Golok kanannya ia pegang dengan tangan kiri, sedangkan kini tangan kanannya ia hantamkan ke arah asap hitam itu dengan aji pukulan Bojro Dahono. Berkali-kali ia memukul dan asap hitam itu terpukul buyar sampai akhirnya lenyap. Menyaksikan pemimpin mereka yang berhasil melenyapkan asap hitam yang mengerikan, para prajurit Panjalu bersorak dan timbul kembali semangat mereka. Perang menjadi makin dahsyat dan sengit.
"Tar-tar-tar...!!"
Tejolaksono yang pada saat
itu berhasil menancapkan sepasang goloknya memasuki perut gendut dua orang
musuh, terkejut dan cepat ia merendahkan diri terus menyelinap melalui bawah
tubuh dua orang musuh yang roboh. Ketika la meloncat bangun, ia melihat betapa
hantaman kebutan merah itu yang tadinya menyambar kepalanya, kini mengenai
kepala dua orang lawan yang telah ia tusuk. Dua buah kepala itu pecah
berantakan dan dua batang tubuh roboh tanpa kepala lagi. Ia bergidik dan
memandang kepada Ni Dewi Nilamanik dengan marah.
"Iblis betina! Kiranya
engkau berada di sini pula. Bersiaplah engkau untuk memasuki neraka
jahanam!" bentak Tejolaksono.
Ni Dewi Nilamanik yang
tadinya terkejut dan kecewa menyaksikan betapa serangannya yang dahsyat tadi
dapat dihindarkan lawan, bahkan mengenai kepala dua orang prajurit anak buah
sendiri, kini tersenyum lebar menindas kemarahannya. Wanita yang berusia empat
puluh tahun ini masih amat cantik, apa-lagi kini ia tersenyum, kecantikannya
dapat memabukkan hati pria. Sepasang matanya menyambar penuh kemesraan,
seolah-olah ia hendak memikat hati Tejolaksono. Pakaiannya yang mewah itu tipis
membayangkan bentuk tubuhnya yang masih padat dan ramping. Sesungguhnya, kalau
ia teringat akan penyerbuan Tejolaksono belum lama ini di Gunung Mentasari,
membunuh hampir semua anak, buahnya dan membasmi sarangnya, hatinya merasa amat
mendendam dan sakit hati kepada Tejolaksono. Akan tetapi pada saat itu, Ni Dewi
Nilamanik sama sekali tidak memperlihatkan kebenciannya, malah kini ia berkata
dengan suara merdu,
"Tejolaksono, harus
kuakui bahwa engkau memang seorang pria yang hebat! Sungguh aku merasa sayang
sekali bahwa di antara kita sampai terdapat permusuhan. Tejolaksono, agaknya
masih belum terlambat kalau engkau suka menerima uluran tanganku. Untuk apakah
mengobarkan permusuhan dan perang, bunuh-membunuh yang tidak ada gunanya?
Bukankah lebih baik saling mencinta daripada saling membenci? Tejolaksono,
kaupandanglah aku. Ni Dewi Nilamanik kalau perlu dapat pula menjadi Dewi Cinta.
Masih kurang cantikkah aku? Pandanglah baik-baik ..“
Kata-kata yang keluar dari
mulut Ni Dewi Nilamanik yang berbibir merah itu bukanlah sembarang kata-kata
melainkan kata-kata yang diterapkan sebagai bagian daripada ilmu guna-guna
sehingga terdengar merayu-rayu dan amat merdu. Tejolaksono yang memandang
wanita itu, merasakan getaran hebat yang menerjangnya, yang menggetarkan
jantung dan yang amat kuat seperti hendak menguasai hati dan pikirannya, yang
menciptakan pandangan indah sehingga wanita itu tampak cantik melebihi dewi
kahyangan sendiri, yang membuat suara itu terdengar merdu, pendeknya getaran
itu menciptakan segala yang serba indah, menyenangkan hati, menghilangkan semua
rasa benci dan marah, membangkitkan nafsu berahi! Tentu saja sebagai ksatria
gemblengan yang sakti mandraguna, dan yang tahu akan seperti ini, Tejolaksono
dapat menguasai hatinya dalam beberapa detik saja. Akan tetapi diam-diam ia
merasa terkejut dan harus ia akui bahwa kekuatan yang terkandung dalam ilmu
semacam aji guna asmara yang dikerahkan wanita ini benar-benar amat mujijat dan
kuat. Jarang kiranya ada pria, betapapun gagahnya, yang akan dapat menahan diri
daripada pengaruh, guna-guna yang hebat ini.
"Ni Dewi Nilamanik,
tidak perlu lagi engkau mengeluarkan aji-ajimu yang kotor dan rendah! Betapapun
cantiknya engkau, tetap saja tampak olehku betapa kotor dan hitam hatimu.
Kecantikanmu hanyalah bungkus indah yang menyembunyikan sesuatu yang busuk dan
kotor!" Senyum manis di bibir Ni Dewi Nilamanik perlahan-lahan berubah
menjadi seringai yang kejam. Mata yang tadi bersinar-sinar mesra dan redup kini
menyala-nyala seperti mengeluarkan api.
"Tar-tar!!"
Pengebut merah yang baru karena pengebut yang lama telah rusak ketika ia
melawan Tejolaksono di Mentasari, kini bergerak di atas kepala Ni Dewi
Nilamanik, mendahului kata-katanya yang terdengar ketus,
"Tejolaksono! Engkau
sudah bosan hidup! Apa engkau kira akan dapat lolos dari tanganku?"
"Tidak perlu
bersombong, iblis betina. Engkaulah yang kini takkan lolos daripada tanganku
untuk menebus dosa-dosamu dengan kematian!"
"Bagus! Hayo kita mencari
tempat yang lapang agar dapat menentukan siapa di antara kita yang akan
mampusI" Sambil berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik berkelebat dan
tubuhnya dengan gerakan yang amat ringan seperti terbang saja sudah berlari
atau setengah melayang mendaki bagian yang lebih tinggi dekat puncak, menjauhi
tempat yang telah menjadi medan perang itu. Tejolaksono memang ingin sekali
merobohkan musuh ini karena ia maklum bahwa robohnya Ni Dewi, Nilamanik akan
mempengaruhi kemenangan pasukannya. Maka ia tidak menjadi gentar dan cepat ia
pun menggunakan Aji Bayu Sakti untuk mengejar lawannya. Setelah tiba di bawah
puncak, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya
bergerak melepaskan jarum-jarum beracun yang berwarna merah pula. Inilah
senjata rahasia yang halus sekali, terbuat daripada besi yang besarnya hanya
serambut panjangnya setengah jari. Namun justru karena kecilnya inilah maka
jarum-jarum, ini amat berbahaya, jika dipakai menyerang, disambitkan dengan
dorongan hawa sakti tidak tampak namun apabila mengenai tubuh lawan akan
menembus masuk kulit daging sehingga sukar untuk dikeluarkan lagi. Lebih
mengerikan lagi karena jarum-jarum ini sebelumnya telah direndam racun yang
dibuat daripada air liur ular bandotan!
Tejolaksono yang sudah
waspada dapat menduga akan datangnya serangan ini, apalagi pandang matanya yang
tajam dapat melihat berkelebatnya benda-benda halus yang menyambar ke arahnya
itu, juga pendengaran telinganya yang terlatih dapat menangkap suara berdesir,
halus dari jarum-jarum. Maka ia cepat memutar goloknya depan tubuh tanpa
menghentikan pengejarannya. Terdengar suara berdencing dan jarum-jarum itu
terpukul runtuh ke kanan kiri. Dengan marah dan penuh semangat Tejolaksono
meloncat ke depan, mengejar lawannya yang kini sudah berdiri menantinya dengan
senyum mengejek dan kebutan merah di tangan. Akan tetapi pada saat itu, muncul
tiga orang yang memiliki gerakan gesit dan mereka ini segera berdiri di empat
penjuru sehingga Tejolaksono terkurung di tengah-tengah. Ketika adipati yang
sakti mandraguna ini memandang, ia segera mengenal mereka dan kemarahannya
tersinar dari pandang matanya yang tajam. Mereka itu bukan lain adalah Cekel
Wisangkoro, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni si wanita cantik genit yang sudah
menggodanya.
"Hemm, bagus sekali!
Memang kalian inilah yang menjadi biang keladi dan sudah lama
kucari-cari!" kata Tejolaksono sambil mengangkat dada dan siap dengan
sepasang goloknya. Ia tahu bahwa empat orang itu bukanlah lawan lemah, dan
maklum pula bahwa ia tentu akan dikeroyok, maka ia bersikap tenang dan tidak
berani memandang rendah, hanya menanti empat lawannya bergerak.
"Heh-heh-heh-heh,
Tejolaksono, kau sombong benar!" kata Cekel Wisangkoro, kakek berusia lima
puluh tahun yang rambutnya terurai penuh uban ini. Karena merasa yakin bahwa
kali ini dia dan teman-temannya akan berhasil membunuh Tejolaksono, maka kakek
ini tertawa-tawa gembira. Seperti biasa rambut kakek yang penuh uban ini
terurai sampai ke pinggang. Jubahnya kuning panjang dan kakinya telanjang.
Mukanya yang merah itu berkulit halus seperti muka kanak-kanak, dan tubuhnya
yang kurus tinggi masih kelihatan kuat. Tongkat hitam berbentuk ular di
tangannya mengkilat seperti hidup, dilintangkan depan dada. Dia ini adalah
murid yang tekun dari Wasi Bagaspati, maka tentu saja memiliki ilmu yang
tinggi.
"Hemm, Cekel
Wisangkoro! Biasa saja seorang musuh menganggap lawannya sombong! Persoalannya
bukan tentang sikap, melainkan karena sepak terjang kalian yang menerjang dan
melanggar batas wilayah Panjalu, yang menyebar kekacauan sehingga kalian ini
bagi kami lebih jahat daripada penyakit menular maka harus dibasmi sampai ke
akar-akarnya!"
"Babo-babo! Sumbarnya
seperti engkau seorang satu- satunya jantan di dunia ini, keparat!" bentak
Ki Kolohangkoro dengan muka merah saking marahnya.
Raksasa ini adalah adik
seperguruan Sang Wiku Kalawisesa si penyembah Bathara Kala yang tewas di tangan
Endang Patibroto. Hanya bedanya, kalau Wiku Kalawisesa lebih memperdalam ilmu
gaib dan ilmu hitam, adik seperguruannya yang bertubuh raksasa ini memperdalam
ilmu-ilmu pertempuran sehingga dalam hal kedigdayaan, Ki Kolohangkoro ini malah
melampaui kakak seperguruannya itu. Namun hal ini bukan berarti dia tidak tahu
akan ilmu hitam. Sebaliknya, karena akhir-akhir ini malah melatih ilmu gaib
yang berdasarkan ilmu hitam dan cara menghimpun tenaga dalam ilmu ini amat
mengerikan, yaitu dengan minum darah dan makan daging seorang anak kecil
hidup-hidup! Pakaian raksasa berusia kurang lebih lima puluh tahun inipun mewah
sehingga ia tampak gagah dan menakutkan, sepasang anting-anting di telinga
terbuat daripada emas, dan senjatanya berbentuk sebuah nenggala dengan gaganq
di tengah dihias emas permata.
"Terserah bagaimana
wawasan kalian!" kata pula Tejolaksono dengan sikap tenang.
"Tejolaksono, engkau
pernah menghinaku, kini tiba saatnya engkau merasakan pembalasanku,
keparat!" teriak Sariwuni yang juga sudah mencabut pedangnya.
"Sariwuni, engkau bukan
perempuan baik-baik, dan sekali ini aku berusaha melemparmu ke neraka jahanam
agar engkau dapat menebus dosa-dosamu," jawab Tejolaksono.
"Waduh-waduh, sumbarmu
seperti hendak memecahkan Gunung Semeru! Kematian sudah berada di ujung hidung,
masih banyak berlagak. Kaurasakan keampuhan tongkat ularku.” Cekel Wisangkoro
berseru dan tubuhnya bergerak ke depan, cepat sekali gerakan tubuhnya ini,
tahu-tahu ia telah menerjang Tejolaksono dengan tongkatnya yang hitam berbentuk
ular menusuk ke arah leher.
"Wuuutttt ... ,
trangggg ... !!" Tangkas sekali gerakan Tejolaksono. Biarpun kelihatannya
Cekel Wisangkora yang lebih dahulu menyerangnya dari depan, namun perhatian
Tejolaksono tidak terpikat dan masih saja pendekar ini memperhatikan keadaan
semua orang lawannya sehingga ia dapat mengetahui bahwa biarpun Cekel
Wisangkoro lebih dahulu bergerak, namun senjata nenggala di tangan Ki Kolohangkoro lebih dahulu
menyambar lambungnya dari sebelah kanan. Oleh karena itu, sambaran senjata
nenggala inilah yang leblh dulu ia elakkan sehingga senjata itu menyambar
dahsyat di pinggir tubuhnya, sementara itu tusukan tongkat Cekel Wisangkoro ia
tangkis dengan golok tangan kirinya. Bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata
dan cekel itu meringis ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang
tongkat seperti dibakar rasanya.
"Tar-tar-tar !" Ni
Dewi Nilamanik tidak mau ketinggalan. Kebutan lalat yang berambut merah itu
sudah berbunyi nyaring dan menyambar-nyambar seperti halilintar di atas kepala
Tejolaksono. Namun sang adipati yang sakti mandraguna ini sudah menggerakkan
golok di tangan kiri, diputarnya sedemikian rupa, mempergunakan pergelangan
tangan sehingga golok ini berubah bentuknya menjadi segulungan sinar yang
melingkar-lingkar di atas kepalanya dan saking cepat gerakannya sampai
kelihatan seperti sebuah payung yang melindungi tubuh sang adipati dari atas.
Adapun golok yang sebuah lagi, di tangan kanan, bergerak seperti seekor naga
sakti mengamuk. Pedang Sariwuni yang menyambar diterjangnya sampai menyeleweng
ke kiri membawa serta tubuh Sariwuni yang terhuyung-huyung, kemudian berputar
cepat dan bertubi-tubi menyerang Cekel Wisangkoro dan Ki Kolohangkoro yang
menjadi kaget sekali dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.
Memang hebat
sekali sepak terjang sang Adipati Tejolaksono. Dikeroyok empat orang lawan yang
kesemuanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, masih sempat untuk membalas, hal
ini benar-benar membuktikan bahwa tingkatnya memang sudah amat tinggi. Namun
sekali ini, empat orang yang mengeroyoknya adalah orang-orang yang memang sakti
mandraguna dan memiliki kepandaian tinggi. Cekel Wisangkoro adalah murid yang paling
tangguh dari Sang Wasi Bagaspati, seorang peranakan bangsa Hindu yang pernah
lama tinggal di hindu dan sebelum menjadi murid Sang Wasi Bagaspati telah
memiliki kesaktian yang hebat. Cekel Wisangkoro inilah yang berhasil membentuk
pasukan terdiri dari orang-orang yang bergerak seperti robot itu, orang-orang
yang telah kehilangan semangat dan kemauan karena semangat dan kemauannya telah
dirampas oleh Cekel Wisangkoro, diganti dengan pengaruh daripada kemauannya
sendiri, membuat pasukan ini melakukan apa saja yang diperintahkan Cekel
Wisangkoro, tidak mengenal takut, tidak merasa nyeri, kebal dan tidak kenal
bahaya. Pasukan macam ini tentu saja hebat luar biasa dan banyak prajurit
Panjalu yang tewas ketika menghadapi pasukan manusia robot ini. Selain sakti
dan mahir akan ilmu hitam, juga ilmu silat Cekel Wisangkoro aneh dan dahsyat,
apalagi. kalau ia mainkan tongkat hitamnya yang merupakan senjata yang
benar-benar ampuh. Tongkatnya bukan hanya berbentuk ular, melainkan memang
sungguh-sungguh terbuat daripada seekor ular kobra hitam yang hanya terdapat di
sebuah lereng dari Pegunungan Himalaya.
No comments:
Post a Comment