Perawan Lembah Wilis; Bagian 067


Yang mati untuk memberi kesempatan kepada yang hidup untuk menggantikan yang mati, apa bedanya Menang atau Kalah, apa nilainya? Panggung sandiwara itu tetap terbuka. Layar itu berulang kali dikerek turun naik. Berganti-ganti pelakunya, bertukar sri panggungnya, namun dimulai dan ditutup dengan naik dan turunnya layar. Yang lama turun yang baru naik. Layar dikerek naik lagi untuk kemudian ditutup kembali. Begitu dan begitu seterusnya. Yang tinggal hanya kenangan! Inipun akan terhapus. Dunia sebagai panggung sandiwara lapuk dengan manusia-manusianya sebagai pelaku-pelaku yang selalu haus akan hal baru.
Dipertontonkanlah bermacam gaya dan permainan, semuanya palsu. Drama dan lawak, terutama sekali lawak dengan dagelan-dagelan bermacam gaya! Perang mengamuk di perbatasan sebelah barat Kerajaan Panjalu. Pasukan-pasukan Kerajaan Panjalu yang amat kuat dan terlatih, mengadakan operasi pembersihan di mana-mana. Tidaklah ringan tugas ini. Di mana-mana mereka mendapat sambutan, dan terjadilah perang tanding. Namun pasukan-pasukan Panjalu memang terlatih dan kuat, apa lagi jumlahnya besar dan di mana-mana mendapat dukungan rakyat. Terutama sekali induk barisan yang dipimpin sendiri oleh Tejolaksono. Menggempur sana menerjang sini, dan di mana saja pasukan-pasukan liar musuh tentu dibikin kocar-kacir, kalau tidak dibasmi sama sekali. Barisan Panjalu terus bergerak ke barat. Banyak sudah pasukan lawan dapat dihancurkan, namun belum pernah idam-idaman hati Tejolaksono terpenuhi, yaitu menangkap atau membunuh tokoh-tokoh yang menggerakkan pasukan-pasukan asing itu. Ingin sekali ia dapat berhadapan dengan anak buah Biku Janapati dan Wasi Bagaspati. Ingin sekali ia dapat menangkap Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Sariwuni dan kawan-kawan mereka itu. Namun tak pernah ia berkesempatan bertanding yuda dengan mereka itu yang agaknya bergerak di balik tabir hitam dan selalu melarikan diri kalau melihat pasukan mereka terpukul mundur. Akhirnya, setelah menghalau penghalang-penghalang yang berupa pasukan-pasukan liar musuh, barisan yang dipimpin Tejolaksono berhasil menduduki kembali Selopenangkep. Hati sang adipati remuk redam ketika ia menyaksikan keadaan Selopenangkep.

Rakyatnya mengalami penderitaan hebat. Banyak wanita diperkosa, laki-laki dibunuh dan mereka semua diharuskan menjadi penyembah-penyembah Durga dan Bathara Kala. Keadaan istana kadipaten sendiri rusak dan hancur. Barang-barang berharga sudah lenyap, bahkan sebagian besar bangunannya ambruk dan terbakar. Tejolaksono makin sakit hatinya. Ia terus mengadakan pembersihan di sekitar daerah Selopenangkep, setiap hari memimpin pasukan keluar untuk melakukan pengejaran dan pembersihan. Sesungguhnya tidak ringan tugas yang dipikul oleh Tejolaksono dan prajurit-prajurit Panjalu, karena pihak lawan kadang-kadang mengadakan perlawanan hebat sehingga menimbulkan banyak korban pula di pihak Panjalu.
Ketika pasukan Panjalu mengadakan penyerbuan di Gunung Mentasari yang menjadi markas besar Ni Dewi Nilamanik, pasukan Panjalu menghadapi perlawanan yang luar biasa beratnya dan hampir saja pasukan Panjalu mengalami bencana besar. Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Tejolaksono, berjumlah tiga ratus orang, karena menurut para penyelidik, puncak Mentasari itu hanya dihuni oleh wanita-wanita penyembah Durga yang jumlahnya tidak banyak. Dan memang keterangan para penyelidik ini tidak salah. Puncak Mentasari dijadikan tempat pusat atau markas besar untuk sementara waktu oleh Ni Dewi Nilamanik dan di sini ia mempunyai anak buah sebanyak sembilah puluh sembilan orang, kesemuanya wanita-wanita yang cantik-cantik dan genit- genit. Tejolaksono yang selalu bersikap hati-hati dan waspada tidak mau memandang rendah pihak lawan. Selain ini, juga ia ingin sekali dapat menangkap hidup atau mati pimpinan pasukan penyembah Bathari Durga itu, yakni Ni Dewi Nilamanik. Maka ia lalu membagi pasukannya menjadi lima dan mendaki Bukit Mentasari dari lima jurusan. Dari empat jurusan masing-masing terdiri dari lima puluh orang prajurit sedangkan seratus orang prajurit lagi ia pimpin sendiri, mendaki dari jalan biasa, langsung ke puncak. Inilah kesalahan Tejolaksono. Ia terlalu hati-hati dan mengambil jalan mengurung, akan tetapi hal ini malah menjadi berbahaya karena berarti bahwa sebagian daripada prajurit-prajuritnya terpisah daripadanya. Inilah bahayanya menghadapi perlawanan kasar yang menggunakan kekerasan, tentu saja para prajurit itu sudah terlatih dan tergembleng dan kiranya akan dapat menanggulangi musuh. Akan tetapi menghadapi sambutan halus yang didasari kesaktian ilmu hitam, tentu saja hanya Tejolaksono yang akan dapat menghadapinya. Demikianlah, setelah memecah pasukannya menjadi lima, Tejolaksono sendiri lalu memimpin sisa pasukan mendaki Gunung Mentasari yang tidak berapa tinggi itu. Ia sudah memperhitungkan bahwa penghuni gunung itu tentu tidak akan dapat meloloskan diri karena pasukan-pasukannya mengepung dan memasuki dari lima jurusan. Maka untuk mencapai puncak, ia sengaja membawa pasukannya lambat-lambat saja menuju sarang musuh. Setelah hampir tiba di puncak, Tejolaksono menyuruh pasukannya bersembunyi dan menanti tanda rahasia pasukan-pasukan lain yang mengepung puncak. Tanda rahasia itu adalah bunyi emprit gantil yang diulang sampai tiga kali. Puncak di mana berdiri bangunan-bangunan para penyembah Bathari Durga tampak sunyi-sunyi saja, sungguhpun asap yang mengepul menjadi tanda bahwa penghuninya masih ada dan mungkin asap itu adalah asap dari dapur mereka. Telah lama Tejolaksono menanti, namun belum juga ada tanda-tanda dari empat pasukannya yang lain. Padahal menurutkan perhitungannya, pasti mereka telah tiba di puncak, atau sedikitnya satu di antara empat tentu sudah sampai. Ia menjadi tidak sabar dan juga gelisah. Tidak munculnya empat pasukan kecil itu boleh jadi berarti bahwa mereka mendapatkan bencana yang tak terduga-duga. Oleh karena itu, Tejolaksono lalu memberi tanda dan dia sendiri lebih dulu menyerbu naik ke atas puncak, menuju bangunan-bangunan yang sudah kelihatan dari tempat mereka bersembunyi tadi. Pasukannya yang seratus orang banyaknya itupun bersorak dan menyerbu ke puncak. Sudah gatal-gatal tangan mereka dan kesal hari mereka karena sejak tadi bersembunyi dan berdiam diri saja. Tiba-tiba dari dalam bangunan itu bermunculan banyak sekali wanita cantik dan ...sorak-sorai para prajurit Panjalu itu seketika terhenti. Sebagian besar di antara mereka terhenyak di tempatnya seperti berubah menjadi arca dengan mata terbelalak memandang ke depan dan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus dilakukan! Bermacam-macam perasaan tampak pada wajah para prajurit yang tadinya bersernangat penuh untuk bertanding ini. Ada yang tersipu-sipu malu, ada yang terbelalak dan terpesona penuh gairah, ada yang mengeluarkan kutuk, dan ada pula yang menjadi pucat pasi mukanya. Betapa mereka tidak akan tercengang ketika mendapat kenyataan bahwa musuh yang mereka serbu ini ketika muncul merupakan sekumpulan wanita muda cantik dan berpakaian tipis setengah telanjang, yang berlari-lari menyambut mereka dengan rambut panjang terurai lepas, pakaian sutera tipis berkibar setengah terbuka, mata bergerak genit dan mulut tersenyum-senyum memikat penuh daya rangsang.

Akan tetapi tiga prajurit terdepan yang bergerak maju dengan pandang mata penuh gairah terpikat dan hendak merangkul wanita-wanita itu, tiba-tiba roboh terguling oleh kilatan keris-keris yang berada di tangan wanita-wanita itu dan yang disembunyikan di balik pakaian yang berkibar-kibar! Menyaksikan keadaan ini, Tejolaksono maklum bahwa pihak lawan mempergunakan pikatan berupa anggota-anggotanya yang muda dan cantik, diperkuat oleh pengaruh ilmu hitam yang melemahkan semangat para prajuritnya. Maka ia lalu mengerahkan hawa sakti di dadanya dan mengeluarkan pekik Dirodo Meto yang mempunyai pengaruh dan wibawa besar dan hebat sehingga sejenak buyarlah kekuatan ilmu hitam guna-guna yang dibawa oleh wanita-wanita setengah telanjang itu dan terkejutlah semua prajurit Panjalu seperti mendengar halilintar di dekat telinga. Karena terkejut, mereka sadar dan sejenak mereka terbebas daripada cengkeraman hawa ilmu hitam yang mempesonakan hati mereka tadi.
"Semua prajurit perkasa maju! Mereka adalah iblis-iblis betina yang harus dihancurkan!" teriakan Tejolaksono menggema di seluruh puncak bukit itu dan kini semangat para prajurit terbangun kembali. Tubuh-tubuh setengah telanjang dan wajah cantik tersenyum-senyum tidak lagi tampak cantik menarik dan lemah gemulai, melainkan tampak seperti wajah Bathari Durga di kala marah, mengerikan dan menjijikkan. Seketika mereka serentak maju dan menggerakkan senjata dan terjadilah perang tanding karena kini para penyembah Durga, anak buah Ni Dewi Nilamanik itu maklum bahwa pengaruh ilmu guna-guna yang disebar guru mereka sudah kehilangan kekuatannya dan mereka tidak lagi dapat mengandalkan ilmu itu, melainkan harus mengandalkan senjata dan ketangkasan. Namun, dalam hal ketangkasan bertanding mempergunakan tenaga dan senjata, para anak buah Di Dewi Nilamanik ini tidak dapat mengimbangi kegagahan para prajurit Panjalu sehingga mulailah terdengar jerit-jerit kesakitan disusul robohnya wanita-wanita itu. Adapun Tejolaksono sendiri setelah dengan hati lega menyaksikan kepulihan semangat para prajuritnya, lalu meloncat ke depan dan langsung ia menyerbu Ni Dewi Nilamanik yang baru muncul keluar dari pintu. Ia tidak mengenal wanita ini, namun melihat pakaiannya yang indah, kecantikannya yang mengagumkan dan mengerikan karena mata batinnya yang waspada dapat melihat betapa kecantikan itu tidak wajar dan di balik kecantikan yang menonjol oleh daya ilmu hitam ini bersembunyi kekejaman yang amat luar biasa, dapatlah ia menduga dengan cepat siapa adanya wanita ini. Apalagi melihat betapa wanita itu memegang sebuah pengebut lalat yang terbuat daripada benang semacam serat berwarna, merah dan berbentuk seperti buntut kuda. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang maju, menggunakan sepasang goloknya yang sengaja dibuat oleh adipati ini dan menjadi senjatanya yang ampuh selama ia melakukan tunas pembersihan menghalau musuh dari daerah Panjalu.

Akan tetapi, Ni Dewi Nilamanik pada saat itu menjadi terkejut dan marah ketika memperhatikan anak buahnya. Tadi ia telah mempergunakan ilmu hitamnya, meniupkan aji guna-guna kepada para muridnya sehingga setiap orang pria yang bertemu tentu akan luluh semangatnya dan tergila-gila. Bagaimana sekarang murid-muridnya itu dihajar sampai banyak yang roboh tewas oleh para prajurit Panjalu? Kini melihat berkelebatnya tubuh Tejolaksono yang didahului dengan gulungan dua sinar golok berkilauan, Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah melesat ke samping. Dalam mengelak ini, Ni Dewi Nilamanik membarengi dengan gerakan pengebutnya. Sinar merah menyambar dari samping ke arah Tejolaksono, mengeluarkan bunyi
"Tarrrr.. !!" keras sekali.
Tejolaksono yang sudah menduga akan kesaktian wanita ini, tidak berani memandang rendah dan cepat pergelangan tangannya bergerak memutar, membuat golok kanannya membentuk lingkaran menangkis sinar merah itu. Akan tetapi sinar tak kunjung datang dan ketika ia memandang, ternyata wanita itu sudah melesat jauh ke depan dan tangan kiri wanita itu dengan gerakan kuat sekali, melempar-lemparkan sesuatu ke atas. Seketika tempat itu menjadi gelap oleh debu putih yang disebar oleh Ni Dewi Nilamanik itu dan dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hati Tejolaksono ketika melihat para prajuritnya yang terdepan menjadi terhuyung-huyung dan terengah-engah sehingga mereka ini dengan mudah dapat dirobohkan oleh anak buah Ni Dewi Nilamanik yang tertawa terkekeh-kekeh karena girang hati menyaksikan anak buahnya membunuhi prajurit-prajurit Panjalu.
"Bedebah, iblis betina!" Adipati Tejolaksono berseru marah sekali dan tubuhnya mencelat ke atas, menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik. Sebuah teriakan keras menggema keluar dari mulutnya dan dua gulungan sinar goloknya menyilaukan mata, menyambar dengan gerakan menyilang seperti dua ekor ular naga menukik turun dari angkasa.
"Heeeiiiiittt.....!!" Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia mengeluarkan jerit ini dan tubuhnya dilempar ke belakang, terjengkang dan rebah terus bergulingan di atas tanah untuk menyelamatkan diri daripada dua gulungan sinar maut yang keluar dari sepasang golok di tangan Tejolaksono. Kemudian dari bawah, sinar merah kebutannya meluncur ke arah perut Tejolaksono dengan kecepatan kilat sehingga pendekar sakti ini terpaksa menghentikan serangannya dan menangkis dengan golok disilang, dengan maksud menggunting putus ujung kebutan. Akan tetapi ternyata jurus-jurus yang dimainkan wanita itu penuh tipu muslihat karena kali ini kembali luncuran senjatanya hanya merupakan gerak tipu belaka dan sudah melejit ke bawah. Dengan tubuh masih di atas tanah, mendekam, wanita itu kini menyambarkan kebutannya hendak menyerimpung kedua kaki Tejolaksono yang kagum bukan main. Dari keadaan terdesak, ternyata dalam satu dua jurus saja wanita itu sudah membalikkan keadaan, menjadi balas mendesak. Terpaksa Tejolaksono meloncat ke atas dan terjadilah perang tanding yang amat seru dan hebat antara Ni Dewi Nilamanik dan Tejolaksono. Sementara itu karena kini didesak Tejolaksono, Ni Dewi Nilamanik tidak dapat lagi mengacaukan para prajurit dan kembali para prajurit Panjalu menerjang para wanita anak buah Ni Dewi Nilamanik sehingga terdengar pekik susul-menyusul yang keluar dari mulut para wanita yang roboh oleh senjata para prajurit. Melihat keadaan tidak menguntungkan, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan menyayat hati, tangan kanan digerakkan dan ...tiba-tiba semua bulu kebutan yang berwarna merah itu terlepas dari gagangnya dan bagaikan ratusan ekor ular merah yang kecil menyambar ke depan, sebagian ke arah Tejolaksono dan sebagian lagi ke arah prajurit-prajurit yang berdekatan.

<<< Bagian 066                                                                                   Bagian 068 >>>

No comments:

Post a Comment