Perawan Lembah Wilis; Bagian 069


Golok kanannya ia pegang dengan tangan kiri, sedangkan kini tangan kanannya ia hantamkan ke arah asap hitam itu dengan aji pukulan Bojro Dahono. Berkali-kali ia memukul dan asap hitam itu terpukul buyar sampai akhirnya lenyap. Menyaksikan pemimpin mereka yang berhasil melenyapkan asap hitam yang mengerikan, para prajurit Panjalu bersorak dan timbul kembali semangat mereka. Perang menjadi makin dahsyat dan sengit.
"Tar-tar-tar...!!"

Tejolaksono yang pada saat itu berhasil menancapkan sepasang goloknya memasuki perut gendut dua orang musuh, terkejut dan cepat ia merendahkan diri terus menyelinap melalui bawah tubuh dua orang musuh yang roboh. Ketika la meloncat bangun, ia melihat betapa hantaman kebutan merah itu yang tadinya menyambar kepalanya, kini mengenai kepala dua orang lawan yang telah ia tusuk. Dua buah kepala itu pecah berantakan dan dua batang tubuh roboh tanpa kepala lagi. Ia bergidik dan memandang kepada Ni Dewi Nilamanik dengan marah.
"Iblis betina! Kiranya engkau berada di sini pula. Bersiaplah engkau untuk memasuki neraka jahanam!" bentak Tejolaksono.
Ni Dewi Nilamanik yang tadinya terkejut dan kecewa menyaksikan betapa serangannya yang dahsyat tadi dapat dihindarkan lawan, bahkan mengenai kepala dua orang prajurit anak buah sendiri, kini tersenyum lebar menindas kemarahannya. Wanita yang berusia empat puluh tahun ini masih amat cantik, apa-lagi kini ia tersenyum, kecantikannya dapat memabukkan hati pria. Sepasang matanya menyambar penuh kemesraan, seolah-olah ia hendak memikat hati Tejolaksono. Pakaiannya yang mewah itu tipis membayangkan bentuk tubuhnya yang masih padat dan ramping. Sesungguhnya, kalau ia teringat akan penyerbuan Tejolaksono belum lama ini di Gunung Mentasari, membunuh hampir semua anak, buahnya dan membasmi sarangnya, hatinya merasa amat mendendam dan sakit hati kepada Tejolaksono. Akan tetapi pada saat itu, Ni Dewi Nilamanik sama sekali tidak memperlihatkan kebenciannya, malah kini ia berkata dengan suara merdu,
"Tejolaksono, harus kuakui bahwa engkau memang seorang pria yang hebat! Sungguh aku merasa sayang sekali bahwa di antara kita sampai terdapat permusuhan. Tejolaksono, agaknya masih belum terlambat kalau engkau suka menerima uluran tanganku. Untuk apakah mengobarkan permusuhan dan perang, bunuh-membunuh yang tidak ada gunanya? Bukankah lebih baik saling mencinta daripada saling membenci? Tejolaksono, kaupandanglah aku. Ni Dewi Nilamanik kalau perlu dapat pula menjadi Dewi Cinta. Masih kurang cantikkah aku? Pandanglah baik-baik ..“
Kata-kata yang keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik yang berbibir merah itu bukanlah sembarang kata-kata melainkan kata-kata yang diterapkan sebagai bagian daripada ilmu guna-guna sehingga terdengar merayu-rayu dan amat merdu. Tejolaksono yang memandang wanita itu, merasakan getaran hebat yang menerjangnya, yang menggetarkan jantung dan yang amat kuat seperti hendak menguasai hati dan pikirannya, yang menciptakan pandangan indah sehingga wanita itu tampak cantik melebihi dewi kahyangan sendiri, yang membuat suara itu terdengar merdu, pendeknya getaran itu menciptakan segala yang serba indah, menyenangkan hati, menghilangkan semua rasa benci dan marah, membangkitkan nafsu berahi! Tentu saja sebagai ksatria gemblengan yang sakti mandraguna, dan yang tahu akan seperti ini, Tejolaksono dapat menguasai hatinya dalam beberapa detik saja. Akan tetapi diam-diam ia merasa terkejut dan harus ia akui bahwa kekuatan yang terkandung dalam ilmu semacam aji guna asmara yang dikerahkan wanita ini benar-benar amat mujijat dan kuat. Jarang kiranya ada pria, betapapun gagahnya, yang akan dapat menahan diri daripada pengaruh, guna-guna yang hebat ini.

"Ni Dewi Nilamanik, tidak perlu lagi engkau mengeluarkan aji-ajimu yang kotor dan rendah! Betapapun cantiknya engkau, tetap saja tampak olehku betapa kotor dan hitam hatimu. Kecantikanmu hanyalah bungkus indah yang menyembunyikan sesuatu yang busuk dan kotor!" Senyum manis di bibir Ni Dewi Nilamanik perlahan-lahan berubah menjadi seringai yang kejam. Mata yang tadi bersinar-sinar mesra dan redup kini menyala-nyala seperti mengeluarkan api.
"Tar-tar!!" Pengebut merah yang baru karena pengebut yang lama telah rusak ketika ia melawan Tejolaksono di Mentasari, kini bergerak di atas kepala Ni Dewi Nilamanik, mendahului kata-katanya yang terdengar ketus,
"Tejolaksono! Engkau sudah bosan hidup! Apa engkau kira akan dapat lolos dari tanganku?"
"Tidak perlu bersombong, iblis betina. Engkaulah yang kini takkan lolos daripada tanganku untuk menebus dosa-dosamu dengan kematian!"
"Bagus! Hayo kita mencari tempat yang lapang agar dapat menentukan siapa di antara kita yang akan mampusI" Sambil berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik berkelebat dan tubuhnya dengan gerakan yang amat ringan seperti terbang saja sudah berlari atau setengah melayang mendaki bagian yang lebih tinggi dekat puncak, menjauhi tempat yang telah menjadi medan perang itu. Tejolaksono memang ingin sekali merobohkan musuh ini karena ia maklum bahwa robohnya Ni Dewi, Nilamanik akan mempengaruhi kemenangan pasukannya. Maka ia tidak menjadi gentar dan cepat ia pun menggunakan Aji Bayu Sakti untuk mengejar lawannya. Setelah tiba di bawah puncak, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak melepaskan jarum-jarum beracun yang berwarna merah pula. Inilah senjata rahasia yang halus sekali, terbuat daripada besi yang besarnya hanya serambut panjangnya setengah jari. Namun justru karena kecilnya inilah maka jarum-jarum, ini amat berbahaya, jika dipakai menyerang, disambitkan dengan dorongan hawa sakti tidak tampak namun apabila mengenai tubuh lawan akan menembus masuk kulit daging sehingga sukar untuk dikeluarkan lagi. Lebih mengerikan lagi karena jarum-jarum ini sebelumnya telah direndam racun yang dibuat daripada air liur ular bandotan!

Tejolaksono yang sudah waspada dapat menduga akan datangnya serangan ini, apalagi pandang matanya yang tajam dapat melihat berkelebatnya benda-benda halus yang menyambar ke arahnya itu, juga pendengaran telinganya yang terlatih dapat menangkap suara berdesir, halus dari jarum-jarum. Maka ia cepat memutar goloknya depan tubuh tanpa menghentikan pengejarannya. Terdengar suara berdencing dan jarum-jarum itu terpukul runtuh ke kanan kiri. Dengan marah dan penuh semangat Tejolaksono meloncat ke depan, mengejar lawannya yang kini sudah berdiri menantinya dengan senyum mengejek dan kebutan merah di tangan. Akan tetapi pada saat itu, muncul tiga orang yang memiliki gerakan gesit dan mereka ini segera berdiri di empat penjuru sehingga Tejolaksono terkurung di tengah-tengah. Ketika adipati yang sakti mandraguna ini memandang, ia segera mengenal mereka dan kemarahannya tersinar dari pandang matanya yang tajam. Mereka itu bukan lain adalah Cekel Wisangkoro, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni si wanita cantik genit yang sudah menggodanya.
"Hemm, bagus sekali! Memang kalian inilah yang menjadi biang keladi dan sudah lama kucari-cari!" kata Tejolaksono sambil mengangkat dada dan siap dengan sepasang goloknya. Ia tahu bahwa empat orang itu bukanlah lawan lemah, dan maklum pula bahwa ia tentu akan dikeroyok, maka ia bersikap tenang dan tidak berani memandang rendah, hanya menanti empat lawannya bergerak.
"Heh-heh-heh-heh, Tejolaksono, kau sombong benar!" kata Cekel Wisangkoro, kakek berusia lima puluh tahun yang rambutnya terurai penuh uban ini. Karena merasa yakin bahwa kali ini dia dan teman-temannya akan berhasil membunuh Tejolaksono, maka kakek ini tertawa-tawa gembira. Seperti biasa rambut kakek yang penuh uban ini terurai sampai ke pinggang. Jubahnya kuning panjang dan kakinya telanjang. Mukanya yang merah itu berkulit halus seperti muka kanak-kanak, dan tubuhnya yang kurus tinggi masih kelihatan kuat. Tongkat hitam berbentuk ular di tangannya mengkilat seperti hidup, dilintangkan depan dada. Dia ini adalah murid yang tekun dari Wasi Bagaspati, maka tentu saja memiliki ilmu yang tinggi.
"Hemm, Cekel Wisangkoro! Biasa saja seorang musuh menganggap lawannya sombong! Persoalannya bukan tentang sikap, melainkan karena sepak terjang kalian yang menerjang dan melanggar batas wilayah Panjalu, yang menyebar kekacauan sehingga kalian ini bagi kami lebih jahat daripada penyakit menular maka harus dibasmi sampai ke akar-akarnya!"
"Babo-babo! Sumbarnya seperti engkau seorang satu- satunya jantan di dunia ini, keparat!" bentak Ki Kolohangkoro dengan muka merah saking marahnya.
Raksasa ini adalah adik seperguruan Sang Wiku Kalawisesa si penyembah Bathara Kala yang tewas di tangan Endang Patibroto. Hanya bedanya, kalau Wiku Kalawisesa lebih memperdalam ilmu gaib dan ilmu hitam, adik seperguruannya yang bertubuh raksasa ini memperdalam ilmu-ilmu pertempuran sehingga dalam hal kedigdayaan, Ki Kolohangkoro ini malah melampaui kakak seperguruannya itu. Namun hal ini bukan berarti dia tidak tahu akan ilmu hitam. Sebaliknya, karena akhir-akhir ini malah melatih ilmu gaib yang berdasarkan ilmu hitam dan cara menghimpun tenaga dalam ilmu ini amat mengerikan, yaitu dengan minum darah dan makan daging seorang anak kecil hidup-hidup! Pakaian raksasa berusia kurang lebih lima puluh tahun inipun mewah sehingga ia tampak gagah dan menakutkan, sepasang anting-anting di telinga terbuat daripada emas, dan senjatanya berbentuk sebuah nenggala dengan gaganq di tengah dihias emas permata.

"Terserah bagaimana wawasan kalian!" kata pula Tejolaksono dengan sikap tenang.
"Tejolaksono, engkau pernah menghinaku, kini tiba saatnya engkau merasakan pembalasanku, keparat!" teriak Sariwuni yang juga sudah mencabut pedangnya.
"Sariwuni, engkau bukan perempuan baik-baik, dan sekali ini aku berusaha melemparmu ke neraka jahanam agar engkau dapat menebus dosa-dosamu," jawab Tejolaksono.
"Waduh-waduh, sumbarmu seperti hendak memecahkan Gunung Semeru! Kematian sudah berada di ujung hidung, masih banyak berlagak. Kaurasakan keampuhan tongkat ularku.” Cekel Wisangkoro berseru dan tubuhnya bergerak ke depan, cepat sekali gerakan tubuhnya ini, tahu-tahu ia telah menerjang Tejolaksono dengan tongkatnya yang hitam berbentuk ular menusuk ke arah leher.
"Wuuutttt ... , trangggg ... !!" Tangkas sekali gerakan Tejolaksono. Biarpun kelihatannya Cekel Wisangkora yang lebih dahulu menyerangnya dari depan, namun perhatian Tejolaksono tidak terpikat dan masih saja pendekar ini memperhatikan keadaan semua orang lawannya sehingga ia dapat mengetahui bahwa biarpun Cekel Wisangkoro lebih dahulu bergerak, namun senjata nenggala  di tangan Ki Kolohangkoro lebih dahulu menyambar lambungnya dari sebelah kanan. Oleh karena itu, sambaran senjata nenggala inilah yang leblh dulu ia elakkan sehingga senjata itu menyambar dahsyat di pinggir tubuhnya, sementara itu tusukan tongkat Cekel Wisangkoro ia tangkis dengan golok tangan kirinya. Bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata dan cekel itu meringis ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang tongkat seperti dibakar rasanya.
"Tar-tar-tar !" Ni Dewi Nilamanik tidak mau ketinggalan. Kebutan lalat yang berambut merah itu sudah berbunyi nyaring dan menyambar-nyambar seperti halilintar di atas kepala Tejolaksono. Namun sang adipati yang sakti mandraguna ini sudah menggerakkan golok di tangan kiri, diputarnya sedemikian rupa, mempergunakan pergelangan tangan sehingga golok ini berubah bentuknya menjadi segulungan sinar yang melingkar-lingkar di atas kepalanya dan saking cepat gerakannya sampai kelihatan seperti sebuah payung yang melindungi tubuh sang adipati dari atas. Adapun golok yang sebuah lagi, di tangan kanan, bergerak seperti seekor naga sakti mengamuk. Pedang Sariwuni yang menyambar diterjangnya sampai menyeleweng ke kiri membawa serta tubuh Sariwuni yang terhuyung-huyung, kemudian berputar cepat dan bertubi-tubi menyerang Cekel Wisangkoro dan Ki Kolohangkoro yang menjadi kaget sekali dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.
Memang hebat sekali sepak terjang sang Adipati Tejolaksono. Dikeroyok empat orang lawan yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, masih sempat untuk membalas, hal ini benar-benar membuktikan bahwa tingkatnya memang sudah amat tinggi. Namun sekali ini, empat orang yang mengeroyoknya adalah orang-orang yang memang sakti mandraguna dan memiliki kepandaian tinggi. Cekel Wisangkoro adalah murid yang paling tangguh dari Sang Wasi Bagaspati, seorang peranakan bangsa Hindu yang pernah lama tinggal di hindu dan sebelum menjadi murid Sang Wasi Bagaspati telah memiliki kesaktian yang hebat. Cekel Wisangkoro inilah yang berhasil membentuk pasukan terdiri dari orang-orang yang bergerak seperti robot itu, orang-orang yang telah kehilangan semangat dan kemauan karena semangat dan kemauannya telah dirampas oleh Cekel Wisangkoro, diganti dengan pengaruh daripada kemauannya sendiri, membuat pasukan ini melakukan apa saja yang diperintahkan Cekel Wisangkoro, tidak mengenal takut, tidak merasa nyeri, kebal dan tidak kenal bahaya. Pasukan macam ini tentu saja hebat luar biasa dan banyak prajurit Panjalu yang tewas ketika menghadapi pasukan manusia robot ini. Selain sakti dan mahir akan ilmu hitam, juga ilmu silat Cekel Wisangkoro aneh dan dahsyat, apalagi. kalau ia mainkan tongkat hitamnya yang merupakan senjata yang benar-benar ampuh. Tongkatnya bukan hanya berbentuk ular, melainkan memang sungguh-sungguh terbuat daripada seekor ular kobra hitam yang hanya terdapat di sebuah lereng dari Pegunungan Himalaya.

<<< Bagian 068                                                                                   Bagian 070 >>>

No comments:

Post a Comment