"Ibunda Dewi, siapakah ....dia tadi......?" tanyanya sambil bergidik.
Ni Dewi Nilamanik menghela
napas panjang.
"Ah, rakanda wasi tentu
akan terkejut dan marah bahwa tua bangka itu telah menampakkan diri pula. Kolohangkoro,
dia itu adalah paman guruku sendiri, dialah Resi Mahesapati .....“
"Wahhh .....!"
Barulah Ki Kolohangkoro terkejut seperti disambar petir. Tentu saja ia pernah
mendengar nama besar Resi Mahesapati yang kabarnya dahulu, puluhan tahun yang
lalu, setelah menggegerkan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan, telah lenyap
dan kabarnya bertapa di pantai laut Banten. Kiranya orang sakti yang amat luar
biasa itu kini telah memperlihatkan diri sebagai seorang kakek yang berpakaian
jembel.
"Kesaktiannya memang
hebat dan agaknya hanya rakanda wasi saja yang akan mampu menandinginya.
Mendiang guruku sendiri dahulu selalu memuji-muji paman Resi Mahesapati, bahkan
selalu berpesan agar dalam keadaan apapun juga, aku selalu harus mentaatinya.
Biasanya dia itu keras dan galak, masih untung tadi kita terbebas daripada
maut." Ki Kolohangkoro membanting-banting kedua kakinya yang sebesar kaki
gajah. Wajahnya keruh dan ia marah, penasaran, juga menyesal.
"Celaka! Kedua orang
tawanan itu mengapa kita tinggalkan?"
"Tentu saja! Kausangka
mengapa Resi Mahesapati menghadang kita di sana tadi?"
"Mengapa?"
"Apalagi kalau bukan
karena dua orang tawanan kita. Sudahlah, kita bukan lawan dia. Biar rakanda
Wasi Bagaspati sendiri yang memutuskan. Setelah kakek itu muncul, kita harus
lebih berhati-hati lagi." Dua orang itu melanjutkan perja lanan dengan
cepat dan hati kesal.
Joko Pramono yang tadi
dilemparkan ke atas tanah oleh Ni Dewi Nilamanik dan menyaksikan semua
peristiwa dengan mata terbelalak kagum, kini melihat betapa dua orang iblis
jahat itu pergi, cepat ia menghampiri kakek yang duduk bersila tadi sambil
menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Duhai eyang resi yang
sakti mandraguna dan arif bijaksana. Tak terkatakan betapa besar rasa syukur
dan terima kasih hamba akan pertolongan eyang. Dapatkah hamba mengetahui nama
eyang resi yang mulia?"
Sebelum kakek itu menjawab,
secara tiba-tiba ada suara menyambung di belakang Joko Pramono, suara Pusporini
yang juga sudah berlutut menyembah, agak berjauhan dengan pemuda itu. Suaranya
lantang mengatasi suara Joko Pramono,
"Eyang resi yang
budiman tentu hanya menolong manusia baik-baik, dan harap eyang ketahui bahwa
bocah ini masih disangsikan kebaikannya! Hamba menghaturkan sembah sujud dan
terima kasih kepada Eyang dan hamba rasa Eyang tentu telah mengenal rakanda
Adipati Tejolaksono, atau mendiang ayah hamba Pujo dan mendiang eyang hamba
Resi Bhargowo."
Kakek itu sudah sejak tadi
tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengejap-ngejapkan matanya yang putih. Kini
ia mengangguk-angguk.
"Nini Pusporini bocah
kewek, tentu saja aku mengenal eyangmu Resi Bhargowo dan tahu akan rakandamu
dan mendiang ayahmu."
Mendengar ini, Pusporini
memandang kepada Joko Pramono sambil mencebirkan bibirnya dan berkata,
"Nah, kau dengar tidak?
Eyang resi ini mengusir dua orang iblis tadi hanya karena aku, karena eyang
resi ini telah mengenal keluargaku, keluarga Selopenangkep! Kau hanya kebetulan
saja terbawa-bawa! Kalau tidak ada aku, engkau tentu telah mampus! Masih hendak
berlagak lagi?"
Joko Pramono tersenyum. Ia
mulai mengenal watak dara remaja ini. Biarpun lagaknya galak dan menyakitkan
hati, namun itu hanyalah watak lahirnya saja, padahal batinnya tidaklah begitu
buruk. Bukankah dara ini tadi sudah jelas memperlihatkan sikap membelanya
ketika ia tertawan oleh Ni Dewi Nilamanik? Dara ini tidak membencinya seperti
yang hendak diperlihatkannya! Karena sudah mulai mengenal watak dara ini, maka
sikapnya itu tidaklah menyakitkan hatinya lagi. Ia malah ingin menggodanya
terus.
"Wah, engkau ini memang
seorang bocah yang sombong dan banyak lagak! Sudahlah, perlu apa melayani orang
seperti engkau?" Joko Pramono menengok lagi ke arah kakek itu dan berkata,
"Eyang resi, mohon
Eyang sudi memberitahu nama dan julukan Eyang yang mulia."
"Eyang resi! Jangan
ladeni bocah itu! Dia bocah busuk hatinya, berani ia memaki-maki keluarga
Selopenangkep!" teriak Pusporini yang kini meloncat bangun dan memandang
Joko Pramono dengan sinar mata mengancam.
"Eyang resi, hamba yang
mohonkan ampun bagi perawan kasar tak kenal susila dan berani bersikap tidak
semestinya di depan paduka Eyang resi," kata pula Joko Pramono dan biarpun
kata-katanya ini ditujukan kepada kakek itu namun pada hakekatnya seperti
memaki-maki Pusporini! Tentu saja dara ini menjadi makin marah, mukanya merah
sekali, matanya berapi-api dan hidungnya kembang-kempis.
"Heh, keparatl Aku
bersikap kasar kepadamu, setan. Bukan kepada eyang resi yang kuhormati! Jangan
kau mencoba untuk membakar hati eyang resi! Bangkitlah dan mari kita bertanding
sampai selaksa jurus! Biar eyang resi yang menjadi saksi dan juri!"
"Boleh, memang kau
bocah sombong. Apa kaukira aku takut padamu?" Joko Pramono juga seorang
pemuda yang masih remaja, darahnya masih panas, maka kini ditantang di depan
kakek sakti itu, ia merasa malu kalau tidak menerimanya. lapun bangkit berdiri
menghadapi Pusporini dan dua orang muda ini sudah siap seperti dua ekor jago
aduan saling mengereki untuk segera bertanding.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha
.............. !" Tiba-tiba kakek itu tertawa. Suara ketawanya halus akan
tetapi mengandung getaran yang :membuat kedua orang muda itu seketika menjadi
lemas, lenyap segala kemarahan dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya
menoleh ke arah kakek itu dan tersenyum lebar! Tak mungkin dapat menahan ketawa
melihat dan mendengar suara
ketawa kakek seperti itu. Andaikata api membara kemarahan mereka tadi, suara
ketawa itu seolah-olah merupakan air wayu yang amat dingin dan yang membuat
kemarahan seperti api membara itu menjadi padam sama sekali!
"Ha-ha-ha, Joko
Pramono! Apa kaukira gurumu Resi Adiluhung akan suka melihat sikapmu terhadap
keluarga Kadipaten Selopenangkep? Tidak, Kulup, sebaliknya engkau tentu akan
ditegur habis-habisan kalau Resi Adiluhung mengetahuinya. Dan engkau, nini
Pusporini, apa kaukira rakandamu Adipati Tejolaksono suka melihat sikapmu
terhadap Joko Pramono? Padamkan kemarahan kalian dan dengarkan
kata-kataku."
Joko Pramono terkejut bukan
main. Kakek aneh ini telah mengetahui namanya, bahkan nama gurunya! Cepat ia
menjatuhkan lagi dirinya di depan kakek itu, berlutut dan menyembah. Akan
tetapi gerakan ini didahului Pusporini sehingga mereka seperti berlomba
menghormat kakek itu, bahkan menyembah dengan berbareng saling berdampingan.
Sehabis menyembah, mereka saling lirik dengan mata melotot!
"Hamba mentaati perintah
Eyang resi," kata Pusporini.
"Hamba sendika (sanggup
mematuhi) akan dawuh (perintah) paduka Eyang resi, selanjutnya hamba mohon
petunjuk," kata pula Joko Pramono dan kata-katanya inipun bercampuran
dengan ucapan Pusporini tadi karena dilakukan berbareng. Kembali kakek itu
tersenyum lebar. Ia yang telah waspada akan segala peristiwa di dunia, yang
awas dan tahu akan gerak-gerik manusia, seakan-akan dapat membaca isi hati
kedua orang muda itu dan karenanya ia merasa kagum akan kegaiban kekuasaan
Hyang Widhi Wasesa, kagum dan ikut bergembira.
"Ha-ha-ha, kalian
berdua ini selalu tidak mau saling mengalah, tidak mau kalah dan bersaingan.
Bagus sekali! Joko Pramono dan engkau nini Pusporini, sudah ditentukan oleh
Hyang Jagad Pratingkah bahwasanya kalian berdua berjodoh untuk menjadi
murid-muridku. Ketahuilah bahwa aku adalah Resi Mahesapati dan karena getaran
gaib yang berupa perintah belakalah yang memaksaku turun ke dunia ramai dan
menjumpai kalian di sini. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan keteranganku, aku
ingin mendengar lebih dulu kesanggupan kalian. Kalian harus ikut bersamaku,
menjauhkan diri daripada dunia ramai, sebentarpun tidak boleh keluar dari
tempat pertapaan selama lima tahun dan kemudian setelah lima tahun aku ingin
melihat siapa di antara kalian yang lebih menang dan maju. Bagaimana,
sanggupkah?"
Memang pintar sekali Sang
Resi Mahesapati ini. Tadinya, mendengar bahwa mereka akan diambil murid dan
harus mengasingkan diri selama lima tahun, terasa berat sekali di hati kedua
orang muda itu. Akan tetapi kalimat terakhir itu membuat mereka panas hati dan
bangkit semangat. Kakek ini ingin melihat siapa di antara mereka yang lebih
maju setelah lima tahun, berarti mereka berdua disuruh berlomba dan bersaing!
"Hamba setuju! Biar dia
belajar penuh semangat sampai lima tahun juga, tidak nanti dia dapat
mengalahkan hamba," kata Joko Pramono.
“Hamba pun setuju! Dia ini
boleh saja belajar mati-matian, kaki dibuat kepala dan kepala dibuat kaki,
setelah lima tahun, akhirnya dia tentu akan keok (kalah) melawan hamba!"
kata Pusporini.
Kembali kakek itu tertawa
bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Ucapan
seorang gagah, sekali keluar dari mulut tidak akan dijilat kembali. Ketahuilah,
aku tidak akan menyeret kalian menyeleweng daripada ajaran-ajaran yang telah
kalian terima dari guru-guru kalian. Engkau, Joko Pramono, telah mempelajari
Ilmu Cantuka Sekti dari gurumu Resi Adiluhung. Aji itu cukup hebat dan selama
lima tahun, aku hanya ingin menuntunmu agar ajimu itu dan aji-ajimu yang lain
makin matang. Semua aji itu tiada banyak bedanya. Yang dilatih dengan penuh
kematangan, tentu akan menjadi ampuh. Dan engkau, Pusporini, engkau telah
banyak menerima aji-aji kesaktian yang hebat dari rakandamu Adipati.
Tejolaksono, seperti Pethit Nogo dan Bojro Dahono. Biarlah aku akan membimbingmu
agar semua ajimu menjadi matang dan ampuh."
Dua orang muda yang tadinya
tergesa-gesa menyanggupi karena panas hati dan tidak mau saling dikalahkan,
kini menjadi kaget dan merasa betapa berat-nya syarat yang diajukan kakek itu.
Lima tahun mengasingkan diri! Tanpa terasa, mereka saling menoleh, saling
pandang dengan pandang mata sayu, akan tetapi begitu pandang mata mereka saling
beradu, timbul kembali semangat di hati mereka!
"Joko Pramono dan
Pusporini, ketahuilah bahwa sesungguhnya seperti kukatakan tadi, aku muncul di
dunia ramai karena mendapat getaran perintah gaib. Awan gelap dan hawa jahat
bergulung datang hendak mengeruhkan suasana, mendatangkan perang dan malapetaka
kepada manusia. Untuk menghalau perusuh itu, akan muncul seorang satria muda
yang sakti mandraguna. Akan tetapi dia seorang diri masih belum kuat untuk
mengusir marabahaya, harus disandingi tenaga-tenaga muda lain yang cukup kuat.
Kalian ini berjodoh untuk menjadi murid- muridku, kalianlah yang akan menjadi
dua orang di antara mereka yang bertugas membantu satria muda itu. Kalianlah
yang kelak akan ikut mencerahkan suasana, mengusir kegelapan, menentang
kejahatan yang merajalela dan mengancam keselamatan rakyat. Karena itu, di
pundak kalian terletak tugas yang suci dan luhur sehingga kelak tidak akan
percumalah kalian sebagai keturunan orang-orang gagah perkasa."
Dua orang itu termenung.
Baru mereka mengerti bahwa mereka diambil murid oleh kakek sakti ini bukan
hanya kebetulan belaka.
"Eyang Resi, bolehkan
hamba mengetahui siapa gerangan satria muda yang harus hamba bantu kelak?"
Kakek itu tersenyum.
"Itu masih merupakan
rahasia. Kelak kalian akan mengerti sendiri karena sesungguhnya satria muda itu
adalah paman gurumu sendiri. Ketahuilah bahwa saat ini, guruku yang bagi dunia
sudah dianggap meninggal dunia, telah berkenan mengambil satria itu sebagai
murid. Dialah yang akan bertugas memberantas segala kesesatan dan kalian akan
menjadi pembantu-pembantunya. Cukup sekian saja keteranganku, murid-muridku,
dan sekarang, meramkanlah matamu dan jangan dibuka sebelum kusuruh."
Dalam keadaan masih
berlutut, Pusporini dan Joko Pramono meramkan kedua mata mereka. Tiba-tiba
mereka merasa betapa lengan mereka dipegang, kemudian tubuh mereka serasa
melayang, padahal mereka masih dalam keadaan duduk bersila! Mimpikah mereka?
Benar-benar seperti orang dalam mimpi. Namun, mereka patuh kepada perintah guru
mereka dan sama sekali tidak berani membuka mata sebelum guru mereka, menyuruh.
Mereka tidak melihat sesuatu, hanya bunyi angin semilir memenuhi kedua telinga.
"Pusporini....' Anakku
..Heh, manusia- manusia biadab, lepaskan puteriku! Hayo, lawanlah Roro Luhito
...!”
"Bibi, ingat, Bibi
....!" Tejolaksono terpaksa melompat dan menangkap lengan tangan Roro
Luhito yang seperti orang kesurupan setan, hendak berlari mengejar puterinya
yang telah dilarikan entah ke mana. Roro Luhito tadinya meronta-ronta, akan
tetapi setelah berkali-kali Tejolaksono dan Ayu Cancra membujuknya, ia menjadi
tenang. Wajahnya pucat sekali, matanya menyinarkan kemarahan, dan suaranya terdengar
dingin ketika ia berkata,
"Anakku Tejolaksono,
engkau tahu bahwa aku tidak akan dapat hidup kalau membiarkan Pusporini begitu
saja terjatuh ke tangan lawan. Tidak, biar sampai mati aku harus mencarinya
sampai dapat. Engkau tentu maklum apa yang akan terjadi pada diri puteriku
kalau tidak lekas ditolong. Biarkanlah aku pergi mengejar mereka."
"Berbahaya sekali,
Bibi. Biarlah saya yang mengejarnya."
"Kakangmas......!"
Ayu Candra berseru dengan suara gemetar.
No comments:
Post a Comment