Tejolaksono memutar sepasang goloknya dengan jurus pertahanan dari ilmu Golok Lebah Putih sehingga sepasang goloknya mengeluarkan suara mendengung seperti sekumpulan lebah keluar dari sarang. Runtuhlah semua bulu kebutan yang tadi menyambar bagaikan anak-anak panah itu, akan tetapi terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang prajurit yang tubuhnya tertembus oleh bulu-bulu kebutan yang beracun!
Tejolaksono yang terkejut
memandang anak buahnya, menjadi marah, cepat membalikkan tubuh dan siap
menerjang lawan. Akan tetapi ternyata Ni Dewi Nilamanik telah lenyap. Wanita
itu mempergunakan kesempatan tadi untuk menyelinap di antara anak buahnya yang
mulai terdesak. Tejolaksono mengejar, mengamuk dan merobohkan banyak musuh,
namun tidak kelihatan pula bayangan Ni Dewi Nilamanik. Kacau-balaulah kini
pertahanan anak buah Ni Dewi Nilamanik setelah ditinggalkan pemimpinnya. Amukan
para prajurit Panjalu makin menghebat dan akhirnya mereka lari cerai-berai,
dikejar oleh prajurit-prajurit Panjalu. Di antara sembilan puluh sembilan orang
prajurit wanita anak buah Ni Dewi Nilamanik, hanya ada sebelas orang saja yang
lolos dan entah lari ke mana, mungkin melalui jalan rahasia bersama pemimpin
mereka. Yang lain telah tewas sehingga mayat mereka berserakan memenuhi tempat
itu, malang melintang bersama mayat-mayat para prajurit Panjalu yang banyak
jumlahnya pula. Kemudian ternyata oleh Tejolaksono bahwa empat rombongan
pasukannya yang mendaki dari lain jurusan untuk mengepung markas musuh itu,
ternyata telah berantakan karena disambut oleh pasukan musuh yang mempergunakan
ilmu hitam. Mereka itu terpikat dan mabuk di bawah pengaruh guna-guna yang amat
kuat sehingga di antara dua ratus orang dalam empat rombongan itu, hampir semua
tewas, hanya ada dua puluh orang lebih saja yang berhasil menyelamatkan diri.
Dengan demikian, ditambah dengan jumlah korban dari pasukannya yang menyerbu
tadi, jumlah korban semua dari prajurit Panjalu ada dua ratus orang. Mereka
berhasil membasmi pasukan penyembah Bathari Durga dan menewaskan hampir semua
anggotanya, namun dengan pengorbanan yang jauh lebih besar!
Pembersihan dilakukan
terus-menerus oleh Tejolaksono. Kadang-kadang pasukannya terancam bahaya besar.
Ketika pasukannya bertemu dengan barisan musuh di Kulon Progo (sebelah barat
Sungai Progo), juga terjadi perang yang amat hebat. Pasukan musuh itu jumlahnya
seimbang dengan pasukannya, namun pasukan musuh diperkuat oleh tiga puluh orang
raksasa gundul, anak buah Cekel Wisangkoro. Pasukan raksasa gundul inilah yang
amat hebat, membuat para prajuritnya kewalahan, karena mereka ini rata-rata
memiliki kekebalan dan tenaga yang dahsyat! Gerakan mereka seperti robot, dan
memang keadaan pasukan ini seperti bukan manusia-manusia lagi. Semangat mereka
dikendalikan oleh Cekel Wisangkoro dengan pengaruh ilmu hitam. Tejolaksono
maklum bahwa kalau ia tidak cepat turun tangan, tentu para prajuritnya akan
celaka. Maka ia lalu mainkan sepasang goloknya dan tubuhnya sampai lenyap
terbungkus dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara mbrengengeng
seperti ratusan ekor lebah mengamuk. Gulungan sinar putih ini seperti tangan
maut sendiri, mengamuk di antara orang-orang gundul tinggi besar yang dengan
nekat dan tidak mengenal takut mengeroyoknya. Lima orang gundul mengeroyok
Tejolaksono. Begitu pendekar sakti ini merobohkan mereka dengan kepala remuk
dan tubuh terpelanting ke dalam Sungai Progo, lima orang lagi maju menggantikan
dan demikianlah, terus- menerus Tejolaksono mengamuk, sementara itu pasukannya
kocar-kacir karena tidak sanggup menghadapi pihak lawan yang dibantu
reksasa-raksasa gundul yang amat tangguh itu. Setelah dengan tubuh lelah sekali
Tejolaksono akhirnya berhasil menewaskan tiga puluh orang raksasa gundul itu,
barulah perajurit prajuritnya yang sudah banyak kehilangan kawan itu bangkit
semangatnya dan terjadi perang yang amat dahsyat yang berakhir dengan
kemenangan pihak Panjalu. Akan tetapi juga dalam perang tanding di pantai Progo
ini, Tejolaksono kehilangan banyak perajurit dan dengan kecewa ia tidak dapat
menangkap atau menewaskan Cekel Wisangkoro yang berhasil menyelamatkan diri
bersama sisa pasukannya.
Berbulan-bulan lamanya
Tejolaksono memimpin pasukan Panjalu menghalau musuh yang ternyata telah
menanam kuku di sekitar Selopenangkep, di sebelah barat dan utara. Berkat
ketekunannya dan kegagahan para prajurit Panjalu, musuh dapat dihalau dan
banyak pula yang dapat dihancurkan dan dibasmi. Setelah setahun ia memerangi
musuh, pada suatu hari ia mendapat keterangan dari penyelidiknya bahwa di sekitar
Gunung Merak terlihat gerakan musuh yang terdiri dari para penyembah Bathara
Kala, dipimpin oleh Ki Kolohangkoro. Tejolaksono mengertak gigi karena di
antara para musuhnya, Ki Kolohangkoro ini termasuk tokoh besar yang
dicari-carinya. Ia mendengar bahwa Ki Kolohangkoro ini adalah adik tunggal guru
dengan Wiku Kalawisesa yang telah membunuh banyak ponggawa Panjalu dan Jenggala
dan yang kemudian terbunuh di tangan Endang Patibroto. Ia lalu mengumpulkan
sejumlah besar pasukan, kemudian memimpin sendiri pasukan Panjalu itu,
berangkat ke Gunung Merak untuk membasmi musuh yang ia kira merupakan kekuatan
terakhir dari para pengacau. Tiga hari kemudian, menjelang senja, sampailah
pasukan Panjalu ini di kaki Gunung Merak. Gunung Merak adalah sebuah gunung
yang kecil di antara Pegunungan Kidul, dan karena di situ terdapat banyak
burung meraknya maka dinamakan Gunung Merak. Tejolaksono memerintahkan
pasukannya untuk beristirahat di kaki gunung, menyusun tenaga untuk penyerbuan
yang akan dilakukan esok hari. Malam itu amat gelap dan pasukannya belum
mengenal daerah ini, maka amatlah berbahaya untuk menyerbu malam-malam ke atas,
apalagi kalau diingat bahwa pasukan lawan yang sekarang dihadapi adalah pasukan
penyembah Bathara Kala yang ia duga tentu lebih kuat daripada yang sudah-sudah.
Dugaan Tejolaksono ini
memang benar, akan tetapi ia hanya dapat menduga setengahnya saja. Kalau saja
Tejolaksono tahu akan keadaan seluruhnya di puncak Gunung Merak itu, tentu ia
akan membawa mundur pasukannya dan baru akan berani menyerbu kalau disertai
orang-orang sakti dan pasukan yang amat kuat. Dia sama sekali tidak pernah
mimpi bahwa pada malam hari itu, puncak Gunung Merak dijadikan tempat bertemuan
dan perundingan oleh tokoh-tokoh besar yang menjadi utusan Kerajaan Sriwijaya
dan Kerajaan Cola! Lengkap hadir semua tokoh besar musuh Panjalu, di antaranya
Ni Dewi Nilamanik, Cekel Wisangkoro, Kolohangkoro, Sariwuni dan yang lain.
Bahkan dua orang tokoh
puncaknya yang menjadi puncak pimpinan dan wakil kedua kerajaan, hadir pula.
Siapakah kedua orang itu? Bukan lain adalah dua orang kakek sakti mandraguna,
yaitu Sang Biku Janapati yang mewakili Kerajaan Sriwijaya dan Sang Wasi
Bagaspati yang mewakili Kerajaan Cola!
"Sadhu-sadhu-sadhu !
Sayang sekali bahwa andika masih belum sadar sepenuhnya bahwa kekerasan itu
tiada guna, hancur oleh kelemasan, Wasi Bagaspati! Penggunaan kesaktian akan
sia-sia belaka di sini adalah gudangnya orang-yang sakti mandraguna, keturunan
orang-orang Mataram yang tak mungkin dapat ditundukkan dengan aji kedigdayaan.”
Demikian antara lain Biku Janapati memperingatkan temannya, Sang Wiku
Bagaspati.
Dua orang pendeta sakti ini
memikul tugas yang sama, hanya bedanya kalau Biku Janapati mewakili Kerajaan
Sriwijaya, adalah Wasi Bagaspati mewakili Kerajaan Cola. Terdapat perbedaan
besar dalam sepak terjang mereka menunaikan tugas. Biku Janapati yang bergerak
dari utara, menyebar Agama Buddha dengan cara halus dan sama sekali tidak
mempergunakan kekerasan, sesuai pula dengan sifat agama itu sendiri yang
mendasarkan kasih sayang dan menghapus kebencian dalam tindakannya. Sebaliknya,
Wasi Bagaspati yang bergerak dari barat, selain dibantu oleh anak buahnya
sendiri para penyembah dan pemuja Sang Hyang Shiwa, juga dibantu oleh para
penyembah Bathara Kala dan Bathari Durga, seringkali menggunakan kekerasan,
bahkan kini secara berterang anak buahnya mengadakan perang terhadap pasukan
Panjalu. Muka Wasi Bagaspati yang sudah merah itu kini menjadi makin merah,
kepalanya digerakkan ketika ia tertawa dan rambutnya yang panjang putih itu
berkibar-kibar, tampak makin putih seperti benang-benang perak ketika menyentuh
pundak bajunya yang berwarna merah darah.
"Heh-heh-heh, Sang Biku
Janapati! Kekalahan-kekalahan kecil yang diderita oleh anak buahku menghadapi
pasukan Panjalu, bukan apa-apa! Semua adalah gara-gara si adipati cilik
Tejolaksono, bocah yang masih ingusan itu! Lihat sajalah, dia dan pasukannya
sudah tiba,.. besok aku sendiri akan menghancurkannya, kemudian aku sendiri
akan memimpin pasukan menyerbu Panjalu!”
"Wahai ....saudaraku
Wasi Bagaspati!" kata Biku Janapati, sepasang matanya terbelalak memandang
penuh kekagetan.
"Sebelum berangkat dari
Sriwijaya, kita sudah bersepakat tidak akan menggunakan kekerasan, setidaknya,
andika tidak akan turun tangan sendiri. Apakah andika akan melanggar janji kita
itu?"
Sejenak sepasang mata Wasi
Bagaspati memandang tajam dan dua orang sakti itu saling bertentang pandang.
Mereka itu dahulu pernah menjadi lawan, yaitu ketika Kerajaan Cola berperang
melawan Kerajaan Sriwijaya. Kini setelah kedua kerajaan itu bersabahat, mereka
pun menjadi sahabat, namun watak dan sifat kedua orang ini memang jauh berbeda.
Biku Janapati suka akan kehalusan dan keramahan, sebaliknya Wasi Bagaspati suka
akan kekerasan, suka berkelahi, dan berdarah panas. Namun akhirnya Wasi
Bagaspati menghela napas panjang dan lebih dahulu menundukkan mukanya.
Ia maklum bahwa tiada
untungnya untuk berselisih faham dengan sahabatnya ini dalam keadaan menghadapi
lawan kuat seperti pasukan-pasukan Panjalu.
"Baiklah, Biku
Janapati. Andika tidak perlu khawatir. Aku tidak akan turun tangan sendiri.
Pula, betapa rendahnya kalau aku berlawan dengan seorang bocah macam
Tejolaksono. Tidak, aku dan andika tidak akan turun tangan, hanya akan menjadi
penonton. Biarlah para pembantuku yang akan menghadapi Tejolaksono."
"Sadhu-sadhu-sadhu ...
begitu barulah lega hatiku! Dan perlu sekali lagi kuperingatkan, saudaraku Wasi
Bagaspati bahwa tadi andika telah berjanji bahwa selanjutnya kita akan bekerja
sama mempergunakan cara halus demi berhasilnya tugas kita. Dan jangan lupa
janji kita dengan Ki Tunggaljiwa, orang-orang tua macam kita tidak perlu turun
tangan, biarlah kita serahkan kepada yang muda-muda."
"Ha-ha-ha-ha! Jangan
khawatir, sang biku! Murid-muridku sudah banyak, dan manakah murid yang kau
ajukan?"
Pendeta itu
menggeleng-gelengkan kepalanya yang gundul.
"Buah yang saya imbu
(sekap) masih belum dalu (matang)."
"Ha-ha-ha-ha! Kuharap
saja tidak mengecewakan kelak."
"Mudah-mudahan begitu,
sang wasi."
Demikianlah antara lain
percakapan antara dua orang pendeta sakti mandraguna itu di sebuah pondok di
puncak Gunung Merak. Kemudian Sang Wasi Bagaspati memanggil dan mengumpulkan
anak buahnya dan berundinglah kakek ini dengan Cekel Wisangkoro muridnya, Ni
Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Sariwuni dan beberapa orang pimpinan pasukan
yang menjadi anak buahnya. Setelah mengatur siasat untuk menghadapi pasukan
Panjalu, Sang Wasi Bagaspati lalu memasuki kamar untuk beristirahat, ditemani
oleh si cantik genit Sariwuni.
Pada keesokan harinya, kokok
ayam jantan merupakan pertanda bagi pasukan Panjalu, seperti yang telah
direncanakan Tejolaksono, dan mulailah pasukan ini mendaki dituntun sinar
matahari yang mulai semburat merah. Karena mereka melakukan penyerbuan dari
sisi timur bukit, maka sepagi itu tempat yang mereka lalui sudah kebagian sinar
matahari. Ketika pasukan-pasukan Panjalu itu sudah tiba di sebuah lereng yang
rata dan luas, barulah mereka mendapat sambutan musuh yang turun
berbondong-bondong dari puncak. Mereka ini adalah pasukan penyembah Bathara Kala,
rata-rata orangnya tinggi besar dan senjata mereka adalah golok-golok besar dan
penggada. Mereka itu menyerbu turun, menyambut pasukan Panjalu sambil
bersorak-sorak, melompat-lompat dan bergulingan, dengan gerak-gerak kasar
seperti barisan raksasa.
"Serbuuuu !!!"
Tejolaksono meneriakkan aba-aba ini untuk menambah semangat pasukannya yang
begitu kedua fihak bertemu, terjadilah perang tanding yang dahsyat sekali.
Fihak barisan Kala ini adalah anak buah Ki Kolohangkoro, rata-rata memiliki
tenaga besar dan ilmu tata kelahi yang ganas dan kuat. Akan tetapi pasukan yang
dipimpin Tejolaksono pada saat itu pun merupakan pasukan pilihan dari Panjalu,
maka pertandingan itu merupakan pertandingan yang amat seru dan seimbang.
Tejolaksono sendiri menyerbu paling depan dan seperti biasa, sepak terjang
orang sakti ini hebat bukan main. Sepasang goloknya menderu-deru, mengeluarkan
bunyi berdesingan dan "mbrengengeng" seperti suara sekumpulan lebah
mengamuk. Celakalah pihak musuh yang berdekatan, karena sepasang goloknya itu
tak dapat dihindari lagi, dielak terlalu cepat, ditangkis terlalu kuat sehingga
senjata penangkis patah disusul robohnya lawan!
Akan tetapi
tiba-tiba Tejolaksono mengeluarkan seruan marah. Ia melihat banyak anak buahnya
roboh secara tidak wajar. Ada uap hitam melayang-layang dan bergerak-gerak,
keluar dari pihak musuh dan uap hitam yang seperti hidup ini setiap kali
menyentuh prajuritnya, prajurit itu tentu roboh pingsan dan tentu saja dengan
mudah menjadi korban senjata lawan. Tejolaksono lalu meloncat dan sambil
meneriakkan pekik Dirodo Meto ia lalu menyerbu ke arah uap hitam.
No comments:
Post a Comment