Perawan Lembah Wilis; Bagian 068


Tejolaksono memutar sepasang goloknya dengan jurus pertahanan dari ilmu Golok Lebah Putih sehingga sepasang goloknya mengeluarkan suara mendengung seperti sekumpulan lebah keluar dari sarang. Runtuhlah semua bulu kebutan yang tadi menyambar bagaikan anak-anak panah itu, akan tetapi terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang prajurit yang tubuhnya tertembus oleh bulu-bulu kebutan yang beracun!

Tejolaksono yang terkejut memandang anak buahnya, menjadi marah, cepat membalikkan tubuh dan siap menerjang lawan. Akan tetapi ternyata Ni Dewi Nilamanik telah lenyap. Wanita itu mempergunakan kesempatan tadi untuk menyelinap di antara anak buahnya yang mulai terdesak. Tejolaksono mengejar, mengamuk dan merobohkan banyak musuh, namun tidak kelihatan pula bayangan Ni Dewi Nilamanik. Kacau-balaulah kini pertahanan anak buah Ni Dewi Nilamanik setelah ditinggalkan pemimpinnya. Amukan para prajurit Panjalu makin menghebat dan akhirnya mereka lari cerai-berai, dikejar oleh prajurit-prajurit Panjalu. Di antara sembilan puluh sembilan orang prajurit wanita anak buah Ni Dewi Nilamanik, hanya ada sebelas orang saja yang lolos dan entah lari ke mana, mungkin melalui jalan rahasia bersama pemimpin mereka. Yang lain telah tewas sehingga mayat mereka berserakan memenuhi tempat itu, malang melintang bersama mayat-mayat para prajurit Panjalu yang banyak jumlahnya pula. Kemudian ternyata oleh Tejolaksono bahwa empat rombongan pasukannya yang mendaki dari lain jurusan untuk mengepung markas musuh itu, ternyata telah berantakan karena disambut oleh pasukan musuh yang mempergunakan ilmu hitam. Mereka itu terpikat dan mabuk di bawah pengaruh guna-guna yang amat kuat sehingga di antara dua ratus orang dalam empat rombongan itu, hampir semua tewas, hanya ada dua puluh orang lebih saja yang berhasil menyelamatkan diri. Dengan demikian, ditambah dengan jumlah korban dari pasukannya yang menyerbu tadi, jumlah korban semua dari prajurit Panjalu ada dua ratus orang. Mereka berhasil membasmi pasukan penyembah Bathari Durga dan menewaskan hampir semua anggotanya, namun dengan pengorbanan yang jauh lebih besar!

Pembersihan dilakukan terus-menerus oleh Tejolaksono. Kadang-kadang pasukannya terancam bahaya besar. Ketika pasukannya bertemu dengan barisan musuh di Kulon Progo (sebelah barat Sungai Progo), juga terjadi perang yang amat hebat. Pasukan musuh itu jumlahnya seimbang dengan pasukannya, namun pasukan musuh diperkuat oleh tiga puluh orang raksasa gundul, anak buah Cekel Wisangkoro. Pasukan raksasa gundul inilah yang amat hebat, membuat para prajuritnya kewalahan, karena mereka ini rata-rata memiliki kekebalan dan tenaga yang dahsyat! Gerakan mereka seperti robot, dan memang keadaan pasukan ini seperti bukan manusia-manusia lagi. Semangat mereka dikendalikan oleh Cekel Wisangkoro dengan pengaruh ilmu hitam. Tejolaksono maklum bahwa kalau ia tidak cepat turun tangan, tentu para prajuritnya akan celaka. Maka ia lalu mainkan sepasang goloknya dan tubuhnya sampai lenyap terbungkus dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara mbrengengeng seperti ratusan ekor lebah mengamuk. Gulungan sinar putih ini seperti tangan maut sendiri, mengamuk di antara orang-orang gundul tinggi besar yang dengan nekat dan tidak mengenal takut mengeroyoknya. Lima orang gundul mengeroyok Tejolaksono. Begitu pendekar sakti ini merobohkan mereka dengan kepala remuk dan tubuh terpelanting ke dalam Sungai Progo, lima orang lagi maju menggantikan dan demikianlah, terus- menerus Tejolaksono mengamuk, sementara itu pasukannya kocar-kacir karena tidak sanggup menghadapi pihak lawan yang dibantu reksasa-raksasa gundul yang amat tangguh itu. Setelah dengan tubuh lelah sekali Tejolaksono akhirnya berhasil menewaskan tiga puluh orang raksasa gundul itu, barulah perajurit prajuritnya yang sudah banyak kehilangan kawan itu bangkit semangatnya dan terjadi perang yang amat dahsyat yang berakhir dengan kemenangan pihak Panjalu. Akan tetapi juga dalam perang tanding di pantai Progo ini, Tejolaksono kehilangan banyak perajurit dan dengan kecewa ia tidak dapat menangkap atau menewaskan Cekel Wisangkoro yang berhasil menyelamatkan diri bersama sisa pasukannya.

Berbulan-bulan lamanya Tejolaksono memimpin pasukan Panjalu menghalau musuh yang ternyata telah menanam kuku di sekitar Selopenangkep, di sebelah barat dan utara. Berkat ketekunannya dan kegagahan para prajurit Panjalu, musuh dapat dihalau dan banyak pula yang dapat dihancurkan dan dibasmi. Setelah setahun ia memerangi musuh, pada suatu hari ia mendapat keterangan dari penyelidiknya bahwa di sekitar Gunung Merak terlihat gerakan musuh yang terdiri dari para penyembah Bathara Kala, dipimpin oleh Ki Kolohangkoro. Tejolaksono mengertak gigi karena di antara para musuhnya, Ki Kolohangkoro ini termasuk tokoh besar yang dicari-carinya. Ia mendengar bahwa Ki Kolohangkoro ini adalah adik tunggal guru dengan Wiku Kalawisesa yang telah membunuh banyak ponggawa Panjalu dan Jenggala dan yang kemudian terbunuh di tangan Endang Patibroto. Ia lalu mengumpulkan sejumlah besar pasukan, kemudian memimpin sendiri pasukan Panjalu itu, berangkat ke Gunung Merak untuk membasmi musuh yang ia kira merupakan kekuatan terakhir dari para pengacau. Tiga hari kemudian, menjelang senja, sampailah pasukan Panjalu ini di kaki Gunung Merak. Gunung Merak adalah sebuah gunung yang kecil di antara Pegunungan Kidul, dan karena di situ terdapat banyak burung meraknya maka dinamakan Gunung Merak. Tejolaksono memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di kaki gunung, menyusun tenaga untuk penyerbuan yang akan dilakukan esok hari. Malam itu amat gelap dan pasukannya belum mengenal daerah ini, maka amatlah berbahaya untuk menyerbu malam-malam ke atas, apalagi kalau diingat bahwa pasukan lawan yang sekarang dihadapi adalah pasukan penyembah Bathara Kala yang ia duga tentu lebih kuat daripada yang sudah-sudah.
Dugaan Tejolaksono ini memang benar, akan tetapi ia hanya dapat menduga setengahnya saja. Kalau saja Tejolaksono tahu akan keadaan seluruhnya di puncak Gunung Merak itu, tentu ia akan membawa mundur pasukannya dan baru akan berani menyerbu kalau disertai orang-orang sakti dan pasukan yang amat kuat. Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa pada malam hari itu, puncak Gunung Merak dijadikan tempat bertemuan dan perundingan oleh tokoh-tokoh besar yang menjadi utusan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola! Lengkap hadir semua tokoh besar musuh Panjalu, di antaranya Ni Dewi Nilamanik, Cekel Wisangkoro, Kolohangkoro, Sariwuni dan yang lain.

Bahkan dua orang tokoh puncaknya yang menjadi puncak pimpinan dan wakil kedua kerajaan, hadir pula. Siapakah kedua orang itu? Bukan lain adalah dua orang kakek sakti mandraguna, yaitu Sang Biku Janapati yang mewakili Kerajaan Sriwijaya dan Sang Wasi Bagaspati yang mewakili Kerajaan Cola!
"Sadhu-sadhu-sadhu ! Sayang sekali bahwa andika masih belum sadar sepenuhnya bahwa kekerasan itu tiada guna, hancur oleh kelemasan, Wasi Bagaspati! Penggunaan kesaktian akan sia-sia belaka di sini adalah gudangnya orang-yang sakti mandraguna, keturunan orang-orang Mataram yang tak mungkin dapat ditundukkan dengan aji kedigdayaan.” Demikian antara lain Biku Janapati memperingatkan temannya, Sang Wiku Bagaspati.
Dua orang pendeta sakti ini memikul tugas yang sama, hanya bedanya kalau Biku Janapati mewakili Kerajaan Sriwijaya, adalah Wasi Bagaspati mewakili Kerajaan Cola. Terdapat perbedaan besar dalam sepak terjang mereka menunaikan tugas. Biku Janapati yang bergerak dari utara, menyebar Agama Buddha dengan cara halus dan sama sekali tidak mempergunakan kekerasan, sesuai pula dengan sifat agama itu sendiri yang mendasarkan kasih sayang dan menghapus kebencian dalam tindakannya. Sebaliknya, Wasi Bagaspati yang bergerak dari barat, selain dibantu oleh anak buahnya sendiri para penyembah dan pemuja Sang Hyang Shiwa, juga dibantu oleh para penyembah Bathara Kala dan Bathari Durga, seringkali menggunakan kekerasan, bahkan kini secara berterang anak buahnya mengadakan perang terhadap pasukan Panjalu. Muka Wasi Bagaspati yang sudah merah itu kini menjadi makin merah, kepalanya digerakkan ketika ia tertawa dan rambutnya yang panjang putih itu berkibar-kibar, tampak makin putih seperti benang-benang perak ketika menyentuh pundak bajunya yang berwarna merah darah.
"Heh-heh-heh, Sang Biku Janapati! Kekalahan-kekalahan kecil yang diderita oleh anak buahku menghadapi pasukan Panjalu, bukan apa-apa! Semua adalah gara-gara si adipati cilik Tejolaksono, bocah yang masih ingusan itu! Lihat sajalah, dia dan pasukannya sudah tiba,.. besok aku sendiri akan menghancurkannya, kemudian aku sendiri akan memimpin pasukan menyerbu Panjalu!”
"Wahai ....saudaraku Wasi Bagaspati!" kata Biku Janapati, sepasang matanya terbelalak memandang penuh kekagetan.
"Sebelum berangkat dari Sriwijaya, kita sudah bersepakat tidak akan menggunakan kekerasan, setidaknya, andika tidak akan turun tangan sendiri. Apakah andika akan melanggar janji kita itu?"
Sejenak sepasang mata Wasi Bagaspati memandang tajam dan dua orang sakti itu saling bertentang pandang. Mereka itu dahulu pernah menjadi lawan, yaitu ketika Kerajaan Cola berperang melawan Kerajaan Sriwijaya. Kini setelah kedua kerajaan itu bersabahat, mereka pun menjadi sahabat, namun watak dan sifat kedua orang ini memang jauh berbeda. Biku Janapati suka akan kehalusan dan keramahan, sebaliknya Wasi Bagaspati suka akan kekerasan, suka berkelahi, dan berdarah panas. Namun akhirnya Wasi Bagaspati menghela napas panjang dan lebih dahulu menundukkan mukanya.

Ia maklum bahwa tiada untungnya untuk berselisih faham dengan sahabatnya ini dalam keadaan menghadapi lawan kuat seperti pasukan-pasukan Panjalu.
"Baiklah, Biku Janapati. Andika tidak perlu khawatir. Aku tidak akan turun tangan sendiri. Pula, betapa rendahnya kalau aku berlawan dengan seorang bocah macam Tejolaksono. Tidak, aku dan andika tidak akan turun tangan, hanya akan menjadi penonton. Biarlah para pembantuku yang akan menghadapi Tejolaksono."
"Sadhu-sadhu-sadhu ... begitu barulah lega hatiku! Dan perlu sekali lagi kuperingatkan, saudaraku Wasi Bagaspati bahwa tadi andika telah berjanji bahwa selanjutnya kita akan bekerja sama mempergunakan cara halus demi berhasilnya tugas kita. Dan jangan lupa janji kita dengan Ki Tunggaljiwa, orang-orang tua macam kita tidak perlu turun tangan, biarlah kita serahkan kepada yang muda-muda."
"Ha-ha-ha-ha! Jangan khawatir, sang biku! Murid-muridku sudah banyak, dan manakah murid yang kau ajukan?"
Pendeta itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gundul.
"Buah yang saya imbu (sekap) masih belum dalu (matang)."
"Ha-ha-ha-ha! Kuharap saja tidak mengecewakan kelak."
"Mudah-mudahan begitu, sang wasi."
Demikianlah antara lain percakapan antara dua orang pendeta sakti mandraguna itu di sebuah pondok di puncak Gunung Merak. Kemudian Sang Wasi Bagaspati memanggil dan mengumpulkan anak buahnya dan berundinglah kakek ini dengan Cekel Wisangkoro muridnya, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Sariwuni dan beberapa orang pimpinan pasukan yang menjadi anak buahnya. Setelah mengatur siasat untuk menghadapi pasukan Panjalu, Sang Wasi Bagaspati lalu memasuki kamar untuk beristirahat, ditemani oleh si cantik genit Sariwuni.

Pada keesokan harinya, kokok ayam jantan merupakan pertanda bagi pasukan Panjalu, seperti yang telah direncanakan Tejolaksono, dan mulailah pasukan ini mendaki dituntun sinar matahari yang mulai semburat merah. Karena mereka melakukan penyerbuan dari sisi timur bukit, maka sepagi itu tempat yang mereka lalui sudah kebagian sinar matahari. Ketika pasukan-pasukan Panjalu itu sudah tiba di sebuah lereng yang rata dan luas, barulah mereka mendapat sambutan musuh yang turun berbondong-bondong dari puncak. Mereka ini adalah pasukan penyembah Bathara Kala, rata-rata orangnya tinggi besar dan senjata mereka adalah golok-golok besar dan penggada. Mereka itu menyerbu turun, menyambut pasukan Panjalu sambil bersorak-sorak, melompat-lompat dan bergulingan, dengan gerak-gerak kasar seperti barisan raksasa.
"Serbuuuu !!!" Tejolaksono meneriakkan aba-aba ini untuk menambah semangat pasukannya yang begitu kedua fihak bertemu, terjadilah perang tanding yang dahsyat sekali. Fihak barisan Kala ini adalah anak buah Ki Kolohangkoro, rata-rata memiliki tenaga besar dan ilmu tata kelahi yang ganas dan kuat. Akan tetapi pasukan yang dipimpin Tejolaksono pada saat itu pun merupakan pasukan pilihan dari Panjalu, maka pertandingan itu merupakan pertandingan yang amat seru dan seimbang. Tejolaksono sendiri menyerbu paling depan dan seperti biasa, sepak terjang orang sakti ini hebat bukan main. Sepasang goloknya menderu-deru, mengeluarkan bunyi berdesingan dan "mbrengengeng" seperti suara sekumpulan lebah mengamuk. Celakalah pihak musuh yang berdekatan, karena sepasang goloknya itu tak dapat dihindari lagi, dielak terlalu cepat, ditangkis terlalu kuat sehingga senjata penangkis patah disusul robohnya lawan!
Akan tetapi tiba-tiba Tejolaksono mengeluarkan seruan marah. Ia melihat banyak anak buahnya roboh secara tidak wajar. Ada uap hitam melayang-layang dan bergerak-gerak, keluar dari pihak musuh dan uap hitam yang seperti hidup ini setiap kali menyentuh prajuritnya, prajurit itu tentu roboh pingsan dan tentu saja dengan mudah menjadi korban senjata lawan. Tejolaksono lalu meloncat dan sambil meneriakkan pekik Dirodo Meto ia lalu menyerbu ke arah uap hitam.

<<< Bagian 067                                                                                    Bagian 069 >>>

No comments:

Post a Comment