Tiba-tiba tubuh Koko Pramono menerjang maju. Pemuda ini sebetulnya tadi hanya berpura-pura saja ketika ditawan Pusporini. Kalau ia mau, dengan tenaga saktinya ia mampu membebaskan diri daripada ikatan kaki tangannya. Kini, melihat betapa dua orang yang dipandang rendah itu ternyata sakti bukan main, ia terkejut dan cepat-cepat ia meronta dan membebaskan diri. Melihat betapa Pusporini tidak berdaya menghadapi Ni Dewi Nilamanik dan kini bahkan ditekan dan dipaksa berlutut oleh Ki Kolohangkoro, ia sudah menerjang maju dan mengirim serangan pukulan ke arah punggung Ki Kolohangkoro. Kakek raksasa yang sakti mandraguna inipun memandang rendah. Ia tahu bahwa ada orang memukulnya dari belakang, akan tetapi karena ia tadi sudah melihat bahwa orang yang terbelenggu dan kini terlepas dan menyerangnya itu hanyalah seorang pemuda, maka ia sengaja diam saja, mengerahkan tenaga ke arah punggung untuk menyambut pukulan.
"Desss .....”
Joko Pramono berseru kaget
dan memegangi tangan kanannya yang serasa remuk tulang-tulangnya, akan tetapi
Ki Kolohangkoro juga berseru kaget karena tubuhnya terhuyung ke depan dan
pegangannya pada pundak Pusporini terlepas. Tak disangkanya bahwa pukulan
pemuda itu sedemikian kuatnya! Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik menjadi kagum dan
tertarik.
"Aihhh, boleh juga
bocah ini!" Kedua kakinya tidak tampak bergerak, akan tetapi tubuhnya
sudah melayang ke arah Joko Pramono. Pemuda ini maklum bahwa wanita ini amat
sakti, bahkan agaknya lebih sakti daripada si raksasa tua, maka iapun cepat
menahan rasa nyeri pada tangannya dan menyambut datangnya Ni Dewi Nilamanik
dengan sebuah pukulan tangan kiri. Tubuhnya agak merendah, hampir berjongkok
dan tangan kirinya dengan tenaga penuh menonjok ke arah perut lawan.
"Ceppp..............
!!” Pukulan Joko Pramono itu bukanlah pukulan sembarangan. Itulah aji pukulan
yang amat tua dan ampuh, yang sudah jarang dikenal orang. Aji ini disebut aji
pukulan Cantuka Sekti yang hebat sekali. Akan tetapi begitu mengenai perut Ni
Dewi Nilamanik, tangan kirinya itu amblas ke dalam perut, masuk ke perut sampai
ke pergelangan tangan dan tak dapat ditarik kembali! Joko Pramono terkejut,
cepat ia memukul dengan tangan kanannya yang masih sakit, akan tetapi tiba-tiba
kebutan ekor kuda di tangan Ni Dewi Nilamanik berkelebat, ujung kebutan
mengenai pundak laIu berkelebat lagi mencium punggung dan .... seketika
lemaslah tubuh Joko Pramono! Tidak hanya kedua lengannya yang tumpuh, juga
kedua kakinya kehilangan tenaga dan ia tentu sudah roboh terguling kalau saja
tangan kirinya tidak terjepit di perut wanita itu! Kini sambil tersenyum dan
mengeluarkan suara memuji kagum, Ni Dewi Nilamanik mempergunakan tangan
kirinya, meraba-raba seluruh tubuh Joko Pramono, dari kepala terus turun, ke
lehernya, dadanya, pundaknya, lambungnya, pusarnya, terus turun sampai ke
kakinya.
"Bagus ...., bagus ...,
sukar mendapatkan bocah sebaik ini .....!” katanya memuji. Joko Pramono
bergidik seluruh tubuhnya, menggigil dan ngeri sekali.
"Kaulepaskan dia,
perempuan tak tahu malu!"
Kini Pusporini yang
menerjang maju menyerang Ni Dewi Nilamanik. Memang aneh watak dara ini. Tadi ia
membenci Joko Pramono, gemas dan ingin menyiksanya, ingin menyakitkan hatinya.
Akan tetapi, begitu melihat pemuda itu tadi membelanya dan kini terjatuh ke dalam
tangan wanita iblis yang Sakti itu ia melupakan kelemahan sendiri dan menyerang
dengan nekat. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika tiba-tiba pinggangnya
disambar orang dari belakang dan ia hanya dapat meronta-ronta dalam kempitan
dengan tangan Ki Kolohangkoro yang amat kuat.
"Ha-ha-ha, Ibunda Dewi.
Engkau mendapatkan si bagus itu dan ramanda wasi mendapatkan si manis ini,
benar-benar pasangan yang cocok, memenuhi selera kalian. Heh, adapun aku
.....ha-ha, aku akan puas kalau Ibunda dapat memberi seperti kemarin itu satu
lagi saja."
Ni Dewi Nilamanik
menggerakkan tangan kirinya dan tubuh Joko Pramono juga sudah dikempitnya, lalu
menoleh kepada Ki Kolohangkoro.
"Engkau rakus sekali,
Kolohangkoro! Marilah, jangan kita membuat rakanda wasi terlalu lama menanti.
Kalau kau menghaturkan bocah itu kepadanya, tentu dia akan senang hati dan
mungkin suka menurunkan ilmu yang kauidam-idamkan itu."
"Aji Werjit Kencana?
Aha, aku akan rela menukar ilmu itu dengan lengan kiriku, Ibunda Dewi. Akan
tetapi tidak mungkin ramanda wasi sudi menurunkan aji itu kepadaku, kecuali
kalau Ibunda suka membantuku membujuknya."
"Bagaimana nanti
sajalah, Kolohangkoro. Hayo kita pergi!"
Dua orang yang sakti
mandraguna, keduanya adalah pemimpin dari agama pecahan yang terdiri dari orang-orang
penyembah Bhatari Durga dan Bathara Kala, dengan gerakan luar biasa cepatnya
telah berkelebat meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh dua orang muda
yang setengah pingsan dan sama sekali tidak mampu berkutik lagi. Waktu itu,
hari telah mulai ditelan senja, keadaan menjadi remang-remang. Bayangan dua
orang sakti itu seperti bayangan iblis sendiri, berkelebat keluar dari dalam
hutan. Tiba-tiba terdengar suara yang halus, suara orang membaca mantera, suara
yang mengandung getaran halus yang bergelombang dan seketika tubuh dua orang
sakti itu menggigil dan otomatis kaki mereka berhenti melangkah. Ni Dewi
Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seperti terpaku pada tanah, mata mereka memandang
seorang kakek yang duduk bersila di depan mereka, di pinggir jalan yang mereka
lalui, seorang kakek yang pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa akan
tetapi robek-robek dan butut seperti pakaian seorang jembel. Kakek ini duduk
bersila dengan tubuh tegak lures, matanya meram, rambutnya riap-riapan, tangan
kiri memegang sebuah batok kelapa dan tangan kanan memegang sebuah sapu, yaitu
seikat sapu lidi. Kakek ini seperti tidak tahu akan kehadiran mereka dan terus
membaca mantera dengan suaranya yang halus mengandung getaran mujijat,
"Om, Ksantawya kayika
dosah, Ksantawya wacika mama, Ksantawya manasa dosah, Tat pranadam ksama
swamam. Shanti....shanti .....shanti” (Ya Tuhan, ampunilah kesalahan kami yang
timbul dari tingkah laku, ampunilah kesalahan kami dari kata-kata, ampunilah
kesalahan kami yang timbul dart fikiran. Damai....damai ....)
Ki Kolohangkoro mendengus
dan membuat gerakan hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi Ni Dewi
Nilamanik mengangkat tangan kanan yang memegang kebutan, memberi isyarat kepada
raksasa itu untuk berhenti dulu. Kemudian, Ki Kolohangkoro memandang dengan
mata terbelalak heran ketika ia melihat Ni Dewi Nilamanik melempar tubuh Joko
Pramono ke atas tanah, kemudian wanita sakti ini menghampiri kakek yang duduk
bersila, menekuk lutut di depan kakek itu dan menyembah! Selagi ia
terheran-heran dan bingung, ia mendengar Ni Dewi Nilamanik berkata,
"Paman resi, mohon maaf
sebesarnya bahwa hamba berlaku kurang hormat karena tidak mengira akan bertemu
dengan Paman di sini. Hamba mohon diperkenankan lewat."
Ki Kolohangkoro
membelalakkan kedua matanya. Inilah suatu keanehan yang tak pernah ia saksikan
atau dengar selama hidupnya, Ni Dewi Nilamanik bersikap begini merendah!
Menyembah-nyembah dan mohon diperkenankan lewat! Apa-apaan ini? Siapakah jembel
tua ini? Kakek itu membuka kedua pelupuk matanya dan Ki Kolohangkoro makin
terkejut. Mata itu tidak ada maniknya, hanya putih saja. Kakek jembel tua renta
yang buta! Akan tetapi, suara kakek ini penuh getaran yang berwibawa ketika ia
berkata,
"Wahai, Nilamanik.
Makin tebal saja uap kotor menyelimuti dirimu. Ahhhh .... betapa sedih hatiku
karena ini, Nilamanik. Sesal kemudian tiada guna, mengapa tidak juga mau
bertaubat sebelum terlambat?" Ni Dewi Nilamanik tidak menjawab, hanya
mengangkat muka memandang penuh rasa takut. Hal ini membuat Ki Kolohangkoro marah
sekali. Kakek tua bangka jembel buta begini saja mengapa ditakuti? Sekali tiup
juga akan roboh! Mengapa mendadak saja Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu amat
sakti mandraguna, tidak kalah olehnya itu kini menjadi begini penakut? Karena
kemarahannya, Ki Kolohangkoro juga melempar tubuh Pusporini ke atas tanah, lalu
menggeleng-geleng kepalanya sehingga anting-anting telinganya bergoyang-goyang
dan mengeluarkan suara berdering.
"Ibunda Dewi! Apa-apaan
ini? Mengapa ibunda merendahkan diri sedemikian rupa terhadap seorang tua
bangka jembel buta yang hina-dina? Seorang jembel lebih hina daripada seorang
sudera, biar dia berpakai resi akan tetapi keadaannya melebihi jembel yang
paling miskin! Harap ibunda suka mundur, biar kuhancurkan dia sekali pukul,
kurobohkan dia sekali tiup dan kulemparkan . dia sekali tendang! Mundurlah,
Ibunda Dewi!"
"Kolohangkoro
......Jangan sembrono kau !" Biarpun mulutnya berkata demikian, akan
tetapi Ni Dewi Nilamanik sudah bangkit berdiri dan mengundurkan diri, memandang
dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Kakek ini mengangkat muka,
dihadapkan ke arah Ki Kolohangkoro, lalu tersenyum dan keluarlah suara ketawa
halus dari kerongkongannya.
"Bahkan Sang Hyang
Bathara Kala sendiri, hanya dapat bergerak untuk memenuhi tugas, tidak akan mampu
mengganggu selembar rambut manusia apabila tidak dikehendaki Sang Hyang Widhi
Wasesa! Andika ini siapakah, begini berani hendak mendahului dan memperkosa
kehendak Sang Hyang Trimurti?"
"Ha-ha-ha-ha! Kakek
jembel tua bangka, sikap dan kata-katamu sombong bukan main, seolah-olah hanya
engkau seorang di dunia ini yang paling tahu! Agar engkau tidak mati penasaran
sehingga nyawamu akan menjadi setan gentayangan, dengarlah bahwa calon
pembunuhmu ini adalah Ki Kolohangkoro!"
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Sudah kuduga.....
sudah kuduga .... waaah, Nilamanik, engkau benar-benar jauh tersesat.... “
Ki Kolohangkoro tak dapat
menahan kemarahannya lagi. Mukanya menjadi merah, hidungnya mendengus seperti
mengeluarkan hawa panas berapi, otot-otot di tubuhnya menggembung. Diapun bukan
seorang yang sembrono dan bodoh. Ia dapat menduga bahwa sedikit banyak, kakek
jembel itu tentu memiliki kepandaian, sungguhpun ia tidak memandang sebelah
mata. Maka ia lalu mengerahkan aji kesaktiannya, seluruh tubuhnya mengeluarkan
bunyi berkerotokan seolah-olah semua tulangnya saling beradu. Kemudian ia
membentak,
"Terimalah
kematianmu!" dan tubuh yang tinggi besar itu menerjang maju, menubruk
kakek yang masih duduk bersila itu dan kedua tangannya dengan kepalan sebesar
buah kelapa menyambar dari kanan kiri ke arah kepala si kakek jembel. Kakek tua
renta itu tidak mengelak, hanya menggerakkan tangan kanan yang memegang sapu
lidi lambat-lambat dan perlahan ke atas.
"Heeeitttt...
auuggggghhh....” Tubuh raksasa Ki Kolohangkoro tergetar dan terdorong
kebelakang, kedua kakinya menggigil-gigil dan dengan susah payah akhirnya ia
berhasil mencegah tubuhnya terdorong roboh. Ia membelalakkan matanya memandang
kakek yang masih duduk bersila itu. Tadi ia hanya merasa betapa kedua
pukulannya terbentur oleh hawa yang menyambar keluar dari sapu lidi dan tanpa
menyentuh sapu lidi itu, apalagi tubuh si kakek, ia telah terdorong oleh hawa
sakti yang mujijat sehingga hampir roboh! Tentu saja ia menjadi marah dan
penasaran sekali.
"Tua bangka keparat!
Berani kau main-main terhadap Ki Kolohangkoro? Jangan mengira bahwa kau sudah
menang, terimalah pusakaku ini!" Berkata demikian, Ki Kolohangkoro sudah
mencabut senjatanya yang hebat, yaitu senjata berat berbentuk tombak pendek
yang ia sebut senjata Nenggala. Kemudian dengan gerakan seperti seekor gajah
mengamuk, ia menerjang maju, menghantamkan senjatanya ke arah kepala kakek itu.
"Kolohangkoro ....,
jangan ....!" terdengar jerit Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi karena
melihat kawannya sudah menerjang maju, iapun lalu meloncat dengan gerakan
ringan mendekati kakek itu dari samping, kemudian menggerakkan senjatanya yang
aneh dan dahsyat keampuhannya, yaitu kebutan merah buntut kuda, mengarah leher.
"Plakkk ....
Brettt.....!!” Hebat bukan main serangan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik
tadi, dan kedua serangan itu tiba hampir berbareng.
Dari depan menyambar
nenggala Ki Kolohangkoro yang menusuk ubun-ubun, dari samping menyambar kebutan
mengarah pusat jalan darah di leher. Dan menghadapi dua serangan ini, kakek tua
renta itu sama sekali tidak mengelak. Seperti tadi, ia hanya mengangkat kedua
tangan, batok kelapa di tangan kiri menangkis senjata nenggala, sedangkan sapu
lidi di tangan kanan menyampok kebutan. Dan akibatnya .....ujung kebutan putus
sedangkan nenggala di tangan Ki Kolohangkoro patah! Dua orang sakti itu
terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat, kemudian tanpa dikomando lagi, Ki
Kolohangkoro mencontoh Ni Dewi Nilamanik yang melarikan diri tanpa pamit!
Bagaikan dikejar-kejar iblis, kedua orang sakti ini lari sampai jauh dan
setelah merasa yakin bahwa kakek tua renta itu tidak mengejar, barulah Ni Dewi
Nilamanik berhenti, menyusut keringat dan berkata perlahan,
"Aduhhh... berbahaya
sekali ....! Si tua itu makin tua makin mengerikan kesaktiannya!"
Muka Ki Kolohangkoro menjadi
merah sekali. Kini barulah ia mengerti mengapa Ni Dewi Nilamanik tadi
menyembah-nyembah dan bersikap amat takut dan hormat kepada kakek jembel itu.
Kiranya kakek itu memiliki kesaktian seperti dewa sendiri!
No comments:
Post a Comment