Perawan Lembah Wilis; Bagian 066


"Meninggalkan kadipaten, membiarkan kadipaten jatuh ke tangan musuh? Maaf, Gusti adipati! Akan tetapi sungguh-sungguh hamba tidak dapat menerima pendapat ini. Musuh baru boleh menduduki kadipaten, akan tetapi hanya melalui mayat hamba!" bantah panglima tua yang sudah puluhan tahun menjadi hulubalang di Kadipaten Selopenangkep. Pernyataan yang gagah ini kembali disetujui semua kawannya. Adipati Tejolaksono yang duduk di dekat isterinya, mengangguk-angguk dan berkata kembali
"Aku dapat menghargai kesetiaan kalian, dan jangan mengira bahwa aku sendiri kurang mencinta Kadipaten Selopenangkep. Aku terlahir di tempat ini, dan sudah menjadi kewajibanku untuk mempertahankan Selopenangkep. Akan tetapi, hendaknya andika sekalian mengerti bahwa gerakan musuh ini bukanlah sekedar untuk memusuhi Selopenangkep. Sama sekali bukan, Selopenangkep hanya merupakan awalan yang kecil saja. Gerakan mereka merupakan ancaman untuk seluruh Nuswantara, dan tujuan mereka adalah menundukkan Panjalu dan Jenggala. Kalau sekali ini kita kalah, bukan berarti kita kalah perang. Sama sekali tidak, Paman dan Kakang senopati. Kekalahan kita sekarang ini dapat kita tebus kelak dalam pertempuran di lain kesempatan, bukan kalah perang melainkan hanya kalah dalam suatu pertempuran karena kalah banyak jumlah perajurit kita. Kita harus mencari siasat dan jalan untuk keluar dari sini dalam keadaan selamat."
"Maaf, Gusti adipati. Sungguhpun benar apa yang Paduka katakan, akan tetapi hamba tetap berpendapat bahwa amatlah tidak layak bagi seorang prajurit untuk tinggalkan gelanggang perang, melarikan diri seperti orang-orang penakut dan pengecut! Hamba tidak takut mati di tangan musuh, Gusti. Hamba tidak akah membiarkan musuh menduduki Selopenangkep sebelum hamba mati!" Demikian kata panglima tua yang amat setia. Kawan-kawannya mengangguk membenarkan. Marahlah Adipati Tejolaksono. Dengan pandang mata tajam ia menatap wajah para pembantunya, seorang demi seorang. Demikian tajam berpengaruh pandang mata Adipati Tejolaksono sehingga mereka itu menundukkan muka tidak berani menentang pandang.
"Andika sekalian terlalu mabuk kegagahan sehingga lupa akan tugas terutama dan terpenting seorang prajurit. Apakah tugas pertama seorang prajurit? Patuh dan taat akan perintah atasan! Dan sekarang, andika sekalian sudah hendak melanggar tugas pertama ini! Apakah andika semua sudah tidak mengakui lagi aku sebagai atas kalian?"

Suara yang marah dan berwibawa ini tidak ada yang membantah. Semua perwira hanya menundukkan muka dan biarpun mereka masih merasa penasaran, namun teguran ini membuat mereka merasa malu sekali. Adipati Tejolaksono menghela napas panjang, lalu berkata,
"Paman dan Kakang senopati semua. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku Tejolaksono takut menghadapi maut dalam perang melawan musuh. Sama sekali tidak, seujung rambutpun tidak! Dan jangan mengira aku mengajak andika semua menyelamatkan diri karena
takut kepada musuh, sama sekali tidak! Aku mengambil keputusan ini setelah kuwawas dengan matang, setelah kupertimbangkan semasak-masaknya. Hanyalah orang bodoh yang berlaku nekad dan membunuh diri tanpa ada manfaatnya. Kita terkepung, jumlah musuh jauh terlalu banyak sehingga kalau kita berkeras melawan, kita akan membuang nyawa secara sia-sia belaka. Kita tidak boleh buta akan kenyataan, dan dapat mengetrapkan keberanian kita pada saat yang tepat. Kalau kita berkeras mempertahankan Selopenangkep, akhirnya kita akan tewas semua dan apakah andika kira bahwa kalau kita tewas Selopenangkep tidak akan diduduki musuh? Sia-sia belaka kita nekat tanpa perhitungan. Sebaliknya, kalau kita dapat menyelamatkan diri membebaskan diri daripada kepungan, benar bahwa Selopenangkei akan diduduki musuh. Akan tetapi kita masih hidup dan tentu saja kita tidak akan tinggal diam. Kita akan menyatukan diri dengan pasukan Panjalu dan kembali ke sini. Nah, saat itulah kita boleh mempertaruhkan nyawa dalam perang yang seimbang. Selain itu, jangan andika sekalian mengira akan mudah saja membebaskan diri daripada kepungan musuh ini. Sama sekali tidak! Kita harus menerobos dan membuka jalan darah, bertanding mati-matian, mungkin sekali banyak di antara kita akan tewas, akan tetapi setidaknya, sebagian daripada kita akan selamat dan kelak akan membalaskan kematian kawan-kawan yang gugur. Kalau kita nekat mempertahankan di sini, kita semua mati. Siapa kelak yang akan membalaskan kematian kita?"
Ucapan sang adipati yang panjang lebar ini menyadarkan para senopati. Mereka mengangguk-angguk dan menyatakan setuju. Maka diaturlah siasat. Malam itu, kalau para musuh menyerang dengan anak panah, pasukan diharuskan membiarkan saja dan tidak terlalu membuang tenaga memadamkan api, bahkan lebih baik menyimpan tenaga dan beristirahat sambil berlindung. Kemudian, jauh lewat tengah malam, ketika diperkirakan lawan yang lelah itu mengaso, mereka akan menyerbu keluar melalui pintu gerbang sebelah utara. Seperti pada malam-malam yang lalu, malam itu pihak musuh juga menghujankan panah api. Para prajurit Selopenangkep, sesuai dengan perintah sang adipati, hanya memadamkan api yang sekiranya berbahaya saja. Mereka lebih sibuk bersiap untuk menyerbu keluar pagi nanti dan beristirahat mengumpulkan tenaga. Keluarga para prajurit yang sudah dikumpulkan di kadipaten, berikut anak-anak mereka, telah pula bersiap-siap melarikan diri bersama-sama karena mereka maklum bahwa wanita yang tertinggal di situ pasti kelak akan menjadi korban kebiadaban para musuh. Daripada tinggal dan terancam bahaya mengerikan, mereka ini lebih suka ikut melarikan diri dengan taruhan nyawa di samping suami dan ayah mereka. Lewat tengah malam, serangan dari luar berhenti dan keadaan menjadi sunyi di luar kadipaten. Di sana-sini, di dalam kadipaten, masih ada api menyala. Adipati Tejolaksono melakukan persiapan bersama isterinya. Suami isteri ini sama sekali tidak memperdulikan isi gedung kadipaten. Hanya keris pusaka yang mereka bawa, di samping benda-benda perhiasan yang kecil-kecil saja. Sedikitpun mereka tidak merasa berduka meninggalkan barang-barang mereka, hanya berduka karena kini mereka terpaksa harus meninggalkan tempat tinggal mereka berdua saja, sedangkan putera mereka masih belum mereka ketahui keadaannya, juga Pusporini yang diculik musuh. Mereka berduka menyaksikan kematian Roro Luhito yang begitu mengerikan, tanpa mendapat kesempatan untuk mengurus dan menyempurnakan jenazah orang tua itu. Tejolaksono menanti sampai jauh lewat tengah malam. Setelah mendekati fajar dan diperkirakan fihak musuh sedang enak mengaso dan tidur, Tejolaksono memberi isyarat kepada para pembantunya. Bergeraklah sisa pasukan Selopenangkep yang berjumlah hanya kurang lebih dua ratus orang itu bersama keluarga mereka yang mereka lindungi dan dikumpulkan di tengah-tengah mereka. Adipati Tejolaksono dan isterinya, Ayu Candra, keduanya mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam, keris pusaka terselip di pinggang, berjalan berdampingan paling depan, merupakan pelopor. Sikap mereka yang gagah perkasa dan sedikitpun tidak membayang takut dan menambah semangat para perajurit dan di dalam hati setiap orang prajurit bersumpah untuk sehidup-semati dengan junjungan mereka ini.

"Kita menyerbu keluar dengan mati-matian! Ketahuilah kalian semua bahwa kalau kita tetap berlindung di kadipaten akhirnya kita semua akan mati kelaparan atau mati terbakar. Daripada mati konyol seperti itu, adalah lebih baik kelak kita menyerbu keluar dan berusaha melarikan diri ke Panjalu untuk mencari bala bantuan. Ingat, yang tewas dalam penyerbuan ini adalah prajurit-prajurit gagah perkasa dan setia karena kematiannya adalah demi menyelamatkan sebagian kawan-kawan dan mereka yang berhasil selamat melarikan diri sampai ke Panjalu adalah prajurit-prajurit perkasa pula yang kelak akan membalaskan kematian kawan-kawan yang tewas dalam usaha ini. Karena itu, marilah kita bertempur mati-matian, demi untuk keselamatan kita sendiri,
teman-teman dan keluarga kita, juga demi nama dan kehormatan kita sebagai prajurit-prajurit Selopenangkep yang lebih baik mati daripada menakluk kepada musuh!" Demikian pesan terakhir Adipati Selopenangkep itu ketika hendak melakukan penyerbuan keluar.
Fajar yang sunyi dan dingin sekali itu, secara tiba-tiba dipecahkan suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika para penyerbu dari dalam ini ketahuan. Terjadilah perang yang amat hebat, perang kacau-balau karena biarpun pihak pengurung kadipaten jumlahnya jauh lebih banyak, akan tetapi mereka tadi tengah tidur nyenyak dan sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sisa prajurit-prajurit Selopenangkep yang sudah dikurung berhari-hari itu masih ada kemampuan untuk menyerbu dan menerobos keluar. Sepak terjang Tejolaksono dan Ayu Candra amat menggiriskan hati para perajurit musuh. Bagaikan sepasang garuda sakti saja, suami isteri yang menjadi pelopor terdepan ini mengamuk dan barang siapa berani menghadang di depan mereka, tentu akan terjungkal roboh tak bernyawa lagi! Jauh berbeda perasaan suami isteri ini ketika mereka mengamuk dan membabati musuh seperti dua orang penggembala berlumba membabat rumput saja. Semangat Tejolaksono meluap-luap karena sang adipati ini ingin sekali melihat sebanyak mungkin prajuritnya dapat berhasil lolos dari kepungan. Adapun Ayu Candra mengamuk berdasarkan dorongan rasa hati yang sakit, marah dan dendam karena musuh inilah yang menyebabkan pelbagai malapetaka menimpa keluarganya, bahkan yang memaksanya meninggalkan kadipaten tanpa menanti kembalinya puteranya, Bagus Seta, dan Pusporini yang hilang entah ke mana perginya. Namun, betapapun jauh bedanya gelora yang bergejolak di hati masing-masing, akibatnya amat celaka bagi lawan yang berani menghadang di depan suami isteri perkasa ini.

Betapapun gagahnya para prajurit Selopenangkep yang mengamuk sambil bersorak menggegap-gempita, namun jumlah lawan terlalu banyak. Di bawah pimpinan Tejolaksono dan Ayu Candra, akhirnya sebelum matahari terbit dan sebelum pihak musuh dapat menghimpun kekuatan dan pulih daripada kekacauan karena penyerbuan tiba-tiba itu, sebagian kecil prajurit Selopenangkep dan keluarganya berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri ke arah Panjalu. Dari dua ratus orang prajurit yang dapat lolos hanya lima puluh lebih orang saja, dan keluarga para prajurit hilang tiga perempatnya. Kematian di pihak mereka banyak, akan tetapi mereka akan berbesar hati kalau dapat menghitung jumlah korban di pihak musuh yang telah mereka roboh dan tewaskan, karena jumlah ini sedikitnya ada tiga kali lebih besar daripada jumlah korban mereka! Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak membunuh musuh sedikitnya dua orang, dan mereka yang gugur tentu telah merobohkan lebih banyak musuh pula! Perjalanan melarikan diri ke Panjalu ini amatlah sengsara. Karena khawatir akan pengejaran musuh yang berjumlah besar, mereka melakukan perjalanan siang malam sehingga dalam perjalanan yang dipaksa ini kembali jatuh beberapa orang korban, yaitu di antara mereka yang terluka dalam penyerbuan keluar itu. Namun akhirnya, dalam keadaan lelah iahir batin, Adipati Tejolaksono bersama isteri berhasil juga membawa rombongan pelarian ini sampai ke Kota Raja Panjalu di mana sang adipati dengan suara pilu melaporkan segala peristiwa yang terjadi kepada sang prabu di Panjalu. Bukan main marahnya sang prabu di Panjalu ketika mendengar pelaporan Adipati Tejolaksono. Sang prabu masih duduk terhenyak di atas singgasana, akan tetapi jari-jari tangan yang memegang lengan kursi itu menegang dan mengepal-ngepalkan tinju. Wajah yang tampan dan biasanya tenang dan agung itu kini menjadi merah, seolah-olah mengeluarkan cahaya berapi, giginya berkerot dan dadanya bergelombang, sepasang mata yang masih tajam berpengaruh itu memandang penuh kemarahan kepada musuh.
"Babo-babo .....si keparat! Tidak ada habisnya nafsu kemurkaan diumbar oleh Sriwijaya! Begitu buta matanya sehingga tidak melihat bahwa sesungguhnya agama diciptakan untuk mendatangkan perdamaian di atas bumi! Akan tetapi dia malah berani memperalat agama untuk mengumbar nafsu, mempergunakan pendeta-pendeta palsu dan agama-agama sesat untuk mempengaruhi rakyat
Panjalu dan untuk menyebar kematian dan kerusakan! Hei, para senopati dan perwiraku! Jangan kehilangan akal. Kerahkan semua barisan, perhebat gemblengan dan latihan mulai saat ini juga. Aku mengangkat Tejolaksono menjadi senopati perang untuk memimpin barisan Panjalu dengan tugas membasmi sampai habis benalu-benalu yang datang dari Sriwijaya dan Cola!"

Perang...! Perang ....! Perang...! Tidak ada seorang pun manusia kalau ditanya menjawab bahwa dia suka akan perang. Tidak! Semua orang tidak suka, bahkan membenci perang, karena siapakah orangnya yang akan dapat menikmati kesenangan dari perang? Kematian merajalela, harta benda mawut, hidup tak terjamin keamanannya. Semua orang membenci perang. Akan tetapi kenyataannya, semenjak dunia berkembang sampai sekarang, dunia penuh dengan perang. Berhenti di sini, muncul di sana. Tenang di sana, meletus di sini! Terus-menerus begitu, abad demi abad, sehingga manusia menjadi terbiasa karenanya, seolah-olah perang merupakan hiasan dunia, merupakan keharusan dalam penghidupan manusia. Perang untuk memperebutkan kemenangan! Ciri khas mahluk yang disebut manusia! Dan agaknya, selama ciri ini, yaitu ingin menang sendiri, tidak terhapus daripada watak umum manusia, sampai dunia kiamat sekalipun perang takkan pernah dapat terhapus dari pada lembaran sejarah. Perang! Bunuh-membunuh! Perjuangan antara hidup dan mati. Mengerikan! Mengerikan? Sesungguhnya tidak, karena bukankah pada hakekatnya hidup ini perjuangan antara hidup dan mati? Bukankah hanya ada dua di dunia ini, yaitu hidup atau mati?

<<< Bagian 065                                                                                    Bagian 067 >>>

No comments:

Post a Comment