"Benar isterimu, Tejolaksono anakku. Kadipaten tidak boleh kautinggalkan, hal itu berbahaya sekali. Biarlah aku yang mencari adikmu sampai dapat atau ....aku takkan kembali sebelum dapat menolongnya. Selamat tinggal!"
"Nanti dulu, Bibi. Tak
mungkin Kanjeng Bibi pergi seorang diri saja." Adipati Tejolaksono lalu
memanggil dua lusin orang pengawal untuk membantu bibinya yang memaksa diri
hendak nekat mencari Pusporini. Ia maklum akan genting dan sulitnya keadaan. Ia
harus mengakui bahwa memang amatlah berbahaya nasib Pusporini terjatuh ke
tangan orang-orang biadab itu, dan memang amat membutuhkan pertolongan dengan
segera. Dan ia tahu bahwa mungkin penangkapan atas diri Pusporini itu disengaja
untuk memancingnya keluar. Kalau ia keluar dari kadipaten, tentu kadipaten akan
menjadi lemah dan akan diserbu musuh. Memang satu-satunya jalan untuk menolong
Pusporini hanyalah bibinya, Roro Luhito. Akan tetapi iapun ragu-ragu. Musuh
terlampau banyak dan di antara mereka terdapat banyak orang sakti. Biarpun
bibinya bukan wanita sembarangan, namun ia sangsi apakah bibinya akan berhasil
menolong Pusporini? Jangan-jangan malah membahayakan dirinya sendiri. Betapapun
juga, tidak mungkin ia dapat mencegah kehendak bibinya itu. Maka terpaksa ia
lalu menyuruh dua losin orang pengawal yang cukup tangguh untuk mengawal
bibinya. Rombongan ini lalu berangkat melakukan pengejaran.
Adipati Tejolaksono bersama
isterinya lalu mencurahkan perhatiannya kepada penjagaan di Selopenangkep yang
sudah terkepung musuh dari segenap jurusan. Kegelisahan hati mereka tentang
keselamatan Pusporini dan bibi mereka terpaksa mereka kesampingkan lebih dulu.
"Nimas, keadaan kita
amat berbahaya. Engkau tidak boleh berpisah dari sampingku dan harus selalu
waspada." Ayu Candra hanya mengangguk lesu. Terlalu banyak peristiwa sedih
yang susul menyusul melemahkan semangat wanita ini.
Mula-mula puteranya secara
terpaksa dipisahkan dari sampingnya, ditambah tewasnya bibinya, Kartikosari.
Kemudian disusul dengan munculnya Endang Patibroto yang membawa pergi
Setyaningsih entah ke mana. Kini ditambah terculiknya Pusporini oleh musuh dan
perginya Roro Luhito yang secara nekat melakukan pengejaran, padahal musuh amat
besar jumlahnya dan memiliki banyak orang sakti. Sekarang, Kadipaten
Selopenangkep dikepung musuh dan ia tahu bahwa hal yang paling menggelisahkan
hati suaminya adalah karena melihat betapa banyaknya penduduk Selopenangkep
yang kini datang bersama musuh, menjadi sekutu dan anak buah musuh! Malam itu
Adipati Tejolaksono mengumpulkan dan mencacahkan jumlah seluruh pasukannya.
Tidak lebih hanya tiga ratus orang prajurit, termasuk para pengawal, para abdi
dalem dan rakyat penduduk kadipaten yang setia. Banyak di antara penduduk yang
siang-siang sudah diam-diam melarikan diri keluar kadipaten. Tigaratus orang,
harus menghadapi kepungan musuh yang entah berapa banyaknya! Dan pembantunya,
Mundingyudo, baru saja berangkat ke kota raja Panjalu. Ia sangsi apakah bantuan
dari Panjalu dapat diharapkan datang sebelum terlambat. Adipati Telolaksono
membagi tugas, mengumpulkan para kepala pasukan yang ia bagi menjadi lima. Ia
segera mengatur siasat. Penjagaan dilakukan sekeliling kadipaten, merupakan
lima kelompok yang selalu bergerak, berpindah-pindah saling bertukar tempat.
Kalau sewaktu-waktu pasukan lawan melakukan penyerbuan, pasukan kadipaten harus
membentuk barisan Kalajengking Sakti. Barisan dengan gaya inilah yang paling
tepat untuk melakukan penjagaan kadipaten dan menghadapi musuh yang besar
jumlahnya. Barisan bergaya Kalajengking Sakti ini dibagi menjadi lima. Dua
barisan kepala di depan merupakan sepasang sapit kalajengking yang menghadapi
musuh terbesar dari depan, dari kanan kiri datangnya, menyerang ke arah lambung
pasukan besar lawan yang datang menyerbu. Dua barisan lain yang lebih kecil
menjaga lambung di kanan kiri merupakan deretan kaki kalajengking, dua pasukan
ini mencegah penyerbuan gelap dari jurusan kanan kiri dan mereka ini terdiri
daripada barisan panah. Ke lima adalah barisan terbesar yang berada di
belakang, merupakan sengat kalajengking. Barisan inilah sebetulnya yang menjadi
barisan inti, barisan penyerang yang dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono
dan isterinya. Barisan ini tugasnya melakukan penyerangan tiba-tiba kepada
pasukan penyerbu, dan cepat mundur lagi jika barisan sepasang sapit sudah kuat
kembali, untuk menyusun tenaga dan secara tiba-tiba menyerang lagi. Karena
gerakannya cepat tak terduga dan di dalam pasukan ini terletak inti penyerangan
yang amat kuat, maka dapat diharapkan fihak penyerbu akan dapat dihancurkan.
Semua telah siap di
kadipaten. Penjagaan dilakukan secara bergilir dan tepat, agar semua anggauta
pasukan mendapat giliran mengaso dan tidur. Bagian dapur umum juga sudah sibuk,
mempersiapkan ransum bagi para pasukan yang bertugas berat. Juga bagian
perlengkapan senjata selalu sibuk, mempersiapkan senjata-senjata cadangan,
mengasah dan menambah jumlah anak panah darurat. Pendeknya, Kadipaten
Selopenangkep telah siap sedia dengan semangat tempur yang tinggi. Akan tetapi,
malam itu pihak musuh tidak ada yang melakukan serangan, bahkan tidak melakukan
gerakan sama sekali. Dari atas menara kadipaten yang juga
dipergunakan sebagai pusat
penjagaan, Adipati Tejolaksono melakukan penyelidikan. Hanya tampak obor dan
barisan musuh yang padat, tidak bergerak namun mengambil posisi mengurung
kadipaten. Hatinya gelisah kalau teringat akan Pusporini dan Roro Luhito. Tidak
ada kabarnya sama sekali bibinya dan adik misannya itu. Juga tidak ada
seorangpun di antara pasukan pengawal bibinya datang melapor. Menjelang pagi,
ketika ayam jago mulai berkeruyuk, burung-burung mulai berkicau menyambut
datangnya fajar, tampaklah pasukan musuh bergerak makin mendekati kadipaten.
Pasukan-pasukan kadipaten siap sedia dan kini di pintu gerbang bagian barat
terdapat pasukan yang bersorak-sorak. Agaknya pasukan di pintu gerbang barat
inilah merupakan pasukan inti lawan, karena di situ tampak Cekel Wisangkoro,
Sariwuni, bahkan kelihatan pula Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang
mengepalai barisan masing-masing. Pasukan Ni Dewi Nilamanik sendiri daripada
wanita-wanita cantik dan muda, yang berbaris rapi dengan pakaian indah, dibagi
menjadi tiga kelompok, kelompok pertama adalah pasukan wanita bersenjata
gendewa dan anak panah, kelompok ke dua adalah pasukan wanita bertombak, dan ke
tiga pasukan wanita berpedang. Juga barisan yang dipimpin Ki Kolohangkoro amat
menyeramkan, terdiri daripada laki-laki tinggi besar seperti raksasa, ada
pasukan tombak, ada pasukan penggada dan kesemuanya kelihatan kuat-kuat
menyeramkan. Yang mengerikan adalah pasukan raksasa gundul yang seperti boneka
hidup. Mereka ini dipimpin oleh Cekel Wisangkoro. Raksasa-raksasa gundul yang
seperti boneka atau mayat hidup ini tidak bersenjata, akan tetapi mereka ini
kelihatan lebih mengerikan. Dan bercampur dengan bermacam pasukan ini tampaklah
para petani, rakyat wilayah Selopenangkep yang kena terbujuk atau terpikat
sehingga mereka ini ikut menyerbu kadipaten mereka sendiri! Mereka ini terdiri
daripada orang-orang yang memang pada dasarnya tidak memiliki kesetiaan, yang
bodoh, yang kena terbujuk karena pengaruh wanita-wanita penyembah Durga yang
genit-genit, yang kena pikat oleh harta benda, atau yang terbujuk melalui
pelajaran kebatinan dan Agama Shiwa. Akan tetapi, para prajurit Selopenangkep
tidak memperhatikan keadaan pasukan musuh, bahkan tidak gentar melihat mereka.
Yang membuat mereka terbelalak adalah ketika pihak musuh mengeluarkan dua buah
gala bambu yang panjang dan di ujung gala bambu ini tampak dua buah kepala.
Yang sebuah adalah kepala Mundingyudo, pemimpin pasukan Selopenangkep! Adapun
yang ke dua adalah kepala Roro Luhito!
"Aduh, kanjeng
bibi!" Ayu Candra yang memeriksa bersama suaminya dari atas menara,
tiba-tiba mengeluh dan terhuyung roboh, akhirnya pingsan di dalam pelukan
suaminya.
Adipati Tejolaksono sambil
memeluk isterinya yang pingsan, memandang ke bawah, keluar pintu gerbang dan ke
arah kepala bibinya dan pembantunya. Matanya menyinarkan api kemarahan, dadanya
serasa hendak meledak, giginya berkerot, tangan kanannya mengepal tinju. Jelas
bahwa bibinya terbunuh, gagal merampas kembali Pusporini yang entah berada
dimana. Terbunuhnya bibinya itu berarti terbunuhnya dua losin pengawal yang
membantunya. Dan Mundingyudo juga terbunuh, hal ini berarti bahwa usahanya
minta bantuan ke Panjalu gagal pula. Tidak ada jalan lain, ia harus melawan
mati-matian! Cepat ia menyadarkan isterinya, lalu menghiburnya,
"Nimas, Kanjeng Bibi
tewas sebagai seorang pahlawan. Namanya akan dipuja sepanjang masa sebagai
seorang prajurit yang membela Selopenangkep sampai mengorbankan nyawa. Tidak
perlu kiranya disedihkan lagi, lebih penting kita siap-siap menggempur musuh
untuk membalaskan kematian Kanjeng Bibi Roro Luhito dan yayi dewi
Pusporini!"
Bangkit semangat Ayu Candra
mendengar ucapan suaminya ini. Dengan muka beringas ia melompat bangun, meraba
gagang kerisnya.
"Mari kita hajar
mereka, Kakangmas!"
Pagi hati itu dimulailah
perang campuh yang hebat. Melihat betapa kadipaten dijaga kuat, barisan musuh
yang kini dipimpin langsung oleh Ni Dewi Nilamanik menantang dan mengatur
barisan di luar kadipaten. Barisan yang merupakan penggabungan macam-macam
pasukan itu, terdiri dari lima ratus orang lebih, hampir dua kali jumlah
seluruh prajurit Selopenangkep. Perang tanding ini terjadi amat seru,
berlangsung dari pagi sampai petang. Namun ternyata, siasat barisan
Selopenangkep dengan gelar Kalajengking Sakti ini benar-benar ampuh. Apalagi
karena bagian intinya, yaitu bagian sengat kalajengking, penyerang utama
barisan itu, dipimpin sendiri oleh sang adipati bersama isterinya. Barisan
Selopenangkep mengamuk dan banjir darah terjadi di medan yuda. Sang Adipati
Tejolaksono dan bersama Ayu Candra mengamuk seperti banteng-banteng terluka,
dan hanya setelah para pimpinan pasukan musuh yang terdiri dari Ni Dewi
'Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan dibantu oleh dua
orang Gagak, maju menyambut, barulah Adipati Tejolaksono dan isterinya terdesak
hebat. Namun gerak barisan Kalajengking Sakti tidak membiarkan barisan
"sengat" ini terdesak. Pasukan-pasukan yang merupakan sapit membantu
dari kanan kiri dan pasukan inti itu mundur lagi untuk menyusun tenaga baru.
Setelah hari menjadi petang,
perang tanding dihentikan, barisan musuh mundur dan pasukan kadipaten juga
kembali memasuki kadipaten. Kedua fihak, bagaikan dua ekor harimau bertanding
dan kini menjilat-jilati luka-luka di tubuh masing-masing, kini
menghitung-hitung sisa pasukan. Hebat memang akibat perang sehari itu. Di pihak
Selopenangkep kehilangan lima puluh orang lebih prajurit yang tewas dan terluka
berat, belum terhitung yang luka-luka ringan. Tiga orang kepala pasukan tewas
pula. Akan tetapi di pihak musuh, kerugian yang diderita ternyata lebih besar
lagi. Lebih dari seratus orang prajurit tewas, tidak terhitung yang terluka,
dan Ki Kolohangkoro terpaksa harus beristirahat sedikitnya tiga hari karena
dalam perang tanding tadi, ketika ia ikut mengeroyok Adipati Tejolaksono dan
beradu lengan yang dipenuhi getaran hawa sakti, ia kalah kuat dan hawa sakti
yang dilancarkan lewat pukulannya membalik dan melukai isi dadanya sendiri
sehingga ia harus beristirahat untuk memulihkan tenaga. Sungguhpun melihat
jumlah korban, dalam pertandingan itu boleh dikatakan fihak Selopenangkep
mendapat kemenangan, namun kenyataannya tidak demikian. Jumlah pasukan
Selopenangkep lebih kecil, dan dengan jatuhnya korban-korban itu, kini keadaan
mereka menjadi makin payah dan lemah. Apalagi, kadipaten sudah dikurung
sehingga mereka tidak dapat mengirim permintaan bantuan ke Panjalu. Kalau
mereka terus dikurung, tanpa diperangipun mereka akhirnya akan kalah sendiri
karena kehabisan ransum.
Agaknya siasat ini pula
dijalankan oleh Cekel Wisangkoro yang menjadi penasehat dalam barisan itu,
seorang yang banyak mengerti akan siasat perang karena Cekel Wisangkoro ini
dahulunya bekas senopati Kerajaan Cola. Cekel Wisangkoro tidak hanya melakukan
pengurungan yang amat ketat dengan menambah jumlah pasukan, bahkan setiap malam
ia menyuruh barisan panah untuk menghujankan anak panah ke arah kadipaten, anak
panah yang disertai api sehingga setiap malam, Kadipaten Selopenangkep sibuk
memadamkan kebakaran dan hanya dapat membalas dengan anak panah ke arah yang
mengawur karena pihak musuh selalu berpindah tempat di tengah malam gelap itu!
Siasat yang dipergunakan musuh itu benar-benar melemahkan keadaan para prajurit
Selopenangkep. Setelah pengurungan dilakukan selama sepekan, keadaan mereka
benar-benar dalam bahaya karena beras telah habis tinggal sehari lagi!
Menyelundupkan dari luar tidak mungkin karena penjagaan amat ketat dan untuk
menyerbu mati-matian keluar, berarti mengosongkan kadipaten. Malam itu, sebelum
musuh melakukan penyerangan dengan anak panah berapi seperti biasa, Tejolaksono
memanggil semua pembantunya, para perwira dan kepala pasukan. Ketika ditanya
pendapat mereka, seorang panglima tua mewakili kawan-kawannya berkata dengan
suara penuh kegagahan,
"Gusti adipati, hamba
sekalian bersedia mempertahankan Selopenangkep sampai titik darah
terakhir!"
Para perwira menyambut
pernyataan ini dengan suara tak seorang pun di antara mereka yang gentar
menghadapi kematian dalam mempertahankan Selopenangkep. Adipati Tejolaksono
terharu sekali, akan tetapi suaranya sungguh- sungguh dan tegas ketika ia
berkata,
"Tidak benar pendapat
kalian ini, para Paman dan Kakang senopati. Kita harus mencari siasat untuk
mengosongkan kadipaten dan menyelamatkan diri."
No comments:
Post a Comment