Perawan Lembah Wilis; Bagian 071



"Sadhu-sadhu-sadhu ..” Terdengar suara yang mengejutkan Tejolaksono, apalagi ketika tampak olehnya betapa kini di samping Wasi Bagaspati muncul seorang kakek lain, yang berkepala gundul, bertubuh gendut pendek, memegang tasbih dan tongkat, seorang kakek yang sudah pernah dilihatnya, yaitu Sang Biku Janapati yang entah bagaimana tahu-tahu telah muncul di atas puncak sebelah kanan itu! Suaranya perlahan dan halus namun seolah-olah suara itu berada di dekat telinga Tejolaksono!
"Semoga Sang Triratna selalu melindungi kita, memberkahi yang benar dan menuntun yang sesat ke jalan kebenaran! Siapakah gerangan andika, wahai saudara yang sakti mandraguna? Adakah andika golongan dewa? Kalau dewa, mengapa mencampuri urusan manusia? Kalau manusia mengapa menggunakan kekuasaan seperti dewa? Ataukah andika hendak mengandalkan aji kesaktian untuk menyombong dan menganggap bahwa di dunia ini tidak ada lagi lain manusia yang dapat menandingi andika? Mengakulah andika, wahai saudara yang berada di puncak depan!" Tejolaksono terbelalak memandang. Jelas tampak wajah puteranya yang kini telah membayangkan kedewasaan, tampan dan gagah akan tetapi tampak keterangan dan keagungan, dengan sinar mata redup namun menyembunyikan sinar tajam, tubuhnya sedang, sedikitpun tidak membayangkan sesuatu perasaan pada wajah yang muda itu. Di sampingnya, kakek aneh yang tidak tampak mukanya, masih saja diam tak bergerak, juga tidak mengeluarkan suara, seolah-olah tidak mendengar atau memperdulikan teguran dan pertanyaan Biku Janapati yang halus namun penuh teguran itu.
"Hemmm ......babo-babo! Heh, si tua bangka yang berada di puncak depan!" Wasi Bagaspati berkata marah, suaranya nyaring sekali, terdengar menggema di seluruh Gunung Merak, tanda bahwa dalam kemarahannya pendeta ini telah mengerahkan tenaga dalam yang dahsyat.
"Biarpun kita sudah sama-sama tua bangka, akan tetapi tidak selayaknya andika menyombongkan kesaktian di depan kami! Apakah matamu buta telingamu tuli sehingga tidak mengenal kami berdua dan berani berlancang tangan mencampuri urusan kami? Benarkah itu sikap seorang pendeta yang sudah bijaksana untuk membela satu pihak saja dan memilih kasih? Hayo mengaku andika sebelum disempurnakan oleh kedua tangan Wasi Bagaspati!"
Akan tetapi, kakek aneh itu tetap diam saja, sama sekali tidak bergerak, juga sama sekali tidak menjawab. Tejolaksono kini secara tiba-tiba sekali dapat menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi ada getaran sesuatu yang aneh, yang membuat semua api perang yang membakar semangatnya padam. Ia lalu berjalan perlahan karena khawatir kalau-kalau membikin marah kakek itu, khawatir pula kalau puteranya itu hanya bayangan mimpi dan akan lenyap kalau ia bergerak cepat. Ia berjalan perlahan mendaki puncak di sebelah kiri di mana puteranya dan kakek aneh itu berdiri seperti arca. Juga para prajurit kedua pihak kini dapat bergerak kembali, akan tetapi seperti juga Tejolaksono, api perang yang mendorong mereka saling gempur tadi kini telah padam, mereka itu kini bengong memandang dan memperhatikan kakek aneh, hendak mendengar dan melihat sikapnya menghadapi, dua orang kakek sakti dari Sriwijaya dan Cola itu. Cekel Wisangkoro dan tiga orang temannya juga bangkit berdiri di belakang Wasi Bagaspati, hati mereka gentar dan dengan mata terbelalak memandang ke puncak depan.
"Inilah akibat daripada kekerasan yang andika lakukan, saudaraku Wasi Bagaspati," Sang Biku Janapati menegur temannya setelah menghela napas panjang, seolah-olah dalam suasana yang diam itu ia mendapat jawaban. Kemudian ia menghadap ke arah puncak dan merangkap kedua tangan yang dibuka jarinya di depan dada sebagai penghormatan sambil berkata,
"Wahai sang pertapa yang sidik paningal dan bijaksana! Kalau saya menyatakan tidak mengenal andika, seolah-olah buta kedua mata ini. Sebaliknya kalau, saya mengatakan tahu, seakan-akan saya hendak mendahului andika. Karena kita sudah saling berjumpa dan jalan kita bersilang, harap andika sudi berwawancara dengan saya, Biku Janapati dari Kerajaan Sriwijaya."

Kakek di puncak kiri itu masih tidak bergerak, wajahnya tidak tampak sama sekali karena ada semacam kabut menyelimuti mukanya, akan tetapi kini terdengar suara halus menembus keluar dari kabut itu,
"Biku Janapati, setengah abad lebih yang lalu pernah kita saling berjumpa. Andika masih tetap bijaksana, sayang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu kencana yang melibatkan diri andika dengan Kerajaan Sriwijaya!" Semua prajurit kedua pihak yang tadi bermusuhan, kini tertegun, tidak ada yang bergerak, semua memandang bergantian ke puncak kanan dan puncak kiri di mana Biku Janapati dan Wasi Bagaspati mengadakan "percakapan" dengan seorang kakek yang mukanya terselimut kabut dan yang suaranya begitu halus bergema dan menggetarkan hati semua pendengarnya. Betapa orang-orang yang berada di kedua puncak yang berhadapan dapat saling bicara, sungguh hal yang amat mengherankan dan mengejutkan.
"Sadhu-sadhu-sadhti,.....betapa mungkin saya dapat melupakan suara ini? Bukankah andika ini Sang Sakti Jitendrya?" berkata Biku Janapati sambil menggoyang tangan kirinya dan terdengarlah suara berdencingan nyaring menyakitkan telinga. Semua prajurit tercengang keheranan melihat betapa seuntai tasbih digerakkan perlahan dapat mengeluarkan suara seperti itu!
Suara dari dalam kabut terdengar lagi,
"Terserah kepada andika, Biku Janapati, hendak menyebut dengan nama apapun boleh. Memang bukan hanya menjadi kewajibanku seorang, bahkan seluruh manusia di atas bumi ini harus melatih diri dengan jitendrya (menahan nafsu)!"
"Wahai Sang Sakti Jitendrya yang arif bijaksana! Andika menyatakan bahwa saya belum terbebas daripada belenggu kencana yang melibatkan diri saya dengan Kerajaan Sriwijaya! Sebaliknya, semenjak setengah abad yang lalu, andika selalu berpihak kepada keturunan Mataram! Bagaimana pula ini? Adakah seorang sakti mandraguna dan arif bijaksana seperti andika masih juga memiliki sifat menyalahkan orang lain tanpa menengok cacad sendiri?" Suara di balik kabut itu kini terdengar lagi, angker dan penuh wibawa, seperti suara seorang guru menasehati dan menegur muridnya,
"Sang Biku Janapati, seorang biku tidak hanya hafal akan isi kitab-kitab pelajaran agama, melainkan terutama sekali mentaati dan mengerjakan semua isi pelajaran itu untuk memberi contoh dan menuntun para umatnya. Aku sama sekali tidak memihak atau pilih kasih, tidak membela keturunan Mataram hanya membela yang benar mengingatkan yang keliru. Andika khilaf dalam memilih sahabat sehingga andika telah menyalahi makna pelajaran yang berbunyi demikian: 'Hendaknya orang tidak berteman dengan orang jahat atau tercela, sebaliknya bertemanlah dengan orang yang melakukan kebajikan dan yang berjiwa luhur. Orang bijaksana tenang menghadapi apapun yang menimpa dirinya, tidak merengek-rengek menginginkan kesenangan duniawi, tidak memperlihatkan perubahan, dalam suka atau duka, tidak terikat oleh kebahagiaan ataupun penderitaan. Namun, andika masih menghambakan diri kepada Sriwijaya sehingga tidak mungkin andika bebas daripada duniawi!"
Merah wajah Biku Janapati mendengar ucapan ini. Dia diserang dengan ujar-ujar dari Agama Buddha sendiri! Dengan suara gemetar karena menahan peluapan perasaan tersinggung, pendeta ini berkata,
"Wahai Sang Sakti Jitendrya! Faham kita berselisih karena pandangan kita berbeda, seperti bedanya kedudukanmu sekarang. Andika berada di puncak itu, sebaliknya saya berada di puncak ini. Tentu saja pemandangan menjadi berlainan kalau dipandang dari situ dengan kalau dipandang dari sini. Saya hanya seorang manusia, tidak lepas daripada kewajiban terhadap negara dan bangsa. Saya menghambakan diri di Sriwijaya dan agama, demi untuk kebaikan di dunia ini."

Kakek aneh itu tidak menjawab dan pada saat itu, Tejolaksono sudah tiba di puncak. Ia melihat cahaya terang menyelimuti wajah kakek itu, membuat matanya menjadi silau dan serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan bersembah sujut. Jelas kini bahwa pemuda yang, berdiri di samping kakek itu adalah Bagus Seta yang memandangnya dengan pandang mata penuh keharuan dan cinta kasih yang terpendam dan tertindas, sehingga wajah anak itu mengeluarkan(sinar lembut, akan tetapi anak itupun tidak berkata-kata apa-apa. Sebagai seorang sakti, Tejolaksono maklum bahwa puteranya tidak berani mengganggu kakek sakti yang sedang berwawancara secara aneh itu, menghadapi dua orang kakek yang berdiri di puncak jauh di sebelah depan.
"Hah, Biku Janapati! Perlu apa banyak berbantah dengan dia? Sekarang akupun teringat siapa dia itu!" Sang Wasi Bagaspati kini berkata, suaranya penuh ejekan dan kemarahan.
"Hei, engkau pertapa sombong yang berada di depan! Bukankah engkau ini yang dahulu disebut Bhagawan Sirnasarira yang pernah menyelamatkan Airlangga di Wonogiri dari tanganku? Engkau memang selalu membela keturunan Mataram akan tetapi lidahmu yang tak bertulang pandai mengelak dan menyangkal, itu bukan perbuatan orang gagah dan kalau kau memang berkepandaian, mari kita mengadu kesaktian! Sang Hyang Bathara Shiwa yang maha kuasa melebur seisi jagad akan menghancurkan pula orang berlagak dewa seperti engkau!" Ucapan yang kasar penuh tantangan dari Wasi Bagaspati ini dikeluarkan dengan suara yang nyaring sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi gentar dan tegang hatinya. Makin terasalah kesunyian di puncak itu setelah Sang Bagaspati menghentikan kata-katanya. Sejenak kakek aneh itu tidak menjawab, sesaat kemudian barulah terdengar lagi suara halus dari balik kabut itu,
"Hemmmm, Wasi Bagaspati, seperti tadi Biku Janapati menyebut aku Jaendrya, engkaupun boleh menyebutku
sesuka hatimu, Sirnasarira atau apa saja terserah, tiada bedanya. Kalau dahulu aku menyelamatkan Airlangga, bukan sekali-kali aku menyelamatkan keturunan Mataram atau seorang yang bernama Airlangga, melainkan menyelamatkan seorang manusia yang sedang dilanda kesengsaraan dan mencegah manusia lain yang hendak menggunakan kekuatan dan kelebihan untuk bersikap sewenang-wenang
seperti yang kaulakukan, Wasi Bagaspati!"
"Heh, Bhagawan Sirnasasira yang sombong! Engkau memiliki wawasan sendiri, apa kaukira aku tidak mempunyai pendapat sendiri pula? Engkau tahu aku pemuja Sang Hyang Bathara Shiwa, dan aku berhak mengabdi kepadaNya. Memanglah menjadi kekuasaanNya untuk menghancurkan isi jagat. Apakah kau hendak menentang dan berani melawan kekuasaanNya?"
"Wahai, Wasi Bagaspati, sungguh menyeleweng wawasanmu! Memang kita sama tahu bahwasanya ada tiga sifat Yang Maha Kuasa, yaitu mencipta, memelihara, dan menghancurkan. Ketiga sifat yang saling menyusul, saling bersambung dan saling menghidupkan sehingga terbentuk lingkaran sempurna. Memang betul bahwa Sang Hyang Bathara Shiwa yang menguasai sifat terakhir tadi, berhak dan berkuasa menghancurkan. Akan tetapi betapapun juga, tidak akan melanggar, mendahului atau tertinggal oleh Dharma! Segala macam kehancuran yang dilaksanakan oleh Sang Hyang Shiwa demi pelaksanaan tugas adalah selaras dengan Dharma (kebenaran), tak lebih tak kurang. Adapun Dharma daripada para Dewata merupakan rahasia bagi manusia, Wasi Bagaspati, karena itulah maka seringkali timbul persangkaan daripada manusia betapa tidak adilnya kehancuran yang menimpa dirinya. Padahal, semua itu sudah adil, sudah tepat, sudah semestinya karena berlandaskan Dharma. Adapun untuk kita manusia, yang tahu akan baik buruk, akan benar salah menurut pertimbangan dan pendapat serta pengetahuan kita adalah tentu saja menurut pertimbangan ini, yang baik, yang benar, menjunjung kebajikan. Lupakah engkau akan nasehat dalam ajaran agamamu yang berbunyi "Prihen temen dharma dhumaranang sarat. Saraga sang sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya shakti sang sayana dharma raksaka." (Carilah) sungguh-sungguh kebenaran untuk mengatur masyarakat. Bagi orang jujur itulah yang diturut, bukan harta bukan kasih bukan pula jiasa kuat sang budiman karena berpegang kepada Dharma.)
"Huah-ha-ha-ha-ha! Kau pertapa tua bangka yang sombongi lagakmu seperti hendak memberi wejangan para dewata di Suralaya! Semenjak muda, puluhan tahun aku memuja Sang Hyang Bathara Shiwa, apa kaukira aku belum dapat mengenal isi daripada pelajarannya?"
"Wasi Bagaspati! Mengenal tanpa pengertian tiada gunanya. Mengerti tanpa pelaksanaan juga kosong melompong. Yang dipuja isinya, bukan kulitnya. Engkau tidak memuja keadilan Sang Hyang Shiwa, melainkan memuja kekuatannya. Kekuatan yang dipergunakan bukan dengan landasan kebenaran, sesungguhnya hanyalah kelemahan yang amat lemah. Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kelebihan untuk berlaku sewenang-wenang, hanya menimbun racun yang akhirnya akan meracuni dan merusak diri pribadi. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti! Lupakah engkau akan hal itu, Sang Wasi Bagaspati?"

"Aaaauuuurrggghhhh ....!!!" Pekik yang keluar dari dalam dada Wasi Bagaspati melalui kerongkongannya ini hebatnya bukan main. Para prajurit sampai jatuh bertekuk lutut karena tidak dapat bertahan, mereka berlutut dan menggigil.
"Bhagawan Sirnasarira! Mari kita mengadu kesaktian! Lihat kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa, keparat!"
Wasi Bagaspati menggerakkan tangannya dan tiba-tiba di tangan kanannya sudah memegang sebuah senjata yang mengeluarkan cahaya gemilang menyilaukan mata. Senjata ini bentuknya seperti sebuah senjata cakra, bergagang tombak akan tetapi ujungnya berbentuk lingkaran yang mempunyai banyak mata tombak.

<<< Bagian 070                                                                                    Bagian 072 >>>

No comments:

Post a Comment