Kini Pusporini yang tersenyum, senyum yang membuat wajahnya yang amat manis itu menjadi makin manis melebihi madu. Akan tetapi senyum yang luar biasa manisnya ini menusuk hati Joko Pramono karena senyum itu mengandung ejekan dan penghinaan kepadanya.
"Hi-hik, alangkah
enaknya kau minta dibebaskan! Uhh, tak tahu malu benar, muka tebal! Engkau kini
sudah tertawan olehku, ini merupakan bukti kuat bahwa engkau sudah kalah
olehku. Hi-hik, mau apa lagi?" Sambil tersenyum-senyum mengejek, Pusporini
berdiri di depan pemuda itu sambil bertolak pinggang. Rambutnya yang panjang
hitam dan terlepas sanggulnya itu sebagian terurai ke depan menutupi matanya.
Pusporini menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya tersingkap ke belakang, sebuah
gerakan wanita yang amat indah menarik. Joko Pramono menghela napas panjang,
hatinya terserang bermacam-macam perasaan yang teraduk-aduk menjadi satu. Ia
marah kepada diri sendiri yang bodoh sehingga kurang waspada dan lengah, ia
gemas kepada dara remaja ini yang benar-benar memanaskan hatinya, akan tetapi
iapun kagum. Makin lama, makin tertarik hatinya oleh segala olah tingkah dan
gerak-gerik dara. Biarpun sedang marah, mengejek, ketakutan, atau menangis,
semua gerak-geriknya memikat hati dan amat manis! Ada sesuatu terpancar keluar
dari kepribadian dara ini yang mencengkeram perasaan hatinya, yang membuatnya
merasa suka dan gemas, bukan gemas untuk memukul atau membunuh, melainkan gemas
untuk mencubitnya dan mendekapnya kuat-kuat, seperti perasaan gemas-gemas
sayang seseorang terhadap seorang bayi yang montok menyenangkan. Bahkan saat
itupun, di waktu nyawanya terancam bahaya maut di tangan Pusporini, ia tidak
dapat membenci dara ini.
"Pusporini, tak usah
banyak lagak. Memang aku telah kau curangi, telah kau akali sehingga aku
tertawan. Nah, kau mau apakan aku sekarang?"
"Mau diapakan? Kau
sudah menyerah? Minta diapakan kau, manusia kurang ajar?"
Joko Pramono tetap
tersenyum. Ia sudah menyadari sepenuhnya bahwa ia kini berada di tangan
Pusporini yang tentu akan membalas dendam.
"Mau kau apakan
terserahlah. Mau bunuh juga, silahkan. Kau kira akupun takut mati? Huh!"
"Bunuh? Nanti dulu! Kau
tidak akan mati begitu enaknya, sebelum engkau menerima balasan
penghinaan-penghinaan yang telah kau lakukan kepadaku tadi! Kau sekarang
menjadi tawananku, hendak kuseret ke depan rakanda adipati agar beliau dapat
memutuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan atas dirimu. Hayoh ...!” Pusporini
membungkuk, menyambak rambut pemuda itu yang hitam lalu menyeretnya. Sebagai seorang
yang memiliki kepandaian tinggi, seorang pemuda sakti mandraguna, kalau baru
dijambat dan diseret seperti ini saja tentu Joko Pramono tidak terlalu
menderita. Ia malah tertawa dan berkata mengejek,
"Pusporini, kau bilang
hendak membalas semua penghinaanku tadi? Tadi kau menjadi tawananku, sekarang
aku menjadi tawananmu, ini sudah adil. Tadi aku membawamu pergi dan
memondongmu, sekarang ....hayo kau lekas pondong aku dan bawa lari, baru adil
namanya!"
Pusporini bersungut-sungut.
Ia kini yang menang, akan tetapi tetap saja pemuda itu yang mengejek-ejeknya.
"Tidak sudi!"
bentaknya dan menyeret terus, seperti seorang pemburu menyeret seekor bangkai
kijang yang menjadi hasil buruannya. Tubuh Joko Pramono terlentang dan pemuda
ini merem melek, kelihatan enak benar diseret seperti itu.
"Wah, angler ...!
Cepatan lagi, Pusporini, enak benar ini ....ha-ha!" Dan untuk membuktikan
omongannya, tak lama kemudian Joko Pramono yang diseret-seret itu tidur
mendengkur. Pusporini makin marah dan mendongkol. Tangannya sudah lelah
menyeret. Karena yang dijambaknya rambut, benda lemas ini lama-lama menyakiti
jari-jari tangannya. Rambut itu terlalu lemas dan tubuh pemuda itu terlalu
berat. Apalagi melalui jalan tanjakan, benar-benar membuat lengannya kesemutan
dan lelah sekali. Kini dia yang kecapaian dan pemuda itu keenakan tidur. Ia
menyumpah-nyumpah, hatinya panas. Sambil mengerahkan tenaga, ia menjambak lebih
keras, lalu lari dan sengaja mengambil jalan berbatu-batu. Tangannya makin
lelah dan sakit, akan tetapi Joko Pramono tidak mungkin tidur keenakan lagi
karena tubuhnya terbentur-bentur pada batu, berguncang dan terbanting-banting.
Benar saja, pemuda itu mengeluh.
"Wah-wah-wah, kau
gilakah? Kalau mau bunuh, bunuhlah, mengapa mesti menyiksa seperti ini?"
"Rasakan!" Akan tetapi
pemuda itu maklum bahwa Pusporini bukan ingin menyiksanya, melainkan ingin
membalas kemarahannya, ingin memancingnya dengan siksaan atau apapun juga agar
dia ketakutan atau sakit hati, maka ia lalu diam saja dan diam-diam mengerahkan
tenaganya untuk membuat tubuhnya kebal dan tidak terlalu tersiksa oleh
bantingan-bantingan di jalan itu. Benar saja dugaannya, setelah ia diam saja
tidak mengeluh, Pusporini merasa kecewa dan marah-marah. Pemuda ini tetap tidak
merasa sakit, tidak merasa lelah, sedangkan ia telah mandi peluh, tangannya
pedas lengannya kesemutan. Keparat! Kini mereka tiba di dalam hutan, di mana
tadi ketika Joko Pramono menawan Pusporini, mereka berhenti dan makan pisang.
"Pusporini ...mukamu
buruk seperti setan kalau begini. Rambutmu awut-awutan, mukamu kotor karena
peluh dan debu, lihat kakimu juga kotor berlumpur. Ihhhh, puteri kadipaten kok
begini“
Joko Pramono mengejek untuk
menambah kemarahan dara itu.
"Brukkk!" Dengan
gerakan kasar Pusporini melepaskan jambakannya sehingga kepala Joko Pramono
terbanting ke atas tanah. Sejenak dara itu memandang marah, akan tetapi pemuda
itu hanya tersenyum kepadanya. Tiba-tiba Pusporini membalikkan tubuh dan
berkelebat pergi dari tempat itu. Akan tetapi tidak lama ia pergi. Sebentar
lagi ia sudah kembali ke tempat itu dan ...kaki tangan dan muka serta lehernya
telah bersih sekali, bekas dibersihkan dengan air sungai bening yang mengalir
di dalam hutan itu. Juga rambutnya, biarpun tidak disisir rapi, namun tidaklah
awut-awutan lagi seperti tadi. Dalam pandangan Joko Pramono, dia sama sekali
tidak tampak lebih cantik karena memang sejak tadi dara itu sudah cantik jelita
dan manis dalam pandangannya! Melihat betapa dara itu mencuci muka dan kaki
tangan, dia diam Joko Pramono menjadi geli hatinya.
"Nah, begini barulah
kau tampak cantik jelita seperti seorang puteri asli, Pusporini!" Ia amat
senang melihat betapa kedua pipi dara itu menjadi merah maka ia terus
menggodanya.
"Dan mana bawaanmu,
Pusporini?"
Dara itu tak dapat
mempertahankan kemarahannya, tak dapat terus memuramkan mukanya menghadapi
pujian ini. Pertanyaan itu menerjangnya tiba-tiba sehingga tanpa ia sadari, ia
menjawab,
"Bawaan apa? Apa
maksudmu?"
"Ha-ha-ha-ha! Masa
engkau pelupa benar, Pusporini? Bukankah kau bilang bahwa kau akan membalas
semua penghinaanku? Lupakah kau bahwa di tempat ini benar aku telah mendulangmu
(menyuapimu) dengan pisang dan semangka? Lihat tuh kulit pisang dan kulit
semangka masih di situ. Sekarang tentu akan kaubalas penghinaanku tadi. Lekas
kaucari buah-buahan yang segar dan lezat, dan kau suapi aku, perutku sudah
lapar sekali!"
"Kau ...lancang mulut!
Kau kurang ajar!!" Pusporini marah lagi dan membentak gemas.
Akan tetapi Joko Pramono
malah tertawa memanaskan hati.
"Elhooo! Bukankah aku
bicara sebenarnya? Untuk membalas seadilnya, sekarang kau harus menyuapkan
makanan ke mulutku, kemudian kaupondong aku lagi dan.... dan.... kauberikan
pundakmu untuk kugigit!”
"Cihh! Laki-laki
ceriwis! Kuhancurkan mulutmu!" Dengan kemarahan meluap, Pusporini
melangkah maju, tangannya diangkat untuk menghantam muka pemuda itu. Joko
Pramono tetap tersenyum dan memandang dengan sepasang mata yang sama sekali
tidak kelihatan takut, wajahnya berseri. Entah mengapa Pusporini sendiri tidak
mengerti. Tangan yang sudah diangkatnya itu mendadak menjadi lemas, tidak kuasa
ia menurunkan tangannya menghantam muka yang tersenyum seperti itu, dengan
sepasang mata yang bersinar-sinar tajam seperti sepasang bintang.
"Kau ......memang
kurang ajar!" Hanya demikian ia berkata.
"Pukullah, mengapa
tidak jadi? Pukullah agar sempurna ketidakadilanmu terhadap aku. Aku
merobohkanmu dengan pertandingan, sebaliknya kau merobohkan aku dengan akal
curang. Aku menawanmu dan membawa pergi dengan memondongmu, sebaliknya engkau
menawan dan membawaku pergi dengan menyeret-nyeretku. Aku memberimu makan buah
agar kau tidak kelaparan, sebaliknya engkau memberi makan aku dengan
maki-makian! Engkau menggigit pundakku sampai matang biru dan aku.....“
"Cukup! Cerewet amat
engkau ini!" Pusporini kembali menyambar rambut Joko Pramono dan
menyeretnya pergi melanjutkan perjalanan. Ingin ia lekas-lekas sampai di
Selopenangkep menyerahkan orang yang memusuhi Kadipaten Selopenangkep ini
kepada rakandanya, agar la bebas dari orang yang selalu menimbulkan gemas di
hatinya ini.
Akan tetapi belum jauh ia
pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu, seperti setan saja
agaknya, di depan Pusporini telah berdiri dua orang. Dapat dibayangkan betapa
kaget hati dara ini ketika mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah Ni Dewi
Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Wanita cantik jelita yang berwajah angker dan
bersinar mata kejam itu berdiri tegak memandang Pusporini, kemudian melirik ke
arah Joko Pramono yang rebah telentang dalam keadaan terbelenggu pula. Wanita
ini kelihatan marah, alisnya yang tipis dan ditebalkan dengan penghitam,
berkerut, tangan kini bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang
pengebut yang terbuat daripada ekor kuda berwarna kemerahan. Adapun Ki
Kolohangkoro yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu, berdiri seperti
sebuah tugu, kokoh kuat menyeramkan. Matanya yang lebar memandang Pusporini,
mulutnya menyeringai dan sikapnya memandang rendah. Kepada Joko Pramono, ia
menengokpun tidak. Joko Pramono yang tadlnya terseret meramkan matanya, kini ia
membuka mata dan ia memandang dua orang itu penuh perhatian. Sebagai murid
seorang sakti, ia dapat menduga bahwa dua orang itu bukanlah orang baik-baik
dan tentu memiliki kesaktian tinggi. Akan tetapi karena tidak mengenal Ni Dewi
Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, sesuai dengan wataknya, ia tidak gentar dan
bahkan memandang rendah. Maka iapun tersenyum, dan mengejek ketika melihat
betapa Pusporini tampak khawatir,
"Eh, Pusporini,
sekarang kau baru tahu rasa, bertemu dengan dua orang siluman penjaga
hutan!"
Pusporini tidak memperdulikan
pemuda itu, hanya siap dengan waspada, ingin melakukan perlawanan mati-matian
sungguhpun ia tahu bahwa Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu menjadi pemimpin para
penyembah Durga di puncak Gunung Mentasari tentulah memiliki ilmu kesaktian
yang luar biasa, bahkan jauh lebih sakti daripada Sariwuni! Ni Dewl Nilamanik
membuka mulut, terdengar suaranya yang lemah lembut, akan tetapi mengandung
getaran penuh nafsu dan kekejaman,
"Pusporini, hayo lekas
kau maju berlutut dan minta ampun, baru aku dapat mengampunimu dan membawamu
menghadap sang wasi yang menantimu di puncak."
Pusporini teringat akan
pengalamannya di puncak Mentasari, ia bergidik dan timbul kenekatannya. Lebih
baik mati dalam perlawanan daripada menyerah dan mengalami penghinaan yang
hebat di tempat neraka itu. Ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya mencelat
maju menerjang, mengirim pukulan Bojro Dahono yang belum sempurna itu ke arah
dada Ni Dewi Nilamanik. Sungguh seperti seekor capung menyerang gapura batu!
Jangankan Aji Bojro Dahono itu belum terlatih sempurna, andaikata sudah
sempurna latihannya sekalipun, belum tentu Pusporini dapat merobohkan Nilamanik
dengan sekali pukul. Wanita penyembah Durga itu mengikik tertawa, tubuhnya lama
sekali tidak bergerak dari tempatnya, hanya kebutan di tangannya bergerak dan
tahu-tahu ujung bulu kebutan itu menerima pukulan Pusporini, membelit
pergelangan tangannya dan sekali sendal, tubuh Pusporini terlempar ke belakang
dan jatuh tunggang-langgang!
"Huah-ha-ha-ha! Bocah
ini seperti seekor singa betina!" Ki Kolohangkoro tertawa bergelak ketika
melihat betapa Pusporini yang terbanting jatuh itu telah meloncat bangun dengan
sigapnya dan sama sekali tidak tampak ketakutan membayang di wajah yang manis
itu, bahkan wajah itu membayangkan kebencian dan kemarahan besar ketika dara
ini melangkah maju dan siap menerjang lagi.
"Kolohangkoro, engkau
jangan tertawa-tawa saja. Hayo kau wakili aku tangkap bocah ini!" Ni Dewi
Nilamanik berkata kepada temannya itu dengan suara memerintah. "Baiklah,
Ibunda Dewi! Eh, bocah perawan galak!
Kenapa kau tidak lekas-lekas
tunduk akan perintah Ibunda Dewi? Hayo berlutut kau!" Sambil berseru
demikian, Ki Kolohangkoro menubruk ke depan, ke arah Pusporini. Dara yang sudah
siap siaga ini dengan kemarahan memuncak menyambut tubrukan Ki Kolohangkoro
dengan pukulannya, kini ia menggunakan kedua tangannya, mengerahkan Aji Pethit
Nogo, tangan kiri menampar ke arah leher dan tangan kanan menghantam ke arah
dada.
"Plak-plak ...”
Dua pukulan Pethit Nogo itu
tepat mengenai leher dan dada Ki Kolohangkoro. Akan tetapi raksasa itu hanya
terkekeh tertawa dan dua pukulan itu membalik, bahkan Pusporini merasa betapa
kedua telapak tangannya menjadi sakit-sakit dan panas, seakan-akan memukul baja
yang amat kuatnya. Sebelum ia sempat mengelak, kedua pundaknya sudah dipegang
oleh tangan-tangan yang besar itu dan ia dipaksa berlutut dengan tekanan
seperti gunung beratnya. Tak dapat lagi Pusporini menahan tubuhnya dan kedua
lututnya sudah tertekuk, ia berlutut di atas tanah.
"Keparat, lepaskan dia!"
No comments:
Post a Comment