"Meninggalkan kadipaten, membiarkan kadipaten jatuh ke tangan musuh? Maaf, Gusti adipati! Akan tetapi sungguh-sungguh hamba tidak dapat menerima pendapat ini. Musuh baru boleh menduduki kadipaten, akan tetapi hanya melalui mayat hamba!" bantah panglima tua yang sudah puluhan tahun menjadi hulubalang di Kadipaten Selopenangkep. Pernyataan yang gagah ini kembali disetujui semua kawannya. Adipati Tejolaksono yang duduk di dekat isterinya, mengangguk-angguk dan berkata kembali
"Aku dapat menghargai
kesetiaan kalian, dan jangan mengira bahwa aku sendiri kurang mencinta
Kadipaten Selopenangkep. Aku terlahir di tempat ini, dan sudah menjadi
kewajibanku untuk mempertahankan Selopenangkep. Akan tetapi, hendaknya andika
sekalian mengerti bahwa gerakan musuh ini bukanlah sekedar untuk memusuhi
Selopenangkep. Sama sekali bukan, Selopenangkep hanya merupakan awalan yang
kecil saja. Gerakan mereka merupakan ancaman untuk seluruh Nuswantara, dan
tujuan mereka adalah menundukkan Panjalu dan Jenggala. Kalau sekali ini kita
kalah, bukan berarti kita kalah perang. Sama sekali tidak, Paman dan Kakang
senopati. Kekalahan kita sekarang ini dapat kita tebus kelak dalam pertempuran
di lain kesempatan, bukan kalah perang melainkan hanya kalah dalam suatu
pertempuran karena kalah banyak jumlah perajurit kita. Kita harus mencari
siasat dan jalan untuk keluar dari sini dalam keadaan selamat."
"Maaf, Gusti adipati.
Sungguhpun benar apa yang Paduka katakan, akan tetapi hamba tetap berpendapat
bahwa amatlah tidak layak bagi seorang prajurit untuk tinggalkan gelanggang
perang, melarikan diri seperti orang-orang penakut dan pengecut! Hamba tidak
takut mati di tangan musuh, Gusti. Hamba tidak akah membiarkan musuh menduduki
Selopenangkep sebelum hamba mati!" Demikian kata panglima tua yang amat
setia. Kawan-kawannya mengangguk membenarkan. Marahlah Adipati Tejolaksono.
Dengan pandang mata tajam ia menatap wajah para pembantunya, seorang demi
seorang. Demikian tajam berpengaruh pandang mata Adipati Tejolaksono sehingga
mereka itu menundukkan muka tidak berani menentang pandang.
"Andika sekalian
terlalu mabuk kegagahan sehingga lupa akan tugas terutama dan terpenting
seorang prajurit. Apakah tugas pertama seorang prajurit? Patuh dan taat akan
perintah atasan! Dan sekarang, andika sekalian sudah hendak melanggar tugas
pertama ini! Apakah andika semua sudah tidak mengakui lagi aku sebagai atas
kalian?"
Suara yang marah dan
berwibawa ini tidak ada yang membantah. Semua perwira hanya menundukkan muka
dan biarpun mereka masih merasa penasaran, namun teguran ini membuat mereka
merasa malu sekali. Adipati Tejolaksono menghela napas panjang, lalu berkata,
"Paman dan Kakang
senopati semua. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku Tejolaksono takut
menghadapi maut dalam perang melawan musuh. Sama sekali tidak, seujung
rambutpun tidak! Dan jangan mengira aku mengajak andika semua menyelamatkan
diri karena
takut kepada musuh, sama
sekali tidak! Aku mengambil keputusan ini setelah kuwawas dengan matang,
setelah kupertimbangkan semasak-masaknya. Hanyalah orang bodoh yang berlaku
nekad dan membunuh diri tanpa ada manfaatnya. Kita terkepung, jumlah musuh jauh
terlalu banyak sehingga kalau kita berkeras melawan, kita akan membuang nyawa
secara sia-sia belaka. Kita tidak boleh buta akan kenyataan, dan dapat
mengetrapkan keberanian kita pada saat yang tepat. Kalau kita berkeras
mempertahankan Selopenangkep, akhirnya kita akan tewas semua dan apakah andika
kira bahwa kalau kita tewas Selopenangkep tidak akan diduduki musuh? Sia-sia belaka
kita nekat tanpa perhitungan. Sebaliknya, kalau kita dapat menyelamatkan diri
membebaskan diri daripada kepungan, benar bahwa Selopenangkei akan diduduki
musuh. Akan tetapi kita masih hidup dan tentu saja kita tidak akan tinggal
diam. Kita akan menyatukan diri dengan pasukan Panjalu dan kembali ke sini.
Nah, saat itulah kita boleh mempertaruhkan nyawa dalam perang yang seimbang.
Selain itu, jangan andika sekalian mengira akan mudah saja membebaskan diri
daripada kepungan musuh ini. Sama sekali tidak! Kita harus menerobos dan
membuka jalan darah, bertanding mati-matian, mungkin sekali banyak di antara
kita akan tewas, akan tetapi setidaknya, sebagian daripada kita akan selamat
dan kelak akan membalaskan kematian kawan-kawan yang gugur. Kalau kita nekat mempertahankan
di sini, kita semua mati. Siapa kelak yang akan membalaskan kematian
kita?"
Ucapan sang adipati yang
panjang lebar ini menyadarkan para senopati. Mereka mengangguk-angguk dan
menyatakan setuju. Maka diaturlah siasat. Malam itu, kalau para musuh menyerang
dengan anak panah, pasukan diharuskan membiarkan saja dan tidak terlalu
membuang tenaga memadamkan api, bahkan lebih baik menyimpan tenaga dan
beristirahat sambil berlindung. Kemudian, jauh lewat tengah malam, ketika
diperkirakan lawan yang lelah itu mengaso, mereka akan menyerbu keluar melalui
pintu gerbang sebelah utara. Seperti pada malam-malam yang lalu, malam itu
pihak musuh juga menghujankan panah api. Para prajurit Selopenangkep, sesuai
dengan perintah sang adipati, hanya memadamkan api yang sekiranya berbahaya
saja. Mereka lebih sibuk bersiap untuk menyerbu keluar pagi nanti dan
beristirahat mengumpulkan tenaga. Keluarga para prajurit yang sudah dikumpulkan
di kadipaten, berikut anak-anak mereka, telah pula bersiap-siap melarikan diri
bersama-sama karena mereka maklum bahwa wanita yang tertinggal di situ pasti
kelak akan menjadi korban kebiadaban para musuh. Daripada tinggal dan terancam
bahaya mengerikan, mereka ini lebih suka ikut melarikan diri dengan taruhan
nyawa di samping suami dan ayah mereka. Lewat tengah malam, serangan dari luar
berhenti dan keadaan menjadi sunyi di luar kadipaten. Di sana-sini, di dalam
kadipaten, masih ada api menyala. Adipati Tejolaksono melakukan persiapan
bersama isterinya. Suami isteri ini sama sekali tidak memperdulikan isi gedung
kadipaten. Hanya keris pusaka yang mereka bawa, di samping benda-benda
perhiasan yang kecil-kecil saja. Sedikitpun mereka tidak merasa berduka
meninggalkan barang-barang mereka, hanya berduka karena kini mereka terpaksa
harus meninggalkan tempat tinggal mereka berdua saja, sedangkan putera mereka
masih belum mereka ketahui keadaannya, juga Pusporini yang diculik musuh.
Mereka berduka menyaksikan kematian Roro Luhito yang begitu mengerikan, tanpa
mendapat kesempatan untuk mengurus dan menyempurnakan jenazah orang tua itu.
Tejolaksono menanti sampai jauh lewat tengah malam. Setelah mendekati fajar dan
diperkirakan fihak musuh sedang enak mengaso dan tidur, Tejolaksono memberi
isyarat kepada para pembantunya. Bergeraklah sisa pasukan Selopenangkep yang
berjumlah hanya kurang lebih dua ratus orang itu bersama keluarga mereka yang
mereka lindungi dan dikumpulkan di tengah-tengah mereka. Adipati Tejolaksono
dan isterinya, Ayu Candra, keduanya mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam,
keris pusaka terselip di pinggang, berjalan berdampingan paling depan,
merupakan pelopor. Sikap mereka yang gagah perkasa dan sedikitpun tidak
membayang takut dan menambah semangat para perajurit dan di dalam hati setiap
orang prajurit bersumpah untuk sehidup-semati dengan junjungan mereka ini.
"Kita menyerbu keluar
dengan mati-matian! Ketahuilah kalian semua bahwa kalau kita tetap berlindung
di kadipaten akhirnya kita semua akan mati kelaparan atau mati terbakar.
Daripada mati konyol seperti itu, adalah lebih baik kelak kita menyerbu keluar
dan berusaha melarikan diri ke Panjalu untuk mencari bala bantuan. Ingat, yang
tewas dalam penyerbuan ini adalah prajurit-prajurit gagah perkasa dan setia
karena kematiannya adalah demi menyelamatkan sebagian kawan-kawan dan mereka
yang berhasil selamat melarikan diri sampai ke Panjalu adalah prajurit-prajurit
perkasa pula yang kelak akan membalaskan kematian kawan-kawan yang tewas dalam
usaha ini. Karena itu, marilah kita bertempur mati-matian, demi untuk
keselamatan kita sendiri,
teman-teman dan keluarga
kita, juga demi nama dan kehormatan kita sebagai prajurit-prajurit
Selopenangkep yang lebih baik mati daripada menakluk kepada musuh!"
Demikian pesan terakhir Adipati Selopenangkep itu ketika hendak melakukan
penyerbuan keluar.
Fajar yang sunyi dan dingin
sekali itu, secara tiba-tiba dipecahkan suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika para
penyerbu dari dalam ini ketahuan. Terjadilah perang yang amat hebat, perang
kacau-balau karena biarpun pihak pengurung kadipaten jumlahnya jauh lebih
banyak, akan tetapi mereka tadi tengah tidur nyenyak dan sama sekali tidak
pernah menyangka bahwa sisa prajurit-prajurit Selopenangkep yang sudah dikurung
berhari-hari itu masih ada kemampuan untuk menyerbu dan menerobos keluar. Sepak
terjang Tejolaksono dan Ayu Candra amat menggiriskan hati para perajurit musuh.
Bagaikan sepasang garuda sakti saja, suami isteri yang menjadi pelopor terdepan
ini mengamuk dan barang siapa berani menghadang di depan mereka, tentu akan
terjungkal roboh tak bernyawa lagi! Jauh berbeda perasaan suami isteri ini
ketika mereka mengamuk dan membabati musuh seperti dua orang penggembala
berlumba membabat rumput saja. Semangat Tejolaksono meluap-luap karena sang
adipati ini ingin sekali melihat sebanyak mungkin prajuritnya dapat berhasil
lolos dari kepungan. Adapun Ayu Candra mengamuk berdasarkan dorongan rasa hati
yang sakit, marah dan dendam karena musuh inilah yang menyebabkan pelbagai
malapetaka menimpa keluarganya, bahkan yang memaksanya meninggalkan kadipaten
tanpa menanti kembalinya puteranya, Bagus Seta, dan Pusporini yang hilang entah
ke mana perginya. Namun, betapapun jauh bedanya gelora yang bergejolak di hati
masing-masing, akibatnya amat celaka bagi lawan yang berani menghadang di depan
suami isteri perkasa ini.
Betapapun gagahnya para
prajurit Selopenangkep yang mengamuk sambil bersorak menggegap-gempita, namun
jumlah lawan terlalu banyak. Di bawah pimpinan Tejolaksono dan Ayu Candra,
akhirnya sebelum matahari terbit dan sebelum pihak musuh dapat menghimpun
kekuatan dan pulih daripada kekacauan karena penyerbuan tiba-tiba itu, sebagian
kecil prajurit Selopenangkep dan keluarganya berhasil lolos dari kepungan dan
melarikan diri ke arah Panjalu. Dari dua ratus orang prajurit yang dapat lolos
hanya lima puluh lebih orang saja, dan keluarga para prajurit hilang tiga
perempatnya. Kematian di pihak mereka banyak, akan tetapi mereka akan berbesar
hati kalau dapat menghitung jumlah korban di pihak musuh yang telah mereka
roboh dan tewaskan, karena jumlah ini sedikitnya ada tiga kali lebih besar
daripada jumlah korban mereka! Tidak ada seorang pun di antara mereka yang
tidak membunuh musuh sedikitnya dua orang, dan mereka yang gugur tentu telah
merobohkan lebih banyak musuh pula! Perjalanan melarikan diri ke Panjalu ini
amatlah sengsara. Karena khawatir akan pengejaran musuh yang berjumlah besar,
mereka melakukan perjalanan siang malam sehingga dalam perjalanan yang dipaksa
ini kembali jatuh beberapa orang korban, yaitu di antara mereka yang terluka
dalam penyerbuan keluar itu. Namun akhirnya, dalam keadaan lelah iahir batin,
Adipati Tejolaksono bersama isteri berhasil juga membawa rombongan pelarian ini
sampai ke Kota Raja Panjalu di mana sang adipati dengan suara pilu melaporkan
segala peristiwa yang terjadi kepada sang prabu di Panjalu. Bukan main marahnya
sang prabu di Panjalu ketika mendengar pelaporan Adipati Tejolaksono. Sang
prabu masih duduk terhenyak di atas singgasana, akan tetapi jari-jari tangan
yang memegang lengan kursi itu menegang dan mengepal-ngepalkan tinju. Wajah
yang tampan dan biasanya tenang dan agung itu kini menjadi merah, seolah-olah
mengeluarkan cahaya berapi, giginya berkerot dan dadanya bergelombang, sepasang
mata yang masih tajam berpengaruh itu memandang penuh kemarahan kepada musuh.
"Babo-babo .....si
keparat! Tidak ada habisnya nafsu kemurkaan diumbar oleh Sriwijaya! Begitu buta
matanya sehingga tidak melihat bahwa sesungguhnya agama diciptakan untuk
mendatangkan perdamaian di atas bumi! Akan tetapi dia malah berani memperalat
agama untuk mengumbar nafsu, mempergunakan pendeta-pendeta palsu dan
agama-agama sesat untuk mempengaruhi rakyat
Panjalu dan untuk menyebar
kematian dan kerusakan! Hei, para senopati dan perwiraku! Jangan kehilangan
akal. Kerahkan semua barisan, perhebat gemblengan dan latihan mulai saat ini
juga. Aku mengangkat Tejolaksono menjadi senopati perang untuk memimpin barisan
Panjalu dengan tugas membasmi sampai habis benalu-benalu yang datang dari
Sriwijaya dan Cola!"
Perang...!
Perang ....! Perang...! Tidak ada seorang pun manusia kalau ditanya menjawab
bahwa dia suka akan perang. Tidak! Semua orang tidak suka, bahkan membenci
perang, karena siapakah orangnya yang akan dapat menikmati kesenangan dari
perang? Kematian merajalela, harta benda mawut, hidup tak terjamin keamanannya.
Semua orang membenci perang. Akan tetapi kenyataannya, semenjak dunia
berkembang sampai sekarang, dunia penuh dengan perang. Berhenti di sini, muncul
di sana. Tenang di sana, meletus di sini! Terus-menerus begitu, abad demi abad,
sehingga manusia menjadi terbiasa karenanya, seolah-olah perang merupakan
hiasan dunia, merupakan keharusan dalam penghidupan manusia. Perang untuk
memperebutkan kemenangan! Ciri khas mahluk yang disebut manusia! Dan agaknya,
selama ciri ini, yaitu ingin menang sendiri, tidak terhapus daripada watak umum
manusia, sampai dunia kiamat sekalipun perang takkan pernah dapat terhapus dari
pada lembaran sejarah. Perang! Bunuh-membunuh! Perjuangan antara hidup dan
mati. Mengerikan! Mengerikan? Sesungguhnya tidak, karena bukankah pada
hakekatnya hidup ini perjuangan antara hidup dan mati? Bukankah hanya ada dua
di dunia ini, yaitu hidup atau mati?
No comments:
Post a Comment