Perawan Lembah Wilis; Bagian 062


Kini Pusporini yang tersenyum, senyum yang membuat wajahnya yang amat manis itu menjadi makin manis melebihi madu. Akan tetapi senyum yang luar biasa manisnya ini menusuk hati Joko Pramono karena senyum itu mengandung ejekan dan penghinaan kepadanya.
"Hi-hik, alangkah enaknya kau minta dibebaskan! Uhh, tak tahu malu benar, muka tebal! Engkau kini sudah tertawan olehku, ini merupakan bukti kuat bahwa engkau sudah kalah olehku. Hi-hik, mau apa lagi?" Sambil tersenyum-senyum mengejek, Pusporini berdiri di depan pemuda itu sambil bertolak pinggang. Rambutnya yang panjang hitam dan terlepas sanggulnya itu sebagian terurai ke depan menutupi matanya. Pusporini menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya tersingkap ke belakang, sebuah gerakan wanita yang amat indah menarik. Joko Pramono menghela napas panjang, hatinya terserang bermacam-macam perasaan yang teraduk-aduk menjadi satu. Ia marah kepada diri sendiri yang bodoh sehingga kurang waspada dan lengah, ia gemas kepada dara remaja ini yang benar-benar memanaskan hatinya, akan tetapi iapun kagum. Makin lama, makin tertarik hatinya oleh segala olah tingkah dan gerak-gerik dara. Biarpun sedang marah, mengejek, ketakutan, atau menangis, semua gerak-geriknya memikat hati dan amat manis! Ada sesuatu terpancar keluar dari kepribadian dara ini yang mencengkeram perasaan hatinya, yang membuatnya merasa suka dan gemas, bukan gemas untuk memukul atau membunuh, melainkan gemas untuk mencubitnya dan mendekapnya kuat-kuat, seperti perasaan gemas-gemas sayang seseorang terhadap seorang bayi yang montok menyenangkan. Bahkan saat itupun, di waktu nyawanya terancam bahaya maut di tangan Pusporini, ia tidak dapat membenci dara ini.
"Pusporini, tak usah banyak lagak. Memang aku telah kau curangi, telah kau akali sehingga aku tertawan. Nah, kau mau apakan aku sekarang?"
"Mau diapakan? Kau sudah menyerah? Minta diapakan kau, manusia kurang ajar?"
Joko Pramono tetap tersenyum. Ia sudah menyadari sepenuhnya bahwa ia kini berada di tangan Pusporini yang tentu akan membalas dendam.
"Mau kau apakan terserahlah. Mau bunuh juga, silahkan. Kau kira akupun takut mati? Huh!"
"Bunuh? Nanti dulu! Kau tidak akan mati begitu enaknya, sebelum engkau menerima balasan penghinaan-penghinaan yang telah kau lakukan kepadaku tadi! Kau sekarang menjadi tawananku, hendak kuseret ke depan rakanda adipati agar beliau dapat memutuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan atas dirimu. Hayoh ...!” Pusporini membungkuk, menyambak rambut pemuda itu yang hitam lalu menyeretnya. Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, seorang pemuda sakti mandraguna, kalau baru dijambat dan diseret seperti ini saja tentu Joko Pramono tidak terlalu menderita. Ia malah tertawa dan berkata mengejek,
"Pusporini, kau bilang hendak membalas semua penghinaanku tadi? Tadi kau menjadi tawananku, sekarang aku menjadi tawananmu, ini sudah adil. Tadi aku membawamu pergi dan memondongmu, sekarang ....hayo kau lekas pondong aku dan bawa lari, baru adil namanya!"
Pusporini bersungut-sungut. Ia kini yang menang, akan tetapi tetap saja pemuda itu yang mengejek-ejeknya.
"Tidak sudi!" bentaknya dan menyeret terus, seperti seorang pemburu menyeret seekor bangkai kijang yang menjadi hasil buruannya. Tubuh Joko Pramono terlentang dan pemuda ini merem melek, kelihatan enak benar diseret seperti itu.
"Wah, angler ...! Cepatan lagi, Pusporini, enak benar ini ....ha-ha!" Dan untuk membuktikan omongannya, tak lama kemudian Joko Pramono yang diseret-seret itu tidur mendengkur. Pusporini makin marah dan mendongkol. Tangannya sudah lelah menyeret. Karena yang dijambaknya rambut, benda lemas ini lama-lama menyakiti jari-jari tangannya. Rambut itu terlalu lemas dan tubuh pemuda itu terlalu berat. Apalagi melalui jalan tanjakan, benar-benar membuat lengannya kesemutan dan lelah sekali. Kini dia yang kecapaian dan pemuda itu keenakan tidur. Ia menyumpah-nyumpah, hatinya panas. Sambil mengerahkan tenaga, ia menjambak lebih keras, lalu lari dan sengaja mengambil jalan berbatu-batu. Tangannya makin lelah dan sakit, akan tetapi Joko Pramono tidak mungkin tidur keenakan lagi karena tubuhnya terbentur-bentur pada batu, berguncang dan terbanting-banting. Benar saja, pemuda itu mengeluh.
"Wah-wah-wah, kau gilakah? Kalau mau bunuh, bunuhlah, mengapa mesti menyiksa seperti ini?"
"Rasakan!" Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa Pusporini bukan ingin menyiksanya, melainkan ingin membalas kemarahannya, ingin memancingnya dengan siksaan atau apapun juga agar dia ketakutan atau sakit hati, maka ia lalu diam saja dan diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membuat tubuhnya kebal dan tidak terlalu tersiksa oleh bantingan-bantingan di jalan itu. Benar saja dugaannya, setelah ia diam saja tidak mengeluh, Pusporini merasa kecewa dan marah-marah. Pemuda ini tetap tidak merasa sakit, tidak merasa lelah, sedangkan ia telah mandi peluh, tangannya pedas lengannya kesemutan. Keparat! Kini mereka tiba di dalam hutan, di mana tadi ketika Joko Pramono menawan Pusporini, mereka berhenti dan makan pisang.

"Pusporini ...mukamu buruk seperti setan kalau begini. Rambutmu awut-awutan, mukamu kotor karena peluh dan debu, lihat kakimu juga kotor berlumpur. Ihhhh, puteri kadipaten kok begini“
Joko Pramono mengejek untuk menambah kemarahan dara itu.
"Brukkk!" Dengan gerakan kasar Pusporini melepaskan jambakannya sehingga kepala Joko Pramono terbanting ke atas tanah. Sejenak dara itu memandang marah, akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum kepadanya. Tiba-tiba Pusporini membalikkan tubuh dan berkelebat pergi dari tempat itu. Akan tetapi tidak lama ia pergi. Sebentar lagi ia sudah kembali ke tempat itu dan ...kaki tangan dan muka serta lehernya telah bersih sekali, bekas dibersihkan dengan air sungai bening yang mengalir di dalam hutan itu. Juga rambutnya, biarpun tidak disisir rapi, namun tidaklah awut-awutan lagi seperti tadi. Dalam pandangan Joko Pramono, dia sama sekali tidak tampak lebih cantik karena memang sejak tadi dara itu sudah cantik jelita dan manis dalam pandangannya! Melihat betapa dara itu mencuci muka dan kaki tangan, dia diam Joko Pramono menjadi geli hatinya.
"Nah, begini barulah kau tampak cantik jelita seperti seorang puteri asli, Pusporini!" Ia amat senang melihat betapa kedua pipi dara itu menjadi merah maka ia terus menggodanya.
"Dan mana bawaanmu, Pusporini?"
Dara itu tak dapat mempertahankan kemarahannya, tak dapat terus memuramkan mukanya menghadapi pujian ini. Pertanyaan itu menerjangnya tiba-tiba sehingga tanpa ia sadari, ia menjawab,
"Bawaan apa? Apa maksudmu?"
"Ha-ha-ha-ha! Masa engkau pelupa benar, Pusporini? Bukankah kau bilang bahwa kau akan membalas semua penghinaanku? Lupakah kau bahwa di tempat ini benar aku telah mendulangmu (menyuapimu) dengan pisang dan semangka? Lihat tuh kulit pisang dan kulit semangka masih di situ. Sekarang tentu akan kaubalas penghinaanku tadi. Lekas kaucari buah-buahan yang segar dan lezat, dan kau suapi aku, perutku sudah lapar sekali!"
"Kau ...lancang mulut! Kau kurang ajar!!" Pusporini marah lagi dan membentak gemas.
Akan tetapi Joko Pramono malah tertawa memanaskan hati.
"Elhooo! Bukankah aku bicara sebenarnya? Untuk membalas seadilnya, sekarang kau harus menyuapkan makanan ke mulutku, kemudian kaupondong aku lagi dan.... dan.... kauberikan pundakmu untuk kugigit!”
"Cihh! Laki-laki ceriwis! Kuhancurkan mulutmu!" Dengan kemarahan meluap, Pusporini melangkah maju, tangannya diangkat untuk menghantam muka pemuda itu. Joko Pramono tetap tersenyum dan memandang dengan sepasang mata yang sama sekali tidak kelihatan takut, wajahnya berseri. Entah mengapa Pusporini sendiri tidak mengerti. Tangan yang sudah diangkatnya itu mendadak menjadi lemas, tidak kuasa ia menurunkan tangannya menghantam muka yang tersenyum seperti itu, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar tajam seperti sepasang bintang.
"Kau ......memang kurang ajar!" Hanya demikian ia berkata.
"Pukullah, mengapa tidak jadi? Pukullah agar sempurna ketidakadilanmu terhadap aku. Aku merobohkanmu dengan pertandingan, sebaliknya kau merobohkan aku dengan akal curang. Aku menawanmu dan membawa pergi dengan memondongmu, sebaliknya engkau menawan dan membawaku pergi dengan menyeret-nyeretku. Aku memberimu makan buah agar kau tidak kelaparan, sebaliknya engkau memberi makan aku dengan maki-makian! Engkau menggigit pundakku sampai matang biru dan aku.....“
"Cukup! Cerewet amat engkau ini!" Pusporini kembali menyambar rambut Joko Pramono dan menyeretnya pergi melanjutkan perjalanan. Ingin ia lekas-lekas sampai di Selopenangkep menyerahkan orang yang memusuhi Kadipaten Selopenangkep ini kepada rakandanya, agar la bebas dari orang yang selalu menimbulkan gemas di hatinya ini.

Akan tetapi belum jauh ia pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu, seperti setan saja agaknya, di depan Pusporini telah berdiri dua orang. Dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Wanita cantik jelita yang berwajah angker dan bersinar mata kejam itu berdiri tegak memandang Pusporini, kemudian melirik ke arah Joko Pramono yang rebah telentang dalam keadaan terbelenggu pula. Wanita ini kelihatan marah, alisnya yang tipis dan ditebalkan dengan penghitam, berkerut, tangan kini bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang pengebut yang terbuat daripada ekor kuda berwarna kemerahan. Adapun Ki Kolohangkoro yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu, berdiri seperti sebuah tugu, kokoh kuat menyeramkan. Matanya yang lebar memandang Pusporini, mulutnya menyeringai dan sikapnya memandang rendah. Kepada Joko Pramono, ia menengokpun tidak. Joko Pramono yang tadlnya terseret meramkan matanya, kini ia membuka mata dan ia memandang dua orang itu penuh perhatian. Sebagai murid seorang sakti, ia dapat menduga bahwa dua orang itu bukanlah orang baik-baik dan tentu memiliki kesaktian tinggi. Akan tetapi karena tidak mengenal Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, sesuai dengan wataknya, ia tidak gentar dan bahkan memandang rendah. Maka iapun tersenyum, dan mengejek ketika melihat betapa Pusporini tampak khawatir,
"Eh, Pusporini, sekarang kau baru tahu rasa, bertemu dengan dua orang siluman penjaga hutan!"
Pusporini tidak memperdulikan pemuda itu, hanya siap dengan waspada, ingin melakukan perlawanan mati-matian sungguhpun ia tahu bahwa Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu menjadi pemimpin para penyembah Durga di puncak Gunung Mentasari tentulah memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, bahkan jauh lebih sakti daripada Sariwuni! Ni Dewl Nilamanik membuka mulut, terdengar suaranya yang lemah lembut, akan tetapi mengandung getaran penuh nafsu dan kekejaman,
"Pusporini, hayo lekas kau maju berlutut dan minta ampun, baru aku dapat mengampunimu dan membawamu menghadap sang wasi yang menantimu di puncak."
Pusporini teringat akan pengalamannya di puncak Mentasari, ia bergidik dan timbul kenekatannya. Lebih baik mati dalam perlawanan daripada menyerah dan mengalami penghinaan yang hebat di tempat neraka itu. Ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya mencelat maju menerjang, mengirim pukulan Bojro Dahono yang belum sempurna itu ke arah dada Ni Dewi Nilamanik. Sungguh seperti seekor capung menyerang gapura batu! Jangankan Aji Bojro Dahono itu belum terlatih sempurna, andaikata sudah sempurna latihannya sekalipun, belum tentu Pusporini dapat merobohkan Nilamanik dengan sekali pukul. Wanita penyembah Durga itu mengikik tertawa, tubuhnya lama sekali tidak bergerak dari tempatnya, hanya kebutan di tangannya bergerak dan tahu-tahu ujung bulu kebutan itu menerima pukulan Pusporini, membelit pergelangan tangannya dan sekali sendal, tubuh Pusporini terlempar ke belakang dan jatuh tunggang-langgang!
"Huah-ha-ha-ha! Bocah ini seperti seekor singa betina!" Ki Kolohangkoro tertawa bergelak ketika melihat betapa Pusporini yang terbanting jatuh itu telah meloncat bangun dengan sigapnya dan sama sekali tidak tampak ketakutan membayang di wajah yang manis itu, bahkan wajah itu membayangkan kebencian dan kemarahan besar ketika dara ini melangkah maju dan siap menerjang lagi.
"Kolohangkoro, engkau jangan tertawa-tawa saja. Hayo kau wakili aku tangkap bocah ini!" Ni Dewi Nilamanik berkata kepada temannya itu dengan suara memerintah. "Baiklah, Ibunda Dewi! Eh, bocah perawan galak!
Kenapa kau tidak lekas-lekas tunduk akan perintah Ibunda Dewi? Hayo berlutut kau!" Sambil berseru demikian, Ki Kolohangkoro menubruk ke depan, ke arah Pusporini. Dara yang sudah siap siaga ini dengan kemarahan memuncak menyambut tubrukan Ki Kolohangkoro dengan pukulannya, kini ia menggunakan kedua tangannya, mengerahkan Aji Pethit Nogo, tangan kiri menampar ke arah leher dan tangan kanan menghantam ke arah dada.
"Plak-plak ...”
Dua pukulan Pethit Nogo itu tepat mengenai leher dan dada Ki Kolohangkoro. Akan tetapi raksasa itu hanya terkekeh tertawa dan dua pukulan itu membalik, bahkan Pusporini merasa betapa kedua telapak tangannya menjadi sakit-sakit dan panas, seakan-akan memukul baja yang amat kuatnya. Sebelum ia sempat mengelak, kedua pundaknya sudah dipegang oleh tangan-tangan yang besar itu dan ia dipaksa berlutut dengan tekanan seperti gunung beratnya. Tak dapat lagi Pusporini menahan tubuhnya dan kedua lututnya sudah tertekuk, ia berlutut di atas tanah.
"Keparat, lepaskan dia!"

<<< Bagian 061                                                                                    Bagian 063 >>>

No comments:

Post a Comment