Yang mati untuk memberi kesempatan kepada yang hidup untuk menggantikan yang mati, apa bedanya Menang atau Kalah, apa nilainya? Panggung sandiwara itu tetap terbuka. Layar itu berulang kali dikerek turun naik. Berganti-ganti pelakunya, bertukar sri panggungnya, namun dimulai dan ditutup dengan naik dan turunnya layar. Yang lama turun yang baru naik. Layar dikerek naik lagi untuk kemudian ditutup kembali. Begitu dan begitu seterusnya. Yang tinggal hanya kenangan! Inipun akan terhapus. Dunia sebagai panggung sandiwara lapuk dengan manusia-manusianya sebagai pelaku-pelaku yang selalu haus akan hal baru.
Dipertontonkanlah bermacam
gaya dan permainan, semuanya palsu. Drama dan lawak, terutama sekali lawak
dengan dagelan-dagelan bermacam gaya! Perang mengamuk di perbatasan sebelah
barat Kerajaan Panjalu. Pasukan-pasukan Kerajaan Panjalu yang amat kuat dan
terlatih, mengadakan operasi pembersihan di mana-mana. Tidaklah ringan tugas
ini. Di mana-mana mereka mendapat sambutan, dan terjadilah perang tanding.
Namun pasukan-pasukan Panjalu memang terlatih dan kuat, apa lagi jumlahnya
besar dan di mana-mana mendapat dukungan rakyat. Terutama sekali induk barisan
yang dipimpin sendiri oleh Tejolaksono. Menggempur sana menerjang sini, dan di
mana saja pasukan-pasukan liar musuh tentu dibikin kocar-kacir, kalau tidak
dibasmi sama sekali. Barisan Panjalu terus bergerak ke barat. Banyak sudah
pasukan lawan dapat dihancurkan, namun belum pernah idam-idaman hati Tejolaksono
terpenuhi, yaitu menangkap atau membunuh tokoh-tokoh yang menggerakkan
pasukan-pasukan asing itu. Ingin sekali ia dapat berhadapan dengan anak buah
Biku Janapati dan Wasi Bagaspati. Ingin sekali ia dapat menangkap Cekel
Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Sariwuni dan kawan-kawan mereka
itu. Namun tak pernah ia berkesempatan bertanding yuda dengan mereka itu yang
agaknya bergerak di balik tabir hitam dan selalu melarikan diri kalau melihat
pasukan mereka terpukul mundur. Akhirnya, setelah menghalau
penghalang-penghalang yang berupa pasukan-pasukan liar musuh, barisan yang
dipimpin Tejolaksono berhasil menduduki kembali Selopenangkep. Hati sang
adipati remuk redam ketika ia menyaksikan keadaan Selopenangkep.
Rakyatnya mengalami
penderitaan hebat. Banyak wanita diperkosa, laki-laki dibunuh dan mereka semua
diharuskan menjadi penyembah-penyembah Durga dan Bathara Kala. Keadaan istana
kadipaten sendiri rusak dan hancur. Barang-barang berharga sudah lenyap, bahkan
sebagian besar bangunannya ambruk dan terbakar. Tejolaksono makin sakit
hatinya. Ia terus mengadakan pembersihan di sekitar daerah Selopenangkep,
setiap hari memimpin pasukan keluar untuk melakukan pengejaran dan pembersihan.
Sesungguhnya tidak ringan tugas yang dipikul oleh Tejolaksono dan
prajurit-prajurit Panjalu, karena pihak lawan kadang-kadang mengadakan
perlawanan hebat sehingga menimbulkan banyak korban pula di pihak Panjalu.
Ketika pasukan Panjalu
mengadakan penyerbuan di Gunung Mentasari yang menjadi markas besar Ni Dewi
Nilamanik, pasukan Panjalu menghadapi perlawanan yang luar biasa beratnya dan
hampir saja pasukan Panjalu mengalami bencana besar. Pasukan ini dipimpin
sendiri oleh Tejolaksono, berjumlah tiga ratus orang, karena menurut para
penyelidik, puncak Mentasari itu hanya dihuni oleh wanita-wanita penyembah
Durga yang jumlahnya tidak banyak. Dan memang keterangan para penyelidik ini
tidak salah. Puncak Mentasari dijadikan tempat pusat atau markas besar untuk
sementara waktu oleh Ni Dewi Nilamanik dan di sini ia mempunyai anak buah
sebanyak sembilah puluh sembilan orang, kesemuanya wanita-wanita yang
cantik-cantik dan genit- genit. Tejolaksono yang selalu bersikap hati-hati dan
waspada tidak mau memandang rendah pihak lawan. Selain ini, juga ia ingin
sekali dapat menangkap hidup atau mati pimpinan pasukan penyembah Bathari Durga
itu, yakni Ni Dewi Nilamanik. Maka ia lalu membagi pasukannya menjadi lima dan
mendaki Bukit Mentasari dari lima jurusan. Dari empat jurusan masing-masing
terdiri dari lima puluh orang prajurit sedangkan seratus orang prajurit lagi ia
pimpin sendiri, mendaki dari jalan biasa, langsung ke puncak. Inilah kesalahan
Tejolaksono. Ia terlalu hati-hati dan mengambil jalan mengurung, akan tetapi
hal ini malah menjadi berbahaya karena berarti bahwa sebagian daripada
prajurit-prajuritnya terpisah daripadanya. Inilah bahayanya menghadapi
perlawanan kasar yang menggunakan kekerasan, tentu saja para prajurit itu sudah
terlatih dan tergembleng dan kiranya akan dapat menanggulangi musuh. Akan
tetapi menghadapi sambutan halus yang didasari kesaktian ilmu hitam, tentu saja
hanya Tejolaksono yang akan dapat menghadapinya. Demikianlah, setelah memecah
pasukannya menjadi lima, Tejolaksono sendiri lalu memimpin sisa pasukan mendaki
Gunung Mentasari yang tidak berapa tinggi itu. Ia sudah memperhitungkan bahwa
penghuni gunung itu tentu tidak akan dapat meloloskan diri karena
pasukan-pasukannya mengepung dan memasuki dari lima jurusan. Maka untuk
mencapai puncak, ia sengaja membawa pasukannya lambat-lambat saja menuju sarang
musuh. Setelah hampir tiba di puncak, Tejolaksono menyuruh pasukannya
bersembunyi dan menanti tanda rahasia pasukan-pasukan lain yang mengepung
puncak. Tanda rahasia itu adalah bunyi emprit gantil yang diulang sampai tiga
kali. Puncak di mana berdiri bangunan-bangunan para penyembah Bathari Durga
tampak sunyi-sunyi saja, sungguhpun asap yang mengepul menjadi tanda bahwa
penghuninya masih ada dan mungkin asap itu adalah asap dari dapur mereka. Telah
lama Tejolaksono menanti, namun belum juga ada tanda-tanda dari empat
pasukannya yang lain. Padahal menurutkan perhitungannya, pasti mereka telah
tiba di puncak, atau sedikitnya satu di antara empat tentu sudah sampai. Ia
menjadi tidak sabar dan juga gelisah. Tidak munculnya empat pasukan kecil itu
boleh jadi berarti bahwa mereka mendapatkan bencana yang tak terduga-duga. Oleh
karena itu, Tejolaksono lalu memberi tanda dan dia sendiri lebih dulu menyerbu
naik ke atas puncak, menuju bangunan-bangunan yang sudah kelihatan dari tempat
mereka bersembunyi tadi. Pasukannya yang seratus orang banyaknya itupun
bersorak dan menyerbu ke puncak. Sudah gatal-gatal tangan mereka dan kesal hari
mereka karena sejak tadi bersembunyi dan berdiam diri saja. Tiba-tiba dari
dalam bangunan itu bermunculan banyak sekali wanita cantik dan ...sorak-sorai
para prajurit Panjalu itu seketika terhenti. Sebagian besar di antara mereka
terhenyak di tempatnya seperti berubah menjadi arca dengan mata terbelalak
memandang ke depan dan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus dilakukan!
Bermacam-macam perasaan tampak pada wajah para prajurit yang tadinya
bersernangat penuh untuk bertanding ini. Ada yang tersipu-sipu malu, ada yang
terbelalak dan terpesona penuh gairah, ada yang mengeluarkan kutuk, dan ada
pula yang menjadi pucat pasi mukanya. Betapa mereka tidak akan tercengang
ketika mendapat kenyataan bahwa musuh yang mereka serbu ini ketika muncul
merupakan sekumpulan wanita muda cantik dan berpakaian tipis setengah
telanjang, yang berlari-lari menyambut mereka dengan rambut panjang terurai
lepas, pakaian sutera tipis berkibar setengah terbuka, mata bergerak genit dan
mulut tersenyum-senyum memikat penuh daya rangsang.
Akan tetapi tiga prajurit
terdepan yang bergerak maju dengan pandang mata penuh gairah terpikat dan
hendak merangkul wanita-wanita itu, tiba-tiba roboh terguling oleh kilatan
keris-keris yang berada di tangan wanita-wanita itu dan yang disembunyikan di
balik pakaian yang berkibar-kibar! Menyaksikan keadaan ini, Tejolaksono maklum
bahwa pihak lawan mempergunakan pikatan berupa anggota-anggotanya yang muda dan
cantik, diperkuat oleh pengaruh ilmu hitam yang melemahkan semangat para
prajuritnya. Maka ia lalu mengerahkan hawa sakti di dadanya dan mengeluarkan
pekik Dirodo Meto yang mempunyai pengaruh dan wibawa besar dan hebat sehingga sejenak
buyarlah kekuatan ilmu hitam guna-guna yang dibawa oleh wanita-wanita setengah
telanjang itu dan terkejutlah semua prajurit Panjalu seperti mendengar
halilintar di dekat telinga. Karena terkejut, mereka sadar dan sejenak mereka
terbebas daripada cengkeraman hawa ilmu hitam yang mempesonakan hati mereka
tadi.
"Semua prajurit perkasa
maju! Mereka adalah iblis-iblis betina yang harus dihancurkan!" teriakan
Tejolaksono menggema di seluruh puncak bukit itu dan kini semangat para
prajurit terbangun kembali. Tubuh-tubuh setengah telanjang dan wajah cantik
tersenyum-senyum tidak lagi tampak cantik menarik dan lemah gemulai, melainkan
tampak seperti wajah Bathari Durga di kala marah, mengerikan dan menjijikkan.
Seketika mereka serentak maju dan menggerakkan senjata dan terjadilah perang
tanding karena kini para penyembah Durga, anak buah Ni Dewi Nilamanik itu
maklum bahwa pengaruh ilmu guna-guna yang disebar guru mereka sudah kehilangan
kekuatannya dan mereka tidak lagi dapat mengandalkan ilmu itu, melainkan harus
mengandalkan senjata dan ketangkasan. Namun, dalam hal ketangkasan bertanding
mempergunakan tenaga dan senjata, para anak buah Di Dewi Nilamanik ini tidak
dapat mengimbangi kegagahan para prajurit Panjalu sehingga mulailah terdengar
jerit-jerit kesakitan disusul robohnya wanita-wanita itu. Adapun Tejolaksono
sendiri setelah dengan hati lega menyaksikan kepulihan semangat para
prajuritnya, lalu meloncat ke depan dan langsung ia menyerbu Ni Dewi Nilamanik
yang baru muncul keluar dari pintu. Ia tidak mengenal wanita ini, namun melihat
pakaiannya yang indah, kecantikannya yang mengagumkan dan mengerikan karena
mata batinnya yang waspada dapat melihat betapa kecantikan itu tidak wajar dan
di balik kecantikan yang menonjol oleh daya ilmu hitam ini bersembunyi kekejaman
yang amat luar biasa, dapatlah ia menduga dengan cepat siapa adanya wanita ini.
Apalagi melihat betapa wanita itu memegang sebuah pengebut lalat yang terbuat
daripada benang semacam serat berwarna, merah dan berbentuk seperti buntut
kuda. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang maju, menggunakan sepasang
goloknya yang sengaja dibuat oleh adipati ini dan menjadi senjatanya yang ampuh
selama ia melakukan tunas pembersihan menghalau musuh dari daerah Panjalu.
Akan tetapi, Ni Dewi
Nilamanik pada saat itu menjadi terkejut dan marah ketika memperhatikan anak
buahnya. Tadi ia telah mempergunakan ilmu hitamnya, meniupkan aji guna-guna
kepada para muridnya sehingga setiap orang pria yang bertemu tentu akan luluh
semangatnya dan tergila-gila. Bagaimana sekarang murid-muridnya itu dihajar
sampai banyak yang roboh tewas oleh para prajurit Panjalu? Kini melihat
berkelebatnya tubuh Tejolaksono yang didahului dengan gulungan dua sinar golok
berkilauan, Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah
melesat ke samping. Dalam mengelak ini, Ni Dewi Nilamanik membarengi dengan
gerakan pengebutnya. Sinar merah menyambar dari samping ke arah Tejolaksono,
mengeluarkan bunyi
"Tarrrr.. !!"
keras sekali.
Tejolaksono yang sudah
menduga akan kesaktian wanita ini, tidak berani memandang rendah dan cepat
pergelangan tangannya bergerak memutar, membuat golok kanannya membentuk
lingkaran menangkis sinar merah itu. Akan tetapi sinar tak kunjung datang dan
ketika ia memandang, ternyata wanita itu sudah melesat jauh ke depan dan tangan
kiri wanita itu dengan gerakan kuat sekali, melempar-lemparkan sesuatu ke atas.
Seketika tempat itu menjadi gelap oleh debu putih yang disebar oleh Ni Dewi
Nilamanik itu dan dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hati Tejolaksono ketika
melihat para prajuritnya yang terdepan menjadi terhuyung-huyung dan
terengah-engah sehingga mereka ini dengan mudah dapat dirobohkan oleh anak buah
Ni Dewi Nilamanik yang tertawa terkekeh-kekeh karena girang hati menyaksikan
anak buahnya membunuhi prajurit-prajurit Panjalu.
"Bedebah, iblis
betina!" Adipati Tejolaksono berseru marah sekali dan tubuhnya mencelat ke
atas, menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik. Sebuah teriakan keras menggema
keluar dari mulutnya dan dua gulungan sinar goloknya menyilaukan mata,
menyambar dengan gerakan menyilang seperti dua ekor ular naga menukik turun
dari angkasa.
"Heeeiiiiittt.....!!"
Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia mengeluarkan
jerit ini dan tubuhnya dilempar ke belakang, terjengkang dan rebah terus
bergulingan di atas tanah untuk menyelamatkan diri daripada dua gulungan sinar
maut yang keluar dari sepasang golok di tangan Tejolaksono. Kemudian dari
bawah, sinar merah kebutannya meluncur ke arah perut Tejolaksono dengan
kecepatan kilat sehingga pendekar sakti ini terpaksa menghentikan serangannya
dan menangkis dengan golok disilang, dengan maksud menggunting putus ujung
kebutan. Akan tetapi ternyata jurus-jurus yang dimainkan wanita itu penuh tipu
muslihat karena kali ini kembali luncuran senjatanya hanya merupakan gerak tipu
belaka dan sudah melejit ke bawah. Dengan tubuh masih di atas tanah, mendekam,
wanita itu kini menyambarkan kebutannya hendak menyerimpung kedua kaki
Tejolaksono yang kagum bukan main. Dari keadaan terdesak, ternyata dalam satu
dua jurus saja wanita itu sudah membalikkan keadaan, menjadi balas mendesak.
Terpaksa Tejolaksono meloncat ke atas dan terjadilah perang tanding yang amat
seru dan hebat antara Ni Dewi Nilamanik dan Tejolaksono. Sementara itu karena
kini didesak Tejolaksono, Ni Dewi Nilamanik tidak dapat lagi mengacaukan para
prajurit dan kembali para prajurit Panjalu menerjang para wanita anak buah Ni
Dewi Nilamanik sehingga terdengar pekik susul-menyusul yang keluar dari mulut
para wanita yang roboh oleh senjata para prajurit. Melihat keadaan tidak
menguntungkan, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan menyayat hati,
tangan kanan digerakkan dan ...tiba-tiba semua bulu kebutan yang berwarna merah
itu terlepas dari gagangnya dan bagaikan ratusan ekor ular merah yang kecil
menyambar ke depan, sebagian ke arah Tejolaksono dan sebagian lagi ke arah
prajurit-prajurit yang berdekatan.
No comments:
Post a Comment