Ular kobra hitam ini sudah kering dan kerasnya melebihi kayu, seperti baja saja. Darah dan racun ular yang hebat ini sudah meresap ke seluruh bagian tubuh ketika dikeringkan sehingga tongkat itu menjadi tongkat beracun, baik bagian ekornya maupun bagian kepalanya!
Ni Dewi Nilamanik, biarpun
kelihatannya hanya seorang wanita yang halus gemulai dan cantik jelita, namun
dalam hal kekejian dan kedigdayaan, agaknya tidak berada di sebelah bawah Cekel
Wisangkoro! Bahkan ada kelebihannya, yaitu dalam aji meringankan tubuh yang
membuat wanita itu dapat bergerak cepat laksana kilat. Sebagai orang yang
mengaku titisan Sang Bathari Durga dan menjadi kekasih utama Sang Wasi
Bagaspati, tentu saja wanita ini hebat kepandaiannya, dan menerima pula
beberapa macam aji kesaktian dari Sang Wasi Bagaspati. Dalam hal ilmu hitam,
malah lebih keji daripada Cekel Wisangkoro. Senjata kebutan lalat merah itu
kalau sudah dimainkan sebagai senjata, mengerikan sekali. Rambut-rambutnya yang
merah dan berbentuk buntut kuda itu tak boleh dipandang rendah karena setiap
bulunya saja dapat menusuk jalan darah menembus kulit daging membawa racun yang
mematikan. Apalagi kalau sampai kena dihantam! Kepala bisa remuk, dada bisa
pecah!
Ki Kolohangkoro mungkin masih
kalah seusap oleh Ni Dewi Nilamanik dalam hal ilmu silat, akan tetapi dalam hal
kekejaman ia menang banyak! Kalau Ni Dewi Nilamanik dapat membunuh orang dengan
mata meram, Ki Kolohangkoro ini dapat membunuh dengan mata melek dan
tertawa-tawa. Sudah beberapa kali, setiap tahun, ia menggigit leher untuk
menghisap darah seorang anak kecil, kemudian mengganyang dagingnya, sambil
terkekeh-kekeh melihat anak itu menjerit-jerit ketakutan dan kesakitan!
Senjatanya merupakan senjata yang hanya dipergunakan oleh tokoh pewayangan Sang
Prabu Baladewa, yaitu sebuah senjata nenggala atau tombak pendek, yang
meruncing kedua ujungnya, dipegang di tengah-tengah. Nenggala ini bukanlah
sembarang senjata, baru beratnya saja tak terangkat oleh empat orang laki-laki
dewasa biasa. Demikian pula seperti ketiga kawannya, Sariwuni juga bukan
sembarang orang. Wanita yang cantik genit dan cabul ini tadinya adalah seorang
pembantu Ni Dewi Nilamanik, seorang penyembah Bathari Durga, akan tetapi karena
ia pandai merayu dan mengambil hati, maka ia "terpakai" oleh Sang
Wasi Bagaspati, malah menjadi kekasihnya dan menghiburnya sehingga kepada
Sariwuni ini diturunkan banyak aji kesaktian, di antaranya adalah Aji
Wisakenaka yang amat keji. Ayi Wisakenaka ini adalah sebuah aji yang didorong
oleh hawa sakti di dalam tubuh, yang kalau dikerahkan membuat kuku-kuku tangan
wanita cantik ini berubah menjadi kuku-kuku beracun, lebih jahat daripada
taring ular bandotan. Sekali gores saja cukup untuk menyeret nyawa lawan ke
jurang maut. Selain ini, juga permainan pedangnya amat cepat dan kuat.
Sang Adipati Tejolaksono
memang harus diakui bahwa pada waktu itu ia merupakan seorang perkasa yang
sukar dicari tandingnya. Sebagai murid Sang Sakti Narotama, bahkan pernah pula
menerima petunjuk dan gemblengan Sang Prabu Airlangga, dia memiliki aji-aji
kesaktian yang amat kuat. Namun, kini menghadapi pengeroyokan empat orang itu,
ia benar-benar telah bertemu tanding yang mengharuskan ia mengerahkan seluruh
tenaga dan mengeluarkan semua aji kesaktiannya. Pertandingan hebat itu sudah
berlangsung hampir dua jam dan keadaan masih seru, bahkan makin lama makin seru
dan sengit. Aji-aji dikeluarkan silih berganti, serang- menyerang,
kadang-kadang hanya seujung rambut selisihnya daripada sambaran tangan maut.
Kedua golok di tangan Tejolaksono sudah rompal-rompal, akan tetapi keadaan
lawan juga tampak bekas tangan dan kehebatan sang adipati. Pedang Sariwuni
tinggal sepotong, kebutan Ni Dewi Nilamanik terbabat ujungnya, juga nenggala di
tangan Ki Kolohangkoro kelihatan rompal-rompal ujungnya. Hanya tongkat ular
Cekel Wisangkjoro yang masih utuh, karena memang tubuh ular kering ini memiliki
daya tahan yang hebat sekali.
Tiba-tiba terdengar
sorak-sorai yang hebat. Tejolaksono memandang ke bawah dan alangkah kagetnya
kĂȘtika ia menyaksikan betapa pasukannya terdesak hebat, banyak yang roboh dan
kini sisanya sedang digencet dari segala jurusan oleh pasukan lawan yang
menggunakan ilmu hitam. Karena kaget dan cemas inilah maka Tejolaksono kurang
kewaspadaannya. Pada saat itu, senjata-senjata lawannya datang menyambar dan
biarpun hanya beberapa detik saja tadi perhatiannya terbagi ke arah pasukannya
yang tergencet dan terjepit, namun yang beberapa detik ini dipergunakan
baik-baik oleh empat lat wannya. Tejolaksono maklum akan datangnya bahaya maut
yang mengancam dirinya. Ia cepat mengerahkan hawa sakti dari pusar,
mendorongnya keluar melalui kerongkongannya menjadi pekik Dirodo Meto yang
dahsyat itu. Biarpun empat orang lawannya merupakan orang-orang sakti yang
tidak akan roboh hanya oleh getaran pekik sakti ini, namun setidaknya membuat
mereka tergetar dan telah mengurangi kecepatan dan kekuatan serangan mereka
yang serentak dan berbahaya itu. Sambil mengeluarkan pekik sakti ini,
Tejolaksono mainkan goloknya, yang kiri menyambut bacokan pedang Sariwuni ke
arah leher, yang kanan menangkis tusukan nenggala Ki Kolohangkoro ke arah
lambungnya dari sebelah kanan. Dengan mengerahkan hawa sakti melalui kedua
lengannya ia menggunakan tenaga "melekat" sehingga senjata kedua
orang ini seakan- akan melekat pada sepasang goloknya, kemudian pada detik
berikutnya ia miringkan tubuh, menarik pedang buntung Sariwuni yang melekat
goloknya ke bawah menyambut tongkat ular Cekel Wisangkoro yang menusuk perutnya
dan berusaha menarik nenggala Ki Kolohangkoro untuk menangkis kebutan Ni Dewi
Nilamanik!
Hebat bukan main gerakan
Tejolaksono ini, sekaligus menghadapi serangan empat orang lawan yang merupakan
cengkeraman-cengkeraman maut. Terdengar Sariwuni menjerit karena wanita ini
tidak kuasa lagi mempertahankan pedangnya yang seolah-olah melekat pada golok
lawan dan tidak mau Menurutkan kehendaknya lagi, tanpa dapat ia cegah telah
tertarik dan menangkis tongkat ular Cekel Wisangkoro! Terdengar suara keras dan
Sariwuni yang menjerit itu terlempar ke belakang, tangannya menggembung
seketika karena terkena ujung tongkat ular yang berbisa! Pada saat tertangkis
oleh pedang buntung itu, Cekel Wisangkoro sudah berusaha menarik tongkatnya
kembali namun terlambat sehingga melukai teman sendiri dan iapun terhuyung ke
belakang. Detik berikutnya, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke belakang. Kiranya
raksasa ini yang tadi juga kaget ketika nenggalanya melekat pada golok lawan,
telah menggunakan seluruh tenaga untuk membetot senjatanya. Terjadi adu tenaga
ketika Tejolaksono menarik nenggala itu dengan kekuatan dalam, namun ternyata
Ki Kolohangkoro jauh lebih kuat daripada Sariwuni dan Tejolaksono melihat
betapa kebutan merah itu menyambar kepalanya. Karena usahanya menangkis kebutan
menggunakan nenggala tidak berhasil, terpaksa ia miringkan kepala dan
membiarkan ujung kebutan menghantam pundaknya. Ia mengerahkan tenaga,
menyalurkan tenaga hantaman kebutan itu ke arah tangan kanan, menambah tenaga
pada goloknya sehingga ketika mendorong, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke
belakang. Secepat kilat Tejolaksono memutar tubuh, mengayun kakinya dan kini Ni
Dewi Nilamanik yang menjerit dan tubuh wanita ini terlempar sampai lima tombak
terkena tendangan Tejolaksono! Wajah Tejolaksono pucat sekali. Pundak kirinya
terasa panas sekali, membuat lengan kiri seperti lumpuh dan ada rasa
gatal-gatal. Ia tahu bahwa hantaman ujung kebutan Ni Dewi Nilamanik telah
membuat ia terluka dan keracunan. Maka ia menjadi marah sekali. Ia tahu bahwa
kalau empat orang lawannya yang juga hanya terluka itu sempat mengeroyoknya
tagi, tentu ia akan celaka. Dia tidak takut mati. Seorang prajurit yang
berjuang di medan laga, sama sekali tidak gentar akan kematian. Akan tetapi
sebelum mati, dia harus dapat menewaskan sebanyak mungkin lawan, dan demi
keselamatan Panjalu, perlu sekali empat orang tokoh pimpinan musuh ini
dibinasakan. Sambil mengertak gigi, Tejolaksono menubruk maju dengan sepasang
goloknya. Yang terdekat adalah Ni Dewi Nilamanik, juga karena yang melukainya
adalah wanita ini, maka orang pertama yang hendak ditewaskan adalah Ni Dewi
Nilamanik inilah. Ia mengayun golok, menubruk ke depan dan .... Tejolaksono
mengeluarkan seruan kaget karena ia sama sekali tidak dapat menggerakkan
tubuhnya!
"Ha-ha-ha, memang
benar-benar keras kepala si Tejolaksono!" Terdengar suara halus penuh
ejekan. Tejolaksono menoleh ke kanan dan melihat bahwa yang mengeluarkan
kata-kata ini adalah Wasi Bagatpati. Akan tetapi ia merasa kaget, heran dan
kagum karena kakek itu berada jauh di puncak sebelah kanan, amat jauh dari
situ. Namun suaranya terdengar seolah-olah kakek itu berada di dekatnya, dan ia
tahu pula bahwa kakek sakti itulah yang menggunakan aji kesaktian yang gaib
karena kakek itu meluruskan tangan kiri ke arahnya dan ia sama sekali tidak
dapat bergerak maju!
"Ramanda wasi! Perkenankanlah
saya menewaskan keparat Tejolaksono ini!" terdengar Ki Kolohangkoro
berkata, suaranya menggeledek.
"Lakukanlah,
Kolohangkoro. Sebelum dia disempurnakan, memang akan sukarlah dicapai hasil
dalam usaha kami,” kata Wasi Bagaspati.
Tejolaksono melihat betapa
Ki Kolohangkoro tertawa bergelak dan menghampirinya dengan senjata nenggala
tangan. Ia berusaha untuk bergerak, namun usahanya sia-sia. Ketika ia
mengerahkan seluruh tenaga batin dan hawa sakti di tubuhnya, mencoba meronta,
ia malah terjerembab, roboh terguling. Seluruh tubuhnya seperti telah dikuasai
dalam sebuah jaring halus yang tidak tampak, yang membuat ia tidak mampu
bergerak. Kini ia hanya dapat memandang Ki Kolohangkoro dengan mata terbelalak marah,
sedikitpun tidak takut, menanti datangnya tusukan maut dengan senjata nenggala
itu, sambil menduga-duga apakah hawa sakti yang ia kerahkan akan dapat menahan
hantaman nenggala. Ia maklum bahwa pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati yang
membuat ia tidak mampu bergerak ini dan tahu pula bahwa sekali ini ia tidak
akan dapat lolos daripada bahaya maut yang mengancam dari tangan banyak lawan
yang amat sakti, terutama dari tangan Wasi Bagaspati yang ia tahu jauh lebih
sakti daripada dirinya sendiri. Namun merupakan pantangan besar bagi seorang
perkasa seperti dia untuk menyerah kalah, maka dalam saat terakhir itupun ia
tidak memperlihatkan sedikitpun rasa takut dan menentang datangnya maut dengan
sikap tetap gagah perkasa. Dengan mata tidak berkedip, Tejolaksono yang sudah
roboh itu memandang berkelebatnya senjata nenggala yang meluncur turun dari
atas mengarah tubuhnya.
"Cuiiittt
.............. cringgg .............. Aduhh …………..!!” Tejolaksono terbelalak.
Jelas tampak olehnya ada sinar
putih menyambar turun dari
sebelah kiri atas, sinar yang mengeluarkan suara bercuit nyaring, dan kemudian
sinar ini menghantam nenggala yang sedang meluncur turun ke arah tubuhnya,
membuat senjata itu terlempar dari tangan Ki Kolohangkoro, terlepas, dan
raksasa itu sendiri terjengkang ke belakang, mengaduh-aduh memegangi tangannya.
Dan tampak oleh Tejolaksono betapa betapa di atas puncak sebelah kiri itu,
cukup jauh dari situ, berdiri dua orang, seorang kakek tua berpakaian putih
panjang, namun wajah kakek ini sama sekali tidak jelas karena mukanya
seolah-olah tertutup sinar atau uap seperti embun bermandi cahaya matahari
pagi. Dan di samping kiri kakek ini berdiri seorang pemuda tanggung, berusia
kurang lebih lima belas tahun, berpakaian sederhana dan menggigillah seluruh
tubuh Tejolaksono ketika ia melihat wajah pemuda itu. Biarpun sudah berpisah
lima tahun, namun mana mungkin ia melupakan wajah yang siang malam selalu
terbayang di hatinya ini?
"Bagus Seta
......!!" Ia berseru penuh keheranan dan mencoba untuk bangkit berdiri,
namun tidak berhasil karena pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati masih
menguasainya.
Melihat keadaan Ki
Kolohangkoro, teman-temannya menjadi heran dan juga penasaran dan marah. Musuh
besar mereka, Tejolaksono sudah tak berdaya, sudah roboh dan tinggal bunuh
saja, bagaimana Ki Kolohangkoro sampai gagal? Serentak Ni Dewi Nilamanik, Cekel
Wisangkoro, Sariwuni mencelat maju dan hendak membunuh musuh yang sudah tak
berdaya, bahkan Ki Kolohangkoro yang merasa marah sudah bangkit lagi dan hendak
mengulangi serangannya dengan tangan kosong. Keempat orang itu maju seperti
berlumba, hendak menjadi orang pertama yang menjatuhkan tangan maut. Akan
tetapi tiba-tiba keempatnya terpekik dan ...berdiri seperti arca, tak dapat
bergerak sama sekali, seperti keadaan Tejolaksono sendiri!
Tejolaksono melihat hal ini
semua, dapat menduga bahwa ini tentulah perbuatan kakek yang mukanya tertutup
kabut di puncak itu, karena kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas. Keadaan
sekeliling menjadi hening sekali, seolah-olah dunia berhenti bergerak. Suara
pertempuran yang tadinya amat hiruk-pikuk kini lenyap sama sekali. Tejolaksono
belum dapat bangkit, akan tetapi masih dapat menggerakkan leher menoleh.
Alangkah heran dan kagetnya ketika melihat para prajurit kedua fihak yang
tadinya berperang mati-matian di sebelah bawah, di lereng yang rata, kini semua
diam tak bergerak, seakan-akan telah berubah menjadi batu atau arca semua!
Peristiwa ini seperti mimpi saja bagi Tejolaksono. Mimpikah dia? Benar-benar
Bagus Seta kah yang berada di puncak itu? Ataukah hanya dalam mimpi? Atau
barangkali ia benar-benar telah tewas di tangan musuh dan sekarang tidak lagi
berada di atas dunia? Akan tetapi suara-suara yang didengarnya kemudian
menyatakan kepadanya bahwa dia bukanlah mimpi, bukan pula berada di alam baka.
No comments:
Post a Comment