Perawan Lembah Wilis; Bagian 064


"Ibunda Dewi, siapakah ....dia tadi......?" tanyanya sambil bergidik.
Ni Dewi Nilamanik menghela napas panjang.
"Ah, rakanda wasi tentu akan terkejut dan marah bahwa tua bangka itu telah menampakkan diri pula. Kolohangkoro, dia itu adalah paman guruku sendiri, dialah Resi Mahesapati .....“
"Wahhh .....!" Barulah Ki Kolohangkoro terkejut seperti disambar petir. Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Resi Mahesapati yang kabarnya dahulu, puluhan tahun yang lalu, setelah menggegerkan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan, telah lenyap dan kabarnya bertapa di pantai laut Banten. Kiranya orang sakti yang amat luar biasa itu kini telah memperlihatkan diri sebagai seorang kakek yang berpakaian jembel.
"Kesaktiannya memang hebat dan agaknya hanya rakanda wasi saja yang akan mampu menandinginya. Mendiang guruku sendiri dahulu selalu memuji-muji paman Resi Mahesapati, bahkan selalu berpesan agar dalam keadaan apapun juga, aku selalu harus mentaatinya. Biasanya dia itu keras dan galak, masih untung tadi kita terbebas daripada maut." Ki Kolohangkoro membanting-banting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah. Wajahnya keruh dan ia marah, penasaran, juga menyesal.
"Celaka! Kedua orang tawanan itu mengapa kita tinggalkan?"
"Tentu saja! Kausangka mengapa Resi Mahesapati menghadang kita di sana tadi?"
"Mengapa?"
"Apalagi kalau bukan karena dua orang tawanan kita. Sudahlah, kita bukan lawan dia. Biar rakanda Wasi Bagaspati sendiri yang memutuskan. Setelah kakek itu muncul, kita harus lebih berhati-hati lagi." Dua orang itu melanjutkan perja lanan dengan cepat dan hati kesal.

Joko Pramono yang tadi dilemparkan ke atas tanah oleh Ni Dewi Nilamanik dan menyaksikan semua peristiwa dengan mata terbelalak kagum, kini melihat betapa dua orang iblis jahat itu pergi, cepat ia menghampiri kakek yang duduk bersila tadi sambil menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Duhai eyang resi yang sakti mandraguna dan arif bijaksana. Tak terkatakan betapa besar rasa syukur dan terima kasih hamba akan pertolongan eyang. Dapatkah hamba mengetahui nama eyang resi yang mulia?"
Sebelum kakek itu menjawab, secara tiba-tiba ada suara menyambung di belakang Joko Pramono, suara Pusporini yang juga sudah berlutut menyembah, agak berjauhan dengan pemuda itu. Suaranya lantang mengatasi suara Joko Pramono,
"Eyang resi yang budiman tentu hanya menolong manusia baik-baik, dan harap eyang ketahui bahwa bocah ini masih disangsikan kebaikannya! Hamba menghaturkan sembah sujud dan terima kasih kepada Eyang dan hamba rasa Eyang tentu telah mengenal rakanda Adipati Tejolaksono, atau mendiang ayah hamba Pujo dan mendiang eyang hamba Resi Bhargowo."
Kakek itu sudah sejak tadi tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengejap-ngejapkan matanya yang putih. Kini ia mengangguk-angguk.
"Nini Pusporini bocah kewek, tentu saja aku mengenal eyangmu Resi Bhargowo dan tahu akan rakandamu dan mendiang ayahmu."
Mendengar ini, Pusporini memandang kepada Joko Pramono sambil mencebirkan bibirnya dan berkata,
"Nah, kau dengar tidak? Eyang resi ini mengusir dua orang iblis tadi hanya karena aku, karena eyang resi ini telah mengenal keluargaku, keluarga Selopenangkep! Kau hanya kebetulan saja terbawa-bawa! Kalau tidak ada aku, engkau tentu telah mampus! Masih hendak berlagak lagi?"
Joko Pramono tersenyum. Ia mulai mengenal watak dara remaja ini. Biarpun lagaknya galak dan menyakitkan hati, namun itu hanyalah watak lahirnya saja, padahal batinnya tidaklah begitu buruk. Bukankah dara ini tadi sudah jelas memperlihatkan sikap membelanya ketika ia tertawan oleh Ni Dewi Nilamanik? Dara ini tidak membencinya seperti yang hendak diperlihatkannya! Karena sudah mulai mengenal watak dara ini, maka sikapnya itu tidaklah menyakitkan hatinya lagi. Ia malah ingin menggodanya terus.
"Wah, engkau ini memang seorang bocah yang sombong dan banyak lagak! Sudahlah, perlu apa melayani orang seperti engkau?" Joko Pramono menengok lagi ke arah kakek itu dan berkata,
"Eyang resi, mohon Eyang sudi memberitahu nama dan julukan Eyang yang mulia."
"Eyang resi! Jangan ladeni bocah itu! Dia bocah busuk hatinya, berani ia memaki-maki keluarga Selopenangkep!" teriak Pusporini yang kini meloncat bangun dan memandang Joko Pramono dengan sinar mata mengancam.
"Eyang resi, hamba yang mohonkan ampun bagi perawan kasar tak kenal susila dan berani bersikap tidak semestinya di depan paduka Eyang resi," kata pula Joko Pramono dan biarpun kata-katanya ini ditujukan kepada kakek itu namun pada hakekatnya seperti memaki-maki Pusporini! Tentu saja dara ini menjadi makin marah, mukanya merah sekali, matanya berapi-api dan hidungnya kembang-kempis.
"Heh, keparatl Aku bersikap kasar kepadamu, setan. Bukan kepada eyang resi yang kuhormati! Jangan kau mencoba untuk membakar hati eyang resi! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai selaksa jurus! Biar eyang resi yang menjadi saksi dan juri!"
"Boleh, memang kau bocah sombong. Apa kaukira aku takut padamu?" Joko Pramono juga seorang pemuda yang masih remaja, darahnya masih panas, maka kini ditantang di depan kakek sakti itu, ia merasa malu kalau tidak menerimanya. lapun bangkit berdiri menghadapi Pusporini dan dua orang muda ini sudah siap seperti dua ekor jago aduan saling mengereki untuk segera bertanding.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha .............. !" Tiba-tiba kakek itu tertawa. Suara ketawanya halus akan tetapi mengandung getaran yang :membuat kedua orang muda itu seketika menjadi lemas, lenyap segala kemarahan dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya menoleh ke arah kakek itu dan tersenyum lebar! Tak mungkin dapat menahan ketawa
melihat dan mendengar suara ketawa kakek seperti itu. Andaikata api membara kemarahan mereka tadi, suara ketawa itu seolah-olah merupakan air wayu yang amat dingin dan yang membuat kemarahan seperti api membara itu menjadi padam sama sekali!
"Ha-ha-ha, Joko Pramono! Apa kaukira gurumu Resi Adiluhung akan suka melihat sikapmu terhadap keluarga Kadipaten Selopenangkep? Tidak, Kulup, sebaliknya engkau tentu akan ditegur habis-habisan kalau Resi Adiluhung mengetahuinya. Dan engkau, nini Pusporini, apa kaukira rakandamu Adipati Tejolaksono suka melihat sikapmu terhadap Joko Pramono? Padamkan kemarahan kalian dan dengarkan kata-kataku."

Joko Pramono terkejut bukan main. Kakek aneh ini telah mengetahui namanya, bahkan nama gurunya! Cepat ia menjatuhkan lagi dirinya di depan kakek itu, berlutut dan menyembah. Akan tetapi gerakan ini didahului Pusporini sehingga mereka seperti berlomba menghormat kakek itu, bahkan menyembah dengan berbareng saling berdampingan. Sehabis menyembah, mereka saling lirik dengan mata melotot!
"Hamba mentaati perintah Eyang resi," kata Pusporini.
"Hamba sendika (sanggup mematuhi) akan dawuh (perintah) paduka Eyang resi, selanjutnya hamba mohon petunjuk," kata pula Joko Pramono dan kata-katanya inipun bercampuran dengan ucapan Pusporini tadi karena dilakukan berbareng. Kembali kakek itu tersenyum lebar. Ia yang telah waspada akan segala peristiwa di dunia, yang awas dan tahu akan gerak-gerik manusia, seakan-akan dapat membaca isi hati kedua orang muda itu dan karenanya ia merasa kagum akan kegaiban kekuasaan Hyang Widhi Wasesa, kagum dan ikut bergembira.
"Ha-ha-ha, kalian berdua ini selalu tidak mau saling mengalah, tidak mau kalah dan bersaingan. Bagus sekali! Joko Pramono dan engkau nini Pusporini, sudah ditentukan oleh Hyang Jagad Pratingkah bahwasanya kalian berdua berjodoh untuk menjadi murid-muridku. Ketahuilah bahwa aku adalah Resi Mahesapati dan karena getaran gaib yang berupa perintah belakalah yang memaksaku turun ke dunia ramai dan menjumpai kalian di sini. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan keteranganku, aku ingin mendengar lebih dulu kesanggupan kalian. Kalian harus ikut bersamaku, menjauhkan diri daripada dunia ramai, sebentarpun tidak boleh keluar dari tempat pertapaan selama lima tahun dan kemudian setelah lima tahun aku ingin melihat siapa di antara kalian yang lebih menang dan maju. Bagaimana, sanggupkah?"
Memang pintar sekali Sang Resi Mahesapati ini. Tadinya, mendengar bahwa mereka akan diambil murid dan harus mengasingkan diri selama lima tahun, terasa berat sekali di hati kedua orang muda itu. Akan tetapi kalimat terakhir itu membuat mereka panas hati dan bangkit semangat. Kakek ini ingin melihat siapa di antara mereka yang lebih maju setelah lima tahun, berarti mereka berdua disuruh berlomba dan bersaing!
"Hamba setuju! Biar dia belajar penuh semangat sampai lima tahun juga, tidak nanti dia dapat mengalahkan hamba," kata Joko Pramono.
“Hamba pun setuju! Dia ini boleh saja belajar mati-matian, kaki dibuat kepala dan kepala dibuat kaki, setelah lima tahun, akhirnya dia tentu akan keok (kalah) melawan hamba!" kata Pusporini.
Kembali kakek itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Ucapan seorang gagah, sekali keluar dari mulut tidak akan dijilat kembali. Ketahuilah, aku tidak akan menyeret kalian menyeleweng daripada ajaran-ajaran yang telah kalian terima dari guru-guru kalian. Engkau, Joko Pramono, telah mempelajari Ilmu Cantuka Sekti dari gurumu Resi Adiluhung. Aji itu cukup hebat dan selama lima tahun, aku hanya ingin menuntunmu agar ajimu itu dan aji-ajimu yang lain makin matang. Semua aji itu tiada banyak bedanya. Yang dilatih dengan penuh kematangan, tentu akan menjadi ampuh. Dan engkau, Pusporini, engkau telah banyak menerima aji-aji kesaktian yang hebat dari rakandamu Adipati. Tejolaksono, seperti Pethit Nogo dan Bojro Dahono. Biarlah aku akan membimbingmu agar semua ajimu menjadi matang dan ampuh."

Dua orang muda yang tadinya tergesa-gesa menyanggupi karena panas hati dan tidak mau saling dikalahkan, kini menjadi kaget dan merasa betapa berat-nya syarat yang diajukan kakek itu. Lima tahun mengasingkan diri! Tanpa terasa, mereka saling menoleh, saling pandang dengan pandang mata sayu, akan tetapi begitu pandang mata mereka saling beradu, timbul kembali semangat di hati mereka!
"Joko Pramono dan Pusporini, ketahuilah bahwa sesungguhnya seperti kukatakan tadi, aku muncul di dunia ramai karena mendapat getaran perintah gaib. Awan gelap dan hawa jahat bergulung datang hendak mengeruhkan suasana, mendatangkan perang dan malapetaka kepada manusia. Untuk menghalau perusuh itu, akan muncul seorang satria muda yang sakti mandraguna. Akan tetapi dia seorang diri masih belum kuat untuk mengusir marabahaya, harus disandingi tenaga-tenaga muda lain yang cukup kuat. Kalian ini berjodoh untuk menjadi murid- muridku, kalianlah yang akan menjadi dua orang di antara mereka yang bertugas membantu satria muda itu. Kalianlah yang kelak akan ikut mencerahkan suasana, mengusir kegelapan, menentang kejahatan yang merajalela dan mengancam keselamatan rakyat. Karena itu, di pundak kalian terletak tugas yang suci dan luhur sehingga kelak tidak akan percumalah kalian sebagai keturunan orang-orang gagah perkasa."
Dua orang itu termenung. Baru mereka mengerti bahwa mereka diambil murid oleh kakek sakti ini bukan hanya kebetulan belaka.
"Eyang Resi, bolehkan hamba mengetahui siapa gerangan satria muda yang harus hamba bantu kelak?" Kakek itu tersenyum.
"Itu masih merupakan rahasia. Kelak kalian akan mengerti sendiri karena sesungguhnya satria muda itu adalah paman gurumu sendiri. Ketahuilah bahwa saat ini, guruku yang bagi dunia sudah dianggap meninggal dunia, telah berkenan mengambil satria itu sebagai murid. Dialah yang akan bertugas memberantas segala kesesatan dan kalian akan menjadi pembantu-pembantunya. Cukup sekian saja keteranganku, murid-muridku, dan sekarang, meramkanlah matamu dan jangan dibuka sebelum kusuruh."
Dalam keadaan masih berlutut, Pusporini dan Joko Pramono meramkan kedua mata mereka. Tiba-tiba mereka merasa betapa lengan mereka dipegang, kemudian tubuh mereka serasa melayang, padahal mereka masih dalam keadaan duduk bersila! Mimpikah mereka? Benar-benar seperti orang dalam mimpi. Namun, mereka patuh kepada perintah guru mereka dan sama sekali tidak berani membuka mata sebelum guru mereka, menyuruh. Mereka tidak melihat sesuatu, hanya bunyi angin semilir memenuhi kedua telinga.

"Pusporini....' Anakku ..Heh, manusia- manusia biadab, lepaskan puteriku! Hayo, lawanlah Roro Luhito ...!”
"Bibi, ingat, Bibi ....!" Tejolaksono terpaksa melompat dan menangkap lengan tangan Roro Luhito yang seperti orang kesurupan setan, hendak berlari mengejar puterinya yang telah dilarikan entah ke mana. Roro Luhito tadinya meronta-ronta, akan tetapi setelah berkali-kali Tejolaksono dan Ayu Cancra membujuknya, ia menjadi tenang. Wajahnya pucat sekali, matanya menyinarkan kemarahan, dan suaranya terdengar dingin ketika ia berkata,
"Anakku Tejolaksono, engkau tahu bahwa aku tidak akan dapat hidup kalau membiarkan Pusporini begitu saja terjatuh ke tangan lawan. Tidak, biar sampai mati aku harus mencarinya sampai dapat. Engkau tentu maklum apa yang akan terjadi pada diri puteriku kalau tidak lekas ditolong. Biarkanlah aku pergi mengejar mereka."
"Berbahaya sekali, Bibi. Biarlah saya yang mengejarnya."
"Kakangmas......!" Ayu Candra berseru dengan suara gemetar.

<<< Bagian 063                                                                                    Bagian 065 >>>

No comments:

Post a Comment