Perawan Lembah Wilis; Bagian 070


Ular kobra hitam ini sudah kering dan kerasnya melebihi kayu, seperti baja saja. Darah dan racun ular yang hebat ini sudah meresap ke seluruh bagian tubuh ketika dikeringkan sehingga tongkat itu menjadi tongkat beracun, baik bagian ekornya maupun bagian kepalanya!

Ni Dewi Nilamanik, biarpun kelihatannya hanya seorang wanita yang halus gemulai dan cantik jelita, namun dalam hal kekejian dan kedigdayaan, agaknya tidak berada di sebelah bawah Cekel Wisangkoro! Bahkan ada kelebihannya, yaitu dalam aji meringankan tubuh yang membuat wanita itu dapat bergerak cepat laksana kilat. Sebagai orang yang mengaku titisan Sang Bathari Durga dan menjadi kekasih utama Sang Wasi Bagaspati, tentu saja wanita ini hebat kepandaiannya, dan menerima pula beberapa macam aji kesaktian dari Sang Wasi Bagaspati. Dalam hal ilmu hitam, malah lebih keji daripada Cekel Wisangkoro. Senjata kebutan lalat merah itu kalau sudah dimainkan sebagai senjata, mengerikan sekali. Rambut-rambutnya yang merah dan berbentuk buntut kuda itu tak boleh dipandang rendah karena setiap bulunya saja dapat menusuk jalan darah menembus kulit daging membawa racun yang mematikan. Apalagi kalau sampai kena dihantam! Kepala bisa remuk, dada bisa pecah!
Ki Kolohangkoro mungkin masih kalah seusap oleh Ni Dewi Nilamanik dalam hal ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekejaman ia menang banyak! Kalau Ni Dewi Nilamanik dapat membunuh orang dengan mata meram, Ki Kolohangkoro ini dapat membunuh dengan mata melek dan tertawa-tawa. Sudah beberapa kali, setiap tahun, ia menggigit leher untuk menghisap darah seorang anak kecil, kemudian mengganyang dagingnya, sambil terkekeh-kekeh melihat anak itu menjerit-jerit ketakutan dan kesakitan! Senjatanya merupakan senjata yang hanya dipergunakan oleh tokoh pewayangan Sang Prabu Baladewa, yaitu sebuah senjata nenggala atau tombak pendek, yang meruncing kedua ujungnya, dipegang di tengah-tengah. Nenggala ini bukanlah sembarang senjata, baru beratnya saja tak terangkat oleh empat orang laki-laki dewasa biasa. Demikian pula seperti ketiga kawannya, Sariwuni juga bukan sembarang orang. Wanita yang cantik genit dan cabul ini tadinya adalah seorang pembantu Ni Dewi Nilamanik, seorang penyembah Bathari Durga, akan tetapi karena ia pandai merayu dan mengambil hati, maka ia "terpakai" oleh Sang Wasi Bagaspati, malah menjadi kekasihnya dan menghiburnya sehingga kepada Sariwuni ini diturunkan banyak aji kesaktian, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang amat keji. Ayi Wisakenaka ini adalah sebuah aji yang didorong oleh hawa sakti di dalam tubuh, yang kalau dikerahkan membuat kuku-kuku tangan wanita cantik ini berubah menjadi kuku-kuku beracun, lebih jahat daripada taring ular bandotan. Sekali gores saja cukup untuk menyeret nyawa lawan ke jurang maut. Selain ini, juga permainan pedangnya amat cepat dan kuat.

Sang Adipati Tejolaksono memang harus diakui bahwa pada waktu itu ia merupakan seorang perkasa yang sukar dicari tandingnya. Sebagai murid Sang Sakti Narotama, bahkan pernah pula menerima petunjuk dan gemblengan Sang Prabu Airlangga, dia memiliki aji-aji kesaktian yang amat kuat. Namun, kini menghadapi pengeroyokan empat orang itu, ia benar-benar telah bertemu tanding yang mengharuskan ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua aji kesaktiannya. Pertandingan hebat itu sudah berlangsung hampir dua jam dan keadaan masih seru, bahkan makin lama makin seru dan sengit. Aji-aji dikeluarkan silih berganti, serang- menyerang, kadang-kadang hanya seujung rambut selisihnya daripada sambaran tangan maut. Kedua golok di tangan Tejolaksono sudah rompal-rompal, akan tetapi keadaan lawan juga tampak bekas tangan dan kehebatan sang adipati. Pedang Sariwuni tinggal sepotong, kebutan Ni Dewi Nilamanik terbabat ujungnya, juga nenggala di tangan Ki Kolohangkoro kelihatan rompal-rompal ujungnya. Hanya tongkat ular Cekel Wisangkjoro yang masih utuh, karena memang tubuh ular kering ini memiliki daya tahan yang hebat sekali.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang hebat. Tejolaksono memandang ke bawah dan alangkah kagetnya kĂȘtika ia menyaksikan betapa pasukannya terdesak hebat, banyak yang roboh dan kini sisanya sedang digencet dari segala jurusan oleh pasukan lawan yang menggunakan ilmu hitam. Karena kaget dan cemas inilah maka Tejolaksono kurang kewaspadaannya. Pada saat itu, senjata-senjata lawannya datang menyambar dan biarpun hanya beberapa detik saja tadi perhatiannya terbagi ke arah pasukannya yang tergencet dan terjepit, namun yang beberapa detik ini dipergunakan baik-baik oleh empat lat wannya. Tejolaksono maklum akan datangnya bahaya maut yang mengancam dirinya. Ia cepat mengerahkan hawa sakti dari pusar, mendorongnya keluar melalui kerongkongannya menjadi pekik Dirodo Meto yang dahsyat itu. Biarpun empat orang lawannya merupakan orang-orang sakti yang tidak akan roboh hanya oleh getaran pekik sakti ini, namun setidaknya membuat mereka tergetar dan telah mengurangi kecepatan dan kekuatan serangan mereka yang serentak dan berbahaya itu. Sambil mengeluarkan pekik sakti ini, Tejolaksono mainkan goloknya, yang kiri menyambut bacokan pedang Sariwuni ke arah leher, yang kanan menangkis tusukan nenggala Ki Kolohangkoro ke arah lambungnya dari sebelah kanan. Dengan mengerahkan hawa sakti melalui kedua lengannya ia menggunakan tenaga "melekat" sehingga senjata kedua orang ini seakan- akan melekat pada sepasang goloknya, kemudian pada detik berikutnya ia miringkan tubuh, menarik pedang buntung Sariwuni yang melekat goloknya ke bawah menyambut tongkat ular Cekel Wisangkoro yang menusuk perutnya dan berusaha menarik nenggala Ki Kolohangkoro untuk menangkis kebutan Ni Dewi Nilamanik!

Hebat bukan main gerakan Tejolaksono ini, sekaligus menghadapi serangan empat orang lawan yang merupakan cengkeraman-cengkeraman maut. Terdengar Sariwuni menjerit karena wanita ini tidak kuasa lagi mempertahankan pedangnya yang seolah-olah melekat pada golok lawan dan tidak mau Menurutkan kehendaknya lagi, tanpa dapat ia cegah telah tertarik dan menangkis tongkat ular Cekel Wisangkoro! Terdengar suara keras dan Sariwuni yang menjerit itu terlempar ke belakang, tangannya menggembung seketika karena terkena ujung tongkat ular yang berbisa! Pada saat tertangkis oleh pedang buntung itu, Cekel Wisangkoro sudah berusaha menarik tongkatnya kembali namun terlambat sehingga melukai teman sendiri dan iapun terhuyung ke belakang. Detik berikutnya, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke belakang. Kiranya raksasa ini yang tadi juga kaget ketika nenggalanya melekat pada golok lawan, telah menggunakan seluruh tenaga untuk membetot senjatanya. Terjadi adu tenaga ketika Tejolaksono menarik nenggala itu dengan kekuatan dalam, namun ternyata Ki Kolohangkoro jauh lebih kuat daripada Sariwuni dan Tejolaksono melihat betapa kebutan merah itu menyambar kepalanya. Karena usahanya menangkis kebutan menggunakan nenggala tidak berhasil, terpaksa ia miringkan kepala dan membiarkan ujung kebutan menghantam pundaknya. Ia mengerahkan tenaga, menyalurkan tenaga hantaman kebutan itu ke arah tangan kanan, menambah tenaga pada goloknya sehingga ketika mendorong, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke belakang. Secepat kilat Tejolaksono memutar tubuh, mengayun kakinya dan kini Ni Dewi Nilamanik yang menjerit dan tubuh wanita ini terlempar sampai lima tombak terkena tendangan Tejolaksono! Wajah Tejolaksono pucat sekali. Pundak kirinya terasa panas sekali, membuat lengan kiri seperti lumpuh dan ada rasa gatal-gatal. Ia tahu bahwa hantaman ujung kebutan Ni Dewi Nilamanik telah membuat ia terluka dan keracunan. Maka ia menjadi marah sekali. Ia tahu bahwa kalau empat orang lawannya yang juga hanya terluka itu sempat mengeroyoknya tagi, tentu ia akan celaka. Dia tidak takut mati. Seorang prajurit yang berjuang di medan laga, sama sekali tidak gentar akan kematian. Akan tetapi sebelum mati, dia harus dapat menewaskan sebanyak mungkin lawan, dan demi keselamatan Panjalu, perlu sekali empat orang tokoh pimpinan musuh ini dibinasakan. Sambil mengertak gigi, Tejolaksono menubruk maju dengan sepasang goloknya. Yang terdekat adalah Ni Dewi Nilamanik, juga karena yang melukainya adalah wanita ini, maka orang pertama yang hendak ditewaskan adalah Ni Dewi Nilamanik inilah. Ia mengayun golok, menubruk ke depan dan .... Tejolaksono mengeluarkan seruan kaget karena ia sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya!
"Ha-ha-ha, memang benar-benar keras kepala si Tejolaksono!" Terdengar suara halus penuh ejekan. Tejolaksono menoleh ke kanan dan melihat bahwa yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Wasi Bagatpati. Akan tetapi ia merasa kaget, heran dan kagum karena kakek itu berada jauh di puncak sebelah kanan, amat jauh dari situ. Namun suaranya terdengar seolah-olah kakek itu berada di dekatnya, dan ia tahu pula bahwa kakek sakti itulah yang menggunakan aji kesaktian yang gaib karena kakek itu meluruskan tangan kiri ke arahnya dan ia sama sekali tidak dapat bergerak maju!
"Ramanda wasi! Perkenankanlah saya menewaskan keparat Tejolaksono ini!" terdengar Ki Kolohangkoro berkata, suaranya menggeledek.
"Lakukanlah, Kolohangkoro. Sebelum dia disempurnakan, memang akan sukarlah dicapai hasil dalam usaha kami,” kata Wasi Bagaspati.
Tejolaksono melihat betapa Ki Kolohangkoro tertawa bergelak dan menghampirinya dengan senjata nenggala tangan. Ia berusaha untuk bergerak, namun usahanya sia-sia. Ketika ia mengerahkan seluruh tenaga batin dan hawa sakti di tubuhnya, mencoba meronta, ia malah terjerembab, roboh terguling. Seluruh tubuhnya seperti telah dikuasai dalam sebuah jaring halus yang tidak tampak, yang membuat ia tidak mampu bergerak. Kini ia hanya dapat memandang Ki Kolohangkoro dengan mata terbelalak marah, sedikitpun tidak takut, menanti datangnya tusukan maut dengan senjata nenggala itu, sambil menduga-duga apakah hawa sakti yang ia kerahkan akan dapat menahan hantaman nenggala. Ia maklum bahwa pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati yang membuat ia tidak mampu bergerak ini dan tahu pula bahwa sekali ini ia tidak akan dapat lolos daripada bahaya maut yang mengancam dari tangan banyak lawan yang amat sakti, terutama dari tangan Wasi Bagaspati yang ia tahu jauh lebih sakti daripada dirinya sendiri. Namun merupakan pantangan besar bagi seorang perkasa seperti dia untuk menyerah kalah, maka dalam saat terakhir itupun ia tidak memperlihatkan sedikitpun rasa takut dan menentang datangnya maut dengan sikap tetap gagah perkasa. Dengan mata tidak berkedip, Tejolaksono yang sudah roboh itu memandang berkelebatnya senjata nenggala yang meluncur turun dari atas mengarah tubuhnya.

"Cuiiittt .............. cringgg .............. Aduhh …………..!!” Tejolaksono terbelalak. Jelas tampak olehnya ada sinar
putih menyambar turun dari sebelah kiri atas, sinar yang mengeluarkan suara bercuit nyaring, dan kemudian sinar ini menghantam nenggala yang sedang meluncur turun ke arah tubuhnya, membuat senjata itu terlempar dari tangan Ki Kolohangkoro, terlepas, dan raksasa itu sendiri terjengkang ke belakang, mengaduh-aduh memegangi tangannya. Dan tampak oleh Tejolaksono betapa betapa di atas puncak sebelah kiri itu, cukup jauh dari situ, berdiri dua orang, seorang kakek tua berpakaian putih panjang, namun wajah kakek ini sama sekali tidak jelas karena mukanya seolah-olah tertutup sinar atau uap seperti embun bermandi cahaya matahari pagi. Dan di samping kiri kakek ini berdiri seorang pemuda tanggung, berusia kurang lebih lima belas tahun, berpakaian sederhana dan menggigillah seluruh tubuh Tejolaksono ketika ia melihat wajah pemuda itu. Biarpun sudah berpisah lima tahun, namun mana mungkin ia melupakan wajah yang siang malam selalu terbayang di hatinya ini?
"Bagus Seta ......!!" Ia berseru penuh keheranan dan mencoba untuk bangkit berdiri, namun tidak berhasil karena pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati masih menguasainya.
Melihat keadaan Ki Kolohangkoro, teman-temannya menjadi heran dan juga penasaran dan marah. Musuh besar mereka, Tejolaksono sudah tak berdaya, sudah roboh dan tinggal bunuh saja, bagaimana Ki Kolohangkoro sampai gagal? Serentak Ni Dewi Nilamanik, Cekel Wisangkoro, Sariwuni mencelat maju dan hendak membunuh musuh yang sudah tak berdaya, bahkan Ki Kolohangkoro yang merasa marah sudah bangkit lagi dan hendak mengulangi serangannya dengan tangan kosong. Keempat orang itu maju seperti berlumba, hendak menjadi orang pertama yang menjatuhkan tangan maut. Akan tetapi tiba-tiba keempatnya terpekik dan ...berdiri seperti arca, tak dapat bergerak sama sekali, seperti keadaan Tejolaksono sendiri!
Tejolaksono melihat hal ini semua, dapat menduga bahwa ini tentulah perbuatan kakek yang mukanya tertutup kabut di puncak itu, karena kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas. Keadaan sekeliling menjadi hening sekali, seolah-olah dunia berhenti bergerak. Suara pertempuran yang tadinya amat hiruk-pikuk kini lenyap sama sekali. Tejolaksono belum dapat bangkit, akan tetapi masih dapat menggerakkan leher menoleh. Alangkah heran dan kagetnya ketika melihat para prajurit kedua fihak yang tadinya berperang mati-matian di sebelah bawah, di lereng yang rata, kini semua diam tak bergerak, seakan-akan telah berubah menjadi batu atau arca semua! Peristiwa ini seperti mimpi saja bagi Tejolaksono. Mimpikah dia? Benar-benar Bagus Seta kah yang berada di puncak itu? Ataukah hanya dalam mimpi? Atau barangkali ia benar-benar telah tewas di tangan musuh dan sekarang tidak lagi berada di atas dunia? Akan tetapi suara-suara yang didengarnya kemudian menyatakan kepadanya bahwa dia bukanlah mimpi, bukan pula berada di alam baka.

<<< Bagian 069                                                                                    Bagian 071 >>>

No comments:

Post a Comment