegang hatinya. Makin terasalah kesunyian di
puncak itu setelah Sang Bagaspati menghentikan kata-katanya. Sejenak kakek aneh
itu tidak menjawab, sesaat kemudian barulah terdengar lagi suara halus dari
balik kabut itu,
"Hemmmm, Wasi
Bagaspati, seperti tadi Biku Janapati menyebut aku Jaendrya, engkaupun boleh
menyebutku
sesuka hatimu, Sirnasarira
atau apa saja terserah, tiada bedanya. Kalau dahulu aku menyelamatkan
Airlangga, bukan sekali-kali aku menyelamatkan keturunan Mataram atau seorang
yang bernama Airlangga, melainkan menyelamatkan seorang manusia yang sedang
dilanda kesengsaraan dan mencegah manusia lain yang hendak menggunakan kekuatan
dan kelebihan untuk bersikap sewenang-wenang
seperti yang kaulakukan,
Wasi Bagaspati!"
"Heh, Bhagawan
Sirnasasira yang sombong! Engkau memiliki wawasan sendiri, apa kaukira aku
tidak mempunyai pendapat sendiri pula? Engkau tahu aku pemuja Sang Hyang
Bathara Shiwa, dan aku berhak mengabdi kepadaNya. Memanglah menjadi
kekuasaanNya untuk menghancurkan isi jagat. Apakah kau hendak menentang dan
berani melawan kekuasaanNya?"
"Wahai, Wasi Bagaspati,
sungguh menyeleweng wawasanmu! Memang kita sama tahu bahwasanya ada tiga sifat
Yang Maha Kuasa, yaitu mencipta, memelihara, dan menghancurkan. Ketiga sifat
yang saling menyusul, saling bersambung dan saling menghidupkan sehingga
terbentuk lingkaran sempurna. Memang betul bahwa Sang Hyang Bathara Shiwa yang
menguasai sifat terakhir tadi, berhak dan berkuasa menghancurkan. Akan tetapi
betapapun juga, tidak akan melanggar, mendahului atau tertinggal oleh Dharma!
Segala macam kehancuran yang dilaksanakan oleh Sang Hyang Shiwa demi
pelaksanaan tugas adalah selaras dengan Dharma (kebenaran), tak lebih tak
kurang. Adapun Dharma daripada para Dewata merupakan rahasia bagi manusia, Wasi
Bagaspati, karena itulah maka seringkali timbul persangkaan daripada manusia
betapa tidak adilnya kehancuran yang menimpa dirinya. Padahal, semua itu sudah
adil, sudah tepat, sudah semestinya karena berlandaskan Dharma. Adapun untuk
kita manusia, yang tahu akan baik buruk, akan benar salah menurut pertimbangan
dan pendapat serta pengetahuan kita adalah tentu saja menurut pertimbangan ini,
yang baik, yang benar, menjunjung kebajikan. Lupakah engkau akan nasehat dalam
ajaran agamamu yang berbunyi "Prihen temen dharma dhumaranang sarat.
Saraga sang sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya shakti
sang sayana dharma raksaka." (Carilah) sungguh-sungguh kebenaran untuk
mengatur masyarakat. Bagi orang jujur itulah yang diturut, bukan harta bukan
kasih bukan pula jiasa kuat sang budiman karena berpegang kepada Dharma.)
"Huah-ha-ha-ha-ha! Kau
pertapa tua bangka yang sombongi lagakmu seperti hendak memberi wejangan para
dewata di Suralaya! Semenjak muda, puluhan tahun aku memuja Sang Hyang Bathara
Shiwa, apa kaukira aku belum dapat mengenal isi daripada pelajarannya?"
"Wasi Bagaspati!
Mengenal tanpa pengertian tiada gunanya. Mengerti tanpa pelaksanaan juga kosong
melompong. Yang dipuja isinya, bukan kulitnya. Engkau tidak memuja keadilan
Sang Hyang Shiwa, melainkan memuja kekuatannya. Kekuatan yang dipergunakan
bukan dengan landasan kebenaran, sesungguhnya hanyalah kelemahan yang amat
lemah. Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kelebihan untuk berlaku
sewenang-wenang, hanya menimbun racun yang akhirnya akan meracuni dan merusak
diri pribadi. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti! Lupakah engkau
akan hal itu, Sang Wasi Bagaspati?"
"Aaaauuuurrggghhhh
....!!!" Pekik yang keluar dari dalam dada Wasi Bagaspati melalui
kerongkongannya ini hebatnya bukan main. Para prajurit sampai jatuh bertekuk
lutut karena tidak dapat bertahan, mereka berlutut dan menggigil.
"Bhagawan Sirnasarira!
Mari kita mengadu kesaktian! Lihat kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa,
keparat!"
Wasi Bagaspati
menggerakkan tangannya dan tiba-tiba di tangan kanannya sudah memegang sebuah
senjata yang mengeluarkan cahaya gemilang menyilaukan mata. Senjata ini
bentuknya seperti sebuah senjata cakra, bergagang tombak akan tetapi ujungnya
berbentuk lingkaran yang mempunyai banyak mata tombak.
No comments:
Post a Comment