Perawan Lembah Wilis; Bagian 065


"Benar isterimu, Tejolaksono anakku. Kadipaten tidak boleh kautinggalkan, hal itu berbahaya sekali. Biarlah aku yang mencari adikmu sampai dapat atau ....aku takkan kembali sebelum dapat menolongnya. Selamat tinggal!"
"Nanti dulu, Bibi. Tak mungkin Kanjeng Bibi pergi seorang diri saja." Adipati Tejolaksono lalu memanggil dua lusin orang pengawal untuk membantu bibinya yang memaksa diri hendak nekat mencari Pusporini. Ia maklum akan genting dan sulitnya keadaan. Ia harus mengakui bahwa memang amatlah berbahaya nasib Pusporini terjatuh ke tangan orang-orang biadab itu, dan memang amat membutuhkan pertolongan dengan segera. Dan ia tahu bahwa mungkin penangkapan atas diri Pusporini itu disengaja untuk memancingnya keluar. Kalau ia keluar dari kadipaten, tentu kadipaten akan menjadi lemah dan akan diserbu musuh. Memang satu-satunya jalan untuk menolong Pusporini hanyalah bibinya, Roro Luhito. Akan tetapi iapun ragu-ragu. Musuh terlampau banyak dan di antara mereka terdapat banyak orang sakti. Biarpun bibinya bukan wanita sembarangan, namun ia sangsi apakah bibinya akan berhasil menolong Pusporini? Jangan-jangan malah membahayakan dirinya sendiri. Betapapun juga, tidak mungkin ia dapat mencegah kehendak bibinya itu. Maka terpaksa ia lalu menyuruh dua losin orang pengawal yang cukup tangguh untuk mengawal bibinya. Rombongan ini lalu berangkat melakukan pengejaran.

Adipati Tejolaksono bersama isterinya lalu mencurahkan perhatiannya kepada penjagaan di Selopenangkep yang sudah terkepung musuh dari segenap jurusan. Kegelisahan hati mereka tentang keselamatan Pusporini dan bibi mereka terpaksa mereka kesampingkan lebih dulu.
"Nimas, keadaan kita amat berbahaya. Engkau tidak boleh berpisah dari sampingku dan harus selalu waspada." Ayu Candra hanya mengangguk lesu. Terlalu banyak peristiwa sedih yang susul menyusul melemahkan semangat wanita ini.
Mula-mula puteranya secara terpaksa dipisahkan dari sampingnya, ditambah tewasnya bibinya, Kartikosari. Kemudian disusul dengan munculnya Endang Patibroto yang membawa pergi Setyaningsih entah ke mana. Kini ditambah terculiknya Pusporini oleh musuh dan perginya Roro Luhito yang secara nekat melakukan pengejaran, padahal musuh amat besar jumlahnya dan memiliki banyak orang sakti. Sekarang, Kadipaten Selopenangkep dikepung musuh dan ia tahu bahwa hal yang paling menggelisahkan hati suaminya adalah karena melihat betapa banyaknya penduduk Selopenangkep yang kini datang bersama musuh, menjadi sekutu dan anak buah musuh! Malam itu Adipati Tejolaksono mengumpulkan dan mencacahkan jumlah seluruh pasukannya. Tidak lebih hanya tiga ratus orang prajurit, termasuk para pengawal, para abdi dalem dan rakyat penduduk kadipaten yang setia. Banyak di antara penduduk yang siang-siang sudah diam-diam melarikan diri keluar kadipaten. Tigaratus orang, harus menghadapi kepungan musuh yang entah berapa banyaknya! Dan pembantunya, Mundingyudo, baru saja berangkat ke kota raja Panjalu. Ia sangsi apakah bantuan dari Panjalu dapat diharapkan datang sebelum terlambat. Adipati Telolaksono membagi tugas, mengumpulkan para kepala pasukan yang ia bagi menjadi lima. Ia segera mengatur siasat. Penjagaan dilakukan sekeliling kadipaten, merupakan lima kelompok yang selalu bergerak, berpindah-pindah saling bertukar tempat. Kalau sewaktu-waktu pasukan lawan melakukan penyerbuan, pasukan kadipaten harus membentuk barisan Kalajengking Sakti. Barisan dengan gaya inilah yang paling tepat untuk melakukan penjagaan kadipaten dan menghadapi musuh yang besar jumlahnya. Barisan bergaya Kalajengking Sakti ini dibagi menjadi lima. Dua barisan kepala di depan merupakan sepasang sapit kalajengking yang menghadapi musuh terbesar dari depan, dari kanan kiri datangnya, menyerang ke arah lambung pasukan besar lawan yang datang menyerbu. Dua barisan lain yang lebih kecil menjaga lambung di kanan kiri merupakan deretan kaki kalajengking, dua pasukan ini mencegah penyerbuan gelap dari jurusan kanan kiri dan mereka ini terdiri daripada barisan panah. Ke lima adalah barisan terbesar yang berada di belakang, merupakan sengat kalajengking. Barisan inilah sebetulnya yang menjadi barisan inti, barisan penyerang yang dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono dan isterinya. Barisan ini tugasnya melakukan penyerangan tiba-tiba kepada pasukan penyerbu, dan cepat mundur lagi jika barisan sepasang sapit sudah kuat kembali, untuk menyusun tenaga dan secara tiba-tiba menyerang lagi. Karena gerakannya cepat tak terduga dan di dalam pasukan ini terletak inti penyerangan yang amat kuat, maka dapat diharapkan fihak penyerbu akan dapat dihancurkan.

Semua telah siap di kadipaten. Penjagaan dilakukan secara bergilir dan tepat, agar semua anggauta pasukan mendapat giliran mengaso dan tidur. Bagian dapur umum juga sudah sibuk, mempersiapkan ransum bagi para pasukan yang bertugas berat. Juga bagian perlengkapan senjata selalu sibuk, mempersiapkan senjata-senjata cadangan, mengasah dan menambah jumlah anak panah darurat. Pendeknya, Kadipaten Selopenangkep telah siap sedia dengan semangat tempur yang tinggi. Akan tetapi, malam itu pihak musuh tidak ada yang melakukan serangan, bahkan tidak melakukan gerakan sama sekali. Dari atas menara kadipaten yang juga
dipergunakan sebagai pusat penjagaan, Adipati Tejolaksono melakukan penyelidikan. Hanya tampak obor dan barisan musuh yang padat, tidak bergerak namun mengambil posisi mengurung kadipaten. Hatinya gelisah kalau teringat akan Pusporini dan Roro Luhito. Tidak ada kabarnya sama sekali bibinya dan adik misannya itu. Juga tidak ada seorangpun di antara pasukan pengawal bibinya datang melapor. Menjelang pagi, ketika ayam jago mulai berkeruyuk, burung-burung mulai berkicau menyambut datangnya fajar, tampaklah pasukan musuh bergerak makin mendekati kadipaten. Pasukan-pasukan kadipaten siap sedia dan kini di pintu gerbang bagian barat terdapat pasukan yang bersorak-sorak. Agaknya pasukan di pintu gerbang barat inilah merupakan pasukan inti lawan, karena di situ tampak Cekel Wisangkoro, Sariwuni, bahkan kelihatan pula Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang mengepalai barisan masing-masing. Pasukan Ni Dewi Nilamanik sendiri daripada wanita-wanita cantik dan muda, yang berbaris rapi dengan pakaian indah, dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama adalah pasukan wanita bersenjata gendewa dan anak panah, kelompok ke dua adalah pasukan wanita bertombak, dan ke tiga pasukan wanita berpedang. Juga barisan yang dipimpin Ki Kolohangkoro amat menyeramkan, terdiri daripada laki-laki tinggi besar seperti raksasa, ada pasukan tombak, ada pasukan penggada dan kesemuanya kelihatan kuat-kuat menyeramkan. Yang mengerikan adalah pasukan raksasa gundul yang seperti boneka hidup. Mereka ini dipimpin oleh Cekel Wisangkoro. Raksasa-raksasa gundul yang seperti boneka atau mayat hidup ini tidak bersenjata, akan tetapi mereka ini kelihatan lebih mengerikan. Dan bercampur dengan bermacam pasukan ini tampaklah para petani, rakyat wilayah Selopenangkep yang kena terbujuk atau terpikat sehingga mereka ini ikut menyerbu kadipaten mereka sendiri! Mereka ini terdiri daripada orang-orang yang memang pada dasarnya tidak memiliki kesetiaan, yang bodoh, yang kena terbujuk karena pengaruh wanita-wanita penyembah Durga yang genit-genit, yang kena pikat oleh harta benda, atau yang terbujuk melalui pelajaran kebatinan dan Agama Shiwa. Akan tetapi, para prajurit Selopenangkep tidak memperhatikan keadaan pasukan musuh, bahkan tidak gentar melihat mereka. Yang membuat mereka terbelalak adalah ketika pihak musuh mengeluarkan dua buah gala bambu yang panjang dan di ujung gala bambu ini tampak dua buah kepala. Yang sebuah adalah kepala Mundingyudo, pemimpin pasukan Selopenangkep! Adapun yang ke dua adalah kepala Roro Luhito!
"Aduh, kanjeng bibi!" Ayu Candra yang memeriksa bersama suaminya dari atas menara, tiba-tiba mengeluh dan terhuyung roboh, akhirnya pingsan di dalam pelukan suaminya.

Adipati Tejolaksono sambil memeluk isterinya yang pingsan, memandang ke bawah, keluar pintu gerbang dan ke arah kepala bibinya dan pembantunya. Matanya menyinarkan api kemarahan, dadanya serasa hendak meledak, giginya berkerot, tangan kanannya mengepal tinju. Jelas bahwa bibinya terbunuh, gagal merampas kembali Pusporini yang entah berada dimana. Terbunuhnya bibinya itu berarti terbunuhnya dua losin pengawal yang membantunya. Dan Mundingyudo juga terbunuh, hal ini berarti bahwa usahanya minta bantuan ke Panjalu gagal pula. Tidak ada jalan lain, ia harus melawan mati-matian! Cepat ia menyadarkan isterinya, lalu menghiburnya,
"Nimas, Kanjeng Bibi tewas sebagai seorang pahlawan. Namanya akan dipuja sepanjang masa sebagai seorang prajurit yang membela Selopenangkep sampai mengorbankan nyawa. Tidak perlu kiranya disedihkan lagi, lebih penting kita siap-siap menggempur musuh untuk membalaskan kematian Kanjeng Bibi Roro Luhito dan yayi dewi Pusporini!"
Bangkit semangat Ayu Candra mendengar ucapan suaminya ini. Dengan muka beringas ia melompat bangun, meraba gagang kerisnya.
"Mari kita hajar mereka, Kakangmas!"
Pagi hati itu dimulailah perang campuh yang hebat. Melihat betapa kadipaten dijaga kuat, barisan musuh yang kini dipimpin langsung oleh Ni Dewi Nilamanik menantang dan mengatur barisan di luar kadipaten. Barisan yang merupakan penggabungan macam-macam pasukan itu, terdiri dari lima ratus orang lebih, hampir dua kali jumlah seluruh prajurit Selopenangkep. Perang tanding ini terjadi amat seru, berlangsung dari pagi sampai petang. Namun ternyata, siasat barisan Selopenangkep dengan gelar Kalajengking Sakti ini benar-benar ampuh. Apalagi karena bagian intinya, yaitu bagian sengat kalajengking, penyerang utama barisan itu, dipimpin sendiri oleh sang adipati bersama isterinya. Barisan Selopenangkep mengamuk dan banjir darah terjadi di medan yuda. Sang Adipati Tejolaksono dan bersama Ayu Candra mengamuk seperti banteng-banteng terluka, dan hanya setelah para pimpinan pasukan musuh yang terdiri dari Ni Dewi 'Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan dibantu oleh dua orang Gagak, maju menyambut, barulah Adipati Tejolaksono dan isterinya terdesak hebat. Namun gerak barisan Kalajengking Sakti tidak membiarkan barisan "sengat" ini terdesak. Pasukan-pasukan yang merupakan sapit membantu dari kanan kiri dan pasukan inti itu mundur lagi untuk menyusun tenaga baru.
Setelah hari menjadi petang, perang tanding dihentikan, barisan musuh mundur dan pasukan kadipaten juga kembali memasuki kadipaten. Kedua fihak, bagaikan dua ekor harimau bertanding dan kini menjilat-jilati luka-luka di tubuh masing-masing, kini menghitung-hitung sisa pasukan. Hebat memang akibat perang sehari itu. Di pihak Selopenangkep kehilangan lima puluh orang lebih prajurit yang tewas dan terluka berat, belum terhitung yang luka-luka ringan. Tiga orang kepala pasukan tewas pula. Akan tetapi di pihak musuh, kerugian yang diderita ternyata lebih besar lagi. Lebih dari seratus orang prajurit tewas, tidak terhitung yang terluka, dan Ki Kolohangkoro terpaksa harus beristirahat sedikitnya tiga hari karena dalam perang tanding tadi, ketika ia ikut mengeroyok Adipati Tejolaksono dan beradu lengan yang dipenuhi getaran hawa sakti, ia kalah kuat dan hawa sakti yang dilancarkan lewat pukulannya membalik dan melukai isi dadanya sendiri sehingga ia harus beristirahat untuk memulihkan tenaga. Sungguhpun melihat jumlah korban, dalam pertandingan itu boleh dikatakan fihak Selopenangkep mendapat kemenangan, namun kenyataannya tidak demikian. Jumlah pasukan Selopenangkep lebih kecil, dan dengan jatuhnya korban-korban itu, kini keadaan mereka menjadi makin payah dan lemah. Apalagi, kadipaten sudah dikurung sehingga mereka tidak dapat mengirim permintaan bantuan ke Panjalu. Kalau mereka terus dikurung, tanpa diperangipun mereka akhirnya akan kalah sendiri karena kehabisan ransum.

Agaknya siasat ini pula dijalankan oleh Cekel Wisangkoro yang menjadi penasehat dalam barisan itu, seorang yang banyak mengerti akan siasat perang karena Cekel Wisangkoro ini dahulunya bekas senopati Kerajaan Cola. Cekel Wisangkoro tidak hanya melakukan pengurungan yang amat ketat dengan menambah jumlah pasukan, bahkan setiap malam ia menyuruh barisan panah untuk menghujankan anak panah ke arah kadipaten, anak panah yang disertai api sehingga setiap malam, Kadipaten Selopenangkep sibuk memadamkan kebakaran dan hanya dapat membalas dengan anak panah ke arah yang mengawur karena pihak musuh selalu berpindah tempat di tengah malam gelap itu! Siasat yang dipergunakan musuh itu benar-benar melemahkan keadaan para prajurit Selopenangkep. Setelah pengurungan dilakukan selama sepekan, keadaan mereka benar-benar dalam bahaya karena beras telah habis tinggal sehari lagi! Menyelundupkan dari luar tidak mungkin karena penjagaan amat ketat dan untuk menyerbu mati-matian keluar, berarti mengosongkan kadipaten. Malam itu, sebelum musuh melakukan penyerangan dengan anak panah berapi seperti biasa, Tejolaksono memanggil semua pembantunya, para perwira dan kepala pasukan. Ketika ditanya pendapat mereka, seorang panglima tua mewakili kawan-kawannya berkata dengan suara penuh kegagahan,
"Gusti adipati, hamba sekalian bersedia mempertahankan Selopenangkep sampai titik darah terakhir!"
Para perwira menyambut pernyataan ini dengan suara tak seorang pun di antara mereka yang gentar menghadapi kematian dalam mempertahankan Selopenangkep. Adipati Tejolaksono terharu sekali, akan tetapi suaranya sungguh- sungguh dan tegas ketika ia berkata,
"Tidak benar pendapat kalian ini, para Paman dan Kakang senopati. Kita harus mencari siasat untuk mengosongkan kadipaten dan menyelamatkan diri."

<<< Bagian 064                                                                                   Bagian 066 >>>

No comments:

Post a Comment